Oleh Tania Pramayuani
1
Gangguan Tengah Malam
“Huaaah.....jam berapa ya sekarang”. Ku lirik arloji di sampingku, ternyata jam masih menunjukkan pukul 23.00. aku enggan untuk bangun malam, apalagi untuk sholat. Ku lipat kakiku dan kudekap gulingku sembari menarik selimut kesanganku. Selimutku sangat hangat sekali. Pada saat cuaca dingin seperti ini, sangat cocok untuk menghangatkan badan yang sedang menggigil kedinginan. Selimut berwarna merah muda, bermotif bunga sepatu yang terbuat dari kain wol asli merupakan selimut kenang-kenangan dari pamanku. Sekarang pamanku sudah jarang kesini, jadi aku sangat menyayangi selimutku itu.
“tiit...tiit..tiitt...”. suara itu tak lain adalah suara handphoneku. Aku sangat suka dengan suara itu, sehingga tak hanya handphone saja yang aku setting seperti suara itu. Jam weker pun aku ubah bunyinya seperti suara yang aku sukai. Aku mendeham mendengar handphoneku berbunyi, sudah bisa kutubak, pasti itu tak lain adalah pesan atau telephone dari Dani. Aku enggan sekali untuk menjawab sesuatu pun dari orang yang bernnama Dani itu.
“ Orang ini benar-benar tidak tahu tatakrama. Tengah malam seperti ini berani-beraninya menghubungiku” ucapku.
Aku tak menghiraukan sedikit pun rewelan dari handphoneku. Aku melanjutkan tidurku dan meneruskan petualangan selanjutnya menuju dunia mimpi.
Belum cukup lama aku tidur, kali ini aku terbangun lagi. Batinku sangat kesal. Tidurku malam ini benar-benar tidak senyenyak seperti biasanya. Kali ini, di tengah derasnya hujan dan ganasnya halilintar, pintu rumahku bebunyi. Kayu jati bahan dari pintu rumahku sepertinya sudah tidak mampu lagi untuk menyembunyikan suara itu. Apalagi ganasnya halilintar ternyata terkalahkan oleh suara yang semakin lama semakin terdengar cukup jelas. Telingaku panas mendengar suara menyebalkan itu. Mataku yang masih terpejam berusaha untuk membuka. Ku turunkan kakiku dari ranjang. Terpaksa kali ini aku harus meninggalkan selimut kesayanganku.
“ Siapa ya itu. Tadi Dani, sekarang siapa lagi. Kenapa bertamu malam-malam seperti ini” kataku sambil mengusap-ngusap mata.
Setelah menurunkan kakiku dari ranjang, aku duduk sebentar di bibir ranjang. Terasa cukup nyaman duduk di bibir ranjangku, karena terbuat dari spon. Hampir saja aku terlenakan oleh itu dan segera kutampis godaan itu.
brreekk...brreeekkk
“ Sebentar” jawabku sambil berteriak.
Ternyata anggota keluaraga pun terbangun. Tapi mama dan papaku masih belum terbangun. Tidak biasanya juga, Adit dapat terbangun di tengah malam seperti ini. Biasanya walau sekeras apa pun suaranya, Adit tidak biasa terbangun jika sudah tidur. Dia seperti sudah terlena denga dunia mimpinya. Aku sudah memakluminya. Anak seusia 3 tahun biasanya seperti itu. Mungkin dulu aku juga seperti itu, jadi aku tidak pernah menyalahkan Adit jika dia terlelap dalam tidurnya. Namun kali ini lain, Adit yang biasanya oleh mama dan papa dijuluki si kebo hijau, sekarang dia mendapat julukan baru. Aku sekarang menjulukinya kelelawar kecil, karena Adit terbangun lebih dahulu dari pada mama dan papaku. Sebelum aku sempat beranjak keluar dari kamarku, Adit sudah masuk kamarku dan memelukku.
“Loh, Adit sudah bangun. Mama dan papa tahu tidak Adit bangun?”
“Kakak, Adit takut. Suara itu”. Adit memelukku sangat erat. Dia menujuk ke arah pintu rumahku. Aku sudah paham maksudnya. Adit pasti sangat ketakutan dengan suara itu.
“Adit tenang ya, ada kakak disini, kakak akan melindungi Adit”. Aku pun memeluknya dan mengusah rambutnya.
“ Kak Lala jangan tinggalkan Adit ya. Adit takut tidur. Adit mau tidur dengan kakak”
“Iya, sayang. Kak janji tidak akan membiarkan Adit tidur sendirian. Mama dan papa apa tidak bangun”
Adit menggelengkan kepalannya. Aku terpaksa memasang senyum dan berusaha untuk tetap menengkan adikku ini.
“Adit, kakak keluar sebentar ya. Adit tunggu disini, jangan kemana-mana”
“ Kakak mau kemana, Adit ikut”
“ Kakak ingin mengusir suara yang tadi membuat Adit terbangun di tengah malam seperti ini. Adit tidak usah ikut, Adit tunggu sebentar saja di kamar kakak ya”. Adit mengangguk dan aku pun segera keluar untuk melihat siapa yang tengah malam seperti ini bertamu dengan tata krama yang tidak sopan.
Suara itu semakin menjadi-jadi. Emosiku sudah mencapai level 1000. Aku bersiap-siap ingin menumpas suara yang mengganggu ketenangan keluargaku.
“Brreeekk....brreeeekkkk....brreeeekkkk.....”
Lagi-lagi suara itu semakin jelas di telingaku.
Ketika aku sudah hampir sampai di daun pintu rumahku, langkahku terhenti. Aku memikirkan sesuatu “Kira-kira siapa ya. Ku buka tidak...”. aku bingung tindakan apa yang harus aku lakukan. Tiba-tiba saja banyak imajinasi-imajinasi negatif yang muncul di benakku. “jangan-jangan nanti maling gimana. Aduh...” pikirku panik. Aku urungkan niatku untuk membukakan pintu. Aku pikir lebih baik aku membangunkan mama dan papa. Tapi disisi lain aku juga tidak tega membangunkan mereka. Papaku baru pulang pada pukul 22.00, sementara mama baru menyelesaikan tugas lemburan dari kantornya dan baru tidur pukul 22.00 juga. “ Heahhh...enggak jadi sajalah. Aku tidak ingin merepotkan orangtuaku. Kasihan mereka baru saja istirahat. Aku sekarang sudah SMA, masak aku takut dengan hal-hal seperti itu” desahku. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak jadi membangunkan orang tuaku. Aku pergi ke gudang dan mencoba untuk mengambil sesuatu. Ya, pokoknya sesuatu yang dapat aku gunakan untuk senjata jika seumpama nanti orang yang tidak sopan itu bertindak kriminal padaku. Aku membawa sebuah mainan Adit. Jika dipikir memang konyol, tapi mainan itu aku pikir lebih bermanfaat daripada sapu. Kalau sapu nanti akan ketahuan lebih dahulu oleh korbannya. Tapi kalau mainan adikku ini tidak terlihat. Dan cukup bermanfaat pula, mainan ini terbuat dari besi, kira-kira seukuran kelereng dan berbentuk kotak. Mainan ini dapat dibuka. Jika dibuka dapat mengeluarkan bunyi seperti bunyi sirene mobilnya pak polisi. Otomatis nanti si korban akan ketakutan dan mengira bahwa pak polisi sudah datang.
Kuberanikan langkahku untuk bersiap menghadapi korban. Perlahan lahan kubuka kunci dan krreekkk kutarik pintu rumahku. Aku melihat ke bawah dan menelusuri si korban perlahan-lahan. Ternyata pada saat itu, mentalku sangat kecil sehingga aku tak berani untuk menatap wajah si korban itu secara langsung. Terlihat sangat jelas bahwa si korban itu memakai sepatu kulit berwarna coklat. Sepatunya kotor. Berlumpur. Mungkin saja itu karena cuaca sedang hujan dan dia tadi kebetulan menginjak tanah becek. Orang itu memakai celana jeans pendek. Sudah dapat kupastikan bahwa orang itu adalah seorang laki-laki. Aku terus mengamati orang itu dari penampilan bawahnya sampai ke penampilan atasnya. Targetku untuk melihat wajahnya adalah target yang terakhir. Kulihat pula orang itu mengenakan kaos warna merah dan jaket kulit warna hitam. Anehnya orang itu tak sedikitpun bersuara atau berniat untuk melukaiku. Sepertinya dia itu bukan penjahat. Karena tak ada reaksi apa pun terhadapku. Orang itu juga tidak terlihat basah kuyup karena kehujanan. Bajunya masih segar dan hanya sepatunya saja yang basah dan berlumpur.
“Lala... apa yang kamu lakukan. Kamu seperti detektif!” kata orang yang aku amati. Aku memberanikan diri untuk menatap wajah pemilik suara itu. Aku mendongak dan betapa terkejutnya bahwa pemilik suara itu adalah pamanku. Paman yang jarang sekali datang ke rumahku. Paman yang memberikanku selimut kesayanganku. Aku segera memeluknya.
“ Paman kenapa tidak memberi kabar kalau paman akan datang kesini. Lala tadi ketakutan. Lala kira paman itu penjahat”
“Maafkan paman, La. Paman lupa tidak memberitahumu. Tapi tadi siang paman sudah telfon papamu bahwa mungkin malam ini paman akan datang ke rumahmu”
Aku melepaskan tanganku dari tubuh paman. Paman kupersilakan masuk. Aku mengajak paman berbicara di ruang tamu.
“Paman kenapa datangnya tengah malam seperti ini?”
“ Iya, soalnya tadi keretanya tiba jam sepuluh. Lalu kebetulan juga tidak ada angkot. Jadi paman tadi jalan kaki menuju kesini. Untung saja tadi paman membawa mantel. Sehingga paman tidak kehujanan khan. Lihat pamanmu ini masih terlihat ganteng khan!” . aku memicingkan bibirku. Paman terkekeh melihatku. Seperti gaya khasnya. Dia selalu membuntuk huru V dengan jarinya. Kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi dan pas di depanku dia mengucapkan “Peace.. Peace salam damai Peace peace”. Yentu dengan gaya pamaku yang satu ini aku tak tahan melihatnya. Aku tidak jadi marah tapi aku malah tertawa lepas.
“Tidak lucu itu Paman!” kataku membalik fakta
“ Kalau tidak lucu kenapa ketawa?”
“iicchhh paman nyebelin. Ya sudah aku tinggal tidur kalau gitu”
“ yah gitu aja udah marah. Katanya sudah SMA. Kok sikapnya masih seperti Adit sih”
Mendengar kata Adit, aku langsung teringat adikku tadi. Aku tadi meninggalkannya di kamarku sendirian. Aku segera berlari menuju kamarku dan melihat adikku. Tak kusangka ternyata Adit sudah tertidur pulas dengan selimut kesanyanganku. Kali ini aku rela selimutku di pakai adikku. Aku tak tega melihat si kebo bangun tengah malam seperti tadi. Aku melihat kakinya masih belum terselimuti, sehingga aku membenarkan letak selimutnya. Aku meninggalkannya dan menuju ruang tamu untuk berbincang lagi dengan pamanku tersayang.
Sampai di ruang tamu, ternyata mama dan papa sudah bangun.
“Mama dan papa kapan bangunnya” tanyaku
“ Barusan saja, La” jawab papa.
“ Lala kenapa paman tidak disuruh tidur. Ini khan sudah malam. Ngobrolnya besok pagi saja” tambah mama.aku menekuk bibir dan kemudian duduk di samping mama.
“Lala sangat kangen sekali dengan paman, Ma. Biarkan Lala ngobrol sebentar saja dengan paman. Pama pasti juga tidak keberatan. Bukan kah begitu paman?”. Aku melirik ke arah paman melontarkan kata tersebut. Pamanku melirik papaku dan sesaat kemudian paman menjawab “ Sepertinya tidak Lala. Paman sudah capek sekali. Gimana kalau besok saja kita teruskan ngobrolnya”.
“Ya sudah, iya paman. Lala tidur ya kalau begitu”
“ Iya La, jangn lupa besuk bangunnya jangan sampai kesiangan ya” tambah paman.
“Sip, paman” jawabku dengan menyimpitkan mata.
**
“kak, kak ayo bangun!. Sudah jam setengah lima”
“Aduh, apa sih Adit. Kakak khan baru saja tidur. Kenapa di bangunkan.”.
Aku terdiam sejenak dengan memejamkan mata. Kuresapi kalimat yang baru saja disampaikan oleh adikku.
“Hah...??? setengah lima”. Aku pun kaget dan segera kusadari bahwa hari sudah terlalu pagi. Biasanya aku bangun jam tiga. Tapi kali ini aku terlambat bangun satu setengah jam. Aku segera bergegas menuju kamar mandi. Sesegera mungkin aku menunaikan sholat subuh. Setelah itu aku melanjutkan untuk belajar. Aku tidak pernah belajar malam hari. Waktu belajarku pagi hari sekitaran jam tiga. Tapi kali ini aku benar-benar teledor sehingga aku harus kesiangan bangun. Terpaksa kali ini akutidak belajar. Aku hanya menata jadwal pelajaran untuk pelajaran hari ini dan kemudian segera mandi.
“ Lala, tidak sarapan dulu. Ini sudah mama siapakan loh”
“Tidak, Ma. Lala buru-buru. Lala tadi kemarin lupa belum mengembalikan buku teman. Jadi Lala harus segera berangkat” jawabku sambil mengenakkan sepatu. Ku ikat tali sepatuku secepat mungkin. Entah bentuk ikatan apa yang telah aku buat, yang terpenting talinya erat dan tidak lepas. Pamanku ternyata mengetahui tali sepatuku. Paman malah tertawa terkekeh-kekeh.
“Aduh keponakanku ini kenapa ya. Apa terburu-buru ingin cepat bertemu dengan pacarnya di sekolah”
“ Paman ini bicara apa sih. Lal ini benar-benar buru-buru” jawabku ketus.
“Ya sudah, kalau gitu gimana kalau paman antarkan kamu pakai mobil papamu. Daripada kamu nanti naik angkot kelamaan macetnya”
“ Okay. Ayo paman. Aku tunggu di depan ya. Cepat paman siap-siap ya”
Aku berpamitan dengan mama dan papa. Kucium tangan mereka. Dan tak lupa juga aku mencubit pipi adikku. Adikku marah sepeti biasanya. Tapi hal itu tidak hal itu tidak aku hiraukan. Sudah menjadi kebiasaan setiap akan berangkat sekolah aku selalu mencubit pipi adikku. Aku sangat gemas sekali dengan pipinya yang super cabby.
“Ma, kakak nyubit pipiku lagi” rengek adikku. Mamaku hanya tersenyum manis mendengar rengekan adikku. Begitu juga dengan papaku.
Ternyata pamankun sudah menungguku di depan. Paman sudah berada di dalam mobil.
“Ayo Lala masuk. Nanti kesiangan loh!”
“Iya paman”
Sepanjang perjalanan ke sekolah aku melanjutkan perbincanganku dengan paman yang semalam belum sempat terselesaikan. Paman pun dengan senang hati menjawab semua pertanyaan yang aku ajukan. Tak jarang pula sesekali paman menyisipkan humornya.
“Lala, tidurnya malam-malam terus ya”
“ sebenarnya tidak juga pamam. Tapi jika waktu ada banyak PR kadang juga terpaksa harus tidur sampai malam hari. Paman sendiri tidurnya malam juga ya”
“Iya. Paman juga sering tidur malam”
“Untuk apa paman?”
“ La khan kalau siang paman kerja, jadi kalau tidur paman pasti malam. Kalau tidurnya siang khan namanya bukan tidur malam, tapi tidur siang” jawab paman bangga telah membuatku percaya dengan omongannya. Aku meringis mendengar humor paman kali ini. Hal ini yang dari dulu sanagt aku sukai dari paman. Paman selalu bisa menciptakan suasana humoris dalam hidupku.
Sampai juga aku di sekolah. Diana ternyata sudah menunngu sedari tadi. Kulihat dari kaca mobil sangat jelas sekali bahwa Diana sedang marah padaku. Aku segera turun untuk menghampiri Diana.
“Paman, trimakasih banyak ya. Nanti di jemput lagi ya” candaku
“iya iya gampang. Pokoknya harus dijatah ice crim ya nanti”
“ ha ha gampang paman. Ya sudah, Lala masuk dulu ya”
Aku menghampiri Diana dan kuambil bukunya.
“ Ini Na bukumu. Terimakasih ya Na. Tapi bukunya belum sempat aku tulis. Maaf ya, lain kali aku boleh tidak pinjam lagi. Kemarin aku cukup sibuk sehingga belum sempat untuk menyalinnya”
“Enggak boleh. Ini kali pertama dan kali terakhirnya kamu pinjam bukuku. Aku sudah cukup baik meminjamkan bukuku padamu. Tapi kamu malah telat mengembalikannya. Gara-gara kamu, semalam aku tidak dapat mengerjakan PR” jawabnya ketus.
Wajah Diana memerah bukan karena tersipu malu tapi memerah karena dia sdangmarah padaku. Aku tidak mengira bahwa Diana itu sifatnya seperti itu. Padahal dulu waktu kali pertama aku berkenalan dengannya, menurutku dia adalah orang yang paling baik. Tapi sekarang anggapan itu sudah hilang. Bagiku Diana bukan seseorang yang special lagi. Tapi aku tidak mau mengatakan ini pada teman-teman. Biarlah teman- akuteman sendiri yang mengetahuinya. Aku mengakui bahwa Diana memang temanku paling pandai, tapi sayangnya dia mempunyai sifat seperti itu. Sehingga kepandaiannya dimataku tidak ada artinya.
Kemudian kakiku melangkah masuk kelas. Kali ini aku harus berhadapan dengan Diana lagi. Tapi Sikapnya benar-benar panas padaku. Dia tidak seperti hari-hari lalu. Kami berdua hanya mematung. Jika tak sengaja kami bertemu pandang, segera salah satu dintara kami membuang pandangan terlebih dulu. Entah itu aku yang lebih dulu membuang pandang ataupun Diana yang lebih dulu.
**
Jam istirahat pun berbunyi. Aku pergi ke kantin. Saat di kantin aku bertemu dengan Dani. Dani menghampiriku dan dia menanyakan tentang kejadian semalam.
“La, kamu kenapa? Ada masalah ya. Kenapa wajahmu hari ini tidak bercahaya seperti biasanya dan kenapa semalam kamu tidak mengangkat telfon dariku?”
Aku hanya diam saja.dan sebagai pengalihan perhatian, aku mengaduk-ngaduk juice mangga yang aku pesan tadi. Sebenarnya aku mendengar semua yang dikatakan Dani. Tapi aku sangat malas untuk menjawab semua pertanyaan Dani. Dani bertanya sekali lagi kepadaku “ La, kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa. Tolong jangan ganggu aku untuk sekarang. Aku ingin sendirian”
“Ya sudah. Tapi nanti kalau kamu ingin cerita tentang masalahmu, ceritakan saja kepadaku. Aku siap kok untuk mendengarkannya”. Aku hanya membalas ucapan Dani dengan mengulum senyum yang aku paksakan. Aku tidak pernah menganggap Dani sebagai seseorang yang spesial dalam hidupku. Bagiku dia seperti teman-temanku yang lainnya. Tapi entah kenapa walaupun aku selalu bersikap dingin padanya, dia tidak pernah sedikitpun bersikap dingin padaku. Dia selalu memberikan senyumanan padaku. Sebenarnya Dani itu orangnya baik. Pemuda yang cukup bijaksana dan terkenal kesholehannya di sekolahanku. Dia juga aktif di berbagai organisasi sekolah. Pemuda berperawakan kurus, berkulit putih dan berhidung mancung ini menjadi idola anak wanita di sekolahku. Mungkin Diana itu juga salah satu dari yang mengidolakannya. Karena dulu Diana sering menceritakan tentang Dani kepadaku. Tapi bagiku tetap tidak ada bedanya. Dani tetap Dani yang aku kenal waktu masuk SMA dulu.
**
Pelajaran di sekolahku hari ini cukup kacau. Aku tidak mengerjakan PR. Sehingga aku mendapat hukuman. Aku dihukum untuk membersihkan kamar mandi se-sekolah. Batinku menolak. Tapi apa yang dapat aku perbuat. Aku tetap melaksanaknnya walaupun dengan hati yang tidak ikhlas. Aku berjalan menuju kamar mandi dengan membawa satu pel dan dua ember.
“Hukuman seperti apa ini. Apa tidak ada hukuman yang lebih baik daripada ini” . aku terus saja menggerutu sambil membersihkan kamar mandi. Aku tak sadar bahwa sedari tadi ada orang yang mendengar perkataanku. Tiba-tiba terdengar suara seseorang berkata dari belakangku “Sudahlah Mbak yang ikhlas saja. Khan mbak masih di suruh untuk membersihkan kamar mandinya saja”. Aku menoleh karena kaget. Ternyata itu adalah suara seseorang pemuda yang aku kira usianya tidak beda jauh dengan aku. Mungkin sekitaran satu tahun di atasku.
“ Kamu siapa?”
Pemuda itu mendekat dan mengulurkan tangannya kepadaku,
“Perkenalkan namaku Amir. Aku bekerja di sekolah ini.”
“Lala” balasku.
“ Tapi aku sebelumnya belum pernah melihat Mas Amir. Mas Amir ini bekerja sebagai apa di sekolah ini?”
“Iya, soalnya aku masih baru bekerja di sekolah ini. Aku bekerja sebagai petugas penjaga kebersihan kamar mandi”
Aku sedikit malu mendengarnya. Aku malu karena pasti sedari tadi Mas Amir mengetahui apa yang aku katakan sambil membersihkan kamar mandi. Untung saja Mas Amir tak membahas masalah itu. Mas Amir malah membantuku untuk membersihkan kamar mandi. Rasa capekku sedikit berkurang berkat Mas Amir. Sebagai tanda trimalkasihku aku pun mentraktir Mas Amir makan.
**