Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

1/02/2016

Tagged Under:

Artikel

By: Catatan Tania P On: 04.03
  • Share The Gag
  • Menumbuhkan Kesadaran Masyarakat terhadap Eksistensi  Budaya Lokal

    oleh Tania Pramayuani



    Aset lokal merupakan kekayaan yang dimiliki suatu daerah yang dapat digunakan untuk mengembangkan potensi daerah tersebut. Aset sendiri memiliki hubungan yang signifikan terhadap perkembangan suatu daerah. Jika aset yang ada dalam suatu daerah dapat dikembangkan, maka aset tersebut mendatangkan keuntungan yang cukup besar dan sekaligus memperkenalkan daerah  dalam ranah yang lebih luas. Jika pada awalnya nama daerah tersebut hanya terdengar dalam lingkup provinsi, maka peluang untuk terdengar sampai ranah nasional maupun internasional semakin besar. Namun jika aset daerah hanya dibiarkan, tanpa ada tindakan pengembangan, maka tidak akan ada perbedaan antara daerah yang berpotensi dan daerah yang tidak berpotensi. Alih-alih jika sudah diketahui oleh pihak mancanegara, aset tersebut bisa dikembangkangkan oleh pihak mancanegara. Kemungkinan, mereka berdalih akan mengadakan sebuah kerjasama yang sifatnya progresif antar kedua belah pihak, padahal dibalik dalih lembut tersebut ada motif tersendiri yang ingin merongrong aset daerah yang bersangkutan. Jika hal ini sampai terealisasikan, maka keberhasilan sesungguhnya hanya dimiliki oleh pihak yang mengajak kerjasama.
    Dunia mengenal mancanegara (baca:subyek kerjasama internasional) telah memproduksi sesuatu yang super, padahal barang yang diproduksi itu tidak murni Sumber Daya Alam (SDA) sendiri. Hal ini perlu disinyalir apa motif kerjasama yang dilakukan. Memang tidak semua kerjasama itu bersifat negatif, tapi seperti yang telah terjadi di Indonesia, mayoritas tidak sesuai dengan harapan (baca:kerjasama bidang perindustrian dan pertambangan). Agar hal yang tidak diinginkan tidak terjadi, diperlukan suatu proses berfikir yang membedakan manusia dengan makhluk lain dalam mencari solve problem. Ali Makshum dalam bukunya “Pengantar Filsafat” menyebutkan bahwa pemahaman kognisi (pengetahuan), afeksi (perasaan), konasi (kehendak) dan aksi (tindakan) atau sering disebut daya cipta, rasa, karsa dan karya mampu mencipta, mengelola dan mengubah lingkungan sekitarnya ke arah yang lebih baik. Utamanya daerah yang dekat dengan kita, kota kelahiran.
    Aset Daerah dalam Bidang Industri
    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) industri diartikan sebagai suatu kegiatan memproses atau mengelolah barang menggunakan sarana atau peralatan (mesin). Hal ini menunjukkan apapun bentuk prosesnya asal ada sarana dalam proses pembuatannya dapat dikatakan sebagai suatu proses perindustrian. Dalam modul Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) disebutkan ada dua jenis perindustrian. Pertama, perindustrian skala kecil. Perindustrian kecil memiliki ciri-ciri yaitu: alat-alat yang digunakan masih tradisional, tenaga kerja sedikit, area yang digunakan tidak begitu luas, dan proses pendistribusiannya masih bersifat lokal. Kedua, perindustrian skala besar. Ciri-ciri perindustrian skala besar yaitu :alat-alat yang digunakan sudah modern, tenaga kerja sudah banyak, area yang digunakan sudah luas dan pendistribusiannya sudah mencapai nasional bahkan internasional.
    Kendati ada dua pembagian jenis industri, tidak menutup kemungkinan ada kesamaan dalam kedua jenis industri tersebut. Setiap industri yang berdiri di suatu daerah, akan membawa dampak besar bagi masyarakat sekitar daerah industri. Hal nyata yang langsung dirasakan adalah terserapnya banyak tenaga kerja. Jumlah pengangguran berkurang, sehingga mengurangi social problem di masyarakat. Tulungagung terkenal sebagai kota marmer yang tepatnya di Kecamatan Besole. Hal ini membawa dampak positif bagi daerah Tulungagung. Tidak hanya masyarakat Besole yang diuntungkan dengan terserapnya banyak tenaga kerja, melainkan keseluruhan warga Tulungagung. Masyarakat Tulungagung merasa bangga terhadap daerahnya dan semakin berkeinginan untuk menjaga aset yang sangat penting ini.
    Aset Kepariwisataan
    Setiap daerah memiliki potensi wisata yang berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri. Bahkan ada daerah yang mempunyai ciri endemis. Semakin banyak wisata yang ada di suatu daerah maka semakin berwarna pula daerah tersebut. Berwarna dalam hal kekhasannya. Ada nilai tersendiri yang dimiliki daerah itu. Daerah tersebut akan terkenal dan banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang ke tempat wisata. Hal ini akan menambah pemasukan ekonomi. Tidak hanya kalangan pemerintah yang senang, melainkan masyarakat juga ikut senang menikmati hasilnya. Pada akhirnya hasil tersebut akan dikembalikan lagi untuk kepentingan warga. Warga yang ada di sekitar daerah wisata dapat menemukan lapangan kerja baru. Tentu dengan adanya central public seperti tempat wisata, akan muncul kekreatifan masyarakat untuk berkarya dan menghasilkan uang. Misal, warga yang tinggal di dekat Pantai Popoh banyak yang menjual berbagai kerajinan tangan dari kerang, menjual berbagai makanan ringan dan beberapa nelayan juga cukup diuntungkan dengan hal ini.
    Tempat wisata di Tulungagung tidak hanya Pantai Popoh, ada banyak pantai seperti Pantai Sanggar, Pantai Coro, Pantai Sine, Pantai Dlodo, Pantai Sidem, dan masih banyak pantai lain yang ada di Tulungagung yang merupakat aset dalam bidang pariwisata. Tulungagung merupakan kabupaten yang ada di daerah Selatan, dekat dengan Laut Jawa. Jadi, tidak heran jika ada banyak pantai di Kabupaten Tulungagung. Jika bagian Selatan Tulungagung kondang dengan pantainya, maka di daerah Barat Tulungagung kondang dengan wisata alamnya. Tulungagung bagian Barat merupakan daerah pegunungan dan ada wisata berupa air terjun segawe serta air terjun Lawean.
    Beralih ke wisata sejarah. Tulungagung juga merupakan salah satu daerah yang kaya akan wisata sejarahnya, seperti Candi Dadi yang ada puncak gunung, Candi Sanggrahan bertempat di Desa Sanggrahan, Candi Penampihan, Candi Gayatri dan beberapa tugu yang di temukan juga di dekat lokasi situs Candi Sanggrahan. Selain hal tersebut, keberadaan musium sejarah juga melengkapi kajian sejarah di Tulungagung. Pada 2012, salah satu tim Karya Ilmiah Remaja MAN Tulungagung 1 menemukan beberapa fosil. Fosil tersebut berupa fosil tumbuhan dan beberapa fosil hewan laut seperti kerang, siput dan kayu. Penemuan tersebut sekaligus sebagai bukti bahwa Tulungagung bagian selatan (kecamatan Tanggunggunung) dulunya adalah laut, seiring dengan perkembangan masa, laut tersebut turun sehingga daratan naik seperti konsep dalam ilmu geologi. Ada interprestasi bahwa Tulungagung bagian selatan dulunya adalah kjokermondeger (baca:tempat tinggal manusia purba) pada zaman prasejarah.
    Aset kepariwisaatan yang mencangkup wisata pantai dan  sejarah menarik untuk dikembangkan dan dapat digunakan sebagai kajian sumber ilmu pengetahuan juga. Hal ini sepatutnya dijaga dan dilestarikan supaya tidak ada pihak lain yang mengklaim aset kepariwisataan Tulungagung.
    Aset Budaya
    Sesuai pengertian pada KBBI, Budaya adalah sesuatu hasil cipta rasa dan karsa manusia. Dengan adanya budaya, suatu daerah akan merasa mempunyai identitas sendiri. Budaya sebagai sesuatu yang tidak dapat dibeli. Dengan adanya budaya, suatu daerah akan berwarna. Nilai-nilai kemasyarakatan akan tetap terjaga dengan adanya budaya itu. Budaya menyatukan masyarakat, tidak memandang derajat, agama dan status sosial. Asalkan teguh pada budaya setempat, maka nilai-nilai kemanusian akan tertanam. Biasanya hal demikian masih kental di daerah pedesaan. Sehingga tidak heran jika daerah pedesaan masih kental sifat-sifat kemasyarakatannya.
    Budaya di daerah Tulungagung yang terkenal adalah upacara manten kucing, tradisi ulur-ulur, larung sesaji, dan beberapa kesenian seperti jaranan senterewe, reog kendang, kentrung, dan batik merupakan salah satu ciri khas Kabupaten Tulungagung. Selain kondang akan wisatanya, Tulungagung juga kondang dengan budaya lokalnya. Budaya daerah tersebut mempunyai peran besar dalam membangun masyarakat Tulungagung sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa suatu daerah lahir  karena adanya budaya. Misal, salah satu nama perempatan di Tulungagung dikenal dengan nama perempatan BTA yang merupakan singkatan dari Batik Tulungagung. Sebelum penamaan perempatan tersebut, cukup banyak pengrajin batik di Tulungagung dan kini hanya beberapa yang masih bertahan, yaitu Batik yang ada di Kecamatan Kauman dan Kecamatan Kedungwaru. Miris, dulu hal yang dibangga-banggakan, seiring dengan adanya pergeseran dan perkembangan zaman, kini semakin punah. Jika tetap didiamkan seperti ini, ada indikasi budaya-budaya yang membangun Tulungagung akan hilang.
    Urgensi Pengenalan Aset Daerah
    Aset daerah akan memperkaya dan membentuk suatu identitas sendiri bagi daerah itu. Aset industri, kepariwisataan dan budaya masing-masing mempunyai implikasi yang hampir sama terhadap masyarakat. Secara keseluruhan aset-aset tersebut dapat menciptakan keuntungan diantara banyak pihak. Masyarakat akan menemukan pekerjaan, sehingga mengurangi beban sosial pemeritah, menumbuhkan rasa gotong-royong dan semangat kemasyarakatan yang kental dikalangan masyarakat. Rasa persatuan dan kesatuan akan tumbuh juga seiring dengan rasa menjaga aset daerah tersebut. Sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak  sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan apa yang ada di daerah, utamanya di daerah tempat kelahiran. Sebelum mempelajari dan menengok kepada daerah lain, tengoklah sendiri bagaimana daaerahmu. Seseorang tidak mungkin dikenal jika orang tersebut belum mengenal dirinya sendiri. Sama halnya dengan kasus ini, Tulungagung tidak akan maju sampai kancah internasional jika masyarakatnya belum mengenal tentang Tulungagung itu sendiri.
    Banyaknya aset budaya yang ada di masing-masing daerah memberikan suatu ciri khas dan nama tersendiri bagi daerahnya. Namun jika hal itu sampai diklaim oleh pihak lain, daerah yang bersangkutan akan menyesal. Penyesalan selalu datang di akhir peristiwa dan setelah menyesal itulah baru disadari bahwa sangat penting untuk menjaga apapun yang ada di daerahnya dengan serius. Menjaga bukan berarti mengikat, tapi menjaga adalah memberikan perhatian khusus pada hal yang bersangkutan.
    Menjaga itu penting tapi lebih urgen lagi adalah bagaimana menumbuhkan semangat kecintaan terhadap budaya lokal itu sendiri. Adanya pengetahuan, pemahaman dan kajian literasi seputar kebudayaan akan membukakan cakrawala tentang kesadaran menjaga budaya lokal. Aktif dalam mengikuti rangkaian kegiatan kebudayaan tanpa adanya asumsi negatif merupakan pengaplikasian dalam kesadaran akan pentingnya budaya lokal. Go Internasional merupakan salah satu eksistensi budaya lokal dalam ranah yang lebih luas.

    0 komentar:

    Posting Komentar