Keluh
oleh Tania Pramayuani
Pintu berdecit memilukan
Mengena dalam kabin mata
Angin yang menari pun enggan berhenti
Walau cuma sedetik dijalani
Sang mentari hanya mengintip
Dari celah remang antara kenyataan dan kepalsuan
Sayup irama orasi orator
Dilema pun patokan intelek
Padahal antara plus dan minus
ada sama dengan di ujung mata
Jika logika berkata sepakat
Maka hati terpaksa terjerat
Dalam anggan yang tiada ikat
Satu persatu pecah
Dalam mozaik tak berarah
Hanya kegundahan yang tidak bercelah
Sungguh dan sungguh
Mulut menganga dan suara bergaung
Menegakkan logika yang katanya,
dari hati....
Apakah itu sebuah kebenaran yang hakiki
Ataukah hanya hipotesa dini
Ah, tiada yang tahu
Antara kebenaran logika dan hati terbuka
Hanya diam dan merenung
Dalam kidung malam kalut rindu
Antara hati dan logika berkeluh
Membela argumennya masing-masing
0 komentar:
Posting Komentar