Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

12/19/2017

What's Feature

By: Catatan Tania P On: 08.08
  • Share The Gag


  • What's Feature

    Feature merupakan salah satu jenis tulisan jurnalistik yang mempunyai bahasa tidak sekaku seperti straight news. Bahasa yang digunakan oleh feature mengalir, dan sistem penulisannya walaupun bahasanya tidak kaku, namun masih mengikuti aturan penulisan berita. Secara umum feature biasa disebut dengan berita kisah. Feature menuturkan berita dengan bahasa yang lembut dan tidak terikat oleh aturan-aturan yang ada dalam penulisan berita, seperti aturan staright news. Jika dalam straight news, penulisan di model dengan sistem piramida terbalik, dimana bagian penting berada di atas, dan semakin bawah merupakan bagian-bagian yang kurang penting dan semakin mengerucut. Tapi pada model penulisan feature tidak terkekakang oleh aturan ini. Penulisan feature tidak harus menggunakan model piramida terbalik. Bisa juga penulisan feature menggunakan model kronologis. Dimana seorang penulis membuat tulisan sesuai dengan urutan waktu. Penulis membuat mulai dari awal kisah kejadian hingga akhir kejadian. Walau model penulisan yang kronologis ini mirip dengan cerita, tapi feature tidak lepas dari kaidah berita jurnalistik. Feature tetap ditulis dengan aturan jurnalis. Berita yang ditulis harus sesuai fakta dan seorang jurnalis harus tetap melakukan crosscheck dan verifikasi sebelum menuangkan beritanya dalam bentuk tulisan.
     Pada penulisan feature, jurnalis membuat berita dari sudut pandang yang berbeda. Dan feature ini mempunyai satu nilai tersendiri sehingga feature mampu masuk ke dalam emosi pembaca. Feature mengandung human interest. Nilai ini ada pada feature sehingga membedakan feature dengan tulisan jurnalis yang lain. Human interst yang menjadi point of views dari tulisan feature ini, mengantarkan sebuah tulisan feature mampu menyentuh hati pembaca. Bahasa yang digunakan pun juga tidak menggunakan bahasa yang kaku, pemilihan kata juga dilakukan dengan pemiliha yang tepat. Selain itu feature juga tidak terikat dengan waktu. Seorang wartawan menulis straight news, berita yang ditulis harus benar-benar berita up to date. Berbeda dengan penulis feature. Penulis feature menulis berita apapun tanpa keteriatan waktu. Penulis bebas mau menulis berita dari sejak zaman kapan pun. Asalkan penulis bisa mengolah tulisannya sehingga tidak terkesan kaku. Misal saja, tulisan tentang Situ Bagendit. Tulisan ini mengulas tentang sejarah, peristiwa yang pernah terjadi, kondisi situ, dan andil masyarakat tentang Situ Bagendit saat ini.  Hal ini jelas sekali bahwa Situ Bagendit bukanlah berita yang up to date. Tapi saat Situ Bagendit menjadi sebuat tulisan feature, maka Situ Bagendit ini bisa menjadi sebuah berita. Dimana unsur-unsur dalam penulisan yang membuat berita menarik dan tidak terkesan jadul harus terpenuhi. Misalkan saja, penulis mengambil angel dari masalah terkait euforia pengunjung ke Situ dan alasan pengunjung kesana yang masih belum banyak diketahui media. Wartawan disini sekaligus melakukan penggalian data, crosscheck dan verifikasi juga. Jadi, tulisan feature ini murni memang benar-benar tulisan model jurnalistik. Semua yang diberitakan adalah fakta. Hanya saja bahasa yang digunakan tidak sekaku model piramida terbalik, terdapat unsur human intertesnya. Ada unsur subjektifitas dalam penulisan yang terkait dengan sudut pandang, bukan masalah opini. Dan yang penting juga ada kreatifitas wartawan dalam mengkombinasikan sudut pandang berdasarkan riset-riset dan data yang telah ditemukan.
    Unsur human interst yang ada dalam feature disini, merupakan segala sesuatu yang menimbulkan minat, perhatian dan kepentingan masyarakat. Human interst bisa terkait dengan sesuatu atau terkait dengan kehidupan seseorang, bisa mengenai kehidupan sehari-hari yang tidak biasa, aneh dan unik sehingga banyak diminati pembaca. Human interst selain menjadi daya tekan dari feature juga sekaligus menjadi salah satu jenis feature. Jenis jenis feature ada banyak, seperti feature sejarah, feature perjalanan, feature tokoh, feature keahlian, feature ilmiah, dan feature berita. Karena penekannya feature pada human interst saja, akhirnya banyak yang mengiri bahwa feature hanya sekelumit tentang human interst. Padahal feature sendiri ada banyak macamnya. Feature, menjadi salah satu bagian dari karya jurnalistik yang khas. feature dapat dianalogikan dengan cerita pendek (cerpen) untuk karya jurnalistik (cerpenjur), yaitu suatu corak bertutur yang menggunakan narasi, penuh kata berbungan-bunga dan ungkapan yang mendayu-dayu. Namun demikian, ungkapannkata tidak boleh berlebihan. Cerpenjur bukanlah karya fiksi, tidak memuat ilusi pengarangnya, melainkan bercerita mengenai sesuatu yang konkret dan nyata. (tan)

    4/22/2017

    Time

    By: Catatan Tania P On: 23.56
  • Share The Gag
  • ADIL DENGAN WAKTU


    time is part of our life
    Membagi waktu itu tidak semudah membagi roti menjadi dua sama banyak atau membagi tiga sama banyak. Dalam hal ini tindakan adil sangat diperlukan. Apalagi dalam menyikapi waktu dalam sehari. Adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dan disini dapat juga dimaknai kalau adil itu adalah bertindak bijak sesuai dengan konteksnya. Sama halnya dengan waktu. Waktu juga harus diperlakukan dengan adil. Yaitu adil dalam menempatkan waktu dalam hidup.
    Orang bijak pernah perkata bahwa orang yang paling beruntung di dunia ini adalah orang yang mampu membagi waktunya dengan baik. Dan menurut ungkapan bijak ini dapat ditafsiri bahwa menempatkan waktu dengan baik bermakna adil. Atau mungkin istilah lain disebut dengan mampu memanage waktu dengan tepat. Waktu, bukanlah sebuah benda kongrit. Waktu sifatnya abstrak. Tak dapat disentuh, dipegang dan diajak untuk berinteraksi secara langsung. Tapi waktu dapat dirasakan keberadaannya. Dalam hidup ini dibutuhkan yang namanya waktu. Waktu untuk tumbuh, mengenal, belajar dan lain sebagaimanaya. Jadi, waktu dalam kehidupan mempunyai keterkaitan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan dengan hidup. Tiada orang hidup yang tidak terikat oleh waktu. Semuanya, baik laki-laki atau perempuan, orang muda atau tua semua terikat waktu. Jika ada orang yang mengatakan “Aku sudah bebas dan saat ini aku sudah tak terikat oleh waktu”, sebenarnya hal ini salah. Walaupun orang tersebut mengatakan kalau sudah tak terikat dengan waktu, tapi dalam sehari masih makan tiga kali, sehari mandi dua kali dan selalu meluangkan waktu untuk tidur malam. Hal ini semua masih terikat dengan waktu juga khan. Jadi, sebenarnya kita tidak mungkin mau melepaskan waktu. Sebenarnya yang kita lepaskan bukan waktu, melainkan sebagian kecil dari pekerjaan kita. Waku masih terus berjalan dan akan selamanya terus mempengaruhi.
    Seperti dalam penjelasan di atas, waktu merupakan benda astrak yang tak dapat dipegang tapi dapat dirasakan keberadaannya. Waktu bisa menjadi sahabat dan sekaligus bisa menjadi musuh. Waktu jugalah yang nanti akan menentukan jalan hidup. Misalnya, ketika masa muda, seseorang lebih banyak menghabiskan hidupnya untuk hidup hura-hura. Kesenangan akan di raih saat itu juga. Banyak teman, banyak uang dan banyak yang ingin dilakukan. Saat suatu waktu, atau masa tua tiba, semua yang dimiliki sudah habis. Tidak ada yang tersisa selain “waktu penyesalan”. Nah, disinilah waktu yang menjadi musuh. Saat masa tua tiba, waktu yang lalu tidak dapat diulang dan diperbaiki lagi. Saat itu jugalah, merasa bahwa waktu tidak adil dan menyalahkan waktu. Saat hal ini terjadi, siapa yang salah? Pemilik waktu apa pengguna waktu?
    Sedangkan waktu menjadi sahabat adalah kebalikan dari hal tersebut. Misal saja, saat seseorang akan menghadapi persiapan CPNS, berbagai persiapan dilakukan semaksimal mungkin. Sebelum hari-H itu tiba, orang tersebut giat belajar dan mengumpulka informasi. Kemudian saat hari tes CPNS itu tiba, orang tersebut megerjakannya dengan lancar. Alhasil, saat pengumuman penerimaan, orang tersebut lolos. Nah, dari sinilah waktu menjadi sahabat. Kita merasa seolah-olah waktu pengumuman itu merupakan waktu yang sangat membahagiakan dan saat itu jugalah kita merasa sayang dengan  waktu, dan kita biasanya sering menyebutnya dengan “waktu baik”. Hari itu sangat terkesan sepanjang hidup dan tak akan pernah terlupakan. Disinilah letak “persahabatannya”. Dimana pengertihan hakiki dari sahabat adalah seseorang yang ada di setiap kondisi, sepanjang hidup dan orang yang tidak hanya menunjukkan kelebihan, melainkan juga menunjukkan kekurangan. Begitu juga dengan “waktu baik” tadi, waktu baik itu akan selamnya teringat dan akan sekaligus menjadi pelajaran dan kesan menyenangkan. Tinggal bagaimana kita mau memilih? Menjadikannya sahabat atau menjadikannya musuh?

    Waktu berelasi dengan semua unsur kehidupan. Kehidupan sendiri pada hakikatnya, meliputi kehidupan yang sementara dan kehiduapan yang kekal. Di dunia adalah kehidupan persiapan menuju pada kehiduapan yang lebih kekal. Untuk mencapai kehidupan yang lebih kekal, perlu adanya persiapan yang cukup di dunia. Dan dengan ini, maka waktu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita merugi karena salah menggunakan waktu. Dalam hidup ini, antara urusan dunia dan akhirat harus diseimbangkan. Jangan hanya mendominankan salah satu saja. Seperti suatu timbangan, jika berat sebelah, maka akan terjdi kesalahan dalam menghitung hasilnya. Begitu juga dengan waktu, jika tidak seimbang, atau berat sebelah, maka yang terjadi adalah adanya ketidakharmonisan dalam unsur-unsur hidup yang dilalui. Seseorang yang baik adalah, orang yang mampu membagi waktunya dalam urusan dunia dan akhirat. Dan tidak pernah memberatakan atau acuh sebelah. Kedua waktu ini harus benar-benar seimbang. Seperti dalam salah satu hadist disebutkan “Bekerjalah seorlah-olah kamu hidup selamanya dan beribadahlah seolah-olah kamu mati besuk”. Dengan hadist tersebut, menjelaskan kepada kita bahwa kita tidak boleh tidak adil dengan waktu dan suatu anjuran juga agar kita tidak malas dalam hal bekerja dan berusaha. Pada intinya, boleh menyibukkan diri dengan perkara dunia, tapi jangan lupa dengan ibadahnya. Dan boleh juga menyibukkan diri dengan urusan akhirat, tapi jangan malas untuk berusaha. Seperti dalam surat Al ‘Asr ayat 2-3 yang artinya “ Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”. Semoga kita semua dapat berlaku adil dengan waktu dan kita bukan tergolong orang yang merugi. Aamiin.

    3/22/2016

    ISLAMOPHOBIA

    By: Catatan Tania P On: 00.06
  • Share The Gag


  • Islamophobia dalam Arus Reformasi Islam
    Oleh Tania Pramayuani


    Pengaruh adanya pemberitaan pers barat yang memusuhi islam menyebabkan munculnya prespektif negatif mengenai islam. Media-media pers barat mayoritas menunjukkan sikap ketidaksukaan terhadap islam. Mulai dari beberapa tahun lalu, sempat gencar berita seputar pembakaran Al Qur’an di Amerika Serikat. Selain itu, munculnya gerakan radikalisme yang mengatasnamakan islam memperkuat fakta bahwa islam terkesan otoriter, tidak menjungjung nilai kemanusian dan layak diperangi. Hal semacam ini, kerap dimanfaatkan media pers barat untuk menyiarkan berita negatif tentang islam. Dengan mengudaranya berbagai macam berita traumatic seputar islam, memunculkan adanya rasa ketakutan mendalam mengenai islam. Konsumen berita global pun mengalami hal demikian. Gejala seperti ini akan terus mencuat dan menjadi tranding topik dunia jika akar dari fobi islam atau islamophia tidak diretas sajak dini.
    Fobi islam adalah penyakit yang ditularkan oleh kaum Kafir Quraisy. Ketakutan terhadap islam yang berakibat memusuhi atau membenci islam, dilatarbelakangi antara lain oleh ketidakmengertian mereka terhadap islam. Selain itu, karena tumbuhnya kesadaran islam merupakan potensi kuat yang akan mendominasi dunia. (Asep Syamsul M. Romli, SIP, 2003, 17). Sebuah laporan terbaru oleh CAIR dan University of California Berkeley  menemukan bahwa Islamofobia di AS meningkat. Survei di Amerika Serikat juga mengungkapkan bahwa mayoritas orang Amerika tahu sedikit tentang Islam  dan  43 persen orang Amerika merasa setidaknya sedikit berprasangka terhadap Muslim. Timbulnya rasa kekhawatiran yang berlebih, menyebabkan banyak media pers barat yang semakin menggencarkan penayangan berita islamophobia. Dari berita Koran online, REPUBLIKA.CO.ID-SEATTLE, baru-baru ini, seorang anggota parlemen Republik Missouri menggambarkan Islam sebagai suatu penyakit, Seperti polio. Sementara yang lain, menyebut Islam sebagai penjajah dari lingkungan Amerika. Doktrin yang dilansir oleh media tersebut menggambarkan tingkat kebencian terhadap islam telah mendarah daging.
    Wajah islam terkesan menakutkan, di samping karena banyak umantnya yang tidak melaksanakan islam secara baik dan benar, juga terutama akibat keberhasilan propaganda kaum Salibis-Zionis lewat jaringan media massa yang mampu mereka kuasai. Populernya istilah Radikalisme, militan, bahkan teroris bom islam yang digencarkan oleh pers barat membentuk terciptanya citra islam sebagai hantu yang harus disingkirkan.

    Keterpojokkan Islam, Minoritas Muslim
    Di tengah masyarakat yang mayoritas penduduknya non muslim, islam jelas terpojok dalam hal kuantitasnya. Seperti di Amerika, islam sangat terpojok dan bahkan untuk memperoleh pengakuan akan islam itu sendiri cukup sulit. Muslim disana, kerap dimusuhi oleh non muslim hingga pada saat pemilu tahun 2010, Salah satu capres partai Republik sebelum undur diri, Peter King, dalam sebuah orasi yang dipublikasi secara luas mengingatkan AS akan bahaya radikalisasi Muslim negeri itu. Realitas yang demikian akan semakin memojokkan islam di negera yang minoritas muslim. Berbeda dengan negara yang mayoritas muslim, Indonesia, yang eksistensi Islam sangat dijunjung tinggi. Kendati muncul beberapa radikalisasi yang hendak merongrong bangsa multireligion ini, islam di Indonesia masih dapat dikontrol.
    Keterpojokan islam yang melanda negeri minoritas islam, menimbulkan adanya manipulasi untuk memunculkan sebuah pemberitaaan yang menyebabkan islam kian dimusuhi dan semakin terpojokkan jika di negara itu tidak ada pengakuan de jure islam. Kadang, walaupun ada hukum tertulis pun mengenai keberadaan islam di negara minoritas muslim, tidak luput golongan yang tidak suka dengan islam akan membuat oposisi terhadap islam. Media massa Barat dan agen-agennya gencar melakukan Ghazwul Fikri Wa Ghazwuts Tsaqofi yakni mensosialisaskan nilai-nilai, pemikiran dan budaya mereka ke dunia islam, agar pola pikir dan gaya hidup umat islam cenderunng lebih berkiblat ke Barat daripada taat pada aturan islam (Asep Syamsul M. Romli, SIP, 2003, 15). Akibat dari adanya hal tersebut, kaum yang minoritas, islam, akan merasa tertekan dan akan terjadi akulturasi kultural. Pada akhirnya, paham sakularisme, hedonisme dan materialisme mewabah di kalangan masyarakat islam. Diiringi juga dengan perubahan style yang mengacu ke barat-baratan.
    Penyebaran pemahaman tersebut, tak jauh dari pengaruh media barat. Dewasa ini, media barat banyak menguasai kantor-kantor pemberitaan terkemuka di dunia (news agency), surat kabar (press) dan jaringan TV/Radio, percetakan, penerbitan (publishing) dan penyaluran (distribution) (Dr Daud Rasyid, M.A., 1998, 222-223). Orang-orang Yahudi juga menguasai perfileman dan jaringan TV internasional. Jika semua informasi dan penyebaran pemahaman dikuasai oleh orang yang tidak suka dengan islam, kemungkinan besar manipulasi berita yang memojokkan islam kian menguat dan umat islam sendiri dengan kuantitas yang tidak cukup akan mengalami kesulitan membela haknya. Pada akhirnya akan ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, islam akan terpojokkan dan paham kebarat-baratan akan menjadi identitasnya. Kedua, islam akan hancur di tengah genjatan yang dilakukan oleh kaum Salibis-Zionis.

    Islamophobia Tidak Butuh Obat
    Islamophobia yang tumbuh di kalangan masyarakat minoritas muslim, bukanlah suatu penyakit yang perlu diobati. Islamophia muncul dilatarbelakangi karena adanya ketakutan yang berlebihan terhadap islam. Hal itu ditengarai karena masih kurangnya pengetahuan seputar islam. Mereka yang mengalami islamophobia menganggap islam adalah agama yang radikal dan identik dengan teroris. Padahal itu semua tidak lain hanyalah propaganda kaum Yahudi yang tidak ingin islam mendominasi dunia dan menyebarkan isu-isu mengenai kekejaman islam. Hal yang cukup urgen dan patut disayangkan yakni penguasaan media pers barat dikuasai oleh kaum Yahudi, sehingga berita dan pemahaman dapat dibentuk sesukanya. Implikasinya berdampak pada media di seluruh dunia. Termasuk bisa menjangkit pula ke media di Indonesia dan pada ujungnya akan muncul paham kebarat-baratan di negeri yang mayoritas muslim.
    Karena bukan suatu penyakit seperti flu yang disebabkan oleh virus atau Tubercolecis yang disebakan oleh bakteri, maka islamophobia merupakan sebuah rasa ketakutan yang berlebihan dan cara mengatasinya bukan dengan sebuah obat, melainkan dengan sebuah paradigma pola pikir terhadap ontologi islam sendiri. Nilai religius islam bukan sebagai pemecah perdamaian dunia, melainkan sebagai perdamaian dunia. Islam melarang adanya pembunuhan, seperti yang tarmaktub dalam firmanNya yang artinya Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu, “Janganlah kamu menumpahkan darahmu (pembunuhan orang), dan mengusir dirimu (saudara sebangsamu) dari kampung halamanmu” kemudian kamu berikrar dan bersaksi (QS Al Baqarah:84). Dari ayat di atas jelas bahwa islam tidak mungkin melakukan pembunuhan terhadap jiwa, apalagi dianggap sebagai teroris yang sifatnya radikal dan rasis.
    Islamophobia kali pertama muncul dan berkembang dari media, maka solusi awal yang dilakukan adalah pengendalian media itu sendiri. Sebagai seorang pengkonsumsi berita, selayaknya berita yang ada tidak langsung diterima begitu saja, melainkan diklarifikasi dulu. Selain itu, hal paling urgen adalah mengenai dasar keimanan itu sendiri. Fondasi islam harus kuat dengan berpatokan pada prinsip islam menghargai sesama manusia dan tidak mencampurkan antara urusan agama dan sosial. Sedangkan bagi seorang jurnalistik, maka diperlukan strategi yang sesuai dalam penyampaian berita supaya hegemoni pers barat tidak menjalar pada nalar jurnalistik Indonesia. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyampaian berita untuk menyikapi islamopobhia sebagai berikut :
    1.      Sebagai pendidik, yaitu melaksanakan fungsi edukasi dan menyiarkan berita islami yang benar.
    2.      Sebagai pelurus informasi, ada tiga hal yang perlu diluruskan muslim. Pertama, informasi tentang ajaran umat islam. Kedua, tentang karya dan prestasi umat islam. Ketiga, mampu melakukan investigasi tentang kondisi umat islam di berbagai penjuru dunia.
    3.      Sebagai pembaharuan, penyebar paham pembaharuan akan pemahaman dan pengalaman ajaran islam (reformisme islam)
    4.      Sebagai pemersatu, mampu menjadi jembatan untuk menyatukan umat islam. Jurnalis harus membuang jauh-jauh sikap sektarian secara ideal maupun komersial tidaklah menguntungkan ( Jalaludin Rakhmad dalam Rusji Hamka& Rafiq 1998)
    Itulah beberapa alternatif cara yag dapat dilakuakan untuk mencegah penyebaran islamophobia. Dengan demikian, umat islam harus bangkit menghadapi tantang islam di era reformasi baik sebagai seorang pengkonsumsi berita maupun sebagai pencari berita.