Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

12/19/2017

Tagged Under:

TANTANGAN DAKWAH DI ZAMAN MILENIAL

By: Catatan Tania P On: 08.16
  • Share The Gag


  • Islamophobia Pers Barat: Peluang ataukah Tantangan Dakwah Islam
    Oleh Tania Pramayuani


    Pengaruh adanya pemberitaan pers barat yang memusuhi islam menyebabkan munculnya prespektif negatif mengenai islam. Media-media pers barat mayoritas menunjukkan sikap ketidaksukaan terhadap islam. Mulai dari beberapa tahun lalu, sempat gencar berita seputar pembakaran Al Qur’an di Amerika Serikat. Selain itu, munculnya gerakan radikalisme yang mengatasnamakan islam memperkuat fakta bahwa islam terkesan otoriter, tidak menjungjung nilai kemanusian dan layak diperangi. Hal semacam ini, kerap dimanfaatkan media pers barat untuk menyiarkan berita negatif tentang islam. Dengan mengudaranya berbagai macam berita traumatic seputar islam, memunculkan adanya rasa ketakutan mendalam mengenai islam. Konsumen berita global pun mengalami hal demikian. Gejala seperti ini akan terus mencuat dan menjadi tranding topik dunia jika akar dari fobi islam atau islamophia tidak diretas sajak dini.
    Fobi islam adalah penyakit yang ditularkan oleh kaum Kafir Quraisy. Ketakutan terhadap islam yang berakibat memusuhi atau membenci islam, dilatarbelakangi antara lain oleh ketidakmengertian mereka terhadap islam. Selain itu, karena tumbuhnya kesadaran islam merupakan potensi kuat yang akan mendominasi dunia. (Asep Syamsul M. Romli, SIP, 2003, 17). Sebuah laporan terbaru oleh CAIR dan University of California Berkeley  menemukan bahwa Islamofobia di AS meningkat. Survei di Amerika Serikat juga mengungkapkan bahwa mayoritas orang Amerika tahu sedikit tentang Islam  dan  43 persen orang Amerika merasa setidaknya sedikit berprasangka terhadap Muslim. Timbulnya rasa kekhawatiran yang berlebih, menyebabkan banyak media pers barat yang semakin menggencarkan penayangan berita islamophobia. Dari berita Koran online, REPUBLIKA.CO.ID-SEATTLE, baru-baru ini, seorang anggota parlemen Republik Missouri menggambarkan Islam sebagai suatu penyakit, Seperti polio. Sementara yang lain, menyebut Islam sebagai penjajah dari lingkungan Amerika. Doktrin yang dilansir oleh media tersebut menggambarkan tingkat kebencian terhadap islam telah mendarah daging.
    Wajah islam terkesan menakutkan, di samping karena banyak umantnya yang tidak melaksanakan islam secara baik dan benar, juga terutama akibat keberhasilan propaganda kaum Salibis-Zionis lewat jaringan media massa yang mampu mereka kuasai. Populernya istilah Radikalisme, militan, bahkan teroris bom islam yang digencarkan oleh pers barat membentuk terciptanya citra islam sebagai hantu yang harus dimusnahkan. Padahal disisi lain, adanya perkembangan informasi juga memudahkan untuk penyebaran berita. Dan otomatis dakwah juga lebih mudah dan efisien disebarkan melalui perkembangan teknologi informasi tersebut. Dam dakwah juga dapat ditegakkan melalui pers sendiri. Tapi yang menjadi masalah, apakah ada pers yang berdiri tegak membela islam. Jika ada pers yang berorientasikan islam, maka tak lain juga pers tesebut merupakan islam lurus dan fanatik. Sedangkan pers yang lebih maju, masih belum bisa tegak lurus di atas kepentingan masyrakat dan masih berpihak-pihak.

    Keterpojokkan Islam, Minoritas Muslim
    Di tengah masyarakat yang mayoritas penduduknya non muslim, islam jelas terpojok dalam hal kuantitasnya. Seperti di Amerika, islam sangat terpojok dan bahkan untuk memperoleh pengakuan akan islam itu sendiri cukup sulit. Muslim disana, kerap dimusuhi oleh non muslim hingga pada saat pemilu tahun 2010, Salah satu capres partai Republik sebelum undur diri, Peter King, dalam sebuah orasi yang dipublikasi secara luas mengingatkan AS akan bahaya radikalisasi Muslim negeri itu. Realitas yang demikian semakin memojokkan islam di negera yang minoritas muslim. Berbeda dengan negara yang mayoritas muslim, Indonesia, yang menjungjung tinggi eksistensi islam. Kendati muncul beberapa radikalisasi yang hendak merongrong bangsa multireligion itu, islam di Indonesia masih dapat dikontrol dan tidak separah yang terjadi di negara barat. Sempat, beberapa kelompok golongan yang akhir-akhir ini mendeklarasikan diri sebagai golongan paling benar dan paling sesuai dengan ajaran Nabi. Mereka menganggap bahwa dirinya paling benar diantara golongan lain. Tapi akhirnya pemerintah segera membubarkan golongan tersebut.
    Memang, keterpojokan islam yang melanda negeri minoritas islam, menimbulkan adanya manipulasi untuk memunculkan sebuah pemberitaaan yang menyebabkan islam kian dimusuhi dan semakin terpojokkan jika di negara itu tidak ada pengakuan de jure islam. Kadang, walaupun ada hukum tertulis pun mengenai keberadaan islam di negara minoritas muslim, tidak luput golongan yang tidak suka dengan islam akan membuat oposisi terhadap islam. Media massa Barat dan agen-agennya gencar melakukan Ghazwul Fikri Wa Ghazwuts Tsaqofi yakni mensosialisaskan nilai-nilai, pemikiran dan budaya mereka ke dunia islam, agar pola pikir dan gaya hidup umat islam cenderunng lebih berkiblat ke Barat daripada taat pada aturan islam (Asep Syamsul M. Romli, SIP, 2003, 15). Akibat dari adanya hal tersebut, kaum yang minoritas, islam, akan merasa tertekan dan akan terjadi akulturasi kultural. Pada akhirnya, paham sakularisme, hedonisme dan materialisme mewabah di kalangan masyarakat islam. Diiringi juga dengan perubahan style yang mengacu ke barat-baratan. Dengan adanya fenomena yang seperti itu, masyarakat yang hidup di negara yang mayoritas islam merasa khawatir jika hal tersebut melanda negaranya. Utamanya di Indonesia sendiri. Oleh karena itu, banyak golongan menentang tentang nilai-nilai islam yang mulai terkontaminasi budaya barat dan nilai islam yang ada di Indonesia. Mereka menganggap islam di Indonesia islamnya tidak lurus dan tidak sesuai dengan islam asli. Padahal, jika kita ketahui islam yang asli hanya ada dalam Al Qur’an saja, bukan dibawa suatu golongan teretentu. Dan suatu golongan atau kelompok mendirikan organisasi tersebut tentu mempunyai kepetingan. Dan di setiap kepentinga selalu ada kepentingan lain. Tidak mungkin pure melakukan satu hal.
    Penyebaran pemahaman yang banyak melandan negara tersebut, tak jauh dari pengaruh media barat. Dewasa ini, media barat banyak menguasai kantor-kantor pemberitaan terkemuka di dunia (news agency), surat kabar (press) dan jaringan TV/Radio, percetakan, penerbitan (publishing) dan penyaluran (distribution) (Dr Daud Rasyid, M.A., 1998, 222-223). Orang-orang Yahudi juga menguasai perfileman dan jaringan TV internasional. Jika semua informasi dan penyebaran pemahaman dikuasai oleh orang yang tidak suka dengan islam, kemungkinan besar manipulasi berita yang memojokkan islam kian menguat dan umat islam sendiri dengan kuantitas yang tidak cukup akan mengalami kesulitan membela haknya. Pada akhirnya akan ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, islam akan terpojokkan dan paham kebarat-baratan akan menjadi identitasnya. Kedua, islam akan hancur di tengah genjatan yang dilakukan oleh kaum Salibis-Zionis.

    Islamophobia Tidak Butuh Obat
    Islamophobia yang tumbuh di kalangan masyarakat minoritas muslim, bukanlah suatu penyakit yang perlu diobati. Islamophia muncul dilatarbelakangi karena adanya ketakutan yang berlebihan terhadap islam. Hal itu ditengarai karena masih kurangnya pengetahuan seputar islam. Mereka yang mengalami islamophobia menganggap islam adalah agama yang radikal dan identik dengan teroris. Padahal itu semua tidak lain hanyalah propaganda kaum Yahudi yang tidak ingin islam mendominasi dunia dan menyebarkan isu-isu mengenai kekejaman islam. Hal yang cukup urgen dan patut disayangkan yakni penguasaan media pers barat dikuasai oleh kaum Yahudi, sehingga berita dan pemahaman dapat dibentuk sesukanya. Implikasinya berdampak pada media di seluruh dunia. Termasuk bisa menjangkit pula ke media di Indonesia dan pada ujungnya akan muncul paham kebarat-baratan di negeri yang mayoritas muslim.
    Karena bukan suatu penyakit seperti flu yang disebabkan oleh virus atau Tubercolecis yang disebakan oleh bakteri, maka islamophobia merupakan sebuah rasa ketakutan yang berlebihan dan cara mengatasinya bukan dengan sebuah obat, melainkan dengan sebuah paradigma pola pikir terhadap ontologi islam sendiri. Nilai religius islam bukan sebagai pemecah perdamaian dunia, melainkan sebagai perdamaian dunia. Islam melarang adanya pembunuhan, seperti yang tarmaktub dalam firmanNya yang artinya Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu, “Janganlah kamu menumpahkan darahmu (pembunuhan orang), dan mengusir dirimu (saudara sebangsamu) dari kampung halamanmu” kemudian kamu berikrar dan bersaksi (QS Al Baqarah:84). Dari ayat di atas jelas bahwa islam tidak mungkin melakukan pembunuhan terhadap jiwa, apalagi dianggap sebagai teroris yang sifatnya radikal dan rasis. Islam adalah agama risalah, islam damai dan tidak radikal. Pesan-pesan yang dibawa islam adalah pesan perdamaian. Jika islam membawa suatu konflik dan perpecahan di suatu negara, itu berarti perlu adanya pemahaman ulang mengenai islam. Disinilah letak dakwahnya islam yang harus diliuruskan oleh para da’i.
    Islamophobia kali pertama muncul dan berkembang dari media, maka solusi awal yang dilakukan adalah pengendalian media itu sendiri. Orang yang menguasai media dapat dikatakan bahwa orang itu telah meguasai dunia. Karena media adalah sumber segala bentuk informasi tersebar. Sebagai seorang da’i, entah nantinya da’i yang berdakwah bil hal maupun degan bil qalam, penting untuk menyesuaikan cara atau stategi dalam menanggaulangi islamophia yang terjadi di barat yang pada akhirnya menyebakan juga munculnya golongan fanatik islam di negara-negara mayoritas muslim.
    Kemunculan islamophia juga dilatarbelakangi karena islam saat ini telah memasukki zaman teknik. Dimana pada zaman teknik semua manusia sudah tidak dihadapkan lagi pada masalah kultural saja, melainkan masyarakat islam terdorong menuju masyarakat global yang terdiri dari berbagai bangsa yang erat hubungannya satu dengan lain. Manusia banyak yang terperangkap ke dalam budaya teknologi informasi, dan hal inilah yang menjadi tantangan era kontemporer atau era teknik dan sekaligus sebagai jembatan juga untuk memecahkan masalah ini. Islam sebagai agama dakwah, tidak bisa diam saja melihat peluang yang besar ini untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui media internet. Arus globalisasi tak selamanya dimaknai dengan kolonialisasi barat atas dunia islam, akan tetapi globalisasi dimaknai sebagai peluang untuk melakukan dakwah yang bersifat global.
    Sebagai seorang pengkonsumsi berita, selayaknya berita yang ada tidak langsung diterima begitu saja, melainkan diklarifikasi dulu. Selain itu, hal paling urgen adalah mengenai dasar keimanan itu sendiri. Fondasi islam harus kuat dengan berpatokan pada prinsip islam menghargai sesama manusia dan tidak mencampurkan antara urusan agama dan sosial. Karena penyebaran islamophia dan munculnya kaum fanatik dilatar belakangi adanya media, menurut Onong Uchjana Effendy salah satu metode yang tepat digunakan da’i dalam berdakwah adalah metode jurnalistik. Sedangkan bagi seorang jurnalistik, maka diperlukan strategi yang sesuai dalam penyampaian berita supaya hegemoni pers barat tidak menjalar pada nalar jurnalistik Indonesia. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyampaian berita untuk menyikapi islamopobhia sebagai berikut :
    1.      Sebagai da’i, hendaknya melaksanakan fungsi edukasi dan menyiarkan berita islami yang benar bukan malah melakukan propaganda ataupun kudeta
    2.      Sebagai pelurus informasi, ada tiga hal yang perlu diluruskan muslim. Pertama, informasi tentang ajaran umat islam. Kedua, tentang karya dan prestasi umat islam. Ketiga, mampu melakukan investigasi tentang kondisi umat islam di berbagai penjuru dunia.
    3.      Sebagai pembaharuan, penyebar paham pembaharuan akan pemahaman dan pengalaman ajaran islam (reformisme islam)
    4.      Sebagai pemersatu, mampu menjadi jembatan untuk menyatukan umat islam. Jurnalis harus membuang jauh-jauh sikap sektarian secara ideal maupun komersial tidaklah menguntungkan ( Jalaludin Rakhmad dalam Rusji Hamka& Rafiq 1998)
    Itulah beberapa alternatif cara yang dapat dilakuakan untuk mencegah penyebaran islamophobia dan munculnya kaum fanatik islam. Dengan demikian, umat islam harus bangkit menghadapi tantang islam di era reformasi baik sebagai seorang pengkonsumsi berita maupun sebagai pencari berita.

    0 komentar:

    Posting Komentar