Aplikasi Dakwah Nabi dengan Model E-Dakwah sebagai Upaya
Preventif Problematika Dakwah di Zaman Teknik
Oleh Tania Pramayuani
Dakwah Rosulullah SAW yang diterapkan pada masa beliau berdakwah
merupakan sebaik-baiknya model menejemen dakwah. Walaupun dulu saat berdakwah
Rosulullah belum menggunakan media seperti sekarang ini, tapi dakwah yang
dilakukan oleh Rosulullah dapat berhasil. Rosulullah menggunakan dua pendekatan
dalam berdakwah. Pertama, Rosul menggunakan pendekatan personal dan kedua
menggunakan menggunakan pendekatan kolektif. Saat berdakwah menggunakan
pendekatan personal, Nabi menyasar kepada keluarga dan sahabat-sahabat terdekat
Nabi. Nabi menggunakan cara persuasif dalam berdakwah. Cara secara personal ini
dianggap lebi efektif karena lebih menyasar jika da’i berkeinginan untuk
membangun ruh dan jiwa tauhid mad’u. Setelah cara ini dianggap mampu, maka
selanjutnya da’i menggunakan pndekatan kolektif. Saat pendekatan ini dilakukan,
dai lebih mendominanakan pada pembinaan bukan urusan penananaman pemahamana.
Tapi bukan berarti juga tahap pemahama tentang tauhid berhnti.
Dewasa ini, penggunaaan pendekatan seperti yang dilakukan oleh
Rosullullah Saw masih digunakan juga. Namun, dalam penggunaan medianya sudah
mulai beregam. Adanya perkembangan di era digitalisasi ini, telah membaur
menjadi satu dan segala sesuatu juga dapat dilakukan dengan mudah dan efisien.
Utamanya kegiatan dakwah pun. Dakwah saat zaman Nabi belum mengenal adanya
internet, tapi saat ini, internet seperti sudah menjadi bagian dari hidup dan
hampir-hampir menjadi kebutuhan bagai manusia. Dengan adanya fenomena seperti
ini sangat disayangkan jika moment ini tidak dimanfaat para da’i untuk
melakukan dakwahnya. Da’i yang profesional mampu membaca situasi dan kondisi
dan tak akan membuang kesempatan ini. Dia akan segera tanggap dengan
peluang-peluang yang mendukung proses daakwahnya. Mengenai masalah da’i yang
menggunaan media internet sebagai pendukung dakwahnya tidak dikatakan salah,
walaupun pada zaman Nabi tidak ada. Satu hal yang harus menjadi pegangan dalam
berdakwah yaitu seperti sabda Nabi “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”.
Dari Sabda Nabi tersebut ada satu perintah agar kita berdawah. Dakwah yang
dilakukan tetap sesuai dengan dakwah yang dilakukan pada zaman Nabi, dengan tujuan
yang pure untuk menyampaikan kebenaran agara mendapat kebahagian dunia akhirat.
Bukan untuk kepentingan lain. Maka, da’i yang mampu bertindak seperti ini
tergolong da’i yang inovatif. Dia tidak melanggar kode etik dakwah.
Model E-Dakwah Sebagai
Inovasi dalam Berdakwah
Pada masa Rosulullah SAW, dakwah yang dilakukan belum mengenal kata
internet. Dan maih terbatas oleh geografisberbeda dengan saat ini, dakwah
dengan mudah dapat dilakukan menggunakan internet. Atau biasa yang kita sebut
dengan model E-Dakwah. Dalam kaitannya dengan dakwah, kemajuan teknologi
informasi dan komunikasi, televisi, internet misalnya, sangat tepat dijadikan
media dalam proses difusi kepada mad’u jarak jauh. Pada era modern seperti saat
ini, jika da’i tidak ikut andil dalam perkembangannya, maka dakwah tidak akan
pernah maju. Dakwah memang harus sesuai dengan apa yang dilakukan oleh
Rosulullah. Da’i tidak mengubah isi pesan dalam berdakwah, tapi da’i melakukan
inovasi dan seni dalam berdakwah.
Dengan mengacu pada aspek historis dakwah Rosulullah, dalam
melakukan rekayasa sosial, maka aspek perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi ini dapat dijadikan bahan pelajaran dan kajian pelaku dakwah serta
menggerakkan umatnya pada tataran yang diharapkan. Dengan demikian, aktifitas
dakwah, baik secara personal maupun kolektif, dapat dikelolah dan diarahkan
sesuai kondisi umat. Karena secara kuantitatif dakwah islam bertujuan untuk
mempengaruhi dan mentransformasikan sikap batin dan perilaku masyarakat menuju
terbentuknya tatanan individu dan kesalihan kolektif. Oleh karena itu,
masyarakat, para pelaku dakwah harus bersikap profesional dalam arti membekali
irinya dengan berbagai keilmuan dan strategi serta metode dakwah yang mantap
dengan mengikuti segala perkembangannya yag terjadi termauk sains dan
teknologi, mengingat jenis umat yang selalu dinamis (Thoifah:2015, 76). Dakwah
dengan model e-dakwah tidak salah, bahkan menjadi keharusan bagi da’i.
Model E-Dakwah dapat dilakukan dari segi yang paling mudah.
Misalnya saja untuk menjangkau geografis luar negeri, da’i dapat melakukan
dakwah secara streaming. Semua orang yang terkoneksi dengan internet
dapat menyaksikan dakwah ini. Selain itu cara paling sederhana adalah melalui
akun sosial media. Da’i dapat menuliskan status yang membawa pesan dakwah,
bukan status yang propaganda dan dapat juga melakukan live melalui akun
sosial medianya. Secara garis besar, walaupun dakwah dilakukan melalui
internet, tentu pasti ada hambatan-hambatanya. Karena sifat komunikasi internet
yang hanya satu arah, maka mad’u akan cukup sulit diketahui bagaimana atsar
mad’u setelah mendapatkan ceramah melalui live streaming. Inilah salah satu
kesulitan dalam model e-dakwah. Antara da’i dan mad’u harus saling sama-sama
saling menyepakati antara komunikasi yang dibangun mereka.
Dakwah Multidialog di Zaman Teknik
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Nurcholis Madjd (2000:452), pokok
persoalan yang dihadapi umat islam pada zaman sekarang atau sering dikenal
dengan zaman modern adalah dampak sosial dan budaya masyarakat industri dan
informasi dari teknologi. Nurcholis Madjid menyebutnya dengan zaman teknik. Karena
pada munculnya zaman tersebut ada peran sentral teknikalisasi serta
bentuk-bentuk kemasyarakatan yang terkait dengan teknikalisme. Dengan adanya
zaman teknik ini, maka masusia lebih terdorong pada persolan global. Karena
sekat ruang dan waktu sudah tidak ada. Seperti dakwah yang dilakukan melalui
media sosial, maka dakwah tersebut tidak memamdang tempat, dan media sosial
sendiri merupakan perangkat teknis. Disinilah letak dakwah di zaman teknis,
yang seluruh individu harus ikut menggunakan internet di zaman teknik ini.
Dengan kemunculan zaman teknik, e-dakwah sebagai solusinya. Tapi
e-dakwah sendiri juga mempunya kekurangan. Dakwah yang lebih efektif dlakukan
dengancara dakwah multidialog. Jadi, selain menggunakan e-dakwah, da’i juga melakukan
pendekatan personal, sosial kemasyarakatan dan seni dalam berdakwahnya. Dengan
menggunakan metode seperti ini, maka e-dakwah dapat dilakukan dengan efektif
begitu juga dengan atsar yanga akan mad’u berikan. Masalah terkait, adanya
isu-isu propaganda yang tersebar melalui internet memang merupakan salah satu
hambatan dalam berdakwah dengan e-dakwah. Apalagi jika da’i juga terkena virus sosial
famous, maka niat dari dakwah sendiri dapat berbelok arah. Dan da’i hanya
menjadikan e-dakwah sebagai kanal baginya menuju popularitas. Dan akhirnya akan
menyampaikan materi-materi dakwah yang sesuai dengan selera publik. Tanpa
memperhatikan unsuk etik dan estetika dakwah. Disinilah yang menjadi bumerang
bagi dai. Hal ini merupakan godaan-godaan da’i dalam berdakwah. Untuk menuju
masyarakat yang sesuai dengan cita-cita Rosulullullah, maka da’i sebagai
estafet dari kepemimpianan Rosulullah harus mampu membangun komunikasi yang
baik dengan dirinya sendiri, kemudia baru dengan mad’u. Model e-dakwah
diharapkan menjadi upaya preventif adanya isu-isu hoax dan maraknya propaganda
di dunia cyber. Da’i hatus menggunakan model dakwah multidialog di model
e-dakwahnya. Dengan memiliki kapabilitas kemampuan integritas, tanggungjwab,
sabar dan berprinsip, maka dapat memudahkan da’i dalam menapaki jalan dakwah. Memiliki
suatu keahlian khusus, mengambdikan diri untuk masyarakat bukan untuk diri
sendiri, mempunyai kecapakan diagnosis dan kompetensi aplikatif dan memiliki
otonomi dalam melaksanakan dakwah merupakan profesionalitas yang wajin dimiliki
oleh da’i (Munir:2006, 208). Utamanya meneladani kemapat sifat wajib Rosul
adalah hal yang harus dilakukan oleh da’i di zaman teknik ini.
0 komentar:
Posting Komentar