Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

12/19/2017

Tagged Under:

TANTANGAN DAKWAH

By: Catatan Tania P On: 08.13
  • Share The Gag


  • Aplikasi Dakwah Nabi dengan Model E-Dakwah sebagai Upaya Preventif Problematika Dakwah di Zaman Teknik
    Oleh Tania Pramayuani




    Dakwah Rosulullah SAW yang diterapkan pada masa beliau berdakwah merupakan sebaik-baiknya model menejemen dakwah. Walaupun dulu saat berdakwah Rosulullah belum menggunakan media seperti sekarang ini, tapi dakwah yang dilakukan oleh Rosulullah dapat berhasil. Rosulullah menggunakan dua pendekatan dalam berdakwah. Pertama, Rosul menggunakan pendekatan personal dan kedua menggunakan menggunakan pendekatan kolektif. Saat berdakwah menggunakan pendekatan personal, Nabi menyasar kepada keluarga dan sahabat-sahabat terdekat Nabi. Nabi menggunakan cara persuasif dalam berdakwah. Cara secara personal ini dianggap lebi efektif karena lebih menyasar jika da’i berkeinginan untuk membangun ruh dan jiwa tauhid mad’u. Setelah cara ini dianggap mampu, maka selanjutnya da’i menggunakan pndekatan kolektif. Saat pendekatan ini dilakukan, dai lebih mendominanakan pada pembinaan bukan urusan penananaman pemahamana. Tapi bukan berarti juga tahap pemahama tentang tauhid berhnti.
    Dewasa ini, penggunaaan pendekatan seperti yang dilakukan oleh Rosullullah Saw masih digunakan juga. Namun, dalam penggunaan medianya sudah mulai beregam. Adanya perkembangan di era digitalisasi ini, telah membaur menjadi satu dan segala sesuatu juga dapat dilakukan dengan mudah dan efisien. Utamanya kegiatan dakwah pun. Dakwah saat zaman Nabi belum mengenal adanya internet, tapi saat ini, internet seperti sudah menjadi bagian dari hidup dan hampir-hampir menjadi kebutuhan bagai manusia. Dengan adanya fenomena seperti ini sangat disayangkan jika moment ini tidak dimanfaat para da’i untuk melakukan dakwahnya. Da’i yang profesional mampu membaca situasi dan kondisi dan tak akan membuang kesempatan ini. Dia akan segera tanggap dengan peluang-peluang yang mendukung proses daakwahnya. Mengenai masalah da’i yang menggunaan media internet sebagai pendukung dakwahnya tidak dikatakan salah, walaupun pada zaman Nabi tidak ada. Satu hal yang harus menjadi pegangan dalam berdakwah yaitu seperti sabda Nabi “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”. Dari Sabda Nabi tersebut ada satu perintah agar kita berdawah. Dakwah yang dilakukan tetap sesuai dengan dakwah yang dilakukan pada zaman Nabi, dengan tujuan yang pure untuk menyampaikan kebenaran agara mendapat kebahagian dunia akhirat. Bukan untuk kepentingan lain. Maka, da’i yang mampu bertindak seperti ini tergolong da’i yang inovatif. Dia tidak melanggar kode etik dakwah.
    Model E-Dakwah Sebagai Inovasi dalam Berdakwah
    Pada masa Rosulullah SAW, dakwah yang dilakukan belum mengenal kata internet. Dan maih terbatas oleh geografisberbeda dengan saat ini, dakwah dengan mudah dapat dilakukan menggunakan internet. Atau biasa yang kita sebut dengan model E-Dakwah. Dalam kaitannya dengan dakwah, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, televisi, internet misalnya, sangat tepat dijadikan media dalam proses difusi kepada mad’u jarak jauh. Pada era modern seperti saat ini, jika da’i tidak ikut andil dalam perkembangannya, maka dakwah tidak akan pernah maju. Dakwah memang harus sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rosulullah. Da’i tidak mengubah isi pesan dalam berdakwah, tapi da’i melakukan inovasi dan seni dalam berdakwah.
    Dengan mengacu pada aspek historis dakwah Rosulullah, dalam melakukan rekayasa sosial, maka aspek perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini dapat dijadikan bahan pelajaran dan kajian pelaku dakwah serta menggerakkan umatnya pada tataran yang diharapkan. Dengan demikian, aktifitas dakwah, baik secara personal maupun kolektif, dapat dikelolah dan diarahkan sesuai kondisi umat. Karena secara kuantitatif dakwah islam bertujuan untuk mempengaruhi dan mentransformasikan sikap batin dan perilaku masyarakat menuju terbentuknya tatanan individu dan kesalihan kolektif. Oleh karena itu, masyarakat, para pelaku dakwah harus bersikap profesional dalam arti membekali irinya dengan berbagai keilmuan dan strategi serta metode dakwah yang mantap dengan mengikuti segala perkembangannya yag terjadi termauk sains dan teknologi, mengingat jenis umat yang selalu dinamis (Thoifah:2015, 76). Dakwah dengan model e-dakwah tidak salah, bahkan menjadi keharusan bagi da’i.
    Model E-Dakwah dapat dilakukan dari segi yang paling mudah. Misalnya saja untuk menjangkau geografis luar negeri, da’i dapat melakukan dakwah secara streaming. Semua orang yang terkoneksi dengan internet dapat menyaksikan dakwah ini. Selain itu cara paling sederhana adalah melalui akun sosial media. Da’i dapat menuliskan status yang membawa pesan dakwah, bukan status yang propaganda dan dapat juga melakukan live melalui akun sosial medianya. Secara garis besar, walaupun dakwah dilakukan melalui internet, tentu pasti ada hambatan-hambatanya. Karena sifat komunikasi internet yang hanya satu arah, maka mad’u akan cukup sulit diketahui bagaimana atsar mad’u setelah mendapatkan ceramah melalui live streaming. Inilah salah satu kesulitan dalam model e-dakwah. Antara da’i dan mad’u harus saling sama-sama saling menyepakati antara komunikasi yang dibangun mereka.
    Dakwah Multidialog di Zaman Teknik
    Sebagaimana yang diungkapkan oleh Nurcholis Madjd (2000:452), pokok persoalan yang dihadapi umat islam pada zaman sekarang atau sering dikenal dengan zaman modern adalah dampak sosial dan budaya masyarakat industri dan informasi dari teknologi. Nurcholis Madjid menyebutnya dengan zaman teknik. Karena pada munculnya zaman tersebut ada peran sentral teknikalisasi serta bentuk-bentuk kemasyarakatan yang terkait dengan teknikalisme. Dengan adanya zaman teknik ini, maka masusia lebih terdorong pada persolan global. Karena sekat ruang dan waktu sudah tidak ada. Seperti dakwah yang dilakukan melalui media sosial, maka dakwah tersebut tidak memamdang tempat, dan media sosial sendiri merupakan perangkat teknis. Disinilah letak dakwah di zaman teknis, yang seluruh individu harus ikut menggunakan internet di zaman teknik ini.
    Dengan kemunculan zaman teknik, e-dakwah sebagai solusinya. Tapi e-dakwah sendiri juga mempunya kekurangan. Dakwah yang lebih efektif dlakukan dengancara dakwah multidialog. Jadi, selain menggunakan e-dakwah, da’i juga melakukan pendekatan personal, sosial kemasyarakatan dan seni dalam berdakwahnya. Dengan menggunakan metode seperti ini, maka e-dakwah dapat dilakukan dengan efektif begitu juga dengan atsar yanga akan mad’u berikan. Masalah terkait, adanya isu-isu propaganda yang tersebar melalui internet memang merupakan salah satu hambatan dalam berdakwah dengan e-dakwah. Apalagi jika da’i juga terkena virus sosial famous, maka niat dari dakwah sendiri dapat berbelok arah. Dan da’i hanya menjadikan e-dakwah sebagai kanal baginya menuju popularitas. Dan akhirnya akan menyampaikan materi-materi dakwah yang sesuai dengan selera publik. Tanpa memperhatikan unsuk etik dan estetika dakwah. Disinilah yang menjadi bumerang bagi dai. Hal ini merupakan godaan-godaan da’i dalam berdakwah. Untuk menuju masyarakat yang sesuai dengan cita-cita Rosulullullah, maka da’i sebagai estafet dari kepemimpianan Rosulullah harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan dirinya sendiri, kemudia baru dengan mad’u. Model e-dakwah diharapkan menjadi upaya preventif adanya isu-isu hoax dan maraknya propaganda di dunia cyber. Da’i hatus menggunakan model dakwah multidialog di model e-dakwahnya. Dengan memiliki kapabilitas kemampuan integritas, tanggungjwab, sabar dan berprinsip, maka dapat memudahkan da’i dalam menapaki jalan dakwah. Memiliki suatu keahlian khusus, mengambdikan diri untuk masyarakat bukan untuk diri sendiri, mempunyai kecapakan diagnosis dan kompetensi aplikatif dan memiliki otonomi dalam melaksanakan dakwah merupakan profesionalitas yang wajin dimiliki oleh da’i (Munir:2006, 208). Utamanya meneladani kemapat sifat wajib Rosul adalah hal yang harus dilakukan oleh da’i di zaman teknik ini.




    0 komentar:

    Posting Komentar