Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

4/22/2017

Tagged Under:

Time

By: Catatan Tania P On: 23.56
  • Share The Gag
  • ADIL DENGAN WAKTU


    time is part of our life
    Membagi waktu itu tidak semudah membagi roti menjadi dua sama banyak atau membagi tiga sama banyak. Dalam hal ini tindakan adil sangat diperlukan. Apalagi dalam menyikapi waktu dalam sehari. Adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dan disini dapat juga dimaknai kalau adil itu adalah bertindak bijak sesuai dengan konteksnya. Sama halnya dengan waktu. Waktu juga harus diperlakukan dengan adil. Yaitu adil dalam menempatkan waktu dalam hidup.
    Orang bijak pernah perkata bahwa orang yang paling beruntung di dunia ini adalah orang yang mampu membagi waktunya dengan baik. Dan menurut ungkapan bijak ini dapat ditafsiri bahwa menempatkan waktu dengan baik bermakna adil. Atau mungkin istilah lain disebut dengan mampu memanage waktu dengan tepat. Waktu, bukanlah sebuah benda kongrit. Waktu sifatnya abstrak. Tak dapat disentuh, dipegang dan diajak untuk berinteraksi secara langsung. Tapi waktu dapat dirasakan keberadaannya. Dalam hidup ini dibutuhkan yang namanya waktu. Waktu untuk tumbuh, mengenal, belajar dan lain sebagaimanaya. Jadi, waktu dalam kehidupan mempunyai keterkaitan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan dengan hidup. Tiada orang hidup yang tidak terikat oleh waktu. Semuanya, baik laki-laki atau perempuan, orang muda atau tua semua terikat waktu. Jika ada orang yang mengatakan “Aku sudah bebas dan saat ini aku sudah tak terikat oleh waktu”, sebenarnya hal ini salah. Walaupun orang tersebut mengatakan kalau sudah tak terikat dengan waktu, tapi dalam sehari masih makan tiga kali, sehari mandi dua kali dan selalu meluangkan waktu untuk tidur malam. Hal ini semua masih terikat dengan waktu juga khan. Jadi, sebenarnya kita tidak mungkin mau melepaskan waktu. Sebenarnya yang kita lepaskan bukan waktu, melainkan sebagian kecil dari pekerjaan kita. Waku masih terus berjalan dan akan selamanya terus mempengaruhi.
    Seperti dalam penjelasan di atas, waktu merupakan benda astrak yang tak dapat dipegang tapi dapat dirasakan keberadaannya. Waktu bisa menjadi sahabat dan sekaligus bisa menjadi musuh. Waktu jugalah yang nanti akan menentukan jalan hidup. Misalnya, ketika masa muda, seseorang lebih banyak menghabiskan hidupnya untuk hidup hura-hura. Kesenangan akan di raih saat itu juga. Banyak teman, banyak uang dan banyak yang ingin dilakukan. Saat suatu waktu, atau masa tua tiba, semua yang dimiliki sudah habis. Tidak ada yang tersisa selain “waktu penyesalan”. Nah, disinilah waktu yang menjadi musuh. Saat masa tua tiba, waktu yang lalu tidak dapat diulang dan diperbaiki lagi. Saat itu jugalah, merasa bahwa waktu tidak adil dan menyalahkan waktu. Saat hal ini terjadi, siapa yang salah? Pemilik waktu apa pengguna waktu?
    Sedangkan waktu menjadi sahabat adalah kebalikan dari hal tersebut. Misal saja, saat seseorang akan menghadapi persiapan CPNS, berbagai persiapan dilakukan semaksimal mungkin. Sebelum hari-H itu tiba, orang tersebut giat belajar dan mengumpulka informasi. Kemudian saat hari tes CPNS itu tiba, orang tersebut megerjakannya dengan lancar. Alhasil, saat pengumuman penerimaan, orang tersebut lolos. Nah, dari sinilah waktu menjadi sahabat. Kita merasa seolah-olah waktu pengumuman itu merupakan waktu yang sangat membahagiakan dan saat itu jugalah kita merasa sayang dengan  waktu, dan kita biasanya sering menyebutnya dengan “waktu baik”. Hari itu sangat terkesan sepanjang hidup dan tak akan pernah terlupakan. Disinilah letak “persahabatannya”. Dimana pengertihan hakiki dari sahabat adalah seseorang yang ada di setiap kondisi, sepanjang hidup dan orang yang tidak hanya menunjukkan kelebihan, melainkan juga menunjukkan kekurangan. Begitu juga dengan “waktu baik” tadi, waktu baik itu akan selamnya teringat dan akan sekaligus menjadi pelajaran dan kesan menyenangkan. Tinggal bagaimana kita mau memilih? Menjadikannya sahabat atau menjadikannya musuh?

    Waktu berelasi dengan semua unsur kehidupan. Kehidupan sendiri pada hakikatnya, meliputi kehidupan yang sementara dan kehiduapan yang kekal. Di dunia adalah kehidupan persiapan menuju pada kehiduapan yang lebih kekal. Untuk mencapai kehidupan yang lebih kekal, perlu adanya persiapan yang cukup di dunia. Dan dengan ini, maka waktu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita merugi karena salah menggunakan waktu. Dalam hidup ini, antara urusan dunia dan akhirat harus diseimbangkan. Jangan hanya mendominankan salah satu saja. Seperti suatu timbangan, jika berat sebelah, maka akan terjdi kesalahan dalam menghitung hasilnya. Begitu juga dengan waktu, jika tidak seimbang, atau berat sebelah, maka yang terjadi adalah adanya ketidakharmonisan dalam unsur-unsur hidup yang dilalui. Seseorang yang baik adalah, orang yang mampu membagi waktunya dalam urusan dunia dan akhirat. Dan tidak pernah memberatakan atau acuh sebelah. Kedua waktu ini harus benar-benar seimbang. Seperti dalam salah satu hadist disebutkan “Bekerjalah seorlah-olah kamu hidup selamanya dan beribadahlah seolah-olah kamu mati besuk”. Dengan hadist tersebut, menjelaskan kepada kita bahwa kita tidak boleh tidak adil dengan waktu dan suatu anjuran juga agar kita tidak malas dalam hal bekerja dan berusaha. Pada intinya, boleh menyibukkan diri dengan perkara dunia, tapi jangan lupa dengan ibadahnya. Dan boleh juga menyibukkan diri dengan urusan akhirat, tapi jangan malas untuk berusaha. Seperti dalam surat Al ‘Asr ayat 2-3 yang artinya “ Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”. Semoga kita semua dapat berlaku adil dengan waktu dan kita bukan tergolong orang yang merugi. Aamiin.

    0 komentar:

    Posting Komentar