ADIL DENGAN WAKTU
![]() |
| time is part of our life |
Membagi
waktu itu tidak semudah membagi roti menjadi dua sama banyak atau membagi tiga
sama banyak. Dalam hal ini tindakan adil sangat diperlukan. Apalagi dalam
menyikapi waktu dalam sehari. Adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya.
Dan disini dapat juga dimaknai kalau adil itu adalah bertindak bijak sesuai
dengan konteksnya. Sama halnya dengan waktu. Waktu juga harus diperlakukan
dengan adil. Yaitu adil dalam menempatkan waktu dalam hidup.
Orang
bijak pernah perkata bahwa orang yang paling beruntung di dunia ini adalah
orang yang mampu membagi waktunya dengan baik. Dan menurut ungkapan bijak ini
dapat ditafsiri bahwa menempatkan waktu dengan baik bermakna adil. Atau mungkin
istilah lain disebut dengan mampu memanage waktu dengan tepat. Waktu, bukanlah
sebuah benda kongrit. Waktu sifatnya abstrak. Tak dapat disentuh, dipegang dan
diajak untuk berinteraksi secara langsung. Tapi waktu dapat dirasakan
keberadaannya. Dalam hidup ini dibutuhkan yang namanya waktu. Waktu untuk
tumbuh, mengenal, belajar dan lain sebagaimanaya. Jadi, waktu dalam kehidupan
mempunyai keterkaitan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan dengan hidup.
Tiada orang hidup yang tidak terikat oleh waktu. Semuanya, baik laki-laki atau
perempuan, orang muda atau tua semua terikat waktu. Jika ada orang yang
mengatakan “Aku sudah bebas dan saat ini aku sudah tak terikat oleh waktu”,
sebenarnya hal ini salah. Walaupun orang tersebut mengatakan kalau sudah tak
terikat dengan waktu, tapi dalam sehari masih makan tiga kali, sehari mandi dua
kali dan selalu meluangkan waktu untuk tidur malam. Hal ini semua masih terikat
dengan waktu juga khan. Jadi, sebenarnya kita tidak mungkin mau melepaskan
waktu. Sebenarnya yang kita lepaskan bukan waktu, melainkan sebagian kecil dari
pekerjaan kita. Waku masih terus berjalan dan akan selamanya terus
mempengaruhi.
Seperti
dalam penjelasan di atas, waktu merupakan benda astrak yang tak dapat dipegang
tapi dapat dirasakan keberadaannya. Waktu bisa menjadi sahabat dan sekaligus
bisa menjadi musuh. Waktu jugalah yang nanti akan menentukan jalan hidup.
Misalnya, ketika masa muda, seseorang lebih banyak menghabiskan hidupnya untuk
hidup hura-hura. Kesenangan akan di raih saat itu juga. Banyak teman, banyak
uang dan banyak yang ingin dilakukan. Saat suatu waktu, atau masa tua tiba,
semua yang dimiliki sudah habis. Tidak ada yang tersisa selain “waktu penyesalan”. Nah, disinilah
waktu yang menjadi musuh. Saat masa tua tiba, waktu yang lalu tidak dapat
diulang dan diperbaiki lagi. Saat itu jugalah, merasa bahwa waktu tidak adil
dan menyalahkan waktu. Saat hal ini terjadi, siapa yang salah? Pemilik waktu
apa pengguna waktu?
Sedangkan
waktu menjadi sahabat adalah kebalikan dari hal tersebut. Misal saja, saat
seseorang akan menghadapi persiapan CPNS, berbagai persiapan dilakukan semaksimal
mungkin. Sebelum hari-H itu tiba, orang tersebut giat belajar dan mengumpulka
informasi. Kemudian saat hari tes CPNS itu tiba, orang tersebut megerjakannya
dengan lancar. Alhasil, saat pengumuman penerimaan, orang tersebut lolos. Nah,
dari sinilah waktu menjadi sahabat. Kita merasa seolah-olah waktu pengumuman
itu merupakan waktu yang sangat membahagiakan dan saat itu jugalah kita merasa
sayang dengan waktu, dan kita biasanya
sering menyebutnya dengan “waktu baik”.
Hari itu sangat terkesan sepanjang hidup dan tak akan pernah terlupakan. Disinilah
letak “persahabatannya”. Dimana pengertihan hakiki dari sahabat adalah
seseorang yang ada di setiap kondisi, sepanjang hidup dan orang yang tidak
hanya menunjukkan kelebihan, melainkan juga menunjukkan kekurangan. Begitu juga
dengan “waktu baik” tadi, waktu baik itu akan selamnya teringat dan akan sekaligus
menjadi pelajaran dan kesan menyenangkan. Tinggal bagaimana kita mau memilih?
Menjadikannya sahabat atau menjadikannya musuh?
Waktu
berelasi dengan semua unsur kehidupan. Kehidupan sendiri pada hakikatnya,
meliputi kehidupan yang sementara dan kehiduapan yang kekal. Di dunia adalah
kehidupan persiapan menuju pada kehiduapan yang lebih kekal. Untuk mencapai
kehidupan yang lebih kekal, perlu adanya persiapan yang cukup di dunia. Dan
dengan ini, maka waktu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai
kita merugi karena salah menggunakan waktu. Dalam hidup ini, antara urusan
dunia dan akhirat harus diseimbangkan. Jangan hanya mendominankan salah satu
saja. Seperti suatu timbangan, jika berat sebelah, maka akan terjdi kesalahan
dalam menghitung hasilnya. Begitu juga dengan waktu, jika tidak seimbang, atau
berat sebelah, maka yang terjadi adalah adanya ketidakharmonisan dalam
unsur-unsur hidup yang dilalui. Seseorang yang baik adalah, orang yang mampu
membagi waktunya dalam urusan dunia dan akhirat. Dan tidak pernah memberatakan
atau acuh sebelah. Kedua waktu ini harus benar-benar seimbang. Seperti dalam
salah satu hadist disebutkan “Bekerjalah
seorlah-olah kamu hidup selamanya dan beribadahlah seolah-olah kamu mati besuk”.
Dengan hadist tersebut, menjelaskan kepada kita bahwa kita tidak boleh tidak
adil dengan waktu dan suatu anjuran juga agar kita tidak malas dalam hal
bekerja dan berusaha. Pada intinya, boleh menyibukkan diri dengan perkara
dunia, tapi jangan lupa dengan ibadahnya. Dan boleh juga menyibukkan diri
dengan urusan akhirat, tapi jangan malas untuk berusaha. Seperti dalam surat Al
‘Asr ayat 2-3 yang artinya “ Sesungguhnya
manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk
kesabaran”. Semoga kita semua dapat berlaku adil dengan waktu dan kita
bukan tergolong orang yang merugi. Aamiin.

0 komentar:
Posting Komentar