Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

4/14/2017

Tagged Under:

Jurnal Media Dakwah

By: Catatan Tania P On: 08.37
  • Share The Gag
  • Jurnal Media Dakwah
    Posisi Da’i Dalam Berceramah Lewat Mimbar di Era Kontemporer”


    Abstrak:
    Zaman dahulu da’i sering diidentikkan dengan mimbar. Dimana ada mimbar, maka disitu ada da’i. Secara umum, mimbar memang merupakan tempat untuk berdakwah. Namun, cangkupannya mimbar cukup luas. Antara mimbar dan podium memiliki arti yang sama. Sama-sama merupakan tempat untuk melakukan pidato/ceramah. Hanya dalam ranah penggunaaannya yang berbeda. Jika mimbar diidentikkan dengan religiusitas, sedangkan podium lebih identik dengan tempat pidato yang sifatnya general. Karena adanya dua hal yang berbeda ini, dengan diiringi perkembangan teknologi dan informasi, maka cara da’i berdakwah tidak hanya sebatas di mimbar saja. Dakwah menuju pada zaman kontemporer, dimana media internet, eloktronik dan cetak digunakan sebagai media untuk berdakwah. Kendati banyak media yang bermunculan, posisi mimbar sebagai tempat dakwah bagi da’i masih cukup penting. Tingkat asumsi yang menganggap penting atau tidakkah, efektif tidaknya ceramah lewat mimbar menjadi bahasan yang hangat di kalangan masyarakat. Antara masyarakat pedesaan dan perkotaan mempunyai cara pandang tersendiri dalam menyikapi dakwah di masa kontemporer ini.

    Kata Kunci : ceramah, mimbar, dakwah, era kontemporer

    A.    PENDAHULUAN
    Istilah dakwah dalam agama Islam nampaknya tidak asing lagi, bahkan sudah popular di kalangan masyarakat. Namun demikian yang sering kita jumpai sekarang bahwa istilah dakwah oleh kebanyakan orang diartikan hanya sebatas pengajian, ceramah, khutbah, atau mimbar seperti hal nya yang dilakukan oleh para mubaligh, atau khatib. Pada hakikatnya dakwah Islam merupakan aktualisasi iman yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara berfikir, bersikap, dan bertindak.
    Dakwah adalah kegiatan mengajak orang lain, seseorang atau lebih ke jalan Allah Swt. secara lisan (dakwah bil-lisan) dan perbuatan (dakwah bil-hal). Dan salah satu bentuk dakwah adalah khithabah. Kata khithabah dapat diartikan sebagai pidato, ceramah, tabligh dan khutbah. Untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah, seorang da’i atau penceramah dapat menggunakan berbagai media, baik itu media mimbar melalui khitabah (khotbah/ceramah), media cetak (koran, majalah, buku), elektronik (radio, televisi, film, internet), dan sebagainya. Dan tentunya dalam penggunaan media harusdisesuaikan dengan situasi, kondisi serta keadaan mitra dakwah (mad’u).
    Mengingat pentingnya peranan mimbar dalam pelaksanaan dakwah Islam, maka bagi pendakwah yang akan menyampaikan ceramah melalui mimbar harus memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang retorika, menguasai teknik ceramah dan menguasai norma-normanya serta harus melakukan persiapanpersiapan yang matang sehingga ketika sudah berada di atas mimbar tidak mengalami demam panggung ataupun kebingungan.
    Dakwah yang menggunakan fasilitas mimbar hanya akan di dengar sebatas yang hadir pada acara tersebut. Lain halnya dengan dakwah yang menggunakan fasilitas teknologi elektronik seperti TV, internet dan teknologi modern lainnya, akan lebih banyak manfaatnya. Materi dakwah yang tepat untuk menghadapi masyarakat modern ini adalah materi kajian yang bersifat tematik. Artinya Islam harus di kaji dengan cara mengambil tema-tema tertentu yang sesuai dengan tuntutan zaman.

    B.     Mimbar dan Ceramah
    Mimbar dalam bahasa Arab adalah Minbar . dalam kaidah bahasa Arab berasal dari kalimat Nabaru, Yanbaru, Nabran, Manbarun, Nabirun, Manbirun, Inbar, La tanbar, Minbarun. Mimbar adalah podium di masjid dimana imam (pemimpin do’a) berdiri untuk memberikan ceramah(khutbah) atau di Hussaina tempat pembicara duduk di depan jemaah. Kata mimbar adalah turunan dari akar kata Nabara berarti untuk meningkatkan, bentuk jamak Arab Manabir.
    Sementara mimbar biasanya memiliki fungsi lebih mirip dengan sebuah podium, menekankan kontak dengan penonton. Mimbar biasanya berbentuk seperti sebuah menara kecil dengan atap runcing dan tangga menuju kesana. Beberapa percaya dekorasi itu adalah bagian dari sunnah, bahkan mimbar Nabi Muhammad SAW hanya memiliki platform dengan 3 langkah. Mimbar ini terletak disebelah kanan mihrab, ceruk yang menunjukkan arah sholat yaitu menuju Makkah.
    Mimbar merupakan media dakwah yang paling populer dimasyarakat, baik masyarakat pinggiran maupun masyarakat perkotaan. Mimbar biasa digunakan pada saat khutbah Jum’at, Idul Fitri, Idul Adha dan pengajian-pengajian hari besar Islam baik di Kampung maupun di Masjid, bahkan di Hotel atau di Gedung.
    Tujuan khutbah dengan menggunakan mimbar adalah agar jama’ah dapat lebih terfokus pada satu pandangan. Mimbar biasanya dibuat lebih tinggi dari lantai dengan tujuan agar penceramah bisa melihat secara langsung kepada jama’ah.
    Dari segi model mimbar ada dua macam, yaitu:
    1.    Mimbar bertangga (terbuka): Mimbar yang bertangga biasanya yang khutbah   membawa tongkat.
    2.    Mimbar tidak bertangga (tertutup): Tidak membawa tongkat.
    Ceramah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pidato oleh sesorang dihadapan banyak pendengar, mengenai suatu hal, pengetahuan dan sebagainya. Ceramah termasuk dakwah bi al-lisan dan dakwah tindakan. Jenis-jenis Ceramah, yaitu: (Ali, 2004:359)
    1.             Ceramah Umum adalah pidato yang bertujuan untuk memberikan nasehat kepada khalayak umum atau masyarakat luas. Di dalam ceramah umum ini keseluruhannya bersifat menyeluruh, tidak ada batasan-batasan apapun baik dari audiens yang tua muapun muda, materinya juga tidak ditentukan, sesuai dengan acara.
    2.             Ceramah Khusus adalah ceramah yang bertujuan untuk memberikan nasehat-nasehat kepada mad’u namun terdapat batasan-batasan yang dibuat mulai dari audiens yang sesuai dengan yang diinginkan dan materi juga harus disesuaikan dengan keadaan.
    Unsur-Unsur Ceramah:
    a.       Da’i (penceramah)
    Seorang da’i atau pencermah harus mengetahui bahwa dirinya adalah seorang da’i atau pencermah, artinya sebelum menjadi penceramah perlu mengetahui apa tugas dari pencermah, modal dan bekal itu sendiri atas apa yang harus dimiliki oleh seorang pencermah.
    b.      Mad’u
    Mad’u atau audiens merupakan sebagai penerima nasehat-nasehat. Audiens bermacam-macam kelompok manusia yang berbeda mulai dari segi intelektualitas, status ekonomi, status sosial, pendidikan, jenis kelamin dll.
    c.       Materi
    Agar lebih menggugah pemikiran para mad’u atau audiens untuk mendengarkan materi-materi yang diberikan oleh penceramah atau da’i. Oleh sebab itu, seorang da’I harus dapat memiliki bahan yang tepat atau menarik agar si mad’u tertarik, dan sesuai dengan pokok acara, materi yang akan disampaikan harus betul-betul dikuasai sehingga penampilan penuh keyakinan, tidak ragu, dan jangan sampai menghilangkan konsentrasi dirinya sendiri. Dengan itu, materi harus disusun secara sisitematis, dengan artian judul, isi, dan acara tersebut sifatnya betul-betul mempunyai hubungan. Sehingga pembahasan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. 
    Teknik Dalam ceramah di bagi menjadi tiga yaitu:
    1.    Teknik Persiapan Ceramah
         Ada dua persiapan pokok sebelum berceramah  yaitu persiapan mental dan persiapan materi ceramah. Ada dua jenis persiapan ceramah yaitu :
    a)    Menggunakan teks (manuskrip)
    b)   Dengan menghafal 
    2.    Teknik Penyampaian Ceramah
    a)    Langsung menyebutkan topic ceramah
    b)   Menjabarkan latar belakang masalah
    c)    Mengaitkan dengan peristiwa yang sedang hangat
    d)   Menghubungkan dengan sejarah masa lalu
    e)    Mengisahkan cerita factual  ataupun fiktif
    f)    Memberikan humor
    g)   Mengajukan pertanyaan-pertanyaan provokatif
    h)   Menceritakan pengalaman pribadi
    3.         Tehnik penutupan ceramah
    Bagian pembukaan dan penutupan adalah bagian yang menentukan. Penutupan harus memfouskan pikiran dan gagasan pendengar. Adapun teknik penutupan sebagai berikut :
    a)                  Mengemukakan ikhtisar ceramah
    b)                  Memberikan dorongan untuk bertindak
    c)                  Mengakhiri dengan klimaks
    d)                  Menambahkan kutipan sajak, kitab suci, dll.
    e)                  Menjelasan maksud yang sebenarnya
    Ceramah yang terbaik adalah dengan menggunakan catatan garis besar saja (ekstempore). Ini adalah ceramah yang paling populer dan banyak dipakai oleh ahli-ahli ceramah. Pembicara tidak mempersiapkan dan menyusun ceramah kata demi kata serta tidak perlu menghafal keseluruhan isi pidato, akan tetapin ia hanya menyusun outline dari isi ceramah yang akan disampaikan yang dianggap dapat mengorganisasi dan mensistematisasi keseluruhan kesan ceramah.
    Keuntungan eksptempore ialah komunikasi pendengar yang lebih baik karena pembicara berbicara secara langsung kepada khalayak, pesan dapat feksibel untuk dapat diubah sesuai dengan kebutuhan saat itu serta penyajiannya lebih spontan.
      
    C.    Mimbar Sebagai Media Dakwah oleh Da’i
    Penggunaan mimbar sebagai media dakwah sudah tidak asing lagi, bahkan saat ini semua orang sudah mengetahui apa itu mimbar. Dan setiap seseorang mengucapkan kata “mimbar”, maka midset akan langsung terkoneksikan dengan kata “da’i”. Memang mimbar dan da’i tidak dapat dipisahkan. Mimbar merupakan tempat dimana seorang da’i berceramah, sedangkan da’i sendiri adalah pelakunya (orang yang berceramah). Mimbar biasanya ada di masjid-masjid. Kadang di sekolah juga ada mimbar. Tapi mimbar yang ada di sekolah lebih tepatnya disebut dengan podium. Antara podium dan mimbar sama saja hanya penempatan istilahnya yang tidak sama. Kalau mimbar dikhususkan untuk ranah keagamaan, seperti ceramah di masjud, sedangkan podium diidentikkan dengan pidato berkaitan dengan masalah umum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia podim adalah tempat untuk berpidato.
    Penggunaan mimbar sudah ada secak dakwah zaman Rosulullah. Sebuah hadist Abdululah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rosulullah SAW apabila telah duduk di atas mimbar, maka Beliau berhadapan dengan muka kami. Riwayat Tirmidzi dengan sanad lemah.  Dari hadist tersebut, walaupun sanadnya lemah, tapi telah dijelaskan bahwa mimbar memang digunakan sebagai media berdakwah.

    D.    Pandangan Masyarakat Terhadap Ceramah Lewat Mimbar
    Dewasa ini, masyarakat tidak hanya memfokuskan bahwa dakwah selalu diidentikkan dengan mimbar. Setelah berkembangnya ilmu oengetahuan dan teknologi, proses dakwah pun berkembang dengan pesat. Dakwah tidak hanya dilakukan melalui mimbar, melainkan bisa dilakukan melalui media online, media elektronik maupun media cetak.
    Dengan adanya perkembangan yang demikian ini, maka lahirlah dakwah kontemporer. Dimana dakwah pada kajian budaya kurang berpengaruh di perkotaan apalagi di era sekarang ini dakwah sudah modern. Dakwah menjadi kajian akademik kira-kira abad ke-20 seteah adanya beberapa tulisanyang membicarakan tentang dakwah baik sebagai materi atau sebagai kajian yang bersifa epistimologis dan ditembah berdirinya fakultas dakwah pada beberapa universitas. Dakwah kontemporer adalah dakwah yang dilakukan denngan cara menggunakan teknologi modern yang sedang berkembang, misalnya telecisi, radio, internet, dan lain-lain.
    Bagi masyarakat pedesaan, yang masih kental kultulnya, maka dakwah kontemporer masih sulit menjangkau mereka. Mereka masih berpegang teguh bahwa dakwah selalu diidentikkan dengan kegiatan ceramah yang biasanya lewat mimbar. Alasan kenapa masyarakat pedesaan masih sukar menerima perubahan dikarenakan hal yang tersebut sudah mendarah daging. Secara otomotis psikologi mereka juga lebih senang menerima hal-hal yang sudah pasti benarnya karena sudah sering dilakukan secara berulang-ulang.
    Dalam psikologi dakwah (Totok, 2001:30) menuliskan bahwa dakwah pada dasarnya merupakan proses motivatif dan persuatif, artinya dalam prosesnya dakwah merupakan proses memotivasi dan mempersuasi mad’u agar menerima message dakwah. Proses motivasi dan motivasi sendiri itu bersifat abstrak, artinya proses peralihan lambang atau pesan, baik melalui proses motivasi atau persuasi dari da’i kepada mad’u bukan suatu aktifitas yang dapat dianalisis secara empiris.sehingga secara verifikasi keilmuan, kriteria efektifitasnya sulit, sehingga ada suatu ukuran dan kreteria yang dapat dipertanggungjawabkan secera keilmuan pula. Misalnya kita tempatnkan salah satu hadis Nabi yang artinya “permudahlah dan jangan kau persulit, gembiralah dan jangan kau mengatakan sesuatu yang menyebabkan ia lari dari kamu” kepada utusannya Abu Musa al Asy’ary dan Muadz ibn Jabal ketika hendak berangkat ke Yaman menunaikan misi dakwah yang ditugaskan oleh Rosulullah SAW kepadanya. Pesan tersebut mengandung nilai motivasi dan persuasif terhadap orang lain tentang kebenaran yang disampaikan kepadanya, walaupun pada dasarnya hadist di atas lebih cenderung pada aplikasi metodologi.
    Aplikasi hadist dalam dakwah, baik secara motifasi atai persuasi ukuran hasilnya atau efektifitas teersebut sulit kreterianya. Pengajian umum, khutbah jum`at, dakwah lewat TV, lewat media massa lainnya sama sulitnya menempatkan kreteria yang tepat untuk mengkonklusikan efektifitasnya. Mengutip dari pendapat Stewart L Tub dan Sykvia Noss dalam karyanya “Human communication And Interpersonal Prespekyive”m Drr. Jalludin Rakhmat menyebutkan bahwa tanda-yanda komunikasi yang efektif, paling tidak menumbuhkan lima hal : pengertian, kesenangan, pengaruh dan sikap, hubungan yang makin baik dan tindakan.
    Dakwah yang dilakukan dengan media memibar, mayoritas bersifat oral dan mencangkup lima hal tersebut. Mad’u yang sasarannya adalah masyarakat pedesaan lebih menyukai proses dakwah yang dilakukan dengan cara melihat langsung apa yang dikatakan da’i. Lebih munyakai dai yang proses menyampaikannya menyenangkan dan mengena hati atau lebih tepatnya dengan mau’idzul hasanah. Dan apa fungsinya mimbar disini? Mimbar disini sebagai pembatas antara da’i dan mad’u. Dapat jugadikatakan dengan mimbar, maka da’i tidak mengalami demam panggung yang berlebihan saat menyampaikan pesan dakwah. Berbeda dengan media kontemporer, media kontemporer tidak memenuhi kelima kreteria tersebut. Misal, media internet atau televisi. Mad’u memang melihat apa yang diucapakan dan dilakukan da’i saat brcermah, namun hal tersebut tidak secara langsung. Psikologi dakwahnya kurang mengena. Apalagi jika diterapkan di masyarakat pedesaan yang masih sulit menerima perubahan. Akan sulit sekali dakwah kontemporer terjadi dan dakwah tetaplah diidentikkan dengan proses ceramah di atas mimbar.
    Sedangkan untuk masyarakat perkotaan yang masyoritas sudah mengeenl adanya perubahan dan condong mengikuti perkembangan teknologi. Dakwah melalui mimbar pun atau melalui media internet, televisi, media cetak, mereka dapat menerima semua itu. Bahkan mereka akan lebih mengatakan lebih efekyifan dakeah yang dilakukan melalui media kontemoprer. Semua itu tergantung dari segi mana mad’u berada, kondisi geografis, lingkungan dan faktor pebgetahuan juga menentukan bagaimana seseorang menilai keefejtifan dakwah melalui mimbar atau media kintemporer. Jelasnya, diera modern ini, dakwah tidak hanya melalui mimbar, dakwah sudah berkembang melalui media kontemporer dan mimbar sendiri saat ini sudah tidak hanya digunakan untuk proses berdakwah, melainkan digunakan juga untuk kegiata-kegiatan umum lainnya dalam berpidato.

    E.       PENUTUP
    Demikianlah tulisan yang berjudul “Posisi Da’i Dalam Berceramah Lewat Mimbar di Era Kontemporer” dari hasil penulis melalui literatur dan analisis dari konsisi masyarakat sekitar. Dari hasil tulisan tersebut, peran da’i dalam berdakwah melalui mimbar cukup signifikan, tapi di era kontempore saat ini, ceramah tidak hanya diidentikkan dengan mimbar saja. Banyak media lain seperti media internet, elektronik dan media cetak. Keseluruhan media mempunyai fungsi yang sama dalam hal penyampaian informasi. Hanya beberapa orang pedesaan yang masih sulih mengubah adanya perubahan dakwah di era kontemporer. Mereka masih menganggap dakwah melalui mimbarlah yang efektif dibandingkan dengan dakwah melalui media kontemporer. Oleh karena itu, sebagai seorang mad’u yang kritis harus mampu memilih media yang baik dan benar dalam menerima pesan dakwah.

    DAFTAR PUSTAKA
    Aziz, Ali. 2004. Ilmu Dakwah. Jakarta: Prenadamedia Group
    Jumantoro, Totok. 2001. Psikologi Dakwah. Wonosobo:Amzah
    http://immdakwahpwt.blogspot.co.id/2011/09/dakwah-kontemporer.html?m=1
    http://a5-kelompok2kpiaiv.blogspot.co.id/2011/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html?m=1



    by: six group
    Tania Pramayuani
    Rahayu Susanti
    Nur Layli
    Salisatul Azizah



    0 komentar:

    Posting Komentar