Jurnal Media
Dakwah
“Posisi Da’i Dalam Berceramah Lewat Mimbar di Era Kontemporer”
Abstrak:
Zaman dahulu da’i sering diidentikkan
dengan mimbar. Dimana ada mimbar, maka disitu ada da’i. Secara umum, mimbar
memang merupakan tempat untuk berdakwah. Namun, cangkupannya mimbar cukup luas.
Antara mimbar dan podium memiliki arti yang sama. Sama-sama merupakan tempat
untuk melakukan pidato/ceramah. Hanya dalam ranah penggunaaannya yang berbeda.
Jika mimbar diidentikkan dengan religiusitas, sedangkan podium lebih identik
dengan tempat pidato yang sifatnya general. Karena adanya dua hal yang berbeda
ini, dengan diiringi perkembangan teknologi dan informasi, maka cara da’i
berdakwah tidak hanya sebatas di mimbar saja. Dakwah menuju pada zaman
kontemporer, dimana media internet, eloktronik dan cetak digunakan sebagai
media untuk berdakwah. Kendati banyak media yang bermunculan, posisi mimbar
sebagai tempat dakwah bagi da’i masih cukup penting. Tingkat asumsi yang
menganggap penting atau tidakkah, efektif tidaknya ceramah lewat mimbar menjadi
bahasan yang hangat di kalangan masyarakat. Antara masyarakat pedesaan dan
perkotaan mempunyai cara pandang tersendiri dalam menyikapi dakwah di masa
kontemporer ini.
Kata Kunci : ceramah,
mimbar, dakwah, era kontemporer
A.
PENDAHULUAN
Istilah dakwah dalam agama Islam nampaknya tidak asing lagi, bahkan
sudah popular di kalangan masyarakat. Namun demikian yang sering kita jumpai sekarang bahwa istilah dakwah
oleh kebanyakan orang diartikan hanya sebatas pengajian, ceramah, khutbah, atau
mimbar seperti hal nya yang dilakukan oleh para mubaligh, atau khatib. Pada hakikatnya dakwah
Islam merupakan aktualisasi iman yang dimanifestasikan dalam suatu sistem
kegiatan dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk
mempengaruhi cara berfikir, bersikap, dan bertindak.
Dakwah adalah kegiatan mengajak orang lain,
seseorang atau lebih ke jalan Allah Swt. secara lisan (dakwah bil-lisan)
dan perbuatan (dakwah bil-hal). Dan salah satu bentuk dakwah adalah khithabah.
Kata khithabah dapat diartikan sebagai pidato, ceramah, tabligh dan
khutbah. Untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah, seorang da’i atau
penceramah dapat menggunakan berbagai media, baik itu media mimbar melalui khitabah
(khotbah/ceramah), media cetak (koran, majalah, buku), elektronik (radio,
televisi, film, internet), dan sebagainya. Dan tentunya dalam penggunaan media
harusdisesuaikan dengan situasi, kondisi serta keadaan mitra dakwah (mad’u).
Mengingat
pentingnya peranan mimbar dalam pelaksanaan dakwah Islam, maka bagi pendakwah
yang akan menyampaikan ceramah melalui mimbar harus memiliki pengetahuan yang
luas dalam bidang retorika, menguasai teknik ceramah dan menguasai
norma-normanya serta harus melakukan persiapanpersiapan yang matang sehingga
ketika sudah berada di atas mimbar tidak mengalami demam panggung ataupun
kebingungan.
Dakwah yang
menggunakan fasilitas mimbar hanya akan di dengar sebatas yang hadir pada acara
tersebut. Lain halnya dengan dakwah yang menggunakan fasilitas teknologi
elektronik seperti TV, internet dan teknologi modern lainnya, akan lebih banyak
manfaatnya. Materi dakwah yang tepat untuk menghadapi masyarakat modern ini
adalah materi kajian yang bersifat tematik. Artinya Islam harus di kaji dengan
cara mengambil tema-tema tertentu yang sesuai dengan tuntutan zaman.
B.
Mimbar dan
Ceramah
Mimbar dalam bahasa Arab adalah Minbar . dalam kaidah bahasa
Arab berasal dari kalimat Nabaru, Yanbaru, Nabran, Manbarun, Nabirun,
Manbirun, Inbar, La tanbar, Minbarun. Mimbar adalah podium di masjid dimana
imam (pemimpin do’a) berdiri untuk memberikan ceramah(khutbah) atau di Hussaina
tempat pembicara duduk di depan jemaah. Kata mimbar adalah turunan dari akar
kata Nabara berarti untuk meningkatkan, bentuk jamak Arab Manabir.
Sementara mimbar biasanya memiliki fungsi lebih mirip dengan sebuah
podium, menekankan kontak dengan penonton. Mimbar biasanya berbentuk seperti
sebuah menara kecil dengan atap runcing dan tangga menuju kesana. Beberapa
percaya dekorasi itu adalah bagian dari sunnah, bahkan mimbar Nabi Muhammad SAW
hanya memiliki platform dengan 3 langkah. Mimbar ini terletak disebelah kanan
mihrab, ceruk yang menunjukkan arah sholat yaitu menuju Makkah.
Mimbar merupakan media dakwah yang paling populer dimasyarakat,
baik masyarakat pinggiran maupun masyarakat perkotaan. Mimbar biasa digunakan
pada saat khutbah Jum’at, Idul Fitri, Idul Adha dan pengajian-pengajian hari
besar Islam baik di Kampung maupun di Masjid, bahkan di Hotel atau di Gedung.
Tujuan khutbah dengan menggunakan mimbar adalah agar jama’ah dapat
lebih terfokus pada satu pandangan. Mimbar biasanya dibuat lebih tinggi dari
lantai dengan tujuan agar penceramah bisa melihat secara langsung kepada
jama’ah.
Dari segi model mimbar ada dua macam, yaitu:
Dari segi model mimbar ada dua macam, yaitu:
1.
Mimbar bertangga (terbuka): Mimbar
yang bertangga biasanya yang khutbah membawa
tongkat.
2.
Mimbar tidak bertangga (tertutup):
Tidak membawa tongkat.
Ceramah menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah pidato oleh sesorang dihadapan banyak pendengar, mengenai
suatu hal, pengetahuan dan sebagainya. Ceramah termasuk dakwah bi al-lisan dan
dakwah tindakan. Jenis-jenis Ceramah, yaitu: (Ali, 2004:359)
1.
Ceramah Umum adalah pidato yang bertujuan untuk memberikan
nasehat kepada khalayak umum atau masyarakat luas. Di dalam ceramah umum ini keseluruhannya bersifat menyeluruh, tidak ada
batasan-batasan apapun baik dari audiens yang tua muapun muda, materinya juga
tidak ditentukan, sesuai dengan acara.
2.
Ceramah
Khusus adalah ceramah yang bertujuan untuk memberikan nasehat-nasehat kepada
mad’u namun terdapat batasan-batasan yang dibuat mulai dari audiens yang sesuai
dengan yang diinginkan dan materi juga harus disesuaikan dengan keadaan.
a.
Da’i (penceramah)
Seorang da’i atau pencermah harus mengetahui
bahwa dirinya adalah seorang da’i atau pencermah, artinya sebelum menjadi
penceramah perlu mengetahui apa tugas dari pencermah, modal dan bekal itu
sendiri atas apa yang harus dimiliki oleh seorang pencermah.
b.
Mad’u
Mad’u atau audiens merupakan sebagai penerima
nasehat-nasehat. Audiens bermacam-macam kelompok manusia yang berbeda mulai
dari segi intelektualitas, status ekonomi, status sosial, pendidikan, jenis kelamin
dll.
c.
Materi
Agar lebih menggugah pemikiran para mad’u atau
audiens untuk mendengarkan materi-materi yang diberikan oleh penceramah atau
da’i. Oleh sebab itu, seorang da’I harus dapat memiliki bahan yang tepat atau
menarik agar si mad’u tertarik, dan sesuai dengan pokok acara, materi yang akan
disampaikan harus betul-betul dikuasai sehingga penampilan penuh keyakinan,
tidak ragu, dan jangan sampai menghilangkan konsentrasi dirinya sendiri. Dengan
itu, materi harus disusun secara sisitematis, dengan artian judul, isi, dan
acara tersebut sifatnya betul-betul mempunyai hubungan. Sehingga pembahasan
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Teknik Dalam ceramah di bagi menjadi tiga yaitu:
1.
Teknik Persiapan Ceramah
Ada dua
persiapan pokok sebelum berceramah yaitu
persiapan mental dan persiapan materi ceramah. Ada dua jenis persiapan ceramah
yaitu :
a)
Menggunakan teks (manuskrip)
b)
Dengan menghafal
2.
Teknik Penyampaian Ceramah
a)
Langsung menyebutkan topic ceramah
b)
Menjabarkan latar belakang masalah
c)
Mengaitkan dengan peristiwa yang sedang hangat
d)
Menghubungkan dengan sejarah masa lalu
e)
Mengisahkan cerita factual ataupun fiktif
f)
Memberikan humor
g)
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan provokatif
h)
Menceritakan pengalaman pribadi
3.
Tehnik penutupan ceramah
Bagian pembukaan dan penutupan adalah bagian
yang menentukan. Penutupan harus memfouskan pikiran dan gagasan pendengar.
Adapun teknik penutupan sebagai berikut :
a)
Mengemukakan ikhtisar ceramah
b)
Memberikan dorongan untuk bertindak
c)
Mengakhiri dengan klimaks
d)
Menambahkan kutipan sajak, kitab suci, dll.
e)
Menjelasan maksud yang sebenarnya
Ceramah yang terbaik adalah dengan menggunakan catatan garis besar saja (ekstempore).
Ini adalah ceramah yang paling populer dan banyak dipakai oleh ahli-ahli
ceramah. Pembicara tidak mempersiapkan dan menyusun ceramah kata demi kata
serta tidak perlu menghafal keseluruhan isi pidato, akan tetapin ia hanya
menyusun outline dari isi ceramah yang akan disampaikan yang dianggap dapat
mengorganisasi dan mensistematisasi keseluruhan kesan ceramah.
Keuntungan eksptempore ialah komunikasi pendengar yang lebih baik karena
pembicara berbicara secara langsung kepada khalayak, pesan dapat feksibel untuk
dapat diubah sesuai dengan kebutuhan saat itu serta penyajiannya lebih spontan.
C.
Mimbar Sebagai
Media Dakwah oleh Da’i
Penggunaan
mimbar sebagai media dakwah sudah tidak asing lagi, bahkan saat ini semua orang
sudah mengetahui apa itu mimbar. Dan setiap seseorang mengucapkan kata
“mimbar”, maka midset akan langsung terkoneksikan dengan kata “da’i”. Memang
mimbar dan da’i tidak dapat dipisahkan. Mimbar merupakan tempat dimana seorang
da’i berceramah, sedangkan da’i sendiri adalah pelakunya (orang yang
berceramah). Mimbar biasanya ada di masjid-masjid. Kadang di sekolah juga ada
mimbar. Tapi mimbar yang ada di sekolah lebih tepatnya disebut dengan podium.
Antara podium dan mimbar sama saja hanya penempatan istilahnya yang tidak sama.
Kalau mimbar dikhususkan untuk ranah keagamaan, seperti ceramah di masjud,
sedangkan podium diidentikkan dengan pidato berkaitan dengan masalah umum.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia podim adalah tempat untuk berpidato.
Penggunaan
mimbar sudah ada secak dakwah zaman Rosulullah. Sebuah hadist Abdululah Ibnu
Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rosulullah SAW apabila telah duduk di atas
mimbar, maka Beliau berhadapan dengan muka kami. Riwayat Tirmidzi dengan sanad
lemah. Dari hadist tersebut,
walaupun sanadnya lemah, tapi telah dijelaskan bahwa mimbar memang digunakan
sebagai media berdakwah.
D.
Pandangan
Masyarakat Terhadap Ceramah Lewat Mimbar
Dewasa ini, masyarakat tidak hanya memfokuskan bahwa dakwah selalu
diidentikkan dengan mimbar. Setelah berkembangnya ilmu oengetahuan dan
teknologi, proses dakwah pun berkembang dengan pesat. Dakwah tidak hanya
dilakukan melalui mimbar, melainkan bisa dilakukan melalui media online, media
elektronik maupun media cetak.
Dengan adanya perkembangan yang demikian ini, maka lahirlah dakwah
kontemporer. Dimana dakwah pada kajian budaya kurang berpengaruh di perkotaan
apalagi di era sekarang ini dakwah sudah modern. Dakwah menjadi kajian akademik
kira-kira abad ke-20 seteah adanya beberapa tulisanyang membicarakan tentang
dakwah baik sebagai materi atau sebagai kajian yang bersifa epistimologis dan
ditembah berdirinya fakultas dakwah pada beberapa universitas. Dakwah
kontemporer adalah dakwah yang dilakukan denngan cara menggunakan teknologi
modern yang sedang berkembang, misalnya telecisi, radio, internet, dan
lain-lain.
Bagi masyarakat pedesaan, yang masih kental kultulnya, maka dakwah
kontemporer masih sulit menjangkau mereka. Mereka masih berpegang teguh bahwa
dakwah selalu diidentikkan dengan kegiatan ceramah yang biasanya lewat mimbar.
Alasan kenapa masyarakat pedesaan masih sukar menerima perubahan dikarenakan
hal yang tersebut sudah mendarah daging. Secara otomotis psikologi mereka juga
lebih senang menerima hal-hal yang sudah pasti benarnya karena sudah sering
dilakukan secara berulang-ulang.
Dalam psikologi dakwah (Totok, 2001:30) menuliskan bahwa
dakwah pada dasarnya merupakan proses motivatif dan persuatif, artinya dalam
prosesnya dakwah merupakan proses memotivasi dan mempersuasi mad’u agar
menerima message dakwah. Proses motivasi dan motivasi sendiri itu bersifat
abstrak, artinya proses peralihan lambang atau pesan, baik melalui proses
motivasi atau persuasi dari da’i kepada mad’u bukan suatu aktifitas yang dapat
dianalisis secara empiris.sehingga secara verifikasi keilmuan, kriteria
efektifitasnya sulit, sehingga ada suatu ukuran dan kreteria yang dapat
dipertanggungjawabkan secera keilmuan pula. Misalnya kita tempatnkan salah satu
hadis Nabi yang artinya “permudahlah dan jangan kau persulit, gembiralah dan
jangan kau mengatakan sesuatu yang menyebabkan ia lari dari kamu” kepada
utusannya Abu Musa al Asy’ary dan Muadz ibn Jabal ketika hendak berangkat ke
Yaman menunaikan misi dakwah yang ditugaskan oleh Rosulullah SAW kepadanya.
Pesan tersebut mengandung nilai motivasi dan persuasif terhadap orang lain
tentang kebenaran yang disampaikan kepadanya, walaupun pada dasarnya hadist di
atas lebih cenderung pada aplikasi metodologi.
Aplikasi hadist dalam dakwah, baik secara motifasi atai persuasi
ukuran hasilnya atau efektifitas teersebut sulit kreterianya. Pengajian umum,
khutbah jum`at, dakwah lewat TV, lewat media massa lainnya sama sulitnya
menempatkan kreteria yang tepat untuk mengkonklusikan efektifitasnya. Mengutip
dari pendapat Stewart L Tub dan Sykvia Noss dalam karyanya “Human communication
And Interpersonal Prespekyive”m Drr. Jalludin Rakhmat menyebutkan bahwa
tanda-yanda komunikasi yang efektif, paling tidak menumbuhkan lima hal :
pengertian, kesenangan, pengaruh dan sikap, hubungan yang makin baik dan
tindakan.
Dakwah yang dilakukan dengan media memibar, mayoritas bersifat oral
dan mencangkup lima hal tersebut. Mad’u yang sasarannya adalah masyarakat
pedesaan lebih menyukai proses dakwah yang dilakukan dengan cara melihat
langsung apa yang dikatakan da’i. Lebih munyakai dai yang proses
menyampaikannya menyenangkan dan mengena hati atau lebih tepatnya dengan
mau’idzul hasanah. Dan apa fungsinya mimbar disini? Mimbar disini sebagai
pembatas antara da’i dan mad’u. Dapat jugadikatakan dengan mimbar, maka da’i
tidak mengalami demam panggung yang berlebihan saat menyampaikan pesan dakwah.
Berbeda dengan media kontemporer, media kontemporer tidak memenuhi kelima
kreteria tersebut. Misal, media internet atau televisi. Mad’u memang melihat
apa yang diucapakan dan dilakukan da’i saat brcermah, namun hal tersebut tidak
secara langsung. Psikologi dakwahnya kurang mengena. Apalagi jika diterapkan di
masyarakat pedesaan yang masih sulit menerima perubahan. Akan sulit sekali
dakwah kontemporer terjadi dan dakwah tetaplah diidentikkan dengan proses
ceramah di atas mimbar.
Sedangkan untuk masyarakat perkotaan yang masyoritas sudah mengeenl
adanya perubahan dan condong mengikuti perkembangan teknologi. Dakwah melalui
mimbar pun atau melalui media internet, televisi, media cetak, mereka dapat
menerima semua itu. Bahkan mereka akan lebih mengatakan lebih efekyifan dakeah
yang dilakukan melalui media kontemoprer. Semua itu tergantung dari segi mana
mad’u berada, kondisi geografis, lingkungan dan faktor pebgetahuan juga
menentukan bagaimana seseorang menilai keefejtifan dakwah melalui mimbar atau
media kintemporer. Jelasnya, diera modern ini, dakwah tidak hanya melalui
mimbar, dakwah sudah berkembang melalui media kontemporer dan mimbar sendiri
saat ini sudah tidak hanya digunakan untuk proses berdakwah, melainkan
digunakan juga untuk kegiata-kegiatan umum lainnya dalam berpidato.
E.
PENUTUP
Demikianlah tulisan yang berjudul “Posisi Da’i Dalam Berceramah
Lewat Mimbar di Era Kontemporer” dari hasil penulis melalui literatur dan
analisis dari konsisi masyarakat sekitar. Dari hasil tulisan tersebut, peran
da’i dalam berdakwah melalui mimbar cukup signifikan, tapi di era kontempore
saat ini, ceramah tidak hanya diidentikkan dengan mimbar saja. Banyak media
lain seperti media internet, elektronik dan media cetak. Keseluruhan media
mempunyai fungsi yang sama dalam hal penyampaian informasi. Hanya beberapa
orang pedesaan yang masih sulih mengubah adanya perubahan dakwah di era
kontemporer. Mereka masih menganggap dakwah melalui mimbarlah yang efektif
dibandingkan dengan dakwah melalui media kontemporer. Oleh karena itu, sebagai
seorang mad’u yang kritis harus mampu memilih media yang baik dan benar dalam
menerima pesan dakwah.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, Ali. 2004. Ilmu Dakwah.
Jakarta: Prenadamedia Group
Jumantoro, Totok. 2001. Psikologi
Dakwah. Wonosobo:Amzah
http://immdakwahpwt.blogspot.co.id/2011/09/dakwah-kontemporer.html?m=1
http://a5-kelompok2kpiaiv.blogspot.co.id/2011/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html?m=1
by: six group
Tania Pramayuani
Rahayu Susanti
Nur Layli
Salisatul Azizah
0 komentar:
Posting Komentar