Aimos Si Gadis Mars
Sore hari yang membosankan. Semuanya terasa sama seperti suasana dua tahun yang lalu. Terakhir kali aku datang ke tempat ini juga seperti ini suasananya. "Bangku yang tetap kosong, pemandangan matahari yang selalu sama. Kicauan burung yang sendau, huuhf…. benar benar menyebalkan. Ingin sekali aku pindah dari tempat ini". Saat aku mencoba memandang ke langit, ada sesuatu yang menyita pandanganku. Aku mencoba untuk memfokuskan pandangan pada satu titik itu. Benda kecil, berwarna hitam. Tapi bentuknya tidak begitu jelas. Kulihat semakin lama, benda itu bergerak ke timur. Kuikuti benda itu, sampai pada akhirnya bruukk…. Aku urungkan niat untuk mengamatinya. Aku bersembunyi di balik pohon. Kuintip. Terdengar suara orang menangis, tapi tidak nampak wujudnya. "Aneh, dimana suara tadi ya. Kok benda yang tadi melayang di langit tidak ada"gumanku. Aku bingung dan menggaruk garuk kepala. Kemudihan aku berbalik arah dan berniat meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba "Tunggu". Aku menoleh. Tak ada siapapun, mungkin tadi perasaanku saja. Aku kembali dengan niat awalku. Lagi- lagi suara itu menyeringai lagi lebih dari tiga kali. Akhirnya kuputuskan untuk mencari sumber dari suara itu. Nihil. Tetap tidak ada apapun. Dan setiap kali aku melangkah akan pergi suara itu terus mencegahku, dan tiap aku berbalik, suara itu sudah menghilang. "Hey, jangan permainkan aku. Siapa itu? Sekali lagi kau mencegahku, aku tidak akan pernah berbalik lagi" teriakku dengan suara meninggi. Ada yang aneh di semak semak yang berada di samping kananku. Aku mendekatinya. Semak semak itu semakin bergerak dengan cepat. Aku mencoba membukanya Wuusss, semburan api menyembur tanganku. Aku mundur. Semak semak itu terbakar dengan sendirinya. Aneh. Aku tak percaya melihatnya. Jika membawa handphone, mungkin akan aku abadikan moment ini.
Setelah api itu mulai padam, ada keanehan lagi. Dari api yang membara itu, semakin lama semakin menguning warnanya. Dan pada akhirnya berubah menjadi sosok gadis yang berkulit kuning. Gadis itu mendekatiku. Aku mundur karena ketakutan.
"Maa..Maakkhluk apa kamu. Jangan dekat-dekat denganku"
Gadis itu tidak takut denganku tetapi malah meneruskan langkahnya. Dia berdiri tepat 50 cm I depankku. Dia menatapku. Menyentuh rambutku. Menyentuh bajuku. Aku merasa tidak nyaman akan hal itu.
"Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Kamu makhluk apa?"
"Seharusnya aku yang tanya. Kamu itu makhluk apa? Kenapa kamu berasal dari api. Jangan jangan kamu setan ya"
"Setan? Makhluk apa itu. Ya, aku memang diciptakan dari api. Unsur terbesar dalam diriku adalah api. Aku berasal dari......."
"Dari mana? Lanjutkan jangan dipotong" bentakku.
"Kamu sendiri makhluk apa?"
"Aku makhluk bumi. Aku lahir dari mama dan papaku"
"Ooh, jadi ini bumi. Kenapa bahasamu sama dengan bahasaku ya" jawab gadis itu dengan santainya.
Gadis itu ternyata cukup cerewet juga. Gadis yang aneh. Berbaju dari besi, berambut panjang sepinggul. Semakin lama aku semakin kesal karena pertanyaanku tidak dijawab. Rasa takutku hilang begitu saja. Aku berdiri. Emosiku kembali menggumpal. Pohon-pohon sekitar sepertinya telah mengamati kami dari tadi. Daun daun yang berjatuhan juga telah menyaksikan kami. "Kamu itu banyak tanya. Sebenarnya kamu itu makhluk apa ?" tanyaku geram. Dia tetap tidak menjawab pertanyaanku. Kali ini aku begitu kesal. Aku tinggalkan gadis itu. Aku tak berbalik lagi. Gadis itu sepertinya memandangi kepergianku. Dia hanya berucap "Tunggu…". Tapi aku tidak menghiraukannya. Langkahku semakin jauh dari tempat itu. Apa yang aku lihat hari ini akan aku kabarkan pada teman temanku.
**
Aku sampai di depan rumah. "Ma, Evan pulang" ucapku sambil mengetok pintu. Tak terlalu lama, mamaku membukakan pintu. Hal yang paling aku suka dari wanita di depanku. Dia tidak pernah membiarkan aku terlalu lama menunggu. Seperti biasanya, walaupun aku sudah bukan anak kecil lagi. Aku selalu memeluk mama tiap sehabis mama membukakan pintu. Mamaku juga tidak pernah menolaknya. Sesekali menggodaku mungkin pernah.
"Haduh, anak mama udah 17 tahun kok masih minta di peluk peluk sih. Manja lagi nih"
"Biarin. Khan nanti kalau sudah kuliah di Jogja, sudah tidak bisa memeluk mama lagi"
"Iya sih. Tapi kamu apa tidak malu jika dilihat adikmu. Adikmu saja tidak pernah seperti ini"
Aku tak menghiraukan ucapan mama. Aku hanya berpikir bahwa mama hanya menggodaku. Kemudian aku tinggalkan mama. Aku menuju ke kamar dengan berteriak "I love you, Mom. You are my motivation". Mamaku hanya tersenyum melihatku.
"Huuh,, hari ini lelah sekali. Aku sudah tidak sabar lagi ingin merebahkan tubuhu". Saat aku mulai menyandarkan tubuhku pada bantal, tak sengaja aku melihat jendela kamarku terbuka. Aku sangat terkejut, ada abu yang berceceran disekitar jendela kamarku. Rasa lelahku dan rasa kesalku hilang dengan sendirinya, berganti menjadi rasa penasaran yang memuncak. Aku mengamati abu disekitar jendela kamarku. Ternyata abu itu menuju pada lemariku. Aku mengikutinya. Ada rasa takut yang terbesit dalam benakku. Tapi aku mampu menghela rasa takut itu. Kubuka lemari, dan....
Wusss....
"Astaga. Bajuku" teriakku karena terkejut melihat baju-bajuku yang sudah terbakar. Yang lebih mengagetkan lagi, dari dalam lemariku pula muncul gadis aneh yang aku temui ditaman tadi. "Kau? Apa yang kau lakukan dengan lemariku?". Gadis itu seperti merasa tidak ada apa apa. Dia tersenyum meringis dan pelan-pelan keluar dari dalam lemariku. Sikapnya itu membuatku menjadi semakin kesal dengan gadis itu.
"Cepat jelaskan apa yang telah kamu lakukan? Kamu harus mengganti semua bajuku."
"Maaf. Tadi kamu meninggalkan aku di tempat yang namanya bumi ini sendirian. Aku khan belum mengerti tempat ini, jadi aku tadi mengikutimu"
"Apa? Jadi kamu tadi mengikutiku. Cepat pergi dari rumahku. Aku tidak mau rumahku terbakar karenamu" bentakku kasar. Wajah gadis itu berubah seketika. Senyumannya hilang. Kulitnya berubah warna menjadi merah.
Tanpa kusadari, ternyata aku merasa bersalah kepadanya. Tapi aku gengsi untuk mengucapkannya. Sepintas kucari celah untuk menemukan cahaya matanya. Nihil. Bendungan air yang ada di pelupuk matanya menetes di karpet kamarku. Aku tetep tak peduli. Gadis itu tetap menunduk.
"Jangan coba coba merayuku dengan air matamu itu. Tidak mempan!"
"Makhluk bumi memang sangat kejam. Aku menyesal telah turun di tempat yang salah" ucapnya sambil memandangku. Aku hanya diam, sebenarnya aku tak tega melihatnya. Aku tau kalau perasaan wanita itu sangat lembut. Tapi segera kuusir pikiranku itu, "Siapa yang menyuruhmu datang ke bumi. Ini bukan tempatmu. Dasar gadis api. Kami makhluk bumi tidak ada yang tercipta dari apa sepertimu. Kalau kau bukan setan, apa lagi namanya? Yang tercipta dari apa itu sebangsa setan. Kami dilarang dekat dekat dengan setan. Bisa bisa aku nanti kena sial karena kau"
"Aku bukan setan. Asalku dari Mars. Jangan pernah rendahkan aku seperti itu lagi" jawabnya jengkel, kemudian dia pergi dengan mengubah bentuknya menjadi apa dan lenyap begitu saja lewat jendela kamarku. Aku memeriksa apakah dia sudah benar benar pergi. Iya, dia sudah tidak ada.
Seperginya gadis itu, aku tidur karena merasa capek. Dalam tidurku itu aku bermimpi bertemu dengan seseorang. Saat aku duduk di depan rumah, ada orang yang menghampiriku. Dia memberikanku sebuah kotak. Aku tak mengerti apa maksudnya. Kotak berwarna merah, kira kira berukuran 20x15x10 cm. Kotak itu terbuat dari kayu dan dihiasi motif ukiran di bagian tutupnya. "Bukalah, Nak. Dan tolong jaga isinya dengan baik. Jika kamu bisa mengendalikan isinya dengan baik, maka kamu akan bahagia. Sungguh, kau perlu menjaga isi itu. Kamu pasti akan tau". Aku belum sempat menjawab ucapan orang yang menghampiriku karna aku masih sibuk mengamati kotak itu. Ketika aku menoleh dan akan menjawabnya, orang yang memberikan kotak itu sudah tidak ada. Tak mau menunggu lebih lama lagi, aku membuka kotak itu. Satu...Dua..Ti..Gaa..
Wusss.. Reflek aku lempar kotak itu.
Kotak itu mengeluarkan api. Wajahku terkena api. Sungguh berasa sangat panas sekali. Tapi yang aneh, api dalam kotak itu tidak mau padam walaupun sudah aku buang kotaknya. Akhirnya aku mencari setimba air dan menyiram ke kotak itu. Saat tetesan air yang aku bawa mengenai kotak itu, api yang menyala tadi dengan mudahnya dapat padam. Padahal air yang dalam timba tadi belum aku siramkan. Aku berlari ketakutan melihat keanehan kotak itu. Aku berlari menuju rumah. Tak sadar karena terburu-buru aku menabrak pintu. Jdook..
“Auu.. Aduh sakit”. Ternyata aku baru jatuh dari kasur.
Mimpi yang aku alami dua hari yang lalu membuatku penasaran. Aku masih merasa bahwa mimpi itu adalah sebuah petunjuk. Aku terus berfikir. Memiringkan kepala, berjalan mondar mandir.
"Van, kau ini kenapa? " tanya Alan, teman sebangkuku.
"Aku bingung, Lan. Bingung sekali. Apa yang harus aku lakukan?"
" Tentang apa? Jangan bilang kau masih memikirkan mimpimu itu".
"Iya, itulah yang menyendat otakku. Aku rasa ini ada kaitannya dengan ga......". Kata kataku terhenti karena guru fisika sudah datang. Aku langsung menuju bangku.
"Haduh pusing, Lan"
"Udahkah, Van. Nanti saja mikirnya. Sekarang gurunya sudah datang. Sudah mengerjakan PR yang halaman 52?"
"Astaga, aku lupa. Aduh, gara gara mikirin yang tidak jelas jadi rancu semuanya".
**
Sepulang sekolah, aku mampir di toko buku. Sekilas, aku melihat ada yang bercahaya di salah satu kaleng yang ada di meja kasir. Tapi ketika kulihat lagi, kaleng tersebut tak ubahnya hanya kaleng biasa. Aku membuang rasa penasaranku itu. Ketika aku membayar di kasir, aku tak sengaja memegang kaleng yang sempat menjadi pusat perhatianku. Panas. Kaleng itu seperti kaleng yang baru di bakar.
"Mbak, kaleng ini masih digunakan tidak? " tanyaku pada petugas kasir
"Tidak mas. Kaleng ini juga mau dibuang"
"Wah, kebetulan sekali aku sedang mencari kaleng bekas untuk tugas praktikum. Bolehkah kaleng itu aku bawa, Mbak?" sangkalku. Tentu saja petugas tadi memberikannya. Padahal aku hanya berbohong. Aku hanya penasaran dengan kaleng itu.
Sesampai di rumah, kaleng yang aku bawa dari toko buku aku letakkan di atas kasurku. Aku pergi ke rumah Alan untuk meminjam buku catatan kimia. Sepulang dari rumah Alan, aku cepat-cepat masuk kamar karena ingin membuka kaleng itu. Setelah ku buka pintu kamarku, urat-uratku membeku. Mataku seperti ditarik untuk tidak berkedip. Aku melihat gadis itu. Ya, gadis api itu lagi. Dia sedang duduk di meja dekat kasurku menghadap ke jendela. Sepertinya dia sedang mengamati sesuatu. Aku melangkah pelan-pelan, sepelan mungkin agar gadis itu tidak mengetahui bahwa aku sudah datang. Aku berniat mengagetkannya. Tapi ternyata dia sudah tau "Tak usah bertindak seperti itu. Aku tau kamu akan mengagetkanku". Aku terhenti. Sementara gadis itu masih memandangi langit.
"Apa yang kamu lakukan disini, gadis Mars?"
"Aimos. Namaku Aimos. Aku tidak datang kesini, tapi kamu yang membawaku" jawabnya yang masih tidak mau memandangku. Aku hanya melihat bahunya saja.
"Aku yang membawamu. Bagaimana bisa?" jawabku bingung dan mendekati gadis itu. Aku mencoba meminta penjelasan tentang hal ini.
"Aku sudah bersembunyi di dalam kaleng yang kamu bawa tadi. Aku sembunyi dari makhluk bumi yang kejam sepertimu" terangnya. Dari nada bicaranya, aku mengerti bahwa dia sedang marah padaku. Aku berniat minta maaf padanya.
"Aimous, maafkan aku. Maafkan atas kata kataku kemarin. Aku janji tidak akan mempermasalahkan wujudmu lagi. Namaku Evan" ucapku sambil mengulurkan tangan. Gadis itu akhirnya menoleh padaku. Dia tersenyum manis padaku. Dia mengulurkan tangannya juga. Aku menyambut uluran tangannya.
"Aduh. Panas. Berapa suhu tanganmu itu?"
"Ha ha ha. Panas ya. Maaf. Aku tadi masih sedikit terbawa esmosi. Jadi suhu tubuhku masih tinggi".
"Oke tak masalah"
"Bolehkah aku menjadi temanmu, Euis..Fans.."
"E V A N. Jangan salah lagi memangilku. Tentu, Aimous"
**
Semenjak hari itu, kami menjadi teman baik. Entah apa yang telah membawa kami pada sebuah pertemuan yang berbeda planet. Aku dari bumi dan dia dari Planet Mars. Setelah kutau, ternyata dia itu sedang mengalami hukuman. Keluarga besarnya, yaitu keluarga Marses menghukumnya. Dia diberi beberapa pilihan. Di venus, bumi, atau di bulan. Dia lebih memilih bumi. Dia tidak tau kalau ternyata ada kehidupan juga seperti di planetnya. Dia dihukum karena dia telah usil dengan mesin waktu ayahnya. Ayahnya adalah raja di planet itu. Dia telah menyebabkan kemurkaan ayahnya.
" Lalu kenapa bahasamu sama seperti bahasa makhluk bumi?" tanyaku
"Aku tidak tahu. Tiba tiba aku bisa berbicara seperti makhluk bumi dan aku mengerti apa yang kalian maksud. Mungkin ayahku memberikan bekal padaku, supaya aku tidak mengalami kesulitan di tempat hukumanku" jelasnya.
Setiap pulang sekolah, Aimous selalu menampakkan wujudnya seperti manusia. Jika aku sedang sekolah, dia sembunyi ke dalam kaleng. Untung saja keluargaku tidak ada yang mengetahuinya. Pernah sesekali Aimous nekat ikut aku sekolah. Dia masuk ke dalam isi bolpoinku. Ketika aku mengetahuinya, aku mencoba menyembunyikannya dari teman temanku. Kerap aku chek apakah buku buku pelajaranku masih utuh apa sudah menjadi abu. Untungnya, saat itu Aimous bisa mengendalikan suhunya. Jadi aku merasa tidak perlu cemas. Namun, walaupun kadang aku mengijinkan dia ikut denganku, aku juga sering memarahinya.
"Aimous, kumohon jangan ikuti aku ke sekolah. Tempat itu tidak aman bagimu. Jika bermain ke luar rumah, bukannya aku sudah mengajakmu"
"Aku tidak ingin ditinggalkan sendiri, Van" jelasnya. Tiap aku memarahinya, dia selalu berubah warna. Kadang aku takut jika dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Aku sangat tau, kalau dia itu sebenarnya gadis yang baik. Asalkan aku bisa mengendalikannya dan mencoba jangan sampai membuatnya menangis, dia akan menjadi gadis yang sangat manis dan paling baik daripada gadis manapun. Mungkin itulah sifat api. Jika sudah terkena air akan padam. Begitu juga dengan Aimous, sekeras apapun tabiatnya, tapi jika kita telah mampu menenangkannkannya, kita tidak akan pernah menyesal mengenalnya.
Malam hari, waktu aku mengerjakan PR Kimia, Aimous nongol tiba tiba di dekatku.
"Apa yang Evan kerjakan?"
"Pekerjaan rumah. Ini tugas dari sekolah. Kamu kenapa malam malam seperti ini nongol? Ini khan waktunya kamu sembunyi. Kalau mamaku sampai tau kamu bagaimana?"
"Aku ingin membantu Evan mengerjakan tugas itu" jawabnya. Aku tersenyum saja mendengarnya. Memang maksudnya baik, tapi bagaimana mungkin Aimous bisa membantuku. Tapi ternyata hal lain terjadi. Lampu padam. Saat itulah Aimous memulai aksinya. Dia menggerakkan tangannya. Dari celah-celah jari tangannya, keluar cahaya. Mirip seperti lilin. Dan suhu tubuhnya juga sedikit membuat suasana menjadi hangat. Aimous sangat takut dengan air, saat itu juga sedang hujan. Baru kutahu mungkin alasannya kenapa pada malam seperti ini Aimous menapakkan diri, hal itu karena dia takut dengan air. Aku senang Aimous dapat membantuku. Aku menyesal karena tadi sudah berfikir negatif tentang dia.
"Evan, kok senyum senyum sendiri melihat Ai. Memangnya Ai lucu ya. Atau mungkin Evan suka dengan Ai ya?". Kata kata Aimous barusan merusak lamunanku. Aku malu. Mungkin apa yang dikatakan Aimous benar. Aku telah suka padanya.
"Memangnya Aimos tahu apa arti dar kata suka itu" ledekku.
"Tau. Suka itu khan artinya berteman selamanya"
"Kalau cinta Amous tau?" tambahku.
"Cinta itu suka juga. Tapi sukanya ada dua kali" jawabnya dengan senyumnya yang manis. Lagi-lagi wajahnya yang polos membuatku memasuki dunianya. Panas tubuhnya sampai tidak terasa olehku.
"Evan tidak merasa panas? Aku sudah berusaha meminimalisir suhuku seminimal mungkin"
"Tidak. Jangan kawatir" ucapku kemudian. Aimous hanya tersenyum sambil mengamatiku mengerjakan tugas rumah.
**
Keesokan harinya, di sekolahanku diumumkan bahwa akan diadakan acara camping. Mengetahui kabar tersebut aku senang, tapi disisi lain apakah mungkin aku meninggalkan Aimous sendirian. Aku sangat takut terjadi sesuatu dengannya.
"Bagaimana kalau mama tidak sengaja menyiram Aimous, bagaimana juga jika Aimous terkena hujan. Tidak, aku tidak boleh ikut camping itu" batinku dalam hati.
Usai sekolah, aku langsung tidur. Kali ini aku tidak mengajak Aimous bermain atau jalan-jalan. Aku masih memikirkan tentang pengumuman di sekolah tadi.
"Evan kenapa. Ada masalah ya?" tanya Aimous yang ternyata sedari tadi sudah menungguku di kursi meja belajarku. Aku hanya melirik Aimous kemudian memalingkan muka dan tidur tengkurap lagi.
"Evan ceritakan pada Ai apa yang terjadi". Aku tidak bisa diam saja. Aku bergegas bangun dan aku menceritakan apa yang menyebabkan fikiranku tesumbat. Aimous mendengarkannya. Bukannya sedih, melainkan Aimous sangat senang.
"Wah, itu kabar bagus, Van. Evan nanti bisa mengajak Ai. Nanti Ai sembunyi di kaleng. Masukkan saja Ai pada tas Evan. Ai janji, nanti Ai meminimalisir suhu Ai. janji" jelasnya sambil menyipitkan mata dan tangannya membentuk huruf V. Aku hanya diam. Aimous mengerutkan alisnya menunggu jawaban dariku. Cukup lama aku tidak menjawabnya. Aimous menarik tanganku. Dia berusaha untuk meyakinkan aku.
"Ayolah, Van. Ikut ya" rengeknya.
Aku tak tega menolaknya. Aimous terus merajuk. Akupun mengiyakannnya.
Saat camping pun tiba. Aku berangkat dari rumah kira kira sekitar pukul 05.00.
Aimous sudah sejak tadi malam siap-siap. Tanpa perlu aku ketuk-ketuk kaleng tempatnya bersembunyi, dia sudah siap lebih awal.
."Sekarang saatnya bersembunyi lagi. Janji jangan buat suhu menjadi tinggi ya" pesanku. "Siap, tidak usah kawatir". Senyumannya sedari tadi terus terpancar. Warna kulitnya pun kuning keputihan. Aku tahu bahwa Aimous sangat senang sekali.
Camping pun berjalan dengan lancar. Aimous benar menepati janjinya. Walau dia tidak mengetahui apa yang dapat aku lihat, tapi dia dapat merasakannya. Tiba saatnya pada saat api unggun. Masing-masing siswa mengumpulkan kayu bakarnya. Ketua pelaksana memimpin pembukaan api unggun. Dia adalah orang pertama yang menyulut api. Semuanya menunggu api menyala. Namun harapan tidak selalu sesuai. Berkali kali api disulut, tapi berkali kali pula api padam. Api seperti tidak bersedia memberikan cahaya dan kehangatannya. Aimous ternyata mengetahui hal itu. Tasku terasa sangat panas sekali. Aku langsung ijin ke belakang. Aku mengeluarkan kaleng itu dari dalam tasku. Aimous langsung berubah menjadi sepertiku.
"Ai, kenapa denganmu?"
"Ai ingin membantu kalian. Ijinkanlah Ai sebagai api di sana" pinta Aimous sambil menunjuk arah tumpukan kayu.
"Tidak boleh. Itu sangat berbahaya bagimu. Semua orang akan tahu. Aku tidak akan mengijinkannya" tolakku.
"Ai mohon, Van. Ai janji tidak akan ada orang yang mengetahuinya. Nanti Evan lemparkan Ai ke tumpukan kayu bakar itu. Lalu Evan minta ketua untuk menyulut api"
"Tidak, ya tidak" tambahku.
"Aku mohon. Jika kalian sedih aku juga sedih. Jika kalian senang, Ai juga senang. Ai nanti bisa melihat kalian semua secara jelas. Termasuk melihat senyuman Evan"
"Tapi...."
"Sudah. Sekarang Ai akan sembunyi dalam kaleng itu. Evan jalankan seperti apa yang Ai bilang tadi ya. Ai cinta Evan" katanya sambil menyipitkan mata dan mengulum senyumnya yang manis. Jantungku seolah berhenti berdetak. Tangan angin malam menyikap mataku dan membungkam mulutku. Tak bisa berkata apapun. Hati rasanya mengembang.
"Aku harap yang Ai tadi katakan, Ai benar mengerti artinya. Sebenarnya aku juga mempunyai rasa yang sama denganmu. Aimous, gadis api yang telah menyulutkan api cintanya padaku. Makhluk berbeda planet bisa saling jatuh cinta. Betapa gilanya dunia ini" ucapku dalam hati.
Apa yang Aimous minta akhirnya dapat aku laksanakan. Walaupun berat, tapi aku juga ingin Aimous merasa senang. Kami semua sangat senang. Api yang Aimous berikan begitu terang dan terasa hangat. Kesenangan pun berlanjut hingga tengah malam. Kami semua terus bernyanyi. Aku merasakan kesenangan yang Aimos rasakan. Api yang dia berikan, sesekali berwarna kuning keputihan. Sama halnya dengan warna kulitnya jika dia sedang dalam keadaan senang. Sungguh suasana ini melenakan kami semua. Hingga tak terasa bahwa hujan pun telah turun. Semakin lama semakin lebat. Ditambah pula dengan suara guntur yang menggelegar. Sang guntur seolah marah tidak diajak bersenang-senang. Kami semua langsung lari ke tenda masing masing. Kami meninggalkan api unggun itu begitu saja. Semua tenda ditutup. Aku setenda dengan Alan. Hatiku merasa tidak tenang saat tidur bersama teman setendaku.
"Ada apa ya. Kenapa ini?". Aku merenung. Aku tersentak
"Aimous. Tidak!". Secepat mungkin di tengah derasnya hujan dan kejamnya halilintar tak kuhiraukan lagi. Sempat Alan melarangku keluar, tapi aku sudah tidak peduli. Aku berlari menuju api unggun tadi. Ironis. Air mataku menetes tiada henti. Aku panik. Aku berteriak memanggil Aimous. Tiada jawaban. Kucari kalengnya. Akhirnya aku menemukan kaleng itu. Aku pegang kaleng tersebut. Masih terasa panas. Aku tahu Aimous masih ada di sekitar sini "Aimous..Aimous..Aimous.." teriakku. Aimous tak muncul juga. Aku melihat sekilas ada cahaya kuning. Kucari sumber cahaya itu. Sangat kecil, redup dan begitu melemah. Aku mendekati api yang masih tersisa itu.
"Aimous, maafkan Evan. E...V a n menyesal. Ini kesalahan Evan. Evan sangat teledor"ucapku sambil terisak isak.
"E .. evan.. Juga cinta Ai. Jangan tinggalkan evan, Ai"
Aku berusaha mendekap api yang masih tersisa itu. Aku tak peduli jika api itu membakar diriku. Namun tetap saja. Hujan mampu mengalahkannya. Sekuat mungkin Aimous bertahan. Dia semakin lemah. Dan tak lama, api dalam dekapanku padam. Air mataku tak tertahan. Aku menangis. Aku berharap Aimous kembali. Kembali lagi di sampingku.
"Ai.. Aimous.. Aimous.. Kembalilah" teriakku. Semua orang keluar dari tendanya. Alan yang paling dulu menghampiriku. Dia mengajakku kembali. Namun aku lemas, tak berdaya. Aku kehilangan satu baut dalam diriku.
"Evan, apa yang kamu lakukan disini. Ayo kita ke tenda" ajaknya sambil membopong tanganku.
"Aimous.. Aimous, Lan" ucapku lirih.
Suatu kesalahan fatal yang aku lakukan waktu itu sangat membekas. Aku masih terbayang bayang Aimous. Sekarang aku tidak menggunakan lampu lagi. Aku lebih suka menggunakan lilin. Jika aku melihat api di lilin itu, aku selalu merasa bahwa Aimous tengah tersenyum padaku. Dia tetap menemaniku. Walau keadaannya sudah tiada lagi, aku masih merasa kehangatan apinya masih berasa. Kaleng yang menjadi rumahnya juga masih terasa hangat, walaupun tak sehangat dulu. Entah kemana Aimous pergi. Yang pasti aku yakin, bahwa dibalik semua ini ada hikmahnya. Aimous banyak mengajari aku akan arti kedewasaan. Aku tak menyesal mengenalnya. Jika masih ada suatu kesempatan lagi, aku berharap dapat bertemu dan berteman dengan makhluk dari planet lain yang sama baiknya seperti Aimous.

0 komentar:
Posting Komentar