Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

4/14/2017

Tagged Under:

Feature (Human Interest)

By: Catatan Tania P On: 09.44
  • Share The Gag

  • Semangat Wanita Satu Kaki
    oleh Tania Pramayuani


    “Di tengah keterbatasan sumberdaya manusia yang mayoritas lebih suka mengerjakan hal yang menguntungkan, hal demikian tidak terjadi pada sosok Katemi, warga Desa Junjung-Kec Boyolangu-Kab Tulungagung”

    Giat-semangat berkreatifitas yang tak surut

    Keterbatasan fisik yang dialami oleh Katemi Djani, perempuan berusia 75 tahun ini tidak menyurutkan niatannya untuk bekerja. Katemi tidak pernah mengeluh akan kondisi yang menimpanya. “Saya biasa saja dengan kondisi saya. Saya tetap bekerja. Daripada menganggur kan tidak enak” katanya. Katemi bekerja serabutan dan perolehan gaji sehari sesuai dengan berapa banyak dia dapat mengerjakan pekerjaannya. Dia hanya mempunyai dua pilihan. Yaitu bekerja seadanya atau tidak bekerja sama sekali. Katemi sendiri menjelaskan bahwa dia tidak suka menganggur. Sejak usia muda, dia terbiasa hidup susah. Saat mengalami masa susahnya usai kecelakaan delapan tahun lalu, membuatnya harus kehilangan kaki kanannya. Kendati demikian, semangat untuk bekerja masih ada dalam diri wanita yang sudah memiliki satu cicit ini.
    Katemi hidup bersama dengan anaknya yang nomor lima. Jumlah semua anaknya ada sembilan. Enam orang adalah laki-laki dan tiga orang adalah perempuan. Semua anaknya sangat menyayangi Katemi. Hal ini dapat dilihat saat perempuan yang sudah keriput ini diwawancarai, salah satu anak perempuannya yang tidak mau disebutkan namanya menolak untuk diwawancarai. Sedangkan keenam anaknya yang lain, sudah bekerja dan mereka semua merantau ke Malaysia. Alasan Katemi untuk bekerja selain untuk meringankan beban anak-anaknya terhadap dirinya adalah untuk mencukupi sendiri kebutuhannya. Dia mempunyai prinsip selagi masih mampu melakukan hal yang bermanfaat kenapa tidak melakukannya. “Setiap sebulan sekali anak saya memberi uang pada saya seratus ribu. Tapi saya tidak mau hanya menengadah kepada mereka” tambahnya.
    Nama katemi yang diperolehnya adalah nama yang diberikan oleh warga setempat. Hal ini dikarenakan dalam satu lingkungan ada tiga nama Katemi sekaligus. Salah satu diantaranya adalah Katemi Dani. Katemi Dani adalah sahabat akrab dari Katemi Djali. Katemi Dani mengatakan bahwa dia sering datang ke rumah Katemi Djali untuk membantu Katemi Djali. Namun hal ini dibantah oleh Katemi Djali. “Saya mengerjakan ini sendirian dan tidak ada yang membantu saya semua anak-anak saya juga sudah bekerja dan sibuk dengan urusannya masing-masing” jlentrehnya.
    Setiap hari Katemi menjalankan rutinitas kerjanya mulai Pukul 07.00 wib sampai pukul 14.00 wib. Dalam sehari Katemi mampu menghasilkan empat puluh bagian bawah sapu. Pada kali pertama bekerja, Katemi hanya mampu menghasilkan lima bagian bawah sapu. Sebelum menekuni pekerjaannya membuat bagian bawah sapu, wanita yang mulai kendur kantong matanya ini bekerja menggaru blakarayung (bahan aren dan rayung yang digunakan untuk bahan dasar sapu:red). Namun karena faktor keterbatasan jumlah pekerja, Jumiran, pemroduksi sapu, mengganti pekerjaan Katemi dari penggaru blakarayung menjadi pembuat bagian bawah sapu dari blakarayung. Katemi jelas mau menerimanya, karena upah antara keduanya berbeda. Upah menggaru satu kilogramnya Rp 500,00 sedangkan upah membuat bagian bawah sapu per bijinya Rp 250,00. Dalam sehari peghasilan menggaru memperoleh Rp 7500,00 sedang membuat bagian bawah sapu memperoleh penghasilan Rp 10000,00 dalam sehari.
    Katemi tidak mengambil sendiri barang yang dikerjakannya itu. Anak Jumiran mengirimkannya ke Rumah Katemi. Jumiran maklum dengan hal ini dikarenakan kondisi Katemi. Martina, istri Jumiran mengatakan bahwa dia memperkerjakan Katemi dikarenakan faktor kasihan. Katemi sendiri sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Martina. “Iya saya tahu kalau mereka memperkerjakan saya karena faktor belas kasihan. Tapi daripada saya tida bekerja, lebih baik saya bekerja walaupun penghasilnya sedikit” tutur Katemi dengan mata berkaca-kaca.
    Menurut pendapat Katemi, Jumiran adalah orang yang baik. Dia tidak begitu mempermasalahkan apa alasan Jumiran memperkerjakannya. Asalkan dia bisa bekerja dan mendapatkan uang apapun itu akan dilakukan. Ketua RT setempat juga mengungkapkan bahwa Jumiran adalah orang yang baik. Dia sering menghibahkan sapunya ke masjid Nurul Huda. Selain itu jika ada tetangga yang membeli sapunya, Jumiran juga membelikan potongan harga. Usaha yang digelutinya sejak muda itu adalah usaha turun temurun dari keluarganya. Dia berniat untuk melestarikan usaha itu. Dan dia sangat bersyukur saat ada orang yang mau bekerja dengannya. “Jumah pekerja saya ada lima orang. Yang dua orang sedang cuti dan yang dua orang salah satunya adalah tetangga di sampng rumah saya ini dan ibu Katemi” jelasnya. Jumiran juga mengatakan bahwa mereka yang bekerja dengannya adalah saudaranya sendiri.
    Dalam menjalankan rutinitasnya sehari-hari, Katemi sering mengalami rasa sakit pada kakinya yang diamputasi. Salah satu tahapan dalam membuat bagian bawah sapu adalah memasangkan tali sebelum mengkatkannya dengan blakarayung. Saat memasangkannya talinya membutuhkan usaha keras. Karena hanya memiliki satu kaki, Katemi menggunakan kaki kirinya itu untuk menarik kuat talinya. Usai menarik biasaya jika terlalu letih dia akan merasakan sakit pada kaki dan punggungnya. “Saya sebenanya bisa sehari menghasilkan lima puluh bagian bawah sapu. Namun saya harus bekerja keras dulu. Setelah saya melakukan hal itu, biasanya kaki dan pungung saya sering pegal” katanya.
    Rasa sakit yang dihadapi oleh Katemi memngingatkannya akan peristiwa kecelakaaan yang menimpanya delapan tahun lalu. Saat menjelaskan tentang bagaimana kronologis terjadinya kecelakaan, Katemi berkaca-kaca. Namun dia tidak memperpanjang masalah dengan orang yang menabraknya. Kecelakaan itu terjadi di depan Puskesmas Beji. Saat itu, Katemi berniat ingin berobat ke Dokter Marwan. Naas, saat itu juga sebuah sepedah motor menabraknya dan menyebabkan dia harus dilarikan ke rumah sakit Dokter Iskak Tulungagung. Penanganan medis sudah dilakukan secepat mungkin, ternyata hasil yang diharapkan tidak maksimal. Pihak rumah sakit Dokter Iskak Tulunggung tidak mampu mengatasi lebih lanjut mengenai kaki kanan Katemi.  Pihak Rumah sakit merujuk Katemi untuk berobat di salah satu rumah sakit di Solo. “Kaki saya semakin lama semakin membusuk dan rumah sakit sini merujuk saya ke rumah sakit lain” bebernya.
    Kendati sudah dibawa k rumah sakit lain, nasib malang masih menimpa Katemi. Perempuan yang dulunya bekerja sebagai petani ini harus memberi persetujuan untuk mengamputasi kakinya di rumah sakit yang ada di Solo. Pasalnya semakin lama kondisiya semakin parah dan tidak ada pilihan lain. Keseluruhan biaya yang digunakan untuk proses oprasi Rp 50.000.000,00. Sedang dari pihak penabrak hanya mampu memberikan bantuan dana Rp 11.000.000,00. Dari jasa raharja, Katemi mendapat bantuan dana Rp 10.000.000,00 dan sisa biayanya ditanggung oleh pihak keluarga Katemi sendiri. Katemi tidak menyalahkan apa yang terjadi pada dirinya dan dia tetap berusaha menjadi manusia yang tidak bergantung pada orang lain. “Yang terpenting saya masih mempunyai pekerjaan yang dapat saya lakukan sehari-hari. Walau penghasilannya kecil saya akan tetap melakukannya”tambahnya. (tan)

    0 komentar:

    Posting Komentar