Semangat Wanita Satu Kaki
oleh Tania Pramayuani
“Di tengah keterbatasan sumberdaya manusia yang mayoritas
lebih suka mengerjakan hal yang menguntungkan, hal demikian tidak terjadi pada
sosok Katemi, warga Desa Junjung-Kec Boyolangu-Kab Tulungagung”
Keterbatasan fisik yang dialami oleh Katemi Djani, perempuan berusia 75
tahun ini tidak menyurutkan niatannya untuk bekerja. Katemi tidak pernah
mengeluh akan kondisi yang menimpanya. “Saya biasa saja dengan kondisi saya.
Saya tetap bekerja. Daripada menganggur kan tidak enak” katanya. Katemi bekerja
serabutan dan perolehan gaji sehari sesuai dengan berapa banyak dia dapat
mengerjakan pekerjaannya. Dia hanya mempunyai dua pilihan. Yaitu bekerja
seadanya atau tidak bekerja sama sekali. Katemi sendiri menjelaskan bahwa dia
tidak suka menganggur. Sejak usia muda, dia terbiasa hidup susah. Saat mengalami
masa susahnya usai kecelakaan delapan tahun lalu, membuatnya harus kehilangan
kaki kanannya. Kendati demikian, semangat untuk bekerja masih ada dalam diri
wanita yang sudah memiliki satu cicit ini.
Katemi hidup bersama dengan anaknya yang nomor lima.
Jumlah semua anaknya ada sembilan. Enam orang adalah laki-laki dan tiga orang
adalah perempuan. Semua anaknya sangat menyayangi Katemi. Hal ini dapat dilihat
saat perempuan yang sudah keriput ini diwawancarai, salah satu anak
perempuannya yang tidak mau disebutkan namanya menolak untuk diwawancarai.
Sedangkan keenam anaknya yang lain, sudah bekerja dan mereka semua merantau ke
Malaysia. Alasan Katemi untuk bekerja selain untuk meringankan beban
anak-anaknya terhadap dirinya adalah untuk mencukupi sendiri kebutuhannya. Dia
mempunyai prinsip selagi masih mampu melakukan hal yang bermanfaat kenapa tidak
melakukannya. “Setiap sebulan sekali anak saya memberi uang pada saya seratus
ribu. Tapi saya tidak mau hanya menengadah kepada mereka” tambahnya.
Nama katemi yang diperolehnya adalah nama yang diberikan
oleh warga setempat. Hal ini dikarenakan dalam satu lingkungan ada tiga nama
Katemi sekaligus. Salah satu diantaranya adalah Katemi Dani. Katemi Dani adalah
sahabat akrab dari Katemi Djali. Katemi Dani mengatakan bahwa dia sering datang
ke rumah Katemi Djali untuk membantu Katemi Djali. Namun hal ini dibantah oleh
Katemi Djali. “Saya mengerjakan ini sendirian dan tidak ada yang membantu saya
semua anak-anak saya juga sudah bekerja dan sibuk dengan urusannya
masing-masing” jlentrehnya.
Setiap hari Katemi menjalankan rutinitas kerjanya mulai
Pukul 07.00 wib sampai pukul 14.00 wib. Dalam sehari Katemi mampu menghasilkan
empat puluh bagian bawah sapu. Pada kali pertama bekerja, Katemi hanya mampu
menghasilkan lima bagian bawah sapu. Sebelum menekuni pekerjaannya membuat
bagian bawah sapu, wanita yang mulai kendur kantong matanya ini bekerja
menggaru blakarayung (bahan aren dan rayung yang digunakan untuk bahan
dasar sapu:red). Namun karena faktor keterbatasan jumlah pekerja, Jumiran,
pemroduksi sapu, mengganti pekerjaan Katemi dari penggaru blakarayung
menjadi pembuat bagian bawah sapu dari blakarayung. Katemi jelas mau
menerimanya, karena upah antara keduanya berbeda. Upah menggaru satu
kilogramnya Rp 500,00 sedangkan upah membuat bagian bawah sapu per bijinya Rp
250,00. Dalam sehari peghasilan menggaru memperoleh Rp 7500,00 sedang membuat
bagian bawah sapu memperoleh penghasilan Rp 10000,00 dalam sehari.
Katemi tidak mengambil sendiri barang yang dikerjakannya
itu. Anak Jumiran mengirimkannya ke Rumah Katemi. Jumiran maklum dengan hal ini
dikarenakan kondisi Katemi. Martina, istri Jumiran mengatakan bahwa dia
memperkerjakan Katemi dikarenakan faktor kasihan. Katemi sendiri sependapat
dengan apa yang dikatakan oleh Martina. “Iya saya tahu kalau mereka
memperkerjakan saya karena faktor belas kasihan. Tapi daripada saya tida
bekerja, lebih baik saya bekerja walaupun penghasilnya sedikit” tutur Katemi
dengan mata berkaca-kaca.
Menurut pendapat Katemi, Jumiran adalah orang yang baik.
Dia tidak begitu mempermasalahkan apa alasan Jumiran memperkerjakannya. Asalkan
dia bisa bekerja dan mendapatkan uang apapun itu akan dilakukan. Ketua RT
setempat juga mengungkapkan bahwa Jumiran adalah orang yang baik. Dia sering
menghibahkan sapunya ke masjid Nurul Huda. Selain itu jika ada tetangga yang
membeli sapunya, Jumiran juga membelikan potongan harga. Usaha yang digelutinya
sejak muda itu adalah usaha turun temurun dari keluarganya. Dia berniat untuk
melestarikan usaha itu. Dan dia sangat bersyukur saat ada orang yang mau
bekerja dengannya. “Jumah pekerja saya ada lima orang. Yang dua orang sedang
cuti dan yang dua orang salah satunya adalah tetangga di sampng rumah saya ini
dan ibu Katemi” jelasnya. Jumiran juga mengatakan bahwa mereka yang bekerja
dengannya adalah saudaranya sendiri.
Dalam menjalankan rutinitasnya sehari-hari, Katemi sering
mengalami rasa sakit pada kakinya yang diamputasi. Salah satu tahapan dalam
membuat bagian bawah sapu adalah memasangkan tali sebelum mengkatkannya dengan blakarayung.
Saat memasangkannya talinya membutuhkan usaha keras. Karena hanya memiliki satu
kaki, Katemi menggunakan kaki kirinya itu untuk menarik kuat talinya. Usai menarik
biasaya jika terlalu letih dia akan merasakan sakit pada kaki dan punggungnya.
“Saya sebenanya bisa sehari menghasilkan lima puluh bagian bawah sapu. Namun
saya harus bekerja keras dulu. Setelah saya melakukan hal itu, biasanya kaki
dan pungung saya sering pegal” katanya.
Rasa sakit yang dihadapi oleh Katemi memngingatkannya
akan peristiwa kecelakaaan yang menimpanya delapan tahun lalu. Saat menjelaskan
tentang bagaimana kronologis terjadinya kecelakaan, Katemi berkaca-kaca. Namun dia
tidak memperpanjang masalah dengan orang yang menabraknya. Kecelakaan itu
terjadi di depan Puskesmas Beji. Saat itu, Katemi berniat ingin berobat ke
Dokter Marwan. Naas, saat itu juga sebuah sepedah motor menabraknya dan
menyebabkan dia harus dilarikan ke rumah sakit Dokter Iskak Tulungagung. Penanganan
medis sudah dilakukan secepat mungkin, ternyata hasil yang diharapkan tidak
maksimal. Pihak rumah sakit Dokter Iskak Tulunggung tidak mampu mengatasi lebih
lanjut mengenai kaki kanan Katemi. Pihak
Rumah sakit merujuk Katemi untuk berobat di salah satu rumah sakit di Solo.
“Kaki saya semakin lama semakin membusuk dan rumah sakit sini merujuk saya ke
rumah sakit lain” bebernya.
Kendati sudah dibawa k rumah sakit lain, nasib malang
masih menimpa Katemi. Perempuan yang dulunya bekerja sebagai petani ini harus
memberi persetujuan untuk mengamputasi kakinya di rumah sakit yang ada di Solo.
Pasalnya semakin lama kondisiya semakin parah dan tidak ada pilihan lain.
Keseluruhan biaya yang digunakan untuk proses oprasi Rp 50.000.000,00. Sedang
dari pihak penabrak hanya mampu memberikan bantuan dana Rp 11.000.000,00. Dari
jasa raharja, Katemi mendapat bantuan dana Rp 10.000.000,00 dan sisa biayanya
ditanggung oleh pihak keluarga Katemi sendiri. Katemi tidak menyalahkan apa
yang terjadi pada dirinya dan dia tetap berusaha menjadi manusia yang tidak
bergantung pada orang lain. “Yang terpenting saya masih mempunyai pekerjaan
yang dapat saya lakukan sehari-hari. Walau penghasilannya kecil saya akan tetap
melakukannya”tambahnya. (tan)

0 komentar:
Posting Komentar