100 persen mirip, 99,8 persen Beda
oleh Tania Pramayuani
Suasana yang sangat dingin ditambah dengan derasnya hujan pada sore yang kelam membuat diriku semakin malas untuk beraktifitas. Setiap pekerjaan rasanya inginku tunda utuk ku kerjakan esok hari, namun kadang aku juga berfikir, jika hari ini tidak aku lakukan mungkin belum tentu besok dapat aku lakukan lagi. Aku harus dapat mengatasi fikiranku yang tidak tidak ini.
Seketika teringat kembali bayangan masa laluku yang terus menghantui mimpi-mimpiku. Aku sudah berusaha untuk menghapus semua bayangan tangtang hal itu. Setiap akan ku hapus, ada saja seorang yang kembali mengingatkan aku akan dirinya. Termasuk seorang yang tidak aku kenal pun mampu membuat mataku kembali menelusurinya dan membuat hatiku untuk kembali menumbuhkan bunga. “ hmm sebenarnya siapakah dia itu? Kenapa dia sangat mirip sekali dengan yuka” desahku. Tiba-tiba Adela datang “ hei, yun ... dini coba aku tunjukkan sesuatu padamu”. “ apa sih del, kamu nggak tau ya kalau aku ini lagi mikir. Jangan buyarkan pikiranku donk” jawabku dan bermaksud untuk meninggalkan Adela. “ tunggu dulu, kamu pasti nyesel kalau kamu nggak mau kesini. Coba tebak ini tentang apa?”
“ paling ya tentang si Dino itu kan, aku males bahas soal itu Del. Sudah ya aku capek, sekarang aku mau tidur dulu”
“ini tentang Yuka, beneran nggak pengin tahu kamu Yun,”
“ what??” aku langsung menghentikan maksudku untuk meninggalkan Adela. Memang terkadang gadis bermata sipit dengan perawakan kurus ini kadang membuatku kesal, namun dialah satu-satunya sahabatku yang mampu mengerti aku degan segala sifatku dan tidak pernah merasa protes dengan sifat yang aku miliki.
“iya itu khan bener. Kalau tentang Yuka saja kamu langsung antusias seperti itu. Jangan-jangan Yuka itu lebih penting dari pada aku ya” ucap Adela dengan wajah sedih. Aku langsung memeluknya dan mengatakan bahwasanya dari pada siapapun, sahabat itu lebih penting dari pada cinta. Cinta itu mudah dicari, jika sekarang mungkin Yuka bukan jodohku, maka dilain waktu Allah akan memberikan seseorang yang jauh lebih baik daripada Yuka. Tapi kalau yang namanya sahabat itu tidak bisa ditukar dan digantikan dengan apapun. Sekali sudah menjadi sahabat, selamanya akan tetap sahabat.
Adela bergantian memelukku dengan erat “ kamu benar Yun. Maafkan aku kalau tadi aku telah salah sangka dengan kamu” sesalnya. “ iya nggak papa Del, nyantai saja. Aku juga minta maaf ya karna tadi aku sudah tidak menganggap perkataanmu” jawabku. Kami berduapun saling tersenyum. Kami mencari tempat yang enak untuk bercerita. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke taman yang berada kota. Biasanya taman itu digunakan para keluarga untuk sarana hiburan. Cukup banyak pula masyarakat yang berkunjung ke taman tersebut. Di taman itu juga ada berbagai macam wahana permainan serta resto yang dapat dibilang cukup murah. Kami semua biasanya menyebutnya dengan nama “HOPARK”
Sesampainya di hopark, aku dan Adela mencari gempat duduk di resto lesehan. Ya maklumlah, kami ini khan masih anak sekolahan, jadi belum punya cukup banyak uang jika untuk duduk di resto yang mewah seperti Resto Ekslusif itu. “ Del, apa yang tadi mau kamu katakan padaku?” tanyaku
“ ini lo Yun, aku baru dapat kabar tentang Yuka. Ternyata Yuka alias Bintang itu sekarang sekolah di akademi kemiliteran di Jawa Tengah”
“apa? Benarkah informasi yang kamu dapatkan itu? Kenapa bisa? Padahal dia kah sekarang sedang kuliah di Universitas Brawijaya. Terus bagaimana dengan kuliahnya itu?” timpalku
“ seperti kamu tidak tau saja. Dia itu khan orang kaya, tentunya dia akan meionggalkan kuliahnya dan memilih untuk mengejar cita-citanya itu. Dia masuk di UB itu pun juga karena terpaksa, daripada dia tidak kuliah, nanti malu-maluin lebih baik di keliah di UB saja” jelas Adela dengan ketus
“ sudahlah, jangan jelek-jelekkan dia. Sudah cukup kamu berkata seperti itu”
“kamu itu mikirnya dimana Yun? Kamu mikir di otak apa di dengkul?” kata Adela yang semakin marah
“Del, bukanya aku ngebela Yuka. Aku tahu dia udah nyakiti hatiku hingga sedalam ini. Dan mungkin bisa jadi keterpurukannku saat ini adalah karena dia. Tapi aku tidak ingin juga menyalahkan dia sepenuhnya. Bagiku semua yang berlalu biarlah berlalu. Dan kini yang aku butuhkan hanhya kamu, kamulah satu-satunya oran yang mampu mengerti aku. Jadi jangan marah padaku ya. Aku minta maaf. Aku lebih memberla kamu kok, bukan Yuka yang jahat itu”
“ ha ha ha bahus bagus. Aku senang akhirnya dari mulutmuitu bisa keluar kata-kata Yuka yang Jahat. Saranku sih kamu jangan terlalu banyak berharap dari Yuka dan mengunggunya. Cobalah buka hatiku, Yun. Kamu itu cantik dan pandai apa yang kurang. Cowok mana yang tidak mau denganmu?”
“ terimakasih atas sarannya, Del. Tapi aku juga butuh waktu untuk mencintai seseorang lagi. Aku sulit untuk jatuh cinta. Mungkin jika ada seorang yang mampu membuka pintu hatiku ini akan aku pertimbangkan” jawabku.
Kami terus saja melanjutkan perbincangan yang tiada habisnya. Hingga tak terkira ada yang aneh menurutku. Aku seperti melihat Yuka sedang naik ada di depanku. Tapi dia naik sepeda “ apakah benar itu Yuka? Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin dia naik sepeda. Kalau Yuka yang dulu masih bisa jadi, tapi Yuka yang sekarang itu bukan Yuka yang dulu” ucapku dalam hati. Aku terus saja memperhatikan orang yang mirip dengan Yuka itu. Benar-benar mirip dari semua perawakannya. Tapi dia jauh lebih sederhana. Dia rendah hati. Aku jadi semakin ingiin lebih tau tentang orang itu. Siapa namanya dan bisakah aku kenal dengannya. Aku ingin sekali membuktikan apakah wajah yang mirip itu juga benar mempunyai sifat yang mirip juga.
0 komentar:
Posting Komentar