3
Rindu Pahit
Seminggu sudah setelah keluargaku pergi. Aku di rumah sendirian. Aku sering sekali mengabari bahwa kabarku baik-baik saja. Ternyata mereka semua sedang pergi ke kalimantan. Di rumah nenekku. Tepatnya mereka ingin melihat tempat kerja pamanku. Mereka sudah tahukalau aku sudah membaca surat dari paman. Aku pun juga tidak menyalahkan mereka. Aku berterimakasih pada paman karena tanpa paman membawaku dulu, mungkin aku sekarang sudah mati. Mereka semua janji kepadaku, bahwa mereka akan pulang dua hari. Waktu itu waktu yang paling aku nantikan. Hampir setiap sore, di bawah pohon mangga di dekat kolam, aku selalu menunngu mereka pulang. Walaupun aku sudah diberitahu kalau mereka akan pulang dua hari lagi, tapi aku tetap menunggu. Hal ini menjadi kebiasaan baruku. Aku menjadi seperti pamanku. Sering melamun di dekat kolam. Hanya ocehan burung-burung yang kadang menemaniku.
Aku melihat ikan-ikan menari kegirangan saat kutaburkan makanan di atas kolam. Aku senan melihatmereka. Seolah aku sedang bersama dengan pamanku. Tak berapa lama pintu rumahku berbunyi. Sepertinya ada yang datang. Aku langsung berlari.” Pasti itu mereka. Akhirnya mereka pulang juga” batinku. Aku mengangap yang datang itu adalah keluargaku. Saat ku buka pinti rumahku, rasa gembira itu hilang. Hujan telah melunturkan rasaku itu. Cahaya matahari sudah tak berpihak kepadaku. Aku tertegun melihat orang yang datang itu. Tak berkedip. Pikiranku kosong.
“Mbakk...” sapa orang yang berdiri di depanku. Aku tetapa tak merespon. Sekali lagi orang itu memanggilku.
“Mbak... apa benar ini rumahnya Keluarga Wijaya?”
Lamunanku sirna. Aku segera menjawab “Iiiya, Pak. Ada perlu apa?”. Aku melihat semua penampilan orang yang di depanku tersebut. dua orang. Mereka memakai baju biasa. Kelihatannya seperti orang biasa, namun kenapa badan mereka terlalu tegap. Jika di bandingkan dengan orang biasa mereka seperti lebih berwibawa. Dari penampilannya aku menyimpulkan bahwa mereka adalah seorang premen. Aku terus mengamati mereka berdua. Tapi sepertinya mereka mengetahui yang kulakukan. Mereka segera memotong pandanganku dan mengalihkan pada inti pdembicaraan sebelumnya.
“Begini Mbak, kami tadi ingin menunjukkan ini pada anda” kata dari salah satu orang yang berdiri di depanku. Aku pun sampai lupa tidak mempersilakan kedua orang tersebut masuk. Ku sela pembicaraan dengan mempersilakan mereka masuk.
“Ohya maaf saya lupa Pak, masuk dulu”
“Tidak perlu mbak, kami hanya ingin menunjukkan ini pada anda”.
orang tersebut merogoh saku celananya. Sepertinya ada sesuatu yang ingin di keluarkan. Aku mengamatinya dengan seksama, begitu juga temannya juga terlihat serius mengamatinya. Kemudian ku lihat orang itu menyerahkan sebuah KTP. Dia memberikan KTP itu kepadaku.
“Apakan benar ini milik keluarga anda?”. Aku mengamati dengan seksama KTP itu. Benar sekali. KTP itu adalah milik papaku. Dalam KTP tertulis nama Wijaya Kusama yang tak lain adalah nama papaku.
“Benar. Ini KTP papa saya. Tapi ada apa ya?”
Kedua orang yang berdiri di depanku saling memandang. Wajah mereka berubah. Mereka diam cukup lama. Kemudian salah satu dari mereka memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan dariku.
“Kami tadi menemukan pemilik keluarga tersebut beserta keluargnya. Mereka kecelakaan”.
“Ha ha jangan bercanda Pak. Darimana anda tahu. Tidak mungkin”
“Benar mbak. Jka yidak percaya silakan datang ke rumah sakit”
“Tunggu, sebenarnya anda berdua ini siapa?”
“Kami polisi”.
Seketika tubuhku lemas. Aku tersungkur tepat di depan pintu. Aku tak sadarkan diri. Ternyata rinduku kepada mereka bukan berbuah sebuah kebahagiaan, melainkan berbuah sepuah kepahitan. Dua kali rasa kepafitan ini aku alami. Saat ku buka mata, kulihat dinding sekitar ku berwarna putih. Aku berada di sebuah ruangan kecil yang cukup pengap. Aku menengok sekitarku. Sepi. Tak ada suara apapun. Tak begitu lama terdengar suara pintu dibuka. Ku lihat ada seorang yang masuk. Wanita berbaju putih itu menghampiriku lalu berkata “ Bagaimana keadaannya mbak?”
“ Aku dimana sekarang?”
“Sekarang mbak ada di rumah sakit”
“Rumah sakit. Tidak”. Mendengar kata rumah sakit aku menjadi teringat akan orang yang bertamu ke rumahku. Aku bergegas untuk bangaun dan mencari keluargaku. Namun wanita itu melarangku.
“Jangan dipaksakan mbak. Mbak masih belum cukup kuat untuk berdiri”
“Mama, Papa, Adit, paman..” kataku memanggil satu persatu anggota keluargaku. Aku menangis. Aku ingin segera mencari mereka. Aku masih belum percaya dengan kabar yang baru aku dapat dari dua orang yang datang ke rumahku.
Aku cukup yakin bahwa wanita yang sedang di sebelahku itu adalah seorang perawat. Dia bertanya kepadaku kenapa aku menangis. “Ada masalah apa mbak?”. Aku memelukknya. Aku menangis di pelukannya. Isak tangisku cukup kuat. Wanita itu mengelus rambutku. Sepertinya dai tahu bahwa aku masih belum siap untuk cerita. Kemudian dia menyuruhku untuk tidur.
“Mbak tidur dulu. Sebentar saya tinggal dulu. Nanti kalau Mbak sudah siap, Mbak bisa ceritakan apa yang terjadi sebenarnya”. Dia berbalik. Tapi aku melarangnya. Aku bangun dan mencoba merangkak pelan-pelan untuk menggapainya. Untung saja dia mengetahuiku. Dia langsung memapahku dan membawaku ke tempat tidur lagi.
“Aduh, mbak jangan berjalan dulu”.
“Se...sebenarnya...”
“Sebenarnya ada apa mbak?”. Aku melihatnya. Aku juga menemukan sebuah tanda tanya besar di benaknya. “Apakah ada pasien yang bernawa Wijaya yang di rawat di rumah sakit ini mbak?”
Dia seberti sedang mengingat-ingat sesuatu setelah aku bertanya kepadanya.
“Wijaya..Wijaya. ada apa tidak ya. Hmm”
“Wijaya Kusuma” tambahku.
Dia langsung melihatku lalu menjawab “Ada mbak ada apa. Kemarin pasien yang bernama Wjaya Kusuma baru di rawat di runag IGD”
Aku senang mendengar kabar itu. Berarti keluargaku sekarang sedang ada di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit aku di rawat sekarang. “Antarkah aku ke kamar orang itu Mbak” pintaku. Dia menatapku dalam. Ku temukan raut wajah penuh kesalahan padanya. Dia hanya diam saja. “Mbak ayo antarkan aku ke ruang itu. Kalau Mbak tidak mau mengantarkan, aku akan mencari ruang itu sendirian’. Aku menurunkan kakiku dan mencoba untuk berjalan. Tapi sebuah kata akhirnya keluar dari mulutnya.
“Mbak, pasien yang bernama Wijaya sudah tiada” ucapnya kemudian menunduk.
“Maksudnya tiada?”
Sekali lagi dai hanya diam. Aku dapat menyimpulkan sendiri bahwa maksudnya papaku sudah meninggal. Kemudian aku menanyakan tentang anggota keluargaku yang lain. Dia mengatakan bahwa seorang perempuan sudah meninggal sebelumnya. Wijaya di rawat sendirian. Aku menangis tersedu-sedu. Wanita itu memelukku.
“Sebenarnya siapa mbak pasien yang bernama Wijaya itu?”
“Di..di..a adalah papaku”
Dia seperti tidak percaya tentang yang ku katakan barusan. Kemudian dia menceritakan tentang pasien yang bernma Wijaya itu. Kemarin, ada sebuah kecelakaan di jalan Mahyani. satu orang di temukan tewas di tempat kejadian. Dan satu orang lagi sedang kritis. Lalu polisi membawa korban di otopsi sedangkan korban yang sedang kritis di bawa ke IGD. Tapi tak berama lama kemudian, korban yang di bawa ke IGD itu meninggal. Belum ada keluarga yang datang sampai sekarang.
Aku menangis tiada henti mendengar penjelasan yang baru saja aku dengar. Dia menenangkanku.
“Papa, mama..kenapa kalian tega meninggalkanku.”
“Sudah Mbak, di ikhlasin saja”
“Setelah semua kebenaran terungkap, satu persatu dari orang yans masih aku punyai pergi juga meningglkanku”. Wanita itu menyeka air mataku. Dia ternyata tak hanya perawat saja. Dia begitu baik. Tapi aku maish belum sadar akan hal itu.
“Mbak, lantas masih adakah anggota keluarga yang lainnya. Pamanku dan Adikku juga bersama mereka”
“Tidak ada Mbak. Kemarin yang diketahui ada dua orang korban kecelakaan. Tapi ada kemungkinan ada anggota keluarga yang hilang. Soalnya kemarin dari berita yang saya dengar, pintu mobil terbuka. Dan kecelakannya itu berada di dekat sungai. Mungkin yang lainnya hanyut ke sungai”.
“Tidak... tidak...” aku memukul-mukul kepalaku sendiri. Aku tak percaya akan semua ini. Paman dan Adit bekum di ketumukan. Sekarang aku sendirian di rumah. Sebatang kara. Tinggal di rumah yang mewah tiada artinya lagi.
**
Selesai pemakaman kedua orangku, suasana rumah menjadi sepi. Aku tinggal di rumah yang cukup besar itu itu sendirian. Tak ada yang memasakkan sarapan seperti mama dulu, tak ada seorang pipi bakpow yang bisa aku cubit seperti dulu.aku rindu. Aku sangat rindu dengan semua kenangan itu. Aku terlalu terpuruk dengan situasi yang menimpaku. Seminggu lebih aku tidak masuk sekolah. Pikiranku masih kacau. Hanya tidur yabg aku lakukan. Kondisi rumahku berantakan. Tak sebersih seperti rumahku dulu.
“Tok..tokk..”
Terdengar ada orang yang mengetuk pintu rumahku. Tapi aku tak menghiraukannya. Hampir setiap hari aku mendengar suara seperti itu. Namun tetap saja. Aku tak menghiraukan suara itu. Semakin lama suara itu tak cukup sekali dalam sehari mengetok-ngetok pintuku. Tapi sehari lebih dari lima kali. Kali ini aku begitu bosan mendengar suara itu. Aku keluar dan membikakan pintu. Ku dapati ternyata seorang Dani. Ternyata Dani yang selama ini terus menggangguku. Aku menutup pintu lagi.Tapi Dani menahan pintunya. Aku tak kuat beradu tenaga denagn Dani. Aku terjatuh. Dani segera menolongku. Tapi aku menolak uluran tangan darinya. Aku malah membentak-bentaknya.
“Sudahlah, pergi sana. Aku tak mau kamu kasihi”
“Kamu kenapa La”
“Sudah akau bilang pergi ya cepat pergi sana”
“Tidak. Aku tidak akan pergi. Aku akan disini sampai kamu sembuh. Aku dengar dari gteman sekelasmu kamu sudah lama tidak masuk sekolah setelah kepergian orang tuamu”
Aku terdiam. Air mataku menetes setelah Dani menyebutkan kata orang tua.
“La, kamu tidak apa-apakan”
Aku akhirnya mengalah padanya. Aku menjawab dengan jujur apa yang terjadi padaku. “Seperti yang kamu lihatlah kondisiku sekarang Dan”
“Sudah aku kira. Kamu pasti sedang memikirkan kedua orang tuamu sehingga kamu menjadi sakit seperti ini”.
“La, jangan kamu sesali kepergian mereka. Jika kamu seperti ini kamu akan memberatkan kedua orang tuamu. Apa kamu tidak kasihan dengan mereka. Dan ingat kamu masih mempunyai banyak orang-orang yang mnyayangimu. Kamu harus kuat demi mereka”
“Siapa? Aku seorang diri sekarang Dan”. Aku menatap mata Dani, kemudian aku menunduk lagi. Aku masih sangat sakit sekali jika harus membicarakan tentang kedua orang tuaku. Dani tak tahu tentang segalanya. Dani tak tahu bahwa aku telah kehilangan orang tuaku untuk ke dua kalinya.
“Paman dan Adikmu masih belum ditemukan. Masih banyka harapan bahwa mereka masih hidup. dan aku selalu ada disampingmu La. Kapan pun kamu butuh bantuan aku akan selalu ada”
Hatiku bergetar mendengar penuturan Dani. Aku tidak menyangka bahwa Dani bisa memotivasi diriku. Aku melihat matanya. Ku temukan pancaran keiklhasan atas apa yang Dani berikan kepadaku. Dani benar, aku harus kuart. Aku harus mencari Adit adikku dan pamanku. Aku masih punya mereka yang harus aku perjuangkan. Aku harus menari mereka.
“Benar kamuDan. Aku harus mencari adik dan pamanku. Terimakasih ya Dan. Kamu memang satu-satunya temanku yang sangat baik kepadaku”.
“Iya sama-sama La” jawabnya dengan menaburkan senyuman. Aku menyesal selama ini telah berfikir yang tidak-tidak tentangn Dani. Gernyata tak semuanya tentang Dani itu benar. Damni itu orang yang sangata baik. Semenjak itulah aku menjadi tidak cuek lagi dengan Dani.
**
Setelah kunjungan dari Dani, akun masuk sekolah seperti biasa. Ku temukan semangat baru dalam hidupku. Prestasiku di sekolah melonjak sangat drastis jika dibandingkan tahun-tahun yang lalu. Ini semua karna aku emangat ingin segera mencari dan bertemu dengan anggota keluargaku yang tersisa. Mereka adalah satu-satunya anggota keluarga yang aku harapkan. Walaupun mereka itu bukan anggota keluarga kandungku, tapi mereka kal segala-galanya dalam hidupku. Aku sering melihat kotak hadiah dari paman. Bukannya aku sedih jika aku melihat kotak itu, tapi aku menjadi semangat. Aku ingin segera menemukan pemilik kotak tersebut. selain itu hubunganku dengan teman-temanku juga sangat baik. Apalagi dengan Dani, kami menjadi rekan yang sangat ccocok.banyak tugas yang sering kami kerjakan bersama-sama. Bahkan aku sekarang sudah diajak Dani untuk iku berbagai aktivias keorganisasian. Sedikit demi sedikit masalah yang aku hadapi memjadi berkurang. Aku selalu disibukkan dengan masalah oranisasi ataupun masalah pelajaran. Ternyata semua itu membantuku. Hanya ada satu temankuyang maih sangat sinis denganku. Yaitu Diana. Dia dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Enyah apa yang menbuatnya sangat benci kepadaku. Jika hanya arena masalah buku, aku sudah meminta maaf padanya. Tapi dia tetap marah padaku. Hanya satu orang itu yang membuat diriku menjadi tidak nyaman di sekolah.
Sampai di gang pertigaan yang menuju rumahku, aku menemui banyak orang yang berlalu lalang di sekitar situ. Padahal biasany tidak seramai itu. Mungkin hanya sesekali menjadi ramai jika jalan sedang dialihkan karena ada perbaikan jalan. Tapi waktu aku berangkat sekolah tadi pagi sepertinya tidak ada perbaikan apapun, tapi kenapa bisa seramai seperti ini. Aku menanyai salah seorang tetanggagku yang kutemui di situ. “ Bu ada apa lho kaok gang situ menjadi ramai. Apa sedang ada perbaikan jalan ya?”
Tetanggaku itu malah heran mendengar pertanyaan dariku. Dia malah ganti balik bertanya kepadaku “Loh! Nak Lala tidajk tahu ya apa yang sedang terjadi?”
Aku menggeleng. Kemudian ibu itu menambahkan lagi “ Lebih baik Nak Lala lihat sendiri. Ibu tidak tega mengatakan semua ini. Leih baik Nak Lala segera pergi melihat kesana”. Ibu itu lalu pergi.
Aku penasaran sekali ada apa sebenarnya. Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan rumahku. Pikiranku pun akhirnya tertuju pada paman dan adikku. Jangan-jangan mereka sudah pulang. Akhirnya usah yang aku lakukan ini tidak sia-sia. Aku berlari secepat mungkin untuk bertemu dengan paman dan adikku. Seampainya di rumah, aku terkejut. Aku melihat di pagar rumahku tepat ada tulisannya di segel. Aku melihat ada polisi juga di sekitar rumahku. Aku mendatangi mereka. Dan menanyakan tentang kejelasnnya sebenarnya apa uang telah terjadi.
“Pak, kenapa rumah saya di segel?”
“Karena rumah kamu sudah menjadi jaminan hutang”
“Hutang apa Pak, saya merasa saya tidak pernah berhutang kepada siapa pun”
“Iya memang bukan kamu yang menghutang. Tapi kedua orang tuamu. Mereka telah sepakat bahwa jaminannya hutang mereka adalah rumah ini jika mereka tidak bisa membayar hutangnya pada saat jatuh tempo”
“Untuk apa mereka berhutang Pak?”
“Sebagai modal untuk mengembangkan perusahaan”.
Polisi bertubuh tegap yang lengkap dengan seragam dinasnya itu pun meninggalkanku. Dia pergi mengurusi masalah penyitaan rumahku lengkap beserta perabotan rumah juga. Aku tak menyangka bahwa selama ini ternyata papaku mempunyai utang dengan Bank sehingga menyebabkan rumahku satu-satunya disita. Bagaimana aku harus bertindak sekarang. Tubuhku lemas. Luka di hatiku yang hampir saja sembuh kini telah berdarah lagi. Menguncur sangat deras. Darah itu sekarang telah menjadi nanah yang sudah menyebar ke dalam atmosfer tubuhku. Nafasku sesak. Dadaku terasa seperti diikat dalam sebuah besi sambil dipukul-pukul. Alas kakiku terasa panas. Ada bara api yang membakar tubuhku. Aku lemas. Energi tubuhku semuanya sudah hilang. Kini aku tersungkur lemas melihat para tetangga yang bergerumunan menyaksikan penyitaan rumahku. Rumah satu-satunya yang aku punya. Rumah peninggalan orang tuaku. Rumah yang penuh dengan kenangan. Air mataku membanjiri relung hatiku. Orang-orang hanya berlalu melihatku. Mereka benar-benar sudah tak memperhatikanku. Aku diacuhkan. Layaknya sampah yang mencemari pemukiman.
**
0 komentar:
Posting Komentar