8
Pertemuan Tak Terduga
Pagi-pagi sebelum sang mentari menampakkan dirinya seutuhnya, aku sudah berada di depan rumah Pak Gunawan. Kali ini niatanku untuk meminjam uang. Kila seumpama tidak boleh, maka aku akan meminta bayaranku di depan. Aku mencoba untuk memberanikan diri mengucapkan semua ini.
Aku menekan bel yang ada di gerbangbrumahnya. Tak lama kemudian pembantunya membukakan gerbangnya untukku dan mempersilakan aku masuk. Ternyata pembantunya itu sudah sangat hafal denganku. Dia memanggilkan Pak Gunawan semntara aku menunggun Pak Gunnawan di runag tamu. Akhirnya Pah Gunawan menemuiku. Wajahku memerah. Nyaliku menciut. Jantungku naik turun akan mengucapkan hai ini. Aku baru bekerja belum ada seminggi namun sudah berani berhutang pada Pak Gunawan.
“Ada apa Mbak Lala. Tumben sekali masih pagi sudah datng kesini. Sekolah khan dimulainya pukul tujuh”
“E eee...ee...”. aku memainkan jariku dan bingung harus memulai mengatakannya darimana.
“Katakan saja Mbak tidak usah malu ataupun takut”
“Se..se... sebenarnya saya datang kesini mau meminta gaji saya dibayar dimuka. Soalnya adik saya sekarnag dirawat di rumah sakit dan memerlukan biaya untuk pengobatannya” jelasku.
“Katakan itu dari dulu Mbak. Mbak tak perlu meminta gaji Mbak di muka. Saya akan menanggung semua biaya rumah sakit adik Mbak Lala”’
“Jangan Pak. Bapak sudah terlalu baik pada saya. Saya tidak mau merepotkan Bapak”
“Tidak repot Mbak. Malahan saya sangat senang bisa membantu sesama saudara sendiri. Dimana adik Mbak Lala dirawat?”
“Di rumah sakit Medika Husada”
Beribu-ribu rasa terimasih aku ucapkan pada Pak Gunawan. Allah memang akan menlong hambaNya yang kesusahan sekagi hamba itu mau berusaha. Aku sangat bersyukur pada Nya. Pertolongannya sangat besar.”Betapa Allah sangat menintaiku” batinku.
Kemudian aku mengajar di seoklah menyanyi seperti biasanya. Aku sangat menikmati pekerjaaan baruku ini. Aku merasa bahawa aku tidak bekerja, tapi aku sednag mengembangkan hobyku. Tak ada rasa berat dalam menjalani pekerjaan baruku ini sebagai guru menyanyi. Semakin hari kecintaanku terhadap dunia tarik sura semakin mendalam. Aku sangat suka dengan adik-adik yang semangat belajar menyanyi. Hidupku terasa indah dengan ini. Aku merasa kali ini aku telah merenda impianku yang dari dulu belum aku kenali danbelum dapat aku gapai. Aku telah menitihi tangga mimpiku. Walupun dilanda kekalutan yang mendalam, mimpiku tetap akan aku gantungkan. Aku tak akan membiarkan mimpiku dihempas angin. Cukup hidupku saja yang dihempas angin. Tapi mimpiku tak boleh dihempas angin.
Sepulang dari sekolah les, aku langsun ke rumah sakit. Ternyata anak-anak kardus sudah di rumah sakit sejak tadi. Setelah mereka mengetahui rumah sakit dimana Iqbal di rawat, mereka sering datang sendiri yanpaku. Sepulang ngamen, mereka langsung ke rumah sakit. Di situ aku melihat Pak Gunawan sedng mengobrol dengan anak-anak kardus dan dengan Iqbal. Aku membuka pintu dan menyapa mereka. Aku tersenyum pada Pak Gunawan.
“sudah lama ya Pak?” tanyaku/
“Tidak Mbak. Ini baru datang”
Lalu Pak Gunawan mengajakku keluar dari kamar Iqbal. Katanya ada yang perlu dibicarakan. Aku lantas mengikutinya.
“Mbak Lala, ini ada sedikit uang. Terimalah. Jangan menolak”
“Terimaksih banyak Pak. Tapi saya terlalu merpotkan bapak”
“Sudahlah terimalah, ini rezeki lho. Tak baik menolak rezeki” kataya. Aku pun menerimanya. Sunggguh sangat besar pertolongan Allah padaku. Setelah Pak Gunawan membayar semua administrasi Iqbal, dia juga memberiku uang. Memang pertolongan Allah berasal dari hal yang tidak disangka-sangka. . Lala kemudian mengembalikan uang yang dipinjamnya dulu pada Adinda. Adinda menolaknya. Tapi Lala terus memaksa agar Adinda mau menerima uang itu.
Dan tak begitu lama setelah itu alhamdulillah Iqbal sembuh. Tapi sekarang Iqbal mengamen sendirian, sementara aku tetap bekerja sebagai guru di salah satu sekolah menyanyi
Setiap pagi hari saat akan berangkat kami selalu berangkat bersama. Sepulang dari sekolah menyanyio, aku selalu menunggu Iqbal di terminal atau kadang sebaliknya. Jika pulangnya Iqbal lebih dulu daripadaku, dia yang menungguku di terminal.
**
Semenjak peristiwa itu, Amir tak berani lagi meningglkan Adit sendirian. Ada hal yang sejak dari duku Amir simpan dan belum sempat Amir katakan pada Adit tentang kedua orang tuanya. Tapi bagaimanapun juga Adit harus tahu kebenarannya. Wajahnya yang polos dan asangat lucu membuat Amir sangt menyesal jika mengatakan hal itu. Pasti wajahnya akan berunah menjadi sangat sedih. Cahayanya akan hilang. Amir benar-benar tak tega.
Saat amir bekerja, Adit sudah tidak ditinggal di rumah sendirian. Amir sekarang menyekolahkannya di playgroup yang seharian penuh. Nanti sepulang kerja Amir tinggal menjemputnya. Dan kini Amir oun sudah berhenti menjadi mebeler. Dia pergi bekerja di kota menjadi petugas penjaga kebersihan kota. Amir tak maku dengan pekerjaan barunya ini. Dia merasa bahwa pekerjaan barunya ini mirip dengan pekerjaannya sewaktu dia masih bekerja di salah satu SMA di Banding menjadi petugas oenjaga kebersihan. Hanya saja tempatnya yang berbeda.
Kali ini saat Amir menyapu halaman dekat terminal, dia dikagetkan dengan teriakan seorang dari belakang. Ternyata itu adalah Lala. Lala yang menunggu kedatagan Iqbal bertemu dengan Amir. Mereka akhir ya berbincang-bincang. Lala ingat dengan uang yang dulu sempat ia pinjam dari Amir. Lala lalu mengembalikan uang itu pada Amir.
“Mas Amir sekarang bekerja disini ya?” tanya Lala.
“Iya Mbak. Mbak kenapa disini?”
“Saya setiap jam segini disini Mas. Saya menunggu adik saya?”
“Adik Mbak yang dirawat di rumah sakit itu ya. Gimana keadaanya sekarang Mbak?”
“Alhamdulillah sudahsembuh Mas. Dia sekarang sudah aktif seperti biasanya”
Tak lama Iqbal sudah datang. Dia menghamoiri Lala. Lala lemudian mengenalkan Iqbal pada Amir. Lala bilang bahwa yang menolongnya sewaktu dia sakit deman berdarah adalah Amir. Iqbal mencium tangn Amir dan dia sangat berterimkasih padanya. “ Kak terimaksih ya atas bantuannya”
“ Sama-sama Dik”. Lalu Lala dan Iqbal berpamitan pulang. Dan Amir melanjutkan menyapu di sekitar terminal.
Di sepanjanng jalan Lala danIqbal bersuka ria. Iqbal sudah mlai bermanja-manja lagi pada Lala. Dan seperti biasanya kadang Iqbal meledel Lala. Di tengah kesenangan yang mereka rasakan, mereka tidak sadar jika mereka sedang dibuntuti seseorang. Orang itu menegndap-ngendap agar tidak ketahuan mereka. Orang itu adalah ibunya Fery. Fery adalah salah satu murid di sekolah menyanyi. Ibunya Fery merasa ada yang aneh dengan guru anaknya itu. Dia cukup akrab dengan Lala. “ Kenapa Mbak Lala bersama dengan anak jalanan itu. Sebarnya siapa anak jalanan itu?” tanyanya pada diri sendiri.
Ibunya Fery mengikuti Lala sampai rumah. Dia kaget kalau ternyata Lala masuk ke dalam rumah kardus dan Lala juga di sapa dengan sebutan kakak oleh anak-anak yang berpenampilan kumal. Dia tidak terima anaknya diajar olehe seorang guru gelandangan. Ibu Fery langsung pergi dengan suasana hati yang mendongkol.
Ke esokan harinya saat Lala masuk ke sekolah menyangnyi, semua mata wali murud tertuju kepadanya. Mereka memandang Lala dengan tatapan sinis. Kemudian Lala dilempari mereka dengan telur busuk. Lala kaget dengan perlakuan wali murid yang tiba-tiba berubah menjadisekejam itu.
“Dasar gelandangan. Kenapa masih disini. Kau tidak pantas mnjadi guru, bisa-bisa anakku menjadi gelandangan sepertimu” kata Ibu Fery dengan suara meninggi.
“Cepat kau pergi!” ucap wali murid yang lain sambil menarik-narik rambut Lala. Lala dilempari mereka dengan kotoran sapi juga. Lala menangis. Sementara guru-guru yang lainnya hanya nisa melihat Lala. Para guru yang lainnya tak bisa menghentikan aksi anarkis para wali murid. Sedangkan para murid menangis melihat Lala diperlakukan seperti itu. Warga sekitar yang juga mengenal Lala karena dulu adalah mantan tetangganya hanya melihat dengan tatapan iba. Lala diseret keluar secara pakasa dari sekolah menyanyi. Tangan dan kaki Lala sampai mengucurkan darah. Rambutnya terobrak-abrik. Lala hanya bisa diam saja. Dia juga menyadari bahwa yang dikatakan para wali murid itu juga ada benarnya.
“Aku memang seorang gelandangan. Aku memang tak pantas ada di sekolah elit ini” batinnya. Lala pun pergi. Dia pergi dengan menagis dan dengan kondisi yang tak cukup baik.
Para guru-guru seger mengabari Pak Gunawan akan kejadian itu. Api Pak Gunawasn pada saat itu sedang ada di luar negeri. Dia sedang ada pertemuan dengan mitra kerjanya. Keungkinan akan pulang dalam waktu seminggu hari lagi.
Lala pulang ke rumah kardus dan menagis. Di rumah kardus tak ada siapapun. Anak-anak sedang pergi mengamen. Akhirnya lala pergi ke terminal untuk menungggu kepulangan Iqbal. Dia disitu bertemu dengan Amir. Amir menghamoirinya. Amir melihatada yang aneh dengan Lala.
“Mbak ada apa. Apakah ada masalah?”
Lala hanya menggeleng. Matanya berkaca-kaca da tak lama Lala pun menangis.
“Mbak, kenapa menagis. Ada maalah apa Mba?”
Lala memengang dadanya. Dia kemudian menunjukkan kaki dan lengannya. Amir sanbgat terkejut melihatnya. Kakai dan lengan Lala masih mengguncurkan darah. Tapi Lala tak bertindak apa-apa. Dia hanya menangis. Amir mengira bahwa Lala menangis karena rasa sakitnya itu, padahal sebenarnya Lala menangis karena dia sedih telah diperlakukan seperti itu.
Amir segera pergi mencarikan perban untuk memperban kaki dan lengan Lala. Lala hanya bisa melihat tindakan Amir dan tak sepatuhpun kata keluar dari mulutnya. Amir merasa canggung tak berkata apa pun. Jika dia berkata itu pun juga tidak dijawab oleh Lala. Dimata Lala, Amir menemukan sebuah mata yang penuh dengan penderitaan. Wajahnya adalah wajah yang sangat menderita. Matanya sayup-sayup seperti kehilangan cahayanya. Tubuhnya sangat lemah dan tak berenergi. Amir sempat menawari Lala makan dan membelikannya. Namun Lala hanya diam dan diam. Amir menemani Lala samoai Iqbal datang. Walaupun mereka saling terdiam karena Lala tak mau berkata apapun, Amir terus menemaninya. Hinggga pada saan]tnya Iqbal datang. Lala lansung memeluk Iqbal dan menangis tersedu-sedu.
“Kakak dik, kakak...”
“Kak Lala kenapa?” tanya Iqbal pada Amir.
Amir hanya mengeleng dan mengatakan bahwa sedari tadi Lala haya diam saja tanpa kata. Dan kaki beserta lengannya luka.
“Kak, sebaiknya kita pulang sekarang. Nanti kakak ceritakan padaku apa yang telah terjadi pada kakak” ucap Iqbal. Iqbal pun mengajak Lala pergi. Amir hanya memandangi mereka dari kejauhan. Semakin lama Amir semakin penasaran dengan gadis yang bernama Lala itu.
**
Sampai di rumah kardus, mata Lala membengkak. Iqbal mebelikannya es batu untuk mengompres matanya. Di rumah kardus anak-anak yag lainnya belum ada yang pulang. Setelah kondisi Lala agak tenang, Iqbal menyuruh Lala menceritakan apa yang telah terjadi. Lala hanya terdiam. Lala tak tega bicara seperti itu pada anak seusia Iqbal. Wakaupun Iqbal mungkin sudah dapat berfikir dewasa tapi kadang dia juga masih seperti anak kecil. Lantas Lala akhirnya mengeluarkan kata “ Tidak apa-apa dek. Tadi kakak hanya jatuh di deoan gang sehingga kaki dan lengan kakak luka”. Iqbal mengerutkan keningnya. Dia seperti tidak percaya dengna ucapan Lala. Iqbal melihat luka Lala. Ternyata lukanya lumayan parah. Kemudian Iqbal menawarkan agar Lala dibawa ke rumah sakit. Tapi Lala melarangnya.
“Tidak usah dek. Ini hanya luka biasa kok” kata Lala.
“Kalau hanya luka biasa kenapa kakak sampai menangis seperti itu?” tanya Iqbal menekan. Lagi-lagi Lala kewalahan dengan pertanyaan Iqbal. Akhirnya Lala menceritakan apa yang telah terjadi sebenarnya.
“Sebenarnya kakak telah dipecat dari kerjaaan kakak” jawab Lala murung.
“Pak Gunawam memecat kakak?”
“Tidak”
“Terus?”
“Kakak diusir karena para wali murid tahu bahwa kakak adalah seorang gelandangan. Mereka tidak terima anaknya diajar oleh seorang gelandangan”.
Iqbal pun marah. Dia tidak terima kakaknya diperlakukan seperti itu. “Aku besuk akan ke sekolah menyanyi itu kak” kata Iqbal dengan penuh esmosi.
“Jangan dek. Mau apa kamu kesana? Nanti kamu malah diperlakukan seperti kakak. Kakak tidak ingin kamu mengalami nasib yang sama seperti kakak”.
Lala mencoba untuk meredakan esmosi Iqbal. Lala melihat dimata Iqbal penuh kebencian akan orang-orang kaya yang sangat sombong dan telah merendahkan kakaknya itu.
“Baik, kalau begitu kita mulai sekarang. Akan aku tunjukkan bahwa gelandangan seperti kami bisa sukses” batin Iqbal. Kemudian Iqbal pergi begitu saja. Lala mengerti bahwa Iqbal sedang marah. Lala tak mengejarnya karna dia tahu bahwa jika sudah malam pasti Iqbal akan pulang.
Dengan hati yang masih terombang-ambing Lala menelusuri jalanan. Dia berharap agar impinya dapat terangkai lagi. Tidak mungkin jika hanya dia diam saja tanpa kerjaaan, sementara anak-anak kardus yang lainnya bekerja. Impiannya untuk dapat menyekolahkan meeka tak pada bigitu saja. Lala menghentikan langkahnya dan kemudian dia berfikir kalau ia akan mengamen seperti dulu lagi. “ Mengamen itu bukan pekerjaan yang hina. Lebih hina menjadi pengemis dan pencobet daripada mengamen. Ini pekerjaaan yang halal” batin Lala.
Lala pergi ke terminal. Dia berniat ingin mengamen di bus. Di terminal dia melihat Amir sedang menyapu disitu. Dia menghampiri Amir.
“Mas Amir” teriak Lala.
Amir menoleh. Dia melihat wajah Lala sudah kembali ceri tidak seperti waktu dia melihat Lala yang tanpa kata dan penuh dengan penderitaaan. Mata itu, ya mata Lala sudah memancarkan cahayanya kembali.
“Hai, Mbak Lala bagaimana keadaannya”
Lala hanya meringis. Dia malu atas apa yang terjadi kemarin.
“Lala minta maaaf ya Mas. Keamarin Lala baru dipecat dari pekerjaaan Lala. Jadi Lala masih tertekan. Tapi sekarang sudah tidak lagi kok. He he”
“Syukurlah kalau begitu. Ohya Mbak Lala mau kemana sekarang?”
“Mau ngamen Mas”
Amir kaget mendengar perkataan Lala. Kemudian Amir berfikir ingin ikut dengan Lala. Lala mengijinkannya tapi bagaimana dengan tiugas menyapu Amir.
“Tidak apa-apa Mbak. Ini hampir selesai. Mbak Lala bisa menungggju sebentar?”
Lala mengacungkan jempolnya. Dan ia menunggu Amir di warunbg tempat biasanya dia menunggu Iqbal. Amir dengan ceoat menyelesaikan pekerjaaannya. Dia menemani Lala mengamen di bus-bus. Amir mendapatkan kesan yang berbeda denbgan gadis yang dia temui kali ini. Amir sangat salut dengan perjuangan hidup Lala. Dia tidak malu melakukan semua ini.
“Seorang kakak yang sangat sayang dengan adiknya” kata Amir pada Lala saaat mereka baru turun dari bus. Lala terkekeh mendengar ucapan Amir. Lantas Lala membalikkan kata “ Bukankah Mas Amir juga seorang kakak yang sangat sayang dengan adiknya”. Seketika wajah Amir menjadi murung. Lala naru menyadari bahwa ucapannya barusan telah ,emyakiti hati Amir.
“Maaf Mas jika kata-kakaku menyinggung perasaaan Mas”
“Tidak Mbak. Mbak Lala salah. Aku bukan orang yang sayang dengan adiknya. Aku orang yang pengecut”
Lala tak mengerti apa yang dikatakan Amir. “ Maksudnya apa Mas?”
Amir mengatakan bahwa dia dulu pernah meninggalkan adiknya hingga adiknya itu hilang dan sampai sekarang sekian lama Amir tidak berani mengatakan sebuah kebenaran.
“Kebenaran maksudnya?” tanya Lala penasaran.
Mata Amir mulai berkaca-kaca. Kata-kata Amir tiba-tiba terhenti. Dia sudah tidak sanggup menceritakan semuanya. Lala mengajaka Amir untuk membeli minuman. Sembari Lala ingin menghibur Amir.
“Mas tidak usah bersedih. Katakan semua kebebaran itu walaupun itu rasanya sakit. Akan lebih sakit lagi jika seseorang terlambat mengetahui sebuah kebenaran” kata Lala menasehati. Amir mengamati Lala dengan seksama kemidan dia mulutnya mengeluarjkan kata-kata “Aku melihat di matamu juga ada sebuah penderitaaan yang amat dalam”.
Sekarang gantian Lala yang menunduk. Lala mengatakan bahwa mungkin mereka mempunyai kisah perjalanan yang sama. Hanya saja diantara mereka belum mengetahui satu sama lain.
“Semua oranga mempunyai banyak cerita hidup yang orang lain tidak tahu. Tapi mata, mata memang tidak dapat membohongi” kata Lala.
“Benar Mbak. Sebenarnya adikku itu bukan adik kandungku. Aku tinggal sendiri di rumah. Aku cukup senag sekarang aku ditemani oleh seorang anak yang sangat baik, imut dan lucu”
Lala lalau menyambung pembicaraaan bahwa sebenarnya Lala juga bukan kakak kandung dari anak-anak kardus. Tapi karena Lala tidak punya keluarga dan sudah tinggal lama bersama mereka, Lala sangat menyayagi mereka.
“Sebenarnya aku mempunyai adik kandung. Tapi dia entah keman sekarang aku tidak tahu. Dia hilang”.
“hmmm...Mungkin benar katamu Mbak, kalau kita memang mempunyai kisah hidup yang hampir mirip. Adikku yang menemaniku, satu tahun lalu aku menemukannya di sungai”.
Lala menjadi tertarik dengan pembicaraan. Lala terus menyambung pembicaraan.
“Di sungai maksudnya?” tanya Lala.
“Waktu malam-malam aku melihat ada yang aneh di sungai, kemudian aku mendekat dan melihatnya. Ternyata itu seorang anak” jelas Amir.
Lala merasa ada sebuah keganjalan yang dirasakannnya. Dia merasa saat Amir menemukan seorang anak bersamaaan dengan saat adiknya hilang.
“Siapa nama adik Mas?” tanya Lala sangat penasaran dan begitu menekan.
Amir sedikit kaget dengan respon Lala yang terlalu berlebihan.
“Adit. Ya Adit namanya?”.
Ekspresi Lala berubah. Lala sangat antusias dan memaksa Amir untuk segera mengantarkannnya pada adiknya itu. Amir tidak mau karena Lala tidak menceritakan alasannya. Lala mencoba menahan esmosinya untuk tidak marah pada Amir karena Amir telah mengulur-ulur waktu.
“Dia adalah adik kandungku yang hilng satu tahun yang lalu” kata Lala.
Amir sangat kaget. “Jadi kamu Lala kakaknya Adit?”
“Iya benar. Sekarang tolong antarkan aku pada Adit. Aku mohon Mas. Aku sangat kangen dengan Adit”.
Amir tak percaya bahwa Lala yang selama ini di kenalnya adalah kakak kandungnya Adit. Begitu dekatnya dia dengan Lala tapi kenapa begitu lama pula dia tak mengetahui kebenaran ini. Kakak kandungnya Adit ternyata nasibnya lebih buruk dari yang dibayangkan. Amir benar-benar tak menyangka sebuah kebetulan ini.
“Mas masih jauhkanh rumahmu” tanya Lala. Lala sudah berjalan mendahului Amir. Langkahnya begitu cepat. Amir tak mendengar apa yang diucapkan Lala. Kemudian Lala memperlambat langkahnya dan bertanya pada Amir lagi.
“Apakah Mas Amir tahu masalah keluargaku?”
“Tahu. Aku dulu sempat mencari Mbak Lala di sekolah. Tapi kata gurunya Mbak Lala sudah pindah. Saya tanyaa pindah dimana gurunya tidak tahu” jelas Amir.
“Terus yang Mas Amir tahu tantang saya selain itu apa?”
“Sebuah kebenaran yang sampai sekarang belum berani saya katakan adalah bahwa kedua orang tua Adit sudah meninggal. Saya selalau mengalihkan pembicaraaan jika Adit menanyakan masalah orang tua”.
Lala heran kenapa Mas Amir begitu tahu banyak tentang dirinya. Lalu Mas Amir menjelaskan kalau dia tahu semuanya dari Dani. Dani yang menceritakan tentang Lala. Dani dulu bilang kalau akan ke rumah Amir untuk menengok Adit. Tapi sampai sekarang Dani belum datang juga.
“Dani?” Ucap Lala tak percaya.
Amir menyakinkah bahwa memang Dani yang mengatakan semua itu. Lala mendesah. Dia sudah tahu bahwa Dani memang tak pernah tulus dengannya, buktinya dia juga tidak mencarinya sampai sekarang.
“Dani itu memang tak berubah?” ucap Lala lirih.
“Tapi temanmu itu telah mencarimu juga” bantah Amir.
Lala membantah ucapan Amir. Dani itu tak mencoba mencari kabar tentangnya. Lala memohon agar Amir tak memberitahukan keberadaaannnya pada Dani. Dani pun menyetujuinya.
**
Mereka sampai juga di rumah Amir. Lala sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Adiknya. Amir menyuruh agar Lala sabar. Tapi Lala terus mendesak. Akhirnya Lala masuk mendahuliu Amir. Dia memanggil-manggil adiknya.
“Adit... Adit..Adit” teriak Lala.
“Iya Kak, sebentar” jawab sebuah suara.
Hati Lala mengembang karena dia akan segera bertemu dengan adiknya setelah sekian lama hilang. Tak lama keluar seorang anak kecil dari dalam kamar. Lala langsung berlari dan memeluk anak kecil itu. Sangat arat. Hingga anak kecil itu terbatuk-batuk.
“Adit, ini Kak Lala. Kakak sangat kangen denganmu”. Pundak Adit basah karena air mata Lala terus menetes. Sementara Adit terbengong tak percaya bisa bertemu kembali dengan kakaknya.
“Hiks..hiks..hikss.. kakak aku sangat kangen denganmu.kakak kemana saja hingga tidak pernah menjemputku. Hiks hiks” ucap Adit dan gantian Adit juga memeluk Lala.
Umar hanya terdiam di depan pintu rumahnya. Rumahnya penuh dengnan haru piru. Umar tak sadar jika dia juga meneteskan sebuah air mata. Air mata kebahagiaan. Amir senag akhirnya Adit kembali bertemu dengan kakak kandungnya.
“Kak, mama dan papa dimana?” tanya Adit.
Lala lantas melepaskan pelukannya dan mengelus rambut adiknya. Lala mencoba merapikan rambut adiknya. Lala menata serapi mungkin agar adiknay itu tak semakin sedih mendengar kenyataan yang terjadi. Lala juga mengusap air mata yang membaahi pipi adiknya. Dan mengusap air matanya sendiri.
“Mama dan Papa ada di surga sekarang?”
“berarti mereka tidak kembali lagi kak” jawab Adit yang sudah mulai mengerti maksud Lala.
“Mereka sudah bahagia disana, Dit”
“Tidak, tidak. Adit ingin ikut mama. Adit ingin ikut mama Kak”.
Lala memeluk adiknya dan mencoba menenangkannya. “ Adit masih ada kakak yang selalu ada di sampingmu. Dan sekarang Adit juga mempunyai kakak yang baik lagi. Kak Lala dan Kak Amir sangat menyayangimu Dit” ucap Lala sambil melihat Amir. Amir tersenyum. Tapi tangisan Adit masih belum juga berhenti. Lala mencoba untuk menenangkan adiknya. Berbagai hiburan Lala berikan untuk adiknya. Hingga adiknya pun tertidur.
“Mas, makasih banyak ya sudah merawat adikku”
“Sama-sama Mbak. Aku juga sangat senang bisa merawat Adit. Adit sudah aku anggap seperti adikku sendiri”.
Lala tersenyum. Lala melihat jam ternyata jam sudah menunjukkan oukul 10 malam. Akhirnya Lala berpamitan untuk pulang. Amir kaget kenapa Lala tidak mengambil adiknya dan mengajaknya pulang.
“Mas, aku minta tolong bersediakah Mas mengijinkan Adit untuk tinggal sementara disini. Setidaknya sampai aku benar-benar mempunyai pekerjaaan yang tepat. Jangan ceritakan kondisiku sebenarnya pada Adit. Aku setiap hari akan kesini”
“Mbak tinggal disini saja bersama Adit” tawar Amir.
“Tidak mungkin Mas. Aku tak mungkin meninggalkan anak-anak kardus sendirian. Mereka butuh aku. Mereka juga keluargaku.
“Ajak mereka tinggal disni”
“Terimakasih banyak Mas. Mas Amir terlalu baik padaku. Tidak usah. Aku hanya titip Adit Mas”.
“Ya sudah kalau begitu. Adit sudah seperti adikku sendiri. Aku pasti akan merawatnya. Mbak Lala tidak usah kawatir”.
Lala pun segera pulang. Amir mengantarkan Lala pulang. Tapi Lala menolak. Tapi Amir juga tak mungkin tega membiarkan seorang gadis jam 10 malam berkeliaran sendirian. Amir tetap mengantarkan Lala pulang.
**
0 komentar:
Posting Komentar