Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

4/16/2017

Tagged Under:

My Cerpen

By: Catatan Tania P On: 21.58
  • Share The Gag


  • Manisnya Permen Kaki
    Oleh Tania Pramayuani


    "Perhatian-perhatian, kereta jurusan Bandung akan segera datang pada jalur satu. Mohon periksa barang bawaan anda sebelum meninggalkan tempat dan berhati-hatilah".
    Segera aku bangkit dari kursi tempatku menunggu dan melangkah meninggalkan kursi itu dengan membawa barang-barangku. Tak begitu lama aku menunggu, kereta segera tiba. Dan untunglah, pintu masuk berada tepat di depanku. Aku tak perlu jauh-jauh mencari pintu masuk.
     "Alhamdulillah " desahku.
    Aku masuk pada gerbong dua dan aku mendapat nomer kursi 3B. Kuputar barang bawaanku ke kanan dan ke kiri karena sangking penuhnya penumpang. Aku Berharap agar barangku itu tidak mengenai tubuh penumpang yang lainnya.  Akhirnya sampai juga pada nomer yang aku cari. Seketika segera ku ambil tiket dari saku jaketku. Takut jika aku salah nomer, aku tanyakan pada lelaki yang duduk di depanku.
    "Maaf mas, apakah ini benar nomer 3B gerbong dua? ". Setelah mengamati tiketku tidak terlalu lama, orang itu menjawab " Iya benar mbak. Mbak duduk di sini ".
    "Trima kasih mas" jawabku dengan senyum. Aku cukup lega karena akhirnya aku dapat tempat duduk. Awalnya aku berpikir bahwa aku tidak akan mendapatkan tempat duduk karena ke pulanganku ini juga bersamaan dengan musim liburan para mahasiswa di Malang. Tiga orang lainnya yang duduk dengankupun juga mahasiswa.
    "Untung saja mas tadi cukup ramah" gumanku.
    Suasananya sangat gaduh. Ada orang yang bercakap-cakap sendiri, suara musik, ditambah lagi dengan kepulan asap rokok yang berjubel memenuhi gerbong. Hal itu membuatku merasa tidak nyaman.
    " Beginilah kalau nekat pulang saat liburan para mahasiswa dan resikonya juga naik kereta ekonomi. Uhuk uhuk" kataku sambil terbatuk batuk dan mencoba untuk menyibak kepulan asap rokok yang berebutan akan masuk lubang hidungku. Lelaki yang tadi sempat aku tanyai sampai menoleh dan tersenyum ke padaku. Diapun mengeluarkan tangannya dari saku jaket. Kemudian mengulurkan tangannya padaku.
     " kenalkan, nama saya Umar"
    " Saya Dewi" balasku singkat.
    " Ohya kuliah dimana mbak?"
    " Saya belum kuliah mas. Saya masih SMA Kelas 3 ini ". Dia malah terkekeh mendengar jawabanku. Matanya yang sipit nyaris hilang ditelan tawanya. Aku hanya ikut-ikutan tersenyum seadanya. Bagiku hal itu cukup aneh dan aku mulai memberanikan diri untuk bertanya pada orang yang aku anggap seniorku itu.
     " Kenapa mas, kok tertawanya sampai lepas begitu. Apa mungkin ada yang lucu jika aku ini masih SMA?". Dia menatapku layaknya penuh kelucuan dan mencoba menghentikan tawanya.
     " Bukan begitu mbak. Bukan karena mbak ini masih SMA. Saya juga baru lulus SMA dua tahun lalu. Sekarang juga masih semester empat"
    "Lalu?"
    " Mbak tadi berangkatnya buru-buru ya?". Aku masih belum paham maksud dia. Dia membingungkanku. Para mahasiswa yang duduk di depankupun juga ikut tersenyum simpul. Sementara, dia tetap tersenyum senyum sendiri. Sempat aku menganggapnya orang gila. Aku pun mengamati diriku sendiri. Barangkali ada yang aneh denganku. Ketika pengamatanku sudah sampai ke bawah, baru ku sadari bahwa aku lupa tidak memakai sandal. Kakikiku hanya dibungkus kaos kaki warna coklat.
    " Astaga. Kakiku". Dia melihatku dengan gaya senyumnya yang khas
    "Baru sadar ya mbak. Untung saja mbak tidak menginjak sesuatu yang tajam. Biasanya di saat penuh seperti ini sangat rawan dengan hal itu" ucapnya sedikit meledek. Tapi tak sepenuhnya aku menyalahkannya. Tanpa dia mungkin aku akan lebih malu sampai Bandung. Tak kusangka, mas Umar begitu baik. Dia meminjamkan sandalnya padaku. Dia bilang dia kasihan melihatku. Setelah itu kami semakin terbuka dan mulai berbincang-bincang. Apalagi waktu yang lama untuk sampai pada kota tujuanku membuatku bosan jika hanya dihabiskan dengan diam saja. Setelah kutahu bahwa ternyata mas Umar juga turun di Stasiun Tasikmalaya, semakin senang rasanya mempunyai teman ngobrol.
    Ketika sampai di Stasiun Solo, mas Umar keluar membeli makanan. Dia tanya aku ingin nitip atau tidak.
    "Tidak mas, terimakasih. Aku sudah bawa bekal. Nenek sudah membuatkannya" jawabku singkat. Setelah mas Umar keluar, aku hanya mengamatinya dari balik kaca kereta. Tak begitu lama mas Umar kembali. Dia membawa dua nasi bungkus. Yang satunya itu dia berikan kepadaku.
     " Mas ini sudah aku bilang kalau aku sudah bawa bekal kenapa aku malah dibelikan?"
    " Sudah, dimakan saja. Tidak baik lho menolak rejeki itu" jawabnya singkat dan kemudian membuka nasinya lalu memakannya. Songkok yang dia pakai dia lepas sebentar lalu kembali dikenakannya.
    " Asli gaya orang sunda makan" batinku sambil mengamati caranya makan. Jika diperhatikan tak jauh berbeda dengan cara makan ayah.
    Selesai makan, aku mengucapkan terimakasih pada mas Umar lalu memulai perbincangan lagi.
    "Mas ini aslinya orang Tasik, kenapa kuliahnya harus di Malang? Apa tidak kejauhan. Khan ada UGM atau UI yang lebih dekat "
    " Memang benar. Saya kepengennya itu kulia di UGM. Tapi saya tidak ketrima. Akhirnya dapat informasi dari sepupu yang di Malang tentang Universitas Brawijaya. Saya mencoba daftar di sana. Dan alhamdulillah masuk " terangnya.
    " Dan mbak sendiri kenapa mau ke Bandung. Padahal khan sekolahnya di Malang? " imbuhnya.
    Aku mendesah dan melipat tanganku, kemudian aku diam sejenak dan mencoba mengatur nafas.
     " hmm... Sebenarnya saya itu asli kelahiran Bandung. Yang asli Bandung itu ayah. Ibu aslinya Malang. Sejak kecil saya tinggal di Bandung. Tapi setelah ibu meninggal waktu saya masih kelas satu SMP, ayahku menitipkanku di rumah nenek. Dan baru-baru ini saya dapat kabar bahwa ayah sakit. Akhirnya saya berniat ke Bandung " jelasku.
    Mas Umar menatapku dengan tatapan penuh iba. Dia ternyata melihat air mataku menetes. Dia menghiburku dengan memberikanku permen. Benar saja, usaha itu membuahkan hasil. Aku langsung terbelalak melihat mas Umar yang memberikanku permen berbentuk kaki itu.
    " Mas Umar ini ternyata punya bakat humor cukup bagus. Baru kali ini aku tau anak SMA yang sedih diberi permen berbentuk kaki. Biasanya khan diberi sapu tangan. Tapi aku suka " ucapku dengan sambil membuka bungkus permen itu.
    " Sapu tanganku masih belum aku cuci. Masih bau keringat. Dan juga cuma punya satu. Sayang juga khan " timpalnya dengan tawa lebar sampai lesung pipinya terlihat sangat jelas menambah keindahan akhlaknya.
    " iya mas. Terimakasih ya " imbuhku dengan senyum.
     " iya sama-sama mbak. Mbak Dewi tidak usah sedih. Jalani saja semuanya dengan enjoy. Semoga ayah mbak Dewi cepat sembuh dan jika mbak Dewi lagi sedih, makan permen kaki itu. Walaupun berbentuk kaki yang bisa dibilang cukup hina, tapi rasanya. Rasanya yang terpenting. Manis. Setiap cobaan itu pasti berujung kemanisan " tuturnya kalem. Tak diduga perbincangan kami akhirnya terputus. Ternyata sudah sampai stasiun Tasikmalaya. Lelaki yang sedari tadi menemaniku bicara kini telah turun. Kini hanya tinggal aku saja yang ada di bangku ini. Dua orang mahasiswa lain sudah turun tadi waktu di stasiun Solo. Yah, bosan. Bosan yang kualami sekarang. Akhirnya aku memilih untuk tidur sampai nanti sampai di stasiun Bandung.
    **
    Tiga jam kemudian kudengar teriakan orang "Bandung-Bandung-Bandung". Aku segera bergegas bangun dan mengambil barang bawaannku. Aku tak mengira bahwa waktu ternyata begitu cepat. Seperti baru tadi aku ngobrol dengan Mas Umar dan Mas Umar telah turun dulu, eh taunya sekarang giliran aku yang turun.
    Baru saja aku melihat dunia luar, begitu kagetnya diriku. Stasiunnya ternyata sudah direnovasi menjadi dua kali lipat lebih bagus dan lebih besar daripada dulu, ketika aku masih SMP. Aku berputar putar di stasiun. Aku mencari siapa yang akan menjemputku. Paman ataukah bibi. Aku mencari tempat untuk meletakkan barangku yang kurasa tidak cukup ringan. Pundakku rasanya sudah hampir patah. Dengan perlahan-lahan ku tahan beban ini dan ku rebahku beban ini pada mushola stasiun. Aku beristirahat di mushola stasiun sekalian juga dengan sholat dzuhur.
    Usai sholat dzuhur, orang yang menjemputku tak jua datang. Aku semakin bosan menunggu. Tak kusadari sebelumnya bahwa aku lupa belum memberi kabar bahwa aku sudah sampai.
    "Astagfirullah, HP ku mana. Ayo cepatlah ketemu. Jangan buat aku semakin lama menunggu. Kenapa tadi aku begitu ceroboh. Uuh...Dasar pelupa" omelku pada diriku sambil mengacak acak tas kecilku mencari Hp yang tak juga ketemu. Semakin lama emosiku semakin naik ditambah dengan rasa kesalku. Ku balik tas kecilku dan Braakk semua yang ada di dalam tas itu jatuh. Nyaris membuat semua orang yang ada di mushola melihat tindakan anehku.
    Tanpa aku sadari seorang gadis berjilbab biru datang menghampiriku. Sangat jelas sekali bahwa dia adalah gadis yang berperawakan kurus. Dia tinggi dan berkulit kuning langsat.
     " Mencari apa teh? " tanyanya dengan suara lembut. Sangat jelas sekali bahwa wanita ini adalah tipe orang yang sabar dan lemah lembut. Aku pandangi wanita itu sebentar kemudian aku menjawabnya " handphone teh. Abdi butuh handphone nya'. Sepertinya ieu mah hilang " jawabku.
     " Kalau sangat penting sekali, teteh pakai hanphone saya saja" tawarnya.
    "Benar ini tidak merepotkan teh, nanti pulsanya habis".
    " Iya benar teh. Saya senang bisa membantu saudara sendiri. Sesama saudara seiman khan harus saling tolong menolong" jawabnya dan lalu mengeluarkan hanphone dari tasnya.
    "Ini teh. Ini pulsanya masih banyak kok. Saya juga jarang memakainya. Jadi jangan sungkan memakainya ya. Teteh telfon saja biar jelas. Nanti kalau sms lama responnya"
    "Terima kasih banyak ya teh. Saya berhutang budi sama teteh". Wanita itu hanya tersenyum dan selalu menyangkal pujianku. Aku memulai bermain-main dengan tombol handphone wanita itu. Bebera detik kemudian aku berhasil menyambungkan komunikasi dengan paman. Aku kabarkan bahwa aku sudah sampai di stasiun. Paman akan menjemputku dan diperkirakan akan sampai dalam waktu lima belas menit lagi. Aku tak mau mengulur waktu pembicaraan mengingat ini handphone orang lain. Segera ku akhiri panggilanku itu.
    "Teh makasih banyak. Tanpa teteh mungkin saya akan bernasip malang dan akan tidur disini. Terimakasih buanyak nyak nyak ya teh" timbalku. Wanita itu terus merendahkan diri dan bilang bahwa dia tidak melakukan apa-apa. Kemudian aku mengulurkan tangan.
     " Ohya, kenalkan namaku Dewi. Aku masih sekolah kelas 3 SMA". Dengan gaya senyumannya yang begitu tulus dia membalas uluran tanganku "Saya Sabrina. Sama, saya juga masih kelas 3 SMA". Percakapan pun semakin berlanjut sejak itu. Kami juga membicarakan kemana akan kuliah setelah lulus. Dia ternyata bercita-cita ingin kuliah di Malang. Katanya pilih universitas yang dekat dengan kakak angkatnya. Mendengar itu aku sangat senang.
     "Banyak sekali peluang untuk kita bisa berjumpa lagi. Aku juga tinggal di Malang. Mainlah ke rumahku jika nanti jadi di Malang"
    "Wah kebetulan sekali ya. Pasti aku akan main ke rumahmu. Tapi kasih dulu alamat rumahmu, biar nggak nyasar"
    "Tentu. Ngomong-ngomong teteh disini menunggu siapa?". Dia hanya tersenyum dan kemudian dia malah melihat ke kanan kiri seperti sedang mencari seseorang. Tak berapa lama setelah investigasinya usai, dia menatapku dan wajahnya berubah menjadh sedih. Matanya menghadap ke bawah dan kepalanya menunduk.
    " Ada apa teh?" tanyaku bingung.
    Dengan suaranya yang setengah sendu dia menjawab " Sepertinya ayah memang tidak akan menjemputku. Aku akan pulang sendiri nanti"
    "Kenapa kok tidak dijemput?"
    "Soalnya kemarin waktu berangkat ayah sepertinya tidak setuju dengan keputusanku untuk ikut bersama kakak angkat di Malang. Jadi aku tadi baru dari Bandung minta pendapat Papa asuhku". Aku semakin tidak mengerti dengan maksud Sabrina. Aku berusaha menghiburnya. Ingin rasanya berlama-lama menemaninya. Tapi pamanku sudah datang menjemputku. Saat kulihat wajah paman yang menjadi tirus, pikiranku tentang Sabrina terhenti. Aku giliran memikirkan paman. Aku melirik jam tanganku, dan ternyata paman sudah terlambat satu setengah jam. Baru kusadari bahwa waktu telah menenggelamkan aku dan Sabrina dalam gemelut rangkaian kata. Aku minta maaf pada Sabrina dan berpamitan. Dia terus berusaha memasang senyum yang dipaksakan. " Suatu saat nanti teteh harus banyak bercerita ke padaku" teriakku sambil melambai lambaikan tangan. Sekali lagi gaya khasnya. Dia hanya membalas teriakanku dengan senyuman.
    Lalu aku pun fokus pada paman. Terlihat dengan kelas bahwa wajah paman tak ada seberkas cahaya keceriaan orang yang menyambut kedatangan sepupunya. Akupun memberanikan diri untuk bertanya.
    "Paman tidak suka dengan kedatanganku?". Paman hanya menatapku sesaat. Kosong dan sedih. Yah, tatatapan yang penuh dengan kesedihan. Lalu berpaling dariku dan fokus pada kegiatan menyetirnya. Kali ini aku benar-benar tidak memahami tingkah aneh pamanku. Kusempat mendengar paman bergemang lirih. "kau akan tau nanti". Mendengar ucapan itu, rasa penasaranku bertambah semakin besar. Tapi aku tak berani bertanya. Karena aku yakin jawabannya pasti sama seperti yang tadi. Sepanjang perjalanan kami hanya diam saja. Sesekali aku melirik pamanku. Tapi sepertinya paman hanya tenggelam dalam dunianya sendiri. Jengkel. Suasana itu yang menyilimutiku. Sesuatu yang aneh lagi. Arah mobil paman menuju rumah sakit.
    " Siapa yang sakit. Ada apa ini" tanyaku penuh penasaran. Panik sekali. Namun paman tetap diam. Dia keluar mobil tanpa menjawab pertanyaan dariku. Aku pun segera turun. Aku berlari menyamai langkah paman. Tiba-tiba paman berhenti tepat di depan ruang ICU. Seketika degh, dadaku terasa sakit. Seperti ada sesuatu per yang akan lepas dariku. Perasaan yang aneh.
     "Paman?" panggil orang dari kamar ICU.
     Pamanku segera masuk namun aku tetap diam ditempat. Melihatku tetap diam, paman menarik tanganku. Dan untuk ke kedua kalinya  paman berkata dengan jelas
    "Wi, masuk". Mulutku mengatup tak dapat menjawabnya. Tubuhku yang bersedia ditarik paman itulah sebagai tanda bahwa aku setuju.
    Pertama masuk ku lihat ada bibi, Andi sepupuku, suster dan dokter. Ternyata tadi yang memanggil paman itu suster itu. Lana. Begitulah namanya yang kutahu barusan dari bibiku.
    "Ayahmu sudah menunggu. Cepatlah mendekat" kata dokter itu padaku
    "A a a yah.." jawabku terbata bata. Aku berlari mendekati orang yang terbaring lemah itu.
     "A.. a.. a.. yah, kenapa bisa sampai seperti ini keadaan ayah? ". Tangisanku pecah. Membanjiri tangan lemah yang sedari tadi aku pegang. Mata itu, ya mata ayahku tak juga membuka barang sedikitpun. Alat penunjuk detak jantung menunjukkan bahwa jantung ayah semakin melemah. Bukan hanya aku saja yang menangis. Seisi ruangan juga menangis kucuali dokter. Dia hanya menampakkan ekspresi sedih. Mungkin hal ini sudah biasa baginya. Disaat isak tangis membanjiri seluruh ruangan, tangan ayah bergerak. Kupasang wajahku di depan ayah. Aku bangkit. Dan perlahan lahan ayah membuka matanya. Ayah berusaha mengangkat bibirnya dan mengeluarkan kata-kata walaupun dengan terpogoh-pogoh "Dewi, akhirnya kamu datang juga. Ayah kangen denganmu. Bagaimana kabarmu nak?"
    "Masihkan ayah tanya keadaanku. Lihatlah ayah. Bagaimana dengan keadaan ayah sendiri" jawabku terisak isak.
    "Ayah sangat baik nak. Bahkan akan jauh lebih baik setelah ini. Kedatanganmu saat ini adalah hadiah terindah buat ayah"
    "Cukup. Ayah jangan banyak bicara lagi. Ayah harus istirahat dan segera sembuh"
    "Nak, banyak orang yang menyayangimu. Jadi jangan bersedih. Ayah ingin kamu bahagia, Nak".
    Tiba tiba alat penunjuk jantung terlihat aneh. Mata ayah juga sudah mulai meredup. Seisi ruangan termasuk aku panik. Dokter segera menanganinya. Kami disuruh mundur. Kupeluk bibiku erat-erat .
    "Bi, ayah. Hiks hiks, ayah tak boleh pergi. Ayah pasti sembuh khan".
     Bibi mengelus rambutku dan berusaha menenangkanku. Aku tak berani melihat tindakan dokter. Sementara yang lainnya melihat dan ingin tau kondisinya. Tangan bibi yang mengelusku terhenti. Ku lihat bibiku meneteskan air mata dan bibirnya membuka. Ku sadari sesuatu telah terjadi.
    "Ayaaaaaah" teriakku sambil mendekati ayahku.
    Dokter mencoba menenangkanku. Tapi tangisanku tak juga berhenti.
     "Ayah, bangun yah. Hiks hiks hiks. Ayah jahat. Jangan tinggalkan aku yah. Bangun".
    "Teh diiklhasin saja. Kita doakan semoga jalan ayah teteh mudah" timbal Andi, yang sebenarnya juga menangis namun berhasil disembunyikan dariku. Benar saja, hatiku benar-benar tengah dilanda puting beliung. Porak poranda. Per dalam diriku benar ada yang lepas.
    **
    Semenjak peristiwa itu aku tak berlama-lama di Bandung. Satu tahun sudah peristiwa yang menyakitkan itu terjadi. Perlahan-lahan ditemani sang masa, mengbantuku mengiklhaskan kepergian ayahku. Aku memutuskan untuk tidak tinggal di Bandung. Takut kalau banyak teringat kenangan bersama ayah dan ibu di sana. Aku tinggal di Malang bersama nenekku. Kini, aku sudah sedikit menemukan cahaya dalam diriku. Teman-teman kuliahku banyak membantuku. Bukan baju putih abu-abu lagi yang kusandang. Aku kini sudah menjadi mahasiswa di universitas Brawijaya. Ya, aku memilih universitas ini karena pilih yang lebih dekat dengan rumah.
    Waktu jamku sudah habis, aku mampir ke mushola karena waktu sudah cukup sore. Walaupun rumahku dekat, tapi sepulang dari kuliah aku tidak ke rumah. Melainkan bekerja di salah satu bimbel. Bekerja sebagai guru fisika. Usai sholat, aku tak sengaja menabrak seorang wanita yang sedang berjalan menuju masjid.
    "Maaf, saya tidak sengaja"
    "hey, teh dewi. Ini aku. Lupa denganku?"
    kucoba membuka memoriku, barang kali ada yang masih nyangkut di salah satu sarafku.
    "Subhanallah. Teh Sabrina ya" . Sontak aku langsung memeluknya. Bisa dikatakan juga sok akrab. Tapi dia malah tersenyum dan membalas pelukanku juga.
    "Iya teh. Saya senang sekali bisa bertemu dengan teteh lagi. Alhamdulillah, takdir begitu baik. Teteh apa kabar?"
    "Alhamdulillah baik. Aku juga sangat senang sekali bisa bertemu dengan teteh. Ngomong-ngomong teteh juga kuliah di sini juga ya?"
    "Iya teh. Teteh juga ya?"
    "Iya teh. Wah seneng rasanya bisa satu kampus dengan teteh"
    "Ohya, teteh tadi sepertinya buru-buru. Mau kemana teh?"
    Baru ku ingat bahwa aku akan mengajar di bimbel. Akhirnya aku mengajak Sabrina ke bimbel sekalian karena jumpa kangen kami belum usai. Untung saja Sabrina juga tidak ada jam. Dengan isyarat senyum simpulnya menunjukkan bahwa dia bersedia ikut ke bimbel denganku.
    Selesai mengajar, kami duduk di depan bimbel. Kebetulan sekali di depan bimbel ada bangku kecil. Cukup nyaman tempatnya. Ternyata dugaanku benar. Sabrina jadi kuliah di Malang karena ikut dengan kakaknya. Kost nya berdekatan dengan kost kakaknya. Aku penasaran dengan kakak Sabrina itu. Dari tadi Sabrina bilang bahwa kakaknya sangat baik.
    "Teh harus kenal dengan kakakku. Dia orangnya bail kok. Dijamin nggak bakalan nyesel kenal dengan kakakku" pintanya
    "Memangnya kakak teteh kuliah dimana?"
    "Brawijaya. Dia masuknya pagi. Kalau sore gini, kakak lagi kerja"
    "Kerja apa teh?"
    Sabrina lama tak menjawab pertanyaanku. Mungkin aku terlalu dalam menanyakan masalah pribadi keluarganya. Segera aku sadari kesalahanku dan meminta maaf padanya.
     "Maaf ya, jika aku lancang. Aku tidak bermaksud untuk ......"
    kata-kataku terputus karena Sabrina sudah menimpali dengan kata-katanya.
    "Sudah, jangan merasa bersalah. Teteh tidak salah kok. Tapi maaf, mungkin aku belum siap cerita masalah kerja kakakku. Aku takut jika teteh menertawakannya. Tunggulah, waktu akan menjelaskan dengan sendirinya".
    Waktu sudah semakin gelap. Kami mengakhiri pembicaraan. Kami bertukar alamat dan nomer handphone. Sejak saat itulah, kami menjadi sahabat dan tak saling memanggil dengan sebutan teteh satu sama lain. Sabrina benar sahabat yang sangat baik. Kini aku tidak menutup-nutupi lagi masalah keluargaku. Aku ceritakan semuanya padanya. Demikian dia juga menceritakan cerita di stasiun yang dulu sempat terputus. Setelah kutahu, ternyata Sabrina itu mempunyai dua ayah. Ayahnya yang asli itu tinggal di Bandung. Karena tidak mempunyai banyak biaya, Sabrina di angkat anak oleh orang Tasikmalaya. Dia adalah bos ayahnya. Tapi Sabrina di beri kebebasan oleh papanya. Dia boleh tinggal di rumah Tasik atau di Bandung. Semuanya sama-sama rumah Sabrina. Satu hal dari dulu yang belum Sabrina critakan padaku. Yaitu tentang kakaknya. Sabrina pernah bilang bahwa dia itu kakak angkatnya. Sedangkan orangtua angkatnya orang kaya, rasanya tak mungkin jika kakaknya itu mau kuliah sambil kerja. Pikirkupun mustahil untuk membagi waktu antara kuliah dan kerja.
    **

    Kembali lagi dengan rutinitas pagiku. Yaitu kuliah. Saat dosen menerangkan, tak sengaja aku ketiduran pada jamnya. Aku mendapat hukuman. Aku dihukum untuk membersihkan seluruh masjid kampus.
     "Tapi pak" bantahku.
    "Cepat kerjakan sana. Atau nilai tugasmu ini aku beri nilai C" geram dosenku. Aku pun terpaksa keluar dari kelas. Tak tahu dosen itu bahwa aku ketiduran gara-gara mengerjakan tugasnya semalam.
    "Hmm.. Ikhlaslah. Mungkin ada hikmahnya" gerutuku.
    Badanku terasa sakit semua waktu mengerjakan hukuman itu. Padahal baru sebagian yang aku kerjakan. Saat aku sedang istiraha di bale masjid, tiba ada orang yang melempar permen di depanku. Aku beranjak dan bermaksud mencari tau orang yang tidak sopan padaku. Tapi tidak ada orang mencurigakan di sekitarku. Aku memutuskan untuk duduk lagi. Ku amati permen yang ada di depanku. Sebuah permen berbentuk kaki. Berwarna merah dan dibungkus plastik warna biru.
     "Aku makan saja permen ini. Mungkin ini rejeki dari Allah. Rejeki khan tidak boleh ditolak tapi disyukuri" ucapku pada diri sendiri.
    Rasanya begitu manis, dan sedikit membuat rasa lelahku hilang. Menurutku ada yang aneh dengan permen ini. Sepertinya permen ini  bukan makanan yang baru. Tapi dimana ya aku makannya. Aku pun merasa bahwa aku tidak pernah membeli permen kalaupun ada itu pasti sekedar diberi oleh teman. Tiba-tiba ada yang merusak lamunanku. Ada orang yang bergemang cukup jelas dari belakangku sehingga membuatku untuk menoleh.
     " Mau lagi tidak mbak permennya?" kata orang itu. Setelah ku toleh, betapa terkejutnya. Mas Umar. Oh, betapa sempitnya dunia ini. Kali ini aku ditakdirkan bertemu lagi dengan orang yang sangat lucu ini.
    "Mas Umar, kok disini" tanyaku keheranan
    "Aku khan memang kuliah disini. Mbak jadinya kuliah disini juga ya?"
    "Iya mas. Pilih yang dekat saja" jawabku kemudian menambahkan senyumku. Seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Dia selalu tersenyum dengan lesung pipinya itu.
    "Jangan-jangan permen tadi dari Mas Umar? Dan kenapa Mas Umar bisa disini?"
    "Iya mbak. Apa mbak mau lagi?" jawabnya sambil terkekeh. Hanya aku respon dengan senyuman.
    "Tadi tidak sengaja saya lewat masjid. Terus saya melihat ada mahasiswi bersih-bersih. Saya coba lihat. Tidak menyangka ternyata itu mbak dewi" jelasnya.
    "Ha ha ha. Aku ini dihukum lho mas" jlentrehku. Ternyata dia sudah tahu. Dia hafal benar jika ada mahasiswa yang membersihkan masjid pasti dia sedang dihukum. Oleh karena itu dia melemparkan permen padaku supaya aku tidak terlalu larut dalam kesedihan karena hukuman ini. Wajahku memerah karena sangking malunya. Pasti mahasiswa yang lainnya juga pada sudah tau kalau aku sedang dihukum. Dalam hati aku berjanji bahwa ini hukuman yang pertama dan yang terakhir kalinya. Mas Umar begitu baik, dia membantuku membersihkan masjid. Bebanku semakin berkurang. Aku merasa sangat bersyukur.
    Selesai membersihkan masjid. Aku berniat untuk mentraktir Mas Umar. Mengingat dulu Mas Umar juga pernah membelikan nasi padaku. Dari arah belakang kami terdengar orang berteriak- teriak "Kakak!"
    kami pun menoleh, ku lihat yang berteriak itu Sabrina. Dia tidak menyadari bahwa aku ada di situ.
    "Kakak dicari rektor. Katanya penting". Sabrina menoleh ke arahku dan wajahnya berubah jadi kaget. Sembari kakaknya pergi meninggalkan kami, Sabrina kemudian melemparkan pertanyaan padaku
    "Kamu sudah kenal dengan kakaku. Itu tadi kakakku, Wi"
    "Apa? Jadi itu tadi kakakmu, Sab?" jawabku tak percaya.
    Aku menjelaskan bahwa kami sudah saling kenal. Kami kenal pertama di dalam kereta waktu aku ke Bandung. Kebetulan mas umar pergi ke Tasikmalaya waktu itu. Sabrina seperti memahami maksudku. Mulutnya membulat dan mengucapkan “O”.
    "Berarti aku tidak usah mengenalkan lagi ya. Khan udah kenal"
    "Tapi kenapa kamu menutupi pekerjaan kakakmu, Sab?"
    "Se..Se benarnya.."
    "Sebenarnya apa?"
    "Sebenarnya kakakku itu mempunyai banyak pekerjaan. Tiap hari tidak sama?"
    "apakah itu?" tanyaku semakin penasaran.
    Sabrina akhirnya menjelaskan bahwa kakaknya itu yang punya pondok pesantren di dekat kost nya. Dia juga seorang penulis novel. Selain itu dia kadang-kadang berjualan permen atau koran keliling. Sabrina sendiri juga heran dengan kakaknya.
    "Sempat sekali aku melihat kakak itu mengajar anak-anak semester satu. Entah ada hubungan apa kakak dengan rektor tadi. Rektor sepertinya sangat membutuhkan kakak" jelasnya. Mendengar cerita Sabrina aku terheran-heran. Mataku melebar dan mulutku tak mengatup.
     "Aku benar-benar salut dengan kakakmu, Sab "
    "Ya itulah kakakku, sekarang kamu sudah tau kenapa aku menyuruhmu biarlah sang waktu yang memberitahu" katanya sambil tersenyum.
    **
    Aku menjalani hari hariku dengan penuh semangat. Mas Umar mengajariku arti dari kehidupan. Walaupun dia anak orang kaya, namun dia tidak sombong dan tetap giat berusaha.
    Permen itu. Ya, permen berbentuk kaki itu menjadi obatku di kala aku sedih atau dirundung masalah. Walaupun bentuknya kaki, namun tak tanggung tanggung aku memakannya, karena rasanya sangat manis. Seperti hidup ini, walau kadang hidup begitu hina dan menyulitkan, kita juga harus tak tanggung-tanggung menjalankannya. Kelak akan terasa manis seperti rasa permen kaki. Mas Umar, sosok yang telah mengajariku melalui kebiasaannya. Orangnya sholeh, baik hati dan manis pula. Entah sejak kapan hatiku mulai berdesir jika memandangnya. Dia selalu datang dalam mimpiku.
    Plaakk…
     Sabrina datang menghampiriku dan memukul pipiku. Sepertinya dia tahu bahwa aku sedang melamun.
     "Hayo, nglamunin apa? Sudah sholat belum?"
    "Astagfirullah, makasih sudah mengingatkanku" jawabku seraya bergegas menuju masjid untuk sholat. Kadang aku berfikir bahwa itu adalah bayangan setan. Segera kutampis jauh-jauh pikiran itu. Memang yang namanya cinta itu selalu beriringan dengan prestasi. Tinggal mana yang akan kamu pilih. Jika memilih yang benar, semuanya akan baik pula. Sejak itulah, aku memutuskan untuk menyimpan cintaku pada Mas Umar dalam rasa permen kaki. Manis dan penuh dengan pelajaran. Entah Mas Umar mengetahuinya apa tidak. Menurutku dia itu memang baik dengan semua orang, tidak hanya padaku saja. Sabrina pernah sekali cerita tentang kakaknya, bahwa tiada pernah Sabrina mengetahui kakaknya berhubungan dengan siapa. Yang dia tahu kakaknya itu pekerja keras dan selalu mengelak jika diajak bicara masalah perempuan. Ya, itulah yang aku suka dari orang pembawa permen kaki, yang sementara kupending dulu demi tercapainya cita-citaku.
    Selesai sholat, aku ke kantin menemui Sabrina. Saat melangkah mencari sandalku, baru ku sadari bahwa sandal yang aku pakai setiap hari ke kampus adalah sandal Mas Umar yang dulu dipinjamkan kepadaku.
    "Sandal ini? Oh, kenapa begitu pelupanya sih aku. Seharusnya segera aku kembalikan dari dulu. Padahal sudah setahun nempel di kakiku" makiku pada diri sendiri. Aku berpikir mungkin jika aku kembalikan sekarang, oleh mas umar malah diikhlasin ke aku. Aku nanti jadi malu.
    "Ya sudah, sandal ini buat kenang-kenangan saja" gumanku dengam senyuman seraya menuju kantin menemui Sabrina.
    **
    Hari-hari pun berlangsung seperti biasa. Aku dan Sabrina menjadi sangat akrab. Sabrina sudah tak malu lagi untuk menceritakan masalah keluarganya padaku. Aku sering main ke kostnya Sabrina. Saat pulang dari kampus, aku menyempatkan diri selalu main kesana.
    Tok.. tok.. tok..
    Tok.. tok.. tok..
    Lama. Sabrina tak membukakan pintu kostnya. Biasanya sekali ketok saja, Sabrina sudah membukakan pintu kostnya. Dia juga sudah aku sms sebelumnya bahwa aku mau kesitu. Aku berniat untuk menungggunya. Aku dududuk di kursi yang ada di depan kostnya. Kursi berwarna coklat kehitaman ditambah dengan motif ukiran yang tak begitu rumit menunjukkan bahwa kursi itu adalah kursi yang sangat indah. Aku mengamati kursi itu sambil duduk di atasnya. Aku mengelusnyanya. Trasa sangat hals ukirannya. Aku berguman seolah sedang bercakap-cakap pada seseorang “Kursi ini bagus sekali kokoh. Warnanya indah dan motif ukuran yang tidak begitu rumit membuatku merasa nyaman. Sabrina beruntung ada kursi seindah ini di depan kostnya”
    Tak lama kemudian ada suara yang menyelaku.
    “Ya... kursi itu memang bagus. Apa kamu suka”
    Seraya aku mendongakkan kepalaku yang sedari tadi aku tundukkan untuk mengamati kursi itu. Aku kaget. Ternyata Mas Umar yang berkata barusan.
    “Loh, Mas Umar kok tumben jam segini ada di sini? Biasanya khan kerja”
    Mas Umar hanya menjawab denngan senyuman. Hari ini au melilhat ada yang aneh dari biasanya. Mas Umar hanya senyum-senyum saja dan sesekali gerakannya hanya untuk membenarkan songkoknya. Dia tak berani duduk di sampingku. Padahal jelas masih ada satu kursi kosong lagi. Dia hanya berdiri kurang lebih dua meter dariku.
    “Mas Umar baik-baik saja khan hari ini?” tanyaku heran
    “Hmm... hmmm sebenarnya.......”
    “sebenarnya apa?” aku memotong perkataan Mas Umar. Aku merasa penasaran ada apa dengannya.
    “Se..se..se be narnya.. sebenarnya aku kesini ma ma mau......”
    “Hei Wi!!!” terdengar suara Sabrina. Sabrina lari terpongoh-pongoh menghampiriku.
    “Tenang Sab. Ada apa?”
    Nafas Sabrina masih tak beraturan. Dia duduk di kursi kosong di sampingku.
    “Maaf Wi, tadi aku keluar sebentar. Aku tadi baca sms kamu dan segera aku pulang” jawab Sarina sambil membenarkan kerudungnya. Dia melihat k arah kakanya dan kemudian berdiri.
    “Kakak ada apa kok tumben jam segini kesini. Jangan-jangan kakak....?
    “hust....!!!” potong Mas Umar sambil mmbungkam mulut Sabrina.
    Aku hanya tersenyum simpul melihatnya.
    “Kalau kakak tidak mau mengatakannya, maka aku yang akan mengatakannya” kata Sabrina ketus sambil mencoba melepaskan tangan kakaknya dari mulutnya.
    “Baik, aku akan katakan sendiri’ jawab Mas Umar dengan tegas. Mas Umar mendongakkan badannya. Gagah. Matanya tajam. Seolah ada hal serius yang akan disampaikan.
    “Ada apa dengan kalian berdua?” tanyaku.
    “Biar kakakkku sendiri yang menjelaskannya” jawan Sabrina.
     Mas Umar masih berpikir. Matanya melirik ke kanan kri dan kadang ke atas, seolah sedang merangkai kata. Lalu tak lama mulutnya pun membuka dan mengeluarkan kata`
    “Sab, apakah kamu mau menjadi pendamping hidupku?” katanya tegas.
    Sabrina hanya mengulum senyum sambil menyenggoli tanganku. Dia memberi isyarat agar aku segera menjawabnya.
    Aku terngannga seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mas Umar. Aku menunduk. Bingung. Ini terlalu cepat bagiku. Memang aku menaruh hati padanya. Dia adalah sosok imam yang diingankan oleh setiap wanita. Tapi aku juga tak mau salah ambil keputusan.
    Akupun memberanikan diri berkata “Apa Mas Umar bercanda?”.
    Kali ini mas Umar menjawabnya langsung dan dengan tegas “ Aku serius. Aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku dan menyempurnakan imanku. Aku sudah lama menaruh hati denganmu sejak kamu berteman akhrab dengan adikku”.
    Aku hanya terdiam. Sebenanya akku ingin langsung menjawabnya iya. Tapi itu terlalalu ceroboh menurutku.
    Sabrina menyela dan mengatakan bahwa aku pasti akan menerimanya. Aku mencubit Sabrina. Dia malah tertawa.
    “Kak, Dewi itu sudah lama juga menaruh hati pada kakak. Dia sering menceritakan tentanng kakak. Tapi dia tidak pernah cerita padakukalau suka dengan kakak. Aku hanya merasa kalau kalian cocok dan tidak ada yanng harus disembunyikan lagi”
    Aku menarik nafas panjang. Dan kali ini aku akan menjawab pertanyaan Mas Umar.
    “Apa yang dikatakan Sabrina itu memang benar. Aku sudah lama menaruh hati pada Mas Umar. Aku kagum dengan Mas Umar. Tapi aku masih belum lulus kuliah. Aku masih semester 6”
    “Tidak apa Dewi, aku akan menunggu kamu dan aku tidak akan memaksakan sekarang. Kalau kamu sudah lulus juga tidak apa-apa atau kamu mau bekerja dulu. Rencanaku juga akan menanyakan kamu pada nenekmu kira-kira empat tahun lagi. Aku ingin kamu membangun mimpimu dulu” terang Mas Umar.
    Jawaban itu seolah telah menenangkanku. Aku pun juga terjejut mendengar Mas Umar memanggil namaku dengan jelas. Biasanya dia hanya memanggilku mbak. Aku menjawab penjelasan Mas Umar dengan senyuman seraya berkata.
    “Iya Mas Umar. Aku setuju dengan itu. Aku juga akan menunggu Mas Umar”. Wajahku seolah seperti bunga yang mau mekar. Seperti ada sesuatu yang terpasang kembali. Per dalam hidupku yang dulu telah hilang rasanya sudah mulai kembali walau itu sosok yanng berbeda. Aku yakin dengan rahasia Allah. Segala sesuatu yang terjadi adalah yang terbaik untuk kita. Siapa yang tau Mas Umar, sosok yang misterius dimatakku dan sekaligus sangat pahlawan tiba-tiba mengatakan mau menjadikannku pendamping hidupnya. Kami bicara saja jarang. Paling juga pas ketemu hanya menyapa sambil tersenyum. Aku pun sempat mengira bahwa dia tidak ada hati denganku. Cuek. Dan kebaikannya itu juga bukan khusus padaku. Semua anak ki kampus banyak yang membicarakannya dan mengidolakannya. Dia seolah tak merespon mereka dan tetap teguh pada pendiriannya. Sekalipun aku tak pernah melihatnya bergandengan dengan wanita. SubhanaAllah.. aku bersyukur pada Allah karena telah mempercayakan dia padaku.
    **
    Usai kejadian itu, kami belum pernah bertemu. Mungkin Mas Umar masih sibuk dengan pekerjaannya baru-baru ku dengar bahwa Mas Umar dapat beasiswa kuliah di Austria. Aku juga tidak pernah menelpon atau sms Mas Umar. Yang terpenting aku menjaga kepercayaannya dan dia juga menjaga kepercayaannku. Aku lalui hariku dengan penuh keceriaan seolah tak ada beban.
    Aku dan Sabrina seperti biasa usai jam kuliah, Sabrina ikut aku mengajar di bimbel. Usai mengajar di bimbel, ada sosok laki-laki yang berdiri menghadap jalan. Dia seperti menunggu seseorang. Aku berpikir bahwa dia adalah salah satu orang tua yang akan menjemput anaknya. Tapi sampai anak-anak pulang semua, dia masih berdiri di situ aku memberitahukan hal ini pada Sabrina.
    “Sab, itu siapa?”
    Sabrina melihatnya dan malah menghampirinya. Sabrina mengajaknya untuk masuk dan aku sangat terkejut bahwa oranng itu adalah Mas Umar. Dia tersenyum padaku.
    “Oh tadi itu Mas Umar ya. Aku kira orang tua murid. Kok tumben hari ini Mas Umar tidak pakai songkok. Aku jadi tidak bisa mengnalil Mas Umar dari belakang”
    Wajah Mas Umar terlihat sedih. Dan ternyata dia juga membawa koper. Aku merasa bahwa akan ada sesuatu yang menyakitkan yang akan terjadi.
    “Dewi, aku kesini mau pamitan dengan kamu dan Sabrina. Hari ini aku akan berangkat ke Austria untuk melanjutkan studyku” katanya lirih
    Aku dan Sabrina meneteskan air mata mendengarnya. Sabrina seperti marah dengan kakaknya
    “Kenapa kakak tidak memberikan kabar padaku kalau hari ini kakak berangkatnya hiks hiks hiks” kata Sabrina sambil menyeka air matanya.
    Aku hanya diam dan menangis. Menunduk. Ku tak berani menatap wajah Mas Umar. Aku tetap menunduk dan menangis.
    “Dewi...” kata Mas Umar
    “kali ini aku akan pergi tapi tidak untuk selamanya. Setelah studyku usai, aku akan mengkhitbah kamu pada orang tuamu. Jagalah kepercayaannku padamu. Dan percayalah bahwa kamu satu-satunya wanita yang ingin aku nikahi nanti”
    Aku mengangkat pandanganku. Aku menyeka air mataku sambil terisak-isak.
    “Mas Umar tak perlu kawatir. Jika kita memang berjodoh pasti akan dipertemukan kembali. Dan aku akan menunggu Mas Umar” kataku dengan senyum yang kupaksakan.
    Setelah aku bicara, wajah Mas Umar tak sedih lagi. Pancaran kebahagiaanya terpancar diwajahnya. Kami mendoakan supaya Mas Umar selamat sampai tujuan hinggga sampai pulang. Mas Umar juga meminta tolong padaku supaya aku membantu Sabrina mengurus pondok ketika Mas Umar tak ada.
    **
    Empat tahun sudah berlalu. Kini aku telah menyelesaikan study S2 ku dan Alhamdulillah aku sudah menjadi dosen. Sabrina juga menjadi dosen, tapi kami beda kampus. Dan tanpa kabar pun, Mas Umar datang ke rumah pamanku yanng ada di Bandung. Aku sangat kaget ketika aku ditelfon paman bahwa Mas Umar ada disana. Mas Umar datang mengkhitbahku. SubhanaAllah inilah yang dinamankan takdir Allah. Tanpa pacaran pun, akhirnya kami bisa berkeluarga dan Sabrina yang dulu sahabatku kini menjadi adik iparku. Tak ada yang tak mungkin bagi Allah dan tak ada yang tau bagaimana skenario hidup itu.

    *SELESAI*



    0 komentar:

    Posting Komentar