Manisnya Permen Kaki
Oleh
Tania Pramayuani
"Perhatian-perhatian,
kereta jurusan Bandung akan segera datang pada jalur satu. Mohon periksa barang
bawaan anda sebelum meninggalkan tempat dan berhati-hatilah".
Segera aku
bangkit dari kursi tempatku menunggu dan melangkah meninggalkan kursi itu
dengan membawa barang-barangku. Tak begitu lama aku menunggu, kereta segera
tiba. Dan untunglah, pintu masuk berada tepat di depanku. Aku tak perlu
jauh-jauh mencari pintu masuk.
"Alhamdulillah " desahku.
Aku masuk pada
gerbong dua dan aku mendapat nomer kursi 3B. Kuputar barang bawaanku ke kanan
dan ke kiri karena sangking penuhnya penumpang. Aku Berharap agar barangku itu
tidak mengenai tubuh penumpang yang lainnya.
Akhirnya sampai juga pada nomer yang aku cari. Seketika segera ku ambil
tiket dari saku jaketku. Takut jika aku salah nomer, aku tanyakan pada lelaki
yang duduk di depanku.
"Maaf mas,
apakah ini benar nomer 3B gerbong dua? ". Setelah mengamati tiketku tidak
terlalu lama, orang itu menjawab " Iya benar mbak. Mbak duduk di sini
".
"Trima kasih mas" jawabku
dengan senyum. Aku cukup lega karena akhirnya aku dapat tempat duduk. Awalnya
aku berpikir bahwa aku tidak akan mendapatkan tempat duduk karena ke pulanganku
ini juga bersamaan dengan musim liburan para mahasiswa di Malang. Tiga orang lainnya yang
duduk dengankupun juga mahasiswa.
"Untung
saja mas tadi cukup ramah" gumanku.
Suasananya
sangat gaduh. Ada orang yang bercakap-cakap sendiri, suara musik, ditambah lagi
dengan kepulan asap rokok yang berjubel memenuhi gerbong. Hal itu membuatku
merasa tidak nyaman.
" Beginilah
kalau nekat pulang saat liburan para mahasiswa dan resikonya juga naik kereta
ekonomi. Uhuk uhuk" kataku sambil terbatuk batuk dan mencoba untuk
menyibak kepulan asap rokok yang berebutan akan masuk lubang hidungku. Lelaki
yang tadi sempat aku tanyai sampai menoleh dan tersenyum ke padaku. Diapun
mengeluarkan tangannya dari saku jaket. Kemudian mengulurkan tangannya padaku.
" kenalkan, nama saya Umar"
" Saya
Dewi" balasku singkat.
" Ohya
kuliah dimana mbak?"
" Saya
belum kuliah mas. Saya masih SMA Kelas 3 ini ". Dia malah terkekeh
mendengar jawabanku. Matanya yang sipit nyaris hilang ditelan tawanya. Aku
hanya ikut-ikutan tersenyum seadanya. Bagiku hal itu cukup aneh dan aku mulai
memberanikan diri untuk bertanya pada orang yang aku anggap seniorku itu.
" Kenapa mas, kok tertawanya sampai lepas
begitu. Apa mungkin ada yang lucu jika aku ini masih SMA?". Dia menatapku
layaknya penuh kelucuan dan mencoba menghentikan tawanya.
" Bukan begitu mbak. Bukan karena mbak
ini masih SMA. Saya juga baru lulus SMA dua tahun lalu. Sekarang juga masih
semester empat"
"Lalu?"
" Mbak tadi
berangkatnya buru-buru ya?". Aku masih belum paham maksud dia. Dia
membingungkanku. Para mahasiswa yang duduk di depankupun juga ikut tersenyum
simpul. Sementara, dia tetap tersenyum senyum sendiri. Sempat aku menganggapnya orang gila. Aku pun
mengamati diriku sendiri. Barangkali ada yang aneh denganku. Ketika
pengamatanku sudah sampai ke bawah, baru ku sadari bahwa aku lupa tidak memakai
sandal. Kakikiku hanya dibungkus kaos kaki warna coklat.
" Astaga.
Kakiku". Dia melihatku dengan gaya senyumnya yang khas
"Baru sadar
ya mbak. Untung saja mbak tidak menginjak sesuatu yang tajam. Biasanya di saat
penuh seperti ini sangat rawan dengan hal itu" ucapnya sedikit meledek.
Tapi tak sepenuhnya aku menyalahkannya. Tanpa dia mungkin aku akan lebih malu
sampai Bandung. Tak kusangka, mas Umar begitu baik. Dia meminjamkan sandalnya
padaku. Dia bilang dia kasihan melihatku. Setelah itu kami semakin terbuka dan
mulai berbincang-bincang. Apalagi waktu yang lama untuk sampai pada kota
tujuanku membuatku bosan jika hanya dihabiskan dengan diam saja. Setelah kutahu
bahwa ternyata mas Umar juga turun di Stasiun Tasikmalaya, semakin senang rasanya mempunyai
teman ngobrol.
Ketika sampai di
Stasiun Solo, mas Umar keluar membeli makanan. Dia tanya aku ingin nitip atau
tidak.
"Tidak mas,
terimakasih. Aku sudah bawa bekal. Nenek sudah membuatkannya" jawabku
singkat. Setelah mas Umar keluar, aku hanya mengamatinya dari balik kaca
kereta. Tak begitu lama mas Umar kembali. Dia membawa dua nasi bungkus. Yang
satunya itu dia berikan kepadaku.
" Mas ini sudah aku bilang kalau aku
sudah bawa bekal kenapa aku malah dibelikan?"
" Sudah,
dimakan saja. Tidak baik lho menolak rejeki itu" jawabnya singkat dan
kemudian membuka nasinya lalu memakannya. Songkok yang dia pakai dia lepas
sebentar lalu kembali dikenakannya.
" Asli gaya
orang sunda makan" batinku sambil mengamati caranya makan. Jika
diperhatikan tak jauh berbeda dengan cara makan ayah.
Selesai makan,
aku mengucapkan terimakasih pada mas Umar lalu memulai perbincangan lagi.
"Mas ini
aslinya orang Tasik, kenapa kuliahnya harus di Malang? Apa tidak kejauhan. Khan
ada UGM atau UI yang lebih dekat "
" Memang
benar. Saya kepengennya itu kulia di UGM. Tapi saya tidak ketrima. Akhirnya
dapat informasi dari sepupu yang di Malang tentang Universitas Brawijaya. Saya
mencoba daftar di sana. Dan alhamdulillah masuk " terangnya.
" Dan mbak
sendiri kenapa mau ke Bandung. Padahal khan sekolahnya di Malang? "
imbuhnya.
Aku mendesah dan
melipat tanganku, kemudian aku diam sejenak dan mencoba mengatur nafas.
" hmm... Sebenarnya saya itu asli
kelahiran Bandung. Yang asli Bandung itu ayah. Ibu aslinya Malang. Sejak kecil
saya tinggal di Bandung. Tapi setelah ibu meninggal waktu saya masih kelas satu
SMP, ayahku menitipkanku di rumah nenek. Dan baru-baru ini saya dapat kabar
bahwa ayah sakit. Akhirnya saya berniat ke Bandung " jelasku.
Mas Umar menatapku
dengan tatapan penuh iba. Dia ternyata melihat air mataku menetes. Dia
menghiburku dengan memberikanku permen. Benar saja, usaha itu membuahkan hasil.
Aku langsung terbelalak melihat mas Umar yang memberikanku permen berbentuk
kaki itu.
" Mas Umar
ini ternyata punya bakat humor cukup bagus. Baru kali ini aku tau anak SMA yang
sedih diberi permen berbentuk kaki. Biasanya khan diberi sapu tangan. Tapi aku
suka " ucapku dengan sambil membuka bungkus permen itu.
" Sapu
tanganku masih belum aku cuci. Masih bau keringat. Dan juga cuma punya satu.
Sayang juga khan " timpalnya dengan tawa lebar sampai lesung pipinya
terlihat sangat jelas menambah keindahan akhlaknya.
" iya mas.
Terimakasih ya " imbuhku dengan senyum.
" iya sama-sama mbak. Mbak Dewi tidak usah
sedih. Jalani saja semuanya dengan enjoy. Semoga ayah mbak Dewi cepat sembuh dan jika
mbak Dewi lagi sedih, makan permen kaki itu. Walaupun berbentuk kaki yang bisa
dibilang cukup hina, tapi rasanya. Rasanya yang terpenting. Manis. Setiap
cobaan itu pasti berujung kemanisan " tuturnya kalem. Tak diduga
perbincangan kami akhirnya terputus. Ternyata sudah sampai stasiun Tasikmalaya.
Lelaki yang sedari tadi menemaniku bicara kini telah turun. Kini hanya tinggal
aku saja yang ada di bangku ini. Dua orang mahasiswa lain sudah turun tadi
waktu di stasiun Solo. Yah, bosan. Bosan yang kualami sekarang. Akhirnya aku
memilih untuk tidur sampai nanti sampai di stasiun Bandung.
**
Tiga jam
kemudian kudengar teriakan orang "Bandung-Bandung-Bandung". Aku segera bergegas bangun
dan mengambil barang bawaannku. Aku tak mengira bahwa waktu ternyata begitu
cepat. Seperti baru tadi aku ngobrol dengan Mas Umar dan Mas Umar telah turun
dulu, eh taunya sekarang giliran aku yang turun.
Baru saja aku
melihat dunia luar, begitu kagetnya diriku. Stasiunnya ternyata sudah direnovasi
menjadi dua kali lipat lebih bagus
dan lebih besar daripada dulu, ketika aku masih SMP.
Aku berputar putar di stasiun. Aku mencari siapa yang akan menjemputku. Paman
ataukah bibi. Aku mencari tempat untuk meletakkan barangku yang kurasa tidak
cukup ringan. Pundakku rasanya sudah hampir patah. Dengan perlahan-lahan ku
tahan beban ini dan ku rebahku beban ini pada mushola stasiun. Aku beristirahat
di mushola stasiun sekalian juga dengan sholat dzuhur.
Usai sholat
dzuhur, orang yang menjemputku tak jua datang. Aku semakin bosan menunggu. Tak
kusadari sebelumnya bahwa aku lupa belum memberi kabar bahwa aku sudah sampai.
"Astagfirullah,
HP ku mana. Ayo cepatlah ketemu. Jangan buat aku semakin lama menunggu. Kenapa
tadi aku begitu ceroboh. Uuh...Dasar pelupa" omelku pada diriku sambil
mengacak acak tas kecilku mencari Hp yang tak juga ketemu. Semakin lama emosiku semakin
naik ditambah dengan rasa kesalku. Ku balik tas kecilku dan Braakk semua yang ada di dalam tas itu
jatuh. Nyaris membuat semua orang yang ada di mushola melihat tindakan anehku.
Tanpa aku sadari
seorang gadis berjilbab biru datang menghampiriku. Sangat jelas sekali bahwa
dia adalah gadis yang berperawakan kurus. Dia tinggi dan berkulit kuning langsat.
" Mencari apa teh? " tanyanya dengan
suara lembut. Sangat jelas sekali bahwa wanita ini adalah tipe orang yang sabar
dan lemah lembut. Aku pandangi wanita itu sebentar kemudian aku menjawabnya
" handphone teh. Abdi butuh handphone nya'. Sepertinya ieu mah hilang
" jawabku.
" Kalau sangat penting sekali, teteh
pakai hanphone saya saja" tawarnya.
"Benar ini
tidak merepotkan teh, nanti pulsanya habis".
" Iya benar
teh. Saya senang bisa membantu saudara sendiri. Sesama saudara seiman khan
harus saling tolong menolong" jawabnya dan lalu mengeluarkan hanphone dari
tasnya.
"Ini teh.
Ini pulsanya masih banyak kok. Saya juga jarang memakainya. Jadi jangan sungkan
memakainya ya. Teteh telfon saja biar jelas. Nanti kalau sms lama
responnya"
"Terima kasih banyak ya teh.
Saya berhutang budi sama teteh". Wanita itu hanya tersenyum dan selalu
menyangkal pujianku. Aku memulai bermain-main dengan tombol handphone wanita
itu. Bebera detik kemudian aku berhasil menyambungkan komunikasi dengan paman.
Aku kabarkan bahwa aku sudah sampai di stasiun. Paman akan menjemputku dan
diperkirakan akan sampai dalam waktu lima belas menit lagi. Aku tak mau mengulur
waktu pembicaraan mengingat ini handphone orang lain. Segera ku akhiri
panggilanku itu.
"Teh
makasih banyak. Tanpa teteh mungkin saya akan bernasip malang dan akan tidur
disini. Terimakasih buanyak nyak nyak ya teh" timbalku. Wanita itu terus
merendahkan diri dan bilang bahwa dia tidak melakukan apa-apa. Kemudian aku
mengulurkan tangan.
" Ohya, kenalkan namaku Dewi. Aku masih
sekolah kelas 3 SMA". Dengan gaya senyumannya yang begitu tulus dia
membalas uluran tanganku "Saya Sabrina. Sama, saya juga masih kelas 3 SMA".
Percakapan pun semakin berlanjut sejak itu. Kami juga membicarakan kemana akan
kuliah setelah lulus. Dia ternyata bercita-cita ingin kuliah di Malang. Katanya
pilih universitas yang dekat dengan kakak angkatnya. Mendengar itu aku sangat
senang.
"Banyak sekali peluang untuk kita bisa
berjumpa lagi. Aku juga tinggal di Malang. Mainlah ke rumahku jika nanti jadi
di Malang"
"Wah
kebetulan sekali ya. Pasti aku akan main ke rumahmu. Tapi kasih dulu alamat
rumahmu, biar nggak nyasar"
"Tentu.
Ngomong-ngomong teteh disini menunggu
siapa?". Dia hanya tersenyum dan kemudian dia malah melihat ke kanan kiri
seperti sedang mencari seseorang. Tak berapa lama setelah investigasinya usai, dia menatapku dan
wajahnya berubah menjadh sedih. Matanya menghadap ke bawah dan kepalanya
menunduk.
" Ada apa
teh?" tanyaku bingung.
Dengan suaranya yang setengah sendu
dia menjawab " Sepertinya ayah memang tidak akan menjemputku. Aku akan
pulang sendiri nanti"
"Kenapa kok
tidak dijemput?"
"Soalnya
kemarin waktu berangkat ayah sepertinya tidak setuju dengan keputusanku untuk
ikut bersama kakak angkat di Malang. Jadi aku tadi baru dari Bandung minta
pendapat Papa asuhku". Aku semakin tidak mengerti dengan maksud Sabrina.
Aku berusaha menghiburnya. Ingin rasanya berlama-lama menemaninya. Tapi pamanku
sudah datang menjemputku. Saat kulihat wajah paman yang menjadi tirus,
pikiranku tentang Sabrina terhenti. Aku giliran memikirkan paman. Aku melirik
jam tanganku, dan ternyata paman sudah terlambat satu setengah jam. Baru
kusadari bahwa waktu telah menenggelamkan aku dan Sabrina dalam gemelut
rangkaian kata. Aku minta maaf pada Sabrina dan berpamitan. Dia terus berusaha
memasang senyum yang dipaksakan. " Suatu saat nanti teteh harus banyak
bercerita ke padaku" teriakku sambil melambai lambaikan tangan. Sekali
lagi gaya khasnya. Dia hanya membalas teriakanku dengan senyuman.
Lalu
aku pun fokus pada paman. Terlihat dengan kelas bahwa
wajah paman tak ada seberkas cahaya keceriaan
orang yang menyambut kedatangan sepupunya. Akupun memberanikan diri untuk
bertanya.
"Paman
tidak suka dengan kedatanganku?". Paman hanya menatapku sesaat. Kosong dan sedih. Yah, tatatapan yang penuh
dengan kesedihan. Lalu berpaling dariku dan fokus pada kegiatan menyetirnya.
Kali ini aku benar-benar tidak memahami tingkah aneh pamanku. Kusempat
mendengar paman bergemang lirih. "kau akan tau nanti". Mendengar
ucapan itu, rasa penasaranku bertambah semakin besar. Tapi aku tak berani
bertanya. Karena aku yakin jawabannya pasti sama seperti yang tadi. Sepanjang
perjalanan kami hanya diam saja. Sesekali aku melirik pamanku. Tapi sepertinya
paman hanya tenggelam dalam dunianya sendiri. Jengkel. Suasana itu yang
menyilimutiku. Sesuatu yang aneh lagi. Arah mobil paman menuju rumah sakit.
" Siapa
yang sakit. Ada apa ini" tanyaku penuh penasaran. Panik sekali. Namun
paman tetap diam. Dia keluar mobil tanpa menjawab pertanyaan dariku. Aku pun
segera turun. Aku berlari menyamai langkah paman. Tiba-tiba paman berhenti
tepat di depan ruang ICU. Seketika degh,
dadaku terasa sakit. Seperti ada sesuatu per yang akan lepas dariku. Perasaan
yang aneh.
"Paman?" panggil orang dari kamar
ICU.
Pamanku segera masuk namun aku tetap diam
ditempat. Melihatku tetap diam, paman menarik tanganku. Dan untuk ke kedua
kalinya paman berkata dengan jelas
"Wi,
masuk". Mulutku mengatup tak dapat menjawabnya. Tubuhku yang bersedia
ditarik paman itulah sebagai tanda bahwa aku setuju.
Pertama masuk ku
lihat ada bibi, Andi sepupuku, suster dan dokter. Ternyata tadi yang memanggil
paman itu suster itu. Lana. Begitulah namanya yang kutahu barusan dari bibiku.
"Ayahmu
sudah menunggu. Cepatlah mendekat" kata dokter itu padaku
"A a a
yah.." jawabku terbata bata. Aku berlari mendekati orang yang terbaring
lemah itu.
"A.. a.. a.. yah, kenapa bisa sampai
seperti ini keadaan ayah? ". Tangisanku pecah. Membanjiri tangan lemah
yang sedari tadi aku pegang. Mata itu, ya mata ayahku tak juga membuka barang
sedikitpun. Alat penunjuk detak jantung menunjukkan bahwa jantung ayah semakin
melemah. Bukan hanya aku saja yang menangis. Seisi ruangan juga menangis
kucuali dokter. Dia hanya menampakkan ekspresi sedih. Mungkin hal ini sudah
biasa baginya. Disaat isak tangis membanjiri seluruh ruangan, tangan ayah
bergerak. Kupasang wajahku di depan ayah. Aku bangkit. Dan perlahan lahan ayah
membuka matanya. Ayah berusaha mengangkat bibirnya dan mengeluarkan kata-kata
walaupun dengan terpogoh-pogoh "Dewi, akhirnya kamu datang juga. Ayah
kangen denganmu. Bagaimana kabarmu nak?"
"Masihkan
ayah tanya keadaanku. Lihatlah ayah. Bagaimana dengan keadaan ayah
sendiri" jawabku terisak isak.
"Ayah
sangat baik nak. Bahkan akan jauh lebih baik setelah ini. Kedatanganmu saat ini
adalah hadiah terindah buat ayah"
"Cukup.
Ayah jangan banyak bicara lagi. Ayah harus istirahat dan segera sembuh"
"Nak, banyak orang yang
menyayangimu. Jadi jangan bersedih. Ayah ingin kamu bahagia, Nak".
Tiba tiba alat
penunjuk jantung terlihat aneh. Mata ayah juga sudah mulai meredup. Seisi
ruangan termasuk aku panik. Dokter segera menanganinya. Kami disuruh mundur.
Kupeluk bibiku erat-erat .
"Bi, ayah.
Hiks hiks, ayah tak boleh pergi. Ayah pasti sembuh khan".
Bibi mengelus rambutku dan berusaha
menenangkanku. Aku tak berani melihat tindakan dokter. Sementara yang lainnya
melihat dan ingin tau kondisinya. Tangan bibi yang mengelusku terhenti. Ku
lihat bibiku meneteskan air mata dan bibirnya membuka. Ku sadari sesuatu telah
terjadi.
"Ayaaaaaah"
teriakku sambil mendekati ayahku.
Dokter mencoba
menenangkanku. Tapi tangisanku tak juga berhenti.
"Ayah, bangun yah. Hiks hiks hiks. Ayah
jahat. Jangan tinggalkan aku yah. Bangun".
"Teh
diiklhasin saja. Kita doakan semoga jalan ayah teteh mudah" timbal Andi,
yang sebenarnya juga menangis namun berhasil disembunyikan dariku. Benar saja,
hatiku benar-benar tengah dilanda puting beliung. Porak poranda. Per dalam
diriku benar ada yang lepas.
**
Semenjak
peristiwa itu aku tak berlama-lama di Bandung. Satu tahun sudah peristiwa yang
menyakitkan itu terjadi. Perlahan-lahan ditemani sang masa, mengbantuku
mengiklhaskan kepergian ayahku. Aku memutuskan untuk tidak tinggal di Bandung.
Takut kalau banyak teringat kenangan bersama ayah dan ibu di sana. Aku tinggal
di Malang bersama nenekku. Kini, aku sudah sedikit menemukan cahaya dalam
diriku. Teman-teman kuliahku banyak membantuku. Bukan baju putih abu-abu lagi
yang kusandang. Aku kini sudah menjadi mahasiswa di universitas Brawijaya. Ya,
aku memilih universitas ini karena pilih yang lebih dekat dengan rumah.
Waktu jamku
sudah habis, aku mampir ke mushola karena waktu sudah cukup sore. Walaupun
rumahku dekat, tapi sepulang dari kuliah aku tidak ke rumah. Melainkan bekerja
di salah satu bimbel. Bekerja sebagai guru fisika. Usai sholat, aku tak sengaja
menabrak seorang wanita yang sedang berjalan menuju masjid.
"Maaf, saya
tidak sengaja"
"hey, teh
dewi. Ini aku. Lupa denganku?"
kucoba membuka memoriku, barang
kali ada yang masih nyangkut di salah satu sarafku.
"Subhanallah.
Teh Sabrina ya" . Sontak aku langsung memeluknya. Bisa dikatakan juga sok
akrab. Tapi dia malah tersenyum dan membalas pelukanku juga.
"Iya teh.
Saya senang sekali bisa bertemu dengan teteh lagi. Alhamdulillah, takdir begitu
baik. Teteh apa kabar?"
"Alhamdulillah
baik. Aku juga sangat senang sekali bisa bertemu dengan teteh. Ngomong-ngomong
teteh juga kuliah di sini juga ya?"
"Iya teh.
Teteh juga ya?"
"Iya
teh. Wah seneng rasanya bisa satu kampus dengan teteh"
"Ohya,
teteh tadi sepertinya buru-buru. Mau kemana teh?"
Baru ku ingat bahwa aku akan
mengajar di bimbel. Akhirnya aku mengajak Sabrina ke bimbel sekalian karena jumpa kangen kami
belum usai. Untung saja Sabrina juga tidak ada jam. Dengan isyarat senyum
simpulnya menunjukkan bahwa dia bersedia ikut ke bimbel denganku.
Selesai
mengajar, kami duduk di depan bimbel. Kebetulan sekali di depan bimbel ada
bangku kecil. Cukup nyaman tempatnya. Ternyata dugaanku benar. Sabrina jadi
kuliah di Malang karena ikut dengan kakaknya. Kost nya berdekatan dengan kost
kakaknya. Aku penasaran dengan kakak Sabrina itu. Dari tadi Sabrina bilang
bahwa kakaknya sangat baik.
"Teh harus
kenal dengan kakakku. Dia orangnya bail kok. Dijamin nggak bakalan nyesel kenal
dengan kakakku" pintanya
"Memangnya
kakak teteh kuliah dimana?"
"Brawijaya.
Dia masuknya pagi. Kalau sore gini, kakak lagi kerja"
"Kerja apa
teh?"
Sabrina lama tak menjawab
pertanyaanku. Mungkin aku terlalu dalam menanyakan masalah pribadi keluarganya.
Segera aku sadari kesalahanku dan meminta maaf padanya.
"Maaf ya, jika aku lancang. Aku tidak
bermaksud untuk ......"
kata-kataku terputus karena Sabrina
sudah menimpali dengan kata-katanya.
"Sudah,
jangan merasa bersalah. Teteh tidak salah kok. Tapi maaf, mungkin aku belum
siap cerita masalah kerja kakakku. Aku takut jika teteh menertawakannya.
Tunggulah, waktu akan menjelaskan dengan sendirinya".
Waktu sudah
semakin gelap. Kami mengakhiri pembicaraan. Kami bertukar alamat dan nomer
handphone. Sejak saat itulah, kami menjadi sahabat dan tak saling memanggil
dengan sebutan teteh satu sama lain. Sabrina benar sahabat yang sangat baik.
Kini aku tidak menutup-nutupi lagi masalah keluargaku. Aku ceritakan semuanya
padanya. Demikian dia juga menceritakan cerita di stasiun yang dulu sempat
terputus. Setelah kutahu, ternyata Sabrina itu mempunyai dua ayah. Ayahnya yang
asli itu tinggal di Bandung. Karena tidak mempunyai banyak biaya, Sabrina di
angkat anak oleh orang Tasikmalaya. Dia adalah bos ayahnya. Tapi Sabrina di
beri kebebasan oleh papanya. Dia boleh tinggal di rumah Tasik atau di Bandung.
Semuanya sama-sama rumah Sabrina. Satu hal dari dulu yang belum Sabrina
critakan padaku. Yaitu tentang kakaknya.
Sabrina pernah bilang bahwa dia itu kakak angkatnya. Sedangkan orangtua
angkatnya orang kaya, rasanya tak mungkin jika kakaknya itu mau kuliah sambil
kerja. Pikirkupun mustahil untuk
membagi waktu antara kuliah dan kerja.
**
Kembali lagi
dengan rutinitas pagiku. Yaitu kuliah. Saat dosen menerangkan, tak sengaja aku
ketiduran pada jamnya. Aku mendapat hukuman. Aku dihukum untuk membersihkan
seluruh masjid kampus.
"Tapi pak" bantahku.
"Cepat
kerjakan sana. Atau nilai tugasmu ini aku beri nilai C" geram dosenku. Aku
pun terpaksa keluar dari kelas. Tak tahu dosen itu bahwa aku ketiduran
gara-gara mengerjakan tugasnya semalam.
"Hmm..
Ikhlaslah. Mungkin ada hikmahnya" gerutuku.
Badanku terasa
sakit semua waktu mengerjakan hukuman itu. Padahal baru sebagian yang aku
kerjakan. Saat aku sedang istiraha di bale masjid, tiba ada orang yang melempar
permen di depanku. Aku beranjak dan bermaksud mencari tau orang yang tidak
sopan padaku. Tapi tidak ada orang mencurigakan di sekitarku. Aku memutuskan
untuk duduk lagi. Ku amati permen yang ada di depanku. Sebuah permen berbentuk
kaki. Berwarna merah dan dibungkus plastik warna biru.
"Aku makan saja permen ini. Mungkin ini
rejeki dari Allah. Rejeki khan tidak boleh ditolak tapi disyukuri" ucapku
pada diri sendiri.
Rasanya begitu
manis, dan sedikit membuat rasa lelahku hilang. Menurutku ada yang aneh dengan
permen ini. Sepertinya permen ini bukan
makanan yang baru. Tapi dimana ya aku makannya. Aku pun merasa bahwa aku tidak
pernah membeli permen kalaupun ada itu pasti sekedar diberi oleh teman.
Tiba-tiba ada yang merusak lamunanku. Ada orang yang bergemang cukup jelas dari
belakangku sehingga membuatku untuk menoleh.
" Mau lagi tidak mbak permennya?"
kata orang itu. Setelah ku toleh, betapa terkejutnya. Mas Umar. Oh, betapa
sempitnya dunia ini. Kali ini aku ditakdirkan bertemu lagi dengan orang yang
sangat lucu ini.
"Mas Umar,
kok disini" tanyaku keheranan
"Aku khan
memang kuliah disini. Mbak jadinya kuliah disini juga ya?"
"Iya mas.
Pilih yang dekat saja" jawabku kemudian menambahkan senyumku. Seperti
pertama kali aku bertemu dengannya. Dia selalu tersenyum dengan lesung pipinya
itu.
"Jangan-jangan
permen tadi dari Mas Umar? Dan kenapa Mas Umar bisa disini?"
"Iya mbak.
Apa mbak mau lagi?" jawabnya sambil terkekeh. Hanya aku respon dengan
senyuman.
"Tadi tidak
sengaja saya lewat masjid. Terus saya melihat ada mahasiswi bersih-bersih. Saya
coba lihat. Tidak menyangka ternyata itu mbak dewi" jelasnya.
"Ha ha ha.
Aku ini dihukum lho mas" jlentrehku. Ternyata dia sudah tahu. Dia hafal
benar jika ada mahasiswa yang membersihkan masjid pasti dia sedang dihukum.
Oleh karena itu dia melemparkan permen padaku supaya aku tidak terlalu larut
dalam kesedihan karena hukuman ini. Wajahku memerah karena sangking malunya.
Pasti mahasiswa yang lainnya juga pada sudah tau kalau aku sedang dihukum.
Dalam hati aku berjanji bahwa ini hukuman yang pertama dan yang terakhir
kalinya. Mas Umar begitu baik, dia membantuku membersihkan masjid. Bebanku
semakin berkurang. Aku merasa sangat bersyukur.
Selesai
membersihkan masjid. Aku berniat untuk mentraktir Mas Umar. Mengingat dulu Mas
Umar juga pernah membelikan nasi padaku. Dari arah belakang kami terdengar
orang berteriak- teriak "Kakak!"
kami pun menoleh, ku lihat yang
berteriak itu Sabrina. Dia tidak menyadari bahwa aku ada di situ.
"Kakak
dicari rektor. Katanya penting". Sabrina menoleh ke arahku dan wajahnya
berubah jadi kaget. Sembari kakaknya pergi meninggalkan kami, Sabrina kemudian
melemparkan pertanyaan padaku
"Kamu sudah
kenal dengan kakaku. Itu tadi kakakku, Wi"
"Apa? Jadi
itu tadi kakakmu, Sab?" jawabku tak percaya.
Aku menjelaskan bahwa kami sudah
saling kenal. Kami kenal pertama di dalam kereta waktu aku ke Bandung.
Kebetulan mas umar pergi ke Tasikmalaya waktu itu. Sabrina seperti memahami
maksudku. Mulutnya membulat dan mengucapkan “O”.
"Berarti
aku tidak usah mengenalkan lagi ya. Khan udah kenal"
"Tapi
kenapa kamu menutupi pekerjaan kakakmu, Sab?"
"Se..Se benarnya.."
"Sebenarnya
apa?"
"Sebenarnya
kakakku itu mempunyai banyak pekerjaan. Tiap hari tidak sama?"
"apakah
itu?" tanyaku semakin penasaran.
Sabrina akhirnya
menjelaskan bahwa kakaknya itu yang punya pondok pesantren di dekat kost nya.
Dia juga seorang penulis novel. Selain itu dia kadang-kadang berjualan permen
atau koran keliling. Sabrina sendiri juga heran dengan kakaknya.
"Sempat
sekali aku melihat kakak itu mengajar anak-anak semester satu. Entah ada
hubungan apa kakak dengan rektor tadi. Rektor sepertinya sangat membutuhkan
kakak" jelasnya. Mendengar cerita Sabrina aku terheran-heran. Mataku
melebar dan mulutku tak mengatup.
"Aku benar-benar salut dengan kakakmu,
Sab "
"Ya itulah
kakakku, sekarang kamu sudah tau kenapa aku menyuruhmu biarlah sang waktu yang
memberitahu" katanya sambil tersenyum.
**
Aku menjalani
hari hariku dengan penuh semangat. Mas Umar mengajariku arti dari kehidupan.
Walaupun dia anak orang kaya, namun dia tidak sombong dan tetap giat berusaha.
Permen itu. Ya,
permen berbentuk kaki itu menjadi obatku di kala aku sedih atau dirundung
masalah. Walaupun bentuknya kaki, namun tak tanggung tanggung aku memakannya,
karena rasanya sangat manis. Seperti hidup ini, walau kadang hidup begitu hina
dan menyulitkan, kita juga harus tak tanggung-tanggung menjalankannya. Kelak
akan terasa manis seperti rasa permen kaki. Mas Umar, sosok yang telah
mengajariku melalui kebiasaannya. Orangnya sholeh, baik hati dan manis pula.
Entah sejak kapan hatiku mulai berdesir jika memandangnya. Dia selalu datang
dalam mimpiku.
Plaakk…
Sabrina datang menghampiriku dan memukul
pipiku. Sepertinya dia tahu bahwa aku sedang melamun.
"Hayo, nglamunin apa? Sudah sholat
belum?"
"Astagfirullah,
makasih sudah mengingatkanku" jawabku seraya bergegas menuju masjid untuk
sholat. Kadang aku berfikir bahwa itu adalah bayangan setan. Segera kutampis
jauh-jauh pikiran itu. Memang yang namanya cinta itu selalu beriringan dengan
prestasi. Tinggal mana yang akan kamu pilih. Jika memilih yang benar, semuanya
akan baik pula. Sejak itulah, aku memutuskan untuk menyimpan cintaku pada Mas
Umar dalam rasa permen kaki. Manis dan penuh dengan pelajaran. Entah Mas Umar
mengetahuinya apa tidak. Menurutku dia itu memang baik dengan semua orang,
tidak hanya padaku saja. Sabrina pernah sekali cerita tentang kakaknya, bahwa
tiada pernah Sabrina mengetahui kakaknya berhubungan dengan siapa. Yang dia
tahu kakaknya itu pekerja keras dan selalu mengelak jika diajak bicara masalah
perempuan. Ya, itulah yang aku suka dari orang pembawa permen kaki, yang
sementara kupending dulu demi tercapainya cita-citaku.
Selesai sholat,
aku ke kantin menemui Sabrina. Saat melangkah mencari sandalku, baru ku sadari
bahwa sandal yang aku pakai setiap hari ke kampus adalah sandal Mas Umar yang
dulu dipinjamkan kepadaku.
"Sandal
ini? Oh, kenapa begitu pelupanya sih aku. Seharusnya segera aku kembalikan dari
dulu. Padahal sudah setahun nempel di kakiku" makiku pada diri sendiri.
Aku berpikir mungkin jika aku kembalikan sekarang, oleh mas umar malah
diikhlasin ke aku. Aku nanti jadi malu.
"Ya sudah,
sandal ini buat kenang-kenangan saja" gumanku dengam senyuman seraya
menuju kantin menemui Sabrina.
**
Hari-hari
pun berlangsung seperti biasa. Aku dan Sabrina menjadi sangat akrab. Sabrina
sudah tak malu lagi untuk menceritakan masalah keluarganya padaku. Aku sering
main ke kostnya Sabrina. Saat pulang dari kampus, aku menyempatkan diri selalu
main kesana.
Tok.. tok.. tok..
Tok.. tok.. tok..
Lama.
Sabrina tak membukakan pintu kostnya. Biasanya sekali ketok saja, Sabrina sudah
membukakan pintu kostnya. Dia juga sudah aku sms sebelumnya bahwa aku mau
kesitu. Aku berniat untuk menungggunya. Aku dududuk di kursi yang ada di depan
kostnya. Kursi berwarna coklat kehitaman ditambah dengan motif ukiran yang tak
begitu rumit menunjukkan bahwa kursi itu adalah kursi yang sangat indah. Aku
mengamati kursi itu sambil duduk di atasnya. Aku mengelusnyanya. Trasa sangat
hals ukirannya. Aku berguman seolah sedang bercakap-cakap pada seseorang “Kursi
ini bagus sekali kokoh. Warnanya indah dan motif ukuran yang tidak begitu rumit
membuatku merasa nyaman. Sabrina beruntung ada kursi seindah ini di depan
kostnya”
Tak
lama kemudian ada suara yang menyelaku.
“Ya...
kursi itu memang bagus. Apa kamu suka”
Seraya
aku mendongakkan kepalaku yang sedari tadi aku tundukkan untuk mengamati kursi
itu. Aku kaget. Ternyata Mas Umar yang berkata barusan.
“Loh,
Mas Umar kok tumben jam segini ada di sini? Biasanya khan kerja”
Mas
Umar hanya menjawab denngan senyuman. Hari ini au melilhat ada yang aneh dari
biasanya. Mas Umar hanya senyum-senyum saja dan sesekali gerakannya hanya untuk
membenarkan songkoknya. Dia tak berani duduk di sampingku. Padahal jelas masih
ada satu kursi kosong lagi. Dia hanya berdiri kurang lebih dua meter dariku.
“Mas
Umar baik-baik saja khan hari ini?” tanyaku heran
“Hmm...
hmmm sebenarnya.......”
“sebenarnya
apa?” aku memotong perkataan Mas Umar. Aku merasa penasaran ada apa dengannya.
“Se..se..se
be narnya.. sebenarnya aku kesini ma ma mau......”
“Hei
Wi!!!” terdengar suara Sabrina. Sabrina lari terpongoh-pongoh menghampiriku.
“Tenang
Sab. Ada apa?”
Nafas
Sabrina masih tak beraturan. Dia duduk di kursi kosong di sampingku.
“Maaf
Wi, tadi aku keluar sebentar. Aku tadi baca sms kamu dan segera aku pulang”
jawab Sarina sambil membenarkan kerudungnya. Dia melihat k arah kakanya dan
kemudian berdiri.
“Kakak
ada apa kok tumben jam segini kesini. Jangan-jangan kakak....?
“hust....!!!”
potong Mas Umar sambil mmbungkam mulut Sabrina.
Aku
hanya tersenyum simpul melihatnya.
“Kalau
kakak tidak mau mengatakannya, maka aku yang akan mengatakannya” kata Sabrina
ketus sambil mencoba melepaskan tangan kakaknya dari mulutnya.
“Baik,
aku akan katakan sendiri’ jawab Mas Umar dengan tegas. Mas Umar mendongakkan
badannya. Gagah. Matanya tajam. Seolah ada hal serius yang akan disampaikan.
“Ada
apa dengan kalian berdua?” tanyaku.
“Biar
kakakkku sendiri yang menjelaskannya” jawan Sabrina.
Mas Umar masih berpikir. Matanya melirik ke
kanan kri dan kadang ke atas, seolah sedang merangkai kata. Lalu tak lama
mulutnya pun membuka dan mengeluarkan kata`
“Sab,
apakah kamu mau menjadi pendamping hidupku?” katanya tegas.
Sabrina
hanya mengulum senyum sambil menyenggoli tanganku. Dia memberi isyarat agar aku
segera menjawabnya.
Aku
terngannga seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mas Umar. Aku
menunduk. Bingung. Ini terlalu cepat bagiku. Memang aku menaruh hati padanya.
Dia adalah sosok imam yang diingankan oleh setiap wanita. Tapi aku juga tak mau
salah ambil keputusan.
Akupun
memberanikan diri berkata “Apa Mas Umar bercanda?”.
Kali
ini mas Umar menjawabnya langsung dan dengan tegas “ Aku serius. Aku ingin kamu
menjadi pendamping hidupku dan menyempurnakan imanku. Aku sudah lama menaruh
hati denganmu sejak kamu berteman akhrab dengan adikku”.
Aku
hanya terdiam. Sebenanya akku ingin langsung menjawabnya iya. Tapi itu
terlalalu ceroboh menurutku.
Sabrina
menyela dan mengatakan bahwa aku pasti akan menerimanya. Aku mencubit Sabrina.
Dia malah tertawa.
“Kak,
Dewi itu sudah lama juga menaruh hati pada kakak. Dia sering menceritakan
tentanng kakak. Tapi dia tidak pernah cerita padakukalau suka dengan kakak. Aku
hanya merasa kalau kalian cocok dan tidak ada yanng harus disembunyikan lagi”
Aku
menarik nafas panjang. Dan kali ini aku akan menjawab pertanyaan Mas Umar.
“Apa
yang dikatakan Sabrina itu memang benar. Aku sudah lama menaruh hati pada Mas
Umar. Aku kagum dengan Mas Umar. Tapi aku masih belum lulus kuliah. Aku masih semester
6”
“Tidak
apa Dewi, aku akan menunggu kamu dan aku tidak akan memaksakan sekarang. Kalau
kamu sudah lulus juga tidak apa-apa atau kamu mau bekerja dulu. Rencanaku juga
akan menanyakan kamu pada nenekmu kira-kira empat tahun lagi. Aku ingin kamu membangun
mimpimu dulu” terang Mas Umar.
Jawaban
itu seolah telah menenangkanku. Aku pun juga terjejut mendengar Mas Umar
memanggil namaku dengan jelas. Biasanya dia hanya memanggilku mbak. Aku menjawab penjelasan Mas Umar
dengan senyuman seraya berkata.
“Iya
Mas Umar. Aku setuju dengan itu. Aku juga akan menunggu Mas Umar”. Wajahku
seolah seperti bunga yang mau mekar. Seperti ada sesuatu yang terpasang
kembali. Per dalam hidupku yang dulu telah hilang rasanya sudah mulai kembali
walau itu sosok yanng berbeda. Aku yakin dengan rahasia Allah. Segala sesuatu
yang terjadi adalah yang terbaik untuk kita. Siapa yang tau Mas Umar, sosok
yang misterius dimatakku dan sekaligus sangat pahlawan tiba-tiba mengatakan mau
menjadikannku pendamping hidupnya. Kami bicara saja jarang. Paling juga pas
ketemu hanya menyapa sambil tersenyum. Aku pun sempat mengira bahwa dia tidak
ada hati denganku. Cuek. Dan kebaikannya itu juga bukan khusus padaku. Semua
anak ki kampus banyak yang membicarakannya dan mengidolakannya. Dia seolah tak
merespon mereka dan tetap teguh pada pendiriannya. Sekalipun aku tak pernah
melihatnya bergandengan dengan wanita. SubhanaAllah.. aku bersyukur pada Allah
karena telah mempercayakan dia padaku.
**
Usai
kejadian itu, kami belum pernah bertemu. Mungkin Mas Umar masih sibuk dengan
pekerjaannya baru-baru ku dengar bahwa Mas Umar dapat beasiswa kuliah di
Austria. Aku juga tidak pernah menelpon atau sms Mas Umar. Yang terpenting aku
menjaga kepercayaannya dan dia juga menjaga kepercayaannku. Aku lalui hariku dengan
penuh keceriaan seolah tak ada beban.
Aku
dan Sabrina seperti biasa usai jam kuliah, Sabrina ikut aku mengajar di bimbel.
Usai mengajar di bimbel, ada sosok laki-laki yang berdiri menghadap jalan. Dia
seperti menunggu seseorang. Aku berpikir bahwa dia adalah salah satu orang tua
yang akan menjemput anaknya. Tapi sampai anak-anak pulang semua, dia masih
berdiri di situ aku memberitahukan hal ini pada Sabrina.
“Sab,
itu siapa?”
Sabrina
melihatnya dan malah menghampirinya. Sabrina mengajaknya untuk masuk dan aku
sangat terkejut bahwa oranng itu adalah Mas Umar. Dia tersenyum padaku.
“Oh
tadi itu Mas Umar ya. Aku kira orang tua murid. Kok tumben hari ini Mas Umar
tidak pakai songkok. Aku jadi tidak bisa mengnalil Mas Umar dari belakang”
Wajah
Mas Umar terlihat sedih. Dan ternyata dia juga membawa koper. Aku merasa bahwa
akan ada sesuatu yang menyakitkan yang akan terjadi.
“Dewi,
aku kesini mau pamitan dengan kamu dan Sabrina. Hari ini aku akan berangkat ke
Austria untuk melanjutkan studyku” katanya lirih
Aku
dan Sabrina meneteskan air mata mendengarnya. Sabrina seperti marah dengan
kakaknya
“Kenapa
kakak tidak memberikan kabar padaku kalau hari ini kakak berangkatnya hiks hiks
hiks” kata Sabrina sambil menyeka air matanya.
Aku
hanya diam dan menangis. Menunduk. Ku tak berani menatap wajah Mas Umar. Aku
tetap menunduk dan menangis.
“Dewi...”
kata Mas Umar
“kali
ini aku akan pergi tapi tidak untuk selamanya. Setelah studyku usai, aku akan
mengkhitbah kamu pada orang tuamu. Jagalah kepercayaannku padamu. Dan percayalah
bahwa kamu satu-satunya wanita yang ingin aku nikahi nanti”
Aku
mengangkat pandanganku. Aku menyeka air mataku sambil terisak-isak.
“Mas
Umar tak perlu kawatir. Jika kita memang berjodoh pasti akan dipertemukan
kembali. Dan aku akan menunggu Mas Umar” kataku dengan senyum yang kupaksakan.
Setelah
aku bicara, wajah Mas Umar tak sedih lagi. Pancaran kebahagiaanya terpancar
diwajahnya. Kami mendoakan supaya Mas Umar selamat sampai tujuan hinggga sampai
pulang. Mas Umar juga meminta tolong padaku supaya aku membantu Sabrina
mengurus pondok ketika Mas Umar tak ada.
**
Empat
tahun sudah berlalu. Kini aku telah menyelesaikan study S2 ku dan Alhamdulillah
aku sudah menjadi dosen. Sabrina juga menjadi dosen, tapi kami beda kampus. Dan
tanpa kabar pun, Mas Umar datang ke rumah pamanku yanng ada di Bandung. Aku
sangat kaget ketika aku ditelfon paman bahwa Mas Umar ada disana. Mas Umar
datang mengkhitbahku. SubhanaAllah inilah yang dinamankan takdir Allah. Tanpa
pacaran pun, akhirnya kami bisa berkeluarga dan Sabrina yang dulu sahabatku
kini menjadi adik iparku. Tak ada yang tak mungkin bagi Allah dan tak ada yang
tau bagaimana skenario hidup itu.
*SELESAI*
0 komentar:
Posting Komentar