2
Kenang-kenangan Dari Paman
Paman Ali adalah nama dari paman yang paling aku sayangi. Paman adalah adik kandungnya papa. Paman adalah anak yang terakhir dari lima bersaudari. Paman bekerja sebagai direktur di salah satu perusahaan yang ada di kalimantan. Pria yang cukup santun dan humoris ini yang ku tahu sampai sekarang masih belum menikah. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Pulang ke jawa saja bisa dihitung dengan jari dalam setahun. Dulu, semasa almarhumah nenek masih hidup, nenek sering menunggu kepulangan pamanku ini. Paman merupakan anak terakhir yang paling disayagi oleh almarhumah nenek. Jadi tak heran jika aku pun juga sangat sayang kepada pamaku ini.
Hal aneh yang belum sempat aku tanyakan pada paman apa alasan paman dulu malam-malam datang ke rumahku. Padahal biasanya paman setahun pun jarang ke rumahku. Tentu hal itu membuatku cukup penasaran.
Siang hari di rumah, tak sengaja aku melihat paman sedang duduk di tepi kolam ikan rumahku. Aku menghampirinya. Rupanya paman sudah mengetahui kedatanganku. Paman malahan mengagetkanku. Padahal awalnya aku yang berniat membuat paman kaget. Rupanya paman sudah begitu pintar, aku lupa akan kecerdikan paman yang satu ini.
“Dooor... kena deh!”
“Huh... kenapa aku selalu kalah dengan paman”
“Karena pamanlah yang hebat” ucapnya sambil terkekeh. Giginya yang tertata rapi kelihatan seperti biji mentimun. Aku tersenyum melihat gigi paman tersebut.
“Apa yang kamu lihat, La”
Aku tetap tersenyum saja dan paman malah mengacak-acak rambutku. Aku marah dan paman kembali mengeluarkan jurus humorisnya. Seperti biasa, aku tak mungkin kuat dengan jurus paman yang satu ini.
“sudah cukup paman. Lala kesini soalnya tadi Lala melihat paman melamun sendirian di kolam. Ada apa paman? Apa paman ada masalah?”
“Paman lagi melihat ikan, La” jawabnya.
Pandangan paman tidak lagi tertuju kepadaku. Paman menunduk dan mengalihkan pandangannya ke kolam ikan. Padahal tidak ada tanda-tanda ikan yang muncul. Tapi paman tetap menunduk memandangi air yang tenang.
“Paman ayolah jawab pertanyaanku. Nanti Lala marah lagi lho..!”
Paman kemudian mengangkat wajahnya dan melihat ke arahku dengan senyum lalu menjawabnya “ Paman ingin tetap di sini bersama Lala dan keluarga Lala”
“Paman boleh di sini sesuka yang paman mau. Khan kami memang keluarga satu-satunya paman”
“ La...” . suara pamanku berhenti
“Iya paman ada apa?”
“Jika pamanmu ini bukan orang baik akankah kalian semua masih sayang dengan paman?”
Aku menatap mata pamanku. Benar-benar tatapan yang penuh dengan kesedihan. Baru kali ini aku melihat wajah paman begitu sedih. Di balik kehumorisan yang selama ini aku tahu darinya, ternyata tersimpan sejuta kesedihan. Pamanku memang paandai sekali menutup-nutupinya pada kami. Tapi sedari ini aku tahu bahwa pasti alasan pamanku datang ke rumahku malam-malam itu pasti karena paman sedang dalam masalah.
“Paman bicara apa. Kami semua menyayangi paman dengan tulus. Tidak hanya aku saja, semua orang juga menyayangi paman. Paman itu orang yang sangat baik. Jadi paman tidak usah khawatir”
“Terimakasih Lala. Paman sangat sayang denganmu”
Aku membalasnya dengan senyuman. Kemudian aku masuk ke dalam untuk mengambilkan minum. Sepertinya raut wajah paman sudah tidak semurung tadi. Aku cukup senang akhirnya aku bisa menjadi keponakan yang dapat menyenangkan hati paman. Setidaknya aku bangga bisa menghibur hati pamanku yang sangat aku sayangi.
Aku sudah tidak berniat lagi untuk bertanya kepada paman apa alasan paman malam-malam datang ke rumahku. Aku anggap itu sebagai salah satu bentuk silaturahmi. Toh paman Ali merupakan anggota keluargaku. Jadi paman boleh masuk ke rumahku sesukanya. Mama dan papa juga tidak menceritakan kepadaku sebelumya. Aku berpikir lebih baik aku menanyakan hal ini pada mama lain waktu saja.
Saat aku dan paman sedang asik berbicara, mama memanggilku. Mama menyuruhku untuk mengajak paman makan siang. Aku bersemangat dan ku tarik baju pamanku. Paman mengikutiku menuju meja makan. Kami sekeluarga makan bersama-sama. Suaasanya yang aneh bagiku. biasanya kami makan senndirian tanpa paman, tapi makan siang ini disuguhi pula dengan menu humoris ala paman Ali. Adit makan sampai tersedak karena Adit tertawa terlalu lepas.
“Sudah paman cukup. Kita makan saja dulu. Nanti kita lanjutin ngobrolnya. Tidak baik makan sambil berbicara” kataku.
“Keponakan paman ternyata sekarang sudah besar ya. Paman lupa kalau kamu sudah besar. Dulu waktu kamu masih bayi, kalau kamu paman gendong kamu selalu ngompol”
Aku malu mendengar penuturan paman barusan. Aku mengalihkan perhatian orang-orang dengan bertindak seperti sedang menikmati makanku. Padahal sebenarnya aku juga tidak ingin terlalu menikmati makanku. Sementara mama, papa dan Adit menertawakanku. Parahnya lagi lagi Adit juga mengejekku.
“Ma, kak Lala dulu masih suka ngompol ya. Kak Lala kaliah ya Ma sama Adit. Adit saja sudah tidak pernah ngompol”
“Diamlah. Jangan terus bicara. Kasihan itu makanannya” ucapku pada Adit.
**
Keesokan harinya aku bangun cukup pagi. Akhirnya kali ini aku dapat mengerjakan semua PR ku. Ku lirik sang mentari dari dalam kamarku. Ternyata mentari masih tersipu malu. Dan si burung pagi pun sudah bersemangat. Saat aku akan memasukkan buku pelajaranku ke dalam tasku sekolah, aku melihat di dalam tas ku sekolah ada selembar kertas. Kertas itu bertuliskan dari Dani. Aku mendesah. Dan kemudian surat itu aku tinggalkan di meja belajarku.
Pagi harinya saat di meja makan, semuanya sudah berkumpul di situ. Termasuk pamanku. Kali ini paman ngotot ingin mengantarkan aku sekolah. Aku pun tak menolaknya. Dan papa pun juga sudah menyetujuinya. Di dalam mobil kami banyak bercerita tentang diri kami masing-masing. Ternyata masa lalu pamanku begitu suram. Alasan kenapa paman samapai sekarang belum menikah itu karena pamanku pada waktu masa mudanya dulu telah gagal dalam masalah asmaranya. Paman dikhianati oleh pacarnya. Padahal mereka sudah akan menikah. Dan paman sudah sangat mencintai owanita itu. Lantas aku tanyakn kepada paman kenapa wanita itu mengkjhianati paman. Paman menjelaskan bahwa alasannya adalah masalah keluarga. Aku melihat mata paman mulai berkaca-kaca. Aku sudah tak tega lagi menanyakan masalah asmara paman dulu. Aku menyimpulkan paman tidak menikah karena alasan itu. Paman terlalu menyukai wanita itu.
“Sudah pama, jangan terlalu difikikan. Cinta itu tak selala akan hilang. Setiap manusia itu mempunyai banyak cinta” ucapku sambil menebah pundah paman. Paman melirikku dan paman malah tersenyum kepadaku seraya berkata “ Lala sendiri bagaimana? Apa Lala tidak mempunyai tambata hati sekarang?”
“ ha ha. Ada donk. Paman lah tambatan hatiku”
Paman menbgacak-acak rambutku lagi. “Dasar kau ini”
Aku hanya tersenyum meringis.
Kali ini pamanku sudah tidak humoris lagi. Sepertinya pembicaraan sudah mulai serius. Paman mengatakan padaku bahwa aku harus menyelesaikan sekolah dulu baru memikirkan tentang asmara. Memang antara cinta dan pendidikan itu selalu berdampingan, tapi paman berpesan agar aku mampu memilih yang paling benar dan sesuai. Aku mengangguk. Kemudian paman mengeluarkan sesuatu dari jaketnya. Paman mengeluarka benda berbentuk kotak yang terbuat dari kayu dan berwarna coklat. Aku kira benda itu merupakan benda purba. Karena dilihat sepintas saja warnanya dan motif hiasannya seperti hiasan masa lalu.
“Apa itu paman?” Tanyaku sambil menujuk benda aneh itu.
“Apa kau suka?”
“ Bolehkah aku melihatnya dulu”
Paman kemudian memberikan benda itu kepadaku. Aku menerimanya. Aku berniat untuk membukanya waktu itu juga. Tapi paman melarangku.
“Kenapa tidak boleh aku buka sekarang”
“Bukalah saat tidak ada paman”
Aku mengangguk tanda setuju. Paman mengatakan supaya aku harus menjaga benda itu baik-baik. Pakailah benda yang ada di dalam kotak itu hanya setelah impianku tercapai. Dan jangan pernah sekali berputus asa dalam mencapai mimpiku. Cinta akan hadir dalam perjalanan pencapaian mimpi itu.
Aku tak mengerti setelah mendengarkan kata-kata dari pamanku hatiku sedih dan mataku berkaca-kaca. Aku segera mengusap mataku yang hamir tak kuat menahan air mata yang hampir jatuh. Kemudihan aku tutupi dengan senyum pada pamanku. Hari-hari ini aku merasa banyak menemukan hal-hal baru tentang paman.
Sesampainya di sekolah aku berpamitan dengan paman dan mencium tangannya seperti aku mencium tangan ayahku sendiri. Paman sepertinya juga sedang menahan air matanya. Aku tidak ingin melihat paman bersedih lagi. Akhirnya aku segera meninggalkan paman dan masik ke dalam kelas.
Tepat di depan kelasku, Dani sudah menunnguku. Dia menyapaku. Aku balas menyapanya. Dia menanyak kepadaku apakah aku sudah membaca surat darinya. Aku menggeleng. Sepertinya Dani kecewa dengan jawabanku. Aku tak tega melihat ekspresi wajahnya itu, walaupun sebenarnya tidak berniat. Aku mengatakan padanya bahwa aku akan membaca suratnya nanti sepulang sekolah. Ekspresi wajah Dani terlihat sangat senang mendengar jawabanku. Kemudihan dia pergi ke kelasnya dan aku menjawab membalas ekspresinya dengan senyuman.
**
Pulang sekolah aku menunggu paman menjemputku. Tapi paman tak juga datang. Aku menunnggu sudah hampir satu jam lebih. Sampai sekolahku sudah sepi. Siswa-siswa yang diantar orang tuanya ataupun sopirnya sudah dijemput. Tinggal aku sendiri yang belum di jemput. Aku berniat akan membuat perhitungan pada paman nanti jika sudah bertemu dengan paman.
Tak lama kemudian aku kira pamanku yang datang menyapaku. Tapi ternyata Dani. Dani menawarkan kepadaku untuk mengantarkan aku pulang. Aku menolaknya. Tapi Dani tetap bersikeras untuk mengantarkan aku pulang. Alasannya dia akan sekalian main ke rumahku karena dia ingin menanyakan padaku tentang pelajaran kimia. Dani memang biasanya minta bantuan padaku jika dia mengalami kesulitan dalam pelajaran kimia. Bertemanan kami pun juga di mulai karena pelajaran kimia itu. Namun, aku tetap bersikeras untuk menunggu pamanku. Tidak apa-apa aku mununggu sendirian.
“Tidak apa-apa, Dan. Aku masih menunngu pamanku”
“Tapi ini sudah hamoir satu jam lebih. Kemana pamanmu belum datang sampai jam segini?”
“Sudahlah Dan, kamu pulang dulu saja”
“Tidak. Kalau kamu tidak mau aku antarkan pulang, aku akan menunngumu disini”
“Dani, kamu ini. Ya sudah terserah kamu saja” jawabku kesal.
Waktu berlalu begitu cepat. Ternyata sudah dua jam paman masih juga belum menjemputku. Aku hubungi ponselnya tidak di jawab. Aku telfon rumah untuk menjemputku juga tidak di jawab. Dan sekarang pun juga sudah sore, jadi sudah tidak ada angkot lagi yang melalui sekolahku. Jika ada nungkin hanya satu dua saja. Tapi itu juga jarang sekali ditemukan,
“La, pamanmu belum datang. Pulang yuk, nanti kemalaman loh”
Aku akhirnya menerima tawaran Dani. Dani mengantarkan aku pulang. Sebenarnya aku juga kasihan kepada Dani karena aku tadi sedikit munafik sehingga berlagak tidak mau menerima tawaran darinya. Unting saja Dani itu orangnya baik, dia rela menunggu hanya untuk mengantarkan aku pulang. Tapi tetap saja, aku masih belum bisa membalas apa-apa untuknya. Sebatas teman biasa saja.
**
Hempasan angin yang terlalu kencang membuat aku hampir saja terjatuh saat diantarjan Dani pulang. Sesampai di rumah aku malah menyalahkan Dani. Aku bilang kepadanya, bahwa karna dia aku hampir saja terjatuh. Dani hanya diam saja tidak membalas perkataanku. Dia malah mengulurkan tangannya untuk minta maaf kepadaku.
“Okay, it”s fine” jawabku singkat. Dani mengulum senyumannya kepadaku. Akju hanya membalas senyumannya itu dengan kecut.
Setelah suara moyor Dani itu lenyap, aku segera masuk ke rumah. Aku berantusias ingin sekali bertemu dengan paman. Dalam batin aku ingin sekali melabrak paman, karena paman tidak menjemputku di sekolah tadi, sehingga membuatku menunggu cukup lama. Aku telah dibuat malu oleh pamanku sendiri.
“Ma, Paman dimana?” teriakku. Kuamati sekitar rumahku. Sepi. Seperti tak ada tanda-tanda ada manusia di rumahku. Sekali lagi a,u berteriak memanggil mamaku. Nihil. Mama tetap juga tidak muncul. Ganti aku yang memanggil Adit. Biasanya waktu jam pulang sekolah seperti ini Adit selalu ada di rumah. Jika dia tidak menjawab panggilanku, biasanya Adit sedang bermain dengan tetangga sebelah.
“Adit. Kak Lala punya permen untuk Adit”. Aku mengiming-imingi pangilanku dengan permen. Yah, karena akan sangat tahu bahwa adikku sanagt suka sekali dengan permen. Walaupun aku tahu bahwa anak kecil tidak baik terlalu banyak makan permen, tapi toh ini juga permennya tidak ada. Aku hanya me nipu adikku supaya adikku segera keluar.
Aku menuungu Adit di ruang tamu. Setengah jam aku menunggunya, tapi Adit tak juga keluar ataupun pulang dari rumah tetangga jika ia sedang bermain dengan teman sebayanya. Aku memang sengaja tidak mengejek kamar-kamar karena aku sedang bad mood kali ini. Karena siapa lagi jika bukan karena ulah pamanku.
Akhirnya kebosanan pun datang. Aku sudah menunggu keluarga hampir satu jam di ruang tamu. Ku panggil satu persatu dari anggota keluargaku. Aku memanggil mama, papa, paman dan adikki. Tapi tak ada satu pun yang keluar. Terpaksa akiu melangkahkan dengan berat. Selangkah demi selangkah dan terhuyung-huyung aku berusaha untuk menyeimbangkan langkahlku dengan kakiku. Hampir saja aku terjatuh karena energiu sudah habis. Kelaparan. Sekarang perutku merasa lapar dan sekaligus aku merasa bosan karena penantianku dari tadi tidak membuahkan hasil.
Kutelusuri lorang-loong kamar yang ada di dalam rumahku. Bahkan di sekitar pekarangan rumah aku uga menelusurinya. Aku mencaru mereka di dekat kolam ikan. Biasanya pamanku sering sekali berdiam diri di dekat kolam ikan semenjak pamandatang ke rumahku. Tapi suasana kolam ikan kali ini benar-benar sepi. Aku mendongakan kepalaku di kolam ikan itu. Ku lihat sepertinya ikan-ikan juga pelum diberi makan. Ikan-ikan itu muncul dipermukaan air. Mulutnya berebutan muncul di permukaan. Mungkin mereka mengira bahwa aku akan memberinya makan.
Aku mendesah kesal. Karena semua orang yang aku cari tidak ada satu pun. Tidak biasanya papa, mama meninggalkan aku tanpa pamit kepadaku. Apalagi pamanku yang tiba-tiba menghilang begitu saja. Aku merasa ada yang aneh dengan mereka semua. Waktu pun sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi mereka tetap belum pulang. Aku mencoba untuk menghubungi menghubungi ponsel mereka, namun tak ada jawaban apapun dari ponsel mereka. Baterai ponselku sampai lemah, tapi mereka tetap juga tidak mnjawab telepon dariku. Menyebalkan. Aku membuang uibuhku di kasur. Aku berniat untuk melupaan krjadian ini. Aku ingin istirahat. Berani tidak berani di rumah sendirian harus aku beranikan. Kusandarkan tubuhku pada tembok kamarku sebeluma aku tidur. Pandanganku tepat lurus dengan tas sekolahku. Sesaat kemudian aku ingin sebuah lotak pemberian pamanku tadi di sekolah. Aku tadi belum sempat untuk membuka kotak tersebut. kali ini aku sangat berambisi untuk membuka kotak itu. Rasa kantukku tiba-tiba hilang begitu saja kala aku mengingat akan kotak itu. Ku buka resleting tas sekolahku yang berwarna putih. Aku membukanya pelan-pelan, ya karena resleting tas sekolahku mondisinya sudah cukup mengenaskan. Jika aku buka dengan keras mungkin tasku sekolah akan rusak.
“Apa ya yang paman berikan tadi kepadaku” gumanku.
“hmmm semakin tambah penasaran saja”
Jantungku serasa naik turun saat akan bersiap-siap akan membuka kotak pemberian paman. Darahku naik secara drastik menjadi darah merah yang sangat kental, darah yang sangat penasaran dengan isi kotak tersebut.
“Huh..huhh..huhh.. sabar sabar La. Jangan tergesa-gesa” ucapku sambil menebah dadaku.
Ku sipitkan mataku satu untuk mencoba melirik apa yang ada dalam kotak tersebut. Dan tanganku ternyata tidak sabar ingin membuka kotak itu. Akhirnya kotak itu pun terbuka. Tapi aku menutup mataku. Aku tak berani melihat kotak itu. Aku membuka sebelah mataku, ternyata yang ku tahu di dalam kotak itu adalah selembar kertas. Aku membukanya lagi. Ku temjukan di dalam bawah selembar kotak itu ada sebuah gelang. Bukan sebuah gelang, tapi setelah ku acak-acak kotak itu ternyata ada sepasang gelang dalam kotak itu. Aku masih belum mengerti maksud dari semua ini. Aku pun membaca kertas itu. Kertas itu sudah lapuk. Sepertinya kertas ini merupakan kertas waktu aku masih kecil dulu. Karena dilihat dari warna dan baunya sudah jelas bahwa itu bukan mertas model sekarang yang biasanya tren dengan kertas kyky itu. Bahkan kertas itu tidak bermerek. Berwarna kuning kusam dan tilisan di dalamnya sepertinya juga sudah mulai luntur. Ku buka kertas itu dengan pelan. Ku temukan sebuah tulisan yang aku kira aku pernah mengenal ini tulisan siapa. Ini tulisan pamanku. Tapi apa yang telah ditulis oleh pamanku. Semakin banyak teka-teki yang akan harus aku temukan dari sosok misterius.
Dear Lala...
Lala, sungguh imut sekali masa kecilmu. Aku sangat gemas sekali dengan pipimu yang lucu seperti bakpou itu. Jika paman nanti punya anak, kamu saja ya yang jadi anak paman. He he bercanda La.
Lala keponakanku yang sangat paman sayangi. Paman akan memberikan surat ini saat kamu sudah berusia 17 tahun. Paman rasa itu merupakan saat yang paling tepat untuk memberitahukan semuanya kepadamu. Jika paman memneritahukan kepadamu sekarang, mungkin kamu tidak akan mengerti maksud paman. Kamu mungkin hanya bisa menjawabnya dengan air liurmu itu atau kamu malah akan merobeknya. Hal itu yang mungkin aka terjadi jika paman memberikan semua ini kepada bayi sepertimu.
La, sebelumnya paman minta maaf. Banyak yang paman sembunyikan darimu. Paman kira mungkin pamanlah yang siap mengatakan semua ini. Paman yakin bahwa orang tuamu tidak akan sanggup mengataknnya sendirian. Paman yakin pula, jika kamu sudah membaca surat ini, pasti mama dan papamu juga sedang tidak di rumah. Karena sebelumnya paman sudah merencanakan semua ini. Paman akan membiarkan kamu mebaca surat ini sendirian, sementara paman mengajak orang tuamu untuk pergi sebentar. Jangan kawatir La, mama dan papamu baik-baik saja. Dia ada bersama paman saat kamu sedang membaca surat ini. Sekitar seminggu setelah kamu selesai membaca surat ini, mama dan papamu akan pulang.
La, kamu tahu. Paman sebenarnya sangat berat sekali ,mengatakan semua ini. Tapi sebuah kenyataan tidak harus ditutupi. Kamu berhak tahu semuanya. Apalagi kamu sekarang pasti sudah menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Mirip seperti almarhumah ibu.
Degh..
Urat-uratku seperti di tarik. Aku terdiam. Aku belum selesai melanjutkan membaca surat itu, namun aku berpikir bahwa pamanku ini salah menulis surat. Kemudian aku lanjutkan lagi untuk membacanya.
Dia orang yang sangat baik dan sangat manis. Dia begitu menyayangimu. Begitu juga dengan almarhum ayahmu. Dia adalah orang yang sangat bijaksana dan dermawan.
La, sangat menyayangimu. Paman harap Lala kuat sebelum paman memceritakan masalah ini lebih lanjut lagi. Lala tidak boleh menangis.
Dulu, sebelumnya paman sangat mengenal sekali dengan ibu dan ayahmu. Ibumu adalah orang yang sangat paman cintai. Ibumu adalah cinta sejati paman. Tapi sayang sekali ibumu lebih memilih menikah dengan orang lain.meskipun begitu paman tidak bisa serta merta melupakan ibumu. Paman tetap cinta dengan ibumu, tapi paman juga tidak benci dengan ayahmu. Paman tetap bersikap baik dengan mereka. Paman tahu, bahwa ayahmu itu adalah orang yang baik. Tapi pada suatu hari, saat kamu berusia 10 hari, ibumu sedang memasak di dapur, sementaranya ayahmu sedang berkebun. Kamu sedang tidur di dalam kamar. Ketika itu suatu insident terjadi. Kompor gas ibumu meledak.ibumu berusaha menyelematkanmu tanpa memikirkan dirinya. Sementara ayahmu mendengar suara ledakan langsung masuk rumah. Kalian bertiga terkurung dalam keganasan si jago merah. Para warga datang memadamkan api. Tak ada satu orang pun yang berani untuk masuk menyelatkan kalian bertiga di dalam rumah itu. Kebetulan saat itu paman ingin berkunjung ke rumahmu. Paman kaget melihat rumahmu yang terbakar. Paman masuk. Mencari-cari kalian. Paman menemukan kalian beriga di kamar. Paman melihat kamu menangis. Sementara ibu da ayahmu pingsan. Paman mencoba membangunkan mereka. Ayahmu tidak sadar dan ibumu perlahan-lahan membuka matanya. Ibumu mengatakan kepada paman agar paman menjagamu. Paman di suruh untuk cepagt pergi sebelum apai semakin besar. Tak begitu lama ibumu menutup matanya. Paman keluar menggendongmu. Kamu terus menagis. Dan setelah orang-orang memanggil petugas pemadam kebakaran, api punb padam. Tapi telat. Nyawa ayah dan ibumu sudah tidak tertolong.
Paman sangat sedih kehilangan orang yang paman cintai untuk selamanya. Tapi paman bahagia karena paman bisa merawatmu. Tapi pada saat itu juga, kakak paman yaitu papamu sudah menikah dengan mamamu cukup lama, mereka belum juga mempunyai anak. Paman pun melihat mereka sangat menyayangimu.dan paman sendiri juga sering meninggalkanmu dengan baby sister di rumah jika paman sedang ada bisnis di luar kota. Paman berfikir lebih baik menitipkanmu kepada kakak paman. Paman yakin bahwa mereka akan menyayangimu seperti mereka menyayangi anak kandung mereka sendiri.
Lala paman sangat jahat padamu karena paman tidak menceritakan ini kepadamu sejak kamu masih kecil dan paman juga telah jahat kepadamu karena paman tidak merawatmu sendirian tapi malah membitipkannya pada orang lain. Padahal merawatmu adalah amanat dari almarhumah ibumu. Paman ingin sekali kamu memanggil paman dengan sebutan ayah suatu hari nanti. Paman harap kamu tidak menyimpan dendam kepada paman. Paman sangat menyayangimu La.
Dan kamu juga akan menemukan sepasang gelang. Simpanlah gelang itu La. Dan pakailah genang itu kelak bersama orang yang menjadi pendamping hidupmu. Tapi paman ingin kamu memakai itu jika kamu sudah mentutaskan misimu. Kamu harus menjadi gadis yang kuat dan kamu juga harus membuktikan lepada paman bahwa kamu bisa mencapai mimpimu. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha. La, sesungguhnya sepasang gelang ini adalah gelang yang paman ingin berikan kepada ibumu nanti jika kelak kita sudah menikah. Tapi ternyata takdir berkata lain. Paman tidak bisa memberikan gelang ini kepada ibumu. Akhirnya paman memberikan gelang ini kepadamu. Jaga baik-baik ya La. Dan berikan pada orang yang tepat.
Kertas yang ku pegang terjatuh. Air mataku tak berhenti. Banjir air mata. Aku sangat kaget mengetahui semua ini. Aku yang selama ini debesarkan oleh mama dan papa dengan penuh kasih sayang mereka, ternyata aku bukan anak kandungnya. Sangat menyakitkan. Dan aku juga belum mengetahui ayah dan ibu kandungku. Badanku sudah lemas. Tanganku gemetaran. Aku menangis semalaman. Mataku sudah sembab dan tidak dapat di buka lagi. Aku benar-benar tak berdaya. Semua energiku telah terkuras habis. Kertas yang aku baca tadi sudah tidak tahu aku menjatuhkannnya dimana. Aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan surat itu. Sesekali aku melirik sepasang gelang yang masih ada di dalam kotak. Aku mengambilnya dan aku mengelus-elus gelang itu. Aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menjaga gelang ini. Dan aku akan berjanji pada paman bahwa aku akan membuktikan bahwa aku pasti bisa menjadi seorang gadis yang kuat.
Kemudihan aku memasukkan gelang itu ke dalam kotak. Aku berusaha membuka mataku. Walaupun sangat kecil, namun aku tetap berusaha untuk membuka mataku. Sampai aku menabrak ranjang kamarku saat aku mencoba untuk mencari kertas yang dituliskan oleh pamanku. Setelah kutemukan kertas itu, aku menyimpannya bersama dengan sepasang gelang. Aku menyimpannya sangat rapat sekali. Aku berharap bahwa aku akan segera bertemu dengan mama, papa, Adit dan pamanku. Akuningin sekali memeluk mereka.
**
0 komentar:
Posting Komentar