6
Tentang Lala
Amir meninggalkan Adit sendirian di rumah. Amir berangkat pagi hari bersamaan dengan jam sekolah anak-anak. Sebenarnya Amir merasa malu harus pergi ke tempat dimana di dulu bekerja. Padahal dia bukan dipecat dari pekerjaannya melainkan dia memang sengaja mengundurkan diri untuk menjag Adit. Hanya alasan itu uang mungkin bisa dia sampaikan jika kepala sekolah bertanya kepadanya. Dia berusaha memberanikan diri untuk menghadap kepala sekolah. Semua ini demi satu orang. Demi Adit, keluarga baru baginya yang sangat ia sayangi bahkan melebihi dirinya sendiri.
“Dit, kamu jaga diri ya. Janji sama kakak kamu tidak akan kemana-mana”
Amir menekuk jari kelingkingnya dengan jari kelingking Adit. Itu sebagai suatu kesapakatan antara mereka.
Amir mengunci pintun rumahnya. Dia meninggalkan Adit sendirian dengan meningglkan sebuah mobil mainan untuknya dan setumpuk permen kesukaannya. Amir tahu pasti jika Adit sudah disibukkan dengan kegiatanya sendiri, dia akan lupa bahwa dia sedang di rumah sendirian. Jika tidak mungkin saja Adit bisa kabur. Hal itulah yang membuat Amir was-was.
Dari jarak kurang lebih lima meter, Amir sudah dapat melihat denganjelas sekolah SMA dimana dia dulu bekerja. Dia bekerja di tempat itu memang tidak begitu lama, tapi cukup banyak kesan yang di torehkan dari tempat tersebut. amir terdiam di tepi jalan sambil mengamayi sekolah itu. Dia dilalui sisiwa-siswi sekolah tersebut. bahkan guru-guru juga berlalu lalang di hadapan Amir, namun Amir memng sengaja menepis di balik pohon yang besar agar mereka semua tak tahu Amir.
Setelah bel masuk berbunyi, Amir melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam sekolah itu. Sekolah berlantai dua dengan cat warna hijau itu merupakan tempat penuh ilmu. Dulu Amir bermimpi agar dapat memasuki sekolah itu. Namun Allah berkehendak lain. Amir memang dapat masuk sekolah itu, tapi bukan sebagai seorang siswa melainkan sebagai seorang petugas kebersihan sekolah. Hal itu sudah sangat di syukuri Amir. Beruntung Amir masih dapat merasakan bagaimana ada di sekolah ter elit di Bandung itu.
“Ehem..ehemm”
Satpam yang duduk di pos satpam itu akhirnya menoleh setelah dia mendengar suara orang berdehem. Amir memang sengaja tidak memanggilnya, karena Pak Satpam itu sedang ayik membaca koran.
“Mas Amir” ucap satpam itu dengan kaget. Satpam itu wajahnya sumringah mengetahui kedtangan Amir. Amir tersenyum kepadanya.
“Mas Amir masuk kerja lagi khan?. Sekolah cukup kerepotan tidak adaMas Amir”
“Benarkah?” tanya Amir
“Iya Mas. Sekolah belum mendapatkan pengganti Mas Amir”
“He he. Bolehkah saya masuk Pak”
“Boleh Mas, silakan!”. Satpam itu membukakan pontu gerbang. Amir masuk. Sampai sekarang pun satpam itu belum mengerti bahwa sebenarnya Amir datang ke sekolah bukan untuk kerja lagi. Melainkan dia untuk mencari siswi yang bernama Lala.
Amir menelusuri sudut-sudut ruangan yang ada di sekolah. Tidak ada perubahan. Masih sama seperti waktu di bekerja di sekolah ini dulu. Tempat dimana dia biasanya ostirahat di waktu siang hari masih terawat walaupun tidak sebersih waktu dia maih menempatinya. Dia melewati kelas-kelas dan sebagian siswa ada yang meliriknya sembari membicarakan sesuatu setelah melihatnya.
Amir menuju ke ruang receptionist. Sebelumnya dia bilang bahwa dia sedang mencari anak yang bernama Lala. Guru yang menunggu bagian reciptionist bertabya Amir itu ada hubungan apa dengan Lala. Lalu Amir menjawab bahwa dia adalah keluarganya Lala dan ada keperluan penting dengan Lala. Akhirnya guru itu mempersilakan Amir untuk menunggu sembari dia memanggil siswa yang bernama Lala.
Amir menunggu cukup lama. Tapi tak juga guru itu datamh. Akhirnya dia bertanya sekali lagi kepad salah satu guru yang juga bagian reciptionist.
“Pak, ada apa tidak siswa yang bernama Lala. Saya ada perlu dengannya.Ini sangat penting “
“Sebentar ya Mas, masih dipanggilkan. Mas tunggu dulu”
Amir pun kembali duduk lagi. Benar-benar sangat lama. Amir menunggu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengamati keadaan sekitar. Ada salah seorang siswa yang berjalan menuju ke ruang guru kemudian dia menoleh ke arah Amir. Amir melihat dengan jelas siswa tersebut. kemudian tak lama siswa itu pergi lagi. Mingkin menuju ke kelasnya.
Amir sudah berdiri mondar-mandir sampai tumitnya terasa pegal. Tak begitu lama, guru yang tadi memanggilkan Lala itu kembali. Amir sangat senang. Dia menunggu kabar dari guru itu kemudian dia akan segera bertemu dengan Lala, kakak Adit, seorang anak yang sangat dia sayangi melebihi dirinya sendiri.
“Bu bagaimana? Mana Lala!” ucap Amir bersemangat.
Guru itu menatap Amir dengan tatapan kosong. Dia menunduk kemudian mengenggakat kepalanya lagi.
“Maaf Mas. Lala sudah tidak sekolah di sini lagi” jawabnya.
Amir kaget. Matanya melotot lebar. Dia tidak percaya akan hal itu.
“Apa? Lantas kemana Lala sekolah sekarng?”
“Tidak ada yang tahu Mas. Dia keluar begitu saja tanpa ada surat pindah semenjak kejadian itu”
“Kejadian apa?”
“Mas belum tahu?. Setelah rumahnya disita”
Amir kaget bukan main mendengr berita tersebut. lalu dia berpamitan pulang.
**
Amir pulang dengan rasa kecewa. Dia sangat menyesal karena dia tidak datang ke sekolah ini sejak dulu. Sebelum Lala pergi dari sekolah. Bahkan ternyata rumah mereka sudah disita.
“Kasihan sekali Adit. Bagaimana arus aku sampaikan nanti pada Adit?” ucap Amir pada diri sendiri.
Saat Amir akan melangkahkan kakinya keluar dari sekolah ada seorang yang memanggilnya.
“Mas tunggu”
Amir menoleh. Dia melihat salah satu siswa laki-laki yang tadi dia lihat sedang masuk ke dalam ruang guru memanggilnya. Anak itu mendekat. Amir menghentikan langkahnya.
“Ada apa?”
Siswa itu mengulurkan tanganya pada Amir.
“Kenalkan namaku Dani. Aku adalah teman Lala”. Mendengar kata Lala, Amir langsung bersemangat. Dengan egera dia menjabat tangan siswa yang bernama Dani itu “ Aku Amir, keluarga Lala”.
“Aku tadi melihat Mas Amir sedang mencari Lala. Apakah benar?”
“Iya benar. Apakah kamu tahu sesuatu tentangnya?. Toling ceritakan sesuatu padaku!”
Dani pun mengajak Amir pergi ke kantin. Mereka berdua membicarakan tentang Lala.
“Jadi Mas belum tahu tentang Lala?” tany aDani.
“Belum”
“Lala sekarang menghilang entah kemana setelah rumahnya disita, aku sudah mencarinya, namun tetap tak juga menemukannya. Nomer ponselnya pun juga sudah tidak aktif” jelas Dani. Amir semakin tertarik dengan pembicaraan. Amir semakin penasaran.
“Kenapa rumahnya disita?”
“Keluarganya berhutang pada bank untuk menutupi utang perusahaan papanya”
“Lantas kemana orangtuaya sekarang?”
Dani tidak percaya kalau ternyata Amir tidak tahu seluruhnya tentang Lala. Kali ini Dani ragu bahwa Amir itu bukan orang baik-baik. “Jangan-jangan orang ini ada maksud terselubung untuk mencari Lala. Aku tak mau menceritakan lagi” batin Dani. Dani hanya memandingi Amir dengan tatapan sinis. Anir ternyata menyadari tatapan Dani. Dia meras tidak nyaman dengan tatapan itu. Dia menyadari bahwa Dni sudah mulai tak percaya dengannya.
“Aku menemukan adik Lala. Adit ada bersamaku” ucap Amir
Dani langsung melotot. Dia seperti tidak menyangka atas apa yang baru dikatakan oleh Amir barusan. “ Sekarang dimana Adit?”
“Dia di rumahku”
“Dimana Mas Amir menemukannya?”
“Di suangai. Aku melihat dia waktu itu sedang tak sadarkan diri lalu aku pun membawanya pulang dan aku rawat”.
“Alhamdulillah. Adit selamat”
Amir tak mengerti maksud dari Dani. Amir tidak tahu bahwa Adit itu korban kecelakaan. Akhirnya Dani menceritakan yang terjadi pada Amir. Dani mengatahan bahwa waktu itu saat dalam perjalanan pulang, keluarga Lala mengalami kecelakaan. Papa dan mamanya meninggal. Sedangkan adik dan pamannya belum diketemukan. Tapi alhamdulillah akhirnya adiknya sudah diketemukan. Lala sudah mencari adiknya tapi belum bertemu.
Amir sangat kaget mendengar penjelasan dari Dani. Dia tidak menyangka bahwa Adit sekarang sudah yatim piatu. Dia tidak bisa membayangkan betapa sedihnya Adit nanti jika dia mengetahui atas apa yang terjadi pada keluarganya. Kakaknya pun sekarang menghilang entah kemana. “Aku lemas Dan. Tak tahu apa yang harus aku lakukannsaat aku nanti pulang pada Adit”
“Memang itu yang terjadi Mas. Bisakah Mas berikan alamat rumah Mas, aku ingin ananti sepulang sekolah melihat Adit. Barang kali Adit kenal denganku”
Amir memberikan alamat rumahnya. Dani melongo membaca alamat rumah Amir. Namun Amir masih lemas memikirkan yang terjadi pada Adit beserta keluarganya.
“Mas, ini dimana? Aku belum pernah tahu tempat ini?”
Amir masih melamun. Dani meneouk oundaknya. Baru kemudian Amir sadar. “Iya kenapa?”
“Alamat rumah ini dimana?”
“Itu di hutan pinggir kota ini. Nanti jika sudah mendekati hutan, kamu tanya saja pada warga yang adadi sekitar hutan rumahku”.
Setelah itu Amir pulang. Sedangkan Dani masuk kelas. Sepanjang dia melangkahkan kakinya, sepanjang itulah angan-angan kosong. Kupu-kupu yang hinggap di kepalanya sampai tidak terasa. Semuanya terasa sungguh membingungkan.
**
Pagi ini, setelah aku menemani Iqbal menagamen, kami istirahat di warng nasi di pinggir terminal. Di situ aku meminta Iqbal untuk mengajarinku bagaimana car menyanyi yang benar itu.
“Menyanyilah seperti suatu kebutuhan bagi kakak. Nikmatilah setiap kata-kata dakam nyanyian itu dalam darah. Mengalir dan bagaikan sebuah makanan yang terus mengalir dalam darah dan kita butuhkan” jelas Iqbal.
Aku terbelalak mendngar ucapan Iqbal barusan. Bagaimana mungkin Iqbal anak yang tidak pernah merasakan bangku pendidikan, bahkan dia hannyalah seorang anak kecil biyasa tapi dia mampu berbicara layaknya orang dewasa. Kulihat dia masih memetik gitarnya. Lalu dia berkata lagi dan menghentikan petikan gitarnya itu.
“Kami memang dibesarkan dan tumbuh dari jalanan, tapi kami belajar dari jalanan itu pula”.
“Amboy, kamu tak hanya pandai bermain gitar dan menyanyi namun kamu juga sangat cerdas. Jarang anak seusiamu yang sudah dapat berfikir sangat dewasa. Bahkan anak yang seusiamu yang merasakan bangku sekolah pun belum tentu dapat mengatakan hal demikian. Aku benar-benar salut denganmu”
“belajar tak hanya dari bangku sekolah kak. Pelajar dari pengalaman dan dapat memaknai hidup adalah hal yang lebih berpengaruh. Kehidupan jalanan yang sangat keras membuat kami lebih menjadi pribadi yang tangguh”
Aku kadang ragu apakah benar jika Iqbal itu masih usia anak-anak. Kadang dia itu berfikir jauh lebih dewasa daripada aku. Bukan dia yang belajar dariku, melainkan aku lah yang belajar darinya. Aku memang mengajarkan sedikit ilmu kepada anak-anak jalanan, namun aku juga belajar pengalaman hidup pada anak-anak jalanan itu.
Bakat yang aku miliki yang ternyata tak aku sadari semasa aku masih sekolah baru kutemukan setelah aku mengalami kerasnya hidup. berada di samping mereka sangat memberikan pelajaran bergharga bagiku. Setelah aku dan Iqbal beristirahat di warung itu, aku tidak menjual koran. Tapi aku mengajak Iqbal untuk ngamen lagi. Aku ingin mempraktekkan atas apa yang baru aku dengar dari Iqbal bagaimana cara menyanyi yang indah itu. Benar=benar kurasakan suasana yang berbeda saat aku menyanyi sebagai suatu kebutuhankundaripada aku menyanyi hanya untuk mencari uang. Prinsip yang kudapat darinya bahwa menyanyi itu bukan untuk mencari uang. Tapi menyanyilah maka uang yang akan mencarimu. Aku merasakan darahku seolah mengalir dengan deras membawa makanan cinta. Aku merasa bahwa cinta sedang diedarkan ke dalam darahku. Karna pada saat aitu aku sedang menyanyi lagu cinta. Betapa indahnya dan nikmatnya rasa ini. Aku enggan untuk berjualan koran. Kegiatan ini sungguh membuatku merasa nyaman. Kini aku tahu kenapa Iqbal sangat suka dengan menyanyi.
“Makasih dek” batinku.
Iqbal mengacungkan dua jempolnya kepadaku saat aku selesai menyanyi. Aku tak mengira bahwa penghasilanku lebih banyak daripada jualan koran. Padahal biasanya jika aku yang menyanyi, para penumpang hanya mengacuhkanku. Mungkinnkarena aku belum tahu rahasianya.
Setelah itu kami turun dari bus. Kala itu juga ada seorang yang memanggil kami
“Kalian tunggu!”
Kami pun menoleh dan berhenti. Kami lihat seorang bapak-bapak baruh baya berlari mengejar kami. Kami berhenti. Laki-laki itu terengah-engah mengejar kami.
“Bapak jangan berlari seperti itu. Ada apa pak?” tanyaku.
“huhhuhnhuh..sebentar”
“Biarkan dia mengatur nafasnya dulu kaka”
“Bapak ke warung itu dulu ya. Kita ngobrol disitu saja”
Aku mengajak bapak itu ke warung dan membelikannya minuman. Aku melihat bahwa bapak itu kelelahan mengejarku. Aku kasihan melihatnya.
Bapak tersebut akhirnya mengeluarkan kata-katanya dan menjelaskan maksdunya.
“Mbak, saya mau minta tolong pada Mbak?”
“Minta tolong apa ya Pak?”
“Maukah Mbak menjadi pembimbing sekolah menyanyi. Saya mempunyai sekolah menyanyi dan saya piikir setelah mendengarkan suara nyanyian tadi saya sangat yakin bahwa mBak sangat berbakat”
Aku dan Iqbal saling berpandangan. Apakah ini mimipi. Aku menjawabnya ‘Tapi...” kemudaia bapak itu memotong perkataanku “ Saya sangat membutuhkan bantuan anda”
Aku mendesah. Sementar Iqbal terus menarik bajuku. Dia berbisik agar aku mau menerima tawaran dari bapak itu. “ Kak Lala harus terima. Ini kesempatan”
Aku hanya tersenyum saja. Aku masih belum yakin dengan kemampuanku. Aku baru memulainya hari ini menyanyi sebagai suati kebutuhan bukan kebutuhan untuk menyanyi..
“Bagaimana Mbak?” tanyanya kemudian.
“E..e..e..emmh”
“Begini saja, Mbak pikirkan dulu. Saya memberikan kartu nama ini pada Mbak. Jika Mbak berminat, Mbak nanti datang ke alamat yang ada di kartu nama itu ya”
Aku pun menerima kartu nama dari bapak itu. Tak lama kemudian orang itu pergi karena akan menjemput cucunya sekolah.
**
Hari sudah sore. Aku pun pulang. Aku lihat semenjak dari bus terakhir yang kami tumpangi, wajah Iqbal menjadi pucat. Dia tidak banyak bicara. Dia hanya diam saja. Tidak seperti biasanya. Biasanya dia selalu bermanja-manja denganku jika sudah waktunga pulang. Kadang dia juga bercanda denganku. Tapi kali ini dia hanya diam saja. Membawa gitarnya sendiri seolah terasa berat baginya.
“Dek kamu kenapa? Kamu sakit? Tanyaku penuh kekawatiran. Iqbal hanya menggeleng. Lalu aku mengajaknya untuk berhenti di sebuah toko. Aku membeli aqua gelas. Aku sangat kawatir dengannya. Matanya berubah menjadi sayup-sayup.
“Kamu kecapean ya dek?” tanyaku. Lagi-lagi dia menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun kepadaku. Aku menyentuh keningnya. Aku kaget. Keningnya sangat panas. Tak lama kemudian dia pingsan.
“Iqbal, Iqbal, Iqbal”
Dia tetap menutup matanya. Aku panik. Aku meminta tolong kepada orang-orang yang ada di sekitarku. Mereka semua sungguh cuek. Tak ada satu pun yang menghiraukan jeritanku. Akhirnya aku menggondong Iqbal dan berniat membawanya ke dokter. Aku tak memikirkan akuan membawanya pulang ke rumah kardus. Karena biasanya keluargaku dulu langsung pergi ke dokter jika ada yang sakit.
Aku berlari mencari angkot. Tapi tak ada angkot yang sesuai dengan jurusan rumah sakit yang akan kami tuju. Iqbal tetap memejamkan matanya. Badanya semakin panas. Aku berlari di tengah himpitan kendaraan. Aku tak peduli walaupun aku dimaki karena tak tahu aturan. Orang-orang yang hanya melihatku dengan tatapan acuh. Tak ada satu pun yang membabtu kami. Mungkin karena kami adalah anak jalanan yang bagi mereka adalah sampah, sehingga membantu pun mereka memili-milih.
“Iqbal, sabar ya. Kamu harus kuat. Kamu tahan dulu”
Aku mendengan giginya bergeretak. Mungkin dia merasakan panas yang sangat tinggi. Aku tambah kecepatanku. Aku tak menghiraukan apa dan siapa orang yang aku tabrak. Aku berkari dan berlari terus mencari celah jalan yang mungkin masih ada tempat untuk aku lalui. Aku tak sadar jika saat itu aku menabrak seseorang.
“ Maafkan aku. Aku buru-buru” ucapku pada orang yang aku tabrak tanpa melihatnya. Orang itu sampai terjatuh. Tapi aku tak membantunya untuk berdiri.
“Kamu tak tahu aturan ya” teriaknya. Aku mendengar suara itu tapi aku tak menghiraukannya. Kemudian tiba-tiba langkahku terhentikan. Ada seseorang yang menarikku dari belakang. Aku menoleh.
“Aku buru-buru maaf’ ucapku. Aku terus memperhatikan kondosi Iqbal.
“Kamu tak bertanggungjawab telah menabrakku”. Ternyata orang yang menarikku ituadalah orang yang menabrakku. Dia menarik bajuku dan tak sengaja tangannya menyentuh kening Iqbal.
“Masya Allah panas sekali” ucap orang itu.
“Iya Mas, sekali lagi saya minta maaf. Saya harus segera membawanya ke rumah sakit”.
Kemudian aku meingglkan orang yang aku tabrak itu. Tak dikiri orang itu ternyata mengikutiku. “ Mbak saya ikut. Saya ingin membantu”
Aku hanya menoleh dan orang itu berlari mendekatiku.
“Kita naik angkot saja mbak biar lebih cepat” katanya.
“Saya sudah mencari angkot Mas. Tapi tidak ada yang berhenti”
“Biar saya yang cari”. Orang itu melambaikan tangannya dan tak lama angkot pun berhenti tepat di depan kami. Kami segera naik.” Pak ke rumah sakit. Agak cepat ya Pak” kataku pada sopir angkot.
Aku terus memegangi kening Iqbal. Panasnya semakin bertambah. Iqbal mendekap di pelukanku. Dia menggigil. Sepertinya dia meriam. “ Sabar ya dek” kataku dengan mengelus-elus kepalanya. Aku lalu memeluknya mencoba untuk menghangatkan tubuhnya agar tidak kedinginan.
Aku menoleh ke arah orang yang menolongkiu. “ Mas, maafkan saya ya. Dan terimakasih juga atas bantuannya” ucapku.
“Sama-sama Mbak, dan maaf tadi saya tidak tahu kalau Mbak sedang buru-buru”
Aku hanya tersenyum. “Kenapa orang-orang yang mekihat Mbak berlari seperti itu dengan menggendong seorang anak kecil hanya diam saja?” tanyanya.
“Apalagi kalau bukan karena kelas sosial Mas”
Orang itu hanya mengangguk. Mungkin tandanya dia sudah paham maksduku. Dia tidak bertanya banyak padaku. Dia sepertinya juga terlihat cemas dengan kondisi Iqbal. Dia terus memegang dahi Iqbal. Beberapa menit kemudian, kami akhirnya sampai di rumah sakit.
**
Aku berlari sambil menggondong Iqbal dan membawanya kepada suster yang sedang ada di depan. “ Suster, tolong adik saya”.
“Iya Mbak”. Lalu suster itu membawa kami ke ruangan dokter. Setelah aku membaringkan Iqbal di tempat pemeruksaan, aku dan orang yang menolongku tadi duduk di ruang dokter. Kami menunggunya cukup lama. Tapi mereka tak juga keluar. Aku mengintip apa yang dilakukan mereka dengan Iqbal. Ternyata mereka tak bertindak sesuatu dengan Iqbal. Aku mencari dokter lalu aku marah-marah padanya. “ Dokter kenapa adik saya tidak diobati? Kenapa dokter malah ada disini?”.
“Mbak, bagaimana kami akan menanganginya jika Mbak tidak membayar” jelasnya. Aku melihat orang-orang yang berlalu di belakang dokter itu berbisik- bisik. Pandangan mereka sinis. Aku menunduk. Ku rogoh saku celanaku. Hanya ada 100 rb rupiah. Itu pun uangnya sebagian uang receh.
“Apakah ini cukup?” . aku menyerahkan uang yang kumiliki itu. Kemudian suster yang ada di samping dokter itu bekata “ Adik Mbak harus di rawat diopname. Biaya uang mukanya sekitar 250 rb”
Aku lemas. Aku kembali melihat Iqbal. Aku tak tahu tindakan apa selanjutnya. Iqbal sangat lemah. Aku tak tega melihatnya jika dia tidak cepat ditangani. Dari belakang tiba0tiba seseorang memanggilku “ Mbak bagaimana?”. Ternyata itu adalah orang yang menolongku. Aku menggeleng. Orang itu bertanya apa yang telah terjadi. Aku menceritakan apa yang telah terjadi hingga kenapa sampai saat ini Iqbal tidak segera ditangani.
“Jangan sedih Mbak, adik Mbak pasti akan sembuh”
Aku melihat dia merogoh sakunya lalu dia mengeluarkan sesuatu. Ku lihat dia mengeluarkan uang seratus ribuah tiga lembar.
“Mbak pakai uang saya dulu, adik Mbak harus segera ditolong”
Aku menatapnya seraya mengucapkan terimakasih kemudian aku berlari mencari dokter dan menyerahkan uang ini. Aku lega akhirnya Iqbal segera mendapat pertolongan. Aku baru menyadari bahwa adanya status sosial benar benar dipandang rendah oleh masyarakat. Mulai dari pelayanan kesehatan pun kami di bedakan. Orang-orang cuek dengan orang-orang jalanan sepertiku. Jika tidak ada orang yang menolongku tadi, mungkin aku dan Iqbal tidak akan dihargai masuk ke dalam rumah sakit ini.
Aku duduk di ruang tunggu. Aku dapat melihat kondisi Iqbal dari balik kaca. Aku lega. Kemudian orang yang menolongku itu duduk di sebalhku. Dia mengulurkann tangannya kepadaku “ Saya Amir”.
Aku menoleh dan membalas uluran tangannya “ Saya Lala” jawabku dengan senyum.
“Mas, kenapa Mas tidak jijik dengan kami orang jalanan. Manusia kardus seperti aku?”
“Kalian juga manusia sama sepertiku. Kenapa harus jijik. Hanya orang yang tidak mengerti arti kehidupanlah yang berfikir seperti itu”
“Sekali lagi terimakasih ya Mas” kataku.
“Iya sama-sama Mbak”
“Ohya Mas, maaf saya belum bisa mengganti uangnya sekarng. Tapi saya pasti akan menggantinya”
“Tidak usah diganti Mbak. Tidak apa”
Aku tetap saja menolak. Walaupun orang itu menolaknya aku aka tetap memberikannya. Aku mengamati penampilan orang tersebut. sepertinya aku pernah melihat orang itu. Tapi dimana aku benar-benar lupa. Aku tidak ingat dimana aku pernah melihatnya.
“Mas, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya ya. Aku rasa Wajah Mas sudah tidak asing lagi bagiku”
“Benarkah Mbak. Dimana ya?”
“Aku lupa Mas, tapi yang pastinya pertemuan kita kali ini bukan pertemuan yang pertama kali” jawabku.
Tapi kami berdua sama-sama tidak ingat dimana kami pernah bertemu sebelumnya. Akhirnya kami membicarakan topik yang lain. Aku menceritakan bahwa aku tinggal di rumah kardus dekat dengan jembatan kota. Dan Mas Amir sendiri bilang bahwa dia tinggal di pedalaman. Dia tinggal di tepi hutan yang dekat dengan sungai. Mas Amir bilang agar kapan-kapan aku main ke rumahnya. Dia hanya tinggal berdua bersama dengan adiknya.
Tiba-tiba ada yang aneh dengan Mas Amir. Mas Amir mendadak buru-buru pulang setelah dia melihat jam tangannya.
“Mas Kenapa buru-buru?”
“Adikku. Adikku sendirian di rumah. Aku kawatir dia takut sendirian di rumah”
“Oh begitu, ya sudah kalau begitu Mas Amir sebaiknya pulang dulu. Kasihan adiknya menunggu sendirian di rumah. Tadi Mas Amir sudah meninggal adinya sejak jam berapa?”
“Jam tujuh pagi”.
“Adik Mas Amir umur berapa?”
“Tiga tahun”
Aku kaget dengan jawaban Mas Amir. Aku segera menyuruh Mas Amir pulang. Aku tidak bermaksud mengusirnya. Tadi Mas Amir juga sudah terbutu-buru ingin pulang. Anak seusia tiga tahun ditinggal sendirian di dalam rumah yang ada di tepi hutan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana dia takutnya di rumah sendirian.
“Hati-hati Mas” kataku. Mas Amir tersenyum kepadaku.
Aku jadi teringat dengan adik-adikku yang lainnya.
“Pasti mereka sekarang sedang menunnggu kepulanganku. Mereka sudah menyiapkan buku-buku untuk belajar. Maafkan kakak dek” batinku. Aku tak mungkin meninggalkan Iqbal sendirian di sini. Aku tak pulang hari ini. Aku yakin bahwa anak-anak rumah kardus akan baik-baik saja. Mereka anak-anak yang kuat. Besok pagi aku akan mengabari mereka semua tentang kondisi Iqbal.
**
0 komentar:
Posting Komentar