5
Adit dan Amir
“Huk..huk..”
“Kau tak apa dek?” tanya seorang pemuda yang tinggal di rumahnya sendirian.
“Tidak Kak. Dimana aku sekarang?” tanya anak kecil yang terbaring lemah di tempat tidur. Anak kecil itu kondisinya masih sangat lemah. Tapi ia berusaha untuk bangkit dari tempat tidur. Pemuda yang merawatnya melarang anak tersebut.
“Jangan banyak bergerak dek. Kamu masih sangat lemah. Lebih baik kamu istirahat. Pulihkan dulu kondisimu”
“Tapi aku sekarang ada dimana?”
“Di rumahku” jawab pemuda itu singkat.
Pemuda yang merawat anak kecil itu tak tahu apa yang harus dilakukan setelah merawat anak itu. Sudah hampir seminggu pemuda yang tinggal sendirian di rumah yang tak cukup besar itu merawat anak kecil yang dia temukan. Seminggu lalu saat dia pulang dari jalan menyebrangi sungai, dia melihat ada sesuatu di sungai. Dengan segera dia melihat apa sesuatu tersebut. dia sangat kaget ternyata yang dilihatnya itu adalah adalah seorang anak kecil. Pemuda itu membawanya pulang ke rumah hingga pada akhirnya dia merawatnya hingga anak kecil itu sadar. Sampai sekarang pun pemuda itu masih belum mengerti apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dia bahkan belum mengetahui siapa nama anak kecil yang dia rawat itu.
Pemuda berperawakan tinggi semakin dengan kulit bersih tersebut duduk di dekat anak kecil yang di rawatnya. Dia memberikan minuman dan makanan pada anak itu.
“Dek, ini dimakan?” katanya sambil memnerikan makanan. Anak kecil itu berusaha bangun dari tempat tidur dengan dibantu oleh pemuda itu. Setelah duduk, anak itu melihat makanan yang dibaakan oleh pemuda itu dan seraya mengatakan “Kak, sebenarnya apa yang terjadi padaku sehingga aku sampai di rumah kakak?”
Pemuda itu menatap mata anak kecil yang baru saja bertanya kepadanya. Dia hanya tersenyum kemudian menhuruh anak kecil itu untuk memakan makanan yang baru saja diantarnya. Anak kecil itu pun akhirnya tidak banyak bertanya. Dia memakan makanan yang dibawa oleh pemuda itu. Sangat jelas sekali bahwa anak kecil itu sangat kelaparan. Sudah seminggu ia tidak sadarkan diri. Berarti anak kecil itu juga tidak makan dalam waktu itu juga.
Sambil mengamati anak kecil itu makan dengan lahapnya, pemuda itu menyela sebuah pertanyaan pada anak kecil itu.
“Dek jika boleh kakak tahu, adek namanya siapa?”. Dengan mulut yang masih penuh dengan makanan anak kecil itu menjawabnya “ Adit kak. Kakak sendiri siapa namanya?”
Pemuda itu meringis melihat tingkah anak kecil yang ada di depannya itu. Anak kecil yang mengaku bernama Adit itu menjawab pertanyaan pemuda itu sampai makanan yang ada di mulutnya jatuh.
“Amir. Sudah kamu selesaikan makannya dulu. Nanti kalau sudah selesai kita cerita lagi ya”
Anak kecil itu hanya tersenyum sambil melanjutkan makannyanitu.
**
Sudah hampir seminggu Amir merawat Adit. Dia sudah menganggap Adit seperti adiknya sendiri. Awalnya dia masih ragu apa yang harus dia lakukakn untuk mengembalikan Adit pada keluarganya. Sementara keluarganya sendiri juga tidak mencari Adit. Setelah kondisi Adit sudah cukup membaik, ia banyak bertanya tentang keluarganya. Dan Amir bingungharus menjawab apa. Amir berniat untuk menganarkan Adit pulng ke rumahnya jika kondisinya sudah pulih. Selama seminggu Amir merawat Adit, Amir jugabtidak masuk kerja. Padahal dia baru saja mendapatkan pekerjaan yang cukup mudah ika dibandingkan perkerjaan-pekerjaan yang dulu. Dia menjadi petugas penjaga kebersihan di salah satu SMA di Bandung. Dahulu sebelum ia menjadi petugas penjaga kebersihan, ia masih kerja serabutan. Entah itu mencari kayu di hutan lalu di jual di kota ataupun kadang ia menjadi kuli angkut di pasar. Ya pekerjaannya yang dulu itu sifatnya musiman. Tidak seperti pekerjaannya yang sekarang yang sifatnya sudah menetap. Dia sebenarnya kawatir jika mungkin pihak sekolah akan memberhentikannya begitunsaja karena dia tidak masuk selama seminggu. Tapi di sisi lain dia juga tidak tega meninggalkan anak sekecil itu di rumah dengan kondisi yang masih belum pulih.
Amir banyak bertanyantentang Adit dimana alamat rumahnya sehingga ia dapat segera mengantarkan Adit pulang ke rumahnya dan ia juga dapat egera masuk bekerja. Namun ternyata Adit tidak tahu alamat ruahnya. Yang dia tahu dia tinggal bersama papanya, mamanya dan seorang kaka perempuannya. Papanya bernama Wijaya, mamanya bernama Ratih dan kakaknya bernama Lala. Dia tinggal berempat, tapi ada satu anggota keluarganya yang baru datang daru jauh yaitu pamanya.
Amir menepuk jidatnya dan mendesah ‘Huh. Ya Allah, bagaimana aku harus bertanya pada anak sekecil ini. Dia sudah jelas belum mengerti alamat rumahnya”. Amir sadar bahwa sekeras apapun dia berusaha bertanya pada Adit temtamga alamat rumahnya, Adit jugantidak mungkin dapat menjelaskan. Dia masih belum mengerti. Sifat kekanak-kanakannya itu memang masih menjadi ciri khasnya. Bahkan kadang kadang jika sudah tidak ingat dengan keluarganya, Adit asyik bermain sendiri dengan mainan yang di berikan oleh Amir. Tapi jika ia sedang teringat keluarganya, malam hari sekalipun ia memanggail papa dan mamanya. Amir maih baru pertama ini merawat anak kecil. Dulu sebelu hidupnya sebatnga kara, dia pernah merawat seseorang juga. Yaitu ibunya. Sebelum ia menjadi yatim piatu, Amir merawat ibunya yang sudah sakit. Ia telah ditinggal wafat oleh ayahnya sejak ia masih kecil.
Bagi Amir merawat orang dewasa dibandingan dengan merawat anak kecil sungguh berbeda jauh. Dia tidak mempunyai cukup banyak pengalaman. Adit,anak yang masih berusia tiga tahun itu sering rewel sendiri.
“Kak, punya permen. Aku lapar”? rajuknya.
Sudah pasti Amir jarang menyimpan permen. Jadi seketika itu, Amir langsng prgi ke toko untuk memberi permen. Itu pun juga diperlukan waktu tempuh yang cukup lama. Karena rumah Amir tidak berada di pedesaan ataupun di perkotaan seperti umumnya. Amir tinggal di tepi hutan yang dekat dengan sumber mata air. Amir tinggal di situ karena tanah itu dahulunya adalah tanah pemberian dari alamarhum kakek buyutnya. Jika Amir meninggalkan Adit sendirian di rumah, Amir selalu mengunci pintu rumahnya. Apabila Adit tahu jika dai sedang di kunci, dai pasti akan menangis. Tapi Amir sudah menyiasatinya dengan memberikannya sebuah mainan agar ia tidak rewel.
Sepulang dari toko, Amir memberikan permen itu kepada Adit. Adit memerimanya dan langsung memaknnya kemudian dia melanjutkan bermain mobil-mobilan dengan Adit. Amir menamatinya dan duduk di sebelah Adit. Dia tersenyum dan terus mengamatinya. Jika melihat anak selucu Adit seperti itu, dengan pipinya yang cabby dan polahnya yang menggelikan, ia enggan untuk mengantarkan Adit pulang ke rumahnya. Dia ingin menjadikan Adit sebagai adiknya. Dia sudah hidup sendiri selama satu tahun. Adit akan menjadi sebuah keluarga baru baginya.
“Adit mau tidak jadi adik kakak?”
“Mau kak” jawabnya sambil bermain melajukan mobil mainannya. Amir mengira bahwa itu hal yang cukup asal-asalan anak kecil jawab. Dia tidak konsentrasi saat ditanya dan masih tetap asyik dengan mobil mainannya.
“Benar ya. Kalau begitu Adit tinggal bersama kakak disini ya” ucap Amir
Adit mengangguk. Amir cukup lega akhirnya dia kini mempunyai keluarga. Sambil menemani Adit yang terus bermain, Amir melamun. Dalam lamunannya dia berfikir pada suatu hari nanti saat dia sudah benar-benar sayng dengan Adit, tiba-tiba ada keluarganya yang datang untuk mengajaknya pulang. Amir merasa Hancur jika satu kebahagiaan yang ia punyadiambil begitu saja. Namun seketika pula Amir menampis lamunan yang cukup kejm itu.
“Tidak. Aku tidak boleh memisahkan Adit dengan keluarganya. Adit hanya akan tinggal bersamamaku selama keluarganya masih belum menemukannya. Jika keluarganya sudah meneemukannya, Adit harus pulang bersama keluarganya. Lagian aku juag tidak tahu diaman alamatnya sekarang. Jikalau aku tahu alamat rumahnya sekarang, aku akan mengantarkan Adit pulang. Biarlah Adit menjadi keluargaku dulu” batin Amir.
**
Seminggu lebih Amir hidup bersama Adit. Selama itu pun juga masih blum ada seorang anggota keluarganya yang mencari Adit. Amir membiarkannya. Ia masih menikmati saat saatnya bersama dengan Adit. Ia akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannnya sebagi petugas kebersihan di salah satu SMA di kota Bandung. Dia tidak tega jika meninggalkan Adit sendirian di rumah dan membiarkannya berada di rumah yang sepi itu. Dia mengambil sebuah pekerjaan baru yang tidak cukup jauh dari rumahnya, jadi walaupun dia sedang bekerja, ia masih sempat mengawasi Adit. Kini, ia bekerja sebagai seorang pembuat kursi. Dia bersyukur, walaupun dia hanya lulusan SMP, tapi dia mempunyai keahlian untuk memuat kursi. Hal itu dia peroleh dari pengalamnnya semasa waktu masih SD dulu. Dulu waktu ia masih SD, ia sering main ke rumah temannya yang kebetulan usah orang tua temannya itu adalah seorang mebeler. Ia banyak bertanya tentang mebel kepada orang tua temannya. Selain itu, kayu juga sudah banyakl tersedia di hutan. Walaupun rumah Amir sangat kecil, tapi dia di dekat hutan maih mempunyai sebuah lahan yang sekarang ia tanami dengan tanaman yang berorientasi pada tanaman modal produksi. Akhirnya tanaman yang selama ini ia tanam juga mempunyai banyak keuntungan.
Jarak rumah yang tidak cukup jauh membuat Adit semakin sering untuk main ke tempat kerja Amir. Dia sangat suka bersama dengan Amir, walaupun hanya sekedar menemani kerja namun Adit lebih suka ketimbang harus sendirian di rumah.
“Adit kok datang kesini. Kotor lho disini” ucap Amir.
“akuningin bersama kakak. Aku takut di rumah sendirian” jawabnya. Kemudian Adit datang dan memeluk Amir. Amir menghentiksn kerjaknya. Dia mengusap keringat yang ada di dahi Adit.
“ya sudah Adit disini saja jika Adit takut di rumah. Kakak ada disini kok. Jangan takut ya”
“ Iya kak”.
Lalu Adit duduk sambil melihat Amir menggergaji kayu yang baru ia cari dari hutan. Amir sebenarnya kasihan melihat Adit ada di tempat kerjanya. Tapi sebuah senyuman kebahagian telah Amir peroleh karena jika ia sedang lelah bekerja, dia sesekali memerhatikan kursi yang ada di dekatnya yang berjarak sekitar 42 meteran dari tempatnya bekerja. Disitu dia mendapati seorang anak kecil yang sedang asyik bermain mobil-mobilan. Atau jika tidak seperti itu akan ada suara yang memanggilnya “Kak”. Entah itu hanya sekedar suara iseng saja atau memang benar suara Adit yang sengaja menanggilnya karena ingin sesuatu.
Siang hari, biaanya Amir beristirahat setengah jam. Kemudian dia melanjutkan kembali pekerjaannya. Saat istirahat itu, dia menemukan sebuah kebahagian. Adit akan datang menghampirinya lalu mengjaknya makan siang. Mereka lalu pulang ke rumah dan makan siang. Dulu jika siang hari Amir jarang makan di rumah, namun sekarang dia makan di rumah. Layaknya seperti keluarga sendiri.
Seiring berjalannya waktu, ternyata Adit tak smakin banyak bertanya tentang keluarganya. Entah itu soal papa, mama. Kakak tau pun temtang pamannya. Amir seharusnya senang karena Adit sudah melupakannya keluarganya, namun Amir juga tidak mahu jika Adit lupa dengan keluarganya. Kadang Amir mengingatkan kembali kepada Adit bahwa sebenarnya dia masih punya keluarga.
“Kamu masih punya keluarga. Kita berusahan sama-sama agar nanti kamu dapat bertemu dengan anggota keluarga kamu” kata Amir.
Mendengar perkataan Amir, Adit menjadi sedih. Matanya mulai menbendung air. Amir sadar bahwa perkataannya barusan itu telah membuat Adit teringat kembali dengan keluarganya.
“Kita nanti akan mencari bersama-sama. Kita mencari seiirng dengan benrjalannya waktu. Kakak selalu ada di sisimu. Kakak menyayangimu”
Adit mendekat kepada Amir dan memeluknya. Dia menangis tersedu-sedu. Dia menyebut nama kakaknya. “Kak Lala, Adit rindu dengan kakak. Kak Lala. Hiks..hiks..”
“Iya, iya Dit. Kakak janji akan membantu Adit agar apat bertemu dengan kakak kandungmu”.
Adit mengatakan bahwa jika kakaknya itu usisnya tidak begitu jauh dengan usia kak Amir. Kakaknya sekolah di salah satu SMA di Kota Bandung. Seketika Amir mempunyai suatu pencerahan untuk mendatangai tiap SMA yang ada di Bandung. Lalu menanyakan apakah ada yang bernama Lala.
“SMA mana kakakmu sekolah ?”
“Tidak tahu kak”
Amir lupa lagi bahwa Adit itu masih seorang anak kecil. Dia tidak mungngkin tahu dimana kakaknya sekolah. Lalu terfikirkan olehnya mungkin seragam almamater sekolah bisa menjadikannya petunjuk baginya.
“Adit tahutidak biasanya Kak Lala seragamnya sekolah bagaimana?”
Adit mengangguk. Amir tersenyum. Harapan baru akan dimulai dari sini. “Bagaimana Dit?”
Adit kemudian menjelaskan bahwa kakaknya biasanya memeakai seragam berwarna putih abu-abu atau kadang-kadang berwarna coklat”
Amir mengernyitkan kening. Setiap sekolah pasti mempunyao seragam seperti itu. Kalau seperti itu sama saja dengan mencari semua sekolah yang ada di Bandung.
“Seragam yang lainnya yang biasanya di pakai kakakmu masih ada tidak?”
Adit berusaha mengingat-ingatnya. Dia melirik ke kanan dan ke kiri kemudian mengetuk-ngetuk kepalanya lalu memegang bibirna. Sekali lagi tingkah Adit membuat Amir meringis. Mungkin itu gaya khasnya anak kecil jika sedang memikirkan sesuatu yang mungkin saja dirasa beras baginya. Amir menyela tingkah Adit “ Bagaimana ada tidak Dit?”
“sebentar Kak, aku masih mencoba mengingatnya”.
Amir terus memandangi Adit. Ia melihat gerakan-gerakan kombinasi yang dilakukan Adit dalam memikirkan sesuatu. Pertama dimulai dari tangannya, kemudian bibirnya dan yang terakhir kakinya juga ikut-ikutan bergerak.
“Ha ha memang benar-benar anak kecil” tata Amir dalam hati.
“Ada Kak!” ucap Adit sontak. Amir kaget menengar ucapan Adit barusan. Dia berteriak. Padahal baru saja dia memikirkan hal-hal lucu tentang Adit.
“Bagaimana seragamnya. Coba jelaskan pada kakak”
“Warnanya Ungu. Kotak-kotak dan ada jasnya berwarna abu-abu”.
Amir mencoba mengingat seragam dari SMA mana itu. Walaupun dia tidak pernah menganyam bangku pendidikannSMA. Tapi dia sangat mengikut perkembangan jaman tentang SMA-SMA yang ada di Bandung. Dia kembali mengais ingatan dalam otaknya. Akhirnya dia menenemukan juga seragam dari SMA mana yang dimaksud Adit itu. Aamir tak mengira bahwa kakaknya Adit itu sekolah di sekolah dimana dai tulu bekerja menjadi petugas penjaga kebersihan.
“Kakak tahu dimana sekolah kakakmu. Besok kamu di rumah ya, kakak mau ke mencari kakakmu”.
Adit kegirangan mendengar ucapan Amir.dia berlari-lari mengitari Amir sambil menyanyi.
Kakakku sayang, kakakku sayang
Aku cinta kepadamu
Walaupun jelek tapi kau baik
Walaupun nakal tapi ku sayang
Amir geli mendengar lagu yang baru Adit nyanyikan. Amir mengejek Adit.
“Berarti kak Amir jelek donk?”
Adit tertawa lepas. Dia mengangguk. Amir lalu mencubit pipinya yang cabby itu. Lalu menggendongnya dan menjungkir balikkan Adit di gendongannya.
“Nanti kalau kamu tetap bilang Kak Amir jelek, kakak akan menjatuhkanmu” canda Amir. Tak mungkin Amir tega menjatuhkan Adit. Namun Adit ternyata menganggap Amir serius dengan ucapannya.
“Ja..jangan kak. Aku takut. Kak Amir ganteng kok. Ganteng seperti spiderman” jawabnya sambil membentuk tangannya seperti huruf V. Amir menggeltik tubuh Adit kemudian mencubit pipinya.
“Kok ganteng seperi spiderman. Berarti kak Amir ini manusia laba-laba ya”
Adit hanya tersenyum.
“Sebenarnya aku tahu mungkin hanya tokoh itu yang Adit tahu. Karena dia seringnya melihat film kartun spiderman. Tidak mungkin juga aku harus menyuruh bahwa aku ganteng seperti Robert Pattison yang salah satu aktor favoritku sejak kecil. Adit tak mungkin tahu dengannya” batinku.
Lalu Amir menurunkan Adit dan mencubit pinya lagi.
“Tapi janji nanti waktu Kak Amir pergi kamu tidak boleh kemana-mana ya. Kamu harus berada di rumah” ucap Amir sambil mengulurkan tanganya pada Adit sebagai janjinya. Adit membals uliran tangan Amir dan ia menyipitkan matanya seraya engucapkan “Pasti kak. Aku khan tidak nakal”.
**
0 komentar:
Posting Komentar