MENARI DI ATAS SUNGAI MUSI
OLEH TANIA PRAMAYUANI
![]() |
| pictures from http://www.kompasiana.com |
Waktu berbuka disini lebih akhir daripada waktu berbuka di Tulungagung. Kalau di Tulungagung pukul 17.45,maka disini pukul 18.45.Ya begitulah keseharian yang aku alami. Semua jadi menyenangkan karena ada Ana, sahabat terbaikku. Apabila aku kesulitan Ana selalu mau membantuku. Walaupun aku sudah 2 tahun tinggal disini, tapi aku masih saja merasa asing dengan daerah ini.
Aku dan Ana sudah merencanakan puasa tahun ini akan ngabuburit sama-sama.
"Ni,nanti pulang sekolah jadi gak?"tanya Ana padaku saat kita pulang sekolah naik angkot.
"Pasti jadi. Aku sudah lama menantikan saat ini. Sayang kalau dilewatkan," jawabku dengan penuh semangat.
"Oke dech, nanti pulang sekolah kamu kerumahku. Dan jangan lupa untuk ijin pada ibumu. Nanti dicari lagi seperti dulu".
"Tenang aja, kali ini aku bakalan jujur jok. Aku pasti kan kalau aku mau ngabuburit keliling Palembang,” jawabku sambil meyakinkan Ana.
**
Tak mau aku berlama-lama di rumah, sepulang sekolah setelah ganti baju dan ibu memberikan ijin padaku, aku langsung pergi kerumah Ana.
"Ayukmu2 ada ga? bilangin dicari ayuk Nia," kataku ke Icha yang duduk mainan boneka diserambi rumah.
"Ada yuk, sebentar saya panggilkan dulu. Ayuk tunggu dulu ya," jawab Icha sambil meletakkan bonekanya dan menyertakan kursi untukku supaya aku duduk.
"Iya, trimakasih"
Aku langsung duduk.
Ternyata Ana lama sekali. Aku tunggu gak keluar juga.Tapi tak apalah,Ridwan adiknya nemenin aku.
"Ayuk, ngapain duduk disitu? itu kursi aku. Jadi yang boleh duduk disitu cuma aku," ngebentak aku dengan mata melotot.
"Hihihi..biyasa aja brow. Aku dnyewa kok duduk disini," jawabku dengan tertawa kecil.
"Nyewa!? mana uangnya?? jangan bohong ya yuk! aku sulap nanti!!!"
Sambil mengulurkan tangan ke arahku.
"Oohh..mau bayaran ya!!! baik aku bayar sekarang," jawabku meyakinkan. Aku tak mengeluarkan uang sepeserpun. Tapi aku mengeluarkan selembar kertas dan bolpoin. Ridwan aku suruh mengambil kalkulator.Tentu saja Ridwan marah.
"Uangnya mana? kok malah disuruh ngambil kalkulator".
Aku menjawab dengan tegas sehingga membuat Ridwan takut.
"Udahlah jangan banyak tanya.Cepat ambil sana!!!".
Dalam hati aku tertawa. Aku pikir aku cukup sadis juga.
Setelah semua yang dibutuhkan lengkap, aku coba melakukan sebuah permainan ala mathmagic. Tentu saja dia bungung kenapa aku bisa tau hasilnya. Bahkan dia menuduh aku curang.
"Ayuk curang. Mana mungkin sich Ayuk tau hasilnya. Padahal khan belum diketahui". Dengan santai, tenang dan sedikit menyombongkan diri aku jawab,
"Iya donk,,!!siapa dulu? adiknya Kak Joe Sandy khan punya bakat seperti kakaknya. Hahaha..Itu tadi sudah termasuk bayaran untuk kamu. Karena itu tadi ga gratis. Kak Joe saja dapet bayaran ngelakuin itu. Jadi aku hitung show kali ini juga ada bayarannya". Ridwanpun pergi meninggalkan aku.
"Hahaha,,sukurin dech aku kerjain," tawaku dengan bangga.
**
"Huft..lama banget Ana. Satu jam nunggu sampai tua aku,"gerutuku ngomel sendiri. Akhirnya Ana keluar juga.
"Maaf ya Nia. Tadi aku harus nyuci baju dulu dan ngepel dulu. Maklum, cinderella era reformasi ya seperti aku ini. Cuma pangerannya masih dalam mimpi. Hahaha..".
Akupun tertawa mendengar penjelasannya. Dia selalu bisa membuat diriku jadi tak marah lagi padanya.
"Iya ga papa. Ayo sekarang kita berangkat. Keburu buka nanti".
"Ayo," jawab Ana dengan menarikku mengajak untuk mencari angkot.
**
Dua kaki naik angkot rasanya capek sekali. Mana pas lagi penuh angkotnya. Tapi semua itu hilang saat aku sampai di Pasar 16 ilir. Pasarnya deket dengan Sungai Musi. Ramai sekali yang datang. Ana menarik-narik tanganku terus. Mungkin dia takut kalau aku hilang. Aku khan belum tau banyak tentang Palembang.
Di Pasar 16 ilir aku mencari makanan khas Tulungagung. Ada juga makanan yang juga ada di Tulungagung, namun beda namanya. Disini aku membeli pempek kepal selem, makanan khan Palembang. Aku sendiri juga belum pernah meraskannya, makanya aku penasaran dan membelinya. Pempek Kepal Selem paling mudah dicari kalau lagi bulan puasa seperti ini. Besarnya itu sebesar dua kepalan tangan orang dewasa.
"Waw,,ini besaa banget. Makan satu pasti sudah kenyang ni," kataku ke Ana.
"Iya pasti itu"jawab Ana.
Pempek ini, isinya telur. Dibuat dari air, sagu, dan daging giling. Makannya itu menggunakan cuko-Cukonya dijadiin seperti kuah. Dicampur timun dengan udang kecil-kecil yang halus. Lihat saja sudah ngiler.
"Hemm..nyami!!"masih lama ni bukanya," bilangku ke Ana dengan mencium terus aroma pempek.
**
Puas memborong makanan di Pasar 16ilir, kami menuju ke tempat selanjutnya yaitu di BKB(Benteng Kito Besak). BKB berada di pinggir Sungai Musi. BKB adalah pusat Kota Palembang. Saat ngabuburit di BKB sarat dengan pengunjung. Tak hanya lokasinya saja yang strategis. Di BKB aku bisa melihat kapal-kapal kecil, Jembatan Ampera, pohon-pohon dengan berbagai macam lampu dan air mancur di Masjid Agung. Di dekat BKB juga ada restoran apung. Aku berencana saat berbuka nanti, makan disitu.
Suasana yang indah ini tentunya ingin selalu aku kenang. Aku meminta Ana untuk memfotoku di Perahu Ketek.
"Tolong fotoin aku ya, nanti setelah ini giliran aku yang memfoto kamu".
Ana mengeluarkan handphone dan mengatur kameranya.
"Baik. Jangan begitu donk gayanya. Agag diatasin dikit tanganya,"suruh Ana.
"Baikla. Bagaimana sudah oke?"tanyaku
."Sudah. Ini baru sip," kata Ana sambil tersenyum.
**
Tak disangka waktu berbuka telah tiba. Secepatnya aku tarik tangan Ana dan aku ajak dia makan di restaurant apung. Aku penasaran sekali.
"Ayo cepat An, nanti kita kehabisan tempat lho!!"
"Sudah jangan tergesa-gesa. Kalau kita kehabisan tempat kita makan di atas Jembatan Ampera saja.
Hahaha"canda Ana.
"Ayolah An,,!!"aku bersikeras mengajak dan agag sedikit manyun.
Sebelum ke restourant apung, kami sudah berkunjing ke Masjid Agung. Masjidnya besar sekali. Mempunyai dua lantai. Kutemui orang Jawa disana.
"Nyuwun sewu,panjenengan nopo tiyang Jawi?"3tanyaku.
"Inggih"4 jawabnya dengan lembut. Seneng sekali bisa bertemu orang sedarah disini.
**
Kami makan terlalu kenyang, sehingga kami tak kuat pulang.Tak sengaja kami bertemu dengan Kak Rhomedal dan Kak Deny. Mereka adalah magician terkenal di Indonesia.
"Waduch,senengnya. Di jawa aku tidak bisa bertemu dengan mereka.Echh .. malah disini aku ketemu mereka, memang bener mujur nasibku," kataku ke Ana.
Aku dan Ana menghampiri Kak Rhomedal dak Kak Deny. Dengan ramah mereka menyambut kami.
"Permisi kak, bolehkah kami bergabung?"tanyaku.
"Ooh tentu, silakan," jawab Kak Deny dengan senyum.
Aku banyak bertanya tentang magic pada Kak Rhomedal dan Kak Deny.Ternyata menyenangkan sekali dan beda banget kalau langsung tanya ke pakarnya.
"Kak,kalau aku pengen seperti kakak mudah ga caranya?"tanyaku.
"Mudah sekali. Kuncinya hanya sering berlatih dan Percaya Diri bahwa kamu bisa melakukannya,"jawab Kak Rhomedal.
"Kakak mau tunjukin ke kami?"minta Ana.
"Boleh," jawab Kak Rhomedal dan Kak Deny bersamaan.
**
Pertama di mulai dari Kak Rhomedal. Kak Rhomedhal mainin gelas dan piring.
"Wow!!hebat kak," sanjungku dengan terpana melihat aksi Kak Rhomedal.
Kak Rhomedal bisa mengubah warna air yang semula putih menjadi merah dan piring yang sudah terbelah menjadi utuh kebali.
"Memang benar-benar hebat,"kataku dalam hati.
Selanjutnya Kak Deny.Kak Deny adalah ahli hipnotis. Aku minta Kak Deny supaya dia memberikan sugesti kepadaku yang mustahil dilakukan orang lain dan supaya akupun benar-benar percaya kalau hipnotis itu memang benar-benar ada.
"Aku setuju kak,nanti aku akan merekam aksi Nia," seru Ana sambil mengeluarkan handphonennya.
"Baiklah,dimulai sekarang ya. Dengarkam sugesti saya dan rasakan tiap hitungan makin lama anda semakin tertidur,"kata Kak Deny.
Perlahan-lahan akupun tertidur.
Aku tak tau kejadian apa yang aku alami. Aku serasa tak sadar dengan hal-hal yang aku lakukan. Kata Ana waktu aku dihipnotis, aku lari menuju Jembatan Ampera. Aku naik ke atas dan aku melentangkan tangan sambil berteriak
"Akulah sang ratu Ampera"
Anehnya saat itu aku tidak terjatuh. Tentu saja semua orang memperhatikan aku. Aku sampai dikira mau bunuh diri.
"Jangan terjun ke Sungai Musi Kak!"teriak seorang anak kecil padaku.
Setelah itu aku disugesti supaya aku bisa berjalan di tepi restaurant. Aku berkeliling mengelilingi restourant apung dan yang mengejutkan aku bisa berjalan diatas air.
"Waduh gimana kalau sampai Nia nyungsep ke dalam air," cemas Ana yang menanyakan hal itu pada kak Deny.
"Sudah tenang. Dia Bakalan seimbang di atas air. Dia tidak akan tengelam," jawab Kak Deny. Kak Rhomedal tertawa melihatku. Bagaimana tidak ketawa kalau aku menari-nari di atas Sungai Musi. Dengan lemah gemulai layaknya putri Solo.
"Hahaha..hebat sekali ya aku," sanjungku saat aku melihat vidionya. Tapi aku juga berfikir kalau aku seperti orang gila saat naik Jembatan Ampera.
Kak Deny memang baik sekali. Setelah dia mensugesti aku, kami berdua minta foto bareng. Mereka dengan senang hati mengijinkannya. Aku berpose senarsis mungkin. "Jarang-jarang bisa berfoto bareng magician faforitku,"kataku
**
Tak terasa ternyata sudah lewat jam 11 malam. Sepertinya saat dirumah nanti aku bakalan di damprat sama ayah.
"Aah..masa bodo! yang penting hari ini heppy," pikirku. Kami berpamitan dengan Kak Rhomedal dan Kak Deny. Kamipun pulang ke rumah. Akirnya dibukakan juga. Aku berlari menuju kelas 9.5.
"Assalammu'alaikum,"sapaku ke bu guru dan teman-teman.
Ech teman-teman malah pada melihatku dan terdiam. Hanya Bu guru yang menjawab salamku.Lama-kelamaan mereka malah pada tertawa terbahak-bahak dan suasana kelas menjadi kacau.
"Diam anak-anak. Tenanglah!!"teriak bu guru.
Bu guru menyuruhku masuk dan menanyaiku
"Dari mana saja jam segini baru datang?".
"Maaf Bu, saya tadi bangunnya kesiangan. Kemarin saya baru ngabuburit sampai tengah malam,"jelasku.
"Lihatlah itu seragammu?"kata bu guru sambil menunjuk seragamku.
"Memang ada apa?"segera aku lihat seragamku.Tak diduga ternyata aku pakai rok terbalik. Sangking cepat-cepat sampai lupa rok tidak aku puter ke belakang lagi. Dan lucunya aku masih mengenakan sandal merek SWALOW serta yang aku bawa ke sekolah bukan tas sekolah. Melainkan ransel ayah. Karena tas sekolah dan ransel ayah ditaruh di tempat yang sama. Jadi aku salah ambil. Pantes saja dari tadi aku dilihatin orang. Memang gayaku aneh dan memalukan.
"Besok lagi jangan diulangi ya,cukup sekali ini saja," tutur bu guru padaku.
"Iya bu," jawabku sambil menundukan muka karena malu. Teman-teman malah melanjutkan tertawanya.
Aku segera duduk di bangku dan Ana bertanya padaku, "Kamu bagaimana kok sampai jam segini? jangan-jangan sugestinya kemarin masih ada ya ? hahhaha".
Dengan kesal aku jawab," temennya malu malah tidak semangati. Ech tapi malah diketawain.Huft!!!"
."Hahaha, iya maap dech," kata Ana sambil mengulurkan tangan ke aku.
"Iya aku maafin," balasku.
Bagiku ini sudah cukup amat memalukan. Walaupun awalnya menyenangkan, tapi akirnya memalukan.
"Aku berjanji akan lebih disiplin lagi dalam membagi waktu. Mana yang termasuk belajar dan mana yang temasuk santai," kataku dalam hati.
***** SELESAI ******
1. Salah satu makanan khas daerah Tulungagung yang terbuat dari gula merah
2. Kakak permpuan
3. Permisi, anda apa orang Jawa?
4. iya

0 komentar:
Posting Komentar