BOTOL TEKI
Oleh
Tania Pramayuani
![]() |
| picture from http://mirefasdiary.blogspot.co.id |
Botol warna biru muda
dengan ukuran panjang tidak lebih dari dua puluh sentimeter sedari tadi terus
aku pegang dan aku membolak-balik botol tersebut. Aku selalu heran dan kagum
dengan pemilik botol ini. Kenapa dia membuang botol seperti ini di tengah hutan
yang jarang dijangkau manusia. Bening dan terlihat bersih. Aku suka memandang motif
kupu-kupu di bagian diameter botol. Dan yang paling membuat aku penasaran
adalah siapa pemilik botol ini serta tentang kertas merah muda di dalam botol.
Dari dalam botol itu aku menemukan sebuah kertas yang isinya menceritakan
kesedihan dan sekaligus sebuah harapan. Jika aku menyimpulkan, kertas yang ada
dalam botol ini merupakan tulisan perempuan. Tulisannya berderet rapi dan
indah. Bahkan lebih indah dari tulisanku. Aku penasaran, dan di setiap lamunan
kosong hariku, aku selalu berteman dengan botol ini.
“Ma, Pak Indra
memanggilmu”
Tiba-tiba aku kaget saat
teman sekantorku memecah lamunanku. Hampir saja botol yang aku pegang ini
jatuh. Untung belum sampai jatuh dan segera aku menyembunyikan botol ini dari
teman kantorku.
“Ada apa ya, Ndah?” ini
masih jam istirahat.
“Tidak tau, Ma. Sebaiknya
kamu segera datang. Sepertinya ini masalah penting. Soalnya aku tadi melihat di
samping Pak Indra juga ada Pak Doni. Mungkin hal ini seputar kolom yang kamu
ajuin kemarin” kata Indah. Kemudian Indah pergi meninggalkanku. Dia mengatakan
kalau dia mau makan siang di kantin belakang kantor.
“Iya udah, aku kesana
sekarang. Terima kasih ya. Oh iya Ndah, aku nitip juga beliin pastel daging ya.
Tadi masih antri waktu aku kesana jadi enggak sempat membeli”
“Okay, Ma. sip”
Aku segera bangkit dari
dudukku dan pergi menuju kantor. Sebelum menemui Pak Indra, aku memasukkan
botol itu di laci mejaku. Kemudian aku pergi menemui Pak Indra.
“Assalamu’alaikum” sapaku
sambil membuka pintu ruangan Pak Indra.
Keempat mata yang sedari
tadi sibuk berpandangan penuh keseriusan kini semua menoleh ke arahku. Aku
serasa jadi tersangka kasus pembunuhan yang diintai oleh banyak mata.
Masalahnya, aku melihat mata sinis dari Pak Doni. Kalau masalah Pak Indra,
memang sudah bawaannya dari dulu Pak Indra orangnya sinis. Semua karyawannya
disini takut kalau sudah bertemu pandang dengan Pak Indra. Sebenarnya Pak Indra
itu orangnya baik, hanya saja pembawaannya yang seperti itu.
“Duduk, Ma” Pak Indra mempersilakan aku duduk dan tidak
biasanya Beliau sendiri yang mempersilakan kursi untukku. Kali ini, aku duduk
berdampingan dengan Pak Doni. Dia tersenyum simpul kepadaku.
Suasana hening, Pak Indra
mulai merangkai kata-katanya. Aku gemetaran, aku berpikir bahwa Pak Indra akan
membicaran soal kolom yang sempat aku ajukan kemarin. Jika hal ini benar, ini
berarti akan ada kolom baru dalam redaksi yang kami buat.
“Ma, setelah saya
bicarakan lebih lanjut dengan Pak Doni mengenai kolom yang kemarin sempat kamu
ajukan. Sepertinya kolommu itu akan menjadi daya tarik baru bagi majalah kita.
Apalagi majalah kita sejauh ini belum membahas hal spesifik tentang citra
Indonesia di negara luar. Kami menyetujuinya. Dan Pak Doni sepakat untuk
mempersiapkan segala keberangkatannmu”
Seketika aku shok. Aku tidak mengira sama sekali jika
yang akan ditugaskan itu adalah aku. Padahal aku hanya mengira kalau yang
ditugaskan nantinya adalah Mas Alam, soalnya Mas Alam lebih senior daripadaku. Apalagi
aku baru tiga bulan bekerja disini, rasanya tak pantas aku menerima tugas ini.
“Alhamdulillah kolom itu
akhirnya masuk. Tapi, masalah keberangkatan kesana, saya kira Mas Alam lebih
pantas. Saya khan masih baru disini, dan Mas Alam juga pasti mau penugasan
disana” kataku. Sebenarnya dalam hati aku mau, tapi aku merasa tidak nyaman
dengan teman-teman seniorku.
“Prama, kamu nanti tidak
sendirian kesana. Ali akan menemanimu. Tadi pagi saya sudah membicarakan hal
ini dengan Ali dan Ali sepakat” kata Pak Doni meyakinkanku
“Tapi, Pak saya ti...”
“Sudahlah Ma, pokoknya
seminggu lagi kamu berangkat ya. Pak Doni sudah mempersiakan karyawannya juga
untuk mendampingmu. Kalian nanti bertugas sama-sama. Saya tidak mau kolom ini
gagal. Karena kolom ini usulanmu, jadi saya mempercayakan hal ini kepamu” kata
Pak Indra. Pak Indra sudah mulai geram denganku karena aku terus menolak. Aku
sudah tidak berani lagi membantah perintah Pak Indra. Aku pun mengangguk dan
kemudian meninggalkan tempat. Dalam hati ada rasa senang sekaligus rasa tidak
enak dengan teman-teman sekantorku. Aku keluar ruang Pak Indra dengan wajah
kusut, hingga Mas Alam, wartawan senior, menanyaiku. Makhlumlah, jika Mas Alam
langsung menanyaiku, masalahnya Mas Alam mejanya tepat berada di depan ruang
Pak Indra. Jadi dia tahu siapa saja yang baru saja keluar masuk kantor Pak
Indra.
“Ama, kenapa? Jangan sedih.
Bagaimana kamu setujukah?” tanya Mas Alam dengan mata keingintahuannya. Mas
Alam malah tidak menampakkan wajah ketidaksukaannya. Aku justru sangat kaget
karena sepertinya Mas Alam sudah tahu tentang hal ini.
“Kok Mas Alam bisa tahu?”
tanyaku heran
“Iyalah, Ma aku tau.
Soalnya semalam Pak Indra chat personal denganku. Jadi aku tahu semuanya.
Setuju ya, deal berangkat. Aku akan membantu mempersiapkan semuanya” kata Mas
Alam. Mas Alam sungguh antusias mengirim aku kesana. Aku jadi penasaran dengan
hal ini dan aku menanyakan hal ini dengan Mas Alam.
“Jangan-jangan Mas Alam
yang telah merekomendasikan aku supaya aku yang berangkat ya?”
Mas Alam hanya tersenyum
dan tidak menjawab. Dari raut wajahnya sepertinya memang Mas Alam yang telah merencanakan
hal ini. Sekantor ini hanya Mas Alam yang paling dipercaya Pak Indra.
“Sudalah Ma, ini
kesempatanmu. Inilah saatnya kamu mencari pengalaman di negeri orang. Ini khan
juga salah satu mimpimu” kata Mas Alam. Mas Alam terus meyakinkanku.
**
Sudah enam hari sejak
adanya berita itu. Aku masih tidak percaya jika aku yang benar-benar pergi. Aku
sudah bersiap-siap. Dan Mas Alam yang membantuku menjelaskan kepada semua
karyawan disini, hingga akhirnya tidak ada satupun dari mereka yang keberatan.
Bahkan mereka semua mendukungku. Hari terakhirku di kantor redaksi ini,
dipenuhi banyak tawa. Rekan-rekan menyemangatiku dan kami semua banyak bercanda.
“Ama, nanti bawakan aku
cowok Eropa ya. Dan sekalian nitip salam juga untuk Dia” kata Indah sambil
terkekeh. Semua teman sekantor menyuraki Indah. Dan Mas Alam menimpali juga.
“Bawakan saja kerikil
Eropa, Ma. Nanti bisa buat pajangan meja Indah” ledek Mas Alam pada Indah
“Ah, itu mah sebenarnya
karena Mas Alam iri khan. Ngaku saja Mas sebenarnya Mas Alam khan yang ingin
menemani Ama. Bukan sama si Ali dari redaksi sebelah”
“Enggaklah, Ndah. Khan
banyak pekerjaan disini. Siapa yang akan mengurus jika aku pergi. Udah lah
mendingan kita siap-siap buat Ama dan besuk pagi kita antar Ama ke bandara”. Jawab
Mas Alam ketus. Suasana mulai tegang saat Indah mengatakan hal itu. Mas Alam
tidak mencair lagi bawaannya. Aku hanya tersenyum melihat mereka berdua seperti
itu. Dan jarang aku pikirkan apapun yang mereka katakan.
Waktu keberangkatan sudah
tiba, tepat pukul tujuh pagi, Pak Indra dan Mas Alam mengantarku ke bandara.
Disana aku juga bertemu dengan Pak Doni dan Ali. Aku belum kenal dengan Ali.
Bagaimana karakternya, dia baik ataukah buruk, nanti bisa kerjasama atau tidak
masih menjadi pertanyaannku. Aku sempat dengar dari teman sekantorku kalau Ali
adalah kepercayaan Pak Doni dari radaksi sebelah. Memang rencanya, redaksi
kantorku dan redaksi kantor Pak Doni akan bekerja sama mengangkat kolom ini. Mungkin
kerjasama yang dimaksud hanya sebatas kerjasama masalah peliputan beritanya.
Masalah pemuatannya tentu akan sesuai dengan ideologi instansi kami
masing-masing.
“Ama, kenalkan, ini Ali.
Dia yang akan bekerjasama denganmu” kata Pak Doni
Ali tersenyum menyapaku
dan aku pun juga sama. Dua bulan ke depan, laki-laki yang tingginya dua puluh
sentimeter di atasku ini yang akan bekerjasama denganku. Aku berhusnudzan saja dengannya.
Aku dan Ali berada dalam
satu tempat duduk. Sebelum sampai di negara tujuan, kami sempat bercerita
tentang asal mulanya sampai bisa terjun ke dunia tulis-menulis. Ternyata cerita
yang kami punya hampir sama. Ali, yang ternyata adalah mantan ketua OSPAM di
salah satu pondoknya juga tidak mengira kalau akhirnya bisa terjun ke dunia
tulis menulis. Dia memang seorang aktivis pondok. Waktu kuliah, dia sering ikut
kegitan sosial ke luar kota. Dan hal yang cukup membuatku kaget, pria yang
berciri khas selalu berkalung bolpion ini hafal Al Qur’an 30 juz. Dari
penampilannya aku sudah tak menyangka kalau teryata dia alumni Pondok. Terus
saat berbicara denganku selalu nyambung dengan ayat-ayat Al Qur’an yang aku
bahas dan dari situlah aku mulai tahu. Dia sering melanjutkan bacaanku kalau
aku lupa. Dari sini aku mulai sedikit tenang. Setidaknya Ali bukan orang yang
jahat, dan pemikirannya sedikit sama denganku.
Setibanya disana, kami
langsung dijemput oleh rekan kami dari Indonesia yang menjadi korespondensi
disana. Kami diantar ke kos masing-masing. Ali ikut bersama Fauzi, orang yang
menjemputku. Sedangkan aku diantar ke apartemen korespondensi perempuan dari
Indonesia. Besuk pukul sepuluh, kami akan bertemu dengan pemilik redaksi dari
salah satu redaksi di Turki yang bekerjasama dengan redaksi kami.
Kondisi di negara yang
pernah menjadi pusat kejayaan islam masa lalu, tak seburuk yang aku pikirkan.
Aku juga bertemu orang Indonesia di negeri ini. Jadi Adaptasiku tidak terlalu
sulit. Aku menata barang-barangku dan tak lupa aku membawa botol kupu-kupu yang
selalu ada di laci meja kerjaku. Dan seperti biasa, saat aku keluar kantor dan
terjun ke lapangan, aku akan masukkan botol itu ke dalam ransel yang setiap
hari aku bawa.
Enam hari dalam seminggu
aku mendapatkan jam kerja. Begitu juga dengan Ali. Walaupun kami satu negara,
tapi kami jarang bertemu. Mungkin hanya dua kali dalam seminggu kami liputan
bersama. Kali ini aku dan Ali mendapat waktu yang sama untuk liputan. Karena
lelah, kami mencari tempat istirahat. Tepat di dekat Blue Mosque, kami makan
siang. Disana muslim lumayan banyak, dan kami memilih restoran yang khusus
muslim. Kebetulan juga pemilik restoran mempunyai sepupu orang Indonesia.
Saat aku memesan makanan,
aku tidak sadar kalau ranselku terbuka. Ali mengambil kamera di ranselku karena
dia penasaran dengan foto apa yang sudah aku dapatkan disini. Saat aku kembali
ke mejaku, aku melihat Ali sedang melihat foto-fotoku.
“Jelek hasil jepretanku.
Jangan dilihat ya” kataku
Tapi Ali hanya diam. Dia
seperti terfokus pada satu gambar yang ada di kameraku. Sepertinya dia sedang zoom out gambar tersebut. Dia hanya diam
dan apapun yang aku ucapkan tidak dijawabnya.
Tiba-tiba dia menunjukkan
kepadaku salah satu foto di kameraku. Aku kaget kalau ternyata Ali fokus pada
foto botol itu. Aku memang memfotonya di kameraku. Wajah Ali jadi serius,
suasana menegang. Aku sudah mencoba mencairkan suasana dengan mengalihkan
pembicaraan mengenai makanan yang baru saja kami pesan. Tapi Ali tetap serius.
“Ama, kamu dapat botol
ini dari mana? Apa kamu sudah membaca isinya?” tanya Ali penasaran. Aku tidak
menjawab dan masih fokus dengan makanku. Sepertiya Ali mulai tidak senang
karena tidak aku respon.
“Prama, jawab aku. Kamu
dapat botol ini dari mana?” gertaknya.
Aku langsung menghentikan
makanku. Aku sebenarnya tidak suka Ali bersikap seperti itu kepadaku. Akhirnya
aku menjawabnya dengan singkat.
“Dari hutan. Tiga tahun
lalu saat aku mendaki” jawabku kemudian aku melanjutkan makan lagi.
Ali terus melihat foto
itu dan tiba-tiba keluar kata-kata dari mulutnya.
“Aku tau siapa pemilik
botol ini”
Aku langsung tersendak. Aku
menghentikan makanku dan menanyakan hal ini pada Ali.
“Siapa? Kenalkan aku ke
pemilik botol ini”
“Dia ada disini”
Aku tambah tidak percaya
lagi kalau ternyata pemilik botol itu ada disini.
“Aku yang membuang botol
ini ke hutan waktu kami dulu melewati hutan. Kalau kamu mau besuk kamu aku
antar ketemu dia”
Tentu aku mengangguk dan
aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.
Hari itupun datang, Ali
mengantarkanku bertemu dengan orang itu. Aku tidak banyak bertanya dengan Ali
karena aku ingin tahu sendri dari orang yang bersangkutan. Aku pun tiba di
rumahnya, dan aku menunggu di gerbang. Sementara Ali masuk dan mengetuk pintu
rumahnya. Seorang wanita turki muda membukakan pintu dan dia sempat ngobrol
dengan Ali. Tak lama berbincang dengan wanita turki itu, Ali menghampiriku. Ali
bilang bahwa pemilik botol dapat ditemui nanti sore. Akhirnya kami pulang.
“Siapa wanita turki
tadi?apa dia temannya?” tanyaku
“Bukan, dia adalah Ibu
angkatnya” aku hanya mengangguk dan tidak menayakan hal lain lagi pada Ali.
Sekali lagi banyak pertanyaaan yang
bersarang di otakku.
**
Waktu sorepun tiba, aku
tidak mau melewatkan kesempatan untuk bertemu wanita yang menulis surat botol
itu. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa bertemu orang yang menulis surat
botol itu disini, di negeri impianku.
Aku dan Ali menunggu di
dekat Blue Mosque, Ali mengatakan padaku kalau pemilik botol akan menemui kami
disini. Tak lama kemudian, sosok lelaki berwajah indonesia datang menghampiri kami.
Dia fasih dalam berbahasa Indonesia dan dia mengenakan kaos dengan celana
panjang. Tingginya sama dengan Ali. Hanya dia mempunyai mata sipit dan kulitnya
putih bersih.
“Assalamu’alaikum”
sapanya.
Kami semua menjawabnya
dan dia sepertinya sudah akrab dengan Ali. Mereka berdua ngobrol menggunakan
bahasa arab. Aku sedikit mengerti apa yang mereka katakan. Dan ternyata mereka
juga membahas masalah botol itu.
“Anti, Prama?” tanya
lelaki itu
“Iya, Masnya kog tahu
namaku ya?” tanyaku heran
Orang itu tiba-tiba
mengatakan sesuatu yang membuatku tak percaya. Aku sempat kaget dengan apa yang
diucapkannya dan ternyata apa yang aku pikirkan selama ini salah.
“Aku yang menulis surat
botol itu. Dan saat itu Ali yang membuangnya ke hutan. Aku tak tahu jika surat
itu dibuang oleh Ali. Aku mencari-cari. Aku takut jika ada yang membaca isinya.
Dan perkenalkan, saya Anwar ” katanya
Aku sampai lupa membalas
perkenalannya dan aku malah gantian menanyainya “Tapi aku sudah membaca isinya.
Bagaimana?” kataku.
Lelaki yang sedikit
beretinis cina dan berhidung macung itu diam. Seketika tak berkata-kata
kemudian tak lama kemudian mulutnya membuka.
“Aku tahu kalau kamu
sudah membaca isinya dan aku memang
sengaja ingin bertemu denganmu. Alam yang telah memberitahu padaku kalau kamu
yang menemukan botol itu” katanya
“Kog bisa Mas Alam? Jadi
selama ini Mas Alam sudah tahu. Jangan-jangan ini rencana Mas Alam mengirim aku kesini”
“Iya itu memang rencana
Alam. Saat dia tahu kalau usulan kolommu itu diterima. Dia langsung
merekomendasikanmu ke Pak Indra. Alam adalah sepupuku”
Aku tambah kaget lagi.
Lalu aku menanyakan kenapa di surat itu aku menemukan sebuah kesedihan dan aku
mengira kalau yang menulis surat itu adalah seorang perempuan. Lantas apa yang
aku lihat sekarang sungguh berbeda.
“Dalam surat yang aku baca,
aku menemukan perasaan sedih” kataku
Dia berguman. Dia dan Ali
saling pandang. Lalu Ali mulai bicara.
“Saat itu adalah saat
dimana kami masih di pondok, Ma. Anwar saat itu frustasi berat masalah keluarganya.
Saat di pondok, keluarganya di rumah terkena musibah. Ibunya meninggal. Dia
memutuskan untuk tidak mondok lagi, dan hafalanya saat itu sudah dua puluh juz.
Akhirnya aku mengajakknya jalan-jalan untuk menghilangkan kepenatannya dan aku
menyuruh dia untuk menulis sebuah harapan dan hal apapun yang dikeluhkannya. Kemudian
saat kami jalan-jalan melewati hutan, aku tak memberitahu Anwar kalau aku
mengambil dan membuang botol itu dan setelah sampai pondok baru aku memberitahunya.
Aku berharap dengan membuang botol itu masalah yang dihadapi Anwar hilang
juga.” Mata Ali mulai berkaca-kaca dan kemudian dia melanjutkan pembicaraan
lagi
“Anwar malu pada orang
yang membaca suratnya. Akhirnya dia terus mencari tahu siapa orang itu. Aku
juga meyakinkannya supaya dia tetap bertahan sampai khatam. Akhirnya Anwar
dapat lolos dari ujian itu. Dan terbukti siapa yang menjaga Al Qur’an maka
hidupnya akan dijaga.” Tak dikira sosok Ali yang aku kenal selama ini dapat
meneteskan air mata di depan perempuan. Dia buru-buru menyeka airmatanya. Dan
Anwar hanya tertunduk saat Ali menceritakan semuanya padaku. Lalu Anwar
mengangkat kepalanya dan mulai berbicara.
“Itulah yang sebenarnya
terjadi, Prama. Baru setahun ini aku mendapatkan beasiswa melanjutkan studi ke
sini dari pondokku. Jadi saat kami diwisuda, aku mengabdi di pondok hingga
akhirnya aku dapat beasiswa disini dan Ali memutuskan mengabdi di masyarakat
dengan pilihan menjadi jurnalis”
Aku masih tidak mengerti
dengan makna kebetulan. Kalau memang kebetulan kenapa semuanya teratur dengan
indah. Penuh dengan misteri dan tanda tanya kenapa semuanya bisa berbarengan.
Lalu aku menayakan satu hal lagi kepada lelaki yang bernama Anwar itu.
“Lantas kenapa Mas Anwar
ingin bertemu denganku dan bagaimana Mas Anwar bisa tahu dari Mas Alam?”
tanyaku
“Aku sudah tahu banyak
tentangmu dari Alam. Alam sering bercerita padaku kalau dia sering melihat
temannya memegang barang aneh. Aku mencoba memperjelas apa itu dan aku
meyuruhnya memfoto dan mengirimkannya kepadaku. Setelah aku lihat ternyata itu
adalah botolku. Aku banyak mencari tahu tentang orang yang kini memiliki
botolku. Hingga tak sadar aku telah menemukan sesuatu dalam pencarianku”
katanya. Jujur saja aku masih belum mengerti maksud Mas Anwar sebenarnya.
Kami berbicara panjang
lebar, suasana yang awalnya menegang mulai mencair dan Mas Anwar mulai dari
awal pembicaraan, dia tidak pernah menatap mataku. Begitupun aku tak berani
menatap matanya. Di tengah-tengah pembicaraan kami yang mulai menyenangkan,
kami banyak bercerita tentang pengalaman dan masalah perkembangan islam tentunya
di Turki ini. Apalagi Mas Anwar lumayan paham dengan seluk beluknya islam di
Turki dan masalah citra Indonesia di Turki. Hal ini tidak aku lewatkan, karena
aku memang sedang butuh narasumber. Dalam pembicaraan kami, tiba-tiba Mas Anwar
menyeletuk di sela-sela pembicaraan kami.
“Prama, maukah kamu
menikah denganku?” kali ini Mas Anwar menatapku. Aku melihatnya. Kaget. Aku langsung
menundukkan kepalaku.
Semua langsung diam.
Termasuk Ali yang sedari tadi cerewet langsung diam. Ali menatap Anwar tanpa
berkedip
“Menikah?” aku
memperjelas.
“Iya, Prama. Aku sudah
lama mencari informasi tentangmu dan inilah sebenarnya tujuanku dan Alam agar
kamu datang kesini”
“Anta bercanda ya, kalian
khan baru kenal masak nikah!” kata Ali tak percaya.
“Aku sudah mengenalnya
lama walaupun secara fisik baru hari ini kita bertemu” jelas Anwar.
“Anta gila ya, ta’aruf
aja belum masak langsung nikah?”
Anwar tak membalas apa
yang dikatakan Ali. Dia malah ganti bertanya denganku.
“Bagaimana Prama?”
Aku bingung mau menjawab
apa. Aku akhirnya memutuskan untuk pamit ke apartemen dan aku meninggalkan Mas
Anwar dan Ali disana tanpa alasan yang jelas. Mereka sepertinya sedang
membicarakan hal ini. Dan Ali seperti memarahi Mas Anwar. Sementara aku masih
sedikit belum percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Memang aku sangat
suka dengan botol dan kertasnya. Tapi bukan berarti aku suka dengan orangnya.
Sebenarnya aku sedikit tersinggung juga dengan cara Mas Anwar mengungkapkan
rasa sukanya padaku.
“Baru ketemu, kog
bisa-bisanya langsung mengajak menikah. Apa menikah itu semudah transaksi di
supermarket. Kurang sopan caranya. hhmmmmm” gumanku dalam hati.
Aku terus berjalan menuju
apartemenku. Dan tiba-tiba langkahku terhenti, handphoneku berbunyi. Aku
melihatnya dan ternyata ada nomer baru masuk. Aku buka pesan yang masuk dan
ternyata itu dari Mas Anwar.
Assalamu’alaikum,
Afwan
Prama, aku terlalu cepat mengambil keputusan. Dan tolong jangan dipikirkan apa
yang tadi aku sampaikan. Memang semuanya butuh waktu. Memang aku terlalu
ceroboh. Afwan ya, Prama. Setidaknya berilah waktu untuk berta’aruf denganmu.
Dan Ali juga sudah memberitahuku kalau ternyata kamu masih ingin mencapai
mimpimu. Aku tak bermaksud merusak mimpimu. Aku akan menunggu dan bahkan aku
bersedia menemanimu menggapai mimpimu. Balas jika tidak sibuk.
Wassalamu’alaikum
Anwar
Aku hanya membacanya,
sedikit lega setelah aku membaca. Kemudian aku tutup handphoneku dan aku pulang
ke apartemen. Sungguh misteri botol dalam hutan tiada yang tahu jika akhirnya
botol itu mengantarkan aku pada mimpiku keliling dunia sekaligus mempertemukan
aku dengan cinta. Allah Maha Tahu mana-mana yang terbaik untuk hambanya. Kini
aku namakan botol yang aku bawa kemana-mana dan selalu ada di dekatku ini
dengan Botol Teki. Botol yang mengungkap banyak teka-teki yang tak pernah
terpikirkan olehku. Segala sesuatu itu tiada yang kebetulan, dan pasti semua
yang terjadi adalah bagian dari skenario Allah.

0 komentar:
Posting Komentar