Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

4/18/2017

Tagged Under:

My Cerpen

By: Catatan Tania P On: 01.50
  • Share The Gag
  • BOTOL TEKI
    Oleh Tania Pramayuani

    picture from http://mirefasdiary.blogspot.co.id

    Botol warna biru muda dengan ukuran panjang tidak lebih dari dua puluh sentimeter sedari tadi terus aku pegang dan aku membolak-balik botol tersebut. Aku selalu heran dan kagum dengan pemilik botol ini. Kenapa dia membuang botol seperti ini di tengah hutan yang jarang dijangkau manusia. Bening dan terlihat bersih. Aku suka memandang motif kupu-kupu di bagian diameter botol. Dan yang paling membuat aku penasaran adalah siapa pemilik botol ini serta tentang kertas merah muda di dalam botol. Dari dalam botol itu aku menemukan sebuah kertas yang isinya menceritakan kesedihan dan sekaligus sebuah harapan. Jika aku menyimpulkan, kertas yang ada dalam botol ini merupakan tulisan perempuan. Tulisannya berderet rapi dan indah. Bahkan lebih indah dari tulisanku. Aku penasaran, dan di setiap lamunan kosong hariku, aku selalu berteman dengan botol ini.
    “Ma, Pak Indra memanggilmu”
    Tiba-tiba aku kaget saat teman sekantorku memecah lamunanku. Hampir saja botol yang aku pegang ini jatuh. Untung belum sampai jatuh dan segera aku menyembunyikan botol ini dari teman kantorku.
    “Ada apa ya, Ndah?” ini masih jam istirahat.
    “Tidak tau, Ma. Sebaiknya kamu segera datang. Sepertinya ini masalah penting. Soalnya aku tadi melihat di samping Pak Indra juga ada Pak Doni. Mungkin hal ini seputar kolom yang kamu ajuin kemarin” kata Indah. Kemudian Indah pergi meninggalkanku. Dia mengatakan kalau dia mau makan siang di kantin belakang kantor.
    “Iya udah, aku kesana sekarang. Terima kasih ya. Oh iya Ndah, aku nitip juga beliin pastel daging ya. Tadi masih antri waktu aku kesana jadi enggak sempat membeli”
    “Okay, Ma. sip”
    Aku segera bangkit dari dudukku dan pergi menuju kantor. Sebelum menemui Pak Indra, aku memasukkan botol itu di laci mejaku. Kemudian aku pergi menemui Pak Indra.
    “Assalamu’alaikum” sapaku sambil membuka pintu ruangan Pak Indra.
    Keempat mata yang sedari tadi sibuk berpandangan penuh keseriusan kini semua menoleh ke arahku. Aku serasa jadi tersangka kasus pembunuhan yang diintai oleh banyak mata. Masalahnya, aku melihat mata sinis dari Pak Doni. Kalau masalah Pak Indra, memang sudah bawaannya dari dulu Pak Indra orangnya sinis. Semua karyawannya disini takut kalau sudah bertemu pandang dengan Pak Indra. Sebenarnya Pak Indra itu orangnya baik, hanya saja pembawaannya yang seperti itu.
    “Duduk, Ma”  Pak Indra mempersilakan aku duduk dan tidak biasanya Beliau sendiri yang mempersilakan kursi untukku. Kali ini, aku duduk berdampingan dengan Pak Doni. Dia tersenyum simpul kepadaku.
    Suasana hening, Pak Indra mulai merangkai kata-katanya. Aku gemetaran, aku berpikir bahwa Pak Indra akan membicaran soal kolom yang sempat aku ajukan kemarin. Jika hal ini benar, ini berarti akan ada kolom baru dalam redaksi yang kami buat.
    “Ma, setelah saya bicarakan lebih lanjut dengan Pak Doni mengenai kolom yang kemarin sempat kamu ajukan. Sepertinya kolommu itu akan menjadi daya tarik baru bagi majalah kita. Apalagi majalah kita sejauh ini belum membahas hal spesifik tentang citra Indonesia di negara luar. Kami menyetujuinya. Dan Pak Doni sepakat untuk mempersiapkan segala keberangkatannmu”
    Seketika aku shok. Aku tidak mengira sama sekali jika yang akan ditugaskan itu adalah aku. Padahal aku hanya mengira kalau yang ditugaskan nantinya adalah Mas Alam, soalnya Mas Alam lebih senior daripadaku. Apalagi aku baru tiga bulan bekerja disini, rasanya tak pantas aku menerima tugas ini.
    “Alhamdulillah kolom itu akhirnya masuk. Tapi, masalah keberangkatan kesana, saya kira Mas Alam lebih pantas. Saya khan masih baru disini, dan Mas Alam juga pasti mau penugasan disana” kataku. Sebenarnya dalam hati aku mau, tapi aku merasa tidak nyaman dengan teman-teman seniorku.
    “Prama, kamu nanti tidak sendirian kesana. Ali akan menemanimu. Tadi pagi saya sudah membicarakan hal ini dengan Ali dan Ali sepakat” kata Pak Doni meyakinkanku
    “Tapi, Pak saya ti...”
    “Sudahlah Ma, pokoknya seminggu lagi kamu berangkat ya. Pak Doni sudah mempersiakan karyawannya juga untuk mendampingmu. Kalian nanti bertugas sama-sama. Saya tidak mau kolom ini gagal. Karena kolom ini usulanmu, jadi saya mempercayakan hal ini kepamu” kata Pak Indra. Pak Indra sudah mulai geram denganku karena aku terus menolak. Aku sudah tidak berani lagi membantah perintah Pak Indra. Aku pun mengangguk dan kemudian meninggalkan tempat. Dalam hati ada rasa senang sekaligus rasa tidak enak dengan teman-teman sekantorku. Aku keluar ruang Pak Indra dengan wajah kusut, hingga Mas Alam, wartawan senior, menanyaiku. Makhlumlah, jika Mas Alam langsung menanyaiku, masalahnya Mas Alam mejanya tepat berada di depan ruang Pak Indra. Jadi dia tahu siapa saja yang baru saja keluar masuk kantor Pak Indra.
    “Ama, kenapa? Jangan sedih. Bagaimana kamu setujukah?” tanya Mas Alam dengan mata keingintahuannya. Mas Alam malah tidak menampakkan wajah ketidaksukaannya. Aku justru sangat kaget karena sepertinya Mas Alam sudah tahu tentang hal ini.
    “Kok Mas Alam bisa tahu?” tanyaku heran
    “Iyalah, Ma aku tau. Soalnya semalam Pak Indra chat personal denganku. Jadi aku tahu semuanya. Setuju ya, deal berangkat. Aku akan membantu mempersiapkan semuanya” kata Mas Alam. Mas Alam sungguh antusias mengirim aku kesana. Aku jadi penasaran dengan hal ini dan aku menanyakan hal ini dengan Mas Alam.
    “Jangan-jangan Mas Alam yang telah merekomendasikan aku supaya aku yang berangkat ya?”
    Mas Alam hanya tersenyum dan tidak menjawab. Dari raut wajahnya sepertinya memang Mas Alam yang telah merencanakan hal ini. Sekantor ini hanya Mas Alam yang paling dipercaya Pak Indra.
    “Sudalah Ma, ini kesempatanmu. Inilah saatnya kamu mencari pengalaman di negeri orang. Ini khan juga salah satu mimpimu” kata Mas Alam. Mas Alam terus meyakinkanku.
    **
    Sudah enam hari sejak adanya berita itu. Aku masih tidak percaya jika aku yang benar-benar pergi. Aku sudah bersiap-siap. Dan Mas Alam yang membantuku menjelaskan kepada semua karyawan disini, hingga akhirnya tidak ada satupun dari mereka yang keberatan. Bahkan mereka semua mendukungku. Hari terakhirku di kantor redaksi ini, dipenuhi banyak tawa. Rekan-rekan menyemangatiku dan kami semua banyak bercanda.
    “Ama, nanti bawakan aku cowok Eropa ya. Dan sekalian nitip salam juga untuk Dia” kata Indah sambil terkekeh. Semua teman sekantor menyuraki Indah. Dan  Mas Alam menimpali juga.
    “Bawakan saja kerikil Eropa, Ma. Nanti bisa buat pajangan meja Indah” ledek Mas Alam pada Indah
    “Ah, itu mah sebenarnya karena Mas Alam iri khan. Ngaku saja Mas sebenarnya Mas Alam khan yang ingin menemani Ama. Bukan sama si Ali dari redaksi sebelah”
    “Enggaklah, Ndah. Khan banyak pekerjaan disini. Siapa yang akan mengurus jika aku pergi. Udah lah mendingan kita siap-siap buat Ama dan besuk pagi kita antar Ama ke bandara”. Jawab Mas Alam ketus. Suasana mulai tegang saat Indah mengatakan hal itu. Mas Alam tidak mencair lagi bawaannya. Aku hanya tersenyum melihat mereka berdua seperti itu. Dan jarang aku pikirkan apapun yang mereka katakan.
    Waktu keberangkatan sudah tiba, tepat pukul tujuh pagi, Pak Indra dan Mas Alam mengantarku ke bandara. Disana aku juga bertemu dengan Pak Doni dan Ali. Aku belum kenal dengan Ali. Bagaimana karakternya, dia baik ataukah buruk, nanti bisa kerjasama atau tidak masih menjadi pertanyaannku. Aku sempat dengar dari teman sekantorku kalau Ali adalah kepercayaan Pak Doni dari radaksi sebelah. Memang rencanya, redaksi kantorku dan redaksi kantor Pak Doni akan bekerja sama mengangkat kolom ini. Mungkin kerjasama yang dimaksud hanya sebatas kerjasama masalah peliputan beritanya. Masalah pemuatannya tentu akan sesuai dengan ideologi instansi kami masing-masing.
    “Ama, kenalkan, ini Ali. Dia yang akan bekerjasama denganmu” kata Pak Doni
    Ali tersenyum menyapaku dan aku pun juga sama. Dua bulan ke depan, laki-laki yang tingginya dua puluh sentimeter di atasku ini yang akan bekerjasama denganku. Aku berhusnudzan saja dengannya.
    Aku dan Ali berada dalam satu tempat duduk. Sebelum sampai di negara tujuan, kami sempat bercerita tentang asal mulanya sampai bisa terjun ke dunia tulis-menulis. Ternyata cerita yang kami punya hampir sama. Ali, yang ternyata adalah mantan ketua OSPAM di salah satu pondoknya juga tidak mengira kalau akhirnya bisa terjun ke dunia tulis menulis. Dia memang seorang aktivis pondok. Waktu kuliah, dia sering ikut kegitan sosial ke luar kota. Dan hal yang cukup membuatku kaget, pria yang berciri khas selalu berkalung bolpion ini hafal Al Qur’an 30 juz. Dari penampilannya aku sudah tak menyangka kalau teryata dia alumni Pondok. Terus saat berbicara denganku selalu nyambung dengan ayat-ayat Al Qur’an yang aku bahas dan dari situlah aku mulai tahu. Dia sering melanjutkan bacaanku kalau aku lupa. Dari sini aku mulai sedikit tenang. Setidaknya Ali bukan orang yang jahat, dan pemikirannya sedikit sama denganku.
    Setibanya disana, kami langsung dijemput oleh rekan kami dari Indonesia yang menjadi korespondensi disana. Kami diantar ke kos masing-masing. Ali ikut bersama Fauzi, orang yang menjemputku. Sedangkan aku diantar ke apartemen korespondensi perempuan dari Indonesia. Besuk pukul sepuluh, kami akan bertemu dengan pemilik redaksi dari salah satu redaksi di Turki yang bekerjasama dengan redaksi kami.
    Kondisi di negara yang pernah menjadi pusat kejayaan islam masa lalu, tak seburuk yang aku pikirkan. Aku juga bertemu orang Indonesia di negeri ini. Jadi Adaptasiku tidak terlalu sulit. Aku menata barang-barangku dan tak lupa aku membawa botol kupu-kupu yang selalu ada di laci meja kerjaku. Dan seperti biasa, saat aku keluar kantor dan terjun ke lapangan, aku akan masukkan botol itu ke dalam ransel yang setiap hari aku bawa.
    Enam hari dalam seminggu aku mendapatkan jam kerja. Begitu juga dengan Ali. Walaupun kami satu negara, tapi kami jarang bertemu. Mungkin hanya dua kali dalam seminggu kami liputan bersama. Kali ini aku dan Ali mendapat waktu yang sama untuk liputan. Karena lelah, kami mencari tempat istirahat. Tepat di dekat Blue Mosque, kami makan siang. Disana muslim lumayan banyak, dan kami memilih restoran yang khusus muslim. Kebetulan juga pemilik restoran mempunyai sepupu orang Indonesia.
    Saat aku memesan makanan, aku tidak sadar kalau ranselku terbuka. Ali mengambil kamera di ranselku karena dia penasaran dengan foto apa yang sudah aku dapatkan disini. Saat aku kembali ke mejaku, aku melihat Ali sedang melihat foto-fotoku.
    “Jelek hasil jepretanku. Jangan dilihat ya” kataku
    Tapi Ali hanya diam. Dia seperti terfokus pada satu gambar yang ada di kameraku. Sepertinya dia sedang zoom out gambar tersebut. Dia hanya diam dan apapun yang aku ucapkan tidak dijawabnya.
    Tiba-tiba dia menunjukkan kepadaku salah satu foto di kameraku. Aku kaget kalau ternyata Ali fokus pada foto botol itu. Aku memang memfotonya di kameraku. Wajah Ali jadi serius, suasana menegang. Aku sudah mencoba mencairkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan mengenai makanan yang baru saja kami pesan. Tapi Ali tetap serius.
    “Ama, kamu dapat botol ini dari mana? Apa kamu sudah membaca isinya?” tanya Ali penasaran. Aku tidak menjawab dan masih fokus dengan makanku. Sepertiya Ali mulai tidak senang karena tidak aku respon.
    “Prama, jawab aku. Kamu dapat botol ini dari mana?” gertaknya.
    Aku langsung menghentikan makanku. Aku sebenarnya tidak suka Ali bersikap seperti itu kepadaku. Akhirnya aku menjawabnya dengan singkat.
    “Dari hutan. Tiga tahun lalu saat aku mendaki” jawabku kemudian aku melanjutkan makan lagi.
    Ali terus melihat foto itu dan tiba-tiba keluar kata-kata dari mulutnya.
    “Aku tau siapa pemilik botol ini”
    Aku langsung tersendak. Aku menghentikan makanku dan menanyakan hal ini pada Ali.
    “Siapa? Kenalkan aku ke pemilik botol ini”
    “Dia ada disini”
    Aku tambah tidak percaya lagi kalau ternyata pemilik botol itu ada disini.
    “Aku yang membuang botol ini ke hutan waktu kami dulu melewati hutan. Kalau kamu mau besuk kamu aku antar ketemu dia”
    Tentu aku mengangguk dan aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.
    Hari itupun datang, Ali mengantarkanku bertemu dengan orang itu. Aku tidak banyak bertanya dengan Ali karena aku ingin tahu sendri dari orang yang bersangkutan. Aku pun tiba di rumahnya, dan aku menunggu di gerbang. Sementara Ali masuk dan mengetuk pintu rumahnya. Seorang wanita turki muda membukakan pintu dan dia sempat ngobrol dengan Ali. Tak lama berbincang dengan wanita turki itu, Ali menghampiriku. Ali bilang bahwa pemilik botol dapat ditemui nanti sore. Akhirnya kami pulang.
    “Siapa wanita turki tadi?apa dia temannya?” tanyaku
    “Bukan, dia adalah Ibu angkatnya” aku hanya mengangguk dan tidak menayakan hal lain lagi pada Ali. Sekali lagi banyak  pertanyaaan yang bersarang di otakku.
    **
    Waktu sorepun tiba, aku tidak mau melewatkan kesempatan untuk bertemu wanita yang menulis surat botol itu. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa bertemu orang yang menulis surat botol itu disini, di negeri impianku.
    Aku dan Ali menunggu di dekat Blue Mosque, Ali mengatakan padaku kalau pemilik botol akan menemui kami disini. Tak lama kemudian, sosok lelaki berwajah indonesia datang menghampiri kami. Dia fasih dalam berbahasa Indonesia dan dia mengenakan kaos dengan celana panjang. Tingginya sama dengan Ali. Hanya dia mempunyai mata sipit dan kulitnya putih bersih.
    “Assalamu’alaikum” sapanya.
    Kami semua menjawabnya dan dia sepertinya sudah akrab dengan Ali. Mereka berdua ngobrol menggunakan bahasa arab. Aku sedikit mengerti apa yang mereka katakan. Dan ternyata mereka juga membahas masalah botol itu.
    “Anti, Prama?” tanya lelaki itu
    “Iya, Masnya kog tahu namaku ya?” tanyaku heran
    Orang itu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuatku tak percaya. Aku sempat kaget dengan apa yang diucapkannya dan ternyata apa yang aku pikirkan selama ini salah.
    “Aku yang menulis surat botol itu. Dan saat itu Ali yang membuangnya ke hutan. Aku tak tahu jika surat itu dibuang oleh Ali. Aku mencari-cari. Aku takut jika ada yang membaca isinya. Dan perkenalkan, saya Anwar ” katanya
    Aku sampai lupa membalas perkenalannya dan aku malah gantian menanyainya “Tapi aku sudah membaca isinya. Bagaimana?” kataku.
    Lelaki yang sedikit beretinis cina dan berhidung macung itu diam. Seketika tak berkata-kata kemudian tak lama kemudian mulutnya membuka.
    “Aku tahu kalau kamu sudah membaca isinya dan  aku memang sengaja ingin bertemu denganmu. Alam yang telah memberitahu padaku kalau kamu yang menemukan botol itu” katanya
    “Kog bisa Mas Alam? Jadi selama ini Mas Alam sudah tahu. Jangan-jangan ini rencana  Mas Alam mengirim aku kesini”
    “Iya itu memang rencana Alam. Saat dia tahu kalau usulan kolommu itu diterima. Dia langsung merekomendasikanmu ke Pak Indra. Alam adalah sepupuku”
    Aku tambah kaget lagi. Lalu aku menanyakan kenapa di surat itu aku menemukan sebuah kesedihan dan aku mengira kalau yang menulis surat itu adalah seorang perempuan. Lantas apa yang aku lihat sekarang sungguh berbeda.
    “Dalam surat yang aku baca, aku menemukan perasaan sedih” kataku
    Dia berguman. Dia dan Ali saling pandang. Lalu Ali mulai bicara.
    “Saat itu adalah saat dimana kami masih di pondok, Ma. Anwar saat itu frustasi berat masalah keluarganya. Saat di pondok, keluarganya di rumah terkena musibah. Ibunya meninggal. Dia memutuskan untuk tidak mondok lagi, dan hafalanya saat itu sudah dua puluh juz. Akhirnya aku mengajakknya jalan-jalan untuk menghilangkan kepenatannya dan aku menyuruh dia untuk menulis sebuah harapan dan hal apapun yang dikeluhkannya. Kemudian saat kami jalan-jalan melewati hutan, aku tak memberitahu Anwar kalau aku mengambil dan membuang botol itu dan setelah sampai pondok baru aku memberitahunya. Aku berharap dengan membuang botol itu masalah yang dihadapi Anwar hilang juga.” Mata Ali mulai berkaca-kaca dan kemudian dia melanjutkan pembicaraan lagi
    “Anwar malu pada orang yang membaca suratnya. Akhirnya dia terus mencari tahu siapa orang itu. Aku juga meyakinkannya supaya dia tetap bertahan sampai khatam. Akhirnya Anwar dapat lolos dari ujian itu. Dan terbukti siapa yang menjaga Al Qur’an maka hidupnya akan dijaga.” Tak dikira sosok Ali yang aku kenal selama ini dapat meneteskan air mata di depan perempuan. Dia buru-buru menyeka airmatanya. Dan Anwar hanya tertunduk saat Ali menceritakan semuanya padaku. Lalu Anwar mengangkat kepalanya dan mulai berbicara.
    “Itulah yang sebenarnya terjadi, Prama. Baru setahun ini aku mendapatkan beasiswa melanjutkan studi ke sini dari pondokku. Jadi saat kami diwisuda, aku mengabdi di pondok hingga akhirnya aku dapat beasiswa disini dan Ali memutuskan mengabdi di masyarakat dengan pilihan menjadi jurnalis”
    Aku masih tidak mengerti dengan makna kebetulan. Kalau memang kebetulan kenapa semuanya teratur dengan indah. Penuh dengan misteri dan tanda tanya kenapa semuanya bisa berbarengan. Lalu aku menayakan satu hal lagi kepada lelaki yang bernama Anwar itu.
    “Lantas kenapa Mas Anwar ingin bertemu denganku dan bagaimana Mas Anwar bisa tahu dari Mas Alam?” tanyaku
    “Aku sudah tahu banyak tentangmu dari Alam. Alam sering bercerita padaku kalau dia sering melihat temannya memegang barang aneh. Aku mencoba memperjelas apa itu dan aku meyuruhnya memfoto dan mengirimkannya kepadaku. Setelah aku lihat ternyata itu adalah botolku. Aku banyak mencari tahu tentang orang yang kini memiliki botolku. Hingga tak sadar aku telah menemukan sesuatu dalam pencarianku” katanya. Jujur saja aku masih belum mengerti maksud Mas Anwar sebenarnya.
    Kami berbicara panjang lebar, suasana yang awalnya menegang mulai mencair dan Mas Anwar mulai dari awal pembicaraan, dia tidak pernah menatap mataku. Begitupun aku tak berani menatap matanya. Di tengah-tengah pembicaraan kami yang mulai menyenangkan, kami banyak bercerita tentang pengalaman dan masalah perkembangan islam tentunya di Turki ini. Apalagi Mas Anwar lumayan paham dengan seluk beluknya islam di Turki dan masalah citra Indonesia di Turki. Hal ini tidak aku lewatkan, karena aku memang sedang butuh narasumber. Dalam pembicaraan kami, tiba-tiba Mas Anwar menyeletuk di sela-sela pembicaraan kami.
    “Prama, maukah kamu menikah denganku?” kali ini Mas Anwar menatapku. Aku melihatnya. Kaget. Aku langsung menundukkan kepalaku.
    Semua langsung diam. Termasuk Ali yang sedari tadi cerewet langsung diam. Ali menatap Anwar tanpa berkedip
    “Menikah?” aku memperjelas.
    “Iya, Prama. Aku sudah lama mencari informasi tentangmu dan inilah sebenarnya tujuanku dan Alam agar kamu datang kesini”
    “Anta bercanda ya, kalian khan baru kenal masak nikah!” kata Ali tak percaya.
    “Aku sudah mengenalnya lama walaupun secara fisik baru hari ini kita bertemu” jelas Anwar.
    “Anta gila ya, ta’aruf aja belum masak langsung nikah?”
    Anwar tak membalas apa yang dikatakan Ali. Dia malah ganti bertanya denganku.
    “Bagaimana Prama?”
    Aku bingung mau menjawab apa. Aku akhirnya memutuskan untuk pamit ke apartemen dan aku meninggalkan Mas Anwar dan Ali disana tanpa alasan yang jelas. Mereka sepertinya sedang membicarakan hal ini. Dan Ali seperti memarahi Mas Anwar. Sementara aku masih sedikit belum percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Memang aku sangat suka dengan botol dan kertasnya. Tapi bukan berarti aku suka dengan orangnya. Sebenarnya aku sedikit tersinggung juga dengan cara Mas Anwar mengungkapkan rasa sukanya padaku.
    “Baru ketemu, kog bisa-bisanya langsung mengajak menikah. Apa menikah itu semudah transaksi di supermarket. Kurang sopan caranya. hhmmmmm” gumanku dalam hati.
    Aku terus berjalan menuju apartemenku. Dan tiba-tiba langkahku terhenti, handphoneku berbunyi. Aku melihatnya dan ternyata ada nomer baru masuk. Aku buka pesan yang masuk dan ternyata itu dari Mas Anwar.

    Assalamu’alaikum,
    Afwan Prama, aku terlalu cepat mengambil keputusan. Dan tolong jangan dipikirkan apa yang tadi aku sampaikan. Memang semuanya butuh waktu. Memang aku terlalu ceroboh. Afwan ya, Prama. Setidaknya berilah waktu untuk berta’aruf denganmu. Dan Ali juga sudah memberitahuku kalau ternyata kamu masih ingin mencapai mimpimu. Aku tak bermaksud merusak mimpimu. Aku akan menunggu dan bahkan aku bersedia menemanimu menggapai mimpimu. Balas jika tidak sibuk.
    Wassalamu’alaikum
    Anwar


    Aku hanya membacanya, sedikit lega setelah aku membaca. Kemudian aku tutup handphoneku dan aku pulang ke apartemen. Sungguh misteri botol dalam hutan tiada yang tahu jika akhirnya botol itu mengantarkan aku pada mimpiku keliling dunia sekaligus mempertemukan aku dengan cinta. Allah Maha Tahu mana-mana yang terbaik untuk hambanya. Kini aku namakan botol yang aku bawa kemana-mana dan selalu ada di dekatku ini dengan Botol Teki. Botol yang mengungkap banyak teka-teki yang tak pernah terpikirkan olehku. Segala sesuatu itu tiada yang kebetulan, dan pasti semua yang terjadi adalah bagian dari skenario Allah.

    0 komentar:

    Posting Komentar