Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

2/06/2016

story

By: Catatan Tania P On: 15.38
  • Share The Gag

  • Ibu, Aku Benci Ayah....!!!!!
    Oleh Tania Pramayuani

    Seorang gadis perempuan datang menemui ayahnya. Saat itu ayahnya sedang duduk di serambi depan rumahnya. Dia baru saja menyudahi percakapannya dengan salah satu tetangga. SI anak gadis datang dengan raut muka marah. Dia menganggat kerah lengan bajunya. Ayahnya kaget melihat ekspresi wajah anak gadis tersebut. Si gadis mendekat pada ayahnya dan dia berkata “Apakah ini yang Ayah kerjakan setiap hari? Hanya bercakap-cakap dengan tetangga. Lihat ibu sedang bersusah payah mencoba untuk mencari penghasilan tambahan”. Sang ayah kemudian menjawab “Jangan sok-sok an kamu menasehati ayah. Anak baru kemarin sore sudah berani sama orang tua ya”. Kemudian ayahnya pergi meninggalkan serambi. Anak gadis itu hanya terdiam. Dia terus mengamati langkah ayahnya dari belakang. Dia tak sadar hingga air matanya pun jatuh. Matanya merah. Dia melihat ayahnya pergi ke belakang. Tatapan matanya penuh dengan kebencian.
    Setelah kejadian tersebut, si gadis berniat mengatakan apa yang telah ayahnya lakukan kepadanya kepada ibunya. Dia mengambil sepedanya dan sesegera mungkin dia menuju tempat kerja ibunya. Ibunya bekerja di sebuah tempat cucian baju. 
    Sesampainya di sana, si gadis itu menempatkan sepedanya di dekat dinding. Dia terpaksa menggunakan dinding sebagai sandaran sepedanya, karena sepedanya tidak ada standartnya. Saat tiba di pintu masuk tempat ibunya bekerja, betapa terkejutnya si gadis. Dia melihat ayahnya sedang memarahi ibunya. Dia membentak-bentak si ibu dan si gadis juga melihat ibunya sedang menangis saat itu juga. Si gadis langsung berlari menghampiri ibunya. “Ayah... Hentikan!!!”. Ayahnya kaget mendengar suara anaknya. Dia menoleh. Dan ibunya pun menatap ke arah anak gadisnya itu. Anak gadis itu pun datang memeluk ibunya. Dia mencoba menenangkan hati ibunya. “Apa yang kamu lakukan disini. Bukannya seharusnya kamu sekolah. Lihatlah kelakuan anakmu sekarang ini” kata ayahnya sambil melihat ke arah ibunya. Mata ayahnya sangar. Penuh dengan amarah. Si gadis sampai tak berani menatap mata ayahnya. Padahal dia sangat ingin sekali membela ibunya. Dia tidak terima ibunya diperlakukan seperti itu. Bahkan orang yanng memperlakukan seperti itu adalah ayahnya sendiri. Dia akhirnya memberanikan diri menatap ayahnya dan berkata “Sudah cukup yang ayah lakukan selama ini. Ayah tak pernah kerja dan selalu menyusahkan ibu. Setiap hari ayah hanya nongkrong. Pengangguran. Apakah ayah tak malu pada keluarga ayah. Dan barusan juga aku melihat ayah telah membentak dan mencaci ibu. Dia itu istri ayah. Apa ayah lupa”
    "Andin, jangan diterusin lagi” potong ibunya.
    "Lihatlah yang ayah lakukan pada ibu. Ibu masih terima kah sebagai istrinya. Aku yang sebagai anaknya saja malu punya ayah seperti itu”
    “Andin !!!”. Ibunya membentak dan tatapannya berubah menjadi tatapan marah. Sementara ayahnya hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh anaknya. Si gadis malah menambahai “Lihatlah apa yang dilakukan ibu. Walaupun ayah telah menyusahkannya, dia tetap membela ayah. Tidak sadarkah apa yang telah ayah perbuat. Ibu adalah wanita hebat”Ibunya hanya menunduk sambil menangis. Dia tersungkur. Si gadis kembali menatap mata ayahnya dengan tatapan penuh kebencian. “Kau itu anak seperti apa yang berani kepada orang tua. Apa yang kamu tahu tentang ayah. Ayah lebih mengenal diri ayah sendiri dari pada orang lain. Tutup saja mulutmu dan urusi saja sekolahmu”. 
    Ayah kemudian pergi meninggalkan si gadis dan ibunya. Anak gadis itu berteriak-teriak mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Tapi sang ayah tidak menggubris. Si gadis tambah emosi lagi dia melihat di wajah ayahnya tidak ada sedikitpun rasa penyesalan. Si gadis benar-benar benci kepada ayahnya. Sekali lagi si ibu terus meredakan emosi anak gadisnya. Dulu, anak gadisnya itu masih kecil dan belum terlalu mempermasalahkan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Setalah dia menginjak usia remaja, mulai banyak hal-hal yang ditentang oleh peri kecil ibunya itu. Ibunya terdiam. Dia melamun. Kemudian dia mengantarkan putrinya pulang. 
    Di sepanjang perjalanan, ibunya hanya melamun. Sampai apapun yang dikatakan oleh anaknya, ibunya tidak tahu.“Ibu kenapa. Apa ibu berpikir tentang Ayah?Ibunya hanya tersenyum. Dia tidak menjawab pernyataan anaknya. Sekali lagi dia hanya mengulum senyum.Setelah cukup lama mereka berdua hanya diam sepanjang perjalanan pulang, si ibu berhenti tiba-tiba. Si gadis keget dan bertanya ada apa. Dia melihat wajah ibunya begitu serius.
    “Kenapa bu?”
    "Ada yang perlu kamu tahu, Nak”
    Suasana berubah menegang. Si gadis menatap wajah ibunya. Ibunya mendekat dan memegang tangan anaknya kemudian berkata“Kamu jangan membenci ayahmu ya”Si gadis kaget. Kenapa ibunya bisa berkata demikian. Dia membantah itu mustahil jika sampai dia tidak membenci ayahnya yang pengangguran dan tak pernah mampu mencukupi kebutuhan keluarganya apalagi dengan wataknya yang kasar. Si gadis bersikeras bahwa ayahnya itu tidak pernah menyayanginya.
    “Ayahmu sangat menyayangimu”
    "Sayang? Apakah membentak setiap hari dan selalu berkata kasar itu yang dikatakan sebagai rasa sayang?”
    “Ibu harus mengatakan ini padamu”
    "Iya katakan saja, pasti tentang kejelekan ayah dan ibu menyesal elah menikah dengan ayah”
    "Tutup mulutmu!!”
    "Ibu keterlaluan !!”Si gadis marah. Dia melepaskan tangannya yang digenggam oleh ibunya. Dia pergi begitu saja. Dia meningalkan ibunya. Si ibu berteriak dari belakangnya“Ayahmu bekerja setiap hari”Si gadis langsung berhenti. Dia menoleh ke arah ibunya. Ibunya mendekatinya
    “Ayahmu bekerja setiap hari. Bahkan usahanya lebih giat dari apa yang kamu lihat”
    "Apa yang ibu katakan. Jangan bercanda”
    “Ibu jujur”
    'Tiap hari aku selalu melihat ayah di rumah”
    "Memang ayahmu selalu di rumah tiap kamu ada di rumah, hal itu karena dia ingin selalu melihat anak gadisnya”
    “Cukup ibu!!!”
    “Dengarkan ibu. Ayahmu sangat menyayangimu melebihi nyawanya sendiri. Tidakkah kamu ingat waktu kamu masih TK, kamu selalu diejek oleh temanmu karena sepatu dan tasmu jelek. Uang sakumu hanya sedikit. Siapa yang pertama kali menangis. Ayahmu. Dia tidak tega melihat anaknya diperlakukan seperti itu”
    "Lalu kalau memang ayah bekerja, pekerjaan apa yang meliburkan karyawannya setiap hari?”
    Ibunya mendesah. Dia mencoba mengendalikan air matanya yang hampis saja jatuh. Dia kembali memegang tangan anak gadisnya itu.
    "Ayahmu bekerja sebagai pemulung, tukang kayu dan apapun pekerjaanya akan dilakukan asalkan pada waku kamu pulang ke rumah dia sudah harus ada di rumah dan melihatmu. Dan kamu harus tahu lagi, tiap malam ayahmu ikut para nelayan mencari ikan dan pulang sebelum subuh. Coba kamu lihat tangan ayahmu begitu kasar sampai dia pun tak sanggup mengusap anak gadisnya yang sudah tumbuh cantik ini”
    Anak gadis itu hanya termenung. Dia berada diantara keadaan percaya dan tidak percaya. Dia bertanya pada ibunya apa alasan ayahnya berbuat seperti itu tanpa memberitahukannya dan malah selalu kasar padanya.
    "Ayahmu berbuat seperti itu agar kamu tidak malu dengan teman-temanmu. Dan saat temanmu main ke rumah, setidaknya masih ada ayahmu yang dapat menyambut temanmu. Dia tidak mau anaknya dikatakan sebagai anak kurang kasih sayang yang tiap hari ditinggal kerja orang tua”.
    Ibunya diam dan berdehem.. 
    “Dan alasan ayahmu berkata kasar dan tak pernah berkata lembut padamu itu karena dia tidak ingin terlihat lemah di mata putrinya. Dia ingin anaknya tumbuh sebagai anak yang bermental kuat walaupun seorang perempuan. Ayahmu sangat lembut perasaannya. Usai memarahimu, dia selalu menyesal dan menangis. Apa yang terjadi hari ini adalah kesalahan ibu, ibu berniat menceritakan yang sebenarnya padamu, tapi ayahmu melarang ibu. Ibu bersikeras, akhirnya ayahmu memarahi ibu. Apa yang terjadi hari ini adalah salah ibu”.
    Andin masih belum percaya. Tapi dia juga tak sadar bahwa ketika ibunya bercerita, air matanya menetes terus. 
    “Andin ingin membuktikannya sekarang”
    Andin berlari meninggalkan ibunya. Ternyata andin pergi ke rumah. Dia diam-diam masuk dari pintu belakang. Dia sangat kaget, dia melihat ayahnya sedang menunduk di dekat ruang tamu. Andin datang diam-diam dan dia memegang pundak ayahnya. Betapa terkejutnya saat ayahnya menoleh ke arahnya. Ayahnya menangis. Ayahnya segera menyeka air matanya. Andin memeluk ayahnya. Dia meminta maaf atas apa yang dikatakan pada ayahnya, dia sangat menyesal. Ayahnya adalah ayah terbaik baginya. Ayahnya adalah pahlawannya.
     “Andin bangga menjadi anak ayah. Maaf telah salah paham selama ini” 
    Ayahnya hanya tersenyum. Tangisan di wajahnya kini berubah menjadi sebuah tangis kebahagian. Dan pada saat itulah kali pertama ayahnya memegang rambut anaknya sejak anak gadisnya TK dan Andin melihat juga tangan ayahnya. Tangan ayahnya penuh dengan goresan-goresan dan sangat tebal. Dia menyadari bahwa selama ini dia salah. Apa yang orang tua lakukan adalah untuk kebaikan anaknya. Jadi, sebelum berkata, berpikirah terlebih dahulu adalah hal yang terbaik. Orang yang selama ini paling dibenci Andin ternyata adalah orang yang sangat menyayangi Andin. 
    Kadang, kasih sayang seorang ayah itu tidak nampak dan bahkan seolah tidak ada. Tapi walau kasih itu tak nampak, kasih itu tulus, mengalir dan keras. Orang yang pertama kali menderita saat anaknya dalam bahaya adalah ayahnya, dia akan berpikir bahwa dia gagal menjadi seorang ayah dan tak mampu melindungi keluarganya. Bersikap keras dan tegas adalah salah satu pilihan caranya untuk melindungi keluarganya. Jadi, jangan pernah salah sangka atas sikap ayah selama ini. Kasih sayang menyatu dalam ketegasan sifatnya. Itulah yang membedakan antara ayah dan ibu. Selagi orang tua masih bersama kita, jangan pernah menyiakan kasih sayangnya.

    Tangan keras itu adalah......
    Tangan yang menggendongku
    Tangan yang melindungiku
    Tangan yang penuh kasih
    Tangan untuk mencari nafkah
    Mata itu....
    Mata yang tajam dan kejam
    Mata yang penuh kewaspadaan
    Mata yang penuh kelembutan
    Perkataan itu....
    Adalah perkataan kasar
    Adalah sebuah larangan dan perintah
    Adalah sebuah petuah
    Adalah sebuah cinta
    Keringat bercucuran memerah sesuap nasi
    Ototnya mulai keluar sebagai banting tulang
    Tidurnya tak pernah nyenyak
    Ingat anak dan istriku besuk makan apa
    Sakit tak dirasa hanya demi keluarga
    Siapakah dia??
    Dia yang berjuang sekeras itu
    Bahkan kadang tak dianggap ada
    Kadang dibenci keluarga karena perangai kerasnya
    Kadang mendapat cemooh sendiri dari orang yang paling dicinta
    Tapi dia hanya diam
    Diam mendengarkan keluh keluarganya
    Dia adalah..........
    Ayah
    Pahlawan nomer satu dalam keluarga

    SHARE

    By: Catatan Tania P On: 15.00
  • Share The Gag
  • NEMU

    Tadi waktu bersih-bersih buku, tak sengaja saya nemuin sebuah draf waktu saya masih kelas satu SMP. Sesuatu bangat saat hari ini saya membacanya. Ini adalah draf tugas bahasa Jawa. Kalau tidak salah, ini adalah tugas bahasa Jawa untuk bercerita di depan kelas mengenai pengalaman yang pernah  dialami ketika SD yang memotivasi. Hehe saya enggak tahu kenapa saya memilih hal ini. Etelah saya baca, menurut saya enggak ada yang menarik. Lucu juga enggak. Adanya malah garing. Saya enggak bisa bayangin bagaimana guru bahasa jawa saya dulu menilai cerita saya. Pasti Beliau berfikir bahwa ceritaku juga tak menarik. Lebih seru ceritaku yang kejebur selokan daripada yang ini. Bener-bener kaku banget ya ternyata saya dulu cara berceritanya hehe. Nah,  sebelum saya buang draf ini, saya coba untuk tulis dulu disini dan ini dia hasilnya, cekidot.....

    Assalammu’alaikum Wr. Wb.
    Kanca-kancaku sedaya ingkang padha bagus-bagus lan podho anteng-anteng,
    Sakmeniki perlu sanget kita syukur dateng Gusti ingkang Maha Agung. Awit rahmatipun, kita sageta klebet dateng sekolah favorit. Sekolah ingkang rekaos sanget anggene mlebet. Nganti ana kakak kelas sing ora ketampo mlebet sekolah kesebut. Mula sakniki kabeh mau perlu disyukuri.
    Awit carane nyukuri rahmate Gusti kang Maha Agung iku akeh banget. Iki mung tuladha, salah sijine yaiku sekolah sing tenanan. Yen sekolah sing tenanan iku sinaune mesti ajeg lan trep lan ora mung nalika ana ulangan wae. Biasane yen sinaune pas ana ulangan, biasane sinaune mau mesti wayangan. Yen sinau wayangan, sinaune mesti nganti wengi, pungkasane malah ora mudheng, olehe munga ngantok. Kui kabeh kena dibuktine yen ora percaya, amerga kabeh mau wes nate daklakoni.
    Nalika aku isih kelas lima SD, aku sinau ora ajeg. Sinauku kerep wayangan. Kayata nalikane guruku dhawuh yen sesuk arep ulangan. Aku uwis siap. Kabeh buku lan alat tulis wis dakcepaake. Lan saktitik-titik uwes ana sing dakcicil dakwaca. Nanging aku ngawiti sinau kebengen amerga aku isih ngenaake deleng TV. Sakwisi deleng TV, sinau dakwiwiti.
    Aku awit sinau watara jam sanga bengi. Sik maca buku oleh setengah jam, mata  iki rasane uwes kaya ditutupi kain ireng. Dadine kabeh peteng ora eruh opo-opo alias keturon. Ora suwi jam setengah sewelas aku nglilir. Buku-buku lan alat tulis pada dak ringkesi lan daklebokake jero tas. Sesuke wayahe ulangan tiba tenan, nalika ulangan aku ora bisa nggarap blas. Sing daksinauni wingi bengi ora ana sing nyantol. Malah-malah nalika nggarap ulangan kui aku ngantuk. Nganti wali kelasku ngutus supaya aku enggal-enggal raup. Sakwise ulangan, banjur dicocokne. Aku ora ngira yen ulanganku salah akeh, salah telu, padahal kancaku liane akeh sing bijine satus. Saka opo sing nate daklakoni kui maeng, aku ngarep banget supaya ora dilakoni maneh dening wong liya. Lan saka cerita iki mau kena disimpulne menawa kabeh hasil sing ditampa iku awit saka usahane awakedewe kaya opo. Amerga sinaune kebengen lan wayangan, dadine ora oleh opo-opo. Yen sinau sing apik iku awite mulih sekolah lan paling wengi jam wolu. Jam semono kui sinau isih ana sing nyantol.
    Cukup semono wae opo sing isa dakcritaake. Menawa wonten kalepatane, aku ya nyuwun sepurane. Mugi-mugi manfaat.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb .

    Gimana menurut kalian, bukankah itu cerita yang garing banget ya. Hehe saya juga tak tahu dimana unsur menariknya. Ceritanya terlalu kaku dan formal kalau menurut saya. Mungkin karena masih smp jadi masih terikat oleh hal-hal yang berbau fomalitas tapi enggak apap-apa. Khan masih belajar juga. Tidak ada yang salah dalam hal belajar. Bukannya begitu ^^