Ibu, Aku Benci Ayah....!!!!!
Oleh Tania Pramayuani
Seorang gadis perempuan datang menemui ayahnya. Saat itu ayahnya sedang duduk di serambi depan rumahnya. Dia baru saja menyudahi percakapannya dengan salah satu tetangga. SI anak gadis datang dengan raut muka marah. Dia menganggat kerah lengan bajunya. Ayahnya kaget melihat ekspresi wajah anak gadis tersebut. Si gadis mendekat pada ayahnya dan dia berkata “Apakah ini yang Ayah kerjakan setiap hari? Hanya bercakap-cakap dengan tetangga. Lihat ibu sedang bersusah payah mencoba untuk mencari penghasilan tambahan”. Sang ayah kemudian menjawab “Jangan sok-sok an kamu menasehati ayah. Anak baru kemarin sore sudah berani sama orang tua ya”. Kemudian ayahnya pergi meninggalkan serambi. Anak gadis itu hanya terdiam. Dia terus mengamati langkah ayahnya dari belakang. Dia tak sadar hingga air matanya pun jatuh. Matanya merah. Dia melihat ayahnya pergi ke belakang. Tatapan matanya penuh dengan kebencian.
Setelah kejadian tersebut, si gadis berniat mengatakan apa yang telah ayahnya lakukan kepadanya kepada ibunya. Dia mengambil sepedanya dan sesegera mungkin dia menuju tempat kerja ibunya. Ibunya bekerja di sebuah tempat cucian baju.
Sesampainya di sana, si gadis itu menempatkan sepedanya di dekat dinding. Dia terpaksa menggunakan dinding sebagai sandaran sepedanya, karena sepedanya tidak ada standartnya. Saat tiba di pintu masuk tempat ibunya bekerja, betapa terkejutnya si gadis. Dia melihat ayahnya sedang memarahi ibunya. Dia membentak-bentak si ibu dan si gadis juga melihat ibunya sedang menangis saat itu juga. Si gadis langsung berlari menghampiri ibunya. “Ayah... Hentikan!!!”. Ayahnya kaget mendengar suara anaknya. Dia menoleh. Dan ibunya pun menatap ke arah anak gadisnya itu. Anak gadis itu pun datang memeluk ibunya. Dia mencoba menenangkan hati ibunya. “Apa yang kamu lakukan disini. Bukannya seharusnya kamu sekolah. Lihatlah kelakuan anakmu sekarang ini” kata ayahnya sambil melihat ke arah ibunya. Mata ayahnya sangar. Penuh dengan amarah. Si gadis sampai tak berani menatap mata ayahnya. Padahal dia sangat ingin sekali membela ibunya. Dia tidak terima ibunya diperlakukan seperti itu. Bahkan orang yanng memperlakukan seperti itu adalah ayahnya sendiri. Dia akhirnya memberanikan diri menatap ayahnya dan berkata “Sudah cukup yang ayah lakukan selama ini. Ayah tak pernah kerja dan selalu menyusahkan ibu. Setiap hari ayah hanya nongkrong. Pengangguran. Apakah ayah tak malu pada keluarga ayah. Dan barusan juga aku melihat ayah telah membentak dan mencaci ibu. Dia itu istri ayah. Apa ayah lupa”
"Andin, jangan diterusin lagi” potong ibunya.
"Lihatlah yang ayah lakukan pada ibu. Ibu masih terima kah sebagai istrinya. Aku yang sebagai anaknya saja malu punya ayah seperti itu”
“Andin !!!”. Ibunya membentak dan tatapannya berubah menjadi tatapan marah. Sementara ayahnya hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh anaknya. Si gadis malah menambahai “Lihatlah apa yang dilakukan ibu. Walaupun ayah telah menyusahkannya, dia tetap membela ayah. Tidak sadarkah apa yang telah ayah perbuat. Ibu adalah wanita hebat”Ibunya hanya menunduk sambil menangis. Dia tersungkur. Si gadis kembali menatap mata ayahnya dengan tatapan penuh kebencian. “Kau itu anak seperti apa yang berani kepada orang tua. Apa yang kamu tahu tentang ayah. Ayah lebih mengenal diri ayah sendiri dari pada orang lain. Tutup saja mulutmu dan urusi saja sekolahmu”.
Ayah kemudian pergi meninggalkan si gadis dan ibunya. Anak gadis itu berteriak-teriak mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Tapi sang ayah tidak menggubris. Si gadis tambah emosi lagi dia melihat di wajah ayahnya tidak ada sedikitpun rasa penyesalan. Si gadis benar-benar benci kepada ayahnya. Sekali lagi si ibu terus meredakan emosi anak gadisnya. Dulu, anak gadisnya itu masih kecil dan belum terlalu mempermasalahkan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Setalah dia menginjak usia remaja, mulai banyak hal-hal yang ditentang oleh peri kecil ibunya itu. Ibunya terdiam. Dia melamun. Kemudian dia mengantarkan putrinya pulang.
Di sepanjang perjalanan, ibunya hanya melamun. Sampai apapun yang dikatakan oleh anaknya, ibunya tidak tahu.“Ibu kenapa. Apa ibu berpikir tentang Ayah?Ibunya hanya tersenyum. Dia tidak menjawab pernyataan anaknya. Sekali lagi dia hanya mengulum senyum.Setelah cukup lama mereka berdua hanya diam sepanjang perjalanan pulang, si ibu berhenti tiba-tiba. Si gadis keget dan bertanya ada apa. Dia melihat wajah ibunya begitu serius.
“Kenapa bu?”
"Ada yang perlu kamu tahu, Nak”
Suasana berubah menegang. Si gadis menatap wajah ibunya. Ibunya mendekat dan memegang tangan anaknya kemudian berkata“Kamu jangan membenci ayahmu ya”Si gadis kaget. Kenapa ibunya bisa berkata demikian. Dia membantah itu mustahil jika sampai dia tidak membenci ayahnya yang pengangguran dan tak pernah mampu mencukupi kebutuhan keluarganya apalagi dengan wataknya yang kasar. Si gadis bersikeras bahwa ayahnya itu tidak pernah menyayanginya.
“Ayahmu sangat menyayangimu”
"Sayang? Apakah membentak setiap hari dan selalu berkata kasar itu yang dikatakan sebagai rasa sayang?”
“Ibu harus mengatakan ini padamu”
"Iya katakan saja, pasti tentang kejelekan ayah dan ibu menyesal elah menikah dengan ayah”
"Tutup mulutmu!!”
"Ibu keterlaluan !!”Si gadis marah. Dia melepaskan tangannya yang digenggam oleh ibunya. Dia pergi begitu saja. Dia meningalkan ibunya. Si ibu berteriak dari belakangnya“Ayahmu bekerja setiap hari”Si gadis langsung berhenti. Dia menoleh ke arah ibunya. Ibunya mendekatinya
“Ayahmu bekerja setiap hari. Bahkan usahanya lebih giat dari apa yang kamu lihat”
"Apa yang ibu katakan. Jangan bercanda”
“Ibu jujur”
'Tiap hari aku selalu melihat ayah di rumah”
"Memang ayahmu selalu di rumah tiap kamu ada di rumah, hal itu karena dia ingin selalu melihat anak gadisnya”
“Cukup ibu!!!”
“Dengarkan ibu. Ayahmu sangat menyayangimu melebihi nyawanya sendiri. Tidakkah kamu ingat waktu kamu masih TK, kamu selalu diejek oleh temanmu karena sepatu dan tasmu jelek. Uang sakumu hanya sedikit. Siapa yang pertama kali menangis. Ayahmu. Dia tidak tega melihat anaknya diperlakukan seperti itu”
"Lalu kalau memang ayah bekerja, pekerjaan apa yang meliburkan karyawannya setiap hari?”
Ibunya mendesah. Dia mencoba mengendalikan air matanya yang hampis saja jatuh. Dia kembali memegang tangan anak gadisnya itu.
"Ayahmu bekerja sebagai pemulung, tukang kayu dan apapun pekerjaanya akan dilakukan asalkan pada waku kamu pulang ke rumah dia sudah harus ada di rumah dan melihatmu. Dan kamu harus tahu lagi, tiap malam ayahmu ikut para nelayan mencari ikan dan pulang sebelum subuh. Coba kamu lihat tangan ayahmu begitu kasar sampai dia pun tak sanggup mengusap anak gadisnya yang sudah tumbuh cantik ini”
Anak gadis itu hanya termenung. Dia berada diantara keadaan percaya dan tidak percaya. Dia bertanya pada ibunya apa alasan ayahnya berbuat seperti itu tanpa memberitahukannya dan malah selalu kasar padanya.
"Ayahmu berbuat seperti itu agar kamu tidak malu dengan teman-temanmu. Dan saat temanmu main ke rumah, setidaknya masih ada ayahmu yang dapat menyambut temanmu. Dia tidak mau anaknya dikatakan sebagai anak kurang kasih sayang yang tiap hari ditinggal kerja orang tua”.
Ibunya diam dan berdehem..
“Dan alasan ayahmu berkata kasar dan tak pernah berkata lembut padamu itu karena dia tidak ingin terlihat lemah di mata putrinya. Dia ingin anaknya tumbuh sebagai anak yang bermental kuat walaupun seorang perempuan. Ayahmu sangat lembut perasaannya. Usai memarahimu, dia selalu menyesal dan menangis. Apa yang terjadi hari ini adalah kesalahan ibu, ibu berniat menceritakan yang sebenarnya padamu, tapi ayahmu melarang ibu. Ibu bersikeras, akhirnya ayahmu memarahi ibu. Apa yang terjadi hari ini adalah salah ibu”.
Andin masih belum percaya. Tapi dia juga tak sadar bahwa ketika ibunya bercerita, air matanya menetes terus.
“Andin ingin membuktikannya sekarang”
Andin berlari meninggalkan ibunya. Ternyata andin pergi ke rumah. Dia diam-diam masuk dari pintu belakang. Dia sangat kaget, dia melihat ayahnya sedang menunduk di dekat ruang tamu. Andin datang diam-diam dan dia memegang pundak ayahnya. Betapa terkejutnya saat ayahnya menoleh ke arahnya. Ayahnya menangis. Ayahnya segera menyeka air matanya. Andin memeluk ayahnya. Dia meminta maaf atas apa yang dikatakan pada ayahnya, dia sangat menyesal. Ayahnya adalah ayah terbaik baginya. Ayahnya adalah pahlawannya.
“Andin bangga menjadi anak ayah. Maaf telah salah paham selama ini”
Ayahnya hanya tersenyum. Tangisan di wajahnya kini berubah menjadi sebuah tangis kebahagian. Dan pada saat itulah kali pertama ayahnya memegang rambut anaknya sejak anak gadisnya TK dan Andin melihat juga tangan ayahnya. Tangan ayahnya penuh dengan goresan-goresan dan sangat tebal. Dia menyadari bahwa selama ini dia salah. Apa yang orang tua lakukan adalah untuk kebaikan anaknya. Jadi, sebelum berkata, berpikirah terlebih dahulu adalah hal yang terbaik. Orang yang selama ini paling dibenci Andin ternyata adalah orang yang sangat menyayangi Andin.
Kadang, kasih sayang seorang ayah itu tidak nampak dan bahkan seolah tidak ada. Tapi walau kasih itu tak nampak, kasih itu tulus, mengalir dan keras. Orang yang pertama kali menderita saat anaknya dalam bahaya adalah ayahnya, dia akan berpikir bahwa dia gagal menjadi seorang ayah dan tak mampu melindungi keluarganya. Bersikap keras dan tegas adalah salah satu pilihan caranya untuk melindungi keluarganya. Jadi, jangan pernah salah sangka atas sikap ayah selama ini. Kasih sayang menyatu dalam ketegasan sifatnya. Itulah yang membedakan antara ayah dan ibu. Selagi orang tua masih bersama kita, jangan pernah menyiakan kasih sayangnya.
Tangan keras itu adalah......
Tangan yang menggendongku
Tangan yang melindungiku
Tangan yang penuh kasih
Tangan untuk mencari nafkah
Mata itu....
Mata yang tajam dan kejam
Mata yang penuh kewaspadaan
Mata yang penuh kelembutan
Perkataan itu....
Adalah perkataan kasar
Adalah sebuah larangan dan perintah
Adalah sebuah petuah
Adalah sebuah cinta
Keringat bercucuran memerah sesuap nasi
Ototnya mulai keluar sebagai banting tulang
Tidurnya tak pernah nyenyak
Ingat anak dan istriku besuk makan apa
Sakit tak dirasa hanya demi keluarga
Siapakah dia??
Dia yang berjuang sekeras itu
Bahkan kadang tak dianggap ada
Kadang dibenci keluarga karena perangai kerasnya
Kadang mendapat cemooh sendiri dari orang yang paling dicinta
Tapi dia hanya diam
Diam mendengarkan keluh keluarganya
Dia adalah..........
Ayah
Pahlawan nomer satu dalam keluarga