Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

11/07/2016

my Note

By: Catatan Tania P On: 15.11
  • Share The Gag
  • Dai dan Proses Dakwahnya

    Orang yang melakukan seruan untuk mengajakan kebaikan dapat juga disebut sebagai da’i. Dan yang diajak disebut dengan mad’u. Hukum berdakwah adalah fardu ain bagi tiap orang-orang muslim dan menjadi fardu kifayah bagi mereka yang mempunyai keahlian khusus, misalnya seperti profesi dokter. Seorang dokter, karena dia mempunyai keahlian dalam bidang kesehatan, maka dia mendapatkan kewajiban untuk berdakwah dalam bidangnya tersebut. Dakwah tak hanya sepintas pada masalah agama. Segala sesuatu apapun yang penting tujuannya amar makruf nahi munkar maka dapat disebut sebagai dakwah.
    Dalam berdakwah, seorang da’i harus mempunyai izzah (harga diri). Karena setiap dai mempunyai karakter dan pembawaan sifat yang berbeda-beda, maka bisa saja apa yang dilakukan oleh dai dalam menyampaikan seruannya juga beda-beda. Walaupun demikian, seorang dai harus tetap memperhatikan izzah seorang dai. Saat seorang dai berdakwah maka ada dua hal yang terjadi, pertama akan ada respon dari masyarakat. Entah itu respon positif atau negatif dan yang kedua adanya perubahan perilaku masyarakat setelah itu.
    Fenomena yang saat ini kerap terjadi adalah berdakwah dengan dai menyampaikan suatu materi tapi terkadang materinya lebih sedikit dan dai lebih banyak menyampaikan lelucon. Bagaimana dengan kasus seperti ini? Apakah diperbolehkan?
    Jika kita dihadapkan pada pertanyaan seperti itu, maka lihat dulu siapa sasaran dainya (mad’u). Dalam masyarakat, mad’u mempuyai strata dan dai mempunyai metode dalam berdakwah. Salah satu metodenya adalah dengan mauidzul hasanah. Cara ini adalah cara yang berdakwah dengan cara dai menyampaikan pesan yang mampu menyentuh hati mad’u. Biasanya metode ini dilakukan untuk orang yang masih awam dengan pengetahuan agama. Sama halnya dengan dai yang menggunakan lelucun. Hal ini sebenarnya merupakan salah satu metode dai untuk menarik perhatian mad’u. Dai menggunakan pendekatan personal dengan menyelipkan lelucon pada proses dakwahnya. Kemudian jika mad’u sudah merasa nyaman dengan yang disampaikan dai, maka mad’u mampu menerima pesan yang disampaikan dai dan secara tidak sadar, maka pesan tersebut akan teraplikasi pada keseharian mad’u, sehingga proses berdakwah tidak terkesan menggurui mad’u, tapi berjalan selaras dengan kehidupan mad’u. Menurut Wardi Bahtiar ada empat metode dakwah, yaitu: dakwah bil yad, dakwaDakwahnyaan, dakwah bil qolam dan dakwah bil qalb.
    Kendati dai mempunyai pendekatan dalam menyampaikan dakwahnya, tapi seorang dai juga harus memperhatikan izzahnya. Dai yang terlalu banyak leluconnya juga tidak benar, karena hal ini juga dapat mengaburkan eksistensi dai. Tingkat lelucon yang digunakan dalam berdakwah harus diukur dan jangan sampai menyebabkan dai terkesan melucu, nantinya jika terjadi seperti ini, dimata masyarakat dai bukannlah sosok yang menyerukan amar makruf nahi munkar, malainkan sosok publik figur sebagai hiburan masyarakat.
    Dengan berkembangnya media yang semakin pesat, seorang dai juga harus mampu mengikuti berkembangan itu. Dai harus mempunyai pengetahuan yang luas dan ketrampilan yang bijak dalam menggunakan media. Karena adanya perkembangan media itu, maka saat ini berdakwah juga dapat dilakukan lewat media. Dan yang sekarang kekinian adalah berdakwah lewat media sosial. Seorang dai akan menyampaikan pesan-pesan dakwahnya lewat medsos, dan nantinya mad’u yang sebagai pengguna medsos dapat mengajukan pertanyaan jika masih ada yang belum mengerti atau ada yang kurang sependapat dengan apa yang disampaikan oleh dai. Misal yang saat ini kekinian adalah berdakwah lewat facebook, line, ataupun instagram. Hal ini boleh-boleh saja dan bahkan semua orang walaupun bukan dai diperbolehkan menyampaikan pesa dakwah. Seperti yang ditulis di atas, bahwa tiap manusia hukumnya fardu ain berdakwah. Jadi tidak ada salahnya yang tidak terlalu dikenal masyarakat, tiba-tiba berdakwah hal ini bukanlah suatu eksistensi diri, melainkan sebuah kewajiban muslim. Seperti bunyi salah satu maqolah “undzur ma qola wala tandzur man qola”. Kita jangan sampai melihat siapa yang menyampaikan tapi lihatlah apa yang disampaikan oleh orang itu.
    Dalam sebuah pesannya, Dr Hajani Hefni menyampaikan sebuah pesan dan pesan itu sangat menarik, yaitu Beliau berpesan bahwa media harus digunakan dengan bijak, kalau bisa saat membuat status entah itu status facebook, bbm atau apalah, usahakan untuk selalu menyelipkan tentang ayat Al Qur’an dan ada ada kaitannya untuk mengajak manusia untuk berbuat baik dan satu lagi jangan sampai status itu terkesan menggurui. Mulai bijak dari sekarang dan tiada kata terlambat untuk berubah menjadi baik.