Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

5/13/2017

BUMI PERKEMAHAN

By: Catatan Tania P On: 08.43
  • Share The Gag
  • Bumi Perkemahan, Wahana Wisata ASRI



    Perjalan kali ini benar-benar tiba-tiba dan tidak terencana. Pada mulanya, kami hanya berniat ziarah ke makam Syeh Basyarudin seperti biasanya. Tapi saat itu, tujuan kami melenceng. Masyaa Allah....
    Rencana awal mau ziarah ke makam Auliya yang ada di desa Sri Gading (Biasanya penulis menyebutnya dengan makamnya embah). Karena pada bulan Maret kemarin, penulis belum sempat ziarah ke Beliau. Baru sempat bulan April ini. Sedari pagi, penulis sudah siap-siap mau berangkat dan segera mengerjakan tanggungan sebelum berangkat. Kali ini penulis pergi bersama dengan kakak penulis. Kemana-mana kalau tidak sendirian penulis yan pergi sama kakak penulis ini. Namanya Mbak Windy. Dan Mbak Windy, baik sama penulis. Jarang marah.
    Kemudian saat di dalam perjalanan, tiba-tiba penulis langsung punya ide untuk cari tempat refreshing. Yaa, pada saat itu memang benar-benar dalam keadaan banyak pikiran dan tugas. Akhirnya, tidak ada satu pun yang penulis kerjakan. Semuanya penulis tangguhkan, dan niatnya setelah ziarah, penulis mengerjakan lagi. Ziarah juga tidak memakan waktu lama. Paling lama dua jam sudah sampai rumah lagi. Dan saat itu juga mempertimbangkan kondisi tubuh yang tidak terlalu sehat. Baru kemarin, penulis berobat. Dan saat berangkat pun, masih dalam tahap penyembuhan. Hehe kalau dibilang nekat ya. Memang bener saat itu nekat. Suara pun hilang saat itu.
    Penulis ingin menenangkan fikiran, tapi tidak tau mau pergi kemana. Soalnya tempat-tempat liburan seperti itu penulis tidak pernah tahu. Tahunya kalau diajak. Dan keberuntungan bagi penulis, tidak pernah ada yang mengajak penulis liburan. Hehehe. Akhirnya penulis ergi ke rumah sepupu penulis yang ada di daerah pegunungan. Harapan penulis, sepupu penulis dapat mengantar penulis liburan. Dan semua terjadi tanpa rencana. Tiba-tiba penulis datang dan penulis meminta mengantarkan ke tempat yang bagus. Ya, penulis ikut saja mau diajak kemana. Begitu juga dengan kakak penulis.
    Dua hari sebelumnya, sepupu penulis membicarakan masalah tempat wisata baru yang ada di desa Nglurup, Kecamatan Sendang. Penulis benar-benar tidak tahu itu tempat apa. Dan ternyata, penulis diajak ke tempat tersebut. Saat diperjalanan, penulis tanya itu tempat wisata seperti apa. Seperti kebun, atau wahana bermain. Sepupu penulis menjawab kalau itu air terjun. Waah, mengetahui hal tersebut penulis sangat semangat. Dan di sepanjang perjalanan yag penulis lewati, banyak spanduk yang menjelaskan tentang “Aiur Terjun Senggani”. Semakin lama semakin tambah penasaran. Dan penulis tidak banyak tanya karena penulis ingin tahu sendiri.
    Waktu yang ditempuh untuk sampai tujuan, dari rumah sepupu penulis kurang lebih satu jam. Mungkin jika berangkat dari Tulungagung kota, memakan waktu satu jam setengah. Tempat yang penulis tuju berada di atas wahana wisata Arga Wilis. Tempatnya berada di dataran yang lumayan tinggi. Jalam meuju tempat, alhamdulillah cukup enak. Tapi lima kilometer menuju lokasi jalannya cukup sulit. Jadi harus hati-hati. Apalagi, aksesnya hanya muat untuk pengguna satu montor. Jalannya cukup sempit dan berkelok-kelok plus berbatu juga. Kanan-kiri jalan, adalah jurang. Jadi bagi yang belum terbiasa mungkin mengalami sedikit rasa takut. Mbak penulis, Mbak Windy, berkali-kali menepuk pundak penulis dan meminta agar jalannya pelan-pelan. Katanya perutnya sakit kena batu.
    Akhirya sampai di lokasi. Tempat wisata ini ternyata bernaman “Bumi Perkemahan dan Air Terjun Senggani”. Atmosfernya cukup dingin. Dan tiket masuknya hanya Rp 5000,00 per montor. Sesampainya disana penulis banyak tanya kepada sepupu penulis, mana air terjunnya. Kog Cuma bukit-bukit dan rumah pohon. Kemudian sepupu penulis mengatakan air terjunnya masih di atas. Kalau kita ingin ke air terjunnya, maka kita harus naik dulu. Kemudian penulis tanya, apa mungkin jalan seperti itu penulis naik motor. Akhirnya penulis dan Mbak Windy jalan kaki, sementara sepupu penulis naik motor.
    Sebenarnya bumi perkemahan cukup bagus dan enak untuk istirahat. Apalagi penataan tempatnya secara apik benar-benar menggambarkan kondisi alam yang sebenarnya. Ditambah dengan keindahan rumah pohon dan wahana friying fox menambah kecantikan bumi perkemahan. Selain itu, penataan tempatnya di buat ala-ala remaja, yaa bahasanya bahasa anak muda. Mungkin tempat ini cocok dijadikan wahana wisata keluarga dan anak muda. Seger banget dan bebas polusi. Banyak tumbuhan pinus di kanan-kiri. Dan kenapa tempat ini dinamakan bumi perkemanahan?. Sebelum di sahkan oleh Dinas Perhutani Kabupaten Tulungagung sebagai wahana wisata, tempat ini sering digunakan anak-anak pramuka untuk melakukan kemah. Akhirnya disebutlah bumi perkemahan. Anak-anak pramuka banyak yang menjelajah hingga sampai pada air terjun senggani. Awal mulanya, air terjun yang paling terkenal di Sendang adalah Air Terjun Segawe. Dan saat ini, yang lagi membooming adalah air terjun senggani. Baru pertengahan 2016 kemarin, kawasan ini diresmikan menjadi wahana wisata. Jadi, masih belum banyak diketahui lokasi ini.
    Saat penulis kesana, saat itu bertepatan juga dengan pelaksanaannya latihan motor gunung. Banyak pecinta motor gunung yang naik menuju lokasi air terjun. Tapi motornya ya tentu beda daripada montor kita. Dan sepupu penulis kog naik pakai montor biasa itu. Sebenarnya penulis sudah melarangnya, tapi dia tetep keukeuh. Akhirnya, baru naik berapa meter montornya sudah terpelosok ke dalam tanahya. Jadi terpaksa montor ditinggal dan dia jadi jalan kaki bareng penulis dan Mbak Windy.

    Perjalanan menuju Air Terjun Senggani sukup indah dan sepi. Saat itu mungkin Cuma penulis dan tiga orang sebelum penulis yang naik menuju air terjun. Mayoritas pengunjung hanya sampai bumi perkemahan dan beristirahat disana. Tapi bagi penulis kurang menantang kalau belum sampai air terjun. Khan ya rugi, sampai disana tidak lihat air terjunnya hehe. Awalnya masih enak sih perjalanya dan lumayan bagus pemandangannya. Waktu berjalan hampir satu jam, dan posko satu masih belum terlihat. Tenaga kami sudah mulai habis. Di tengah jalan, kami bertemu dengan anak-anak asli daerah dan kami tanya apa masih jauh perjalannya. Anak tersebut menjawab “Sak kesele, Mbak. Nganti lempoh. Engko leg panggah enggak teko-teko” (Sampai capek, Mbak. Nanti pasti akan merasa masih jauh). Inti dari jawaban anak kecil tadi yaitu perjalannyanya masih jauh. Dan salahnya penulis berangkatnya terlalu siang, jam dua belas (masuk waktu dhuhur), posko satu saja belum sampai. Ya, akhirnya dengan berat hati dan sedikit menyesal penulis turun dan menuju bumi perkemahan (alay hehe). Selain fisik sudah lelah, dan mengingat waktu sudah cukup siang dan sore nantinya penulis ada tugas menemani belajar anak-anak. Ya, akhirnya kami memutuskan bersantai di bumi perkemahan saja. Dalam hati, penulis masih ingin kembali ke tempat ini dan menuju Air Terjun Senggani. Besuk, kalau kesini lagi, penulis akan berangkat pagi supaya waktunya tepat menuju air terjun Senggani. Pada intinya, bumi perkemahan merupakan salah satu tempat wisata yang bebas dari polusi dan sekaligus sebagai kawasan koservasi pohon pinus. Bagi sahabat blogger yang hobby ngetrip, tempat ini merupakan salah satu rekomendasi. Apalagi bagi yang suka tantangan. Tentu akan menguji adrenalin kalau sobat blogger berani naik motor menuju air terjunnya. (Tan)