Bumi Perkemahan, Wahana Wisata ASRI
Perjalan kali ini
benar-benar tiba-tiba dan tidak terencana. Pada mulanya, kami hanya berniat
ziarah ke makam Syeh Basyarudin seperti biasanya. Tapi saat itu, tujuan kami
melenceng. Masyaa Allah....
Rencana awal mau ziarah
ke makam Auliya yang ada di desa Sri Gading (Biasanya penulis menyebutnya
dengan makamnya embah). Karena pada bulan Maret kemarin, penulis belum sempat
ziarah ke Beliau. Baru sempat bulan April ini. Sedari pagi, penulis sudah
siap-siap mau berangkat dan segera mengerjakan tanggungan sebelum berangkat.
Kali ini penulis pergi bersama dengan kakak penulis. Kemana-mana kalau tidak
sendirian penulis yan pergi sama kakak penulis ini. Namanya Mbak Windy. Dan
Mbak Windy, baik sama penulis. Jarang marah.
Kemudian saat di dalam
perjalanan, tiba-tiba penulis langsung punya ide untuk cari tempat refreshing.
Yaa, pada saat itu memang benar-benar dalam keadaan banyak pikiran dan tugas.
Akhirnya, tidak ada satu pun yang penulis kerjakan. Semuanya penulis
tangguhkan, dan niatnya setelah ziarah, penulis mengerjakan lagi. Ziarah juga
tidak memakan waktu lama. Paling lama dua jam sudah sampai rumah lagi. Dan saat
itu juga mempertimbangkan kondisi tubuh yang tidak terlalu sehat. Baru kemarin,
penulis berobat. Dan saat berangkat pun, masih dalam tahap penyembuhan. Hehe
kalau dibilang nekat ya. Memang bener saat itu nekat. Suara pun hilang saat
itu.
Penulis ingin menenangkan
fikiran, tapi tidak tau mau pergi kemana. Soalnya tempat-tempat liburan seperti
itu penulis tidak pernah tahu. Tahunya kalau diajak. Dan keberuntungan bagi
penulis, tidak pernah ada yang mengajak penulis liburan. Hehehe. Akhirnya
penulis ergi ke rumah sepupu penulis yang ada di daerah pegunungan. Harapan
penulis, sepupu penulis dapat mengantar penulis liburan. Dan semua terjadi
tanpa rencana. Tiba-tiba penulis datang dan penulis meminta mengantarkan ke
tempat yang bagus. Ya, penulis ikut saja mau diajak kemana. Begitu juga dengan
kakak penulis.
Dua hari sebelumnya,
sepupu penulis membicarakan masalah tempat wisata baru yang ada di desa
Nglurup, Kecamatan Sendang. Penulis benar-benar tidak tahu itu tempat apa. Dan
ternyata, penulis diajak ke tempat tersebut. Saat diperjalanan, penulis tanya
itu tempat wisata seperti apa. Seperti kebun, atau wahana bermain. Sepupu
penulis menjawab kalau itu air terjun. Waah, mengetahui hal tersebut penulis
sangat semangat. Dan di sepanjang perjalanan yag penulis lewati, banyak spanduk
yang menjelaskan tentang “Aiur Terjun Senggani”. Semakin lama semakin tambah
penasaran. Dan penulis tidak banyak tanya karena penulis ingin tahu sendiri.
Waktu yang ditempuh untuk
sampai tujuan, dari rumah sepupu penulis kurang lebih satu jam. Mungkin jika
berangkat dari Tulungagung kota, memakan waktu satu jam setengah. Tempat yang
penulis tuju berada di atas wahana wisata Arga Wilis. Tempatnya berada di
dataran yang lumayan tinggi. Jalam meuju tempat, alhamdulillah cukup enak. Tapi
lima kilometer menuju lokasi jalannya cukup sulit. Jadi harus hati-hati.
Apalagi, aksesnya hanya muat untuk pengguna satu montor. Jalannya cukup sempit
dan berkelok-kelok plus berbatu juga. Kanan-kiri jalan, adalah jurang. Jadi
bagi yang belum terbiasa mungkin mengalami sedikit rasa takut. Mbak penulis,
Mbak Windy, berkali-kali menepuk pundak penulis dan meminta agar jalannya
pelan-pelan. Katanya perutnya sakit kena batu.
Akhirya sampai di lokasi.
Tempat wisata ini ternyata bernaman “Bumi Perkemahan dan Air Terjun Senggani”.
Atmosfernya cukup dingin. Dan tiket masuknya hanya Rp 5000,00 per montor.
Sesampainya disana penulis banyak tanya kepada sepupu penulis, mana air
terjunnya. Kog Cuma bukit-bukit dan rumah pohon. Kemudian sepupu penulis
mengatakan air terjunnya masih di atas. Kalau kita ingin ke air terjunnya, maka
kita harus naik dulu. Kemudian penulis tanya, apa mungkin jalan seperti itu
penulis naik motor. Akhirnya penulis dan Mbak Windy jalan kaki, sementara
sepupu penulis naik motor.
Sebenarnya bumi
perkemahan cukup bagus dan enak untuk istirahat. Apalagi penataan tempatnya
secara apik benar-benar menggambarkan kondisi alam yang sebenarnya. Ditambah
dengan keindahan rumah pohon dan wahana friying fox menambah kecantikan bumi
perkemahan. Selain itu, penataan tempatnya di buat ala-ala remaja, yaa
bahasanya bahasa anak muda. Mungkin tempat ini cocok dijadikan wahana wisata
keluarga dan anak muda. Seger banget dan bebas polusi. Banyak tumbuhan pinus di
kanan-kiri. Dan kenapa tempat ini dinamakan bumi perkemanahan?. Sebelum di
sahkan oleh Dinas Perhutani Kabupaten Tulungagung sebagai wahana wisata, tempat
ini sering digunakan anak-anak pramuka untuk melakukan kemah. Akhirnya
disebutlah bumi perkemahan. Anak-anak pramuka banyak yang menjelajah hingga
sampai pada air terjun senggani. Awal mulanya, air terjun yang paling terkenal
di Sendang adalah Air Terjun Segawe. Dan saat ini, yang lagi membooming adalah air terjun senggani.
Baru pertengahan 2016 kemarin, kawasan ini diresmikan menjadi wahana wisata.
Jadi, masih belum banyak diketahui lokasi ini.
Saat penulis kesana, saat
itu bertepatan juga dengan pelaksanaannya latihan motor gunung. Banyak pecinta
motor gunung yang naik menuju lokasi air terjun. Tapi motornya ya tentu beda
daripada montor kita. Dan sepupu penulis kog naik pakai montor biasa itu.
Sebenarnya penulis sudah melarangnya, tapi dia tetep keukeuh. Akhirnya, baru
naik berapa meter montornya sudah terpelosok ke dalam tanahya. Jadi terpaksa
montor ditinggal dan dia jadi jalan kaki bareng penulis dan Mbak Windy.
Perjalanan menuju Air
Terjun Senggani sukup indah dan sepi. Saat itu mungkin Cuma penulis dan tiga
orang sebelum penulis yang naik menuju air terjun. Mayoritas pengunjung hanya
sampai bumi perkemahan dan beristirahat disana. Tapi bagi penulis kurang
menantang kalau belum sampai air terjun. Khan ya rugi, sampai disana tidak
lihat air terjunnya hehe. Awalnya masih enak sih perjalanya dan lumayan bagus
pemandangannya. Waktu berjalan hampir satu jam, dan posko satu masih belum
terlihat. Tenaga kami sudah mulai habis. Di tengah jalan, kami bertemu dengan
anak-anak asli daerah dan kami tanya apa masih jauh perjalannya. Anak tersebut
menjawab “Sak kesele, Mbak. Nganti lempoh. Engko leg panggah enggak teko-teko”
(Sampai capek, Mbak. Nanti pasti akan
merasa masih jauh). Inti dari jawaban anak kecil tadi yaitu perjalannyanya
masih jauh. Dan salahnya penulis berangkatnya terlalu siang, jam dua belas
(masuk waktu dhuhur), posko satu saja belum sampai. Ya, akhirnya dengan berat
hati dan sedikit menyesal penulis turun dan menuju bumi perkemahan (alay hehe). Selain fisik sudah lelah,
dan mengingat waktu sudah cukup siang dan sore nantinya penulis ada tugas
menemani belajar anak-anak. Ya, akhirnya kami memutuskan bersantai di bumi
perkemahan saja. Dalam hati, penulis masih ingin kembali ke tempat ini dan menuju
Air Terjun Senggani. Besuk, kalau kesini lagi, penulis akan berangkat pagi
supaya waktunya tepat menuju air terjun Senggani. Pada intinya, bumi perkemahan
merupakan salah satu tempat wisata yang bebas dari polusi dan sekaligus sebagai
kawasan koservasi pohon pinus. Bagi sahabat blogger yang hobby ngetrip, tempat
ini merupakan salah satu rekomendasi. Apalagi bagi yang suka tantangan. Tentu akan
menguji adrenalin kalau sobat blogger berani naik motor menuju air terjunnya. (Tan)
