Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

8/27/2017

Poem

By: Catatan Tania P On: 09.27
  • Share The Gag
  • The Disaster Of Money
    By Tania P.


    The world is inversed
    When every bad attitude consider a better thing
    Like car cassed running
    Givig bad smell
    Using anges’s face
    And giving fake smile

    In a fact,
    They took people’s money
    For the well being
    And for a while happiness
    And it’s sound good news right

    We are on the money opera
    Money reach at the top
    Like a king in image kingdom
    Set all of life people
    And through every mind and heart

    Live without happiness
    And doesn’t need comfortable
    Will be same we dead
    Every aye will be reddish
    And they full of abomination
    The kingdom really be destroyed
    And it’s call “Money Disaster”

    With current blood every where

    My Cerpen

    By: Catatan Tania P On: 09.06
  • Share The Gag
  • Tak Ada Judul
    oleh Tania Pramayuani






    “Hafizaa....”
    “Tolong fotokan aku”
    “Iya, Budhe. Sebentar” jawabnya.
    Jawab sebentar itupun sampai seminggu tak juga dikerjakan. Dia selalu sibuk dengan urusannya. Berangkat pagi dan pulang sore, menjelang maghrib. Kemudian ba’dha maghrib langsung ada kegiatan lagi sampai jam delapan. Baru sekitar jam itu Hafizaa mempunyai cukup waktu untuk berdiam diri di rumah.
    Saat kepenatan dalam aktifitas sudah memuncak, dan saat pikiran sudah kalang kabut berkaitan dengan acara yang diselenggarakan oleh jurusannya. Hafizaa, banyak termenung di sepertiga malamnya. Dia menyalahkan dirinya sendiri, dia merasa tak bisa mengatasi masalah yang terjadi di jurusannya. Apalagi, dia yang bertugas sebagai ketua koordinator acara yang diselenggarakan di jurusannya itu. Setiap hari, menjelang hari-H acara diselenggarakan, saat itu pualah Hafizaa tidak fokus. Tak fokus dengan kuliahnya, dengan kerjanya dan bahkan saat mengaji kitab, dia juga sering melamun. Hingga Kyainya menanyakan apa yang sedang terjadi padanya.
    Teman mengajinya berulang kali menyenggol tangan Hafizaa. Kalau tidak menyenggol bahkan temannya juga mencubit. Hal itu dilakukan untuk memecah lamunan Hafizaa saat mengaji. Karena tak satu atau dua kali, Pak Kyai selalu mengamati Hafizaa saat melamun waktu ngaji. Tapi sekali pun juga, Pak Kyai tak pernah menegur Hafizaa. Sepertiya memang dia sudah paham apa yang dipikirkan Hafizaa.
    “Fiza....!!!!”
    Rasyid memecah lamunan Hafiza. Bolpoin yang dipegangnya sampai jatuh.
    “Rasyid, kaget. Kalau manggil yang halus donk...!!!
    “Kalau aku panggil halus, kamu akan tetap diam dan bahkan tak menghiraukanku. Kamu sebenarnya ada apa, Fiz?”
    “Aku ada apa?. Aku nggak kenapa-napa. Aku baik-baik saja”
    Rasyid mengerti bahwa Hafizaa tidak ingin menceritakan apa yang menjadi masalahnya. Dia tak lagi menanyakan apa yang terjadi pada Hafizaa.
    Aktivitas semakin memuncak kepadatannya. Dan Hafizaa benar-benar mempunyai sedikit waktu berlama di rumah. Baru pulang di rumah sebentar, temannya sudah menelpon dan memintanya ke kampus. Kalau tidak seperti itu, rekan kerjanya memintanya untuk mengurusi kegiatan lain.
    “Fiz, mau kemana lagi?” tanya Ibunya
    “Fiza mau ke kampus, Bu”
    “Baru pulang kok sudah kesana lagi”
    “Iya Bu, tadi ada info mendadak dan harus segera diurusi”
    Hafizaa pun ijin pada Ibunya. Ibunya hanya membatin merasa kasihan dengan anaknya. Apalagi kondisi Hafizaa saat itu tidak sehat. Karena padatnya aktiftas dan tugasnya, Hafizaa terpaksa harus berteman dengan obat-obat kimia lagi. Padahal setahun sudah dia berhasil melalui masa bebas dari bahan kimia itu. Walaupun di luar tampak sehat, fisik Hafizaa ditopang oleh bahan-bahan kimia lagi. Dia menutupi semua itu dari semua teman-temannya dan hanya beberapa teman saja yang tahu tentang kondisi Hafizaa yang sebenarnya.
    Hafizaa berangkat ke kampus lagi dan mencium tangan ibunya. Saat Hafizaa sudah ada di depan pintu rumah, hendak berangkat. Ibunya menanyakan apakah Hafizaa sudah memfoto budhenya. Hafiza langsung menepuk jidatnya dan mendesah pelan. Wajahnya menjadi merasa bersalah. Dia menjawab pada ibunya bahwa dia belum jadi memfoto Budhenya. Akhirnya Ibunya perpesan bahwa sepulang dari Kampus nanti agar Hafizaa segera memfoto Budhenya.
    Hafizaa benar-benar tak mengerti kenapa Budhenya bersikeras memintanya difoto. Padahal biasanya tidak pernah. Apalagi Budhe Hafiza adalah orang yang super sibuk. Walaupun super sibuk, tapi hal yang sangat disukai dari Hafizaa adalah tentang kasih sayang budhenya padanya. Budhenya adalah orang yang sangat dekat dengan Hafizaa. Dia adalah pengganti Ayah Hafizaa. Dulu, sebelum kakek meninggal, Hafiza kecil selalu dianter kemana-mana oleh kakeknya dengan sepeda jengki idola kakek. Sejak dari Hafiza TK, kakekya selalu mengantarkannya kemana-mana. Saat anak-anak seusianya bermain dengan ayahnya, selalu diantar kemana-mana oleh Ayahnya, dia juga selalu diantar oleh ayahnya, yaa kakeknya yang telah menjadi Ayah Hafizaa. Hingga pada saat menginjak usia SMP, Kakeknya mengalami sakit dan saat awal masuk SMA, kakeknya meninggal. Saat itu menjadi saat paling menyedihkan bagi gadis yang selalu akrab dengan kakeknya. Dia selalu merasa bersalah karena belum bisa membalas kebaikan kakek.
    Saat kesediahan memuncak di hidup Hafizaa, saat itulah budhenya selalu menghiburnya. Hafizaa selalu berbagi cerita dengan Budhenya. Dan budhenya itulah yang sejak saat itu sering mengantar Hafizaa kemana-mana. Bahkan untuk memasrahkan Hafizaa ke pondok pun, juga Budhenya yang mengantarnya. Budhe seperti orang tua bagi Hafizaa. Dan Hafizaa juga lebih nyaman cerita apa-apa kepada budhenya daripada pada ibunya. Budhenya itu selalu memberikan saran padanya. Dan jika ada masalah apa-apa, budhenyalah yang dimintai saran Hafizaa. Hafizaa sudah seperti anak kandung bagi Budhenya. Dan ibu Hafizaa juga mengerti kedekatan itu. Makanya, ibunya mengingatkan Hafizaa agar segera melakukan apa yang diminta budhenya. Hafizaa merasa bersalah karena sudah seminggu dia menunda permintaan budhenya.
    Usai pulang dari kampus, Hafizaa sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan melakukan apa yang diminta budhenya. Ibunya tersenyum padanya. Dan Hafizaa segera berangkat ke kampus lagi.
    Hafizaa merasa gelisah di kampus. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB dan Hafizaa masih belum pulang. Hafizaa lupa tidak mengabari ibunya. Dan Handphone Hafiza sudah mati. Baterainya habis. Terpaksa Hafizaa tidak mengabari ibunya dan bodohnya dia juga tidak punya inisiatif untuk meminjam Handphone temannya. Denting jam terus melaju. Lajuannya sampai tak terasa hingga menunjukkan pukul 23.30 WIB. Baru saat suasana auditorium jurusan mulai sepi, Hafizaa sadar jika waktu sudah mendekati tengah malam. Teman-temannya menawarinya agar dia menginap di kos. Tapi gadis yang akrab disapa Fiza itu menolak, dan dia meminta temannya untuk mengantarkannya pulang ke rumah.
    Fiza pulang ke rumah tepat pukul 00.00. ibunya sangat khawatir dengannya. Dengan segera Fiza mencium tangan Ibunya dan meminta maaf karena dia pulang selarut itu. Fiza merasa salah, tak pantas anak gadis pulang semalam itu. Dan hal ini juga meupakan kali pertamanya Fiza pulang malam. Untung saja ibunya tidak memarahinya. Fiza tersenyum merasa lega.
    Satu hal yang masih mengganjal. Yakni Fiza belum sempat mengerjakan apa yang budhenya minta. Dan saat tengah malam seperti itu, tak mungkin Fiza mengetuk pintu rumah budhenya.
    “Budhe pasti sudah tidur. Besok pagi saja aku kesananya”
    Karena merasa sangat lelah, Fiza pun merebahkan tubuhnya di kasur. Dia membuka handphone yang dicharge dengan powerbank dan membuka banyak chattingan yang masuk di whatsapp. Termasuk teman ngaji kitabnya, mereka meminta Fiza masuk. Dan memberi kabar kalau Pak Kyai menanyakannya. Kali ini, Fiza benar-benar lupa tidak ijin Kyainya kalau mau absen ngaji. Fiza ketiduran sambil memegang handphone.
    Pukul 03.00 Fiza terbangukan oleh alarm Handphonenya. Dia segera bangun dan mengecheck apakah  pengisian baterai handphonenya sudah penuh apa belum. Dia juga membuka chattingan whatsapp. Lagi-lagi dia mendesah dan kesal ketika membuka handphone. Dia kesal karena jam 05.00 harus ke kampus lagi. Padahal masih pagi buta. Mentari saja masih enggan bangun, masak dia mau bangun duluan dan pergi ke kampus.
    “Yaudah berangkat. Semoga nanti pulangnya tidak malam lagi” batinya dalam hati.
    Setelah semuanya rapi, dia siap-siap pergi ke kampus. Walaupun kesal, dia tetap melakukannya. Wajahnya lesu dan semakin kurus. Apalagi mata pandanya semakin melebar. Fiza malas bercermin saat berdandan. Akhirnya dia mengira-ngira dandanannya sendiri sudah rapi apa belum. Saat dia merasa sudah rapi, dia segera berangkat.
    Sampai di kampus, Fiza disambut oleh teman-temanya. Ternyata teman-temannya sudah datang lebih awal darinya. Dia datang ditatap banyak mata. Beberapa pasang mata ada merasa tak suka dengan Fiza karena Fiza datangnya telat. Tapi Fiza masa bodo dan tak menghiraukannya. Tanggungan aktifitas sangat banyak dan lagi-lagi baru sekitaran pukul 07.00 Fiza ingat kalau dia belum jadi memfoto Budhenya.
    **
    Saat Fiza keluar dengan Aulia, temannya, untuk mengambil pesanan banner. Di tengah perjalanannya, dada Fiza terasa sakit. Saat itu pun Fiza berhenti. Aulia kawatir dan ingin menggantikan Fiza untuk membonceng motor, tapi Aulia tak bisa naik motor. Akhirnya mereka berdua berhenti dan menunggu hingga dada Fiza merasa baikkan. Saat itu, handphone Fiza di bawa Aulia dan Aulia kaget membaca pesan yang masuk di Handphone Fiza. Aulia memberikannya pada Fiza. Fiza kaget melihat pesan dari ibunya yang mengabarkan bahwa Budhenya kecelakaan dan saat itu juga di bawa ke rumah sakit. Awalnya Fiza sangat kaget, tapi Fiza segera mengendalikan diri dan dia tahu benar bahwa Ibunya suka menghiperbolakan segala susuatu. Dia mencoba menenangkan diri. Dan setelah merasa baikan, dia kembali ke kampus bersama Aulia.
    Sampai di kampus, sebenarnya masih banyak hal lain yang harus Fiza kerjakan. Tapi ijin pada teman-temannya kalau dia harus ke rumah sakit menjenguk budhenya.
    **
    Ruangan hijau, dengan bertuliskan IGD dan Semi Kritis. Fiza masuk di ruangan itu dan rasanya kakinya sedikit sulit melangkah. Jangtungnya berdebar kencang. Dia bimbang antara harus masuk atau tidak. Terakhir kali dia masuk di ruangan itu, dua tahun lalu saat dirinya diopname. Hal itu menjadi trauma baginya untuk melangkahkan kakinya di rumah sakit.
    Kanan-kiri penuh dengan pasien dan lengkap juga dengan alat-alat bantu, entah itu alat bantu pernafasan maupun alat bantu jantung. Fiza datang langsung menuju ruangan semi kritis dan disana dia melihat kakak sepupunya bersama pamannya sedang menunggu. Sejurus kemudian, kakak sepupunya langsung mengajaknya keluar. Dan sampai di luar, kakaknya langsung menangis.
    “Kak, jangan terus menangis. Kasihan Budhe disana. Kakak yang kuat yaaa..”
    Fiza mencoba menguatkan hati kakaknya, padahal dari dalam dirinya sendiri Fiza sangat hancur. Bahkan badannya sangat lemas saat kali pertama melihat kondisi Budhenya. Orang yang selalu meluangkan waktunya untuk Fiza, pengganti Ayah Fiza dan kakek Fiza. Benar-benar lemas badan Fiza. Fiza pun tak mampu membendung air matanya. Saat air matanya terjatuh, Fiza segera mengusap air matanya agar kakak sepupunya tidak tahu. Kemudian Fiza meminta kakaknya menunggu di luar. Sementara Fiza masuk ke dalam ruangan semi kritis.
    Pelan-pelan. Lemas. Begitulah Fiza melangkahkan kakinya menuju ruangan hijau itu. Dia mendekat di sisi Budhenya. Dan saat Fiza datang, kondisi Budhenya sudah tidak sadar. Budhenya sudah memakai alat bantu bernafas. Dan Fiza sangat menyesal karena tidak segera datang ke rumah sakit saat mendapat kabar tentang Budhenya. Paman Fiza mengatakan kalau saat sampai di rumah sakit, Budhenya masih sadar dan bisa diajak berbicara. Kemudian tak lama, budhenya drop. Dokter akhirnya mengambil keputusan untuk melakukan rongsen di kepalanya.
    Sejak di rongsen sampai Fiza datang, Budhenya masih belum sadar. Tapi Fiza yakin kalau Budhenya tau dan pasti masih sadar. Saat Fizaa membisikkan kata-kata di telinga Budhenya, walaupun Budhenya menutup mata, Budhenya meneteskan air mata. Mungkin itu adalah tandanya Budhenya tau kalau Fiza ada disitu.
    Sambil menguatkan diri, Fiza mendekatkan mulutnya di telinga Budhenya.
    “Budhe kuat dan pasti kuat. Budhe bisa. Kami disini masih butuh Budhe dan Budhe harus sembuh” bisik Fizaa. Air mata Fiza tak bisa ditahan. Air matanya pun membasahi pipi da tangan Fiza.
    Saat Fiza membisikkan kata-kata penyemangat untuk Budhenya, air mata Budhenya selalu menetes. Kadang-kadang tangannya juga bergerak. Fiza berulang-ulang menyemangati Budhenya dan membisikkan ayat-ayat Al Qur’an yang sudah dihafalnya. Saat mendengar ayat-ayat Al Qur’an dari Fiza, alat jantung selalu memberi respon. Dan setiap sampai pada kata tertertentu ayat Al Qur’an, saat itulah alat jantung memberikan respon.
    Tiiiitttt.........suara alat itu sangat menakutkan bagi Fiza. Warna garis merah, Hijau tertera jelas di monitor tersebut. Dan jika garis menunjukkan tanda lurus, segera Fiza baca Ayat itu lagi. Alhamdulillah kembali normal lagi. Fiza benar-benar tak kuat berada lama-lama di ruangan tersebut. Saat beberapa sanak saudara datang, Fiza keluar dan menunggu di luar bersama kakaknya. Fiza tak kuat dan pecahlah tangisannya.
    “Budhe adalah orang yang kuat. Aku sangat salut pada Budhe,,,hiks...hiks...”
    Fizaa tak bisa banyak bicara. Dia terus terisak-isak. Dia menangis tanpa diketahui kakaknya. Saat dia sudah bisa mengendalikan diri, dia kembali menemui kakaknya.
    **
    Beberapa orang yang menunggu di luar terkejut. Dokter memanggil keluarga dan memberi tahu bahwa Budhenya harus dipindah ke ruang kritis. Ruang berganti warna menjadi merah. Dan itulah ruang kritis. Fiza semakin lemas. Kondisi budhenya semakin menurun. Alat bantu yang dipakai semakin banyak. Ruangan steril dan tak ada yang boleh masuk seorangpun.
    Fiza memang gadis yang ngotot. Dia menemui dokter yang ada di ruang kritis. Benar-benar dia memberanikan diri masuk ruangan itu. Fiza mengekor dokter yang menanganinya. Sempat dia ditegur oleh satpam penjaga ruangan, tapi Fiza tak peduli. Dia melihat dokter membawa hasil rongsen kepala Budhenya. Fiza penasaran. Setelah dokter tersebut diskusi dengan teman dokternya membicarakan masalah hasil rongsen, Fiza menemui dokter tersebut dan menanyakan hasilnya.
    Sepertinya tidak suka ada anak gadis yang ikut campur. Begitulah respon yang terlihat di wajah dokter yang ditanyai Fiza. Jawaban yang dikatakan pada Fiza tak menyenangkan. Sementara Fiza terus bertanya. Apalagi keluaga Budhenya lemas. Hanya Fiza yang berani mengekor dokter dan menanyakan seputar kondisi Budhenya. Mungkin karena Fiza bukan anak kandungnya atau keluarganya yang bersangkutan, akhirnya info yang di dapatkannya sangat minim.
    Khawatir. Fiza memegangi jari tangannya. Dia tak lapar. Rasa laparnya sudah hilang. Dia sudah lupa akan rasa sakit di perutnya. Dia menunggu kabar baik datang dari pihak rumah sakit. Berkali-kali ibunya menolpon menanyakan keadaannya Budhenya. Fiza masih bingung dan pikirannya kacau.
    Dua jam menunggu setelah dibawa di ruang kritis, tiba-tiba dokter memanggil anggota keluarga. Dada Fiza sesak. Air matanya tak mampu dibendung lagi. Tak lama, Pakdhenya keluar dengan mata merah. Fiza segera menyeka air matanya. Dan semua menanyakan apa yang terjadi pada Pakdhenya dan berkumpul mendekat.
    “Dokter memerintah harus di rujuk di lain rumah sakit”ucap Pakdhenya dengan lemas.
    “Dirujuk kemana?”tanya Kakak
    “di Malang atau di Blitar. Ada dua pilihan”.
    Kondisi Pakdenya sangat lemas dan tak bisa diajak banyak bicara. Dengan rundingan dari beberapa anggota keluarga, akhirnya memutuskan untuk merujuknya di Rumah sakit Malang. Malam, sekitar Ba’dha Maghrib mobil ambulan menuju Malang. Yang ikut hanya Pakdhenya dan kakaknya. Fiza sebenarnya disuruh ikut. Tapi Fiza tak mendapat ijin dari ibunya. Ibunya tahu kalau kondisi Fiza sendiri sedang tidak sehat.
    **
    Empat hari Budheya di rawat di Malang. Fiza belum sempat menjenguk karena masih sibuk dengan tugas-tugasnya. Perasaan dan pikirannya kacau. Karena khawatirnya, Fiza sering menelpon kakaknya dan menanyakan kondisi Budhenya. Pada awalnya, kakaknya selalu memberi kabar tentang Budhenya. Tapi setelah dua hari, setiap kali Fiza tanya, jawabannya hanyalah Fiza diminta mendoakan yang terbaik untuk Budhenya. Pikiran Fiza tambah makin kacau. Dia tak bisa kesana. Dan hanya mendoakan dari rumah.
    Kebetulan, salah satu teman dan sekaligus tetangga Fiza ada yang kuliah di Malang. Dia menjenguk Budhe Fizaa. Mengetahui hal itu, Fiza menanyakan kondisi Budhenya pada temannya yang kuliah di Malang. Dia menjelaskan panjang lebar pada Fiza melalui telepon. Fiza hanya diam dan tak merespon. Usai semua penjelasan itu, badannya Fiza makin lemah dan pikiranya makin kacau. Harapan. Yaa, harapan dan doa yang mampu Fiza lakukan.
    Tepat pukul 09.00 WIB, saat Fiza berada di kampus. Fiza tak melihat handphone. Usai kuliah, dia langsung pulang. Betapa kagednya Fiza saat sampai di rumah. Rumah Budhenya, yang ada di belakang rumahnya ramai. Dan di dapur neneknya, para tetangga datang menata bunga. Fiza langsung menanyakan apa yang terjadi. Seolah tak mungkin hal itu terjadi. Fiza duduk dan masih tak percaya. Kaged. Kemudian ibunya menjelaskan apa yang terjadi.
    “Fiz, kamu tadi tidak buka handphone” tanya Ibunya.
    Fiza lemas. Matanya merah. Dia tak mampu menangis. Tak kuat dengan sakitnya hatinya. Tapi apalah daya. Segala sesuatu telah ditentukan takdirnya oleh Allah. Fiza berusaha ikhlas dan harus ikhlas akan semua takdir Allah. Dia sangat menyesal belum bisa memenuhi permintaan terakhir Budhenya. Fiza belum bisa membalas kebaikan Budhenya. Dan hanya doa yang sekarang sangat dibutuhkan oleh Budhenya.
    “Budheku adalah Budhe paling baik dan paling kuat. Terima kasih telah menjadi Budheku. Dan aku, akan selalu rukun bersama kakak. Aku aku membantu kakak sebisaku dan semampunku. Doaku tak akan pernah putus untukmu” ucap Fiza dalam hati.
    **
    Seiring berjalannya waktu, tentu hal yang dialami Fiza masih sulit untuk dilupakan. Apalagi rasa sedih yang Fiza alami. Butuh waktu yang cukup lama. Fiza menyadari bahwa segala sesuatu yang dilakukan harus selalu diniati karena Allah. Fiza memulai menyegarkan dirinya kembali usai kejadian yang menimpanya. Hampur dua bulan berlalu dan Fiza masih terus berusaha menerima ketetapan Allah.
    Fiza kembali pada aktivitasnya, dan kini dia lebih berhati-hati menjaga kesehatan dan waktunya. Menggunakan waktunya untuk kegiatan yang benar-benar bermanfaat.
    “Fiz, ayo nonton. Filmnya bagus. Nanti aku bayarin” ajak Dila, teman kuliahnya.
    “Enggak aja, Dil. Aku harus segera pulang. Maaf yaa”
    “Beneran loh..., ini nanti aku yang bayarin” paksa Dila.
    Sekali lagi Fiza tersenyum dan menghampiri Dila. Dia membisikkan kata terima kasih dan maaf pada sahabatnya itu. dila memomcongkan mulutnya dan kemudian berkata “Ya udah deh.... hati-hati Fiz”. Fiza membalasnya dengan senyuman.
    Sampai di rumah, Fiza langsung membuka buku catatan favoritnya, dia selalu mengisi buku tersebut dengan pesan-pesan penting dan pelajaran yang di dapat dalam setiap harinya. Fiza sadar tak ada yang tahu kapan rezeki, mati dan jodoh itu datang. Manusia hanya berusaha untuk mempersiapakanya dan mencari Ridho Allah. Dalam setiap hari yang dilalui tak ada judul apapun yang sesuai untuk segala hal kecuali hanya judul yang selalu di arahkan mencari ridho Allah untuk mempersiapakan segala ketentuan yang telah  ditetapkan. Ajukanlah judul yang baik untuk kehidupan yang lebih baik. Dan sebaik-baiknya judul adalah judul yang berkaitan dengan isi bacaan, sama halnya denga suatu kehidupan, sebaik-baiknya pola kehidupan adalah kehidupan yang selalu tertaut dengan pencipta Hidup. Fiza  termenung. Diam. Beberapa detik kemudian tangannya menumpahkan tinta dalam pen ke dalam buku favoritnya :
    Aku tidak punya judul untuk semua kegiatan yang aku lalui. Dan bahkan aku tak ingat lagi apa yang telah aku lalui karena aku tak mamberinya judul. Aku takut aku akan kecewa memberinya judul jika pada akhirnya tidak sesuai dengan judul yang aku buat. Aku pasrahkan semua isi bacaan yang akan terjadi pada pembuat Judul Yang Hakiki. Walaupun aku tak punya judul, tapi aku punya tema. Tema itu yang akan selalu aku pengang dan aku gunakan untuk mengisi ceritaku. Karena tema akan selalu tetap, sementara judul, bisa berganti seiring munculnya ide-ide baru dalam cerita”

    Hafiza Haura Layyinah