Tak
Ada Judul
oleh
Tania Pramayuani
“Hafizaa....”
“Tolong fotokan aku”
“Iya, Budhe. Sebentar”
jawabnya.
Jawab sebentar itupun sampai
seminggu tak juga dikerjakan. Dia selalu sibuk dengan urusannya. Berangkat pagi
dan pulang sore, menjelang maghrib. Kemudian ba’dha maghrib langsung ada
kegiatan lagi sampai jam delapan. Baru sekitar jam itu Hafizaa mempunyai cukup
waktu untuk berdiam diri di rumah.
Saat kepenatan dalam aktifitas
sudah memuncak, dan saat pikiran sudah kalang kabut berkaitan dengan acara yang
diselenggarakan oleh jurusannya. Hafizaa, banyak termenung di sepertiga
malamnya. Dia menyalahkan dirinya sendiri, dia merasa tak bisa mengatasi
masalah yang terjadi di jurusannya. Apalagi, dia yang bertugas sebagai ketua
koordinator acara yang diselenggarakan di jurusannya itu. Setiap hari,
menjelang hari-H acara diselenggarakan, saat itu pualah Hafizaa tidak fokus.
Tak fokus dengan kuliahnya, dengan kerjanya dan bahkan saat mengaji kitab, dia
juga sering melamun. Hingga Kyainya menanyakan apa yang sedang terjadi padanya.
Teman mengajinya berulang
kali menyenggol tangan Hafizaa. Kalau tidak menyenggol bahkan temannya juga
mencubit. Hal itu dilakukan untuk memecah lamunan Hafizaa saat mengaji. Karena
tak satu atau dua kali, Pak Kyai selalu mengamati Hafizaa saat melamun waktu
ngaji. Tapi sekali pun juga, Pak Kyai tak pernah menegur Hafizaa. Sepertiya
memang dia sudah paham apa yang dipikirkan Hafizaa.
“Fiza....!!!!”
Rasyid memecah lamunan
Hafiza. Bolpoin yang dipegangnya sampai jatuh.
“Rasyid, kaget. Kalau
manggil yang halus donk...!!!
“Kalau aku panggil halus,
kamu akan tetap diam dan bahkan tak menghiraukanku. Kamu sebenarnya ada apa,
Fiz?”
“Aku ada apa?. Aku nggak
kenapa-napa. Aku baik-baik saja”
Rasyid mengerti bahwa
Hafizaa tidak ingin menceritakan apa yang menjadi masalahnya. Dia tak lagi
menanyakan apa yang terjadi pada Hafizaa.
Aktivitas semakin memuncak
kepadatannya. Dan Hafizaa benar-benar mempunyai sedikit waktu berlama di rumah.
Baru pulang di rumah sebentar, temannya sudah menelpon dan memintanya ke
kampus. Kalau tidak seperti itu, rekan kerjanya memintanya untuk mengurusi
kegiatan lain.
“Fiz, mau kemana lagi?”
tanya Ibunya
“Fiza mau ke kampus, Bu”
“Baru pulang kok sudah
kesana lagi”
“Iya Bu, tadi ada info
mendadak dan harus segera diurusi”
Hafizaa pun ijin pada
Ibunya. Ibunya hanya membatin merasa kasihan dengan anaknya. Apalagi kondisi
Hafizaa saat itu tidak sehat. Karena padatnya aktiftas dan tugasnya, Hafizaa
terpaksa harus berteman dengan obat-obat kimia lagi. Padahal setahun sudah dia
berhasil melalui masa bebas dari bahan kimia itu. Walaupun di luar tampak
sehat, fisik Hafizaa ditopang oleh bahan-bahan kimia lagi. Dia menutupi semua
itu dari semua teman-temannya dan hanya beberapa teman saja yang tahu tentang
kondisi Hafizaa yang sebenarnya.
Hafizaa berangkat ke kampus
lagi dan mencium tangan ibunya. Saat Hafizaa sudah ada di depan pintu rumah,
hendak berangkat. Ibunya menanyakan apakah Hafizaa sudah memfoto budhenya.
Hafiza langsung menepuk jidatnya dan mendesah pelan. Wajahnya menjadi merasa
bersalah. Dia menjawab pada ibunya bahwa dia belum jadi memfoto Budhenya.
Akhirnya Ibunya perpesan bahwa sepulang dari Kampus nanti agar Hafizaa segera
memfoto Budhenya.
Hafizaa benar-benar tak
mengerti kenapa Budhenya bersikeras memintanya difoto. Padahal biasanya tidak
pernah. Apalagi Budhe Hafiza adalah orang yang super sibuk. Walaupun super
sibuk, tapi hal yang sangat disukai dari Hafizaa adalah tentang kasih sayang
budhenya padanya. Budhenya adalah orang yang sangat dekat dengan Hafizaa. Dia
adalah pengganti Ayah Hafizaa. Dulu, sebelum kakek meninggal, Hafiza kecil
selalu dianter kemana-mana oleh kakeknya dengan sepeda jengki idola kakek.
Sejak dari Hafiza TK, kakekya selalu mengantarkannya kemana-mana. Saat
anak-anak seusianya bermain dengan ayahnya, selalu diantar kemana-mana oleh
Ayahnya, dia juga selalu diantar oleh ayahnya, yaa kakeknya yang telah menjadi
Ayah Hafizaa. Hingga pada saat menginjak usia SMP, Kakeknya mengalami sakit dan
saat awal masuk SMA, kakeknya meninggal. Saat itu menjadi saat paling
menyedihkan bagi gadis yang selalu akrab dengan kakeknya. Dia selalu merasa
bersalah karena belum bisa membalas kebaikan kakek.
Saat kesediahan memuncak di
hidup Hafizaa, saat itulah budhenya selalu menghiburnya. Hafizaa selalu berbagi
cerita dengan Budhenya. Dan budhenya itulah yang sejak saat itu sering
mengantar Hafizaa kemana-mana. Bahkan untuk memasrahkan Hafizaa ke pondok pun,
juga Budhenya yang mengantarnya. Budhe seperti orang tua bagi Hafizaa. Dan
Hafizaa juga lebih nyaman cerita apa-apa kepada budhenya daripada pada ibunya.
Budhenya itu selalu memberikan saran padanya. Dan jika ada masalah apa-apa,
budhenyalah yang dimintai saran Hafizaa. Hafizaa sudah seperti anak kandung
bagi Budhenya. Dan ibu Hafizaa juga mengerti kedekatan itu. Makanya, ibunya
mengingatkan Hafizaa agar segera melakukan apa yang diminta budhenya. Hafizaa
merasa bersalah karena sudah seminggu dia menunda permintaan budhenya.
Usai pulang dari kampus,
Hafizaa sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan melakukan apa yang
diminta budhenya. Ibunya tersenyum padanya. Dan Hafizaa segera berangkat ke
kampus lagi.
Hafizaa merasa gelisah di
kampus. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB dan Hafizaa masih
belum pulang. Hafizaa lupa tidak mengabari ibunya. Dan Handphone Hafiza sudah mati. Baterainya habis. Terpaksa Hafizaa
tidak mengabari ibunya dan bodohnya dia juga tidak punya inisiatif untuk
meminjam Handphone temannya. Denting
jam terus melaju. Lajuannya sampai tak terasa hingga menunjukkan pukul 23.30
WIB. Baru saat suasana auditorium jurusan mulai sepi, Hafizaa sadar jika waktu
sudah mendekati tengah malam. Teman-temannya menawarinya agar dia menginap di
kos. Tapi gadis yang akrab disapa Fiza itu menolak, dan dia meminta temannya
untuk mengantarkannya pulang ke rumah.
Fiza pulang ke rumah tepat
pukul 00.00. ibunya sangat khawatir dengannya. Dengan segera Fiza mencium
tangan Ibunya dan meminta maaf karena dia pulang selarut itu. Fiza merasa
salah, tak pantas anak gadis pulang semalam itu. Dan hal ini juga meupakan kali
pertamanya Fiza pulang malam. Untung saja ibunya tidak memarahinya. Fiza
tersenyum merasa lega.
Satu hal yang masih
mengganjal. Yakni Fiza belum sempat mengerjakan apa yang budhenya minta. Dan
saat tengah malam seperti itu, tak mungkin Fiza mengetuk pintu rumah budhenya.
“Budhe pasti sudah tidur.
Besok pagi saja aku kesananya”
Karena merasa sangat lelah,
Fiza pun merebahkan tubuhnya di kasur. Dia membuka handphone yang dicharge dengan powerbank dan membuka banyak
chattingan yang masuk di whatsapp. Termasuk teman ngaji kitabnya, mereka
meminta Fiza masuk. Dan memberi kabar kalau Pak Kyai menanyakannya. Kali ini,
Fiza benar-benar lupa tidak ijin Kyainya kalau mau absen ngaji. Fiza ketiduran sambil
memegang handphone.
Pukul 03.00 Fiza terbangukan
oleh alarm Handphonenya. Dia segera
bangun dan mengecheck apakah pengisian
baterai handphonenya sudah penuh apa
belum. Dia juga membuka chattingan whatsapp. Lagi-lagi dia mendesah dan kesal ketika
membuka handphone. Dia kesal karena
jam 05.00 harus ke kampus lagi. Padahal masih pagi buta. Mentari saja masih
enggan bangun, masak dia mau bangun duluan dan pergi ke kampus.
“Yaudah berangkat. Semoga
nanti pulangnya tidak malam lagi” batinya dalam hati.
Setelah semuanya rapi, dia
siap-siap pergi ke kampus. Walaupun kesal, dia tetap melakukannya. Wajahnya
lesu dan semakin kurus. Apalagi mata pandanya semakin melebar. Fiza malas
bercermin saat berdandan. Akhirnya dia mengira-ngira dandanannya sendiri sudah
rapi apa belum. Saat dia merasa sudah rapi, dia segera berangkat.
Sampai di kampus, Fiza
disambut oleh teman-temanya. Ternyata teman-temannya sudah datang lebih awal
darinya. Dia datang ditatap banyak mata. Beberapa pasang mata ada merasa tak
suka dengan Fiza karena Fiza datangnya telat. Tapi Fiza masa bodo dan tak
menghiraukannya. Tanggungan aktifitas sangat banyak dan lagi-lagi baru
sekitaran pukul 07.00 Fiza ingat kalau dia belum jadi memfoto Budhenya.
**
Saat Fiza keluar dengan
Aulia, temannya, untuk mengambil pesanan banner. Di tengah perjalanannya, dada
Fiza terasa sakit. Saat itu pun Fiza berhenti. Aulia kawatir dan ingin
menggantikan Fiza untuk membonceng motor, tapi Aulia tak bisa naik motor.
Akhirnya mereka berdua berhenti dan menunggu hingga dada Fiza merasa baikkan.
Saat itu, handphone Fiza di bawa
Aulia dan Aulia kaget membaca pesan yang masuk di Handphone Fiza. Aulia memberikannya pada Fiza. Fiza kaget melihat
pesan dari ibunya yang mengabarkan bahwa Budhenya kecelakaan dan saat itu juga
di bawa ke rumah sakit. Awalnya Fiza sangat kaget, tapi Fiza segera
mengendalikan diri dan dia tahu benar bahwa Ibunya suka menghiperbolakan segala
susuatu. Dia mencoba menenangkan diri. Dan setelah merasa baikan, dia kembali
ke kampus bersama Aulia.
Sampai di kampus, sebenarnya
masih banyak hal lain yang harus Fiza kerjakan. Tapi ijin pada teman-temannya
kalau dia harus ke rumah sakit menjenguk budhenya.
**
Ruangan hijau, dengan
bertuliskan IGD dan Semi Kritis. Fiza masuk di ruangan itu dan rasanya kakinya
sedikit sulit melangkah. Jangtungnya berdebar kencang. Dia bimbang antara harus
masuk atau tidak. Terakhir kali dia masuk di ruangan itu, dua tahun lalu saat
dirinya diopname. Hal itu menjadi trauma baginya untuk melangkahkan kakinya di
rumah sakit.
Kanan-kiri penuh dengan
pasien dan lengkap juga dengan alat-alat bantu, entah itu alat bantu pernafasan
maupun alat bantu jantung. Fiza datang langsung menuju ruangan semi kritis dan
disana dia melihat kakak sepupunya bersama pamannya sedang menunggu. Sejurus
kemudian, kakak sepupunya langsung mengajaknya keluar. Dan sampai di luar,
kakaknya langsung menangis.
“Kak, jangan terus menangis.
Kasihan Budhe disana. Kakak yang kuat yaaa..”
Fiza mencoba menguatkan hati
kakaknya, padahal dari dalam dirinya sendiri Fiza sangat hancur. Bahkan
badannya sangat lemas saat kali pertama melihat kondisi Budhenya. Orang yang
selalu meluangkan waktunya untuk Fiza, pengganti Ayah Fiza dan kakek Fiza.
Benar-benar lemas badan Fiza. Fiza pun tak mampu membendung air matanya. Saat air
matanya terjatuh, Fiza segera mengusap air matanya agar kakak sepupunya tidak
tahu. Kemudian Fiza meminta kakaknya menunggu di luar. Sementara Fiza masuk ke
dalam ruangan semi kritis.
Pelan-pelan. Lemas.
Begitulah Fiza melangkahkan kakinya menuju ruangan hijau itu. Dia mendekat di
sisi Budhenya. Dan saat Fiza datang, kondisi Budhenya sudah tidak sadar.
Budhenya sudah memakai alat bantu bernafas. Dan Fiza sangat menyesal karena
tidak segera datang ke rumah sakit saat mendapat kabar tentang Budhenya. Paman
Fiza mengatakan kalau saat sampai di rumah sakit, Budhenya masih sadar dan bisa
diajak berbicara. Kemudian tak lama, budhenya drop. Dokter akhirnya mengambil
keputusan untuk melakukan rongsen di kepalanya.
Sejak di rongsen sampai Fiza
datang, Budhenya masih belum sadar. Tapi Fiza yakin kalau Budhenya tau dan
pasti masih sadar. Saat Fizaa membisikkan kata-kata di telinga Budhenya,
walaupun Budhenya menutup mata, Budhenya meneteskan air mata. Mungkin itu
adalah tandanya Budhenya tau kalau Fiza ada disitu.
Sambil menguatkan diri, Fiza
mendekatkan mulutnya di telinga Budhenya.
“Budhe kuat dan pasti kuat.
Budhe bisa. Kami disini masih butuh Budhe dan Budhe harus sembuh” bisik Fizaa.
Air mata Fiza tak bisa ditahan. Air matanya pun membasahi pipi da tangan Fiza.
Saat Fiza membisikkan
kata-kata penyemangat untuk Budhenya, air mata Budhenya selalu menetes.
Kadang-kadang tangannya juga bergerak. Fiza berulang-ulang menyemangati
Budhenya dan membisikkan ayat-ayat Al Qur’an yang sudah dihafalnya. Saat
mendengar ayat-ayat Al Qur’an dari Fiza, alat jantung selalu memberi respon.
Dan setiap sampai pada kata tertertentu ayat Al Qur’an, saat itulah alat
jantung memberikan respon.
Tiiiitttt.........suara
alat itu sangat menakutkan bagi Fiza. Warna
garis merah, Hijau tertera jelas di monitor tersebut. Dan jika garis menunjukkan
tanda lurus, segera Fiza baca Ayat itu lagi. Alhamdulillah kembali normal lagi.
Fiza benar-benar tak kuat berada lama-lama di ruangan tersebut. Saat beberapa
sanak saudara datang, Fiza keluar dan menunggu di luar bersama kakaknya. Fiza
tak kuat dan pecahlah tangisannya.
“Budhe adalah orang yang
kuat. Aku sangat salut pada Budhe,,,hiks...hiks...”
Fizaa tak bisa banyak
bicara. Dia terus terisak-isak. Dia menangis tanpa diketahui kakaknya. Saat dia
sudah bisa mengendalikan diri, dia kembali menemui kakaknya.
**
Beberapa orang yang menunggu
di luar terkejut. Dokter memanggil keluarga dan memberi tahu bahwa Budhenya
harus dipindah ke ruang kritis. Ruang berganti warna menjadi merah. Dan itulah
ruang kritis. Fiza semakin lemas. Kondisi budhenya semakin menurun. Alat bantu
yang dipakai semakin banyak. Ruangan steril dan tak ada yang boleh masuk
seorangpun.
Fiza memang gadis yang
ngotot. Dia menemui dokter yang ada di ruang kritis. Benar-benar dia
memberanikan diri masuk ruangan itu. Fiza mengekor dokter yang menanganinya.
Sempat dia ditegur oleh satpam penjaga ruangan, tapi Fiza tak peduli. Dia
melihat dokter membawa hasil rongsen kepala Budhenya. Fiza penasaran. Setelah
dokter tersebut diskusi dengan teman dokternya membicarakan masalah hasil
rongsen, Fiza menemui dokter tersebut dan menanyakan hasilnya.
Sepertinya tidak suka ada
anak gadis yang ikut campur. Begitulah respon yang terlihat di wajah dokter
yang ditanyai Fiza. Jawaban yang dikatakan pada Fiza tak menyenangkan.
Sementara Fiza terus bertanya. Apalagi keluaga Budhenya lemas. Hanya Fiza yang
berani mengekor dokter dan menanyakan seputar kondisi Budhenya. Mungkin karena
Fiza bukan anak kandungnya atau keluarganya yang bersangkutan, akhirnya info
yang di dapatkannya sangat minim.
Khawatir. Fiza memegangi
jari tangannya. Dia tak lapar. Rasa laparnya sudah hilang. Dia sudah lupa akan
rasa sakit di perutnya. Dia menunggu kabar baik datang dari pihak rumah sakit.
Berkali-kali ibunya menolpon menanyakan keadaannya Budhenya. Fiza masih bingung
dan pikirannya kacau.
Dua jam menunggu setelah
dibawa di ruang kritis, tiba-tiba dokter memanggil anggota keluarga. Dada Fiza
sesak. Air matanya tak mampu dibendung lagi. Tak lama, Pakdhenya keluar dengan
mata merah. Fiza segera menyeka air matanya. Dan semua menanyakan apa yang
terjadi pada Pakdhenya dan berkumpul mendekat.
“Dokter memerintah harus di
rujuk di lain rumah sakit”ucap Pakdhenya dengan lemas.
“Dirujuk kemana?”tanya Kakak
“di Malang atau di Blitar.
Ada dua pilihan”.
Kondisi Pakdenya sangat
lemas dan tak bisa diajak banyak bicara. Dengan rundingan dari beberapa anggota
keluarga, akhirnya memutuskan untuk merujuknya di Rumah sakit Malang. Malam,
sekitar Ba’dha Maghrib mobil ambulan menuju Malang. Yang ikut hanya Pakdhenya
dan kakaknya. Fiza sebenarnya disuruh ikut. Tapi Fiza tak mendapat ijin dari
ibunya. Ibunya tahu kalau kondisi Fiza sendiri sedang tidak sehat.
**
Empat hari Budheya di rawat
di Malang. Fiza belum sempat menjenguk karena masih sibuk dengan
tugas-tugasnya. Perasaan dan pikirannya kacau. Karena khawatirnya, Fiza sering
menelpon kakaknya dan menanyakan kondisi Budhenya. Pada awalnya, kakaknya
selalu memberi kabar tentang Budhenya. Tapi setelah dua hari, setiap kali Fiza
tanya, jawabannya hanyalah Fiza diminta mendoakan yang terbaik untuk Budhenya.
Pikiran Fiza tambah makin kacau. Dia tak bisa kesana. Dan hanya mendoakan dari
rumah.
Kebetulan, salah satu teman
dan sekaligus tetangga Fiza ada yang kuliah di Malang. Dia menjenguk Budhe
Fizaa. Mengetahui hal itu, Fiza menanyakan kondisi Budhenya pada temannya yang
kuliah di Malang. Dia menjelaskan panjang lebar pada Fiza melalui telepon. Fiza
hanya diam dan tak merespon. Usai semua penjelasan itu, badannya Fiza makin
lemah dan pikiranya makin kacau. Harapan. Yaa, harapan dan doa yang mampu Fiza
lakukan.
Tepat pukul 09.00 WIB, saat
Fiza berada di kampus. Fiza tak melihat handphone.
Usai kuliah, dia langsung pulang. Betapa kagednya Fiza saat sampai di rumah.
Rumah Budhenya, yang ada di belakang rumahnya ramai. Dan di dapur neneknya,
para tetangga datang menata bunga. Fiza langsung menanyakan apa yang terjadi.
Seolah tak mungkin hal itu terjadi. Fiza duduk dan masih tak percaya. Kaged.
Kemudian ibunya menjelaskan apa yang terjadi.
“Fiz, kamu tadi tidak buka
handphone” tanya Ibunya.
Fiza lemas. Matanya merah.
Dia tak mampu menangis. Tak kuat dengan sakitnya hatinya. Tapi apalah daya. Segala
sesuatu telah ditentukan takdirnya oleh Allah. Fiza berusaha ikhlas dan harus
ikhlas akan semua takdir Allah. Dia sangat menyesal belum bisa memenuhi
permintaan terakhir Budhenya. Fiza belum bisa membalas kebaikan Budhenya. Dan
hanya doa yang sekarang sangat dibutuhkan oleh Budhenya.
“Budheku adalah Budhe paling
baik dan paling kuat. Terima kasih telah menjadi Budheku. Dan aku, akan selalu
rukun bersama kakak. Aku aku membantu kakak sebisaku dan semampunku. Doaku tak
akan pernah putus untukmu” ucap Fiza dalam hati.
**
Seiring berjalannya waktu,
tentu hal yang dialami Fiza masih sulit untuk dilupakan. Apalagi rasa sedih
yang Fiza alami. Butuh waktu yang cukup lama. Fiza menyadari bahwa segala
sesuatu yang dilakukan harus selalu diniati karena Allah. Fiza memulai
menyegarkan dirinya kembali usai kejadian yang menimpanya. Hampur dua bulan
berlalu dan Fiza masih terus berusaha menerima ketetapan Allah.
Fiza kembali pada
aktivitasnya, dan kini dia lebih berhati-hati menjaga kesehatan dan waktunya.
Menggunakan waktunya untuk kegiatan yang benar-benar bermanfaat.
“Fiz, ayo nonton. Filmnya
bagus. Nanti aku bayarin” ajak Dila, teman kuliahnya.
“Enggak aja, Dil. Aku harus
segera pulang. Maaf yaa”
“Beneran loh..., ini nanti
aku yang bayarin” paksa Dila.
Sekali lagi Fiza tersenyum
dan menghampiri Dila. Dia membisikkan kata terima kasih dan maaf pada
sahabatnya itu. dila memomcongkan mulutnya dan kemudian berkata “Ya udah
deh.... hati-hati Fiz”. Fiza membalasnya dengan senyuman.
Sampai di rumah, Fiza
langsung membuka buku catatan favoritnya, dia selalu mengisi buku tersebut
dengan pesan-pesan penting dan pelajaran yang di dapat dalam setiap harinya.
Fiza sadar tak ada yang tahu kapan rezeki, mati dan jodoh itu datang. Manusia
hanya berusaha untuk mempersiapakanya dan mencari Ridho Allah. Dalam setiap
hari yang dilalui tak ada judul apapun yang sesuai untuk segala hal kecuali
hanya judul yang selalu di arahkan mencari ridho Allah untuk mempersiapakan
segala ketentuan yang telah ditetapkan. Ajukanlah
judul yang baik untuk kehidupan yang lebih baik. Dan sebaik-baiknya judul
adalah judul yang berkaitan dengan isi bacaan, sama halnya denga suatu
kehidupan, sebaik-baiknya pola kehidupan adalah kehidupan yang selalu tertaut
dengan pencipta Hidup. Fiza termenung.
Diam. Beberapa detik kemudian tangannya menumpahkan tinta dalam pen ke dalam
buku favoritnya :
“Aku tidak punya judul untuk semua kegiatan
yang aku lalui. Dan bahkan aku tak ingat lagi apa yang telah aku lalui karena
aku tak mamberinya judul. Aku takut aku akan kecewa memberinya judul jika pada
akhirnya tidak sesuai dengan judul yang aku buat. Aku pasrahkan semua isi
bacaan yang akan terjadi pada pembuat Judul Yang Hakiki. Walaupun aku tak punya
judul, tapi aku punya tema. Tema itu yang akan selalu aku pengang dan aku
gunakan untuk mengisi ceritaku. Karena tema akan selalu tetap, sementara judul,
bisa berganti seiring munculnya ide-ide baru dalam cerita”
Hafiza Haura Layyinah