Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

1/03/2016

Tpoem

By: Catatan Tania P On: 20.08
  • Share The Gag
  • Tikus
    oleh Tania Pramayuani
    Tikus gendut yang rakus
    Melahap dengan tatapan mata bengus
    Jatah singa disirgap tanpa diendus
    Karena turut nafsu bejatnya
    Apakah si tikus lupa
    Akan hakikat singa sang raja rimba
    Jasa hanya pemanis mulut
    Tak berani bertindak hanya mengikut
    Sungguh tak berhati si tikus pengecut
    Rela datang meminta tak sudi berbalas jua
    Bulunya yang kumal dan berbau sampah
    Analogi diri sesungguhnya
    Lebih mulia singa mati dengan jasanya
    Daripada tikus mati karena ulahnya

    sinopsis

    By: Catatan Tania P On: 14.48
  • Share The Gag
  • Tarian dan Budaya

    Samin adalah pemuda penyemir sepatu yang kuliah di kota. Sebagai pengembangan diri, dia mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa(UKM) kesenian. Suatu hari, ada lomba tarian yang digelar di provinsi. Samin terpilih untuk mewakili kampusnya dengan menampilkan sebuah tarian tradisional dari desanya. Radit, salah satu teman Samin di UKM kesenian tidak senang dengan terpilihnya Samin. Dia menilai tarian Samin terlalu kampungan dan lebih menyukai tariannya yang modern. Dia mencari cara agar Samin tidak jadi mengikuti lomba. Pemuda kota itu, mencampurkan lem di semir sepatu Samin. Saat Samin bekerja, pelanggannya mengeluh karena sepatunya menjadi lengket dan rusak. Pelanggannya minta ganti rugi. Samin sadar bahwa sepatu itu harganya mahal dan hal ini menyebabkannya untuk mencari kerja tambahan sebagai buruh di pasar untuk mengganti rugi sepatu itu. Karena kesibukannya bertambah, Samin mengundurkan diri dari lomba. Radit pun menggantikan Samin. Seminggu sebelum lomba dimulai, Radit mengalami cidera di kaki saat latihan dam menyebabkannya tidak bisa berjalan. Samin melihat hal itu dan dia mengurut kaki Radit hingga Radit bisa berjalan. Radit terharu dan merasa bersalah. Dia mengakui kecurangannya pada Samin di depan semua teman-temannya di UKM kesenian. Ternyata Samin tidak marah, dia malah mensuport Radit untuk terus maju di lomba itu. Semua teman-teman Samin kasihan pada Samin dan membantunya untuk membayar ganti rugi. Hutang Samin pun lunas. Atas kesepakan forum, akhirnya Samin dan Raditlah yang dikirim untuk mewakili kampus. Mereka berdua saling bekerjasama memadukan tarian tradisional dengan tarian modern. Mereka menjadi sahabat. (Tania)

    Tpoem

    By: Catatan Tania P On: 14.38
  • Share The Gag
  • Keluh
    oleh Tania Pramayuani

    Pintu berdecit memilukan
    Mengena dalam kabin mata
    Angin yang menari pun enggan berhenti
    Walau cuma sedetik dijalani
    Sang mentari hanya mengintip
    Dari celah remang antara kenyataan dan kepalsuan
    Sayup irama orasi orator
    Dilema pun patokan intelek
    Padahal antara plus dan minus
    ada sama dengan di ujung mata
    Jika logika berkata sepakat
    Maka hati terpaksa terjerat
    Dalam anggan yang tiada ikat
    Satu persatu pecah
    Dalam mozaik tak berarah
    Hanya kegundahan yang tidak bercelah
    Sungguh dan sungguh
    Mulut menganga dan suara bergaung
    Menegakkan logika yang katanya,
    dari hati....
    Apakah itu sebuah kebenaran yang hakiki
    Ataukah hanya hipotesa dini
    Ah, tiada yang tahu
    Antara kebenaran logika dan hati terbuka
    Hanya diam dan merenung
    Dalam kidung malam kalut rindu
    Antara hati dan logika berkeluh
    Membela argumennya masing-masing

    Tpoem

    By: Catatan Tania P On: 08.56
  • Share The Gag
  • Flu
    oleh Tania Pramayuani

    Integrasi antara rasio dan hati
    Luput dari keniscahyaan semata
    Haluan membumbung seolah tak sirna
    Air muka berkeluh meretas harapan
    Menitih liku asa bintang
    Mampat sudah renda imagi
    Untuk harapan yang pernah dinanti
    Sepahit maja, seasin garam
    Telak jawaban pun berasas logika
    Obat tak mampu mengobati
    Flu tetaplah virus flu
    Anugrah dari pencipta hidup

    1/02/2016

    Artikel

    By: Catatan Tania P On: 04.03
  • Share The Gag
  • Menumbuhkan Kesadaran Masyarakat terhadap Eksistensi  Budaya Lokal

    oleh Tania Pramayuani



    Aset lokal merupakan kekayaan yang dimiliki suatu daerah yang dapat digunakan untuk mengembangkan potensi daerah tersebut. Aset sendiri memiliki hubungan yang signifikan terhadap perkembangan suatu daerah. Jika aset yang ada dalam suatu daerah dapat dikembangkan, maka aset tersebut mendatangkan keuntungan yang cukup besar dan sekaligus memperkenalkan daerah  dalam ranah yang lebih luas. Jika pada awalnya nama daerah tersebut hanya terdengar dalam lingkup provinsi, maka peluang untuk terdengar sampai ranah nasional maupun internasional semakin besar. Namun jika aset daerah hanya dibiarkan, tanpa ada tindakan pengembangan, maka tidak akan ada perbedaan antara daerah yang berpotensi dan daerah yang tidak berpotensi. Alih-alih jika sudah diketahui oleh pihak mancanegara, aset tersebut bisa dikembangkangkan oleh pihak mancanegara. Kemungkinan, mereka berdalih akan mengadakan sebuah kerjasama yang sifatnya progresif antar kedua belah pihak, padahal dibalik dalih lembut tersebut ada motif tersendiri yang ingin merongrong aset daerah yang bersangkutan. Jika hal ini sampai terealisasikan, maka keberhasilan sesungguhnya hanya dimiliki oleh pihak yang mengajak kerjasama.
    Dunia mengenal mancanegara (baca:subyek kerjasama internasional) telah memproduksi sesuatu yang super, padahal barang yang diproduksi itu tidak murni Sumber Daya Alam (SDA) sendiri. Hal ini perlu disinyalir apa motif kerjasama yang dilakukan. Memang tidak semua kerjasama itu bersifat negatif, tapi seperti yang telah terjadi di Indonesia, mayoritas tidak sesuai dengan harapan (baca:kerjasama bidang perindustrian dan pertambangan). Agar hal yang tidak diinginkan tidak terjadi, diperlukan suatu proses berfikir yang membedakan manusia dengan makhluk lain dalam mencari solve problem. Ali Makshum dalam bukunya “Pengantar Filsafat” menyebutkan bahwa pemahaman kognisi (pengetahuan), afeksi (perasaan), konasi (kehendak) dan aksi (tindakan) atau sering disebut daya cipta, rasa, karsa dan karya mampu mencipta, mengelola dan mengubah lingkungan sekitarnya ke arah yang lebih baik. Utamanya daerah yang dekat dengan kita, kota kelahiran.
    Aset Daerah dalam Bidang Industri
    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) industri diartikan sebagai suatu kegiatan memproses atau mengelolah barang menggunakan sarana atau peralatan (mesin). Hal ini menunjukkan apapun bentuk prosesnya asal ada sarana dalam proses pembuatannya dapat dikatakan sebagai suatu proses perindustrian. Dalam modul Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) disebutkan ada dua jenis perindustrian. Pertama, perindustrian skala kecil. Perindustrian kecil memiliki ciri-ciri yaitu: alat-alat yang digunakan masih tradisional, tenaga kerja sedikit, area yang digunakan tidak begitu luas, dan proses pendistribusiannya masih bersifat lokal. Kedua, perindustrian skala besar. Ciri-ciri perindustrian skala besar yaitu :alat-alat yang digunakan sudah modern, tenaga kerja sudah banyak, area yang digunakan sudah luas dan pendistribusiannya sudah mencapai nasional bahkan internasional.
    Kendati ada dua pembagian jenis industri, tidak menutup kemungkinan ada kesamaan dalam kedua jenis industri tersebut. Setiap industri yang berdiri di suatu daerah, akan membawa dampak besar bagi masyarakat sekitar daerah industri. Hal nyata yang langsung dirasakan adalah terserapnya banyak tenaga kerja. Jumlah pengangguran berkurang, sehingga mengurangi social problem di masyarakat. Tulungagung terkenal sebagai kota marmer yang tepatnya di Kecamatan Besole. Hal ini membawa dampak positif bagi daerah Tulungagung. Tidak hanya masyarakat Besole yang diuntungkan dengan terserapnya banyak tenaga kerja, melainkan keseluruhan warga Tulungagung. Masyarakat Tulungagung merasa bangga terhadap daerahnya dan semakin berkeinginan untuk menjaga aset yang sangat penting ini.
    Aset Kepariwisataan
    Setiap daerah memiliki potensi wisata yang berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri. Bahkan ada daerah yang mempunyai ciri endemis. Semakin banyak wisata yang ada di suatu daerah maka semakin berwarna pula daerah tersebut. Berwarna dalam hal kekhasannya. Ada nilai tersendiri yang dimiliki daerah itu. Daerah tersebut akan terkenal dan banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang ke tempat wisata. Hal ini akan menambah pemasukan ekonomi. Tidak hanya kalangan pemerintah yang senang, melainkan masyarakat juga ikut senang menikmati hasilnya. Pada akhirnya hasil tersebut akan dikembalikan lagi untuk kepentingan warga. Warga yang ada di sekitar daerah wisata dapat menemukan lapangan kerja baru. Tentu dengan adanya central public seperti tempat wisata, akan muncul kekreatifan masyarakat untuk berkarya dan menghasilkan uang. Misal, warga yang tinggal di dekat Pantai Popoh banyak yang menjual berbagai kerajinan tangan dari kerang, menjual berbagai makanan ringan dan beberapa nelayan juga cukup diuntungkan dengan hal ini.
    Tempat wisata di Tulungagung tidak hanya Pantai Popoh, ada banyak pantai seperti Pantai Sanggar, Pantai Coro, Pantai Sine, Pantai Dlodo, Pantai Sidem, dan masih banyak pantai lain yang ada di Tulungagung yang merupakat aset dalam bidang pariwisata. Tulungagung merupakan kabupaten yang ada di daerah Selatan, dekat dengan Laut Jawa. Jadi, tidak heran jika ada banyak pantai di Kabupaten Tulungagung. Jika bagian Selatan Tulungagung kondang dengan pantainya, maka di daerah Barat Tulungagung kondang dengan wisata alamnya. Tulungagung bagian Barat merupakan daerah pegunungan dan ada wisata berupa air terjun segawe serta air terjun Lawean.
    Beralih ke wisata sejarah. Tulungagung juga merupakan salah satu daerah yang kaya akan wisata sejarahnya, seperti Candi Dadi yang ada puncak gunung, Candi Sanggrahan bertempat di Desa Sanggrahan, Candi Penampihan, Candi Gayatri dan beberapa tugu yang di temukan juga di dekat lokasi situs Candi Sanggrahan. Selain hal tersebut, keberadaan musium sejarah juga melengkapi kajian sejarah di Tulungagung. Pada 2012, salah satu tim Karya Ilmiah Remaja MAN Tulungagung 1 menemukan beberapa fosil. Fosil tersebut berupa fosil tumbuhan dan beberapa fosil hewan laut seperti kerang, siput dan kayu. Penemuan tersebut sekaligus sebagai bukti bahwa Tulungagung bagian selatan (kecamatan Tanggunggunung) dulunya adalah laut, seiring dengan perkembangan masa, laut tersebut turun sehingga daratan naik seperti konsep dalam ilmu geologi. Ada interprestasi bahwa Tulungagung bagian selatan dulunya adalah kjokermondeger (baca:tempat tinggal manusia purba) pada zaman prasejarah.
    Aset kepariwisaatan yang mencangkup wisata pantai dan  sejarah menarik untuk dikembangkan dan dapat digunakan sebagai kajian sumber ilmu pengetahuan juga. Hal ini sepatutnya dijaga dan dilestarikan supaya tidak ada pihak lain yang mengklaim aset kepariwisataan Tulungagung.
    Aset Budaya
    Sesuai pengertian pada KBBI, Budaya adalah sesuatu hasil cipta rasa dan karsa manusia. Dengan adanya budaya, suatu daerah akan merasa mempunyai identitas sendiri. Budaya sebagai sesuatu yang tidak dapat dibeli. Dengan adanya budaya, suatu daerah akan berwarna. Nilai-nilai kemasyarakatan akan tetap terjaga dengan adanya budaya itu. Budaya menyatukan masyarakat, tidak memandang derajat, agama dan status sosial. Asalkan teguh pada budaya setempat, maka nilai-nilai kemanusian akan tertanam. Biasanya hal demikian masih kental di daerah pedesaan. Sehingga tidak heran jika daerah pedesaan masih kental sifat-sifat kemasyarakatannya.
    Budaya di daerah Tulungagung yang terkenal adalah upacara manten kucing, tradisi ulur-ulur, larung sesaji, dan beberapa kesenian seperti jaranan senterewe, reog kendang, kentrung, dan batik merupakan salah satu ciri khas Kabupaten Tulungagung. Selain kondang akan wisatanya, Tulungagung juga kondang dengan budaya lokalnya. Budaya daerah tersebut mempunyai peran besar dalam membangun masyarakat Tulungagung sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa suatu daerah lahir  karena adanya budaya. Misal, salah satu nama perempatan di Tulungagung dikenal dengan nama perempatan BTA yang merupakan singkatan dari Batik Tulungagung. Sebelum penamaan perempatan tersebut, cukup banyak pengrajin batik di Tulungagung dan kini hanya beberapa yang masih bertahan, yaitu Batik yang ada di Kecamatan Kauman dan Kecamatan Kedungwaru. Miris, dulu hal yang dibangga-banggakan, seiring dengan adanya pergeseran dan perkembangan zaman, kini semakin punah. Jika tetap didiamkan seperti ini, ada indikasi budaya-budaya yang membangun Tulungagung akan hilang.
    Urgensi Pengenalan Aset Daerah
    Aset daerah akan memperkaya dan membentuk suatu identitas sendiri bagi daerah itu. Aset industri, kepariwisataan dan budaya masing-masing mempunyai implikasi yang hampir sama terhadap masyarakat. Secara keseluruhan aset-aset tersebut dapat menciptakan keuntungan diantara banyak pihak. Masyarakat akan menemukan pekerjaan, sehingga mengurangi beban sosial pemeritah, menumbuhkan rasa gotong-royong dan semangat kemasyarakatan yang kental dikalangan masyarakat. Rasa persatuan dan kesatuan akan tumbuh juga seiring dengan rasa menjaga aset daerah tersebut. Sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak  sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan apa yang ada di daerah, utamanya di daerah tempat kelahiran. Sebelum mempelajari dan menengok kepada daerah lain, tengoklah sendiri bagaimana daaerahmu. Seseorang tidak mungkin dikenal jika orang tersebut belum mengenal dirinya sendiri. Sama halnya dengan kasus ini, Tulungagung tidak akan maju sampai kancah internasional jika masyarakatnya belum mengenal tentang Tulungagung itu sendiri.
    Banyaknya aset budaya yang ada di masing-masing daerah memberikan suatu ciri khas dan nama tersendiri bagi daerahnya. Namun jika hal itu sampai diklaim oleh pihak lain, daerah yang bersangkutan akan menyesal. Penyesalan selalu datang di akhir peristiwa dan setelah menyesal itulah baru disadari bahwa sangat penting untuk menjaga apapun yang ada di daerahnya dengan serius. Menjaga bukan berarti mengikat, tapi menjaga adalah memberikan perhatian khusus pada hal yang bersangkutan.
    Menjaga itu penting tapi lebih urgen lagi adalah bagaimana menumbuhkan semangat kecintaan terhadap budaya lokal itu sendiri. Adanya pengetahuan, pemahaman dan kajian literasi seputar kebudayaan akan membukakan cakrawala tentang kesadaran menjaga budaya lokal. Aktif dalam mengikuti rangkaian kegiatan kebudayaan tanpa adanya asumsi negatif merupakan pengaplikasian dalam kesadaran akan pentingnya budaya lokal. Go Internasional merupakan salah satu eksistensi budaya lokal dalam ranah yang lebih luas.

    My cerpen

    By: Catatan Tania P On: 03.59
  • Share The Gag
  • Dalam Lingkar Kasih Tuhan
    Oleh Tania Pramayuani


    Panasnya matahari siang itu, tak menyurutkan usaha seorang nenek untuk menawarkan sapu-sapu lidi yang dijualnya. Bermodalkan dengan keranjang dari bambu berukuran 1.5mx1m dan dijinjing di pundaknya, serta diikat dengan tali putih yang melingkar di punggungnya adalah atribut rutin setiap hari yang dia gunakan. Orang-orang kota biasa memanggilnya dengan Mbah Sapu.
    “Sapu...sapu.sapu...” Teriaknya.
    Hal itu adalah cara yang dia lakukan untuk menarik pembeli. Suaranya yang tak begitu keras dan terdengar sendu sering dikalahkan oleh bunyi klakson mobil. Berteman dengan udara perkotaan yang penuh dengan polusi, kadang membuatnya merasa sesak. Sesekali jika dia lelah, dia akan meletakkan keranjang yang dijinjingnya dan melepaskan tali yang mengikat kerangjang.Trotoar adalah salah satu sandaran baginya untuk melepaskan letihnya hari. Ketika dia bersandar, uluran tangan beberapa orang tepat di depan wajahnya dan menjatuhkan sesuatu. Uang receh. Dia mendapatkan uang receh. Mereka mengiranya seorang pengemis. Wajah sumringah yang telah direncanakan berubah menjadi sedih saat dia mengetahui bukan uluran tangan pembeli yang datang. Hatinya membantah. Rasanya tak adil hal ini menimpanya. Tapi apa daya, dia hanya nenek yang tak punya apa-apa selain hartanya yang paling berharga, cucu satu-satunya, Soraya. Dia mempunyai tanggungjawab terhadap cucunya itu. Apapun akan dia lakukan untuk membahagiakan cucunya, asal jangan menjadi seorang pengemis. Itulah prinsip hidupnya.
    Setiap pulang jualan sapu, cucunya selalu berdiri di depan pintu rumah dan menyambut kedatangan neneknya dengan senyum bahagia. Gadis berusia dua belas tahun itu adalah gadis yatim piatu, kedua orang tuanya meninggal karena dibunuh oleh perampok saat mereka berusaha untuk mempertahankan hartanya ketika rumahnya dirampok dua tahun lalu. Dan yang lebih parahnya lagi, kedua oramg tuanyanya itu memiliki banyak hutang, hingga menyembabkan rumahnya itu disita. Mereka tak meninggalkan apa-apa untuk anaknya, Soraya. Tak ada pilihan lain untuk merawat Soraya selain neneknya sendiri, Nenek Wiji. Nenek Wiji juga sangat menyayangi Soraya, begitu dengan Soraya yang sangat menyayangi neneknya itu.
    “Nenek capek ya.. Sini aku pijat” tawar Soraya.
    “Tidak usah, Nak. Kamu belajar saja. Pasti kamu banyak pekerjaan rumah dan besuk kamu juga harus masuk pagi”
    “Tidak apa-apa, Nek. Aya sudah mengerjakan semua tugas sekolah. Sekarang adalah saatnya Aya untuk mengerjakan tugas Aya pada nenek”
    Neneknya hanya tersenyum melihat cucunya yang kini sudah mulai besar. Dulu, waktu pertama kali dia ikut bersamanya, Soraya masih berumur sepuluh tahun. Dia sering marah akan kondisi yang menimpanya. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, dia mulai bisa menerima kenyataaan bahwa sekarang dia bukanlah Soraya yang berusia sepuluh tahun lagi. Dia adalah Soraya yang berusia dua belas tahun.
    Karena Soraya terus memaksa, neneknya pun bersedia dipijat olehnya.Tangannya yang masih lembut dan kecil saat memijat pundak neneknya, membuat neneknya meneteskan air mata. Tak sadar hal itu diketahui oleh Soraya. Soraya langsung beralih duduk di depan neneknya dan menayakan apa yang terjadi.
    “Nenek kenapa menangis?” tanya Soraya sambil menyeka air mata yang membasahi pipi neneknya.
    Neneknya segera memegang tangannya. Nenek Wiji menyandingkan tangan Soraya dengan tangannya. Soraya masih belum mengerti apa yang diinginkan nenekya itu. Dia hanya menurut saja. Setelah tangan mereka berdua bersandingan, neneknya berkata “ Lihatlah, Nak. Tangan kamu dan tangan nenek”
    Soraya memagangi tangan neneknya dengan tangannya yang satunya, kemudian dia berkata “ Tangan nenek ini adalah tangan yang melindungiku, tangan yang meyuapiku yang selalu ada kapanpun aku butuhkan”
    “Tidak cucuku. Tangan ini sudah terlalu tua untuk terus menjagamu. Tangan ini aalah tangan yang selalu berteman dengan pisau untuk membuat lidi. Tangan ini adalah tangan yang selalu menganggat lidi-lidi itu”
    “Tangan nenek adalah tangan yang penuh dengan tanggung jawab” timpal Soraya.
    Perlahan Soraya sudah tak dapat membendung air matanya lagi. Kali ini air matanya jatuh dan menetes di tangan neneknya. Dia menunduk dan tak lama setelah menunduk dia tidur di pangkuan neneknya itu. Jarit yang digenakan neneknya sampai basah terkena air mata Soraya. Neneknya hanya mengelus-ngelus kepala Soraya. Dalam isakan tangisan Soraya, neneknya mengatakan sesuatu.
    “Nak, kamu harus janji pada Nenek. Jika tanganmu itu tak boleh sama dengan tangan nenek. Tanganmu harus lebih mulia daripada tangan nenek”
    Soraya langsung bergegas bangkit dari tidurya dan duduk menghadap neneknya kemudian berkata “ Tidak nenek. Tangan nenek sangat mulia. Nenek tidak boleh berkata seperti itu lagi”. Suasana makin hening, malam semakin larut. Hingga pada akhirnya secara tak sadar kedua orang dalam rumah gubuk itu tertidur dalam cengkrama malam yang ditemani dengan hujan. Rumah dari bambu yang disinari dua pelita malam itu terlihat penuh cerita.
    ***

    “Soraya, apa sudah sarapan” tanya neneknya
    “Belum, Nek. Masih nanggung ini lidinya hampir selesai mengikatnya”
    “Sudah, kamu letakkan saja itu Nak. Biar nanti nenek saja yang mengikatnya”.
    Soraya tak mau beralih dari tempat duduknya. Akhirnya neneknya pun mendatanginya dan membawakannya sarapan.
    “Ini makan, Nak”. Soraya melihat tangan neneknya yang hanya membawa satu piring saja.
    “Loh nenek mana, kok cuma satu piring saja. Apa nenek tidak makan?” tanya Soraya
    “Nenek sudah makan tadi subuh. Ini cepat dimakan nak” jawabya
    Soraya kemudian bangkit dari duduknya dan pergi melihat dapur. Ternyata memang tak ada nasi yang tersisa dan tak ada lauk pula. Makanan yang barusan diberikan oleh nenekya itu adalah sisa makanan kemarin. Soraya pergi menemui neneknya dan bermiat untuk berbagi nasi dengan nenekya itu.
    “Nek, kita makan berdua ya nasinya. Apapun lauknya walau hanya dengan bawang goreng saja, asalkan dimakan berdua sama-sama maka tak akan terasa pahitnya makan”
    Sekali lagi neneknya hanya tersenyum melihat cucunaya yang semakin dewasa dan semakin pengertian. Dalam hati neneknya berkata “ Kamu sudah pas jika aku tinggal sekarang Nak. Aku akan tega meninggalkanmu dengan kedewasaanmu sekarang ini”. Soraya tak tahu apa yang barusan dipikirkan neneknya. Dia menikmatinya sarapannya. Sesekali mengulum senyum pada neneknya. Wajahnya polos, tak tahu akan hal yang dipikirkan neneknya.
    Hari pun mulai siang. Mereka berdua menjalankan aktifitas masing-masing. Nenek Wiji pergi menjual sapu lidinya dan Soraya pergi ke sekolah. Sebelumnya mereka selalu berangkat bersama, mereka mulai berpisah saat sampai di pertigaan tak jauh dari rumah. Neneknya pergi ke kota untuk menjual sapu, sedangkan Soraya pergi ke Sekolah Menengah Pertama yang bertetanggaan dengan desanya.
    “Sapu..sapu.. Sapu lidi Pak, Bu”
    Seperti biasanya, Nenek Wiji menawarkan sapunya itu. Kali ini adalah hari baik baginya. Lima sapu yang dibawanya terjual habis. Padahal biasanya paling banyak hanya terjual tiga atau bahkan tidak laku satu pun. Dengan senyuman sumringah dan hati bahagia, Nenek Wiji berencana membelikan sesuatu untuk cucunya. Walau jalannya tak secepat saat dia masih muda dan fikirannya tak semodern zaman sekarang, tapi dia masih mengerti apa dan bagaimana selera anak-anak sekarang. Dia merasa kasihan dengan Soraya yang setiap hari selalu dihina teman sekelasnya karena menggunakan tempat pensil dari untaian lidi yang dibentuk persegi panjang. Padahal, teman-teman sekelasnya mengunakan tempat pensil yang indah dan lucu. Kali ini, Nenek Wiji pergi ke toko buku yang dia lalui. Dia mampir disitu. Sangat mengejutkan saat dia disitu, pandangan para pembeli yang lainnya agak anaeh. Penampilannya yang masih menggunakan baju zaman dulu dan masih menggunkan jarit dipandang aneh oleh orang-orang sekitarnya.
    “Mbak saya mau membeli tempat pensil yang itu” kata nenek wiji sambil menunjuk tempat pensil yang dipilihnya. Penjual mengambilkan tempat pensil yang dipiih Nenek Wiji. Tempat pensil bermotifkan batik dengan warna ungu dan kombinasi coklat terlihat elegan daripada tempat pensil yang saat ini dipakai Rina untuk sekolah. Nenek Wiji pulang dengan perasaan bahagia karena membawa hadiah untuk cucunya.
    Awassss Nekkk...........
    Teriak orang disekitar jalan. Tapi hal yang tak diinginkan sudah terjadi. Tubuhnya terkapar di tengah jalan berlumuran darah. Hadiah yang sedari tadi di dekapnya melayang sampai ke ujung jalan. Keranjang yang dijinjingnya sampai terbelah menjadi dua Orang-orang segera berlari mendekatinya dan berkerumpul. Mereka membawanya ke rumah sakit, termasuk orang yang menabraknya mengantarkannya ke rumah sakit. Penabrak sangat panik dan bertanya pada orang-orang tentang keluarga nenek yang barusan ditabraknya itu. Setelah diketahui bahwa nenek itu hanya hidup bersama dengan cucunya saja, dia langsung lemas. Tapi segera mungkin, pria berdasi dan bersepatu itu menjemput Soraya ke sekolahnya.
    Soraya yang sedari tadi memperhatikan penjelasan gurunya, tiba-tiba konsentrasinya pecah saat salah satu guru datang ke dalam ruang kelasnya dan mengatakan bahwa Soraya dicari oleh keluarganya. Bingung. Dia tak punya keluarga selain neneknya, tapi kenapa ada yang mencarinya. Dia pun keluar. Sampai keluar, dia tak melihat ada orang yang mencarinya. Hanya mobil avansa putih dan seorang pria berdasi yang ada di situ. Ternyata pria tersebut melihatnya dan datang menghampirinya.
    “Kamu Soraya ya...” tanyanya
    Soraya mengangguk.
    “Sekarang kamu ikut saya ke rumah sakit ya. Ini berkaitan dengan nenekmu”. Tanpa berfikir panjang, Soraya langsung menyetujui ajakan pria yang barusan ditemuinya itu. Kalut. Saat itu hanya was-was yang menyelimuti hatinya.
    Sesampai di rumah sakit, Soraya diantar pada kamar ICU dimana neneknya di rawat. Dia langsung tersungkur lemas tak berdaya melihat kondisi neneknya yang baru tadi pagi sarapan dengannya dalam kondisi sehat dan bahagia kini tak berdaya. Menangis. Itulah yang dapat dia lakukan. Dia akhirnya tahu bahwa pria yang barusan menjemputnya itu adalah orang yang menabrak neneknya. Dalam hati ingin sekali Soraya memukul orang itu. Tapi badannya sudah tak kuasa. Lemas. Untuk berjalan pun tak kuat. Dia hanya bisa melihat neneknya dari balik kaca jendela ruang ICU. Sesekali pria yang menabrak neneknya itu menghampirinya dan membawakan es krim. Soraya terus terisak. Pria yang berdasi itu tak tega melihat kondisi Soraya.
    “Nak, saya minta maaf atas apa yang terjadi. Ini semua bukan karena faktor kesengajaan. Maafkan saya nak”
    hiks...hiks...hiksss..
    “Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada nenek saya”
    “Saya akan tanggungjawab, Nak. Kamu jangan kawatir. Sekarang kita berfikir positif saja tentang nenek kamu”. Soraya hanya terdiam. Dia tak menimpali perkataan pria itu.
    Tak selang beberapa lama, dokter dan para perawat yang sedari tadi ada di ruang ICU keluar. Wajah dokter dan para perawat yang keluar itu lemas. Pria itu segera mendekat dan bertanya apa yang terjadi. Dokter pun berkata “ Maaf pak, saya sudah berusaha sekuat mungkin tapi kehendakAllah lain”.
    Degh.........
    Soraya mengerrti apa yang dimaksud dokter itu. Dia menangis sekeras kerasnya dan memukuli pria yang menabrak neneknya. Tak beberapa lama, Soraya pun pingsan.
    ***
    Saat sudah siuman, Soraya kaget karena saat itu dia berada di kasur empuk. Berbeda dengan alas tidurnya tiap hari. Ruangan yang dia tempati pun juga sangat besar dan bersih. Dia tidak menemukan sorotan cahaya matahari dari bilik bambu seperti dulu. Sorotan matahari kini dia dapati dari jendela tempat dia tiur. Dia langsung beranjak dari tempat tidurnya. Tapi tak beberapa lama dia siuman, pintu ruangan itu terbuka. Pria yang menabarak neneknya itu datang dan membawakan susu.
    “Soraya sudah siuman. Bagaimana kondisimu?”tanya pria itu.
    “Bagaimana nenekku” tanya Soraya. Pria itu hanya terdiam dengan wajah sedih. Dia bekata “Saya siap dipenjara untuk tanggungjawab atas apa yang terjadi. Tapi sebagai tanggungjawabku padamu, kamu harus mau tinggal di rumah ini bersama dengan istri saya. Saya tidak mungkin membiarkan kamu hidup sendirian di dunia yang luas ini. Apalagi saya sudah banyak mendengar tentang cerita hidup kamu. Oh iya, perkenalkan nama saya Hasan. Jika kamu tidak keberatan kamu bisa memanggil saya Ayah. Dan istri saya bernama Halimah. Sekarang dia masih memasak di dapur”
    Mendengar apa yang barusan dituturkan Pak Hasan, Soraya tak tega jika orang sebaik itu harus dipenjara. Menurut Soraya, Pak Hasan sangat tanggungjawab akan kesalahannya itu. Apalagi dia sampai menganggap Soraya sebagai anaknya sendiri. Soraya akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini. Hati Soraya mulai luluh dan sedikit demi sedikit Soraya mulai mengiklaskan kepergian neneknya itu.
    “Sudah tidak usah dibicarakan lagi masalah ini. Saya sudah ikhlas. Tapi maaf saya tidak bisa tinggal disini. Saya harus menjaga rumah nenek”. Hasan sangat sedih mendengar Soraya menolak tinggal bersamanya. Sebisa mungkin dia membujuk Soraya agar dia mau tinggal bersamanya. Tidak mungkin anak ynag baru SMP itu tinggal sendirian di rumah gubuk itu. Bagaimana makannnya nanti dan kehidupannya. Hasan tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada Soraya nanti. Halimah, istri Hasan pun datang. Dia membawakan tempat pensil bermotif batik. Dia memberikan itu pada Soraya. Dia menjelaskan bahwa itu adalah barang yang di temukan tak jauh dari Nenek Wiji tertabrak. Walaupun tempat pensil itu sebagian ada yang sobek tapi masih tercium bau kalau barang itu masih baru. Soraya kembali teringat tentang neneknya dan mulai meneteskan air mata. Hasan dan Haalimah mencoba untuk menenangkannya. Sebisa mungkin Soraya menyeka air matanya. Soraya memasang senyum di bibirnya dengan paksaan. Halimah tau jika hal itu ipaksakan, Halimah pun memeluk Soraya dengan erat.
    “Menagislah sampai kamu puas Nak. Jangan ditahan. Saya mengerti apa yang kamu rasakan. Menangislah” ucap Halimah. Dalam dekapan Halimah, Soraya tak dapat membendung tangisannya. Walau bagaimananpun tak dapat dipungkiri bahwa dia masih sangat cinta dengan neneknya.
    Karena terus dipaksan dan dipaksa, akhirnya Soraya bersedia tinggal bersama keluarga Pak Hasan. Dia diperlakukan seperti anaknya sendiri dan mereka sangat menyayangi Soraya. Soraya makin hari tumbuh semakin cantik dan tambah dewasa. Tiga tahun sudah waktu yang dia habiskan bersama dengan keluarga Bapak Hasan. Walaupun begitu, dia tidak melupakan rumah neneknya. Setiap minggu dia selalu ke rumah neneknya dan membersihkan rumahnya. Dia sering menggunakan rumah itu untuk kerja kelompok bersama teman sekolahnya. Ada kenangan tersendiri di rumah itu, tangan keriput neneknya yang selalu mengusap dikala dia tidur sangat diruindukannya.
    Walau sudah tiga tahun hidup bersama dengan keluarga Bapak Hasan dan Ibu Halimah, Soraya masih belum bisa memanggil mereka degan nama ayah dan ibu. Dia tetap memanggil Hasan dengan Pak Hasan dan Halimah dengan Bu Halim. Walaupun begitu, mereka ternyata tidak mempermasalahkan dan tetap ikhlas merawat Soraya.
    Saat akan berangkat sekolah dan ingin berpamitan dengan Bu Halim,  Soraya melihat  Bu Halim sedang melihat foto-foto album semasa dia kuliah. Soraya mendekat dan ikut melihatnya. Disitu dia melihat ada orang yang dia rasa sangat akrab dengannya. Soraya  menanyakan siapa orang yang ada di foto itu. Halim menjelaskan bahwa orang itu adalah sahabatnya kuliah, namanya Aisyah. Tapi waktu sudah menghakhirinya. Dia sudah tidak di dunia lagi. Perlahan Soraya mulai meneteskan air mata, dia bertanya siapakah suaminya dan anaknya. Halim menceritakan bahwa suami Aisyah bernama Agus dan juga sudah meninggal. Mereka meninggal karena dibunuh oleh perampok, dan anaknya...........
    Halim tak melanjutkan ceritanya. Dia menangis. Air matanya sampai membasahi buku album yang dipegang dipangkuannya itu. Soraya bingung dengan Bu Halim
    “Anaknya kenapa Bu??” tanya Soraya semakin penasaran. Ada hal yang sangat mengusik hati Soraya tentang hal itu.
    “A..aa.aa.nakknya mereka adalah a..a..anak kandung saya, Nak” jawab Bu Halim dengan terisak-isak.
    Soraya kaget. Dia sampai melongo. Kemudian Bu Halim menceritakan apa yang terjadi pada anaknya itu. Dia menceritakan bahwa saat dia masih tinggal di Kalimantan, saat kelahiran anaknya itu, dia ditunggu oleh kedua sahabatnya itu. Tapi saat itu, ada aksi teroris di rumah sakit. Bu Halim dan Pak Hasan meminta kedua sahabatnya itu untuk membawa pergi anaknya ke jawa. Segera mungkin mereka membawa pergi bayi yang baru lahir itu. Sementara setelah kejadian itu, dia tidak bisa ke jawa dikarenakan sedang mengembangkan usahanya. Sangat miskin, hingga ongkospun tak ada untuk ke jawa. Kemudian setelah kondisi berubah, dan ekonomi mulai membaik. Bu Halim dan Pak Hasan pindah ke jawa dan mencari kedua sahabatnya itu. Tapi kabar yang di dapatnya adalah kabar buruk. Sahabatnya telah meninggal dan anaknya tidak ada yang tahu ada dimana. Sekarang dia hanya pasrah pada Tuhan tentang anaknya itu.
    Air mata Soraya mengalir dan dia menagis dengan terisak-isak. Halimah heran melihatnya seharusnya yang manangis terisak-isak adalah dirinya, bukan Soraya. Dia berfikir Soraya hanya terharu dengan ceritanya. MulutSoraya membuka dan berkata “Ibu..”
    Dia memeluk Bu Halimah. Halimah kaget. Soraya segera menjelaskan bahwa sahabat yang ada di foto itu adalah ayah dan ibunya. Dia adalah anak dari sahabtnya itu. Halimah seolah tak percaya tentang hal ini. Dia berkali-kali mencubit pipinya. Tangisan kebahagian megalir menyelimuti pertemuan antara anak dan ibu kandung. Halimah sangat senang bahwa anak yang selama ini bersamanya adalah anak kandungnya. Sesuatu yang secara terus-menerus diminta akan terkabul juga. Entah itu dengan cara menyenangkan ataupun cara yang menyeidhkan. Rahasia Allah sangat indah dan tak ada yang paham akan skenarionya.
    Sejak saat itu, Soraya mulai memanggil ayah dan ibu. Hasan dan halimah sangat senang dengan hal itu. Mereka akhirnya menjadi keluarga yang bahagia. Tidak hanya itu saja, Nenek Wiji adalah nenek yang sangat ikhlas menyayangi cucunya walaupun dia tahu bahwa Soraya bukanlah cucu kandungnya. Dia merawat dan membesarkan Soraya setelah kematian orang tua tiri Soraya. Sebagai dedikasi Soraya dan keluarganya pada Nenek Wiji yaitu rumah Nenek wiji kini dijadikan sebagai rumah pusat kerajina sapu lidi. Usaha sapu lidi menjadi wirausaha terkenal dan dengan sedikit modifikasi sapu yang lebih maju, usaha yang dulu ditekuni Nenek Wiji menjadi kondang. Soraya sendiri yang mengelolahnya. Dalam hati Soraya berkata “ Selamanya, nenek adalah nenekku. Jika nenek tahu, beberapa tahun lalu sapu ini bahkan sempat diacuhkan, tapi sekarang sangat kondang. Nenek akan bangga dengan usaha nenek ini. Semua ini adalah untuk nenek”. Sambil menatap langit kemudian melontarkan snyuman bagi para pekerjanya, Soraya duduk disamping salah satu pekerjanya yang sedang menggunting merek sapu. Sapu itu diberi nama Wiji broom. Rasa sayang yang Nenek Wiji berikan kepada Soraya hingga akhir hayatnya sangat membekas di hati Soraya. Pesannya pun juga sangat Soraya ingat. Kasih itu jika sudah tumbuh, sekat dan tabir kehidupan dalam skenario Tuhan sepahit apapun tak akan mempu menghalanginya. Dia akan tetap subur dalam nuansa cinta. Jika tuhan sudah bicara, apapun dapat terjadi. Tuhan itu Maha Pengasih, setiap manusia secara sadar atau tidak pasti ada dalam lingkar kasih Tuhan dalam menjalani hidup ini.

    Sehat

    By: Catatan Tania P On: 03.57
  • Share The Gag
  • Sehat, Pentingkah......?????
    oleh Tania Pramayuani
    (terinspirasi usai melihat keadaan rumah sakit)
    Sebelum mendefinisikan tentang arti dari sehat, coba sekarang kita tengok orang-orang yang sekarang terbarinng lemah di rumah sakit. Untuk makan pun tidak enak rasanya. Berjalan tidak kuat. Untuk buang air kecil atau buang air besar tidak bisa berjalan sendiri ke kamar mandi. Setiap hari, mereka harus merasakan perihnya jarum infus dan jarum suntik. Sedangkan bagi mereka yang sehat, keadaan berbanding terbalik dengan mereka yang sakit. Makan, berjalan dan aktivitas lain dapat mereka laukukan sendiri. Semuanya gratis. Berbeda dengan mereka yang terbaring di rumah sakit, mereka sudah mengalami sakitnya jarum infus, mereka juga harus kehilangan biaya untuk berobat. Dari kedua keadaan tersebut, apa yang harus kita lakukan??
    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sehat didefinisikan suatu keadaan baik seluruh badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit), waras. Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa sehat itu erat kaitannya dengan fisik manusia. Tidak menutup kemungkinan juga sehat berkaitan dengan rohani manusia. Karena ada sebuah istilah mensana in cor poresana yang berarti di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. Untuk memancarkan sebuah kesehatan itu diperlukan suatu usaha. Usaha bisa dari dalam maupun dari luar. Dari dalam (rohani), kita dapat mencoba usaha dengan cara membersihkan hati dari peneyakit hati. Sebisa mungkin melakukan suatu hal yang menyenangkan untuk membuat hati senang. Sedangkan dari kesehatn fisik, kita dapat melakukan cara dengan berolah raga teratur, mengatur waktu agar tidak capek, usahan tidur cukup dan jangan memaksakan diri jika badan sudah tidak kuat untuk beraktifitas. Biar bagaimanapun, kesehatan itu lebih utama daripada apapun. Seperti salah satu hadis yang maksudnya kesehatan akan terasa jika seorang sudah diuji dengan sakit. Lantas apakah kita harus menunggu sakit untuk merasakan nikmat sehat itu?
    Antara sehat rohani dan sehat fisik itu saling berhubungan. Dari sini yang lebih dominan adalah sehat rohani. Jika rohani sehat, maka dengan sendirinya akan terpancar keluar menjadi sehat fisik. Misal, seorang yang mempunyai suatu penyakit tertentu, setiap hari minum obat. Pada suatu saat, dia mengalami sesuatu yang menyenangkan bagi hidupnya seperti menemukan kekasihnya. Hatinya merasa senang. Nah, karena hatinya selalu merasa senang, orang tersebut tidak mengkonsumsi obat setiap hari. Dari sini dapat kita ketahui, bahwa dengan sehatnya rohani kita, maka penyakit jasmani pun akan hilang. Oleh karena itu, mulailah untuk membersihkan hati untuk menjaga kesehatan rohani.
    Kesehatan jasmani sendiri belum tentu mempengaruhi kesehatan rohani. Jika fisik/jasmani sehat, belum tentu rohani kita itu sehat. Misal, seorang yang kuat secara fisiknya, seperti olahragawan, mereka jelas mempunyai kesehatan jasmani yang optimal, tapi belum tentu dengan optimalnya kesehatn jasmaninya, mereka tidak akan merasakan sakit rohani. Mereka pasti sering merasakan yang namanya sakit hati, pikiran stress dan lain-lain.
    Dari beberapa pejelasan di atas, walaupun antara sehat rohani dan jasmani itu saling berhubungan dan sehat rohani mendominasi relasi tersebut, kita harus tetap menjaga kesehatan jasmani. Keduanya harus seimbang. Keseimbangan antara keduanya akan melahirkan sebuah energi positif bagi hidup kita. Jangan menunggu sakit untuk menyadari nikmat kesehatan itu. Tapi selalu ingatlah bahwa sehat itu adalah suatu nikmat yang perlu disyukuri. Dan jika sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga kesehatan, namun sakit tetap menimpa, maka jangan pernah juga menyalahkan takdir, karena sesungguhnya sakit itu akan menghapuskan semua dosa-dosa yang telah lalu.

    Resensi

    By: Catatan Tania P On: 03.55
  • Share The Gag
  • Komunikasi Dalam Ranah Visual

    Judul Buku : Metode Perancangan Komunikasi    Visual Periklanan
    Penulis : Drs Sadjiman Ebdi Sanyoto
    Penerbit : Dimensi Press
    Cetakan : Pertama, Juni 2006
    Tebal : xi+148 hlm.
    ISBN :979-98426-3-8
    Resensator : Tania Pramayuani

    Komunikasi tidak hanya diartikan sebagai bahasa lisan yang cara penyampaiannya secara langsung. Komunikasi sendiri dibedakan menjadi dua, komunikasi langsung dan komunikasi tidak langsung. Komunikasi langsung mudah dalam pengaplikasian dan mudah dalam mencari contoh di kehidupan sehari-hari, berbeda dengan komunikasi tidak langsung dimana cara pengaplikasiannya cukup rumit. Contoh saja adalah proses penyampaian pesan melalui media visual periklanan ( komersial). Periklanan sendiri masuk dalam kategori komunikasi, karena ada pesan yang akan disampaikan dalam sebuah iklan. Bahasa penyampaiannya itulah yang disebut dengan komunikasi.
    Buku ini membahas tentang bagaimana cara berkomunikasi secara tidak langsung melalui media periklanan. Mulai dari proses awal pembuatan komunikasi periklanan sampai pada tahap akhir dalam proses periklanan. Komunikasi yang digunakan dalam periklanan adalah komunikasi yang kreatif, yang dapat mempengaruhi target agar bertindak sesuai dengan keinginan pemberi pesan (persuasif). Selain itu ada ilmu lain yang menjadi pokok utama dalam periklanan, yaitu ilmu marketing dan ilmu desain grafis. Diperlukan suatu terget yang tepat dalam proses pemasaran. Sedangkan desain dalam hal grafis diperlukan untuk membentuk model-model visual yang kreatif dan mengandung nilai seni, sehingga target dapat terpengaruh dengan iklan.
    Bahasa yang digunakan dalam buku ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca. Pembaca tak merasa kesulitan saat menemukan kata asing. Kata asing juga sudah dilengkapi dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia.
    Keunggulan buku karya Dr. Sadjiman Ebdi Sanyoto adalah penyajian buku yang disusun secara sistematis serta dilengkapi pula dengan gambar atau bagan yang mempermudah pembaca dalam memahami isi buku. Penulis juga menambahkan ringkasan dalam setiap akhir bab, jadi jika pembaca ingin menuju pada pembahasan yang lebih singkat, pembaca dapat membaca ringkasannya. Ringkasan juga berfungsi untuk pemantapan pembahasan sebelumnya. Kepiawaian penulis dalam menyajikan dua alternatif penyajian, menjadi nilai plus tersendiri. Apalagi penulis menyertakan footnote, yang berarti menunjukkan bahwa penulis tak serta merta memasukkan opininya semata. Hal lain yang tak terlewatkan dalam buku setebal 148 halaman adalah cover yang cukup imajinatif dan tetap selaras dengan isi buku.
    Kelemahan dalam buku berjudul “Metode Perancangan Komunikasi Visual Periklanan” adalah kurang detailnya beberapa bab yang disajikan. Contoh saja dalam bab 8, tentang penyusunan laporan perancangan tidak dilengkapi dengan contoh laporan yang sudah jadi. Seharusnnya penulis memberikan contoh laporan yang sudah jadi. Sehinga pembaca lebih paham dan tidak berangan-angan.
    Buku ini layak untuk dibaca karena di di dalamnya memuat pembahasan-pembahasan tentang bagaimana cara penyajian komunikasi visual periklanan itu. Dari sini, tak hanya wawasan tentang komunikasi yang kita dapat. Wawasan tentang pemasaran dan desain grafis juga kita dapatkan. Jadi, dalam membaca satu judul buku, tiga ilmu sekaligus dapat dipelajari. Dan pemahaman kita tentang komunikasi menjadi lebih luas lagi. Cara berpikir menjadi dinamis, tak hanya terpaku pada kumunikasi dalam bentuk tulisan atau lisan. Tapi ada juga bentuk komunikasi lain seperti iklan. Sangat dianjurkan dibaca oleh para Mahasiswa, Pengajar dan praktisi bidang komunikasim desain grafis dan periklanan.

    KPI

    By: Catatan Tania P On: 03.53
  • Share The Gag
  • Selayang Pandang tentang Komunikasi Penyiaran Islam
    Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) adalah salah satu program studi (prodi)  yang ada dalam Perguruan Tinggi Islam. Komunikasi Penyiaran Islam berbeda dengan Ilmu Komunikasi. Ilmu Komunikasi lebih berorientasikan tentang bagaimana cara berkomunikasi yang benar sedangkan Komunikasi Penyiaran Islam lebih berarah kepada praktek langsung dalam pengaplikasian komunikasi itu sendiri. Intinya, antara kedua prodi tersebut mempunyai perbedaan dalam hal kajian umum serta dalam metode pembelajarannya, tapi hampir mempunyai kesamaan antar keduanya. Prodi Komunikasi Penyiaran Islam adalah salah satu prodi yang mencetak sarjana-sarjana yang ahli dalam bidang komunikasi. Komunikasi sendiri mempunyai cangkupan yang luas. Ada yang dinamakan komunikasi lisan maupun non lisan. Komunikasi lisan dapat diucapakan secara langsung dan komunikasi non lisan dapat disampaikan melalui tulisan. Dari pembagian jenis komunikasi tersebut, akan dikembangkan lagi pengaplikasian komunikasi yang lebih spesifik. Dalam hal ini, ada tiga jenis konsentrasi yang akan dikembangkan. Konsentrasi tersebut adalah jurnalistik, retorika dan broadcasting.  Jurnalistik  membahas seputar dunia kepenulisan, retorika berorientasikan pada cara penyampaian komukasi lisan dengan baik ( dakwah) sedangkan broadcasting mengarah kepada ketrampilan dalam bidang pertelevisian. Dari ketiga cangkupan tersebut, diharapkan lulusan KPI dapat menjadi sarjana Komunikasi Islam yang kompeten dalam bidang hubungan publik yang sesuai dengan kaidah islam. (Tan)

    Opini

    By: Catatan Tania P On: 03.50
  • Share The Gag
  • Liburan Menambah Ketrampilan


    Tania Pramayuani (@pra_taniiaa), Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri Tulungagung

    Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengisi liburan. Hal yang dapat dilakukan saat berlibur, membuat rohani menjadi fresh dan sekaligus menambah ketrampilan adalah melakukan liburan sembari belajar. Belajar yang dimaksudkan disini adalah belajar mencari pengalaman. Salah satu hal yang penulis tekankan dalam hal ini adalah pengalaman dalam berwirausaha. Sangat disayangkan, jika waktu libur berlalu begitu saja tanpa membekas sebuah pengalaman berharga. Cobalah untuk mencari pengalaman berwirausaha di daerah yang dekat dengan rumahmu. Selain itu, kesempatan ini juga dapat dimanfatkan untuk implementasi teori mengenai wirausaha yang pernah didapatkan. Jika belum mendapatkan ide untuk melakukan hal berkaitan dengan wirausaha, selagi liburan belum datang, sesegera mungkin mencari informasi tentang hal tersebut.
    Mulai sekarang, persiapkanlah rencana apa yang akan dilakukan saat belajar berwirausaha nanti. Bisa dengan membuat beberapa kerajinan tangan, atau mencoba melakukan produksi makanan tertentu dan kemudian menjualnya. Saat memilih untuk membuat kerajinan tangan atau memproduksi suatu produk tertentu, pastinya akan terbesit apa yang kita butuhkan dan bagaimana proses pembuatannya nanti. Nah, proses dalam pengumpulan dan pembuatan barang-barang tersebutlah yang dinamakan dengan liburan. Liburan dalam artian bebas dari tanggungan rutinitas sebelumnya menuju pada rutinitas lain yang cukup bermanfaat. Satu lagi, jangan lupa menumbuhkan rasa senang dan ikhlas. Karena tanpa kedua rasa itu hal ini sulit untuk direalisasikan.