Dalam Lingkar Kasih Tuhan
Oleh Tania Pramayuani
Panasnya matahari siang itu, tak menyurutkan usaha seorang nenek untuk menawarkan sapu-sapu lidi yang dijualnya. Bermodalkan dengan keranjang dari bambu berukuran 1.5mx1m dan dijinjing di pundaknya, serta diikat dengan tali putih yang melingkar di punggungnya adalah atribut rutin setiap hari yang dia gunakan. Orang-orang kota biasa memanggilnya dengan Mbah Sapu.
“Sapu...sapu.sapu...” Teriaknya.
Hal itu adalah cara yang dia lakukan untuk menarik pembeli. Suaranya yang tak begitu keras dan terdengar sendu sering dikalahkan oleh bunyi klakson mobil. Berteman dengan udara perkotaan yang penuh dengan polusi, kadang membuatnya merasa sesak. Sesekali jika dia lelah, dia akan meletakkan keranjang yang dijinjingnya dan melepaskan tali yang mengikat kerangjang.Trotoar adalah salah satu sandaran baginya untuk melepaskan letihnya hari. Ketika dia bersandar, uluran tangan beberapa orang tepat di depan wajahnya dan menjatuhkan sesuatu. Uang receh. Dia mendapatkan uang receh. Mereka mengiranya seorang pengemis. Wajah sumringah yang telah direncanakan berubah menjadi sedih saat dia mengetahui bukan uluran tangan pembeli yang datang. Hatinya membantah. Rasanya tak adil hal ini menimpanya. Tapi apa daya, dia hanya nenek yang tak punya apa-apa selain hartanya yang paling berharga, cucu satu-satunya, Soraya. Dia mempunyai tanggungjawab terhadap cucunya itu. Apapun akan dia lakukan untuk membahagiakan cucunya, asal jangan menjadi seorang pengemis. Itulah prinsip hidupnya.
Setiap pulang jualan sapu, cucunya selalu berdiri di depan pintu rumah dan menyambut kedatangan neneknya dengan senyum bahagia. Gadis berusia dua belas tahun itu adalah gadis yatim piatu, kedua orang tuanya meninggal karena dibunuh oleh perampok saat mereka berusaha untuk mempertahankan hartanya ketika rumahnya dirampok dua tahun lalu. Dan yang lebih parahnya lagi, kedua oramg tuanyanya itu memiliki banyak hutang, hingga menyembabkan rumahnya itu disita. Mereka tak meninggalkan apa-apa untuk anaknya, Soraya. Tak ada pilihan lain untuk merawat Soraya selain neneknya sendiri, Nenek Wiji. Nenek Wiji juga sangat menyayangi Soraya, begitu dengan Soraya yang sangat menyayangi neneknya itu.
“Nenek capek ya.. Sini aku pijat” tawar Soraya.
“Tidak usah, Nak. Kamu belajar saja. Pasti kamu banyak pekerjaan rumah dan besuk kamu juga harus masuk pagi”
“Tidak apa-apa, Nek. Aya sudah mengerjakan semua tugas sekolah. Sekarang adalah saatnya Aya untuk mengerjakan tugas Aya pada nenek”
Neneknya hanya tersenyum melihat cucunya yang kini sudah mulai besar. Dulu, waktu pertama kali dia ikut bersamanya, Soraya masih berumur sepuluh tahun. Dia sering marah akan kondisi yang menimpanya. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, dia mulai bisa menerima kenyataaan bahwa sekarang dia bukanlah Soraya yang berusia sepuluh tahun lagi. Dia adalah Soraya yang berusia dua belas tahun.
Karena Soraya terus memaksa, neneknya pun bersedia dipijat olehnya.Tangannya yang masih lembut dan kecil saat memijat pundak neneknya, membuat neneknya meneteskan air mata. Tak sadar hal itu diketahui oleh Soraya. Soraya langsung beralih duduk di depan neneknya dan menayakan apa yang terjadi.
“Nenek kenapa menangis?” tanya Soraya sambil menyeka air mata yang membasahi pipi neneknya.
Neneknya segera memegang tangannya. Nenek Wiji menyandingkan tangan Soraya dengan tangannya. Soraya masih belum mengerti apa yang diinginkan nenekya itu. Dia hanya menurut saja. Setelah tangan mereka berdua bersandingan, neneknya berkata “ Lihatlah, Nak. Tangan kamu dan tangan nenek”
Soraya memagangi tangan neneknya dengan tangannya yang satunya, kemudian dia berkata “ Tangan nenek ini adalah tangan yang melindungiku, tangan yang meyuapiku yang selalu ada kapanpun aku butuhkan”
“Tidak cucuku. Tangan ini sudah terlalu tua untuk terus menjagamu. Tangan ini aalah tangan yang selalu berteman dengan pisau untuk membuat lidi. Tangan ini adalah tangan yang selalu menganggat lidi-lidi itu”
“Tangan nenek adalah tangan yang penuh dengan tanggung jawab” timpal Soraya.
Perlahan Soraya sudah tak dapat membendung air matanya lagi. Kali ini air matanya jatuh dan menetes di tangan neneknya. Dia menunduk dan tak lama setelah menunduk dia tidur di pangkuan neneknya itu. Jarit yang digenakan neneknya sampai basah terkena air mata Soraya. Neneknya hanya mengelus-ngelus kepala Soraya. Dalam isakan tangisan Soraya, neneknya mengatakan sesuatu.
“Nak, kamu harus janji pada Nenek. Jika tanganmu itu tak boleh sama dengan tangan nenek. Tanganmu harus lebih mulia daripada tangan nenek”
Soraya langsung bergegas bangkit dari tidurya dan duduk menghadap neneknya kemudian berkata “ Tidak nenek. Tangan nenek sangat mulia. Nenek tidak boleh berkata seperti itu lagi”. Suasana makin hening, malam semakin larut. Hingga pada akhirnya secara tak sadar kedua orang dalam rumah gubuk itu tertidur dalam cengkrama malam yang ditemani dengan hujan. Rumah dari bambu yang disinari dua pelita malam itu terlihat penuh cerita.
***
“Soraya, apa sudah sarapan” tanya neneknya
“Belum, Nek. Masih nanggung ini lidinya hampir selesai mengikatnya”
“Sudah, kamu letakkan saja itu Nak. Biar nanti nenek saja yang mengikatnya”.
Soraya tak mau beralih dari tempat duduknya. Akhirnya neneknya pun mendatanginya dan membawakannya sarapan.
“Ini makan, Nak”. Soraya melihat tangan neneknya yang hanya membawa satu piring saja.
“Loh nenek mana, kok cuma satu piring saja. Apa nenek tidak makan?” tanya Soraya
“Nenek sudah makan tadi subuh. Ini cepat dimakan nak” jawabya
Soraya kemudian bangkit dari duduknya dan pergi melihat dapur. Ternyata memang tak ada nasi yang tersisa dan tak ada lauk pula. Makanan yang barusan diberikan oleh nenekya itu adalah sisa makanan kemarin. Soraya pergi menemui neneknya dan bermiat untuk berbagi nasi dengan nenekya itu.
“Nek, kita makan berdua ya nasinya. Apapun lauknya walau hanya dengan bawang goreng saja, asalkan dimakan berdua sama-sama maka tak akan terasa pahitnya makan”
Sekali lagi neneknya hanya tersenyum melihat cucunaya yang semakin dewasa dan semakin pengertian. Dalam hati neneknya berkata “ Kamu sudah pas jika aku tinggal sekarang Nak. Aku akan tega meninggalkanmu dengan kedewasaanmu sekarang ini”. Soraya tak tahu apa yang barusan dipikirkan neneknya. Dia menikmatinya sarapannya. Sesekali mengulum senyum pada neneknya. Wajahnya polos, tak tahu akan hal yang dipikirkan neneknya.
Hari pun mulai siang. Mereka berdua menjalankan aktifitas masing-masing. Nenek Wiji pergi menjual sapu lidinya dan Soraya pergi ke sekolah. Sebelumnya mereka selalu berangkat bersama, mereka mulai berpisah saat sampai di pertigaan tak jauh dari rumah. Neneknya pergi ke kota untuk menjual sapu, sedangkan Soraya pergi ke Sekolah Menengah Pertama yang bertetanggaan dengan desanya.
“Sapu..sapu.. Sapu lidi Pak, Bu”
Seperti biasanya, Nenek Wiji menawarkan sapunya itu. Kali ini adalah hari baik baginya. Lima sapu yang dibawanya terjual habis. Padahal biasanya paling banyak hanya terjual tiga atau bahkan tidak laku satu pun. Dengan senyuman sumringah dan hati bahagia, Nenek Wiji berencana membelikan sesuatu untuk cucunya. Walau jalannya tak secepat saat dia masih muda dan fikirannya tak semodern zaman sekarang, tapi dia masih mengerti apa dan bagaimana selera anak-anak sekarang. Dia merasa kasihan dengan Soraya yang setiap hari selalu dihina teman sekelasnya karena menggunakan tempat pensil dari untaian lidi yang dibentuk persegi panjang. Padahal, teman-teman sekelasnya mengunakan tempat pensil yang indah dan lucu. Kali ini, Nenek Wiji pergi ke toko buku yang dia lalui. Dia mampir disitu. Sangat mengejutkan saat dia disitu, pandangan para pembeli yang lainnya agak anaeh. Penampilannya yang masih menggunakan baju zaman dulu dan masih menggunkan jarit dipandang aneh oleh orang-orang sekitarnya.
“Mbak saya mau membeli tempat pensil yang itu” kata nenek wiji sambil menunjuk tempat pensil yang dipilihnya. Penjual mengambilkan tempat pensil yang dipiih Nenek Wiji. Tempat pensil bermotifkan batik dengan warna ungu dan kombinasi coklat terlihat elegan daripada tempat pensil yang saat ini dipakai Rina untuk sekolah. Nenek Wiji pulang dengan perasaan bahagia karena membawa hadiah untuk cucunya.
Awassss Nekkk...........
Teriak orang disekitar jalan. Tapi hal yang tak diinginkan sudah terjadi. Tubuhnya terkapar di tengah jalan berlumuran darah. Hadiah yang sedari tadi di dekapnya melayang sampai ke ujung jalan. Keranjang yang dijinjingnya sampai terbelah menjadi dua Orang-orang segera berlari mendekatinya dan berkerumpul. Mereka membawanya ke rumah sakit, termasuk orang yang menabraknya mengantarkannya ke rumah sakit. Penabrak sangat panik dan bertanya pada orang-orang tentang keluarga nenek yang barusan ditabraknya itu. Setelah diketahui bahwa nenek itu hanya hidup bersama dengan cucunya saja, dia langsung lemas. Tapi segera mungkin, pria berdasi dan bersepatu itu menjemput Soraya ke sekolahnya.
Soraya yang sedari tadi memperhatikan penjelasan gurunya, tiba-tiba konsentrasinya pecah saat salah satu guru datang ke dalam ruang kelasnya dan mengatakan bahwa Soraya dicari oleh keluarganya. Bingung. Dia tak punya keluarga selain neneknya, tapi kenapa ada yang mencarinya. Dia pun keluar. Sampai keluar, dia tak melihat ada orang yang mencarinya. Hanya mobil avansa putih dan seorang pria berdasi yang ada di situ. Ternyata pria tersebut melihatnya dan datang menghampirinya.
“Kamu Soraya ya...” tanyanya
Soraya mengangguk.
“Sekarang kamu ikut saya ke rumah sakit ya. Ini berkaitan dengan nenekmu”. Tanpa berfikir panjang, Soraya langsung menyetujui ajakan pria yang barusan ditemuinya itu. Kalut. Saat itu hanya was-was yang menyelimuti hatinya.
Sesampai di rumah sakit, Soraya diantar pada kamar ICU dimana neneknya di rawat. Dia langsung tersungkur lemas tak berdaya melihat kondisi neneknya yang baru tadi pagi sarapan dengannya dalam kondisi sehat dan bahagia kini tak berdaya. Menangis. Itulah yang dapat dia lakukan. Dia akhirnya tahu bahwa pria yang barusan menjemputnya itu adalah orang yang menabrak neneknya. Dalam hati ingin sekali Soraya memukul orang itu. Tapi badannya sudah tak kuasa. Lemas. Untuk berjalan pun tak kuat. Dia hanya bisa melihat neneknya dari balik kaca jendela ruang ICU. Sesekali pria yang menabrak neneknya itu menghampirinya dan membawakan es krim. Soraya terus terisak. Pria yang berdasi itu tak tega melihat kondisi Soraya.
“Nak, saya minta maaf atas apa yang terjadi. Ini semua bukan karena faktor kesengajaan. Maafkan saya nak”
hiks...hiks...hiksss..
“Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada nenek saya”
“Saya akan tanggungjawab, Nak. Kamu jangan kawatir. Sekarang kita berfikir positif saja tentang nenek kamu”. Soraya hanya terdiam. Dia tak menimpali perkataan pria itu.
Tak selang beberapa lama, dokter dan para perawat yang sedari tadi ada di ruang ICU keluar. Wajah dokter dan para perawat yang keluar itu lemas. Pria itu segera mendekat dan bertanya apa yang terjadi. Dokter pun berkata “ Maaf pak, saya sudah berusaha sekuat mungkin tapi kehendakAllah lain”.
Degh.........
Soraya mengerrti apa yang dimaksud dokter itu. Dia menangis sekeras kerasnya dan memukuli pria yang menabrak neneknya. Tak beberapa lama, Soraya pun pingsan.
***
Saat sudah siuman, Soraya kaget karena saat itu dia berada di kasur empuk. Berbeda dengan alas tidurnya tiap hari. Ruangan yang dia tempati pun juga sangat besar dan bersih. Dia tidak menemukan sorotan cahaya matahari dari bilik bambu seperti dulu. Sorotan matahari kini dia dapati dari jendela tempat dia tiur. Dia langsung beranjak dari tempat tidurnya. Tapi tak beberapa lama dia siuman, pintu ruangan itu terbuka. Pria yang menabarak neneknya itu datang dan membawakan susu.
“Soraya sudah siuman. Bagaimana kondisimu?”tanya pria itu.
“Bagaimana nenekku” tanya Soraya. Pria itu hanya terdiam dengan wajah sedih. Dia bekata “Saya siap dipenjara untuk tanggungjawab atas apa yang terjadi. Tapi sebagai tanggungjawabku padamu, kamu harus mau tinggal di rumah ini bersama dengan istri saya. Saya tidak mungkin membiarkan kamu hidup sendirian di dunia yang luas ini. Apalagi saya sudah banyak mendengar tentang cerita hidup kamu. Oh iya, perkenalkan nama saya Hasan. Jika kamu tidak keberatan kamu bisa memanggil saya Ayah. Dan istri saya bernama Halimah. Sekarang dia masih memasak di dapur”
Mendengar apa yang barusan dituturkan Pak Hasan, Soraya tak tega jika orang sebaik itu harus dipenjara. Menurut Soraya, Pak Hasan sangat tanggungjawab akan kesalahannya itu. Apalagi dia sampai menganggap Soraya sebagai anaknya sendiri. Soraya akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini. Hati Soraya mulai luluh dan sedikit demi sedikit Soraya mulai mengiklaskan kepergian neneknya itu.
“Sudah tidak usah dibicarakan lagi masalah ini. Saya sudah ikhlas. Tapi maaf saya tidak bisa tinggal disini. Saya harus menjaga rumah nenek”. Hasan sangat sedih mendengar Soraya menolak tinggal bersamanya. Sebisa mungkin dia membujuk Soraya agar dia mau tinggal bersamanya. Tidak mungkin anak ynag baru SMP itu tinggal sendirian di rumah gubuk itu. Bagaimana makannnya nanti dan kehidupannya. Hasan tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada Soraya nanti. Halimah, istri Hasan pun datang. Dia membawakan tempat pensil bermotif batik. Dia memberikan itu pada Soraya. Dia menjelaskan bahwa itu adalah barang yang di temukan tak jauh dari Nenek Wiji tertabrak. Walaupun tempat pensil itu sebagian ada yang sobek tapi masih tercium bau kalau barang itu masih baru. Soraya kembali teringat tentang neneknya dan mulai meneteskan air mata. Hasan dan Haalimah mencoba untuk menenangkannya. Sebisa mungkin Soraya menyeka air matanya. Soraya memasang senyum di bibirnya dengan paksaan. Halimah tau jika hal itu ipaksakan, Halimah pun memeluk Soraya dengan erat.
“Menagislah sampai kamu puas Nak. Jangan ditahan. Saya mengerti apa yang kamu rasakan. Menangislah” ucap Halimah. Dalam dekapan Halimah, Soraya tak dapat membendung tangisannya. Walau bagaimananpun tak dapat dipungkiri bahwa dia masih sangat cinta dengan neneknya.
Karena terus dipaksan dan dipaksa, akhirnya Soraya bersedia tinggal bersama keluarga Pak Hasan. Dia diperlakukan seperti anaknya sendiri dan mereka sangat menyayangi Soraya. Soraya makin hari tumbuh semakin cantik dan tambah dewasa. Tiga tahun sudah waktu yang dia habiskan bersama dengan keluarga Bapak Hasan. Walaupun begitu, dia tidak melupakan rumah neneknya. Setiap minggu dia selalu ke rumah neneknya dan membersihkan rumahnya. Dia sering menggunakan rumah itu untuk kerja kelompok bersama teman sekolahnya. Ada kenangan tersendiri di rumah itu, tangan keriput neneknya yang selalu mengusap dikala dia tidur sangat diruindukannya.
Walau sudah tiga tahun hidup bersama dengan keluarga Bapak Hasan dan Ibu Halimah, Soraya masih belum bisa memanggil mereka degan nama ayah dan ibu. Dia tetap memanggil Hasan dengan Pak Hasan dan Halimah dengan Bu Halim. Walaupun begitu, mereka ternyata tidak mempermasalahkan dan tetap ikhlas merawat Soraya.
Saat akan berangkat sekolah dan ingin berpamitan dengan Bu Halim, Soraya melihat Bu Halim sedang melihat foto-foto album semasa dia kuliah. Soraya mendekat dan ikut melihatnya. Disitu dia melihat ada orang yang dia rasa sangat akrab dengannya. Soraya menanyakan siapa orang yang ada di foto itu. Halim menjelaskan bahwa orang itu adalah sahabatnya kuliah, namanya Aisyah. Tapi waktu sudah menghakhirinya. Dia sudah tidak di dunia lagi. Perlahan Soraya mulai meneteskan air mata, dia bertanya siapakah suaminya dan anaknya. Halim menceritakan bahwa suami Aisyah bernama Agus dan juga sudah meninggal. Mereka meninggal karena dibunuh oleh perampok, dan anaknya...........
Halim tak melanjutkan ceritanya. Dia menangis. Air matanya sampai membasahi buku album yang dipegang dipangkuannya itu. Soraya bingung dengan Bu Halim
“Anaknya kenapa Bu??” tanya Soraya semakin penasaran. Ada hal yang sangat mengusik hati Soraya tentang hal itu.
“A..aa.aa.nakknya mereka adalah a..a..anak kandung saya, Nak” jawab Bu Halim dengan terisak-isak.
Soraya kaget. Dia sampai melongo. Kemudian Bu Halim menceritakan apa yang terjadi pada anaknya itu. Dia menceritakan bahwa saat dia masih tinggal di Kalimantan, saat kelahiran anaknya itu, dia ditunggu oleh kedua sahabatnya itu. Tapi saat itu, ada aksi teroris di rumah sakit. Bu Halim dan Pak Hasan meminta kedua sahabatnya itu untuk membawa pergi anaknya ke jawa. Segera mungkin mereka membawa pergi bayi yang baru lahir itu. Sementara setelah kejadian itu, dia tidak bisa ke jawa dikarenakan sedang mengembangkan usahanya. Sangat miskin, hingga ongkospun tak ada untuk ke jawa. Kemudian setelah kondisi berubah, dan ekonomi mulai membaik. Bu Halim dan Pak Hasan pindah ke jawa dan mencari kedua sahabatnya itu. Tapi kabar yang di dapatnya adalah kabar buruk. Sahabatnya telah meninggal dan anaknya tidak ada yang tahu ada dimana. Sekarang dia hanya pasrah pada Tuhan tentang anaknya itu.
Air mata Soraya mengalir dan dia menagis dengan terisak-isak. Halimah heran melihatnya seharusnya yang manangis terisak-isak adalah dirinya, bukan Soraya. Dia berfikir Soraya hanya terharu dengan ceritanya. MulutSoraya membuka dan berkata “Ibu..”
Dia memeluk Bu Halimah. Halimah kaget. Soraya segera menjelaskan bahwa sahabat yang ada di foto itu adalah ayah dan ibunya. Dia adalah anak dari sahabtnya itu. Halimah seolah tak percaya tentang hal ini. Dia berkali-kali mencubit pipinya. Tangisan kebahagian megalir menyelimuti pertemuan antara anak dan ibu kandung. Halimah sangat senang bahwa anak yang selama ini bersamanya adalah anak kandungnya. Sesuatu yang secara terus-menerus diminta akan terkabul juga. Entah itu dengan cara menyenangkan ataupun cara yang menyeidhkan. Rahasia Allah sangat indah dan tak ada yang paham akan skenarionya.
Sejak saat itu, Soraya mulai memanggil ayah dan ibu. Hasan dan halimah sangat senang dengan hal itu. Mereka akhirnya menjadi keluarga yang bahagia. Tidak hanya itu saja, Nenek Wiji adalah nenek yang sangat ikhlas menyayangi cucunya walaupun dia tahu bahwa Soraya bukanlah cucu kandungnya. Dia merawat dan membesarkan Soraya setelah kematian orang tua tiri Soraya. Sebagai dedikasi Soraya dan keluarganya pada Nenek Wiji yaitu rumah Nenek wiji kini dijadikan sebagai rumah pusat kerajina sapu lidi. Usaha sapu lidi menjadi wirausaha terkenal dan dengan sedikit modifikasi sapu yang lebih maju, usaha yang dulu ditekuni Nenek Wiji menjadi kondang. Soraya sendiri yang mengelolahnya. Dalam hati Soraya berkata “ Selamanya, nenek adalah nenekku. Jika nenek tahu, beberapa tahun lalu sapu ini bahkan sempat diacuhkan, tapi sekarang sangat kondang. Nenek akan bangga dengan usaha nenek ini. Semua ini adalah untuk nenek”. Sambil menatap langit kemudian melontarkan snyuman bagi para pekerjanya, Soraya duduk disamping salah satu pekerjanya yang sedang menggunting merek sapu. Sapu itu diberi nama Wiji broom. Rasa sayang yang Nenek Wiji berikan kepada Soraya hingga akhir hayatnya sangat membekas di hati Soraya. Pesannya pun juga sangat Soraya ingat. Kasih itu jika sudah tumbuh, sekat dan tabir kehidupan dalam skenario Tuhan sepahit apapun tak akan mempu menghalanginya. Dia akan tetap subur dalam nuansa cinta. Jika tuhan sudah bicara, apapun dapat terjadi. Tuhan itu Maha Pengasih, setiap manusia secara sadar atau tidak pasti ada dalam lingkar kasih Tuhan dalam menjalani hidup ini.