Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

11/23/2015

knowledge

By: Catatan Tania P On: 20.07
  • Share The Gag


  • Pendekatan Hermeneutik


    Pada postingan sebelumnya membahas tentang pendekatan fenomenologi. Pendekatan selanjutnya yang akan dibahas adalah pendekatan hermeneutik. Tiga keyword dalam pendekatan hermeneutik adalah, penulis, isi/teks dan pembaca.
    Hermeneutik sendiri berasal dari bahasa Yunani yang artinya mengartikan, menafikkan, menerjemahkan, dan bertindak sebagai penafsir. Tokoh pencetus hermeneutik kali pertama adalah Hermes dari Yunani. Awalnya orang Yunani menyembah dewa-dewa. Wahyu yang diturunkan oleh dewa itu ditafsirkan oleh Hermes dalam bentuk teks-teks. Sehingga sejak saat itu hermes terkenal dengan teorinya yanng disebut hermeneutika.  Tujuan utamanya Hermes adalah menunjukkan ajaran tentang aturan-aturan yang harus diikuti dalam menafsirkan sebuah teks masa lampau, khususunya teks kitab suci dan masa klasik.
    Hans George meringkas teori hermeneutik secara fiosofis dalam tiga aktivitas eksistensi manusia, yaiti: memahami, menjelaskan/menguraikan dan menerapkan/mengaitkan dengan teks situasi baru. Unsur interprestasi dalam pendekatan hermeneutik merupakan unsur terpenting. Semua interprestasi dalam hermeneutik mencangkup pemahaman . Dalam membuat interprestasi seseorang harus mengerti dulu pokok teks yang dibahas. Menurut Sumaryono, mengutip dari pendapat Beti, tugas interpreter (penafsir) adalah menjernihkan persoalan dan mengerti serta menyelidiki setiap kasus interprestasi.
    Kegiatan interprestasi merupakan proses triadik (mempunyai tiga sifat yang saling berhubungan). Kegiatan adalah keyword yang kita bahas pada awal tulisan ini. Orang yang melakukan interprestasi harus mengenal pesan teks atau kecondongan sebuah teks dan meresapi isinya. Jadi antara hermeneutik dan interprestasi itu tidak dapat dipisahkan. Dalam hermeneutik ada aspek terpenting, yaitu penafsiran dalam bahasa asing. Oleh karena itu dibutuhkan pertimbangan serius untuk mempertimbangkan variabel yang ada, yaitu the world of the text, the world of author, dan the world of reader.
    Dalam hermeneutik, ada dua cara penafsir mendekati subjek, yaitu masalah metode dan validitas penafsiran, dan cara menafsirkan pemahaman itu sendiri. Dalam islam hermeneutik diartikan sebagai tafsir. Bukti bahwa hermeneutik digunakan sebagai tafsir adalah problema hermeneutik senantiasa dialami dan dikaji, adanya perbedaan antara komentar aktual terhadap Al Qur’an dan tafsir tradisional dimasukkan dalam kategori-kategori. Lantas apakah Al Qur’an itu dapat menggunakan teori hermeneutik dalam mengkajinya?. Jika melihat dari pembhasan di atas teori hermeneutik diartikan tafsir dalam islam. Tapi lebih tepatnya dalam mengarrtikan teks Al Qur’an lebih spesifiknya menggunakan ilmu tafsir. Hermeneutik lahir dari yunani, bukan dari islam.Selaknya kurang sesuai jika digunakan dalam Al Qur’an yang notabennya berbahasa arab itu. Karena adanya perbedaan itu, operasisonal hermeneutik sering dipertentangkan oleh ilmuan muslim dengan tiga alasan. Pertama, berimplikasi tanpa konteks. Kedua, penekannya maknanya pada manusia. Ketiga, ada pembeda antara teks Al Qur’an dan tafsir. Contoh pengaplikasian hermeneutik adalah analisis operasional hermeneutik dalam tafsir al Manar karya Muhammad Abduh dan tafsir Al Azar karya Hamka. Paul Receur menyatakan bahwa hermeneutik bertujuan menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung-selubung yang menutupiya. Joseph Bleicher menyatakan bahwa hermeneutik memiliki dua tugas, yaitu menmukan makna dari sebuah kata, kalimat atau frase dan menunjukkan petunjuk yang tersimpan pada simbol.
    Kesimpulannya pendekatan hermeneutik itu berkaitan dan tak dapat dipisahkan dengan proses interprestasi. Ada dua unsur pokok dalam hermeneutik. Pertama, substansi isi (memahami isi di luar dari pikiran). Kedua, mampu mengaitkan dengan hal-hal lain dalam pengaplikasiaannya. Selain itu penafsiran dalam bahasa asing juga dapat dikatakan telah menggunakan metode hermeneutik. Dalam pendekatan hermeneutik ini akan mencul hasil yang berbeda. Hal ini dikarenakan latar belakang penafsir teks yang berbeda pula. (tan)

    11/11/2015

    Appreciate

    By: Catatan Tania P On: 16.56
  • Share The Gag
  • Appreciate
    Konsep menghargai apakah sebatas retorika yang hanya dicuap-cuapkan tanpa ada tindakan? Bukankah hal ini salah. Layaknya sebuah buku, jikq buku itu tak ada covernya, buku itu tak akan indah. Hanya nilai terapannya yang ada. Sedangkan nilai murni/estetikanya itu tak ada. Sama halnya dengan konsep menghargai itu. Jika hanya beretorika, tanpa ada prakteknya sama seperti cover buku yang tanpa isi. Kegunaan buku sendiri tak berfungsi. Hanya sebatas pajangan. Tidakkah malu bagi kalian yang sukanya beretorika tanpa ada praktek??
    Menghargai itu adalah memberikan suatu tindakan kepada orang lain. Dimana orang yang diberi tindakan itu akan merasa bahwa dirinya itu dianggap ada. Hampir ada persamaan antara menghargai dan menghormati. lantas perbedaannya apa??
    Menghormati berasal dari kata hormat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah rasa hormat atau takzum. Biasanya prakteknya dalam menghormati itu cenderung kepada tindakan patuh. Berbeda dengan menghargai. Menghargai tak ada ikatan untuk patuh.
    Menghargai itu bisa ditujukan kepada semua orang. Jika diumpamakan dalam ilmu fiqih, menghargai itu hukumnya wajib. Nah, loh kok ada kata wajib. Berarti ada kemungkinan ada sunnah, haram, dll ya heuheu
    Ingat ada seorang pepatah berkata"menghargailah orang lain, maka kamu akan dihargai". Dari kata-kata tersebut menekankan bahwa ada hukum timbal balik. Di alam ini ada hukum yang disrbut "law of attraction". Maksudnya jika kita memperlakukan obyek apapun di dunia ini, maka apa yang kita terima sama dengan apa yang kita perbuat. Ada kesamaan maksud khan antara pepatah tadi dengan hukum ini. Secara tak disadari bahwa alam juga ikut andil dalam segala hal.
    Dari hal itu pantaskah jika menghargai hanya retorika saja? Malu teman. Alam juga akan membalasmu dengan retorikanya pula. Sekarang tindakan mana yang akan kamu ambil adalah terserah diri kalian sendiri. Jika penempatan sesuatu itu pas dengan porposisinya, keharmonisan akan tercapai. Begitulah dengan tindakan seseorang. Jika dia pas dalam memperlakukan orang lain/dalam ukhuwahnya maka dia pun akan mendapatkan tempat yang pas. Dimanapun tempatnya ingatlah "law of attraction".

    Perpustakaan

    By: Catatan Tania P On: 16.51
  • Share The Gag
  • Sekarang ini perpustaan sudah maju jika dibanding dengan zaman dulu. Pelayanannya pun juga sangat memuaskan. Apalagi Dengan perkembangan iptek semakin mempermudah pelayanan perpustakaan. Zaman saya masih SMP pelayanan masih manual, sekarang sudah menggunakan sistem barcode pada tiap buku. Jadi praktis dan tidak ribet. Tempatnya juga memadahi. Nyaman dan pas untuk membaca. Ada dua kategori ruang baca, yaitu ruang baca umum dimana ruang ini diperuntukkan orang dewasa dan ruang baca khusus yang dikhususkan untuk anak-anak. Antusias anak-anak sungguh besar untuk mengunjungi perpustakaan. Entah tu karena motiv pribadi atau motiv untuk main-main. Tapi yang terpentin mereka mau pergi ke perpustakaan. Itu adalah nilai plus tersendiri. Mungkin jika awalnya karena terpaksa, lama-lama akan menjadi terbiasa. Semuanya berproses. Kemarin (9/11) penulis sempat bertanya pada salah satu anak yang ada di ruang baca apakah mereka datang di perpustakaan karena ada perintah dari gurunya atau karena keinginan sendiri. Mereka menjawab dengan semangat bahwa itu adalah keinginannya sendiri. Tak ada paksaan dari gurunya. Sungguh hal patut diacungi jempol. Pasalnya ruang baca anak sampai tidak cukup dan mereka harus duduk di depan perpustaan.

    11/09/2015

    KNOWLEDGE

    By: Catatan Tania P On: 19.18
  • Share The Gag
  • Pendekatan Fenomenologi



    Pendekatan fenomenologi adalah salah satu pendekatan yang digunakan dalam mengkaji studi islam. Selain pendekatan sejarah yang mengkaji bagaimana islam menurut sejarah perkembangannya, kali ini dapat dilakukakn juga mengkaji islam dengan mengkaji bagaimana fenomena yang terjadi dalam islam. Sebelumnya apa fenomenologi itu? Dan apa saja yanng menjadi obyek atau bahasan dalam pendekatn fenomenolgi?
    Pendekatan fenomenologi sudah ada sejak lama. Dalam catatan Muhadjir, istilah fenomenologi sudah digunakan oleh Lambert yang sejalan dengan Immanuel Kant. Menurut Khan phenomenon adalah kejadian yang kita alami dan dimana kejadian itu terjadi. Sedangkan menurut Hegel, phenomenon adalah tahapan untuk sampai pada noumenon. Istilah fenomenologi sediri sudahi ada sejak 1970 dan banyak digunakan oleh berbagai ilmu sebagai pendekatan metodelogik.
    Edmurt Hussel dianggap sebagai pendiri fenomenologi dalam filsafat. Menurutnya fenomenologi adalah suatu disiplin ilmu filsafat yang solid dengan tujuan membatasi dan melengkapi penjelasan psikologis tentang fikiran. Obyek dari fenomenologi disebut neomata dan kesadaran kita disebut sebagai ephoce.
    Untuk memahami fenomenologi kita harus mengerti neoma. Seperti penjelasan di atas, bahwa neoma adalah kumpulan semua sifat obyek. Ada dua komponen dalam neoma, pertama, “Object meaning” yang menyatakan pengalaman kita dan yang kedua, “theitic” yang membedakan tindakan-tindakan yang berbeda. Neoma kita dibatasi oleh permukaan sensori kita. Apapun yang kita lihat, itulah fenomenanya. Tak ada rekayasa. Semuanya sesuai dengan apa yang kita lihat dan kita dengar. Fenomenologi sendiri dibagi menjadi empat periode yaitu, prafenomenologi awal, fenomenologi sebagai korelasi subjek atas logika murni, fenomenologi yang dianggap sebagai the first philosophy, dan fenomenologi sebagai pengaturan idealisme.
    Tokoh dalam fenomenologi agama adalah Max Scheller. Tujuan dalam fenomenologi agama adalah memahami pemikiran, tingkah laku, dan lembaga-lembaga keagamaan tanpa mengikuti salah satu teori filsafat, teologi metafisika atau psikologi. Orientasai fenomenologi adalah pengetahuan yang asli dan bersih, yang ditempuh dengan jalan reduksi. Titik pijak fenomenologi adalah orang mengetahui dan memahami apa adanya.
    Sifat pokok dari fenomenlogi adalah membiarkan realitas atau fakta berbicara dalam suasana intention. Ada dua arti dari intensional, yaitu sematik dan ontologik. Semantik intensional adalah sesuatu bahasa dan logikanya. Sesuatu dikatakan intensional jika tidak dapat ditampilkan rumus ekuivalennya. Sedangkan ontologik intensional adalah sesuatu yang dikatakan ektensional bila kesamaan identitas antara dua sesuatu yang dapat dinyatakan sebagai dua yang ekuivalen, dua hal yang identik.
    Kesadaran intensional manusia lebih bersifat aktif, memiliki telos, memiliki rasionalitas dan mencari evidensi. Fenomenologi tidak bermaksudd untuk membandingkan agama tapi untuk mengumpulkan hal yang sama dalam masing-masing kelompok. Ada tiga tugas yang harusdipikul oleh fenomenologi agama, yaitu :
    1. Mencari hakikat ketuhanan
    2. Menjelaskan teori wahyu
    3. Meneliti tingkah laku manusia
    Menurut bidangnya, ada tiga bidang yang dikerjakan oleh fenomenologi, yaitu :
    1. Menerangkan apa yang sudah diketahui dan hal tersebut ada dalam agama
    2. Menyusun bagian pokok agama atau sifat ilmiah agama
    3. Tidak mempermasalahkan gejala agama itu benar atau tidak
    Obyek fenomenologi ada enam yaitu :
    1. Menemukan intisari
    2. Menemukan struktur
    3. Mencari inner meaning
    4. Membuat klasifikasi, tipologi dan menyisteman fenomena
    5. Mencari motif dasar
    6. Mencari alur perkembangan gejala
    Dari materi di atas intinya bahwa pendekatan fenomenologi itu mengkaji sesuatu sesuai dengan apa yang kita lihat. Tak memandang hal itu baik atau buruk, menarik atau tidak, jika hal tersebut merupakan fenomena, maka hal itulah yang akan dikaji oleh studi islam. Tidak memasukka argumen dan teori interprestasi. Semuanya realistik dan rasional. (tan)