Pendekatan Fenomenologi
Pendekatan fenomenologi adalah salah satu pendekatan yang digunakan dalam mengkaji studi islam. Selain pendekatan sejarah yang mengkaji bagaimana islam menurut sejarah perkembangannya, kali ini dapat dilakukakn juga mengkaji islam dengan mengkaji bagaimana fenomena yang terjadi dalam islam. Sebelumnya apa fenomenologi itu? Dan apa saja yanng menjadi obyek atau bahasan dalam pendekatn fenomenolgi?
Pendekatan fenomenologi sudah ada sejak lama. Dalam catatan Muhadjir, istilah fenomenologi sudah digunakan oleh Lambert yang sejalan dengan Immanuel Kant. Menurut Khan phenomenon adalah kejadian yang kita alami dan dimana kejadian itu terjadi. Sedangkan menurut Hegel, phenomenon adalah tahapan untuk sampai pada noumenon. Istilah fenomenologi sediri sudahi ada sejak 1970 dan banyak digunakan oleh berbagai ilmu sebagai pendekatan metodelogik.
Edmurt Hussel dianggap sebagai pendiri fenomenologi dalam filsafat. Menurutnya fenomenologi adalah suatu disiplin ilmu filsafat yang solid dengan tujuan membatasi dan melengkapi penjelasan psikologis tentang fikiran. Obyek dari fenomenologi disebut neomata dan kesadaran kita disebut sebagai ephoce.
Untuk memahami fenomenologi kita harus mengerti neoma. Seperti penjelasan di atas, bahwa neoma adalah kumpulan semua sifat obyek. Ada dua komponen dalam neoma, pertama, “Object meaning” yang menyatakan pengalaman kita dan yang kedua, “theitic” yang membedakan tindakan-tindakan yang berbeda. Neoma kita dibatasi oleh permukaan sensori kita. Apapun yang kita lihat, itulah fenomenanya. Tak ada rekayasa. Semuanya sesuai dengan apa yang kita lihat dan kita dengar. Fenomenologi sendiri dibagi menjadi empat periode yaitu, prafenomenologi awal, fenomenologi sebagai korelasi subjek atas logika murni, fenomenologi yang dianggap sebagai the first philosophy, dan fenomenologi sebagai pengaturan idealisme.
Tokoh dalam fenomenologi agama adalah Max Scheller. Tujuan dalam fenomenologi agama adalah memahami pemikiran, tingkah laku, dan lembaga-lembaga keagamaan tanpa mengikuti salah satu teori filsafat, teologi metafisika atau psikologi. Orientasai fenomenologi adalah pengetahuan yang asli dan bersih, yang ditempuh dengan jalan reduksi. Titik pijak fenomenologi adalah orang mengetahui dan memahami apa adanya.
Sifat pokok dari fenomenlogi adalah membiarkan realitas atau fakta berbicara dalam suasana intention. Ada dua arti dari intensional, yaitu sematik dan ontologik. Semantik intensional adalah sesuatu bahasa dan logikanya. Sesuatu dikatakan intensional jika tidak dapat ditampilkan rumus ekuivalennya. Sedangkan ontologik intensional adalah sesuatu yang dikatakan ektensional bila kesamaan identitas antara dua sesuatu yang dapat dinyatakan sebagai dua yang ekuivalen, dua hal yang identik.
Kesadaran intensional manusia lebih bersifat aktif, memiliki telos, memiliki rasionalitas dan mencari evidensi. Fenomenologi tidak bermaksudd untuk membandingkan agama tapi untuk mengumpulkan hal yang sama dalam masing-masing kelompok. Ada tiga tugas yang harusdipikul oleh fenomenologi agama, yaitu :
1. Mencari hakikat ketuhanan
2. Menjelaskan teori wahyu
3. Meneliti tingkah laku manusia
Menurut bidangnya, ada tiga bidang yang dikerjakan oleh fenomenologi, yaitu :
1. Menerangkan apa yang sudah diketahui dan hal tersebut ada dalam agama
2. Menyusun bagian pokok agama atau sifat ilmiah agama
3. Tidak mempermasalahkan gejala agama itu benar atau tidak
Obyek fenomenologi ada enam yaitu :
1. Menemukan intisari
2. Menemukan struktur
3. Mencari inner meaning
4. Membuat klasifikasi, tipologi dan menyisteman fenomena
5. Mencari motif dasar
6. Mencari alur perkembangan gejala
Dari materi di atas intinya bahwa pendekatan fenomenologi itu mengkaji sesuatu sesuai dengan apa yang kita lihat. Tak memandang hal itu baik atau buruk, menarik atau tidak, jika hal tersebut merupakan fenomena, maka hal itulah yang akan dikaji oleh studi islam. Tidak memasukka argumen dan teori interprestasi. Semuanya realistik dan rasional. (tan)
0 komentar:
Posting Komentar