Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

10/22/2015

Tagged Under:

KNOWLEDGE

By: Catatan Tania P On: 02.42
  • Share The Gag
  • Pendekatan Sejarah Dalam Proses Interprestasi Sejarah


    Kuliah pada Rabu, 22 Oktober 2015 yang dibahas adalah bab baru mengenai berbagai macam pendekatan dalam Studi Islam. Dalam metodologi studi islam ada banyak pendekatan yang dapat digunakan untuk studi islam. Kali pertamanya yang akan dibahas adalah pendekatan sejarah.
    Sebelum kita mendalami materi yang lebih lanjut, sebelumnya pengertian sejarah itu sediri apa dan apa kaitannya dengan studi islam?.
    Sejarah berasal dari bahasa arab Syajarah yang artinya pohon. Pohon yang dimakasud disini adalah pohon yang punya banyak akar, ranting dan dedaunan yang lebat. Hubungannya dengan kata sejarah sendiri adalah disesuaikan dengan analoginya pohon. Pohon mempunyai akar yang kokoh yang berarti merupakan asal-usul suatu peristiwa. Ranting-ranting yang cukup banyak menggambarkan bahwa tak ada satu peristiwa yang dikaji, melainkan ada banyak peristiwa dan peristiwa yang berkembang, diteliti kemudian diinterprestasikan dan selanjutnya dedaunan yang lebat mengumpamakan sejarah itu akan memperkaya suatu pengetahuan bangsa. Apakah suatu bangsa akan bangga jika tak tahu sejarahnya sendiri?. Tidak, bukan.
    Dalam bahasa Inggris sejarah adalah history yang artinya cerita atau kisah. Kata history ini berasal dari bahasa Yunani istoria yang artinya pengetahuan tentang gejala alam, khususnya manusia yang bersifat kronologis. Sedangkan pengetahuan yang tak bersifat kronologis disebut dengan science.
    Ada dua konsep besar dalam memahami sejarah. Yang pertama sejarah merupakan peristiwa masa lampau dan keseluruhan pengalaman manusia. Entah itu mau terjadi satu jam atau sedetik yang lalu juga disebut dengan sejarah.  Dari sini sejarah merupakan sesuatu yang sifatnya obyektif. Kenapa obyektif? Karena sesuatu yang terjadi itu berdasarkan pada realitas yang ada. Tak dibuat-buat, semuanya real. Sedangkan yang kedua sejarah berupa fakta yang diseleksi, diubah, dijabarkan dan kemudian dianalisis. Nah, kalau sudah masuk kedalam pemahaman yang kedua ini, sejarah itu sifaynya tak lagi obyektif. Melainkan sifatnya menjadi subjektif. Sejarah bersifat subjektif karena fakta yang awalnya obyektif tadi diinterprestasikan oleh sejarawan. Masing-masing sejarawan mempunyai penafsiran yang berbeda. Jadi tak heran jika ada beberapa sumber sejarah yang tak sama. Sejarah itu berkembang, yang dimaksud berkembang adalah berkembang ke arah pembenahan jika ditemukan suatu bukti baru. Sumber yang lama akan direvisi jika sudah ada bukti baru yang cukup mendukung.
    Kuntowijiyo menjelaskan bahawa ada kaidah penting dalam sejarah itu, yaitu sejarah merupakan fakta, diakronis dan ideografis, unik serta empiris. Menurut Ira M. Lapidus sejarah dalam studi islam dapat dikategorikan menjadi tiga, antara lain :
    1.        Perubahan awal peradapan Islam di Timur tengah ( Abad ke VII- Abad XIII)
    Periode awal ini adalah periode dimana penciptaan komunitas baru yang bercorak islam di Arab. Pada awalnya mereka belum tahu tentang islam dan masih awam tentang islam yang kemudian pada akhirnya mereka menjadi masuk islam. Periode ini seiringan dengan awal penyebaran Al Qur’an. Periode ini sampai pada masa dimana islam dijadikan agama mayoritas Timur Tengah.
    2.        Periode penyebaran global masyarakat islam ( abad XIII- abad XIX)
    Di periode ini islam mulai menyebar di berbagai pelosok dunia. Mulai dari Cina, India, Asia Tenggara, Asia Tengah Afrika dan Balkan.
    3.        Perkembanga modern umat islam ( abad XIX- abad XX)
    Periode terakhir ini islam mulai berkembang secara modern hingga sekarang. Kita dapat melihat bagaimana islam yang ada di tiap-tiap negara mempunyai karakteristik yang berbeda. Tapi dalam lingkup aqidah dan syariah adalah sama.
    Setelah beberapa pemaparan di atas apakah sudah usai pembahasan kita kali ini? Jawabannya adalah belum selesai. Masih ada proses selanjutnya. Yaitu proses penelitian sejarah islam itu sendiri. Jika kita hanya tahu saja tanpa melakukan sebuah penelitian, bisa jadi kita hanya berhipotesa dan tak ujung menemukan titik temunya. Okay, next....
    Dalam proses penelitian sejarah ada beberapa tahapan yang perlu kita pahami. Tahapan tersebut yaitu :
    A. Persiapan sebelum penelitian
    Sebelum mengadakan penelitian, terlebih dulu kita harus mencari topik yang akan diteliti. Kemudian kita tentukan judul. Judul tak boleh keluar dari topik. Judul sendiri sesungguhnya merupakan abstraksi dari topik itu sendiri. Berikut beberapa sistematika dalam proposal penelitian sejarah:
    1. Judul penelitian
    2. Latar belakang penelitian
    3. Permasalahan yang berkaitan dengan apa yang diteliti yang berupa pertanyaan-pertanyaan
    4. Tujuan penelitian
    5. Tinjauan terhadap penelitian terdahulu agar ada keotentikan terhadap penelitian selanjutnya
    6. Landasan terori yang digunakan dalam pengumpulan data
    7. Metode yang digunakan
    8. Sistematika penulisan
    B. Melakukan pengumpulan sumber sejarah
     Bentuk sumber sejarah ada tiga jenis, yaitu :
    1. Sumber tertulis : prasasti, kitab, buku, majalah, hukayat, dsb
    2. Sumber visual          : foto, film, kaset, CD, dsb
    3. Benda-benda sejarah yang memberikan bukti adanya sejarah, misal pondok mushola, masjid, dll.
    Sedangkan berdasarkan cara mengumpulkannya ada dua jenis sumber sejarah. Yang pertama sumber primer yang merupakan sumber asli dari obyek sejarah dan yang kedua sumber sekunder yang merupakan sumber tidak langsungnya.
    C. Kritik terhadap sumber sejarah
    Pada tahapan ketiga, kita diminta untuk lebih kritis dalam menyikapi berbagai macam sumber sejarah yang ada. Oleh karena itu diperlukan suatu kritik agar kita tak serta merta langsung mudah percaya pada sumber sejarah tersebut. Kritik sendiri ada dua macam. Pertama kritik intern yang merupakan kritik terhadap isi sejarah dan kirtik ekstern, kritik yang berkaitan dengan sumber fisik sejarah.
    D. Interprestasi Sejarah
    Interprestasi adalah proses analisis terhadap fakta-fakta sejarah atau bahkan merupakan proses penyusunan fakta-fakta itu sendiri. Seperti penjelasan di atas, bahwa dengan interprestasi akan melahirkan suatu yang sifatnya subjektif. Walau demikian interprestasi sangat diperlukan untuk mencari kebenaran dari keotentikan sumber sejarah.
    Dalam proses penerapan pendekatan sejarah dalam studi islam ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
    1. Kajian sejarah harus mencangkup salah satu dari tiga ranah penelitian sejarah ( asal-usul, perubahan dan perkembangan)
    2. Orientasi sejarah harus mengarah pada prespektif sosiologis
    3. Penggunaan teori sejarah barat harus dikolmbinasikan dengan sejarah islam
    4. Model sejarah yang digunakan mengambil bentuk sejarah kawasan, sejarah islam Indonesia atau sejarah intelektual seorang toko

    Nah pembahasan kali sudah usai, sekarang pertanyaannya adalah akankah kita hanya diam saja dan menerima mentah-mentahi suatu sumber sejarah itu? Padahal kita tahu bahwa semua sumber sejarah itu sifatnya subjektif yang merupakan hasil dari interprestasi. Akankan ada keinginan kita untuk ikut sera dalam menginterprestasikan sumber sejarah tersebut ??????

    0 komentar:

    Posting Komentar