Pendekatan
Sejarah Dalam Proses Interprestasi Sejarah
Kuliah pada Rabu, 22 Oktober 2015 yang dibahas
adalah bab baru mengenai berbagai macam pendekatan dalam Studi Islam. Dalam
metodologi studi islam ada banyak pendekatan yang dapat digunakan untuk studi
islam. Kali pertamanya yang akan dibahas adalah pendekatan sejarah.
Sebelum kita mendalami materi yang lebih lanjut,
sebelumnya pengertian sejarah itu sediri apa dan apa kaitannya dengan studi
islam?.
Sejarah berasal dari bahasa arab Syajarah
yang artinya pohon. Pohon yang dimakasud disini adalah pohon yang punya banyak
akar, ranting dan dedaunan yang lebat. Hubungannya dengan kata sejarah sendiri
adalah disesuaikan dengan analoginya pohon. Pohon mempunyai akar yang kokoh
yang berarti merupakan asal-usul suatu peristiwa. Ranting-ranting yang cukup
banyak menggambarkan bahwa tak ada satu peristiwa yang dikaji, melainkan ada
banyak peristiwa dan peristiwa yang berkembang, diteliti kemudian
diinterprestasikan dan selanjutnya dedaunan yang lebat mengumpamakan sejarah
itu akan memperkaya suatu pengetahuan bangsa. Apakah suatu bangsa akan bangga
jika tak tahu sejarahnya sendiri?. Tidak, bukan.
Dalam bahasa Inggris sejarah adalah history
yang artinya cerita atau kisah. Kata history ini berasal dari bahasa Yunani istoria
yang artinya pengetahuan tentang gejala alam, khususnya manusia yang bersifat
kronologis. Sedangkan pengetahuan yang tak bersifat kronologis disebut dengan science.
Ada dua konsep besar dalam memahami sejarah. Yang
pertama sejarah merupakan peristiwa masa lampau dan keseluruhan pengalaman
manusia. Entah itu mau terjadi satu jam atau sedetik yang lalu juga disebut
dengan sejarah. Dari sini sejarah
merupakan sesuatu yang sifatnya obyektif. Kenapa obyektif? Karena sesuatu yang
terjadi itu berdasarkan pada realitas yang ada. Tak dibuat-buat, semuanya real.
Sedangkan yang kedua sejarah berupa fakta yang diseleksi, diubah, dijabarkan
dan kemudian dianalisis. Nah, kalau sudah masuk kedalam pemahaman yang kedua
ini, sejarah itu sifaynya tak lagi obyektif. Melainkan sifatnya menjadi
subjektif. Sejarah bersifat subjektif karena fakta yang awalnya obyektif tadi
diinterprestasikan oleh sejarawan. Masing-masing sejarawan mempunyai penafsiran
yang berbeda. Jadi tak heran jika ada beberapa sumber sejarah yang tak sama.
Sejarah itu berkembang, yang dimaksud berkembang adalah berkembang ke arah
pembenahan jika ditemukan suatu bukti baru. Sumber yang lama akan direvisi jika
sudah ada bukti baru yang cukup mendukung.
Kuntowijiyo menjelaskan bahawa ada kaidah penting
dalam sejarah itu, yaitu sejarah merupakan fakta, diakronis dan ideografis,
unik serta empiris. Menurut Ira M. Lapidus sejarah dalam studi islam dapat
dikategorikan menjadi tiga, antara lain :
1.
Perubahan awal peradapan Islam di Timur tengah (
Abad ke VII- Abad XIII)
Periode awal ini adalah
periode dimana penciptaan komunitas baru yang bercorak islam di Arab. Pada
awalnya mereka belum tahu tentang islam dan masih awam tentang islam yang
kemudian pada akhirnya mereka menjadi masuk islam. Periode ini seiringan dengan
awal penyebaran Al Qur’an. Periode ini sampai pada masa dimana islam dijadikan
agama mayoritas Timur Tengah.
2.
Periode penyebaran global masyarakat islam ( abad
XIII- abad XIX)
Di periode ini islam mulai
menyebar di berbagai pelosok dunia. Mulai dari Cina, India, Asia Tenggara, Asia
Tengah Afrika dan Balkan.
3.
Perkembanga modern umat islam ( abad XIX- abad XX)
Periode terakhir ini islam
mulai berkembang secara modern hingga sekarang. Kita dapat melihat bagaimana
islam yang ada di tiap-tiap negara mempunyai karakteristik yang berbeda. Tapi
dalam lingkup aqidah dan syariah adalah sama.
Setelah beberapa pemaparan di atas apakah sudah
usai pembahasan kita kali ini? Jawabannya adalah belum selesai. Masih ada
proses selanjutnya. Yaitu proses penelitian sejarah islam itu sendiri. Jika
kita hanya tahu saja tanpa melakukan sebuah penelitian, bisa jadi kita hanya
berhipotesa dan tak ujung menemukan titik temunya. Okay, next....
Dalam proses penelitian sejarah ada beberapa
tahapan yang perlu kita pahami. Tahapan tersebut yaitu :
A. Persiapan sebelum
penelitian
Sebelum mengadakan penelitian, terlebih dulu kita
harus mencari topik yang akan diteliti. Kemudian kita tentukan judul. Judul tak
boleh keluar dari topik. Judul sendiri sesungguhnya merupakan abstraksi dari
topik itu sendiri. Berikut beberapa sistematika dalam proposal penelitian
sejarah:
1. Judul penelitian
2. Latar belakang penelitian
3. Permasalahan yang berkaitan dengan apa yang
diteliti yang berupa pertanyaan-pertanyaan
4. Tujuan penelitian
5. Tinjauan terhadap penelitian terdahulu agar ada
keotentikan terhadap penelitian selanjutnya
6. Landasan terori yang digunakan dalam pengumpulan
data
7. Metode yang digunakan
8. Sistematika penulisan
B. Melakukan
pengumpulan sumber sejarah
Bentuk sumber sejarah ada tiga jenis, yaitu :
1. Sumber tertulis : prasasti, kitab, buku, majalah,
hukayat, dsb
2. Sumber visual
: foto, film, kaset, CD, dsb
3. Benda-benda sejarah yang memberikan bukti adanya
sejarah, misal pondok mushola, masjid, dll.
Sedangkan berdasarkan cara mengumpulkannya ada dua
jenis sumber sejarah. Yang pertama sumber primer yang merupakan sumber asli
dari obyek sejarah dan yang kedua sumber sekunder yang merupakan sumber tidak
langsungnya.
C. Kritik terhadap
sumber sejarah
Pada tahapan ketiga, kita diminta untuk lebih
kritis dalam menyikapi berbagai macam sumber sejarah yang ada. Oleh karena itu
diperlukan suatu kritik agar kita tak serta merta langsung mudah percaya pada
sumber sejarah tersebut. Kritik sendiri ada dua macam. Pertama kritik intern
yang merupakan kritik terhadap isi sejarah dan kirtik ekstern, kritik yang
berkaitan dengan sumber fisik sejarah.
D. Interprestasi
Sejarah
Interprestasi adalah
proses analisis terhadap fakta-fakta sejarah atau bahkan merupakan proses
penyusunan fakta-fakta itu sendiri. Seperti penjelasan di atas, bahwa dengan
interprestasi akan melahirkan suatu yang sifatnya subjektif. Walau demikian
interprestasi sangat diperlukan untuk mencari kebenaran dari keotentikan sumber
sejarah.
Dalam proses penerapan pendekatan sejarah dalam
studi islam ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Kajian sejarah harus mencangkup salah satu dari
tiga ranah penelitian sejarah ( asal-usul, perubahan dan perkembangan)
2. Orientasi sejarah harus mengarah pada prespektif
sosiologis
3. Penggunaan teori sejarah barat harus
dikolmbinasikan dengan sejarah islam
4. Model sejarah yang digunakan mengambil bentuk
sejarah kawasan, sejarah islam Indonesia atau sejarah intelektual seorang toko
Nah pembahasan kali sudah usai, sekarang
pertanyaannya adalah akankah kita hanya diam saja dan menerima mentah-mentahi
suatu sumber sejarah itu? Padahal kita tahu bahwa semua sumber sejarah itu
sifatnya subjektif yang merupakan hasil dari interprestasi. Akankan ada
keinginan kita untuk ikut sera dalam menginterprestasikan sumber sejarah
tersebut ??????
0 komentar:
Posting Komentar