Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

10/22/2015

Tagged Under:

hukum

By: Catatan Tania P On: 02.40
  • Share The Gag
  • Indonesia Negara Hukum

    Indonesia negara yang mengakui adanya ketuhanan seperti apa yang tercantum dalam falsafah negara Indonesia, Pancasila, sila kesatu “ Ketuhan Yang Maha Esa. Dari bunyi sila tersebut sangat jelas bahwa setiap orang di Indonesia itu adalah umat beragama dan agamanya sendiri pemerintah tak memberikan batasan atau pemaksaan untuk masuk dan percaya pada agama tertentu. Tak hanya islam, ada lebih dari satu agama yang diakui dan disahkan oleh pemerintah. Bukankah iu juga merupakan suatu yang jelas jika kita beda-beda agama diharuskan untuk saling toleransi.
    Toleransi dan solidaritas itu penting ditumbuhkan dalam semangat kebangsaan. Adanya perbedaan justru itulah yang akan menyatukan kita. Indonesia itu punya semboyan bhineka tunggal ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Walaupun kita terdiri dari berbagai macam suku bangsa, ras yang berbeda, agama yang berbeda, tetapi tetap satu rasa, Indonesia. Keberanekaragaman itu lah yang akan mengantarkan kita pada kekayaan bangsa. Jadi tak sepantasnya jika karena ada perbedaan timbul sikap yang merasa dirinya paling benar sendiri. Memang sifat manusia itu selalu tak ingin merasa disalahkan dan jika disalahkan mereka akan mencari pembelaan dulu. Itu merupakan hal yang lumrah. Perlu disadari juga bahwa urusan horisontal dan vertikal itu harus dipisahkan. Di ranah negara Indonesia, dalam berurusan secara horisontal kita sama. Satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa ( baca: sumpah pemuda) dalam wadah NKRI. Sedangkan dalam urusan keyakinan atau urusan vertikal, hal ini tak bisa dibuat sama. Masalah keyakinan itu adalah hak asasi manusia. Semampang hal tersebut masih berimplikasi dengan NKRI maka hal tersebut tak dijadikan masalah.
    Dalam urusan vertikal ini, kita tahu cukup banyak terjadi pemberontakan yang mengatas namakan agama. Padahal agama sendiri bertujuan agar manusia itu menjadi damai, tentram tanpa konflik. Lantas mereka yang melakukan pemberontakan dan melakukan tindakan intoleransi itu berlandasakan pada apa?

    Walau ada berbagai macam sekte dari masing-masing agama, bukan sebuah keharusan untuk membenarkan sektenya sendiri dan menyalahkan sekte lain. Coba kita tengok bagaimana perjuangan para pemimpin kita pada zaman memperjuangkan kemerdekaan. Mereka bersatu padu, walaupun dari golongan yang berbeda mereka tetap ingin kejayaan di Indonesia. Contoh saja pada saat perumusan pansila sila pertama, bukankah yang ikut dalam merumuskan juga tak hanya orang islam. Ada umat non islam yang turut andil dalam membangun negara ini. Jadi Indonesia itu bukan negara islam, Indonesia adalah negara hukum yang berdasarkan pada Pancasila. Sudah jelas bagaimana ideologi Indonesia itu mengatur semuanya. (tan)

    0 komentar:

    Posting Komentar