Niat Adalah Hakikat Segalanya
Saat
semuanya seolah hilang dan hanya banyang semu yang tereflesi dalam kacamataku,
dirimu lenyap. Saat semuanya terlihat nyata dan sangat dekat denganku, dirimu
ada. Apakah hakikat dari semua ini?. Penantian yang lama yang tak berujung
membuat seorang merasa lelah akan waktu yang tak pernah berpihak padanya. Tapi
mungkinkah waktu dapat disalahkan. Waktu itu diam, tapi manusialah yang
bergerak. Saat yang terjadi tak sesuai dengan apa yang dikehandakinya, hatinya
akan merasa tak nyaman. Pikirannya akan berusaha untuk mencari sebuah pemecahan
masalah. Tapi berhakkah manusia itu berkendak?. Bukankah segala sesuatu yang
ada itu berdasarkan kehendak Allah SWT. Jawabannya adalah iya. Segal sesuatu
yang ada itu adalah berdasarkan ketentuan Allah dan semua itu sudah tertulis
dalam Lauhul Mahfudz. Tapi sesuatu itu dapat dirubah dengan doa.
Kekuatan doa itu sangat besar. Allah berjanji akan mengabulkan doa
hamba-hambanya. Jika doa itu tak terkabulkan sekarang maka doa itu akan
terkabulkan nanti. Yang penting adalah berdoa dulu, masalah dikabulkan atau
tidaknya itu adalah urusan Allah SWT.
Semua
yang terlihat begitu indah dan menyenangkan kadang menipu. Seperti dunia ini
yang hakikatnya juga menipu. Menipu yang bagaimana? Menipu bagi mereka yang tak
dengan sadar melakukan segala sesuatu dan hanya asal-asalan saja. Taukah kalian
bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan niat itu akan jauh lebih nyaman dan
tenang daripada melakukan sesuatu yang hannya asal-asalan. Apa-apa yang
didapatkan manunsia itu adalah sesuai dengan niatnya. Jika niatnya baik maka
akan dapat sebuah kebaikan juga dan jika niatnya jelek, maka akan dapat sebuah
kejelekan juga.
Bagaimana
cara menyikapi sesuatu yang dianggap susah untuk dikendalikan itu. apalagi
masalahnya adalah seputar niat. Jika kita berbicara Konteks niat akan jauh dari
kata sempurna saat kita membahas tentang penyelesainnya. Kenapa? Kerena niat
itu sifatnya relatif dan hanya masing-masing individu yang dapat menentukan
niatnya sendiri. Saat ada pengarahan tentang cara bagaimana menata niat yang
benar, akankah pelatihan itu sukses jika niat sudah benar. Lantas bagaimana
parameter pengukuran niat yang benar itu? tidak bisa diukur, hanya hati yang
dapat mengukur tingkat niat seseorang itu. sebelum melangkah ke jalan yang
lebih spesifik lagi, cobalah untuk mengidentifikasi bagaimana niat yang ada
dalam hatimu sekarang ini? Apakah sudah benar atau belum coba dianalisis.
Sesuatu yang datang walau kadang tak menyenangkan, terasa sesak di dada dan
apa-apa yang datang walau itu menyenangkan dan terasa terbang ke udara
hakikatnya adalah pemberian. Semua itu akan terasa tak bersekat saat niat yang
kita miliki itu benar. Dan diri dapat membedakan mana antar hal yang prlu dan hal
yang tak perlu.(tan)
0 komentar:
Posting Komentar