DINAMIKA PERKEMBANGAN AWAL STUDY ISLAM
Pada kuliah pagi ini yang dibahas adalah dinamika perkembangan awal
study islam di dunia. Semakin lama mempelajari seputar study islam, semakin
menarik pula kajian yang dibahas. Study islam sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu
Study islam masih bersifat mengenal, memahami dan meneladani islam dari Nabi
Muhammad SAW. Proses studi islam hingga sampai pada tahap ini tak luput dari
berbagai dinamika. Menurut Azra dinamika studi islam berawal dari
sorogan dan halaqoh individual kemudian ke sistem khuttab. Setelah itu ke
sistem masjid dan madrasah. Madrasah yang dimaksud pada zaman dulu bukan
seperti madrasah pada zaman sekarang. Madrasah zaman dulu lebih bersifat formal
seperti universitas.
Stanton membagi khuttab
menjadi dua. Yaitu khuttab sejuler dan khuttab agama. Khuttab sekuler yang
dibahas tentang bahasa, sastra dan aritmatika. Sedangkan khuttan agama yang
dibahas adalah seputar materi keagamaan. Tentu bagi para maba bingung dengan
pengertian khuttab sendiri. Sebenarnya apa khutta itu?
Khuttab adalah sebuah tempat yang digunakan unyuk mengkaji ilmu.
Jika pada zaman dulu bisa juga disebut sebagai pondok alal. Asari membagi
khuttab menjadi dua fungsi. Yang pertama berfungsi sebagai tempat mengerjakan
baca tulis Al Qur’an dan kedua sebagai tempat mengajarkan Al Qur’an dan
dasar-dasar agama.
Perkembangan studi islam tak lepas dari perpustakaan. Peranan
perpustakaan sangat penting pada masa ini. Ada beberapa kata yang digunakan
sebagai nama dari perpustaan. Contohnya dar al ‘ilm (rumah ilmu), bay al hikmah
(rumah kebiaksanaan), dan khizanah al kutub (gudang buku). Pertamanya perpustakaan merupakan lembaga
waqof Abu Hanifah dan madarasah Nizamiyah di Baghdad.
Setelah perkembangan perpustakaan, berkembang pula pusat studi
islam yang menyebar sampai barat. Hal ini ditandai dengan penyalinan manuskrip
dalam bahasa latin pada abad ke 13 M.
Selain itu muncul berbagai universitas-universitas.
PERKEMBANGAN STUDY ISLAM DI BARAT
Pekembangan studi islam
dibarat dikelompokkan menjadi dua. Yang pertama tentang sejarah dan dinamika
islam di Barat dan yang kedua tentang kondisi study islam di universitas yang
ada di Barat. Kali pertama Studi islam dilakukan di Barat oleh Raden Mas Ismangoen
Danoewinoto di Ladien Belanda. Beliau melaksanakan studi islam buka
karena ingin mengkaji islam, melainkan lebih mengarah pada kepentingan
politik. Kemudian setelah Indonesia
merdeka, M. Rasjidi, Menteri Agama Indonesia melakukan studi islam di barat
dengan motif mengkaji islam.
Tokoh selanjutnya yang studi di Barat adalah Harun Nasution.
Beliau belajar di dua universitas. Yang pertam belajar di Kairo dan selanjutnya
mengambil study ke Kanada. Di Kanada Beliau menemukan apa yang diinginkan dan
mendapatkan pandangan tentang islam yang luas. Beliau dikenal sebagai sarjana
yang menyuarakan pluralistic approach. Selain itu Beliau juga berpendapat bahwa
umat islam harus harus berpartisipasi dalam pembangunan bangsa. Beliaulah yang
mengubah sistem perkuliahan menjadi sistem diskusi, membudayakan menulis ilmiah
dalam bentuk paper, makalah dan membuka mata kuliah teologi dan tasawuf di
IAIN.
Tokoh selanjutnya adalah Mukti Ali. Beliau lulusan dari
Pakistan. Mukti Ali sangat tertarik dengan sistem perkuliahan di Mc. Gill yang
sistematis, rasional, holistis, baik dari segi ajaran agama, sejarah dan
peradabannya. Beliaulah yag berkontribusi besar
perbandingan agama dimasukkan dalam kajian utama di IAIN.
Di UCLA (university of
CaliforniaLos Angel), studi islam dibagi menjadi empat. Satu, tentang doktrin
dan sejarah islam, kedua tentang bahasa Arab, tiga, bahasa Arab non muslim,
empat. Ilmu sosial, sejarah, arab dan bahasa. (tan)
0 komentar:
Posting Komentar