Hal Baru yang Menyenangkan
Filsafat itu tak ada rasanya. Adanya hanya
ingin tau dan selalu penuh dengan pertanyaan.
Filsafat itu menyenangkan. Penuh dengan
tantangan dan penuh dengan pemikiran
Filsafat itu rasional, segala sesuatu
berdasarkan rasio
Filsafat itu membingungkan tapi juga sekaligus
menghipnotis bagi para kaum yang salah memahami filsafat
Filsafat itu induk, induk dari segala jenis ilmu
Filsafat itu ada dalam islam
Nah
dari beberapa kalimat yang dituliskan di atas, kira-kira apa yang dapat pembaca
tangkap? Mungkinkah hanya dengan membeca beberapa kalimat di atas pembaca akan
merasa puas dan telah memahami filsafat?.
Jawabannya
adalah tergantung bagaimana diri pembaca. Penulis tak dapat memaksakan pembaca
itu sependapat dengan kata-kata penulis. Penulis sendiri juga masih awam dengan
filsafat. Apalagi bagi maba yang masih dua kali mendapat materi seputar
filsafat. Rasanya masih kurang pengetahuan ini jika diajak untuk membahas
masalah filsafat. Penulis tak berani. Penulis hanya menyampaikan apa yang
ditangkap oleh penulis dari penjabaran-penjabaran kemarin yang sempat penulis
dengar dan pahami.
Sedikit
bercerita tentang pengalaman penulis saat kali pertama menerima mata kuliah
filsafat. Kali pertama penulis merasa sangat aneh dengan mata kuliah ini,
apalagi di bangku SMA tak ada yang namanya pelajaran filsafat. Semua yang
dipaparkan oleh dosen semuanya seperti sesuatu yang berlawanan dengan logika
penulis. Rasa bingung semakin mencuak saat pembahasan semakin mengarah kepada
masalah aqidah. Apalagi pada saat bersinggungan dengan islam. Saat itu, semua
yang disampaikan seolah bertentangan. Apalagi sebelumnya penulis juga belum
sempat membaca buku seputar filsafat. Penulis hanya diam. Tak berani bertanya.
Karena dalam benak penulis berpikir ada maksud tersendiri dalam penyampaian
materi yang seperti itu. Banyak diantara teman-teman sekelas yang membatah
teori-teori yang disampaikan oleh dosen. Mereka juga merasa kebingungan dengan
mata kuliah ini. Muncul berbagai pertanyaan mendasar dari teman-teman “ siapa
aku ini dan kenapa aku hidup di dunia ini, bagaimana dunia ini tercipta”.
Rasanya masih sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut jika dijawab sesuai
dengan teori filsafat. Jika sebelumnya mungkin mudah menjawab pertanyaan
seperti itu. Namun jawaban seorang filsuf akan jauh berbeda dan beraneka
ragaman. Tergantung pemikirannya sendiri, nah inilah yang disebut dengan
berfilsafat. Filsafat sendiri merupakan suatu proses berpikir yang sesuai
dengan logika. Filsafat berasal dari dua kata. Philo dan shopia. Philo
beratyi cinta dan shopia berarti kebijkasannan. Disini yang dimaksud
filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan, kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang
bagaimana dan cinta yang bagaimna? Hal ini yang akan dijawab oleg seorang
filsuf. Saat sebuah pengetahuan empiris tak dapat memecahkan suatu masalah,
maka logikalah yang akan bermain.
Membahas
masalah filsafat tak cukup hanya dua atau sepuluh jam, seorang filsafat saja
merumuskan sebuah teori kebenaran sampai berjuta-jata tahun. Mungkinkah kita
hanya merumuskan teori kebenaran hanya berjam-jam? Rasanya tak mungkin. Saat
kemarin (04/10) mahasiswa KPI ( Komunikasi Penyiaran Islam) berdiskusi masalah
filsafat bersama dengan kakak tingkat dari jurusan filsafat agama, tak
menemukan sebuah solusi. Diskusi masih belum selesai dan kami yang
backgroundnya tak paham akan filsaftat, mayoritas diam daan hanya mengamati apa
yang disampaikan oleh kakak tingkat kami. Ini adalah sebuah proses yang masih
perlu dilanjutkan supaya tak hanya anak filsafat saja yang mengerti tentang
filsafat itu. kesan yang kami dapat saat itu adalah rasa ingin tau yang semakin
besar seteleh diadakannya forum keliling dengan anak filsafat. Dari sinilah, sedikit
cakrawala baru dibuka. Dan dari sini dapat penulis pahami bahwa tak serta merta
pemahaman itu diperoleh dalam kelas, dalam forum-forum diskusi ekstra kelas
juga sangat membantu dalam hal menambah pengetahuan. (tan)
0 komentar:
Posting Komentar