Selenggarakan
Festival Menulis, Masyarkat Kurang Apresiasi
Tulungagung-
Sabtu (10/10) di Universitas Tulungagung diselenggarakan Festival Bonorowo
Menulis (FBM) oleh Sanggar Kepenulisan Pena Ananda. Acara kali pertama dibuka
pada Jum’at ( 09/10) sampai Minggu (11/10). Festival yang melibatkan beberapa
komunitas literasi di Jawa ini diikuti oleh dua belas stan. Masing-masing stan
menampilkan persembahan yang berbeda. Tak hanya diikuti oleh komunitas
literasi, komunitas selain literasi pun diperbolehkan mengikuti stan FBM. Acara
dimulai pada 08.00 wib-17.00. Nikita, salah satu relawan dalam FBM menuturkan
bahwa tujuan utama dalam penyelenggaraan FBM adalah menumbuhkan semangat
literasi di masyarakat, khususnya masyarakat Tulungagung.
Salah
satu stan dalam festival ini adalah stan
dari Api Bandung. Sesuai dengan namanya, komunitas literasi ini berasal dari
Bandung. Galih, mahasiswa semester lima dari Bandung yang mempresentasikan
stannya mengungkapkan perasaan kecewanya karena kurangnya minat baca masyarkat
Tulungagung. Pasalnya sejak hari pertama pembukaan sampai dengan hari kedua,
FBM masih sepi. “Jika festival seperti ini diadakan di Bandung, tentu akan
sangat ramai. Pengunjung
berdesak-desakkan ditiap-tiap stan. Bahkan sampai antusiasnya, stan pun
dapat disewakan saat festival” jelas Galih. Salah satu pengunjung, Marvica,
mahasiswa IAIN Tulungagung pun juga menyatakan keheranannya akan festival yang
sepi.
Kendati
FBM tak seramai festival literasi di Bandung, festival ini merupakan sebuah
aprisiasi besar terhadap leterasi dan
merupakan kemajuan besar di Tulungagung. Hal senada juga diungkapkan oleh Leli
Mei, selah satu pendiri komunitas Api Bandung. Leli Mei menjelaskan bahwa hal
seperti ini perlu dihargai dan kota lain patut meniru kegiatan ini. “ Literasi
itu tak hanya selalu dengan menulis, dalam literasi harus ada kemasannya.
Misalnya pengaplikasian literasi dalam sebuah lagu. Nantinya tak hanya buku
yang dihasilkan, pengetahuan dan sastra pun juga merupakan produk literasi”
jlentreh Leli Mei, yang pada hari ini, Sabtu (10/10) pada 13.00 wib akan
bermonolog tentang Inggit istri Soekarno. Beliau juga menyarankan seharusnya
dalam FBM ada suatu human interestnya, misal mengundang sebuah band
kondang. Tentu masyarkat akan berbondong-bondong datang ke FBM. Walaupun niat
awal adalah menyaksikan band kondang tersebut, setidaknya mereka akan tahu
bagaimana FBM itu dan apa yang dipresentasikan masing-masing stan. Minat
literasi akan tumbuh berproses dari hal ini.
Tempat
komunitas Api Bandung berkumpul adalah di Musium Confersi Asia Bandung. Model
dalam kajian yang ada di Musium Confersi Asia-Afrika Bandung ini adalah model tadarus.
Anggota tak membatasi usia. Mereka membaca buku bergantian, kemudian akan ada
pembahasan tentang buku yang baru dibaca. Setelah itu, akan ada pengaplikasian
dalam bentuk lagu. Salah satu hasil karya komintas Api Bandung adalah sebuah
buku karya Adew Habsta. Sedangkan model kajian literasi di Sanggar Kepenulisan
Pena Ananda yang ada di Desa Bangoan, Tulungagung adalah latihan kepenulisan
yang diadakan setiap Sabtu. Sebenarnya ada kelas kursus menulis juga. “ Kalau
yang kursus menulis itu harus membuat grup dulu. Masing-masing grup terdiri
dari lima orang. Dan ada biaya tambahan juga. Tapi untuk latihan kepenulisan
tiap Sabtu itu gratis” ungkap Nikita, salah satu putri dari pendiri Kepenulisan
Sanggar Ananda. Di kajian literasi
Tulungagung pun juga menghasilkan beberapa buku yang berupa antalogi puisi dan
cerpen dari para anggotanya. (tan)
0 komentar:
Posting Komentar