Bagaimanakah Perkembangan
Study Islam
Kuliah
MSI pada rabu (07/10) hanya berlangsung selama satu jam. Karena kuliah pada
hari ini jamnya dimajukan dikarenakan kelas KPI akan mengadakan persiapan untuk
malam inagurasi mahasiswa baru. Walau berlangsung cukup singkat, namun
setidaknya ada ilmu yang didapatkan. Kami melanjutkan materi minggu lalu yang
masih belum tuntas tentang studi islam di barat. Studi islam di Barat dilakukan
tak hanya di satu universitas saja. Contoh saja ada enam universitas yang mengkaji
tentang islam. Yaitu universitas Ledein, universitas Khatolik Nijmegen, Universitas Amsterdam, Universitas Grognigen
dan Universitas Utrech. Dan program studi islam ada di fakultas sastra,
teologi, sosial dan hukum. Pada mulanya kajian islam di Belanda sebelum 1950
masih mengarah ke islamnya orang Indonesia. Tapi setelah tahhun itu, Belanda
lebih mengarah ke Timur Tengah.
Kajian islam di Barat dipengaruhi
oleh tiga pendekatan sebagai berikut :
1.
Pendekatan
filologis. Pendekatan ini merupakan interprestasi islam dalam gagasan dan
konsep-konsep teks klasik
2.
Pendekatan
ilmiah. Pendekatan ini lebih berarah pada aturan-aturan sistematis
3.
Fenomenologi
interpretatif. Yang dimaksud disini islam merupakan suatu simbol yang sarat
dengan makna
Dari
beberapa penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa belajar islam itu tak hanya
terfokus pada satu negara timur tengah. Sesungghuhnya islam juga dikembangkan
dan dikaji di Eropa. Bahkan banyak para intelek islam dari Eropa walaupun
mereka tak memeluk islam tapi paham benar tentang ajaran islam. Intinnya jangan
terlalu fanatik kepada satu negara yang mayoritas pendudukknya bukan islam.
Justru disanalah kalian akan memahami bagaimana agama islam itu sebenarnya.
Hakikat dari agama islam sendiri akan ditemukan disana. Seperti yang dikatakan
oleh Bapak Harun Nasution yang kuliah di Kanada, bahwa Beliau merasa lebih
mendapatkan ilmu di Kanada tenang islam daripada di Mesir.
Study Islam di Timur Tengah
Di timur tengah ada beberapa
universitas yang mengkaji tentang islam. Yaitu universitas Taheran di Iran.
Kajian islam dilakukan di fakultas agama( kulliyat ilahiyat), ada juga
universitas Imam Sadiq di Iran yang juga mengkaji seputar islam dan ilmu umum.
Marshal Hudgson mengatakan dalam bukunya bahwa pemikiran islam itu ada islam,
islamicate, islamidon, yakni kebudayaan islam setelah berinteraksi dengan
berbagai budaya dari negeri-negeri yang kemudian disebut sebagai negara muslim.
Di Universitas Damaskus, Syiria,
studi islam ada di fakultas syariah. Di Aigarch Universitas India, Studi islam
ada di dua fakultas, yaitu difakultas ushuludin yang mempelajari islam sebagai
doktrin dan fakultas humaniora yang mempelajari islam dari segi sejarahnya. Di
Malaysia ada Islam Internasional. Kajian islam disini berada pada fakultas ilmu
kewahyuan dan ilmu kemanusiaan. Di Mesir ada Al Azhar sebelum 1950, sistem
kajian disini sama dengan yang ada di IAIN. Tapi setelah itu lebih berkembang
lagi hingga muncul berbagai program studi umum lainnya. Di Al Suyut, Zarkasi dan Tahta studi islam
dilakukan di fakultas ushuludin.
Study Islam di Indonesia
Perkembangan studi islam di
Indonesia dimulai sejak islam datang kali pertama di Indonesia. Awalnya dimulai
di pesantren lalu madrasah dan perguruan tinggi. Pemikiran islam modern berawal
dari pemikiran islam di Timur Tengah Asia Selatan. Pada masa modern islam pasca
kemerdekaan tersendat karena masalah politik. Islam baru berkembang setelah
pidato Nur Cholish Madjid yang berjudul “ Islam Yes, Partai No”. Pada
saat ini para pemikir islam banyak dipengaruhi oleh para pemikir barat.
Sejarah pertamanya di Indonesia,
studi islam bernama Dirasah Islamiyah. Dirasah islamiyah ini ada 3.
Dirasah islamiyah I membahas tentang fiqih dan ushul fiqih. Dirasah islamiyah
II membahas tentang tafsir hadist dan ilmu hadist, dan dirasah islamiyah III
membahas tentang sejarah dan peradapan islam. Pada 1988 ditetapkan di IAIN
tentang kurikulum Metodologi Studi Islam
(MSI). Lalu pada 1994 nama Metodologi Studi Islam direvisi menjadi Pengantar
Studi Islam (PSI).
Mukti Ali mendorong perlunya islam
dikaji secara interdisipliner. Beliau meminta secara tegas pada rektor IAIN
seluruh Indonesia bagaimana caranya agar islam dapat dipahami. Beliau Mengumpulkan
rektor seluruh Indonesia untuk membahas persoalan ini.
Gejala baru dalam studi islam yang perlu diperhatikan adalah
bagaimana pendekatan yang beragam itu dilakukan, bagaimana pengendalian dalam
tradisi islam yang menimbulkan pemahaman plural polyhonic understand dan
sekaligus sebagai center of exallent bagi pendidikan dan penelitian
islam.
Menurut Zuhri studi islam
kontemporer berangkat dari narasi besar. Pertama studi islam tradisional yang
bersumber dari islam dan yang kedua studi islam non tradisional yang bersumber
dari para intelek islam. Studi islam hanya akan eksis di masa depan jika studi
islam tidak dimasukkan sebagai bentuk perumusan
ideologi diskursif, tetapi sebagai studi islam yang benar-benar
berangkat dari persoalan sosial masyarakat pada umumnya. Pengembangan studi
islam di Indonesia masih terganggu oleh godaan ekonomi dan ideologi. (tan)
0 komentar:
Posting Komentar