Alunan Dawai Gitar
Oleh Tania Pramayuani
Menyapa langit yang biru dan berteman dengan kicauan burung di pagi hari menjadi hal yang kusuka. Di bawah rindangnya pohon beringin depan rumahku, selalu kusempatkan untuk menikmati suasana pagi hari. Walau kadang hujan bertengkar denganku dan mengusir diriku dari tempat favoritku, aku tetap membangkang dengan prinsipku. Bagiku tempat itu adalah milikku. Akulah ratu di tempat itu. Tapi semua yang telah kukuasai itu mulai melemah saat kedatangan sosok pria bergitar yang setiap Minggu datang di bawah pohon rindang itu sambil bernyanyi bersama burung pipit. Kesal diriku melihat hal itu. Sesekali aku pernah mendatanginya dan berniat untuk mengusirnya. Namun saat wajahnya mendongak dan menatapku, niatan itu hilang. Aku takut, dia sangat garang. Hal yang tak aku kira, jika aku sampai berurusan dengan pria itu. Aku pun memutuskan untuk mengalah walau hanya sehari dalam seminggu. Aku tidak ingin berurusan dengan orang yang menakutkan itu.
“Salsa cepat pulang” panggil ibuku.
Aku segera pulang dari tempat favoritku. Ibu menyuruhku agar aku mengantarkan pesanan nasi ke warung-warung. Seperti biasa aku mulai mengayuh sepedahku dan mengantarkan nasi pada warung-warung. Sebelum kuliah dimulai, aku tak melewatkan tugas yang diberikan ibuku. Semua teman sekelasku hafal dengan rutinitasku ini. Teman yang cukup menjengkelkan memberi julukan padaku gadis nasi. Biarlah itu bukan urusanku. Aku tidak mempermasalahkan hal itu.
“Buk, ini nasinya. Uangnya akan saya ambil nanti setelah saya pulang kuliah” kataku.
“Iya, nanti jika masih sisa bagaimana” tanya Ibu yang punya warung
“Tidak apa-apa Bu, nanti sisanya akan saya ambil. Semoga nanti habis semua” jawabku dengan senyum dan kemudian aku berpamitan pergi.
Warung ke warung sudah aku datangi. Aku sudah menitipkan nasi yang diamanahkan ibuku padaku. Setelah tugas itu selesai, aku segera siap-siap untuk kuliah. Jam kuliah kali ini dumulai pukul delapan pagi hingga nanti sore pukul empat. Aku menyiapkan semua hal yang perlu aku bawa saat kuliah, utamanya makalah. Hari ini aku presentasi. Dan kebetulan sekali kelasku digabung dengan kelas sebelah. Otomatis aku harus siap materi dan mental, karena bukan cuma teman-teman sekelasku sendiri yang aku hadapi, tapi teman-teman dari kelas lain.
Sesampainya di kampus, aku menghampiri teman-temanku dan menyapanya. Mereka semua sedang membicarakan seseorang. Aku ikut-ikutan mendengarkan apa yang dibicarakan teman-temanku. Kata yang dapat aku dengar adalah asisten dosen. Yah, kata itu. Sepertinya temanku sedang membicarakan tentang topik itu. Aku menyela di tengah pembicaraan mereka.
“Siapa asisten dosen yang kalian bicarakan”
Wajah temanku terlihat tak senang aku menyela pembicaraan, namun itu haya sandiwara mereka. Rini salah satu temanku menjawab “Dia adalah orang yang keren, pintar dan multitalent”
“Nanti kita akan diajar olehnya” tambah Anisa.
“Memangnya dosen kita kemana, kok jadi asisten dosen yang masuk. Ini pertama kalinya Bapak Amri tidak datang” tanyaku.
Mereka semua mengangguk dan mengatakan bahwa ini juga pertama kalinya asisten dosen baru itu mulai mengajar.
Pembicaraan belum selesai, ketua kelas kami sudah mengkode bahwa kami harus segera masuk kelas. Dosen sudah datang. Aku sangat penasaran dengan asisten dosen baru yang isunya sangat keren. Saat dia mulai melangkahkan kakinya, aku langsung memperhatikannya. Mulai dari kaki sampai kepala tak ada yang aku lewatkan. Memang benar dia sangat rapi dan terlihat intelek. Aku tak memungkiri hal itu. Dia bernama Reza. Tapi aku merasa bahwa aku pernah melihat wajahnya. Wajahnya sangat familiar denganku. Aku penasaran dengan hal itu. Aku perhatikan gayanya mengajar. Bernada. Ya, itulah penilaianku terhadapnya. Seperti alunan gitar caranya berbicara. Sesekali aku tertawa melihatnya. Tapi aku kagum dengan caranya mengajar. Caranya mengatur mahasiswanya juga sangat pas. Sebenarnya dia layak jika menjadi dosen, tak hanya sekedar asisten dosen. Keahliannya yang mumpuni itu sudah menjadi modalnya untuk berkarir.
Setelah perkuliahan selesai, aku langsung mengambil uang nasi di warung-warung. Di salah satu warung yang aku datangi, aku bertemu dengan asisten dosen yang baru tadi pagi mengajarku. Aku hanya mengulum senyum sebagai tanda bahwa aku menyapanya. Dia juga membalas senyumanku itu. Setelah keperluanku selesai, aku pulang. Dan asisten dosen itu masih di warung itu. Dia sedang membicarakan sesuatu dengan pemilik warung. Sebenarnya aku penasaran dengan yang mereka bicarakan. Tapi segera kutampik rasa penasaranku itu.
Keesokan harinya aku menjalani rutinitasku di pagi hari. Hari ini aku sangat kecewa, karena pria yang aku benci sudah menguasai tempatku. Aku berjalan mondar-mandir di depannya. Itu adalah isyaratku padanya untuk mengusirnya. Tapi dia tidak peka. Dia malah menghentikan gitarnya. Dan meletakan gitarnya. Anenya, dia memanggil namaku. Aku langsung berhenti berjalan mondar-mandir. Aku menoleh. Dia ternyata malah menunduk. Aku berfikir bahwa aku salah mendengar jika dia memanggil namaku.
“Salsa”
Sekali lagi aku dengar namaku dipanggil. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mananyakan hal itu pada pria yang telah menguasai tempatku
“Apakah Anda memanggil nama saya” tanyaku dengan nada tinggi
“Iya” jawabnya singkat.
“Kok Anda mengenal saya?”
Pria itu hanya diam dan mengambil gitar yang tadi diletakkannya. Aku juga ikut diam. Aku megamati apa yang akan dia lakukan. Teryata dia cuma memetik beberapa dawai senar gitarnya dan berkata “Apakah kamu lupa dengan aku”. Aku masih belum mengerti apa maksud dari pria itu. Aku mengingat-ingat wajahnya. tapi belum juga menemukan jawabannya.
“Reza” katanya
Aku langsung ingat dengan asisten dosen. Apakah mungkin dia benar-benar Reza. Penampilannya sangat berbeda saat di kampus dan hari biasa seperti ini. Aku memastikan kebenaran itu padanya.
“Apakah Anda adalah asisten dosen yang kemarin masuk di kelas saya” tanyaku. Dia mengangguk. Hal yang sangat tak mungkin. Sulit dipercaya. Aku sangat tak percaya jika dia adalah asisten dosenku. Memang kemarin aku sempat mempunyai pikiran bahwa aku pernah mengenal wajahnya. Ternyata memang benar. Aku malu dengan diriku sendiri karena telah membenci asisten dosen. Bisa-bisa aku kena batunya sendiri.
Pembicaraan terus berlanjut. Orang yang selama ini aku takuti dan sempat aku jengkel dengannya ternyata tidak seperti yang aku pikirkan. Dia berkepribadian lembut. Aku salah besar jika menilainya hanya dari penampilannya saja. Dia bahkan manawariku untuk mangajariku bermain gitar. Aku tak mungkin menolak hal itu. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa bermain gitar. Kali ini tidak hanya sekali saja dia duduk di bawah pohon rindang depan rumahku. Tapi sering, kami pun jadi akrab dan saling bercerita dan berbagi masalah satu sama lain.
Satu hal yang sangat aneh terjadi pada Reza. Sudah seminggu lebih dia tidak datang di bawah pohon rindang. Aku mencari di kampus dia juga tidak terlihat. Setelah selesai pulang kampus, seperti biasa aku mengambil uang nasi. Di salah satu warung yang aku datangi, ibu pemilik warung itu memberikanku sebuah kertas kecil. Aku tak tau isinya.
“Kamu baca saja nanti jika sudah pulang, Nak” katanya.
“Ini dari siapa Bu” tanyaku.
Ibu itu tak mau meberitahukan padaku. Aku pun pulang dan segera membaca kertas kecil yang diberikan oleh Ibu tadi. Perlahan-lahan aku membukanya dan isinya adalah sebuah surat. Aku langsung melihat nama pengirimnya. Ternyata surat itu dari Reza. Aku segera membacanya.
Assalammu’alaikum
Salsa apa kabar? Semoga kamu dalam keadaan baik saat membaca surat ini
Salsa, maaf ya aku tidak bisa lagi mengajari kamu main gitar. Dan maaf juga jika selama ini aku telah mengambil tempat favoritmu. Aku sebenarnya tahu jika kamu sempat jengkel kepadaku. Sekali lagi aku minta maaf Salsa. Aku juga minta maaf jika aku tidak berpamitan denganmu sebelumnya. Aku mendapatkan beasiswa mendadak untuk kuliah di Sorbone Unversity. Ini sangat mendadak dan aku tidak sempat memberitahumu. Aku mencari kamu di kampus sebelum keberangkatanku, tapi kamu sudah pulang saat itu. Akhirnya aku menitipkan surat ini pada Ibuku.
Warung yang setiap kali kamu datangi itu adalah warung ibuku. Aku sudah mengetahuimu sejak lama, sejak aku belum mempunyai kegemaran duduk di bawah pohon rindang. Mungkin kamu pernah melihatku saat kamu mengambil uang nasi. Aku tidak tahu berapa tahun aku akan di Sorbone. Tapi aku ingin mengatakan hal yang belum sempat aku katakan padamu. Aku ingin menjadikanmu sebagai pendamping hidupku. Sudah lama aku menantikan ingin mengatakan hal ini tapi belum kesampaian. Jika kamu bersedia, tunggulah aku sampai aku pulang. Aku berjanji setelah kepulanganku, aku akan mencarimu. Sebagai janjiku padamu, ambillah gitarku di rumah. Aku sengaja meninggalkannya untukmu. Jika kamu mengambilnya, itu tanda bahwa kamu bersedia. Jika tidak, maka kamu tidak bersedia. Dan seumpama kamu tidak bersedia, maka jangan putuskan hubungan kita. Setidaknya kita masih bisa bersahabat. Seringlah main dan akrab dengan ibuku. Satu lagi, aku suka dengan nasimu. Entah itu nasi buatanmu atau ibumu. Tapi aku berharap yang membuat nasi itu adalah kamu.
Maaf dan terima kasih Salsa. Dan sampai bertemu di lain hari
Wassalammu’alaikum
Yang mengharapkamu,
Reza
Air mata Salsa menetes saat membaca surat itu. Air mata kebahagian sekaligus kesedihan. Dan bahagia karena selama ini Reza menaruh hati padanya, dan sedih karena Reza harus berpisah untuk sementara waktu dengannya. Dia baru sadar bahwa dia juga suka dengan Reza. Rasa itu mulai disadari saat Reza sudah tak bersamanya dan dia mulai merasa kehilangan. Sebelumnya dia memutuskan pilihanya terhadap permintaan Reza, dia sholat istiqarah, meminta petunjuk pada Allah. Dia pun menemukan jawaban kemantapan hati terhadap Reza. Dia berniat untuk mengambil gitar Reza.
Setahun kemudian, sebuah surat datang dari Sorbone. Surat itu dari Reza dan intinya Reza mengucapkan terima kasih karena telah percaya padanya. Reza juga berpesan agar Salsa kuliah dengan sungguh-sungguh dan mengejar mimpinya. Jadikanlah musik sebagai penghibur dikala sedih. Alunan musiknya akan menenangkanmu. Musik sebagai tanda cintanya dan sebagai obat. Salsapun membuktikan bahwa dia telah melaksanakan pesan Reza. Kini Salsa menjadi asisten dosen seperti Reza dulu. Di sela-sela penantiannya, Salsa terus berproses menjadi lebih baik.