Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

12/08/2015

Tagged Under:

NEWS

By: Catatan Tania P On: 22.54
  • Share The Gag



  • Tulungagung Gelar Ngrowo Culture Festival

    Ramai pengunjung stan Kecamatan Boyolangu(tan)


    Tulungagung-Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kota Tulungagung yang ke 810, pemerintah daerah Tulungagung mengadakan Ngrowo Culture Festival (NCF). Acara tersebut diadakan pada Sabtu(5/12) dan Minggu(6/12) kemarin, di alun-alun Tulungagung. Acara yang melibatkan seluruh kecamatan yang ada di Tulungagung mengangkat tema pengenalan budaya lokal dan potensi Tulungagung di masing-masing kecamatan. Acara berlangsung dua hari dan mulai dibuka pada Sabtu pukul 19.00 wib.
    Stan yang terlibat dalam NCF tidak hanya berasal dari kecamatan yang ada di Tulungagung, melainkan beberapa komunitas yang ada di Tulungagung, seperti Komunitas Motor, Batu akik dan jarum pentul ikut meramaikan NCF. Para pedagang yang berasal dari luar kota pun juga turut memeriahkan NCF. Salah satu penjual boneka yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa acara kali ini merupakan acara yang sangat bagus dan harus diadakan setiap tahun. “Saya asli orang Pasuruan. Memang tujuan utama saya disini berdagang, tapi selain itu saya juga ingin mengenal Tulungagung itu seperti apa” ujarnya.
    Stan yang menjadi perhatian pertama pada NCF adalah stan dari Kecamatan Boyolongu. Stan tersebut menampilkan budaya dan potensi dari Kecamatan Boyolangu. Stan yang tidak pernah sepi pengunjung itu bertema tarian khas Tulungagung, yaitu Jaranan. Ada banyak properti jaranan yang dijual di stan.  Ada juga miniatur dari bambu, asli karya Desa Tanjungsari. Desa wajak lor, juga turut andil dalam stan ini, yaitu mengenalkan potensi desanya dengan produksi cobeknya. Mulai dari tahap awal pembuatan cobek sampai pada proses jadinya. Penyajian stan juga dikemas dengan nuansa kebudayaan yang kental. Pria asal Kaliwungu, salah satu panitia di Stan Kecamatan Boyolangu, menjelaskan bahwa stan Kecamatan Boyolangu memang menyajikan hal yang berbeda. Tidak hanya cara pengemasan dekorasi yang dibuat kental dengan nuansa budayanya, melainkan semua panitia dalam stan Kecamatan Boyolangu diwajibkan mengenakan pakaian tradisional. “Pakaian yang saya pakai adalah pakaian tari jaranan. Dan pakaian wanitan yang dikenakan panitia adalah pakaian sinden” tuturnya.
    Linda, salah satu warga Tulungagung yang datang menyaksikan NCF mengungkapkan kekagumannya pada acara ini. Dia mengaku sangat senang dengan acara NCF. “Walaupun acara pertunjukan budaya Tulungagung baru dimulai pukul tujuh malam, dan saya tidak dapat melihatnya, tapi saya sangat senang bisa melihat stan dari masing-masing kecamatan dan komunitas di Tulungagung. Saya berharap tahun depan dapat melihat lagi” katanya. (tan)

    0 komentar:

    Posting Komentar