MUSIK-MUSIK HUJAN
Oleh Tania Pramayuani
Burung
tetap berkicau, dan semburat hamparan biru masih membentang saat mentari
menemani cakrawala. Dan saat mentari kembali pada tidurnya, seperti malam-malam
di pondok di hari-hari yang lalu, hujan menyapa malam dan menyelimuti
keheningannya dengan lantunan musik-musik dari percikan bulir airnya. Sampai
seolah tangisan seorang gadis nyaris tak terdengar, disembunyikan oleh
musik-musik hujan yang dengan merdunya memotivasi si gadis untuk terus
menangis. Hanya seorang saja yang mengetahui apa yang telah di alami si gadis
di pondok tersebut. Hayyin, ya Hayyinlah yang selalu mendengarkan musik-musik
tangisan gadis itu.
“Vill,
jangan terlalu dipikirkan. Fokuskanlah saja pada hafalanmu. Aku tak percaya
seorang Avila bisa seperti ini?” Ucap Hayyin
Avila
menyeka air matanya. Dia menatap Hayyin. Dia menunduk lalu air matanya menetes
lagi. Hayyin bingung. Sudah hampir sebulan Avila seperti ini. Dan hampir
sebulan itulah mereka menghabiskan malam bersama iringin musik hujan.
“Vil, setiap tangisanmu di keheningan malam,
setiap rasa sakit yang kamu rasakan saat alunan musik hujan bernyayi, ketika itulah
kamu akan mendapatkan jawaban dari apa yang kamu minta. Kamu menangis,
menagislah, mau berteriak silahkan, asalkkan tidak mengganggu santri lainnya.
Luapkanlah emosimu saat hujan itu turun Vil”
Avila
termenung. Dia mendengarkan dan memperhatikan apa yang dikatakan oleh
Hayyin.Sejadi-jadinya dia menangis sampai Hayyin benar-benar tak mampu
menenangkannya. Avila hanya membisu dengan isakan tangisnya yang disamarkan
oleh hujan. Sesekali dia melirik ke langit. Mungkin mencari bintang, berharap
dikeheningan malam tangis hujan, dia menemukan cahaya yang mampu menerangkan
hatinya dan tidak suntuk lagi.
**
“Aku
mau mondok, Bu”
“Jangan
tahun ini, mondoklah tahun depan”
“Tapi
aku maunya sekarang, Bu”
Perdebatan
terus berlangsung antara Avila dan ibunya. Avila bersikeras untuk mondok usai
kepulangannya dari asrama kampus. Sementara ibunya berkeinginan agar Avila
mondok tahun depan saja hal ini dikarenakan Avila belum lama berada di rumah.
Baru dua hari Avila pulang ke rumah dan setelah itu Avila memutuskan untuk
mondok lagi.
Avila
akhirnya berangkat ke pondok dan ibunya pun juga memberikan izin kepadanya
walaupun hal itu dengan terpaksa.
“Ibu,
Avila berangkat ya. Doakan Avila, Bu. Insya Allah Avila akan sungguh-sungguh
dan tidak akan main-main disana”
“Iya,
Nak. Doa ibu menyertaimu. Jangan lupa selimutnya dipakai ya kalau malam.”
Keputusan
ini memang keputusan terberat yang diambil oleh Avila. Selain dia harus
meninggalkan ibunya sendirian, Avila juga harus mengurangi komunikasi dengan
seseorang yang memotivasi hidup Avila. Padahal baru beberapa bulan mereka
berdua dekat. Dan mereka berdua masih tahap ta’arufan untuk melangkah ke jenjang
masa depan.
Sepanjang
perjalanan menuju pondok. Avila hanya melamun. Angin yang menyibak kerudungnya
dan yang mengombang-ambingkan barang bawaannya kewalahan mengusik Avila. Avila
masih dalam hening lamunannya. Dia memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya
nanti dengan seseorang yang selama ini dekat dengannya.. Dalam lamunannya Avila
berkata “Ya Rabb, aku serahkan semua kepadamu. Jika memang nanti dia yang akan
membimbingku dan menemaniku menuju surgamu, aku yakin padaMu, apapun yang
terjadi aku dan dia pasti bersatu. Insya Allah”.
**
Avila
tiba di bagunan yang berwarna orange yang dikelilingi sebuah pagar tembok.
Pagar tersebut berdiri kokoh mengelilingi sebuah bagunan yang terlihat tua dan
persis di gerbang pintu masuk tertulis tulisan Pondok Pesantren Al Hikmah
Melathen, Pondok salafi kuno. Ada tiga pokok bangunan besar di dalam
tembok yang megah tersebut.Yaitu Ndalem (rumah Pak Kyai), pondok
putri dan pondok putra.
“Assalammu’alaikum” ucap Avila sembari membuka gerbang pondok
putri.
“Wa’alaikumasalam”
jawab santri-santri yang mengetahui kedatangan Avila.
“Masuk sini mbak, sini saya bantu bawa
barangya” tawar salah seorang santri.
Avila
hanya tersenyum. Ia hanya diam saja. Dan mengikuti apa yang dikatakan oleh
santri yang barusan di kenalnya tersebut. Dia bernama Hayyin. Ternyata Hayyin
merupakan lurah di pondok tersebut. Tidak heran jika dia yang menyambut
kedatangan Avila. Ia pun juga menawarkan agar Avila sekamar dengan dia saja.
“Mbak
kamarnya nanti sama saya saja ya. Nanti barang-barangnya mbak taruh di kamar 2B
setelah semua administrasinya selesai”
“Iya
mbak, makasih banyak ya Mbak” jawab Avila dengan senyum. Avila sangat senang
sekali karena baru hari pertama, dia sudah disambut dengan sambutan hangat dari
para santriwati lainnya. Pikirnya hal baik akan terjadi padanya.
Kegiatan
pondok dimulai besuk lusa. Beberapa peraturan dibacakan oleh para musrifah
pondok. semua yang dibacakan dirasa tidak begitu memberatkan bagi Avila.
“Bagaimana
teman-teman setuju dengan aturan ini? Apa ada yang menolak?” tanya Ovi, salah
satu musrifah pondok.
“Setuju!!!!!”
jawab santri-santri kompak
“Okay,
kalau begitu nikmatilah kebebasan kalian untuk hari ini dan besuk. Setelah itu
ayo kita mulai rutinitas biasa dengan aturan-aturan ini. Bagi yang melanggar takziran
menanti”
**
Hari
yang telah ditunggu tiba. Kegiatan pondok dimulai seperti biasa. Kegiatan
dimulai sejak waktu sepertiga malam. Saat itu santri melakukan sholat tahujud,
setelah itu sembari menanti waktu subuh, para santri mengulangi kembali hafalan
Qur’annya. Pondok ini memang tidak hanya pondok salaf, tapi pondok tahfidz
juga. Setelah itu para santri sholah jamaah subuh dan usai tersebut para santri
dibagi menjadi dua. Ada yang setoran bin nadzor dan setoran bil
ghoib. Seteron bin nadzor diperuntukkan bagi mereka yang baru masuk
pondok pesantren. Mereka hanya membaca Al Qur’an seperti biasa dan membenarkan
bacaan-bacaanya. Sedangkan bil ghoib diperuntukkan bagi mereka yang
sudah lama di pondok pesantren dan bagi mereka yang menghafal Al Qur’an. Kali
ini, karena Avila masih baru, dia mendapat bagian setoran bin nadzor.
Sebelum
kegiatan setoran dimulai, Hayyin duduk mendekati Avila dan memberikan Avila
sebuah Al Qur’an. Padahal saat itu Avila juga sedang membawa Al Qur’an.
“Untuk
apa ini Mbak?” tanya Avila kebingungan.
Hayyin
hanya tersenyum. Dia membenarkan mukenanya dan melipat bagian bawah mukenanya.
“Bedakan
antara mushaf yang kamu bawa dan yang aku berikan. Amatilah. Menurutmu ada
perbedaannya atau tidak antara mushaf yang aku berikan dan antara mushaf kamu
sendiri”
Avila
membuka-buka mushaf miliknya dan membandingakan dengan mushaf yang diberikan
oleh Hayyin. Lama. Suasana hening tanpa pembicaraan. Beberapa menit kemudian
Avila mengelurkan suara juga.
“Kalau
mushafku tidak ada terjemahannya kalau mushafnya Mbak ada terjemahannya”
Mendengar
jawaban Avila, Hayyin hanya tersenyum kemudian berkata “ Ya Sudah, kamu coba
baca-baca mushaf yang aku berikan itu. Aku tahu kalau kamu disini ingin
menghafal sama seperti yang lainnya, tapi karena aturan pondok, kamu harus
setoran bin nadzor dulu. Sejak kemarin aku sering melihatmu di dekat
mushola menghafal beberapa surat Al Qur’an”
“Loh
kok mbak Hayyin tahu. Jangan kasihtau siapa-siapa ya Mbak. Aku malu dengan
santri yang lainnya kalau sampai ketahuan. Aku merasa masih belum pantas untuk
menjadi pembawa bendera Allah”
“Iya,
hal seperti itu memang tak usah diberitahukan siapa-siapa. Tanpa diberitahu,
mereka juga pasti akan tahu sendiri. Dan ingat juga mbak, kita disini semuanya
masih sama-sama belajar. Jadi tidak ada yang lebih satu sama lain” kata Hayyin
sambil menepuk-nepuk pundak Avila. Avila terlihat kaget karena Hayyin bisa tahu
hal itu.
“Avila,
kamu coba gunakan Al Qur’an yang aku berikan untuk hafalan. Insya Allah akan
lebih mudah”
“Terima
kasih banyak Mbak Hayyin” jawab Avila dengan senyuman. Avila semakin
bersemangat.
Perbincangan
yang mereka lakukan terputus karena waktu setoran sudah tiba. Hayyin bergabung
dengan grub setorannya dan Avila bergabung dengan grub setorannya. Setoran
berlangsung sampai waktu dhuha. Setelah itu santriwati dhuha’an dan waqi’ahan.
Baru ada jeda antara tiga puluh menit, ngaji kitab sudah di mulai. Ngaji kitab
pagi berakhir sampai dhuhur. Kemudian jama’ah dhuhur. Usai jama’ah dhuhur ngaji
kitab siang. Lalu ada jeda sampai waktu ashar. Usai ashar ada ngaji kitab,
jama’ah magrib lalu dilanjutkan diniyahan di malam hari. Usai tersebut ada
muroja’ahan dan setalah itu ada ngaji kitab yang terakhir. Kegiatan berakhir
setiap hari sampai jam sebelas bahkan bisa lebih. Semua kegiatan tersebut
berlangsung setiap hari dan terus berulang. Santri putri bisa sedikit longgar
saat mengalami udzur syar’i.
Baru
seminggu di pondok, Avila terpakasa harus libur dari aktifitas pondok tersebut.
Dia hanya mengikuti ngaji kitab saja. Saat semua sedang melakukan kegiatan yang
Avila tidak kerjakan, Avila hanya tidur. Dia merasa bosan. Dia mengeluh pada
Hayyin
“Mbak,
kenapa ya saat semangat ibadah pasang, harus terhenti seperti ini”
“Keadaan
seperti ini jangan disalahkan loh. Ini adalah hal yang wajar. Gunakan untuk
membaca sholawat yaa”
Avila
mengangguk.
“Ohya,
mbak Hayyin aku boleh pinjam handphonenya Mbak Hayyin untuk menghubungi
seseorang?”
“Boleh,
berapa nomernya, biar saya masukin?”
“Masya
Allah aku lupa mbak nomernya, ya sudah kalau begitu biar aku menghubunginya
lewat facebooknya saja. Insya Allah aku ingat kalau facebooknya”
Hayyin
pun meminjamkan handphonenya kepada Avila. Handphone Hayyin dibawa Avila.
Sesekali kadang Avila menelpon ibunya menggunakan handhone Hayyin sekedar untuk
memberi kabar. Tapi semenjak Avila memegang handphone Hayyin, Avila sering
terlihat murung. Kadang saat melihat handphone tiba-tiba terlihat sedih. Hayyin
mengamati hal tersebut. Tapi dia masih diam saja dan belum menanyakan apa yang
terjadi pada Avila.
Saat
Avila sudah tidak udzur lagi, dia mengembalikan handphone pada Hayyin.
Walaupun handphone sudah tidak dipegang Avila, Avila tetap sedih. Dia murung
terus. Sesekali usai ngaji kitab yang terakhir, Hayyin mencarinya, berniat
ingin menanyakan bagaimana kabar hafalannya dengan mushaf yang diberikan oleh
Hayyin. Hayyin mencari di seluruh pondok tetap saja tidak menemukan Avila. Lalu
saat Hayyin naik di lantai dua, di ruangan pondok paling pojok yang jarang di
datangi santri, dia melihat Avila menghadap barat. Hayyin memanggil-manggil
nama Avila, tapi tetap saja Avila tidak menoleh. Mungkin karena malam itu
bersamaan dengan hujan deras, jadi suara Hayyin tak begitu terdengar.
“Avil....
avillll....Avillll”
Tetap
diam tak ada jawaban. Hayyin mendekat. Hayyin tak bersuara dan menguping apa
yang dikatakan Avila. Avila seperti sedang mengucapkan suatu kata-kata. Hayyin
bingung.
“Muroja’ahan
apa yang dibacanya sampai menyebabkan dia berbalik dan mojok seperti ini” desah
Hayyin
Hayyin
memberanikan diri. Dia memegang pundak Avila dari belakang. Seketika Avila
terdiam. Tapi dia tidak segera menoleh.
“Vill...avilla
apa yang kamu lakukan disini? Kenapa tidak di bawah saja kalau muraja’ahannya??”
Avila
diam. Seketika dia langsung berbalik badan dan memeluk Hayyin dengan erat.
“Vil,
kamu kenapa?? Kamu tadi nangis ya Vil?”
“Mbak,,
aku sakit mbak. Hiks..hiks..hikss...Sakit sekali Mbak. Aku tidak bisa
mengendalikan diriku” jawab Avila dengan terisak-isak.
Avila
tetap tidak mau melepaskan pelukannya dari Hayyin. Hayyin membiarkan Avila seperti
itu. Kerudung Hayyin sampai basah kena air mata Avila. Tapi Hayyin hanya diam
saja. Hayyin mengelus-elus kepala Avila dan berkata “Tenangkanlah dirimu dulu,
Vil. Nanti kamu cerita apa yang telah terjadi padamu”
“Aaa...kuuuu...sakiiit
mbak”
“Aaa..kuuu...melihat
dia mengucapkan hal yang seharusnya tidak diucapkan pada wanita lain. Kenapa
sampai dia bisa seperti itu...hiks...hiksss..hiksss”
**
Saat
Avila sudah mulai tenang, hujan pun juga sudah mulai reda. Perlahan lahan-lahan
Avila menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya.
“Mbak,
saat aku membuka facebook dan berniat ingin menghubungi seseorang yang lama aku
pikirkan, aku malah menemukan dia sedang mendekati wanita lain Mbak. Aku merasa
sangat sakit mbak, hati ini terluka. Seperti ada sayatan-sayatan pisau yang tak
bisa aku jelaskan lagi. Aku percaya kepadanya, tapi kenapa dia tidak menjaga
kepercayaanku mbak? Aku harus gimana
Mbak. Rasanya sakit mbak, hiks...hiks...hiks...” jelas Avila sambil terisak.
“Mbak,
sekarang aku tanya bagaimana pengaruh hafalanmu dengan kamu merasa sakit hati
seperti itu” tanya Hayyin
“A...aaa..ku
tidak bisa mencapai target yang telah kutentukan dalam sehari Mbak. Bahkan dalam
sehari itu aku pernah sampai tak menambah seayat pun. Fikiranku tak fokus mbak”
Hayyin
terdiam. Sesekali dia membenarkan kerudungnya. Dia menunduk dan mendongak lalu
berkata kepada Avila “Masak kamu menangisi hal itu mbak?”
Saat
Hayyin bilang seperti itu, Avila tambah terisak-isak. Dan saat itu juga hujan
malah turun dengan derasnya. Semburat putih disertai suara gelegar yang memecah
telinga menghiasi langit malam temaram. Yang merdu saat itu hanya suara hujan.
Suara hujan yang beriringan dengan suara tangisan Avila yang kian lama kian
menjadi-manjadi. Kali ini Hayyin tak berhasil menenangkan tangisan Avila. Malam
itu, malam dimana Hayyin dan Avila tidur di lantai dua, berteman dengan
dinginnya malam berselimut hujan.
Keesokan
harinya baru Avila mau bercerita kepada Hayyin
“Tak semuanya terjadi karena dia telah
menyakiti hatiku, ada hal lain yang membuatku semakin sedih”
“Apa
itu vil”
“Aku
kepikiran dengan Ibuku. Dan kemarin aku juga mendapat kabar kalau bibiku sakit.
Aku pengen pulang Mbak. Aku kawatir dengan mereka. Dan di saat kekawatiranku
itu memuncak, tiba-tiba di hati terbesit rasa rindu dengan dia yang telah
menyakiti hatiku. Aku benci dengan sikapnya yang seperti itu padaku, tapi tak
bisa kupungkiri bahwa hatiku masih condong kepadanya Mbak. Aku memaknai cinta
dengan menjaga kepercayaan tanpa harus mengatakan” jelas Avila dengan menunduk.
“Insya Allah selama kita di pondok banyak
berhusnudzon terhadap apapun, Insya Allah hal buruk tidak akan terjadi. Dan
ingat juga ridho Allah tergantung pada ridho orang tua”
Avil
langsung diam. Dia ingat bagaimana kemarin dia bisa sampai ke pondok. Avila
merasa apa yang dialaminya ada hubungannya dengan bagaimana dia berangkat ke
pondok dulu. Dia memaksa untuk berangkat ke pondok walaupun ibunya melarangnya,
dan di awal permulaan mondok dia mendapatkan banyak masalah tentang fikiran dan
hatinya menjadi kacau sehingga menyebabkan terbengkalai hafalannya. Saat itu
juga dia meminjam handphone Hayyin dan menelpon ibunya. Avila meminta doa pada
ibunya agar semuanya lancar dan apa yang diharapkannya dapat terwujud dan
meminta maaf pada ibunya.
Usai
telfon ibunya, Avila tersenyum. Mentari mulai menghiasi wajahnya dan
perlahan-lahan sisa-sisa kesedihan malam temaram hujan mulai sirna.
“Alhamdulillah
lega setelah telfon ibu”
“Alhamdulillah,
semoga kamu segera kembali pada misi-misimu dulu. Pegang lagi bendera Allah.
Ingat selalu berhusnudzonlah pada siapapun termasuk pada orang yang kamu suka.
Percayalah pada hatimu dan jangan percaya pada apa yang kamu lihat”
“Insya
Allah, terima kasih banyak telah mengingatkanku. Kamu memang sahabat terbaikku
di pondok ini, bersama dengan hujan yang selalu menemani kita”
Sejak
saat itu, Hayyin dan Avila menjadi sahabat baik. Setiap hujan tiba mereka
selalu naik ke lantai dua, entah hanya sekedar bercerita atau cuma mengamati
hujan saja. Kadang nyanyian tik...tik..tik..bunyi hujan kerap mereka
lantunkan bersama dengan muroja’ahan mereka.
**
Dalam
hati sembari mengamati hujan yang turun di pondoknya, Avila berkata “Saat air
hujan turun, air tersebut mengalir dan dialirkan ke setiap tempat yang dapat
dilaluinya. Hujan datang sesukanya. Datang tiba-tiba dan hilang dengan
tiba-tiba. Begitu pula dengan setiap masalah yang datang, perlakukanlah seperti
hujan, dimana setelah dia datang, kemudian dia pasti akan pergi dan setiap
kepergiannya membawa dua dampak positif dan negatif. Ambillah dampak postif
dari hujan yang menyegarkan atmosfer dan mempercantik bumi sekitar. Sama dengan
masalah yang dihadapi, masalah tersebut akan mendewasakan diri kita dan
menyegarkan hati kita. Hujan di pondok, ya itulah hujan di pondok yang
menjadikanku bersabat dengannya dan tak pernah membencinya walau dia datang
dalam rupa apapun. Hati kian menari mengikuti alunan buliran air yang
bersenandung menetes mengenai peratapan tempatku menuntut ilmu dan memperbaiki
tingkah laku.”
~KHOLAS~