Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

10/30/2016

Tagged Under:

MY CERPEN

By: Catatan Tania P On: 19.33
  • Share The Gag


  • MUSIK-MUSIK HUJAN
    Oleh Tania Pramayuani

    Burung tetap berkicau, dan semburat hamparan biru masih membentang saat mentari menemani cakrawala. Dan saat mentari kembali pada tidurnya, seperti malam-malam di pondok di hari-hari yang lalu, hujan menyapa malam dan menyelimuti keheningannya dengan lantunan musik-musik dari percikan bulir airnya. Sampai seolah tangisan seorang gadis nyaris tak terdengar, disembunyikan oleh musik-musik hujan yang dengan merdunya memotivasi si gadis untuk terus menangis. Hanya seorang saja yang mengetahui apa yang telah di alami si gadis di pondok tersebut. Hayyin, ya Hayyinlah yang selalu mendengarkan musik-musik tangisan gadis itu.
    “Vill, jangan terlalu dipikirkan. Fokuskanlah saja pada hafalanmu. Aku tak percaya seorang Avila bisa seperti ini?” Ucap Hayyin
    Avila menyeka air matanya. Dia menatap Hayyin. Dia menunduk lalu air matanya menetes lagi. Hayyin bingung. Sudah hampir sebulan Avila seperti ini. Dan hampir sebulan itulah mereka menghabiskan malam bersama iringin musik hujan.
     “Vil, setiap tangisanmu di keheningan malam, setiap rasa sakit yang kamu rasakan saat alunan musik hujan bernyayi, ketika itulah kamu akan mendapatkan jawaban dari apa yang kamu minta. Kamu menangis, menagislah, mau berteriak silahkan, asalkkan tidak mengganggu santri lainnya. Luapkanlah emosimu saat hujan itu turun Vil”
    Avila termenung. Dia mendengarkan dan memperhatikan apa yang dikatakan oleh Hayyin.Sejadi-jadinya dia menangis sampai Hayyin benar-benar tak mampu menenangkannya. Avila hanya membisu dengan isakan tangisnya yang disamarkan oleh hujan. Sesekali dia melirik ke langit. Mungkin mencari bintang, berharap dikeheningan malam tangis hujan, dia menemukan cahaya yang mampu menerangkan hatinya dan tidak suntuk lagi.
    **
    “Aku mau mondok, Bu”
    “Jangan tahun ini, mondoklah tahun depan”
    “Tapi aku maunya sekarang, Bu”
    Perdebatan terus berlangsung antara Avila dan ibunya. Avila bersikeras untuk mondok usai kepulangannya dari asrama kampus. Sementara ibunya berkeinginan agar Avila mondok tahun depan saja hal ini dikarenakan Avila belum lama berada di rumah. Baru dua hari Avila pulang ke rumah dan setelah itu Avila memutuskan untuk mondok lagi.
    Avila akhirnya berangkat ke pondok dan ibunya pun juga memberikan izin kepadanya walaupun hal itu dengan terpaksa.
    “Ibu, Avila berangkat ya. Doakan Avila, Bu. Insya Allah Avila akan sungguh-sungguh dan tidak akan main-main disana”
    “Iya, Nak. Doa ibu menyertaimu. Jangan lupa selimutnya dipakai ya kalau malam.”
    Keputusan ini memang keputusan terberat yang diambil oleh Avila. Selain dia harus meninggalkan ibunya sendirian, Avila juga harus mengurangi komunikasi dengan seseorang yang memotivasi hidup Avila. Padahal baru beberapa bulan mereka berdua dekat. Dan mereka berdua masih tahap ta’arufan untuk melangkah ke jenjang masa depan.
    Sepanjang perjalanan menuju pondok. Avila hanya melamun. Angin yang menyibak kerudungnya dan yang mengombang-ambingkan barang bawaannya kewalahan mengusik Avila. Avila masih dalam hening lamunannya. Dia memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya nanti dengan seseorang yang selama ini dekat dengannya.. Dalam lamunannya Avila berkata “Ya Rabb, aku serahkan semua kepadamu. Jika memang nanti dia yang akan membimbingku dan menemaniku menuju surgamu, aku yakin padaMu, apapun yang terjadi aku dan dia pasti bersatu. Insya Allah”.
    **
    Avila tiba di bagunan yang berwarna orange yang dikelilingi sebuah pagar tembok. Pagar tersebut berdiri kokoh mengelilingi sebuah bagunan yang terlihat tua dan persis di gerbang pintu masuk tertulis tulisan Pondok Pesantren Al Hikmah Melathen, Pondok salafi kuno. Ada tiga pokok bangunan besar di dalam tembok yang megah tersebut.Yaitu Ndalem (rumah Pak Kyai), pondok putri dan pondok putra.
    “Assalammu’alaikum” ucap Avila sembari membuka gerbang pondok putri.
    “Wa’alaikumasalam” jawab santri-santri yang mengetahui kedatangan Avila.
     “Masuk sini mbak, sini saya bantu bawa barangya” tawar salah seorang santri.
    Avila hanya tersenyum. Ia hanya diam saja. Dan mengikuti apa yang dikatakan oleh santri yang barusan di kenalnya tersebut. Dia bernama Hayyin. Ternyata Hayyin merupakan lurah di pondok tersebut. Tidak heran jika dia yang menyambut kedatangan Avila. Ia pun juga menawarkan agar Avila sekamar dengan dia saja.
    “Mbak kamarnya nanti sama saya saja ya. Nanti barang-barangnya mbak taruh di kamar 2B setelah semua administrasinya selesai”
    “Iya mbak, makasih banyak ya Mbak” jawab Avila dengan senyum. Avila sangat senang sekali karena baru hari pertama, dia sudah disambut dengan sambutan hangat dari para santriwati lainnya. Pikirnya hal baik akan terjadi padanya.
    Kegiatan pondok dimulai besuk lusa. Beberapa peraturan dibacakan oleh para musrifah pondok. semua yang dibacakan dirasa tidak begitu memberatkan bagi Avila.
    “Bagaimana teman-teman setuju dengan aturan ini? Apa ada yang menolak?” tanya Ovi, salah satu musrifah pondok.
    “Setuju!!!!!” jawab santri-santri kompak
    “Okay, kalau begitu nikmatilah kebebasan kalian untuk hari ini dan besuk. Setelah itu ayo kita mulai rutinitas biasa dengan aturan-aturan ini. Bagi yang melanggar takziran menanti”
    **
    Hari yang telah ditunggu tiba. Kegiatan pondok dimulai seperti biasa. Kegiatan dimulai sejak waktu sepertiga malam. Saat itu santri melakukan sholat tahujud, setelah itu sembari menanti waktu subuh, para santri mengulangi kembali hafalan Qur’annya. Pondok ini memang tidak hanya pondok salaf, tapi pondok tahfidz juga. Setelah itu para santri sholah jamaah subuh dan usai tersebut para santri dibagi menjadi dua. Ada yang setoran bin nadzor dan setoran bil ghoib. Seteron bin nadzor diperuntukkan bagi mereka yang baru masuk pondok pesantren. Mereka hanya membaca Al Qur’an seperti biasa dan membenarkan bacaan-bacaanya. Sedangkan bil ghoib diperuntukkan bagi mereka yang sudah lama di pondok pesantren dan bagi mereka yang menghafal Al Qur’an. Kali ini, karena Avila masih baru, dia mendapat bagian setoran bin nadzor.
    Sebelum kegiatan setoran dimulai, Hayyin duduk mendekati Avila dan memberikan Avila sebuah Al Qur’an. Padahal saat itu Avila juga sedang membawa Al Qur’an.
    “Untuk apa ini Mbak?” tanya Avila kebingungan.
    Hayyin hanya tersenyum. Dia membenarkan mukenanya dan melipat bagian bawah mukenanya.
    “Bedakan antara mushaf yang kamu bawa dan yang aku berikan. Amatilah. Menurutmu ada perbedaannya atau tidak antara mushaf yang aku berikan dan antara mushaf kamu sendiri”
    Avila membuka-buka mushaf miliknya dan membandingakan dengan mushaf yang diberikan oleh Hayyin. Lama. Suasana hening tanpa pembicaraan. Beberapa menit kemudian Avila mengelurkan suara juga.
    “Kalau mushafku tidak ada terjemahannya kalau mushafnya Mbak ada terjemahannya”
    Mendengar jawaban Avila, Hayyin hanya tersenyum kemudian berkata “ Ya Sudah, kamu coba baca-baca mushaf yang aku berikan itu. Aku tahu kalau kamu disini ingin menghafal sama seperti yang lainnya, tapi karena aturan pondok, kamu harus setoran bin nadzor dulu. Sejak kemarin aku sering melihatmu di dekat mushola menghafal beberapa surat Al Qur’an”
    “Loh kok mbak Hayyin tahu. Jangan kasihtau siapa-siapa ya Mbak. Aku malu dengan santri yang lainnya kalau sampai ketahuan. Aku merasa masih belum pantas untuk menjadi pembawa bendera Allah”
    “Iya, hal seperti itu memang tak usah diberitahukan siapa-siapa. Tanpa diberitahu, mereka juga pasti akan tahu sendiri. Dan ingat juga mbak, kita disini semuanya masih sama-sama belajar. Jadi tidak ada yang lebih satu sama lain” kata Hayyin sambil menepuk-nepuk pundak Avila. Avila terlihat kaget karena Hayyin bisa tahu hal itu.
    “Avila, kamu coba gunakan Al Qur’an yang aku berikan untuk hafalan. Insya Allah akan lebih mudah”
    “Terima kasih banyak Mbak Hayyin” jawab Avila dengan senyuman. Avila semakin bersemangat.
    Perbincangan yang mereka lakukan terputus karena waktu setoran sudah tiba. Hayyin bergabung dengan grub setorannya dan Avila bergabung dengan grub setorannya. Setoran berlangsung sampai waktu dhuha. Setelah itu santriwati dhuha’an dan waqi’ahan. Baru ada jeda antara tiga puluh menit, ngaji kitab sudah di mulai. Ngaji kitab pagi berakhir sampai dhuhur. Kemudian jama’ah dhuhur. Usai jama’ah dhuhur ngaji kitab siang. Lalu ada jeda sampai waktu ashar. Usai ashar ada ngaji kitab, jama’ah magrib lalu dilanjutkan diniyahan di malam hari. Usai tersebut ada muroja’ahan dan setalah itu ada ngaji kitab yang terakhir. Kegiatan berakhir setiap hari sampai jam sebelas bahkan bisa lebih. Semua kegiatan tersebut berlangsung setiap hari dan terus berulang. Santri putri bisa sedikit longgar saat mengalami udzur syar’i.
    Baru seminggu di pondok, Avila terpakasa harus libur dari aktifitas pondok tersebut. Dia hanya mengikuti ngaji kitab saja. Saat semua sedang melakukan kegiatan yang Avila tidak kerjakan, Avila hanya tidur. Dia merasa bosan. Dia mengeluh pada Hayyin
    “Mbak, kenapa ya saat semangat ibadah pasang, harus terhenti seperti ini”
    “Keadaan seperti ini jangan disalahkan loh. Ini adalah hal yang wajar. Gunakan untuk membaca sholawat yaa”
    Avila mengangguk.
    “Ohya, mbak Hayyin aku boleh pinjam handphonenya Mbak Hayyin untuk menghubungi seseorang?”
    “Boleh, berapa nomernya, biar saya masukin?”
    “Masya Allah aku lupa mbak nomernya, ya sudah kalau begitu biar aku menghubunginya lewat facebooknya saja. Insya Allah aku ingat kalau facebooknya”
    Hayyin pun meminjamkan handphonenya kepada Avila. Handphone Hayyin dibawa Avila. Sesekali kadang Avila menelpon ibunya menggunakan handhone Hayyin sekedar untuk memberi kabar. Tapi semenjak Avila memegang handphone Hayyin, Avila sering terlihat murung. Kadang saat melihat handphone tiba-tiba terlihat sedih. Hayyin mengamati hal tersebut. Tapi dia masih diam saja dan belum menanyakan apa yang terjadi pada Avila.
    Saat Avila sudah tidak udzur lagi, dia mengembalikan handphone pada Hayyin. Walaupun handphone sudah tidak dipegang Avila, Avila tetap sedih. Dia murung terus. Sesekali usai ngaji kitab yang terakhir, Hayyin mencarinya, berniat ingin menanyakan bagaimana kabar hafalannya dengan mushaf yang diberikan oleh Hayyin. Hayyin mencari di seluruh pondok tetap saja tidak menemukan Avila. Lalu saat Hayyin naik di lantai dua, di ruangan pondok paling pojok yang jarang di datangi santri, dia melihat Avila menghadap barat. Hayyin memanggil-manggil nama Avila, tapi tetap saja Avila tidak menoleh. Mungkin karena malam itu bersamaan dengan hujan deras, jadi suara Hayyin tak begitu terdengar.
    “Avil.... avillll....Avillll”
    Tetap diam tak ada jawaban. Hayyin mendekat. Hayyin tak bersuara dan menguping apa yang dikatakan Avila. Avila seperti sedang mengucapkan suatu kata-kata. Hayyin bingung.
    “Muroja’ahan apa yang dibacanya sampai menyebabkan dia berbalik dan mojok seperti ini” desah Hayyin
    Hayyin memberanikan diri. Dia memegang pundak Avila dari belakang. Seketika Avila terdiam. Tapi dia tidak segera menoleh.
    “Vill...avilla apa yang kamu lakukan disini? Kenapa tidak di bawah saja kalau muraja’ahannya??”
    Avila diam. Seketika dia langsung berbalik badan dan memeluk Hayyin dengan erat.
    “Vil, kamu kenapa?? Kamu tadi nangis ya Vil?”
    “Mbak,, aku sakit mbak. Hiks..hiks..hikss...Sakit sekali Mbak. Aku tidak bisa mengendalikan diriku” jawab Avila dengan terisak-isak.
    Avila tetap tidak mau melepaskan pelukannya dari Hayyin. Hayyin membiarkan Avila seperti itu. Kerudung Hayyin sampai basah kena air mata Avila. Tapi Hayyin hanya diam saja. Hayyin mengelus-elus kepala Avila dan berkata “Tenangkanlah dirimu dulu, Vil. Nanti kamu cerita apa yang telah terjadi padamu”
    “Aaa...kuuuu...sakiiit mbak”
    “Aaa..kuuu...melihat dia mengucapkan hal yang seharusnya tidak diucapkan pada wanita lain. Kenapa sampai dia bisa seperti itu...hiks...hiksss..hiksss”
    **
    Saat Avila sudah mulai tenang, hujan pun juga sudah mulai reda. Perlahan lahan-lahan Avila menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya.
    “Mbak, saat aku membuka facebook dan berniat ingin menghubungi seseorang yang lama aku pikirkan, aku malah menemukan dia sedang mendekati wanita lain Mbak. Aku merasa sangat sakit mbak, hati ini terluka. Seperti ada sayatan-sayatan pisau yang tak bisa aku jelaskan lagi. Aku percaya kepadanya, tapi kenapa dia tidak menjaga kepercayaanku mbak?  Aku harus gimana Mbak. Rasanya sakit mbak, hiks...hiks...hiks...” jelas Avila sambil terisak.
    “Mbak, sekarang aku tanya bagaimana pengaruh hafalanmu dengan kamu merasa sakit hati seperti itu” tanya Hayyin
    “A...aaa..ku tidak bisa mencapai target yang telah kutentukan dalam sehari Mbak. Bahkan dalam sehari itu aku pernah sampai tak menambah seayat pun. Fikiranku tak fokus mbak”
    Hayyin terdiam. Sesekali dia membenarkan kerudungnya. Dia menunduk dan mendongak lalu berkata kepada Avila “Masak kamu menangisi hal itu mbak?”
    Saat Hayyin bilang seperti itu, Avila tambah terisak-isak. Dan saat itu juga hujan malah turun dengan derasnya. Semburat putih disertai suara gelegar yang memecah telinga menghiasi langit malam temaram. Yang merdu saat itu hanya suara hujan. Suara hujan yang beriringan dengan suara tangisan Avila yang kian lama kian menjadi-manjadi. Kali ini Hayyin tak berhasil menenangkan tangisan Avila. Malam itu, malam dimana Hayyin dan Avila tidur di lantai dua, berteman dengan dinginnya malam berselimut hujan.
    Keesokan harinya baru Avila mau bercerita kepada Hayyin
     “Tak semuanya terjadi karena dia telah menyakiti hatiku, ada hal lain yang membuatku semakin sedih”
    “Apa itu vil”
    “Aku kepikiran dengan Ibuku. Dan kemarin aku juga mendapat kabar kalau bibiku sakit. Aku pengen pulang Mbak. Aku kawatir dengan mereka. Dan di saat kekawatiranku itu memuncak, tiba-tiba di hati terbesit rasa rindu dengan dia yang telah menyakiti hatiku. Aku benci dengan sikapnya yang seperti itu padaku, tapi tak bisa kupungkiri bahwa hatiku masih condong kepadanya Mbak. Aku memaknai cinta dengan menjaga kepercayaan tanpa harus mengatakan” jelas Avila dengan menunduk.
     “Insya Allah selama kita di pondok banyak berhusnudzon terhadap apapun, Insya Allah hal buruk tidak akan terjadi. Dan ingat juga ridho Allah tergantung pada ridho orang tua”
    Avil langsung diam. Dia ingat bagaimana kemarin dia bisa sampai ke pondok. Avila merasa apa yang dialaminya ada hubungannya dengan bagaimana dia berangkat ke pondok dulu. Dia memaksa untuk berangkat ke pondok walaupun ibunya melarangnya, dan di awal permulaan mondok dia mendapatkan banyak masalah tentang fikiran dan hatinya menjadi kacau sehingga menyebabkan terbengkalai hafalannya. Saat itu juga dia meminjam handphone Hayyin dan menelpon ibunya. Avila meminta doa pada ibunya agar semuanya lancar dan apa yang diharapkannya dapat terwujud dan meminta maaf pada ibunya.
    Usai telfon ibunya, Avila tersenyum. Mentari mulai menghiasi wajahnya dan perlahan-lahan sisa-sisa kesedihan malam temaram hujan mulai sirna.
    “Alhamdulillah lega setelah telfon ibu”
    “Alhamdulillah, semoga kamu segera kembali pada misi-misimu dulu. Pegang lagi bendera Allah. Ingat selalu berhusnudzonlah pada siapapun termasuk pada orang yang kamu suka. Percayalah pada hatimu dan jangan percaya pada apa yang kamu lihat”
    “Insya Allah, terima kasih banyak telah mengingatkanku. Kamu memang sahabat terbaikku di pondok ini, bersama dengan hujan yang selalu menemani kita”
    Sejak saat itu, Hayyin dan Avila menjadi sahabat baik. Setiap hujan tiba mereka selalu naik ke lantai dua, entah hanya sekedar bercerita atau cuma mengamati hujan saja. Kadang nyanyian tik...tik..tik..bunyi hujan kerap mereka lantunkan bersama dengan muroja’ahan mereka.
    **
    Dalam hati sembari mengamati hujan yang turun di pondoknya, Avila berkata “Saat air hujan turun, air tersebut mengalir dan dialirkan ke setiap tempat yang dapat dilaluinya. Hujan datang sesukanya. Datang tiba-tiba dan hilang dengan tiba-tiba. Begitu pula dengan setiap masalah yang datang, perlakukanlah seperti hujan, dimana setelah dia datang, kemudian dia pasti akan pergi dan setiap kepergiannya membawa dua dampak positif dan negatif. Ambillah dampak postif dari hujan yang menyegarkan atmosfer dan mempercantik bumi sekitar. Sama dengan masalah yang dihadapi, masalah tersebut akan mendewasakan diri kita dan menyegarkan hati kita. Hujan di pondok, ya itulah hujan di pondok yang menjadikanku bersabat dengannya dan tak pernah membencinya walau dia datang dalam rupa apapun. Hati kian menari mengikuti alunan buliran air yang bersenandung menetes mengenai peratapan tempatku menuntut ilmu dan memperbaiki tingkah laku.”
    ~KHOLAS~


    0 komentar:

    Posting Komentar