Babad Kota Kecil, Penuh Dengan Sejarah
Pare adalah sebuah kota kecil yang secara administrasif masuk dalam wilayah Kabupaten Kediri. Pare, saat ini sudah terkenal sampai seluruh Indonesia. Dan kota kecil ini, dikenal dengan penyebutannya “Kampung Inggris”. Berbagai kalangan yang ingin mendalami kemampuan bahasa Inggris, mereka akan datang ke Pare. Tidak hanya dari kalangan pelajar atau mahasiswa. Para dosen, karyawan juga banyak yang datang ke Pare untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Dan dari segi biaya pun juga tidak terlalu mahal.
Pare sendiri pada mulanya merupakan kota biasa yang penduduknya tentram, sederhana dan ciri khasnya adalah lingkungan pesantren. Sebelum didiran kursus bahasa Inggris pertama di Pare, yaitu BEC, pare sudah cukup terkenal dengan keislamannya di kalangan para pembesar kerajaan. Pada saat itu, zaman masih dikuasai oleh Belanda. Sebelumnya, kota kecil ini bukan bernama Pare. Pare adalah sebuak akronim dari kata “PANGLERENAN”, dimana dalam bahasa Jawa kata ini bermakna tempat istirahat. Disebut sebagai tempat istirahat, karena pada masa kerajaan, dahulu di daerah ini sering digunakan untuk tempat peristirahatan para demang atau raja yang melakukan perjalan ke mataram atau sebaliknya. Selain itu, pada masa koloni, di kota ini juga digunakan sebagai tempat peristirahatan Belanda. Banyak didirikan sebuah tenda-tenda dan posko pristirahatan di kota ini. Selanjutnya pada masa PKI pun, lagi-lagi tempat ini juga digunakan untuk tempat persinggahan mereka. Penduduk sekitar akirnya menyebut kota kecil ini dengan nama panglerenan. Kerena lidah orang jawa kesulitan mengucapkan kata panglerenan, dan kata tersebut terlalu panjang, akhirnya kata tersebut dari segi pengucapanya berubah menjadi Pare. Ada satu mitos juga di kota ini, yaitu barang siapa ada pejabat negara yang melintasi kota ini atau singgah di kota ini, maka tidak akan lama, pejabat tersebut akan segera lengser. Dan setiap ada kunjungan kenegaraan, Pare selalu tak pernah menjadi lintasan para pejabat negara. Bahkan kota Kediri pun juga. Tentang kebenaran mitos ini, penulis juga belum tahu. Tapi, para pejabat negara benar meyakini mitos ini.
Setelah kita mengetahui tentang asal-usul nama Pare, sekarang kita aka lanjut ke sejarah kota Pare atau lebih pasnya tentang babad Pare. Sebelum kota ini dihuni oleh para penduduk, kota ini adalah sebuah hutan belantara dan jarang dihuni oleh para penduduk dikarenakan daerahnya yang sangat angker. Kemudian, VII abad yang lalu, datanglah seorang ayah dari bayi laki-laki yang berusia delapan bulan dari Mataram ke kota ini. Beliau adalah Raden Ngabei Hadiningrat Pranatagama. Beliau datang ke daerah tersebut tujuannya tak lain adalah ingin mendakwahkan islam. Beliau tidak mendakwah islam di daerahnya, Mataram bukan karena tidak mau, malainkan Beliau di Mataram akan dijadikan raja oleh ayahnya, Raden Anom. Tapi Beliau menolak, sedangkan para keluarganya menginginkan Beliau menggantikan ayahnya, sedangkan diri Raden Ngabei sendiri ingin mendakwahkan ajaran islam. Kemudian dia melarikan diri dari Mataram dan membawa putranya yang masih bayi dan sampailah di tempat yang saat ini disebut Pare.
Langah pertama yang dilakukan Raden Ngabei adalah membangun sebuah tempat pusat dakwah. Saat itu tempat tersebut sangat lebat dangan pepohonan dan mustahil dapat dibangun sebuah rumah. Dan memang benar, Raden Ngabei tidak dapat membangun apapun di tempat itu. Hal ini dikarenakan tempatnya yang angker. Akhirnya Raden Ngabei bertapa di kawah gunung Kelud. Beliau masuk ke dalam kawah Gunung Kelud dan para penghuni kawah tersebut (bangsa jin) merasa terganggu dengan pertapaanya.akhirnya mereka melaporkan kepada ratu mereka, ratu pantai selatan tentang hal ini. Dan ratu pantai selatan akhirnya mendatangai Raden Ngabei dan menyuruhnya untuk pergi dari Gunung Kelud. Tapi Beliau tidak mau, akhirnya Beliau memutuskan mau pergi dari Gunung Kelud dengan sebuah sarat yaitu, ratu pantai selatan harus menyuruh semua pengikutnya yang ada di tempat yang akan dibangun rumah Raden Ngabei untuk pergi. Akhirnya ratu pantai selatan mau, dan sejak saat itulah, daerah yang lebat dan angker bisa dibangun sebuah rumah dan digunakan sebagai pusat dakwah Raden Ngabei.
Kemana bayi raden Ngabei saat Raden Ngabei berdakwah di Pare?
Saat masih dalam asuhan, bayi Raden Ngabei diasuh oleh Raden Patah, yaitu seorang kyai diTulungagung yang kali pertama mendirikan pondok Menara, di Mangunsari. Sejarah pembangunan pondok Menara dan jembatan Mangunsari yang ada di Tulungagung juga tidak lepas dari peran serta Raden Ngabei.
Raden Ngabei mendirikan pondok pesantren di tempat itu dan Beliau jugalah yang telah mengenalkan islam dan mengislamkan raja Jangka Jayabaya dari Kediri. Raden Ngabei mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi kota Kediri, utamanya kota Pare. Menurut kepercayaan penduduk sekitar, kota Pare sampai sekarang masih dilindungi oleh Raden Ngabei. Sehingga sampai sekarang pun, walaupun kota Pare sudah banyak didatangi penduduk se Indonesia, kota ini tetap aman dan tentram dan apapun yang dicari di kota ini ada.
Karena jasa Beliau yang cukup besar, dan berkat Beliau kota Pare yang dulunya suram, kini menjadi kota yang bersinar. Akhirnya penduduk sekitar memberikan nama kepadanya K.H. Nur Wahid. Nur artinya cahaya dan wahid artinya satu. Maksudnya adalah Mbah Nur Wahid adalah cahaya pertama yang menyinari Pare. Sebenarnya masih ada banyak nama untuk Beliau, karena pada zaman koloni, sseorang yang mempunyai cukup kesaktian akan diburu. Akhirnya Mbah Nur Wahid mempunyai banyak nama. Salah satu namanya juga adalah Mas Jolang.
Banyak santri dari Mbah Nur Wahid yang akhirnya mendakwahkan islam, termasuk Mbah Patah dari Tulungaung. Dan selain itu, dari keluarganya Mbah Yazid (penggagas dibentuknya kursus Inggris di Pare) merupakan santri Beliau. Dan tentang Mbah Yazid dan Kampung Inggris Insyaa Alloh akan kita bahas pada posting berikutnya. Sepeninggalan Beliau, dakwahnya diteruskan oleh putranya, yaitu Mbah Magfura yang ketika masih kecil diasuh oleh Mbah Patah. Ketika Mbah Nur Wahid Wafat, makam Beliau akan dibawa ke Mataram oleh para saudara dari Mataram yang telah mengetahu keberadaanya. Tapi, Mbah Magfura melarangnya. Akhirnya Mbah Magfura membuatkan makan untuk ayahnya yang jauh dari sepengetahuan keluarga Mataram. Akhirnya Makan Mbah Nur Wahid berada tidak di dekat Jalan Raya, melainkan ada di belakang dan tidak di area ramai, melainkan di area penduduk. Dan tempat tersebutlah yang dulunya juga merupakan bekas pondok pesantren yang didirikan oleh Mbah Nur Wahid dan sampai sekarang pun sering diziarahi banyak orang.
Nah, begitulah cerita tentang babad kota Pare. Dan satu lagi mengenai karomah Mbah Nur Wahid adalah sholawat. Mbah Nur Wahid juga merupakan orang yang menganjurkan Mbah Patah untuk membuat menara yang besar di Tulungagung. Atau yang saat ini tersohor sebagai Icon pondok Menara. Pada awalnya pembanguna menara ini di tolak oleh demang Tulungagung, tapi atas perintah gurunya, Mbah Patah tetap membangun menara tersebut. Menara tersebut disejajrkan dengan garis Ka’bah oleh Mbah Nur Wahid. Pada saat proses pembangunan menara sudah selasai, Mbah Nur Wahid melihat kalau menara tersebut belum segari dengan Ka’bah, akhirnya Beliau meluruskannya. Sehingga sampai saat ini pun, menara Mangunsari terlihat miring. Ini dikarenakan Menara tersebut dluruskan dengan garis Ka’bah dan dibleskan oleh Mbah Nur Wahid. (tan)
Pare adalah sebuah kota kecil yang secara administrasif masuk dalam wilayah Kabupaten Kediri. Pare, saat ini sudah terkenal sampai seluruh Indonesia. Dan kota kecil ini, dikenal dengan penyebutannya “Kampung Inggris”. Berbagai kalangan yang ingin mendalami kemampuan bahasa Inggris, mereka akan datang ke Pare. Tidak hanya dari kalangan pelajar atau mahasiswa. Para dosen, karyawan juga banyak yang datang ke Pare untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Dan dari segi biaya pun juga tidak terlalu mahal.
Pare sendiri pada mulanya merupakan kota biasa yang penduduknya tentram, sederhana dan ciri khasnya adalah lingkungan pesantren. Sebelum didiran kursus bahasa Inggris pertama di Pare, yaitu BEC, pare sudah cukup terkenal dengan keislamannya di kalangan para pembesar kerajaan. Pada saat itu, zaman masih dikuasai oleh Belanda. Sebelumnya, kota kecil ini bukan bernama Pare. Pare adalah sebuak akronim dari kata “PANGLERENAN”, dimana dalam bahasa Jawa kata ini bermakna tempat istirahat. Disebut sebagai tempat istirahat, karena pada masa kerajaan, dahulu di daerah ini sering digunakan untuk tempat peristirahatan para demang atau raja yang melakukan perjalan ke mataram atau sebaliknya. Selain itu, pada masa koloni, di kota ini juga digunakan sebagai tempat peristirahatan Belanda. Banyak didirikan sebuah tenda-tenda dan posko pristirahatan di kota ini. Selanjutnya pada masa PKI pun, lagi-lagi tempat ini juga digunakan untuk tempat persinggahan mereka. Penduduk sekitar akirnya menyebut kota kecil ini dengan nama panglerenan. Kerena lidah orang jawa kesulitan mengucapkan kata panglerenan, dan kata tersebut terlalu panjang, akhirnya kata tersebut dari segi pengucapanya berubah menjadi Pare. Ada satu mitos juga di kota ini, yaitu barang siapa ada pejabat negara yang melintasi kota ini atau singgah di kota ini, maka tidak akan lama, pejabat tersebut akan segera lengser. Dan setiap ada kunjungan kenegaraan, Pare selalu tak pernah menjadi lintasan para pejabat negara. Bahkan kota Kediri pun juga. Tentang kebenaran mitos ini, penulis juga belum tahu. Tapi, para pejabat negara benar meyakini mitos ini.
Setelah kita mengetahui tentang asal-usul nama Pare, sekarang kita aka lanjut ke sejarah kota Pare atau lebih pasnya tentang babad Pare. Sebelum kota ini dihuni oleh para penduduk, kota ini adalah sebuah hutan belantara dan jarang dihuni oleh para penduduk dikarenakan daerahnya yang sangat angker. Kemudian, VII abad yang lalu, datanglah seorang ayah dari bayi laki-laki yang berusia delapan bulan dari Mataram ke kota ini. Beliau adalah Raden Ngabei Hadiningrat Pranatagama. Beliau datang ke daerah tersebut tujuannya tak lain adalah ingin mendakwahkan islam. Beliau tidak mendakwah islam di daerahnya, Mataram bukan karena tidak mau, malainkan Beliau di Mataram akan dijadikan raja oleh ayahnya, Raden Anom. Tapi Beliau menolak, sedangkan para keluarganya menginginkan Beliau menggantikan ayahnya, sedangkan diri Raden Ngabei sendiri ingin mendakwahkan ajaran islam. Kemudian dia melarikan diri dari Mataram dan membawa putranya yang masih bayi dan sampailah di tempat yang saat ini disebut Pare.
Langah pertama yang dilakukan Raden Ngabei adalah membangun sebuah tempat pusat dakwah. Saat itu tempat tersebut sangat lebat dangan pepohonan dan mustahil dapat dibangun sebuah rumah. Dan memang benar, Raden Ngabei tidak dapat membangun apapun di tempat itu. Hal ini dikarenakan tempatnya yang angker. Akhirnya Raden Ngabei bertapa di kawah gunung Kelud. Beliau masuk ke dalam kawah Gunung Kelud dan para penghuni kawah tersebut (bangsa jin) merasa terganggu dengan pertapaanya.akhirnya mereka melaporkan kepada ratu mereka, ratu pantai selatan tentang hal ini. Dan ratu pantai selatan akhirnya mendatangai Raden Ngabei dan menyuruhnya untuk pergi dari Gunung Kelud. Tapi Beliau tidak mau, akhirnya Beliau memutuskan mau pergi dari Gunung Kelud dengan sebuah sarat yaitu, ratu pantai selatan harus menyuruh semua pengikutnya yang ada di tempat yang akan dibangun rumah Raden Ngabei untuk pergi. Akhirnya ratu pantai selatan mau, dan sejak saat itulah, daerah yang lebat dan angker bisa dibangun sebuah rumah dan digunakan sebagai pusat dakwah Raden Ngabei.
Kemana bayi raden Ngabei saat Raden Ngabei berdakwah di Pare?
Saat masih dalam asuhan, bayi Raden Ngabei diasuh oleh Raden Patah, yaitu seorang kyai diTulungagung yang kali pertama mendirikan pondok Menara, di Mangunsari. Sejarah pembangunan pondok Menara dan jembatan Mangunsari yang ada di Tulungagung juga tidak lepas dari peran serta Raden Ngabei.
Raden Ngabei mendirikan pondok pesantren di tempat itu dan Beliau jugalah yang telah mengenalkan islam dan mengislamkan raja Jangka Jayabaya dari Kediri. Raden Ngabei mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi kota Kediri, utamanya kota Pare. Menurut kepercayaan penduduk sekitar, kota Pare sampai sekarang masih dilindungi oleh Raden Ngabei. Sehingga sampai sekarang pun, walaupun kota Pare sudah banyak didatangi penduduk se Indonesia, kota ini tetap aman dan tentram dan apapun yang dicari di kota ini ada.
Karena jasa Beliau yang cukup besar, dan berkat Beliau kota Pare yang dulunya suram, kini menjadi kota yang bersinar. Akhirnya penduduk sekitar memberikan nama kepadanya K.H. Nur Wahid. Nur artinya cahaya dan wahid artinya satu. Maksudnya adalah Mbah Nur Wahid adalah cahaya pertama yang menyinari Pare. Sebenarnya masih ada banyak nama untuk Beliau, karena pada zaman koloni, sseorang yang mempunyai cukup kesaktian akan diburu. Akhirnya Mbah Nur Wahid mempunyai banyak nama. Salah satu namanya juga adalah Mas Jolang.
Banyak santri dari Mbah Nur Wahid yang akhirnya mendakwahkan islam, termasuk Mbah Patah dari Tulungaung. Dan selain itu, dari keluarganya Mbah Yazid (penggagas dibentuknya kursus Inggris di Pare) merupakan santri Beliau. Dan tentang Mbah Yazid dan Kampung Inggris Insyaa Alloh akan kita bahas pada posting berikutnya. Sepeninggalan Beliau, dakwahnya diteruskan oleh putranya, yaitu Mbah Magfura yang ketika masih kecil diasuh oleh Mbah Patah. Ketika Mbah Nur Wahid Wafat, makam Beliau akan dibawa ke Mataram oleh para saudara dari Mataram yang telah mengetahu keberadaanya. Tapi, Mbah Magfura melarangnya. Akhirnya Mbah Magfura membuatkan makan untuk ayahnya yang jauh dari sepengetahuan keluarga Mataram. Akhirnya Makan Mbah Nur Wahid berada tidak di dekat Jalan Raya, melainkan ada di belakang dan tidak di area ramai, melainkan di area penduduk. Dan tempat tersebutlah yang dulunya juga merupakan bekas pondok pesantren yang didirikan oleh Mbah Nur Wahid dan sampai sekarang pun sering diziarahi banyak orang.
Nah, begitulah cerita tentang babad kota Pare. Dan satu lagi mengenai karomah Mbah Nur Wahid adalah sholawat. Mbah Nur Wahid juga merupakan orang yang menganjurkan Mbah Patah untuk membuat menara yang besar di Tulungagung. Atau yang saat ini tersohor sebagai Icon pondok Menara. Pada awalnya pembanguna menara ini di tolak oleh demang Tulungagung, tapi atas perintah gurunya, Mbah Patah tetap membangun menara tersebut. Menara tersebut disejajrkan dengan garis Ka’bah oleh Mbah Nur Wahid. Pada saat proses pembangunan menara sudah selasai, Mbah Nur Wahid melihat kalau menara tersebut belum segari dengan Ka’bah, akhirnya Beliau meluruskannya. Sehingga sampai saat ini pun, menara Mangunsari terlihat miring. Ini dikarenakan Menara tersebut dluruskan dengan garis Ka’bah dan dibleskan oleh Mbah Nur Wahid. (tan)
