Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

2/27/2017

Babad Kota Kecil, Penuh dengan Sejarah

By: Catatan Tania P On: 10.00
  • Share The Gag
  • Babad Kota Kecil, Penuh Dengan Sejarah


    Pare adalah sebuah kota kecil yang secara administrasif masuk dalam wilayah Kabupaten Kediri. Pare, saat ini sudah terkenal sampai seluruh Indonesia. Dan kota kecil ini, dikenal dengan penyebutannya “Kampung Inggris”. Berbagai kalangan yang ingin mendalami kemampuan bahasa Inggris, mereka akan datang ke Pare. Tidak hanya dari kalangan pelajar atau mahasiswa. Para dosen, karyawan juga banyak yang datang ke Pare untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Dan dari segi biaya pun juga tidak terlalu mahal.
    Pare sendiri pada mulanya merupakan kota biasa yang penduduknya tentram, sederhana dan ciri khasnya adalah lingkungan pesantren. Sebelum didiran kursus bahasa Inggris pertama di Pare, yaitu BEC, pare sudah cukup terkenal dengan keislamannya di kalangan para pembesar kerajaan. Pada saat itu, zaman masih dikuasai oleh Belanda. Sebelumnya, kota kecil ini bukan bernama Pare. Pare adalah sebuak akronim dari kata “PANGLERENAN”, dimana dalam bahasa Jawa kata ini bermakna tempat istirahat. Disebut sebagai tempat istirahat, karena pada masa kerajaan, dahulu di daerah ini sering digunakan untuk tempat peristirahatan para demang atau raja yang melakukan perjalan ke mataram atau sebaliknya. Selain itu, pada masa koloni, di kota ini juga digunakan sebagai tempat peristirahatan Belanda. Banyak didirikan sebuah tenda-tenda dan posko pristirahatan di kota ini. Selanjutnya pada masa PKI pun, lagi-lagi tempat ini juga digunakan untuk tempat persinggahan mereka. Penduduk sekitar akirnya menyebut kota kecil ini dengan nama panglerenan. Kerena lidah orang jawa kesulitan mengucapkan kata panglerenan, dan kata tersebut terlalu panjang, akhirnya kata tersebut dari segi pengucapanya berubah menjadi Pare. Ada satu mitos juga di kota ini, yaitu barang siapa ada pejabat negara yang melintasi kota ini atau singgah di kota ini, maka tidak akan lama, pejabat tersebut akan segera lengser. Dan setiap ada kunjungan kenegaraan, Pare selalu tak pernah menjadi lintasan para pejabat negara. Bahkan kota Kediri pun juga. Tentang kebenaran mitos ini, penulis juga belum tahu. Tapi, para pejabat negara benar meyakini mitos ini.
    Setelah kita mengetahui tentang asal-usul nama Pare, sekarang kita aka lanjut ke sejarah kota Pare atau lebih pasnya tentang babad Pare. Sebelum kota ini dihuni oleh para penduduk, kota ini adalah sebuah hutan belantara dan jarang dihuni oleh para penduduk dikarenakan daerahnya yang sangat angker. Kemudian, VII abad yang lalu, datanglah seorang ayah dari bayi laki-laki yang berusia delapan bulan dari Mataram ke kota ini. Beliau adalah Raden Ngabei Hadiningrat Pranatagama. Beliau datang ke daerah tersebut tujuannya tak lain adalah ingin mendakwahkan islam. Beliau tidak mendakwah islam di daerahnya, Mataram bukan karena tidak mau, malainkan Beliau di Mataram akan dijadikan raja oleh ayahnya, Raden Anom. Tapi Beliau menolak, sedangkan para keluarganya menginginkan Beliau menggantikan ayahnya, sedangkan diri Raden Ngabei sendiri ingin mendakwahkan ajaran islam. Kemudian dia melarikan diri dari Mataram dan membawa putranya yang masih bayi dan sampailah di tempat yang saat ini disebut Pare.
    Langah pertama yang dilakukan Raden Ngabei adalah membangun sebuah tempat pusat dakwah. Saat itu tempat tersebut sangat lebat dangan pepohonan dan mustahil dapat dibangun sebuah rumah. Dan memang benar, Raden Ngabei tidak dapat membangun apapun di tempat itu. Hal ini dikarenakan tempatnya yang angker. Akhirnya Raden Ngabei bertapa di kawah gunung Kelud. Beliau masuk ke dalam kawah Gunung Kelud dan para penghuni kawah tersebut (bangsa jin) merasa terganggu dengan pertapaanya.akhirnya mereka melaporkan kepada ratu mereka, ratu pantai selatan tentang hal ini. Dan ratu pantai selatan akhirnya mendatangai Raden Ngabei dan menyuruhnya untuk pergi dari Gunung Kelud. Tapi Beliau tidak mau, akhirnya Beliau memutuskan mau pergi dari Gunung Kelud dengan sebuah sarat yaitu, ratu pantai selatan harus menyuruh semua pengikutnya yang ada di tempat yang akan dibangun rumah Raden Ngabei untuk pergi. Akhirnya ratu pantai selatan mau, dan sejak saat itulah, daerah yang lebat dan angker bisa dibangun sebuah rumah dan digunakan sebagai pusat dakwah Raden Ngabei.
    Kemana bayi raden Ngabei saat Raden Ngabei berdakwah di Pare?
    Saat masih dalam asuhan, bayi Raden Ngabei diasuh oleh Raden Patah, yaitu seorang kyai diTulungagung yang kali pertama mendirikan pondok Menara, di Mangunsari. Sejarah pembangunan pondok Menara dan jembatan Mangunsari yang ada di Tulungagung juga tidak lepas dari peran serta Raden Ngabei.
    Raden Ngabei mendirikan pondok pesantren di tempat itu dan Beliau jugalah yang telah mengenalkan islam dan mengislamkan raja Jangka Jayabaya dari Kediri. Raden Ngabei mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi kota Kediri, utamanya kota Pare. Menurut kepercayaan penduduk sekitar, kota Pare sampai sekarang masih dilindungi oleh Raden Ngabei. Sehingga sampai sekarang pun, walaupun kota Pare sudah banyak didatangi penduduk se Indonesia, kota ini tetap aman dan tentram dan apapun yang dicari di kota ini ada.
    Karena jasa Beliau yang cukup besar, dan berkat Beliau kota Pare yang dulunya suram, kini menjadi kota yang bersinar. Akhirnya penduduk sekitar memberikan nama kepadanya K.H. Nur Wahid. Nur artinya cahaya dan wahid artinya satu. Maksudnya adalah Mbah Nur Wahid adalah cahaya pertama yang menyinari Pare. Sebenarnya masih ada banyak nama untuk Beliau, karena pada zaman koloni, sseorang yang mempunyai cukup kesaktian akan diburu. Akhirnya Mbah Nur Wahid mempunyai banyak nama. Salah satu namanya juga adalah Mas Jolang.
    Banyak santri dari Mbah Nur Wahid yang akhirnya mendakwahkan islam, termasuk Mbah Patah dari Tulungaung. Dan selain itu, dari keluarganya Mbah Yazid (penggagas dibentuknya kursus Inggris di Pare) merupakan santri Beliau.  Dan tentang Mbah Yazid dan Kampung Inggris Insyaa Alloh akan kita bahas pada posting berikutnya. Sepeninggalan Beliau, dakwahnya diteruskan oleh putranya, yaitu Mbah Magfura yang ketika masih kecil diasuh oleh Mbah Patah. Ketika Mbah Nur Wahid Wafat, makam Beliau akan dibawa ke Mataram oleh para saudara dari Mataram yang telah mengetahu keberadaanya. Tapi, Mbah Magfura melarangnya. Akhirnya Mbah Magfura membuatkan makan untuk ayahnya yang jauh dari sepengetahuan keluarga Mataram. Akhirnya Makan Mbah Nur Wahid berada tidak di dekat Jalan Raya, melainkan ada di belakang dan tidak di area ramai, melainkan di area penduduk. Dan tempat tersebutlah yang dulunya juga merupakan bekas pondok pesantren yang didirikan oleh Mbah Nur Wahid dan sampai sekarang pun sering diziarahi banyak orang.
    Nah, begitulah cerita tentang babad kota Pare. Dan satu lagi mengenai karomah Mbah Nur Wahid adalah sholawat. Mbah Nur Wahid juga merupakan orang yang menganjurkan Mbah Patah untuk membuat menara yang besar di Tulungagung. Atau yang saat ini tersohor sebagai Icon pondok Menara. Pada awalnya pembanguna menara ini di tolak oleh demang Tulungagung, tapi atas perintah gurunya, Mbah Patah tetap membangun menara tersebut. Menara tersebut disejajrkan dengan garis Ka’bah oleh Mbah Nur Wahid. Pada saat proses pembangunan menara sudah selasai, Mbah Nur Wahid melihat kalau menara tersebut belum segari dengan Ka’bah, akhirnya Beliau meluruskannya. Sehingga sampai saat ini pun, menara Mangunsari terlihat miring. Ini dikarenakan Menara tersebut dluruskan dengan garis Ka’bah dan dibleskan oleh Mbah Nur Wahid. (tan) 

    2/20/2017

    TPOEM

    By: Catatan Tania P On: 13.58
  • Share The Gag
  • Lagi
    Lagi...
    Dalam angan terus bersenandung
    Menyebar sendu dan terus berkidung
    Di kira dunia itu tak berempu
    Hingga lupa kalau pemilik tak pernah tidur
    Membuang harapan dan terus mengeluh
    Pada dogtrin yang telah ditempuh
    Katanya ini harus direvisi
    Tak relevan dan tak sesuai dengan misi-misi
    Lagi....
    Dikira takdir itu ditulis tangan
    Dan disamakan dengan pintalan benang
    Yang sesukanya dapat diolah asal hidup senang
    Siapa pemilik hidup yang hakiki?
    Sebuah angan apa sesuatu nyata di hati
    Atau mungkin masih terlalu dini
    Tuk mengulas seluk masalah ini
    Lagi...
    Inilah yang dinamakan ketakutan
    Saat diri dan hati bertentangan
    Mencari dan mengunggulkan argumen dengan penuh alasan
    Saat kenyataan benar menjadi nyata
    Diri malah berkedok dengan kacamata
    Dan mengaku ini bukan goresanku
    Diri tak mampu memintal harap tertentu
    Hanya mampu menjalani dengan segala kemampuanku
    Dan yang terjadi terus mengelak pada waktu
    Kalau semua kenyataan itu sudah ditentu
    Padahal mulanya telah berkoar mengaku
    Kalau tangan mampu menggores harap walau terasa berluka dan berliku
    Dan nyatanya selalu tak pernah merasa akur
    Karena segala sesuatu yang dikerjakan selalu penuh ukur
    Walau secuil harap pun
    Dan dunia selalu berkaca pada semua mata
    Kalau banyak manusia yang kurang bersyukur
    Pada segala sesuatu yang tak pernah tidur
    Lagi,
    Bukan harapan dan kenyataan
    Melainkan desahan suara yang selalu bersamaan
    Bersama buaian tangis malam para peranakan

    TPOEM

    By: Catatan Tania P On: 12.31
  • Share The Gag
  • Kontradiksi Tengah Malam
    Loyal, katamu….
    Adalah suatu kamuflase belaka
    Hanya ongokan bangkai yang menyeringai
    Bak serigala yang haus akan mangsa
    Meraung di atas denting dua belasan
    Mencari mangsa dari gelagak tak bermakna
    Malam…..
    Yang katanya penuh arti
    Tempat nostalgia hati
    Kau pikir malam dapat kau caci maki
    Setelah kian lama tak sempat kau dekati
    Hanya ada dalam imaji yang tak dikehendaki
    Menyerupa hidup tapi mati
    Yang tak pernah tersentuh, tergapai dan terusik
    Tapi tenang dalam rayuan hibernasi
    Menikmati dunia yang dibuatnya sendiri
    Kala si bangkai dilempar di malam yang tak berjanji
    Mungkin si pungguk hanya tersenyum pada bulan ini
    Tak ada harapan yang terobati
    Sejuta kamuflase pungguk yang belum sejati
    Jika kau tau, pungguk tak pernah berusaha barang sedikit
    Dia hanya tersenyum sambil mengamati
    Sedang si bangkai busuk tiap hari menyeringai
    Mengaku serigala yang bukan dari dirinya
    Demi menatap mata si bulan ini
    Tapi waktu tak pernah memihak si bangkai
    Dan menganggap pungguk yang selalu bersanding dengan bulan ini

    2/19/2017

    Manfaat Menuntut Ilmu

    By: Catatan Tania P On: 08.33
  • Share The Gag
  • Assalamu'alaikum Wr.  Wb.
    Bagaimana kabar pembaca blog saya?  Semoga kabar para blogger baik yaa...
    Alhamdulillah penulis juga baik.  Semoga suatu saat kita bisa dipertemukan di dunia nyata (bagi yang belum pernah tahu saya hehe)
    Kali ini yang akan aku pos mengenai "Manfaat mempelajari Suatu Ilmu"
    Ilmu merupakan cahaya.  Al ilmu nurrun.  Sesungguhnya ilmu akan mampu menerangi kehidupan seseorang jika ilmu itu benar-benar dimanfaatkan dengan baik.  Selain itu bagaimana  proses ilmu itu didapat juga harus diperhatikan.  Karena pada akhirnya nanti akan ada efeknya untuk kehidupan kita.
    Sebenarnya ilmu itu apa ya?  Terus bendanya dengan pengetahuan itu apa?  Hmmm penulis juga bingung siihhh hehehe
    Yapz,  ngomongin masalah ilmu sekarang kita check arti keduanya di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  ya...
    Ilmu adalah pengetahuan yang disusun sistematis dengan metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu pada bidang pengetahuan.  Sedangkan pengetahuan adalah wawasan dalam segala bentuk hal. Dari sini cukup jelas tentang perbedaan keduanya.  Intinya kalau ilmu itu bersyarat dan pengetahuan itu tidak bersyarat. Tahap pertama yang diperoleh manusia adalah pengetahuan baru setelah itu akan mampu masuk ke ranah yang lebih luas yaitu ilmu.
    Menengok kisah dari penulis yaa hehe.  Dulu waktu penulis masih kelas empat sekolah dasar,  penulis mempelajari tentang materi IPA dan tepat pada materi tata Surya.  Penulis ingat betul bagaimana saat itu penulis susah payah menghafal nama-nama planet beserta karakteristiknya dan sekaligus benda-benda langit lainnya.  Termasuk pada satu pembahasan tentang rasi Bintang.  Saat itu penulis bergemang sendiri "Kenapa mempelajari ini.  Gunanya apa?  Toh aku juga tidak bisa tahu secara langsung.  Pengen ke Bosca tapi juga jauh mustahil". Hehe itu tadi gumanan anak SD yaa..  Kalau sekarang penulis bukan SD lagi. Walau seperti itu penulis tetap mempelajarinya dan penulis masih belum mengerti manfaat apa yang akan penulis dapatkan nanti.  Nah,  pada saat inilah yang penulis dapatnya disebut pengetahuan (hal ini bagi yang menerima).  Tapi sebenarnya hal yang penulis dapatkan itu adalah ilmu bagi mereka yang sudah benar-benar membuktikannya. 
    Tahun berganti tahun.  Umur juga sudah mulai dewasa ya.  Hmmm penulis perkirakan sepuluh tahun setelah itu. Apa yang terjadi???
    Yang terjadi penulis sudah tua.  Hahaha bukan yaaaa...
    Sepuluh tahun setelah itu,  penulis menemukan lagi hal serupa seperti apa yang penulis alami di kelas empat SD.  Saat penulis berada di sebuah kapal laut, di luar kapal  dan kebetulan langit malam itu cukup terang dan banyak bintang tapi udara laut sungguh dingin. Malam di laut sungguh berbeda daripada malam di daratan.  Sangat pekat dan me menakutkan. Saat itu penulis berada di bagian atas kapal,  tepat di bawah sang nahkoda.  Saat itu penulis mengamati langit sekitar.  Dan apa yang penulis dapatkan?  Rasi Bintang?  Betul.
    Ya,  saat itu penulis melihat gugusan rasi bintang secara langsung dan Subhanallah ini merupakan kebesaran Allah dan merupakan hal yang menakjupkan.  Ciptaan Allah sungguh Indah. Saat itu penulis langsung teringat pelajaran kelas empat SD tentang rasi bintang tadi.  Kemudian penulis mencoba mengingat tentang bentuk rasi bintang yang penulis lihat.  Dan yang penulis lihat saat itu adalah rasi Bintang biduk dan rasi ini menunjukkan arah Utara.  Dari sini penulis menyadari berarti ini manfaat yang penulis dapat saat belajar dulu. Saat penulis bingung tidak tahu arah,  rasi bintang yang menjadi penunjuknya.  Mungkin jika penulis tidak mempelajarinya dulu,  penulis tidak akan tahu namanya dan arahnya. Inilah yang dinamakan manfaat dari mempelajari suatu ilmu.  Dan saat hal itu benar terjadi kedua kalinya,  tentu kita akan menyikapi dengan berbeda saat kita memperolehnya dulu dan sekarang.  Kenapa berbeda?  Inilah yang dinamakan hukum alam.  Dan alam akan menerjemahkan segala sesuatu sesuai dengan indrawi kita.  Hal ini sesuai dengan teori Hume,  salah satu tokoh filsafat empiris.
    Barusan kita ngomongin tentang empiris ya,  dan hal ini mendekat dengan syarat ilmu.  Dimana syarat dari suatu ilmu itu adalah mempunyai metode dan dapat dibuktikan.  Dan salah satu pembuktiannya yaitu dengan pembuktian empirik tersebut.  Nah,  dari sini yang penulis dapatkan bukan hanya pengetahuan dan ilmu,  melainkan keduanya.  Sehingga saat itu juga prosesnya menjadi ilmu pengetahuan(berikut tahapannya:)
    1. pengetahuan (saat masih SD)
    2. ilmu ( saat melihat langsung dan menyamakan dengan teori yang pernah didapat)
    3. ilmu pengetahuan ( saat sudah menjadi teori dan sudah benar-benar dipercayai)
    Ilmu pengetahuan itu menerangi kehidupan.  Dan manfaat dari kita mempelajarinya tentu ada.  Jika pada saat itu kita belum mengetahui manfaatnya,  percayalah bahwa suatu saat nanti akan kita temukan manfaatnya.  Hal itu akan datang dua kali dalam hidup kita bahkan akan lebih.  Dan saat hal itu datang pada kita,  kita akan menerimanya dan merespon dengan cara yang berbeda.  Pada intinya satu hal,  carilah suatu pengetahuan dan ilmu itu sebanyak-banyaknya dan jangan lupa ikhlas dan istiqomah dalam mencarinya.  Karena jika kita ikhlas,  hati akan bersih dan NurIlahi mampu masuk dalam hati kita dan memberikan cahaya pada fiqul kita.  InsyaAllah. Dan manfaat terbesar dari ilmu pengetahuan itu adalah menjadikan kita sebagai sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi orang lain.  Seperti peribahasa yang mengatakan bahwa padi semakin berisi semakin merunduk.  Begitupun dengan manusia yang semakin berilmu akan semakin tawadlu'. Dan ilmu itu juga identik dengan buku.  Maka, cintailah buku dan jadikan sahabat sebagi pengisi hari-hari luang untuk menambah pengetahuan.
    Okay blogger,  bagaimana sudah cukup puas atau masih kurang lagi curhatan penulis hehe.  Jika dirasa masih ada teori yang belum sesuai dan ada kesalahan dalam pemahaman penulis,  penulis juga minta dibetulkan.  Kita semua berbagi dan belajar :-)
    Okay cukup sekian ya sahabat blogger,  sampai bertemu di tulisan curhatan penulis lainnya hehe
    Wassalamu'alaikum Wr. wb.