Lagi
Lagi...
Dalam angan terus bersenandung
Menyebar sendu dan terus berkidung
Di kira dunia itu tak berempu
Hingga lupa kalau pemilik tak pernah tidur
Membuang harapan dan terus mengeluh
Pada dogtrin yang telah ditempuh
Katanya ini harus direvisi
Tak relevan dan tak sesuai dengan misi-misi
Dalam angan terus bersenandung
Menyebar sendu dan terus berkidung
Di kira dunia itu tak berempu
Hingga lupa kalau pemilik tak pernah tidur
Membuang harapan dan terus mengeluh
Pada dogtrin yang telah ditempuh
Katanya ini harus direvisi
Tak relevan dan tak sesuai dengan misi-misi
Lagi....
Dikira takdir itu ditulis tangan
Dan disamakan dengan pintalan benang
Yang sesukanya dapat diolah asal hidup senang
Siapa pemilik hidup yang hakiki?
Sebuah angan apa sesuatu nyata di hati
Atau mungkin masih terlalu dini
Tuk mengulas seluk masalah ini
Dikira takdir itu ditulis tangan
Dan disamakan dengan pintalan benang
Yang sesukanya dapat diolah asal hidup senang
Siapa pemilik hidup yang hakiki?
Sebuah angan apa sesuatu nyata di hati
Atau mungkin masih terlalu dini
Tuk mengulas seluk masalah ini
Lagi...
Inilah yang dinamakan ketakutan
Saat diri dan hati bertentangan
Mencari dan mengunggulkan argumen dengan penuh alasan
Saat kenyataan benar menjadi nyata
Diri malah berkedok dengan kacamata
Dan mengaku ini bukan goresanku
Diri tak mampu memintal harap tertentu
Hanya mampu menjalani dengan segala kemampuanku
Dan yang terjadi terus mengelak pada waktu
Kalau semua kenyataan itu sudah ditentu
Padahal mulanya telah berkoar mengaku
Kalau tangan mampu menggores harap walau terasa berluka dan berliku
Dan nyatanya selalu tak pernah merasa akur
Karena segala sesuatu yang dikerjakan selalu penuh ukur
Walau secuil harap pun
Dan dunia selalu berkaca pada semua mata
Kalau banyak manusia yang kurang bersyukur
Pada segala sesuatu yang tak pernah tidur
Inilah yang dinamakan ketakutan
Saat diri dan hati bertentangan
Mencari dan mengunggulkan argumen dengan penuh alasan
Saat kenyataan benar menjadi nyata
Diri malah berkedok dengan kacamata
Dan mengaku ini bukan goresanku
Diri tak mampu memintal harap tertentu
Hanya mampu menjalani dengan segala kemampuanku
Dan yang terjadi terus mengelak pada waktu
Kalau semua kenyataan itu sudah ditentu
Padahal mulanya telah berkoar mengaku
Kalau tangan mampu menggores harap walau terasa berluka dan berliku
Dan nyatanya selalu tak pernah merasa akur
Karena segala sesuatu yang dikerjakan selalu penuh ukur
Walau secuil harap pun
Dan dunia selalu berkaca pada semua mata
Kalau banyak manusia yang kurang bersyukur
Pada segala sesuatu yang tak pernah tidur
Lagi,
Bukan harapan dan kenyataan
Melainkan desahan suara yang selalu bersamaan
Bersama buaian tangis malam para peranakan
Bukan harapan dan kenyataan
Melainkan desahan suara yang selalu bersamaan
Bersama buaian tangis malam para peranakan
0 komentar:
Posting Komentar