Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

4/28/2016

NEWS

By: Catatan Tania P On: 17.36
  • Share The Gag


  • Peserta Membludak, Acara Tetap Lancar


    antusias. Peserta memperhatikan materi broadcasting




    Tulungagung-Komunitas Mahasiswa Jurusan (KMJ), Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Institut Agama Islam Negeri Tulungagung  mengadakan Seminar dan Loka Karya (semiloka) di Aula Rektorat Lantai 3 pada Sabtu (2/4), kemarin. Kegiatan tersebut diikuti oleh 118 peserta yang terdiri dari siswa sekolah menengah atas dan mahasiswa. Kuota yang yang disediakan oleh panitia adalah 100 peserta. Namun, perserta yang mendaftar melebihi batas kuota.

    Peserta semiloka mulai berdatangan sejak pukul 7 pagi dan tampak memadati ruangan. Pada pukul 8 pagi, acara dibuka dengan dipandu oleh pembawa acara, Shofura Maulida Rahma  dan Maulida Amalia Nastiti. Selain itu, acara dihadiri oleh Kepala Jurusan KPI, Dr. H. Nur khalis, S.Ag., M.Pd, wakil dekan III Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah (FUAD), Dr. Teguh, M.Ag, Dan Dekan FUAD, Dr. H.Abad Badruzaman Lc., M.Ag. Acara pembukaan berlangsung dengan khitmad, apalagi saat Aulia, mulai melantuntan bacaan Al Qur’an. Walau ada beberapa kesalahan dalam pilihan ayat yang dibacakan, tak menyurutkan antusias peserta dalam mengikuti acara semiloka. “Seharusnya yang dibacakan bukan surat Al Anfal. Karena Al Anfal sendiri artinya adalah perang. Seharusnya yang dibaca adalah yang berkaitan dengan tema acara” kata Dekan FUAD dalam sambutannya. Rangkaian acara pembukaan berikutnya adalah menyanyikan lagu Indonesia raya dan dilanjutkan dengan sambutan dari kajur KPI, Wakil dekan III FUAD dan Dekan FUAD.
    Acara pembukaan selesai pada 9 pagi dan dilajutkan dengan acara inti. Acara yang mengangkat tema Kreatifitas Media Massa dalam Membangun Paradigma Kritis Masyarakat adalah acara terbesar kali pertama yang diadakan oleh KMJ KPI. Target dari acara yang selesai sampai pukul 4 sore itu adalah menghasilkan sikap kritis untuk menjadikan media massa dan film pendek sebagai media yang dapat meningkatkan kebaikan bagi masyarakat secara lebih luas. Acara ini mendatangkan dua pemateri, pemateri broadcasting, Galih Ahmad, manejer fath Production Tulungagung dan pemateri Jurnalis, Edy Saputra, Pemimpin Redaksi Harian Pelita Jakarta. Materi yang kali pertama adalah materi broadcasting. Materi yang disampaikan mengarah pada cara pengambilan gambar yang bagus saat membuat sebuah film. Selain itu Galih juga mengatakan bahwa dalam pengambilan sebuah gambar dapat dimulai dari hal yang sederhana, misal dapat menggunakan kamera handphone. “Membuat film itu tidak sulit. Saat membuat film ini, obyek saya ambil dari lingkungan sekitar rumah saya pada tahun 2006” tambah Galih saat memutarkan contoh film sederhana. Ia juga menjelaskan bahwa dunia audio visual sangatlah luas. Cangkupan luasnya ada yang untuk konsumsi pribadi atau untuk konsumsi publik. “Sekarang tidak perlu payah dalam menggambarkan apa yang kita inginkan” jlentrehnya. Hal senada juga dijelaskan oleh pemateri jurnalis, Edi Saputra. Dia mengatakan bahwa untuk menjadi jurnalis terlebih dulu harus suka menulis, “cukup tiga kata yang perlu dikuasai, yaitu menulis, menulis dan menulis” ungkapnya.
    Kendati jumlah peserta  melebihi batas kuota, ternyata tak membuat suasana menjadi tidak kondusif. Hal ini dapat dilihat pada saat sesi tanya jawab. Peserta banyak yang mengajukan pertanyaan pada pemateri dan ruangan masih terkondisi. Lintang, salah satu peserta dari IAIN Tulungagung mengungkapkan bahwa dia cukup senang mengikuti acara semiloka dan seumpama ada acara berikutnya, Ia ingin mengikuti lagi. Antusias terbesar dalam mengikuti acara ini terlihat juga dengan kekompakan satu kelas dari jurusan Tadris Bahasa Indonesia. Jumlah satu kelas ada 38 dan yang ikut semiloka ada 31. “kelasku ikut bukan karena terpaksa. Memang awalnya karena rekomendasi dari kajur. Namun, pada akhirnya kami antusias mengikuti acara ini” jelas Rini, salah satu peserta dari Tadris Bahasa Indonesia. Ayu. Peserta dari SMKN 1 Pogalan mengungkapkan bahwa alasannya mengikuti acara ini adalah untuk mencari pengalaman berkaitan dengan jurnalis. “Sekolah kami yang ikut ada 16 anak. Dan kebetulan kami semua adalah tim Jurnalis di sekolah kami” jelasnya.
    Kembludakan peserta yang terjadi sempat membuat panitia kebingungan. Hal ini terjadi dikarenakan pada saat hari pelaksanaan acara masih ada peserta yang belum registrasi ulang dan ada perserta lain yang belum mendaftar. Hal semacam ini akan mengganggu stabilitas acara berlangsung. Pasalnya jika tidak ada persiapan sebelumnya, akan sulit mengatasi hal demikian. Namun, hal semacam ini tak terlalu dipermasalahkan oleh panitia. Mega salah satu panitia mengatakan bahwa dengan banyaknya jumlah perserta berarti menunjukkan bahwa acara yang diadakan telah sukses dan dapat berjalan dengan lancar. Salah satu pemateri, Galih  mengatakan bahwa anak KPI telah membuat kreativitas di bidang jurnalis dan Ia sangat mengapresiasi hal itu. Edi juga menambahkan bahwa acara semiloka perlu diadakan lagi. “Kalau bisa setahun sekali diadakan dan teruslah aktif anak KPI” tuturnya.

    3/29/2016

    Tpoem

    By: Catatan Tania P On: 08.07
  • Share The Gag
  • Kalang Kabut Malam

    Perlahan melodi mengalun pilu
    Dalam deretan angin rindu
    Pecah ruah digaungan sendu
    Menyanyi mengejek malam terburu
    Dinding hanya bersaksi
    Memaknai tanpa mengerti
    Terlontar jawaban tak pasti
    Dari bukti yang dinanti
    Terkuak hal yang tak diminati
    Mengoceh bergurau pada angin
    Dalam malam yang tak beriring awan
    Gelap remang dengan sedikit bintik kuning
    Ingin digapai beberapa saja
    Tuk terangi jawab asa
    Atas ketidakpastian respon alam

    3/22/2016

    ISLAMOPHOBIA

    By: Catatan Tania P On: 00.06
  • Share The Gag


  • Islamophobia dalam Arus Reformasi Islam
    Oleh Tania Pramayuani


    Pengaruh adanya pemberitaan pers barat yang memusuhi islam menyebabkan munculnya prespektif negatif mengenai islam. Media-media pers barat mayoritas menunjukkan sikap ketidaksukaan terhadap islam. Mulai dari beberapa tahun lalu, sempat gencar berita seputar pembakaran Al Qur’an di Amerika Serikat. Selain itu, munculnya gerakan radikalisme yang mengatasnamakan islam memperkuat fakta bahwa islam terkesan otoriter, tidak menjungjung nilai kemanusian dan layak diperangi. Hal semacam ini, kerap dimanfaatkan media pers barat untuk menyiarkan berita negatif tentang islam. Dengan mengudaranya berbagai macam berita traumatic seputar islam, memunculkan adanya rasa ketakutan mendalam mengenai islam. Konsumen berita global pun mengalami hal demikian. Gejala seperti ini akan terus mencuat dan menjadi tranding topik dunia jika akar dari fobi islam atau islamophia tidak diretas sajak dini.
    Fobi islam adalah penyakit yang ditularkan oleh kaum Kafir Quraisy. Ketakutan terhadap islam yang berakibat memusuhi atau membenci islam, dilatarbelakangi antara lain oleh ketidakmengertian mereka terhadap islam. Selain itu, karena tumbuhnya kesadaran islam merupakan potensi kuat yang akan mendominasi dunia. (Asep Syamsul M. Romli, SIP, 2003, 17). Sebuah laporan terbaru oleh CAIR dan University of California Berkeley  menemukan bahwa Islamofobia di AS meningkat. Survei di Amerika Serikat juga mengungkapkan bahwa mayoritas orang Amerika tahu sedikit tentang Islam  dan  43 persen orang Amerika merasa setidaknya sedikit berprasangka terhadap Muslim. Timbulnya rasa kekhawatiran yang berlebih, menyebabkan banyak media pers barat yang semakin menggencarkan penayangan berita islamophobia. Dari berita Koran online, REPUBLIKA.CO.ID-SEATTLE, baru-baru ini, seorang anggota parlemen Republik Missouri menggambarkan Islam sebagai suatu penyakit, Seperti polio. Sementara yang lain, menyebut Islam sebagai penjajah dari lingkungan Amerika. Doktrin yang dilansir oleh media tersebut menggambarkan tingkat kebencian terhadap islam telah mendarah daging.
    Wajah islam terkesan menakutkan, di samping karena banyak umantnya yang tidak melaksanakan islam secara baik dan benar, juga terutama akibat keberhasilan propaganda kaum Salibis-Zionis lewat jaringan media massa yang mampu mereka kuasai. Populernya istilah Radikalisme, militan, bahkan teroris bom islam yang digencarkan oleh pers barat membentuk terciptanya citra islam sebagai hantu yang harus disingkirkan.

    Keterpojokkan Islam, Minoritas Muslim
    Di tengah masyarakat yang mayoritas penduduknya non muslim, islam jelas terpojok dalam hal kuantitasnya. Seperti di Amerika, islam sangat terpojok dan bahkan untuk memperoleh pengakuan akan islam itu sendiri cukup sulit. Muslim disana, kerap dimusuhi oleh non muslim hingga pada saat pemilu tahun 2010, Salah satu capres partai Republik sebelum undur diri, Peter King, dalam sebuah orasi yang dipublikasi secara luas mengingatkan AS akan bahaya radikalisasi Muslim negeri itu. Realitas yang demikian akan semakin memojokkan islam di negera yang minoritas muslim. Berbeda dengan negara yang mayoritas muslim, Indonesia, yang eksistensi Islam sangat dijunjung tinggi. Kendati muncul beberapa radikalisasi yang hendak merongrong bangsa multireligion ini, islam di Indonesia masih dapat dikontrol.
    Keterpojokan islam yang melanda negeri minoritas islam, menimbulkan adanya manipulasi untuk memunculkan sebuah pemberitaaan yang menyebabkan islam kian dimusuhi dan semakin terpojokkan jika di negara itu tidak ada pengakuan de jure islam. Kadang, walaupun ada hukum tertulis pun mengenai keberadaan islam di negara minoritas muslim, tidak luput golongan yang tidak suka dengan islam akan membuat oposisi terhadap islam. Media massa Barat dan agen-agennya gencar melakukan Ghazwul Fikri Wa Ghazwuts Tsaqofi yakni mensosialisaskan nilai-nilai, pemikiran dan budaya mereka ke dunia islam, agar pola pikir dan gaya hidup umat islam cenderunng lebih berkiblat ke Barat daripada taat pada aturan islam (Asep Syamsul M. Romli, SIP, 2003, 15). Akibat dari adanya hal tersebut, kaum yang minoritas, islam, akan merasa tertekan dan akan terjadi akulturasi kultural. Pada akhirnya, paham sakularisme, hedonisme dan materialisme mewabah di kalangan masyarakat islam. Diiringi juga dengan perubahan style yang mengacu ke barat-baratan.
    Penyebaran pemahaman tersebut, tak jauh dari pengaruh media barat. Dewasa ini, media barat banyak menguasai kantor-kantor pemberitaan terkemuka di dunia (news agency), surat kabar (press) dan jaringan TV/Radio, percetakan, penerbitan (publishing) dan penyaluran (distribution) (Dr Daud Rasyid, M.A., 1998, 222-223). Orang-orang Yahudi juga menguasai perfileman dan jaringan TV internasional. Jika semua informasi dan penyebaran pemahaman dikuasai oleh orang yang tidak suka dengan islam, kemungkinan besar manipulasi berita yang memojokkan islam kian menguat dan umat islam sendiri dengan kuantitas yang tidak cukup akan mengalami kesulitan membela haknya. Pada akhirnya akan ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, islam akan terpojokkan dan paham kebarat-baratan akan menjadi identitasnya. Kedua, islam akan hancur di tengah genjatan yang dilakukan oleh kaum Salibis-Zionis.

    Islamophobia Tidak Butuh Obat
    Islamophobia yang tumbuh di kalangan masyarakat minoritas muslim, bukanlah suatu penyakit yang perlu diobati. Islamophia muncul dilatarbelakangi karena adanya ketakutan yang berlebihan terhadap islam. Hal itu ditengarai karena masih kurangnya pengetahuan seputar islam. Mereka yang mengalami islamophobia menganggap islam adalah agama yang radikal dan identik dengan teroris. Padahal itu semua tidak lain hanyalah propaganda kaum Yahudi yang tidak ingin islam mendominasi dunia dan menyebarkan isu-isu mengenai kekejaman islam. Hal yang cukup urgen dan patut disayangkan yakni penguasaan media pers barat dikuasai oleh kaum Yahudi, sehingga berita dan pemahaman dapat dibentuk sesukanya. Implikasinya berdampak pada media di seluruh dunia. Termasuk bisa menjangkit pula ke media di Indonesia dan pada ujungnya akan muncul paham kebarat-baratan di negeri yang mayoritas muslim.
    Karena bukan suatu penyakit seperti flu yang disebabkan oleh virus atau Tubercolecis yang disebakan oleh bakteri, maka islamophobia merupakan sebuah rasa ketakutan yang berlebihan dan cara mengatasinya bukan dengan sebuah obat, melainkan dengan sebuah paradigma pola pikir terhadap ontologi islam sendiri. Nilai religius islam bukan sebagai pemecah perdamaian dunia, melainkan sebagai perdamaian dunia. Islam melarang adanya pembunuhan, seperti yang tarmaktub dalam firmanNya yang artinya Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu, “Janganlah kamu menumpahkan darahmu (pembunuhan orang), dan mengusir dirimu (saudara sebangsamu) dari kampung halamanmu” kemudian kamu berikrar dan bersaksi (QS Al Baqarah:84). Dari ayat di atas jelas bahwa islam tidak mungkin melakukan pembunuhan terhadap jiwa, apalagi dianggap sebagai teroris yang sifatnya radikal dan rasis.
    Islamophobia kali pertama muncul dan berkembang dari media, maka solusi awal yang dilakukan adalah pengendalian media itu sendiri. Sebagai seorang pengkonsumsi berita, selayaknya berita yang ada tidak langsung diterima begitu saja, melainkan diklarifikasi dulu. Selain itu, hal paling urgen adalah mengenai dasar keimanan itu sendiri. Fondasi islam harus kuat dengan berpatokan pada prinsip islam menghargai sesama manusia dan tidak mencampurkan antara urusan agama dan sosial. Sedangkan bagi seorang jurnalistik, maka diperlukan strategi yang sesuai dalam penyampaian berita supaya hegemoni pers barat tidak menjalar pada nalar jurnalistik Indonesia. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyampaian berita untuk menyikapi islamopobhia sebagai berikut :
    1.      Sebagai pendidik, yaitu melaksanakan fungsi edukasi dan menyiarkan berita islami yang benar.
    2.      Sebagai pelurus informasi, ada tiga hal yang perlu diluruskan muslim. Pertama, informasi tentang ajaran umat islam. Kedua, tentang karya dan prestasi umat islam. Ketiga, mampu melakukan investigasi tentang kondisi umat islam di berbagai penjuru dunia.
    3.      Sebagai pembaharuan, penyebar paham pembaharuan akan pemahaman dan pengalaman ajaran islam (reformisme islam)
    4.      Sebagai pemersatu, mampu menjadi jembatan untuk menyatukan umat islam. Jurnalis harus membuang jauh-jauh sikap sektarian secara ideal maupun komersial tidaklah menguntungkan ( Jalaludin Rakhmad dalam Rusji Hamka& Rafiq 1998)
    Itulah beberapa alternatif cara yag dapat dilakuakan untuk mencegah penyebaran islamophobia. Dengan demikian, umat islam harus bangkit menghadapi tantang islam di era reformasi baik sebagai seorang pengkonsumsi berita maupun sebagai pencari berita.