Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

4/16/2017

My Cerpen

By: Catatan Tania P On: 21.58
  • Share The Gag


  • Manisnya Permen Kaki
    Oleh Tania Pramayuani


    "Perhatian-perhatian, kereta jurusan Bandung akan segera datang pada jalur satu. Mohon periksa barang bawaan anda sebelum meninggalkan tempat dan berhati-hatilah".
    Segera aku bangkit dari kursi tempatku menunggu dan melangkah meninggalkan kursi itu dengan membawa barang-barangku. Tak begitu lama aku menunggu, kereta segera tiba. Dan untunglah, pintu masuk berada tepat di depanku. Aku tak perlu jauh-jauh mencari pintu masuk.
     "Alhamdulillah " desahku.
    Aku masuk pada gerbong dua dan aku mendapat nomer kursi 3B. Kuputar barang bawaanku ke kanan dan ke kiri karena sangking penuhnya penumpang. Aku Berharap agar barangku itu tidak mengenai tubuh penumpang yang lainnya.  Akhirnya sampai juga pada nomer yang aku cari. Seketika segera ku ambil tiket dari saku jaketku. Takut jika aku salah nomer, aku tanyakan pada lelaki yang duduk di depanku.
    "Maaf mas, apakah ini benar nomer 3B gerbong dua? ". Setelah mengamati tiketku tidak terlalu lama, orang itu menjawab " Iya benar mbak. Mbak duduk di sini ".
    "Trima kasih mas" jawabku dengan senyum. Aku cukup lega karena akhirnya aku dapat tempat duduk. Awalnya aku berpikir bahwa aku tidak akan mendapatkan tempat duduk karena ke pulanganku ini juga bersamaan dengan musim liburan para mahasiswa di Malang. Tiga orang lainnya yang duduk dengankupun juga mahasiswa.
    "Untung saja mas tadi cukup ramah" gumanku.
    Suasananya sangat gaduh. Ada orang yang bercakap-cakap sendiri, suara musik, ditambah lagi dengan kepulan asap rokok yang berjubel memenuhi gerbong. Hal itu membuatku merasa tidak nyaman.
    " Beginilah kalau nekat pulang saat liburan para mahasiswa dan resikonya juga naik kereta ekonomi. Uhuk uhuk" kataku sambil terbatuk batuk dan mencoba untuk menyibak kepulan asap rokok yang berebutan akan masuk lubang hidungku. Lelaki yang tadi sempat aku tanyai sampai menoleh dan tersenyum ke padaku. Diapun mengeluarkan tangannya dari saku jaket. Kemudian mengulurkan tangannya padaku.
     " kenalkan, nama saya Umar"
    " Saya Dewi" balasku singkat.
    " Ohya kuliah dimana mbak?"
    " Saya belum kuliah mas. Saya masih SMA Kelas 3 ini ". Dia malah terkekeh mendengar jawabanku. Matanya yang sipit nyaris hilang ditelan tawanya. Aku hanya ikut-ikutan tersenyum seadanya. Bagiku hal itu cukup aneh dan aku mulai memberanikan diri untuk bertanya pada orang yang aku anggap seniorku itu.
     " Kenapa mas, kok tertawanya sampai lepas begitu. Apa mungkin ada yang lucu jika aku ini masih SMA?". Dia menatapku layaknya penuh kelucuan dan mencoba menghentikan tawanya.
     " Bukan begitu mbak. Bukan karena mbak ini masih SMA. Saya juga baru lulus SMA dua tahun lalu. Sekarang juga masih semester empat"
    "Lalu?"
    " Mbak tadi berangkatnya buru-buru ya?". Aku masih belum paham maksud dia. Dia membingungkanku. Para mahasiswa yang duduk di depankupun juga ikut tersenyum simpul. Sementara, dia tetap tersenyum senyum sendiri. Sempat aku menganggapnya orang gila. Aku pun mengamati diriku sendiri. Barangkali ada yang aneh denganku. Ketika pengamatanku sudah sampai ke bawah, baru ku sadari bahwa aku lupa tidak memakai sandal. Kakikiku hanya dibungkus kaos kaki warna coklat.
    " Astaga. Kakiku". Dia melihatku dengan gaya senyumnya yang khas
    "Baru sadar ya mbak. Untung saja mbak tidak menginjak sesuatu yang tajam. Biasanya di saat penuh seperti ini sangat rawan dengan hal itu" ucapnya sedikit meledek. Tapi tak sepenuhnya aku menyalahkannya. Tanpa dia mungkin aku akan lebih malu sampai Bandung. Tak kusangka, mas Umar begitu baik. Dia meminjamkan sandalnya padaku. Dia bilang dia kasihan melihatku. Setelah itu kami semakin terbuka dan mulai berbincang-bincang. Apalagi waktu yang lama untuk sampai pada kota tujuanku membuatku bosan jika hanya dihabiskan dengan diam saja. Setelah kutahu bahwa ternyata mas Umar juga turun di Stasiun Tasikmalaya, semakin senang rasanya mempunyai teman ngobrol.
    Ketika sampai di Stasiun Solo, mas Umar keluar membeli makanan. Dia tanya aku ingin nitip atau tidak.
    "Tidak mas, terimakasih. Aku sudah bawa bekal. Nenek sudah membuatkannya" jawabku singkat. Setelah mas Umar keluar, aku hanya mengamatinya dari balik kaca kereta. Tak begitu lama mas Umar kembali. Dia membawa dua nasi bungkus. Yang satunya itu dia berikan kepadaku.
     " Mas ini sudah aku bilang kalau aku sudah bawa bekal kenapa aku malah dibelikan?"
    " Sudah, dimakan saja. Tidak baik lho menolak rejeki itu" jawabnya singkat dan kemudian membuka nasinya lalu memakannya. Songkok yang dia pakai dia lepas sebentar lalu kembali dikenakannya.
    " Asli gaya orang sunda makan" batinku sambil mengamati caranya makan. Jika diperhatikan tak jauh berbeda dengan cara makan ayah.
    Selesai makan, aku mengucapkan terimakasih pada mas Umar lalu memulai perbincangan lagi.
    "Mas ini aslinya orang Tasik, kenapa kuliahnya harus di Malang? Apa tidak kejauhan. Khan ada UGM atau UI yang lebih dekat "
    " Memang benar. Saya kepengennya itu kulia di UGM. Tapi saya tidak ketrima. Akhirnya dapat informasi dari sepupu yang di Malang tentang Universitas Brawijaya. Saya mencoba daftar di sana. Dan alhamdulillah masuk " terangnya.
    " Dan mbak sendiri kenapa mau ke Bandung. Padahal khan sekolahnya di Malang? " imbuhnya.
    Aku mendesah dan melipat tanganku, kemudian aku diam sejenak dan mencoba mengatur nafas.
     " hmm... Sebenarnya saya itu asli kelahiran Bandung. Yang asli Bandung itu ayah. Ibu aslinya Malang. Sejak kecil saya tinggal di Bandung. Tapi setelah ibu meninggal waktu saya masih kelas satu SMP, ayahku menitipkanku di rumah nenek. Dan baru-baru ini saya dapat kabar bahwa ayah sakit. Akhirnya saya berniat ke Bandung " jelasku.
    Mas Umar menatapku dengan tatapan penuh iba. Dia ternyata melihat air mataku menetes. Dia menghiburku dengan memberikanku permen. Benar saja, usaha itu membuahkan hasil. Aku langsung terbelalak melihat mas Umar yang memberikanku permen berbentuk kaki itu.
    " Mas Umar ini ternyata punya bakat humor cukup bagus. Baru kali ini aku tau anak SMA yang sedih diberi permen berbentuk kaki. Biasanya khan diberi sapu tangan. Tapi aku suka " ucapku dengan sambil membuka bungkus permen itu.
    " Sapu tanganku masih belum aku cuci. Masih bau keringat. Dan juga cuma punya satu. Sayang juga khan " timpalnya dengan tawa lebar sampai lesung pipinya terlihat sangat jelas menambah keindahan akhlaknya.
    " iya mas. Terimakasih ya " imbuhku dengan senyum.
     " iya sama-sama mbak. Mbak Dewi tidak usah sedih. Jalani saja semuanya dengan enjoy. Semoga ayah mbak Dewi cepat sembuh dan jika mbak Dewi lagi sedih, makan permen kaki itu. Walaupun berbentuk kaki yang bisa dibilang cukup hina, tapi rasanya. Rasanya yang terpenting. Manis. Setiap cobaan itu pasti berujung kemanisan " tuturnya kalem. Tak diduga perbincangan kami akhirnya terputus. Ternyata sudah sampai stasiun Tasikmalaya. Lelaki yang sedari tadi menemaniku bicara kini telah turun. Kini hanya tinggal aku saja yang ada di bangku ini. Dua orang mahasiswa lain sudah turun tadi waktu di stasiun Solo. Yah, bosan. Bosan yang kualami sekarang. Akhirnya aku memilih untuk tidur sampai nanti sampai di stasiun Bandung.
    **
    Tiga jam kemudian kudengar teriakan orang "Bandung-Bandung-Bandung". Aku segera bergegas bangun dan mengambil barang bawaannku. Aku tak mengira bahwa waktu ternyata begitu cepat. Seperti baru tadi aku ngobrol dengan Mas Umar dan Mas Umar telah turun dulu, eh taunya sekarang giliran aku yang turun.
    Baru saja aku melihat dunia luar, begitu kagetnya diriku. Stasiunnya ternyata sudah direnovasi menjadi dua kali lipat lebih bagus dan lebih besar daripada dulu, ketika aku masih SMP. Aku berputar putar di stasiun. Aku mencari siapa yang akan menjemputku. Paman ataukah bibi. Aku mencari tempat untuk meletakkan barangku yang kurasa tidak cukup ringan. Pundakku rasanya sudah hampir patah. Dengan perlahan-lahan ku tahan beban ini dan ku rebahku beban ini pada mushola stasiun. Aku beristirahat di mushola stasiun sekalian juga dengan sholat dzuhur.
    Usai sholat dzuhur, orang yang menjemputku tak jua datang. Aku semakin bosan menunggu. Tak kusadari sebelumnya bahwa aku lupa belum memberi kabar bahwa aku sudah sampai.
    "Astagfirullah, HP ku mana. Ayo cepatlah ketemu. Jangan buat aku semakin lama menunggu. Kenapa tadi aku begitu ceroboh. Uuh...Dasar pelupa" omelku pada diriku sambil mengacak acak tas kecilku mencari Hp yang tak juga ketemu. Semakin lama emosiku semakin naik ditambah dengan rasa kesalku. Ku balik tas kecilku dan Braakk semua yang ada di dalam tas itu jatuh. Nyaris membuat semua orang yang ada di mushola melihat tindakan anehku.
    Tanpa aku sadari seorang gadis berjilbab biru datang menghampiriku. Sangat jelas sekali bahwa dia adalah gadis yang berperawakan kurus. Dia tinggi dan berkulit kuning langsat.
     " Mencari apa teh? " tanyanya dengan suara lembut. Sangat jelas sekali bahwa wanita ini adalah tipe orang yang sabar dan lemah lembut. Aku pandangi wanita itu sebentar kemudian aku menjawabnya " handphone teh. Abdi butuh handphone nya'. Sepertinya ieu mah hilang " jawabku.
     " Kalau sangat penting sekali, teteh pakai hanphone saya saja" tawarnya.
    "Benar ini tidak merepotkan teh, nanti pulsanya habis".
    " Iya benar teh. Saya senang bisa membantu saudara sendiri. Sesama saudara seiman khan harus saling tolong menolong" jawabnya dan lalu mengeluarkan hanphone dari tasnya.
    "Ini teh. Ini pulsanya masih banyak kok. Saya juga jarang memakainya. Jadi jangan sungkan memakainya ya. Teteh telfon saja biar jelas. Nanti kalau sms lama responnya"
    "Terima kasih banyak ya teh. Saya berhutang budi sama teteh". Wanita itu hanya tersenyum dan selalu menyangkal pujianku. Aku memulai bermain-main dengan tombol handphone wanita itu. Bebera detik kemudian aku berhasil menyambungkan komunikasi dengan paman. Aku kabarkan bahwa aku sudah sampai di stasiun. Paman akan menjemputku dan diperkirakan akan sampai dalam waktu lima belas menit lagi. Aku tak mau mengulur waktu pembicaraan mengingat ini handphone orang lain. Segera ku akhiri panggilanku itu.
    "Teh makasih banyak. Tanpa teteh mungkin saya akan bernasip malang dan akan tidur disini. Terimakasih buanyak nyak nyak ya teh" timbalku. Wanita itu terus merendahkan diri dan bilang bahwa dia tidak melakukan apa-apa. Kemudian aku mengulurkan tangan.
     " Ohya, kenalkan namaku Dewi. Aku masih sekolah kelas 3 SMA". Dengan gaya senyumannya yang begitu tulus dia membalas uluran tanganku "Saya Sabrina. Sama, saya juga masih kelas 3 SMA". Percakapan pun semakin berlanjut sejak itu. Kami juga membicarakan kemana akan kuliah setelah lulus. Dia ternyata bercita-cita ingin kuliah di Malang. Katanya pilih universitas yang dekat dengan kakak angkatnya. Mendengar itu aku sangat senang.
     "Banyak sekali peluang untuk kita bisa berjumpa lagi. Aku juga tinggal di Malang. Mainlah ke rumahku jika nanti jadi di Malang"
    "Wah kebetulan sekali ya. Pasti aku akan main ke rumahmu. Tapi kasih dulu alamat rumahmu, biar nggak nyasar"
    "Tentu. Ngomong-ngomong teteh disini menunggu siapa?". Dia hanya tersenyum dan kemudian dia malah melihat ke kanan kiri seperti sedang mencari seseorang. Tak berapa lama setelah investigasinya usai, dia menatapku dan wajahnya berubah menjadh sedih. Matanya menghadap ke bawah dan kepalanya menunduk.
    " Ada apa teh?" tanyaku bingung.
    Dengan suaranya yang setengah sendu dia menjawab " Sepertinya ayah memang tidak akan menjemputku. Aku akan pulang sendiri nanti"
    "Kenapa kok tidak dijemput?"
    "Soalnya kemarin waktu berangkat ayah sepertinya tidak setuju dengan keputusanku untuk ikut bersama kakak angkat di Malang. Jadi aku tadi baru dari Bandung minta pendapat Papa asuhku". Aku semakin tidak mengerti dengan maksud Sabrina. Aku berusaha menghiburnya. Ingin rasanya berlama-lama menemaninya. Tapi pamanku sudah datang menjemputku. Saat kulihat wajah paman yang menjadi tirus, pikiranku tentang Sabrina terhenti. Aku giliran memikirkan paman. Aku melirik jam tanganku, dan ternyata paman sudah terlambat satu setengah jam. Baru kusadari bahwa waktu telah menenggelamkan aku dan Sabrina dalam gemelut rangkaian kata. Aku minta maaf pada Sabrina dan berpamitan. Dia terus berusaha memasang senyum yang dipaksakan. " Suatu saat nanti teteh harus banyak bercerita ke padaku" teriakku sambil melambai lambaikan tangan. Sekali lagi gaya khasnya. Dia hanya membalas teriakanku dengan senyuman.
    Lalu aku pun fokus pada paman. Terlihat dengan kelas bahwa wajah paman tak ada seberkas cahaya keceriaan orang yang menyambut kedatangan sepupunya. Akupun memberanikan diri untuk bertanya.
    "Paman tidak suka dengan kedatanganku?". Paman hanya menatapku sesaat. Kosong dan sedih. Yah, tatatapan yang penuh dengan kesedihan. Lalu berpaling dariku dan fokus pada kegiatan menyetirnya. Kali ini aku benar-benar tidak memahami tingkah aneh pamanku. Kusempat mendengar paman bergemang lirih. "kau akan tau nanti". Mendengar ucapan itu, rasa penasaranku bertambah semakin besar. Tapi aku tak berani bertanya. Karena aku yakin jawabannya pasti sama seperti yang tadi. Sepanjang perjalanan kami hanya diam saja. Sesekali aku melirik pamanku. Tapi sepertinya paman hanya tenggelam dalam dunianya sendiri. Jengkel. Suasana itu yang menyilimutiku. Sesuatu yang aneh lagi. Arah mobil paman menuju rumah sakit.
    " Siapa yang sakit. Ada apa ini" tanyaku penuh penasaran. Panik sekali. Namun paman tetap diam. Dia keluar mobil tanpa menjawab pertanyaan dariku. Aku pun segera turun. Aku berlari menyamai langkah paman. Tiba-tiba paman berhenti tepat di depan ruang ICU. Seketika degh, dadaku terasa sakit. Seperti ada sesuatu per yang akan lepas dariku. Perasaan yang aneh.
     "Paman?" panggil orang dari kamar ICU.
     Pamanku segera masuk namun aku tetap diam ditempat. Melihatku tetap diam, paman menarik tanganku. Dan untuk ke kedua kalinya  paman berkata dengan jelas
    "Wi, masuk". Mulutku mengatup tak dapat menjawabnya. Tubuhku yang bersedia ditarik paman itulah sebagai tanda bahwa aku setuju.
    Pertama masuk ku lihat ada bibi, Andi sepupuku, suster dan dokter. Ternyata tadi yang memanggil paman itu suster itu. Lana. Begitulah namanya yang kutahu barusan dari bibiku.
    "Ayahmu sudah menunggu. Cepatlah mendekat" kata dokter itu padaku
    "A a a yah.." jawabku terbata bata. Aku berlari mendekati orang yang terbaring lemah itu.
     "A.. a.. a.. yah, kenapa bisa sampai seperti ini keadaan ayah? ". Tangisanku pecah. Membanjiri tangan lemah yang sedari tadi aku pegang. Mata itu, ya mata ayahku tak juga membuka barang sedikitpun. Alat penunjuk detak jantung menunjukkan bahwa jantung ayah semakin melemah. Bukan hanya aku saja yang menangis. Seisi ruangan juga menangis kucuali dokter. Dia hanya menampakkan ekspresi sedih. Mungkin hal ini sudah biasa baginya. Disaat isak tangis membanjiri seluruh ruangan, tangan ayah bergerak. Kupasang wajahku di depan ayah. Aku bangkit. Dan perlahan lahan ayah membuka matanya. Ayah berusaha mengangkat bibirnya dan mengeluarkan kata-kata walaupun dengan terpogoh-pogoh "Dewi, akhirnya kamu datang juga. Ayah kangen denganmu. Bagaimana kabarmu nak?"
    "Masihkan ayah tanya keadaanku. Lihatlah ayah. Bagaimana dengan keadaan ayah sendiri" jawabku terisak isak.
    "Ayah sangat baik nak. Bahkan akan jauh lebih baik setelah ini. Kedatanganmu saat ini adalah hadiah terindah buat ayah"
    "Cukup. Ayah jangan banyak bicara lagi. Ayah harus istirahat dan segera sembuh"
    "Nak, banyak orang yang menyayangimu. Jadi jangan bersedih. Ayah ingin kamu bahagia, Nak".
    Tiba tiba alat penunjuk jantung terlihat aneh. Mata ayah juga sudah mulai meredup. Seisi ruangan termasuk aku panik. Dokter segera menanganinya. Kami disuruh mundur. Kupeluk bibiku erat-erat .
    "Bi, ayah. Hiks hiks, ayah tak boleh pergi. Ayah pasti sembuh khan".
     Bibi mengelus rambutku dan berusaha menenangkanku. Aku tak berani melihat tindakan dokter. Sementara yang lainnya melihat dan ingin tau kondisinya. Tangan bibi yang mengelusku terhenti. Ku lihat bibiku meneteskan air mata dan bibirnya membuka. Ku sadari sesuatu telah terjadi.
    "Ayaaaaaah" teriakku sambil mendekati ayahku.
    Dokter mencoba menenangkanku. Tapi tangisanku tak juga berhenti.
     "Ayah, bangun yah. Hiks hiks hiks. Ayah jahat. Jangan tinggalkan aku yah. Bangun".
    "Teh diiklhasin saja. Kita doakan semoga jalan ayah teteh mudah" timbal Andi, yang sebenarnya juga menangis namun berhasil disembunyikan dariku. Benar saja, hatiku benar-benar tengah dilanda puting beliung. Porak poranda. Per dalam diriku benar ada yang lepas.
    **
    Semenjak peristiwa itu aku tak berlama-lama di Bandung. Satu tahun sudah peristiwa yang menyakitkan itu terjadi. Perlahan-lahan ditemani sang masa, mengbantuku mengiklhaskan kepergian ayahku. Aku memutuskan untuk tidak tinggal di Bandung. Takut kalau banyak teringat kenangan bersama ayah dan ibu di sana. Aku tinggal di Malang bersama nenekku. Kini, aku sudah sedikit menemukan cahaya dalam diriku. Teman-teman kuliahku banyak membantuku. Bukan baju putih abu-abu lagi yang kusandang. Aku kini sudah menjadi mahasiswa di universitas Brawijaya. Ya, aku memilih universitas ini karena pilih yang lebih dekat dengan rumah.
    Waktu jamku sudah habis, aku mampir ke mushola karena waktu sudah cukup sore. Walaupun rumahku dekat, tapi sepulang dari kuliah aku tidak ke rumah. Melainkan bekerja di salah satu bimbel. Bekerja sebagai guru fisika. Usai sholat, aku tak sengaja menabrak seorang wanita yang sedang berjalan menuju masjid.
    "Maaf, saya tidak sengaja"
    "hey, teh dewi. Ini aku. Lupa denganku?"
    kucoba membuka memoriku, barang kali ada yang masih nyangkut di salah satu sarafku.
    "Subhanallah. Teh Sabrina ya" . Sontak aku langsung memeluknya. Bisa dikatakan juga sok akrab. Tapi dia malah tersenyum dan membalas pelukanku juga.
    "Iya teh. Saya senang sekali bisa bertemu dengan teteh lagi. Alhamdulillah, takdir begitu baik. Teteh apa kabar?"
    "Alhamdulillah baik. Aku juga sangat senang sekali bisa bertemu dengan teteh. Ngomong-ngomong teteh juga kuliah di sini juga ya?"
    "Iya teh. Teteh juga ya?"
    "Iya teh. Wah seneng rasanya bisa satu kampus dengan teteh"
    "Ohya, teteh tadi sepertinya buru-buru. Mau kemana teh?"
    Baru ku ingat bahwa aku akan mengajar di bimbel. Akhirnya aku mengajak Sabrina ke bimbel sekalian karena jumpa kangen kami belum usai. Untung saja Sabrina juga tidak ada jam. Dengan isyarat senyum simpulnya menunjukkan bahwa dia bersedia ikut ke bimbel denganku.
    Selesai mengajar, kami duduk di depan bimbel. Kebetulan sekali di depan bimbel ada bangku kecil. Cukup nyaman tempatnya. Ternyata dugaanku benar. Sabrina jadi kuliah di Malang karena ikut dengan kakaknya. Kost nya berdekatan dengan kost kakaknya. Aku penasaran dengan kakak Sabrina itu. Dari tadi Sabrina bilang bahwa kakaknya sangat baik.
    "Teh harus kenal dengan kakakku. Dia orangnya bail kok. Dijamin nggak bakalan nyesel kenal dengan kakakku" pintanya
    "Memangnya kakak teteh kuliah dimana?"
    "Brawijaya. Dia masuknya pagi. Kalau sore gini, kakak lagi kerja"
    "Kerja apa teh?"
    Sabrina lama tak menjawab pertanyaanku. Mungkin aku terlalu dalam menanyakan masalah pribadi keluarganya. Segera aku sadari kesalahanku dan meminta maaf padanya.
     "Maaf ya, jika aku lancang. Aku tidak bermaksud untuk ......"
    kata-kataku terputus karena Sabrina sudah menimpali dengan kata-katanya.
    "Sudah, jangan merasa bersalah. Teteh tidak salah kok. Tapi maaf, mungkin aku belum siap cerita masalah kerja kakakku. Aku takut jika teteh menertawakannya. Tunggulah, waktu akan menjelaskan dengan sendirinya".
    Waktu sudah semakin gelap. Kami mengakhiri pembicaraan. Kami bertukar alamat dan nomer handphone. Sejak saat itulah, kami menjadi sahabat dan tak saling memanggil dengan sebutan teteh satu sama lain. Sabrina benar sahabat yang sangat baik. Kini aku tidak menutup-nutupi lagi masalah keluargaku. Aku ceritakan semuanya padanya. Demikian dia juga menceritakan cerita di stasiun yang dulu sempat terputus. Setelah kutahu, ternyata Sabrina itu mempunyai dua ayah. Ayahnya yang asli itu tinggal di Bandung. Karena tidak mempunyai banyak biaya, Sabrina di angkat anak oleh orang Tasikmalaya. Dia adalah bos ayahnya. Tapi Sabrina di beri kebebasan oleh papanya. Dia boleh tinggal di rumah Tasik atau di Bandung. Semuanya sama-sama rumah Sabrina. Satu hal dari dulu yang belum Sabrina critakan padaku. Yaitu tentang kakaknya. Sabrina pernah bilang bahwa dia itu kakak angkatnya. Sedangkan orangtua angkatnya orang kaya, rasanya tak mungkin jika kakaknya itu mau kuliah sambil kerja. Pikirkupun mustahil untuk membagi waktu antara kuliah dan kerja.
    **

    Kembali lagi dengan rutinitas pagiku. Yaitu kuliah. Saat dosen menerangkan, tak sengaja aku ketiduran pada jamnya. Aku mendapat hukuman. Aku dihukum untuk membersihkan seluruh masjid kampus.
     "Tapi pak" bantahku.
    "Cepat kerjakan sana. Atau nilai tugasmu ini aku beri nilai C" geram dosenku. Aku pun terpaksa keluar dari kelas. Tak tahu dosen itu bahwa aku ketiduran gara-gara mengerjakan tugasnya semalam.
    "Hmm.. Ikhlaslah. Mungkin ada hikmahnya" gerutuku.
    Badanku terasa sakit semua waktu mengerjakan hukuman itu. Padahal baru sebagian yang aku kerjakan. Saat aku sedang istiraha di bale masjid, tiba ada orang yang melempar permen di depanku. Aku beranjak dan bermaksud mencari tau orang yang tidak sopan padaku. Tapi tidak ada orang mencurigakan di sekitarku. Aku memutuskan untuk duduk lagi. Ku amati permen yang ada di depanku. Sebuah permen berbentuk kaki. Berwarna merah dan dibungkus plastik warna biru.
     "Aku makan saja permen ini. Mungkin ini rejeki dari Allah. Rejeki khan tidak boleh ditolak tapi disyukuri" ucapku pada diri sendiri.
    Rasanya begitu manis, dan sedikit membuat rasa lelahku hilang. Menurutku ada yang aneh dengan permen ini. Sepertinya permen ini  bukan makanan yang baru. Tapi dimana ya aku makannya. Aku pun merasa bahwa aku tidak pernah membeli permen kalaupun ada itu pasti sekedar diberi oleh teman. Tiba-tiba ada yang merusak lamunanku. Ada orang yang bergemang cukup jelas dari belakangku sehingga membuatku untuk menoleh.
     " Mau lagi tidak mbak permennya?" kata orang itu. Setelah ku toleh, betapa terkejutnya. Mas Umar. Oh, betapa sempitnya dunia ini. Kali ini aku ditakdirkan bertemu lagi dengan orang yang sangat lucu ini.
    "Mas Umar, kok disini" tanyaku keheranan
    "Aku khan memang kuliah disini. Mbak jadinya kuliah disini juga ya?"
    "Iya mas. Pilih yang dekat saja" jawabku kemudian menambahkan senyumku. Seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Dia selalu tersenyum dengan lesung pipinya itu.
    "Jangan-jangan permen tadi dari Mas Umar? Dan kenapa Mas Umar bisa disini?"
    "Iya mbak. Apa mbak mau lagi?" jawabnya sambil terkekeh. Hanya aku respon dengan senyuman.
    "Tadi tidak sengaja saya lewat masjid. Terus saya melihat ada mahasiswi bersih-bersih. Saya coba lihat. Tidak menyangka ternyata itu mbak dewi" jelasnya.
    "Ha ha ha. Aku ini dihukum lho mas" jlentrehku. Ternyata dia sudah tahu. Dia hafal benar jika ada mahasiswa yang membersihkan masjid pasti dia sedang dihukum. Oleh karena itu dia melemparkan permen padaku supaya aku tidak terlalu larut dalam kesedihan karena hukuman ini. Wajahku memerah karena sangking malunya. Pasti mahasiswa yang lainnya juga pada sudah tau kalau aku sedang dihukum. Dalam hati aku berjanji bahwa ini hukuman yang pertama dan yang terakhir kalinya. Mas Umar begitu baik, dia membantuku membersihkan masjid. Bebanku semakin berkurang. Aku merasa sangat bersyukur.
    Selesai membersihkan masjid. Aku berniat untuk mentraktir Mas Umar. Mengingat dulu Mas Umar juga pernah membelikan nasi padaku. Dari arah belakang kami terdengar orang berteriak- teriak "Kakak!"
    kami pun menoleh, ku lihat yang berteriak itu Sabrina. Dia tidak menyadari bahwa aku ada di situ.
    "Kakak dicari rektor. Katanya penting". Sabrina menoleh ke arahku dan wajahnya berubah jadi kaget. Sembari kakaknya pergi meninggalkan kami, Sabrina kemudian melemparkan pertanyaan padaku
    "Kamu sudah kenal dengan kakaku. Itu tadi kakakku, Wi"
    "Apa? Jadi itu tadi kakakmu, Sab?" jawabku tak percaya.
    Aku menjelaskan bahwa kami sudah saling kenal. Kami kenal pertama di dalam kereta waktu aku ke Bandung. Kebetulan mas umar pergi ke Tasikmalaya waktu itu. Sabrina seperti memahami maksudku. Mulutnya membulat dan mengucapkan “O”.
    "Berarti aku tidak usah mengenalkan lagi ya. Khan udah kenal"
    "Tapi kenapa kamu menutupi pekerjaan kakakmu, Sab?"
    "Se..Se benarnya.."
    "Sebenarnya apa?"
    "Sebenarnya kakakku itu mempunyai banyak pekerjaan. Tiap hari tidak sama?"
    "apakah itu?" tanyaku semakin penasaran.
    Sabrina akhirnya menjelaskan bahwa kakaknya itu yang punya pondok pesantren di dekat kost nya. Dia juga seorang penulis novel. Selain itu dia kadang-kadang berjualan permen atau koran keliling. Sabrina sendiri juga heran dengan kakaknya.
    "Sempat sekali aku melihat kakak itu mengajar anak-anak semester satu. Entah ada hubungan apa kakak dengan rektor tadi. Rektor sepertinya sangat membutuhkan kakak" jelasnya. Mendengar cerita Sabrina aku terheran-heran. Mataku melebar dan mulutku tak mengatup.
     "Aku benar-benar salut dengan kakakmu, Sab "
    "Ya itulah kakakku, sekarang kamu sudah tau kenapa aku menyuruhmu biarlah sang waktu yang memberitahu" katanya sambil tersenyum.
    **
    Aku menjalani hari hariku dengan penuh semangat. Mas Umar mengajariku arti dari kehidupan. Walaupun dia anak orang kaya, namun dia tidak sombong dan tetap giat berusaha.
    Permen itu. Ya, permen berbentuk kaki itu menjadi obatku di kala aku sedih atau dirundung masalah. Walaupun bentuknya kaki, namun tak tanggung tanggung aku memakannya, karena rasanya sangat manis. Seperti hidup ini, walau kadang hidup begitu hina dan menyulitkan, kita juga harus tak tanggung-tanggung menjalankannya. Kelak akan terasa manis seperti rasa permen kaki. Mas Umar, sosok yang telah mengajariku melalui kebiasaannya. Orangnya sholeh, baik hati dan manis pula. Entah sejak kapan hatiku mulai berdesir jika memandangnya. Dia selalu datang dalam mimpiku.
    Plaakk…
     Sabrina datang menghampiriku dan memukul pipiku. Sepertinya dia tahu bahwa aku sedang melamun.
     "Hayo, nglamunin apa? Sudah sholat belum?"
    "Astagfirullah, makasih sudah mengingatkanku" jawabku seraya bergegas menuju masjid untuk sholat. Kadang aku berfikir bahwa itu adalah bayangan setan. Segera kutampis jauh-jauh pikiran itu. Memang yang namanya cinta itu selalu beriringan dengan prestasi. Tinggal mana yang akan kamu pilih. Jika memilih yang benar, semuanya akan baik pula. Sejak itulah, aku memutuskan untuk menyimpan cintaku pada Mas Umar dalam rasa permen kaki. Manis dan penuh dengan pelajaran. Entah Mas Umar mengetahuinya apa tidak. Menurutku dia itu memang baik dengan semua orang, tidak hanya padaku saja. Sabrina pernah sekali cerita tentang kakaknya, bahwa tiada pernah Sabrina mengetahui kakaknya berhubungan dengan siapa. Yang dia tahu kakaknya itu pekerja keras dan selalu mengelak jika diajak bicara masalah perempuan. Ya, itulah yang aku suka dari orang pembawa permen kaki, yang sementara kupending dulu demi tercapainya cita-citaku.
    Selesai sholat, aku ke kantin menemui Sabrina. Saat melangkah mencari sandalku, baru ku sadari bahwa sandal yang aku pakai setiap hari ke kampus adalah sandal Mas Umar yang dulu dipinjamkan kepadaku.
    "Sandal ini? Oh, kenapa begitu pelupanya sih aku. Seharusnya segera aku kembalikan dari dulu. Padahal sudah setahun nempel di kakiku" makiku pada diri sendiri. Aku berpikir mungkin jika aku kembalikan sekarang, oleh mas umar malah diikhlasin ke aku. Aku nanti jadi malu.
    "Ya sudah, sandal ini buat kenang-kenangan saja" gumanku dengam senyuman seraya menuju kantin menemui Sabrina.
    **
    Hari-hari pun berlangsung seperti biasa. Aku dan Sabrina menjadi sangat akrab. Sabrina sudah tak malu lagi untuk menceritakan masalah keluarganya padaku. Aku sering main ke kostnya Sabrina. Saat pulang dari kampus, aku menyempatkan diri selalu main kesana.
    Tok.. tok.. tok..
    Tok.. tok.. tok..
    Lama. Sabrina tak membukakan pintu kostnya. Biasanya sekali ketok saja, Sabrina sudah membukakan pintu kostnya. Dia juga sudah aku sms sebelumnya bahwa aku mau kesitu. Aku berniat untuk menungggunya. Aku dududuk di kursi yang ada di depan kostnya. Kursi berwarna coklat kehitaman ditambah dengan motif ukiran yang tak begitu rumit menunjukkan bahwa kursi itu adalah kursi yang sangat indah. Aku mengamati kursi itu sambil duduk di atasnya. Aku mengelusnyanya. Trasa sangat hals ukirannya. Aku berguman seolah sedang bercakap-cakap pada seseorang “Kursi ini bagus sekali kokoh. Warnanya indah dan motif ukuran yang tidak begitu rumit membuatku merasa nyaman. Sabrina beruntung ada kursi seindah ini di depan kostnya”
    Tak lama kemudian ada suara yang menyelaku.
    “Ya... kursi itu memang bagus. Apa kamu suka”
    Seraya aku mendongakkan kepalaku yang sedari tadi aku tundukkan untuk mengamati kursi itu. Aku kaget. Ternyata Mas Umar yang berkata barusan.
    “Loh, Mas Umar kok tumben jam segini ada di sini? Biasanya khan kerja”
    Mas Umar hanya menjawab denngan senyuman. Hari ini au melilhat ada yang aneh dari biasanya. Mas Umar hanya senyum-senyum saja dan sesekali gerakannya hanya untuk membenarkan songkoknya. Dia tak berani duduk di sampingku. Padahal jelas masih ada satu kursi kosong lagi. Dia hanya berdiri kurang lebih dua meter dariku.
    “Mas Umar baik-baik saja khan hari ini?” tanyaku heran
    “Hmm... hmmm sebenarnya.......”
    “sebenarnya apa?” aku memotong perkataan Mas Umar. Aku merasa penasaran ada apa dengannya.
    “Se..se..se be narnya.. sebenarnya aku kesini ma ma mau......”
    “Hei Wi!!!” terdengar suara Sabrina. Sabrina lari terpongoh-pongoh menghampiriku.
    “Tenang Sab. Ada apa?”
    Nafas Sabrina masih tak beraturan. Dia duduk di kursi kosong di sampingku.
    “Maaf Wi, tadi aku keluar sebentar. Aku tadi baca sms kamu dan segera aku pulang” jawab Sarina sambil membenarkan kerudungnya. Dia melihat k arah kakanya dan kemudian berdiri.
    “Kakak ada apa kok tumben jam segini kesini. Jangan-jangan kakak....?
    “hust....!!!” potong Mas Umar sambil mmbungkam mulut Sabrina.
    Aku hanya tersenyum simpul melihatnya.
    “Kalau kakak tidak mau mengatakannya, maka aku yang akan mengatakannya” kata Sabrina ketus sambil mencoba melepaskan tangan kakaknya dari mulutnya.
    “Baik, aku akan katakan sendiri’ jawab Mas Umar dengan tegas. Mas Umar mendongakkan badannya. Gagah. Matanya tajam. Seolah ada hal serius yang akan disampaikan.
    “Ada apa dengan kalian berdua?” tanyaku.
    “Biar kakakkku sendiri yang menjelaskannya” jawan Sabrina.
     Mas Umar masih berpikir. Matanya melirik ke kanan kri dan kadang ke atas, seolah sedang merangkai kata. Lalu tak lama mulutnya pun membuka dan mengeluarkan kata`
    “Sab, apakah kamu mau menjadi pendamping hidupku?” katanya tegas.
    Sabrina hanya mengulum senyum sambil menyenggoli tanganku. Dia memberi isyarat agar aku segera menjawabnya.
    Aku terngannga seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mas Umar. Aku menunduk. Bingung. Ini terlalu cepat bagiku. Memang aku menaruh hati padanya. Dia adalah sosok imam yang diingankan oleh setiap wanita. Tapi aku juga tak mau salah ambil keputusan.
    Akupun memberanikan diri berkata “Apa Mas Umar bercanda?”.
    Kali ini mas Umar menjawabnya langsung dan dengan tegas “ Aku serius. Aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku dan menyempurnakan imanku. Aku sudah lama menaruh hati denganmu sejak kamu berteman akhrab dengan adikku”.
    Aku hanya terdiam. Sebenanya akku ingin langsung menjawabnya iya. Tapi itu terlalalu ceroboh menurutku.
    Sabrina menyela dan mengatakan bahwa aku pasti akan menerimanya. Aku mencubit Sabrina. Dia malah tertawa.
    “Kak, Dewi itu sudah lama juga menaruh hati pada kakak. Dia sering menceritakan tentanng kakak. Tapi dia tidak pernah cerita padakukalau suka dengan kakak. Aku hanya merasa kalau kalian cocok dan tidak ada yanng harus disembunyikan lagi”
    Aku menarik nafas panjang. Dan kali ini aku akan menjawab pertanyaan Mas Umar.
    “Apa yang dikatakan Sabrina itu memang benar. Aku sudah lama menaruh hati pada Mas Umar. Aku kagum dengan Mas Umar. Tapi aku masih belum lulus kuliah. Aku masih semester 6”
    “Tidak apa Dewi, aku akan menunggu kamu dan aku tidak akan memaksakan sekarang. Kalau kamu sudah lulus juga tidak apa-apa atau kamu mau bekerja dulu. Rencanaku juga akan menanyakan kamu pada nenekmu kira-kira empat tahun lagi. Aku ingin kamu membangun mimpimu dulu” terang Mas Umar.
    Jawaban itu seolah telah menenangkanku. Aku pun juga terjejut mendengar Mas Umar memanggil namaku dengan jelas. Biasanya dia hanya memanggilku mbak. Aku menjawab penjelasan Mas Umar dengan senyuman seraya berkata.
    “Iya Mas Umar. Aku setuju dengan itu. Aku juga akan menunggu Mas Umar”. Wajahku seolah seperti bunga yang mau mekar. Seperti ada sesuatu yang terpasang kembali. Per dalam hidupku yang dulu telah hilang rasanya sudah mulai kembali walau itu sosok yanng berbeda. Aku yakin dengan rahasia Allah. Segala sesuatu yang terjadi adalah yang terbaik untuk kita. Siapa yang tau Mas Umar, sosok yang misterius dimatakku dan sekaligus sangat pahlawan tiba-tiba mengatakan mau menjadikannku pendamping hidupnya. Kami bicara saja jarang. Paling juga pas ketemu hanya menyapa sambil tersenyum. Aku pun sempat mengira bahwa dia tidak ada hati denganku. Cuek. Dan kebaikannya itu juga bukan khusus padaku. Semua anak ki kampus banyak yang membicarakannya dan mengidolakannya. Dia seolah tak merespon mereka dan tetap teguh pada pendiriannya. Sekalipun aku tak pernah melihatnya bergandengan dengan wanita. SubhanaAllah.. aku bersyukur pada Allah karena telah mempercayakan dia padaku.
    **
    Usai kejadian itu, kami belum pernah bertemu. Mungkin Mas Umar masih sibuk dengan pekerjaannya baru-baru ku dengar bahwa Mas Umar dapat beasiswa kuliah di Austria. Aku juga tidak pernah menelpon atau sms Mas Umar. Yang terpenting aku menjaga kepercayaannya dan dia juga menjaga kepercayaannku. Aku lalui hariku dengan penuh keceriaan seolah tak ada beban.
    Aku dan Sabrina seperti biasa usai jam kuliah, Sabrina ikut aku mengajar di bimbel. Usai mengajar di bimbel, ada sosok laki-laki yang berdiri menghadap jalan. Dia seperti menunggu seseorang. Aku berpikir bahwa dia adalah salah satu orang tua yang akan menjemput anaknya. Tapi sampai anak-anak pulang semua, dia masih berdiri di situ aku memberitahukan hal ini pada Sabrina.
    “Sab, itu siapa?”
    Sabrina melihatnya dan malah menghampirinya. Sabrina mengajaknya untuk masuk dan aku sangat terkejut bahwa oranng itu adalah Mas Umar. Dia tersenyum padaku.
    “Oh tadi itu Mas Umar ya. Aku kira orang tua murid. Kok tumben hari ini Mas Umar tidak pakai songkok. Aku jadi tidak bisa mengnalil Mas Umar dari belakang”
    Wajah Mas Umar terlihat sedih. Dan ternyata dia juga membawa koper. Aku merasa bahwa akan ada sesuatu yang menyakitkan yang akan terjadi.
    “Dewi, aku kesini mau pamitan dengan kamu dan Sabrina. Hari ini aku akan berangkat ke Austria untuk melanjutkan studyku” katanya lirih
    Aku dan Sabrina meneteskan air mata mendengarnya. Sabrina seperti marah dengan kakaknya
    “Kenapa kakak tidak memberikan kabar padaku kalau hari ini kakak berangkatnya hiks hiks hiks” kata Sabrina sambil menyeka air matanya.
    Aku hanya diam dan menangis. Menunduk. Ku tak berani menatap wajah Mas Umar. Aku tetap menunduk dan menangis.
    “Dewi...” kata Mas Umar
    “kali ini aku akan pergi tapi tidak untuk selamanya. Setelah studyku usai, aku akan mengkhitbah kamu pada orang tuamu. Jagalah kepercayaannku padamu. Dan percayalah bahwa kamu satu-satunya wanita yang ingin aku nikahi nanti”
    Aku mengangkat pandanganku. Aku menyeka air mataku sambil terisak-isak.
    “Mas Umar tak perlu kawatir. Jika kita memang berjodoh pasti akan dipertemukan kembali. Dan aku akan menunggu Mas Umar” kataku dengan senyum yang kupaksakan.
    Setelah aku bicara, wajah Mas Umar tak sedih lagi. Pancaran kebahagiaanya terpancar diwajahnya. Kami mendoakan supaya Mas Umar selamat sampai tujuan hinggga sampai pulang. Mas Umar juga meminta tolong padaku supaya aku membantu Sabrina mengurus pondok ketika Mas Umar tak ada.
    **
    Empat tahun sudah berlalu. Kini aku telah menyelesaikan study S2 ku dan Alhamdulillah aku sudah menjadi dosen. Sabrina juga menjadi dosen, tapi kami beda kampus. Dan tanpa kabar pun, Mas Umar datang ke rumah pamanku yanng ada di Bandung. Aku sangat kaget ketika aku ditelfon paman bahwa Mas Umar ada disana. Mas Umar datang mengkhitbahku. SubhanaAllah inilah yang dinamankan takdir Allah. Tanpa pacaran pun, akhirnya kami bisa berkeluarga dan Sabrina yang dulu sahabatku kini menjadi adik iparku. Tak ada yang tak mungkin bagi Allah dan tak ada yang tau bagaimana skenario hidup itu.

    *SELESAI*



    TPOEM

    By: Catatan Tania P On: 18.44
  • Share The Gag
  • Kidung Dua Rupa
    Oleh Pramay


    picture from http://ilmufacebook.blogspot.co.id

    Omongan kosong di denting dua belasan
    Menyelinap dalam angin yang berhembusan
    Memotong udara dalam rangkai harapan
    Dan membatu bak si malin lupa daratan
    Sekejap, meyibak satir....
    Benteng yang peluh imaji pun diukir
    Pemilik mata rupanya tak mampu berpikir
    Dikelabuhi oleh harumnya mulut anyelir
    Aroma daging tak matang mulai terasa
    Banyak anjing yang pelan medekat meminta
    Dan tikus diam-diam memasang mata
    Membuat garis start usai anjing menengok kepala
    Bersepakat mecuri waktu si pemilik mata
    Gagak hanya bergumanan dan membuang muka
    Melirik mata-mata merah dari atas pohon cemara
    Lirih, berkidung kembang kenanga....
    Legak tubuhnya lunglai bak penari senja
    Keprokan tangan mewarnai rantai malam
    Memecah lagu sendu menjadi rupawan
    Pasti, dalam rodanya dunia malam...
    Yang merindu pesona nilam
    Walau putih sebatas temaram
    yang hanya memanggil pemilik saham
    pelan, menuju mekarnya melati
    melengkapi rangkaian wewangi
    wangi pekuburan sudah tak dinanti

    jagat para penganten yang akhirnya menguasahi

    4/15/2017

    STORY

    By: Catatan Tania P On: 02.29
  • Share The Gag
  • Warna Sosialisasi Jurusan


    Sabtu, tepatnya tanggal 15 April 2015, sebagian mahasiswa KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) sosialisasi jurusan beserta lomba menulis yang akan diadakan pada tanggal 25 April nanti kepada siswa-siswi SMA/MA/SMK se Tulungagung. Lomba menulis cerpen ini nantinya akan diadakan sebelum acara inti, yaitu dua  hari sebelum Bedah Film dan Talkshow Asma Nadia. hal ini dimaksudkan untuk memotivasi para generasi muda agar tidak takut menulis sekaligus mengenalkan kepada mereka bahwa menulis itu menyenangkan dan menulis merupakan bagian dari hidup.
    Sebelumnya, surat perijinan sosialisasi sudah diantar ke sekolah yang bersangkutan dua hari sebelum hari-H. Dan hari ini merupakan jadwal mengantar surat perijinan sosialisasi di SMA/MA. Memang jika dibilang telat, memang benar. Tapi daripada tidak sama sekali khan lebih baik mencoba. Hehe. Oh iya, bloggers, maaf ya, dalam postigan penulis ini, santai saja ya sifatnya. Begitu juga dengan bahasanya. penulis juga pakai yang santai. Okay siip.
    Acara sosialisasi dan pengantar perijinan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB, tapi yaa seperti yang kita kira kalau kita punya budaya jam karet. Akhirnya mulainya jam sembilan. Setelah itu, kami dibagi menjadi beberapa tim, penulis kebagian yang sosialisasi dan beberapa teman penulis yang lain kebagian mengantar surat perizinan di SMA/MA se-Tulungagung. Penulis pun juga molor datangnya, hehe makhlum sibuk di rumah.
    Sasaran yang penulis tuju adalah SMK 2 Muhamadiyah, SMK Islam Al Khoiriyah dan SMAN Kalidawir. Pada sekolah yang pertama ini semuanya lancar. Alhamdulillah walau menunggu cukup lama tapi akhirnya tetap tepat sasaran juga dan penulis beserta teman penulis, Regita dapat menyampaikan secara langsung maksud kedatangan kami ke sekolah tersebut kepada siswanya.
    Kami pulang dari SMK 2 Muhammadiyah kurang lebih sekitara pukul 10.30, karena selain ngobrol bareng siswanya, ternyata beberapa guru juga tertarik untuk face to face dengan kami, akhirnya waktu kami jadi molor. Tapi tidak apa-apa yang penting sama-sama berbagi. Kemudian kami melanjutkan ke SMK Islam Al Khoiriyah, disana tim sosialisasi dibagi dua, penulis kebagian di lantai atas, dan dua orang teman penulis kebagian di lantai bawah. Respon mereka cukup baik bahkan ada yang sampai memvidio sekaligus mencuri-curi foto penulis. Hehe iya sih penulis dan teman-teman penulis pura-pura sok tidak tau dan tetap ngomong gitu.
    Setelah itu penulis bersama tiga orang teman penulis meluncur menuju SMAN Kalidawir. Semua orang yang berangkat kesana sama-sama tidak ada yang tau persis letaknya. Akhirnya kami mengandalkan bantuan GPS. Awalnya penulis kira lokasi yang kami tuju dekat, ternyata lokasinya lumayan jauh. Dan kami prediksi siswa SMA pulang jam tiga, sehingga kami berpikir akan cukup waktu untuk kesana.
    Satu jam lebih kami berjalan tetap tidak sampai juga. Semakin lama, jalur yang ditunjukkan oleh GPS menuju ke arah dataran tinggi. Ya walaupun begitu tetap penulis ikuti. Sampailah pada tanjakan yang cukup tinggi dengan tikungan kimiringan kurang lebih 55 derajat. Saat itu bukan penulis yang kebagian meyetir, penulis bagian mencari lokasi di GPS. Awalnya penulis kira, teman penulis, Regita tau tanpa penulis beritahu kalau sekolah yang dituju itu sebelah kiri jalan, dan memang dari jauh sudah kelihatan. Tapi pas sampai di depan sekolah, Regita malah menambah gasnya dan terus naik sampai lima ratus meter dari lokasi sekolah. Penulis tidak berani memberitahu kalau sudah melewati sekolah yang dituju, masalahnya, medannya tidak memungkinkan untuk menengok atau berbicara walau sedikitpun jika belum terbiasa di jalan seperti itu, akhirnya setelah jalan lumayan tak menanjak lagi, penulis memberi tahu bahwa sekolah yang kita tuju ada di bawah sana. Spontan, kami semua heran sekaligus tertawa karena telah melewati lokasi. Anehnya, dua orang teman penulis juga, Laili dan Yaya juga ikut-ikutan salah. Dan akhirnya si Regita dan Laili turun naik motor, sementara penulis dan Yaya turun jalan kaki.
    Perjalanan menuju lokasi telah berakhir dan sampai pada tahap kita mengantarkan undangan ke sekolah. Setalah lumayan lama kita istirahat, penulis dan regita masuk ke kantor kepala sekolah. Dan hal yang membuat kami cukup kecewa adalah, setengah jam lagi seluruh siswanya akan pulang. Seketika rasa letih itu semakin bertambah karena jauh-jauh datang ternyata kami tidak bisa menemui siswanya. Akhirnya sosialisasi ditunda pada hari senin lusa. Ya walaupun demikian, panorama indah sekitar membuat kami semua cukup bahagia. Dimana lagi da kapan lagi ini semua dapat kami lakukan dan alami jika tidak saat ini. Pelajaran bermanfaat dari perjalan penulis dan teman-teman penulis kali ini adalah bahwa segala sesuatu kadang tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan walaupun kita telah mengaturnya baik-baik. Hanya Allah lah pemilik segala keputusan dan ketetapan. Dan kita sebagai makhluknya hanya berusaha. Tetap semangat untuk berdakwah di jalan manapun yang kita bisa. seperti halnya pelangi, dalam dakwah selalu ada warna tersendiri begitu pula dengan cerita hari ini, entah cerita-cerita mana lagi yang akan penulis posting dan semoga dapat memberi manfaat postinga penulis.

    4/14/2017

    Feature (Human Interest)

    By: Catatan Tania P On: 09.44
  • Share The Gag

  • Semangat Wanita Satu Kaki
    oleh Tania Pramayuani


    “Di tengah keterbatasan sumberdaya manusia yang mayoritas lebih suka mengerjakan hal yang menguntungkan, hal demikian tidak terjadi pada sosok Katemi, warga Desa Junjung-Kec Boyolangu-Kab Tulungagung”

    Giat-semangat berkreatifitas yang tak surut

    Keterbatasan fisik yang dialami oleh Katemi Djani, perempuan berusia 75 tahun ini tidak menyurutkan niatannya untuk bekerja. Katemi tidak pernah mengeluh akan kondisi yang menimpanya. “Saya biasa saja dengan kondisi saya. Saya tetap bekerja. Daripada menganggur kan tidak enak” katanya. Katemi bekerja serabutan dan perolehan gaji sehari sesuai dengan berapa banyak dia dapat mengerjakan pekerjaannya. Dia hanya mempunyai dua pilihan. Yaitu bekerja seadanya atau tidak bekerja sama sekali. Katemi sendiri menjelaskan bahwa dia tidak suka menganggur. Sejak usia muda, dia terbiasa hidup susah. Saat mengalami masa susahnya usai kecelakaan delapan tahun lalu, membuatnya harus kehilangan kaki kanannya. Kendati demikian, semangat untuk bekerja masih ada dalam diri wanita yang sudah memiliki satu cicit ini.
    Katemi hidup bersama dengan anaknya yang nomor lima. Jumlah semua anaknya ada sembilan. Enam orang adalah laki-laki dan tiga orang adalah perempuan. Semua anaknya sangat menyayangi Katemi. Hal ini dapat dilihat saat perempuan yang sudah keriput ini diwawancarai, salah satu anak perempuannya yang tidak mau disebutkan namanya menolak untuk diwawancarai. Sedangkan keenam anaknya yang lain, sudah bekerja dan mereka semua merantau ke Malaysia. Alasan Katemi untuk bekerja selain untuk meringankan beban anak-anaknya terhadap dirinya adalah untuk mencukupi sendiri kebutuhannya. Dia mempunyai prinsip selagi masih mampu melakukan hal yang bermanfaat kenapa tidak melakukannya. “Setiap sebulan sekali anak saya memberi uang pada saya seratus ribu. Tapi saya tidak mau hanya menengadah kepada mereka” tambahnya.
    Nama katemi yang diperolehnya adalah nama yang diberikan oleh warga setempat. Hal ini dikarenakan dalam satu lingkungan ada tiga nama Katemi sekaligus. Salah satu diantaranya adalah Katemi Dani. Katemi Dani adalah sahabat akrab dari Katemi Djali. Katemi Dani mengatakan bahwa dia sering datang ke rumah Katemi Djali untuk membantu Katemi Djali. Namun hal ini dibantah oleh Katemi Djali. “Saya mengerjakan ini sendirian dan tidak ada yang membantu saya semua anak-anak saya juga sudah bekerja dan sibuk dengan urusannya masing-masing” jlentrehnya.
    Setiap hari Katemi menjalankan rutinitas kerjanya mulai Pukul 07.00 wib sampai pukul 14.00 wib. Dalam sehari Katemi mampu menghasilkan empat puluh bagian bawah sapu. Pada kali pertama bekerja, Katemi hanya mampu menghasilkan lima bagian bawah sapu. Sebelum menekuni pekerjaannya membuat bagian bawah sapu, wanita yang mulai kendur kantong matanya ini bekerja menggaru blakarayung (bahan aren dan rayung yang digunakan untuk bahan dasar sapu:red). Namun karena faktor keterbatasan jumlah pekerja, Jumiran, pemroduksi sapu, mengganti pekerjaan Katemi dari penggaru blakarayung menjadi pembuat bagian bawah sapu dari blakarayung. Katemi jelas mau menerimanya, karena upah antara keduanya berbeda. Upah menggaru satu kilogramnya Rp 500,00 sedangkan upah membuat bagian bawah sapu per bijinya Rp 250,00. Dalam sehari peghasilan menggaru memperoleh Rp 7500,00 sedang membuat bagian bawah sapu memperoleh penghasilan Rp 10000,00 dalam sehari.
    Katemi tidak mengambil sendiri barang yang dikerjakannya itu. Anak Jumiran mengirimkannya ke Rumah Katemi. Jumiran maklum dengan hal ini dikarenakan kondisi Katemi. Martina, istri Jumiran mengatakan bahwa dia memperkerjakan Katemi dikarenakan faktor kasihan. Katemi sendiri sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Martina. “Iya saya tahu kalau mereka memperkerjakan saya karena faktor belas kasihan. Tapi daripada saya tida bekerja, lebih baik saya bekerja walaupun penghasilnya sedikit” tutur Katemi dengan mata berkaca-kaca.
    Menurut pendapat Katemi, Jumiran adalah orang yang baik. Dia tidak begitu mempermasalahkan apa alasan Jumiran memperkerjakannya. Asalkan dia bisa bekerja dan mendapatkan uang apapun itu akan dilakukan. Ketua RT setempat juga mengungkapkan bahwa Jumiran adalah orang yang baik. Dia sering menghibahkan sapunya ke masjid Nurul Huda. Selain itu jika ada tetangga yang membeli sapunya, Jumiran juga membelikan potongan harga. Usaha yang digelutinya sejak muda itu adalah usaha turun temurun dari keluarganya. Dia berniat untuk melestarikan usaha itu. Dan dia sangat bersyukur saat ada orang yang mau bekerja dengannya. “Jumah pekerja saya ada lima orang. Yang dua orang sedang cuti dan yang dua orang salah satunya adalah tetangga di sampng rumah saya ini dan ibu Katemi” jelasnya. Jumiran juga mengatakan bahwa mereka yang bekerja dengannya adalah saudaranya sendiri.
    Dalam menjalankan rutinitasnya sehari-hari, Katemi sering mengalami rasa sakit pada kakinya yang diamputasi. Salah satu tahapan dalam membuat bagian bawah sapu adalah memasangkan tali sebelum mengkatkannya dengan blakarayung. Saat memasangkannya talinya membutuhkan usaha keras. Karena hanya memiliki satu kaki, Katemi menggunakan kaki kirinya itu untuk menarik kuat talinya. Usai menarik biasaya jika terlalu letih dia akan merasakan sakit pada kaki dan punggungnya. “Saya sebenanya bisa sehari menghasilkan lima puluh bagian bawah sapu. Namun saya harus bekerja keras dulu. Setelah saya melakukan hal itu, biasanya kaki dan pungung saya sering pegal” katanya.
    Rasa sakit yang dihadapi oleh Katemi memngingatkannya akan peristiwa kecelakaaan yang menimpanya delapan tahun lalu. Saat menjelaskan tentang bagaimana kronologis terjadinya kecelakaan, Katemi berkaca-kaca. Namun dia tidak memperpanjang masalah dengan orang yang menabraknya. Kecelakaan itu terjadi di depan Puskesmas Beji. Saat itu, Katemi berniat ingin berobat ke Dokter Marwan. Naas, saat itu juga sebuah sepedah motor menabraknya dan menyebabkan dia harus dilarikan ke rumah sakit Dokter Iskak Tulungagung. Penanganan medis sudah dilakukan secepat mungkin, ternyata hasil yang diharapkan tidak maksimal. Pihak rumah sakit Dokter Iskak Tulunggung tidak mampu mengatasi lebih lanjut mengenai kaki kanan Katemi.  Pihak Rumah sakit merujuk Katemi untuk berobat di salah satu rumah sakit di Solo. “Kaki saya semakin lama semakin membusuk dan rumah sakit sini merujuk saya ke rumah sakit lain” bebernya.
    Kendati sudah dibawa k rumah sakit lain, nasib malang masih menimpa Katemi. Perempuan yang dulunya bekerja sebagai petani ini harus memberi persetujuan untuk mengamputasi kakinya di rumah sakit yang ada di Solo. Pasalnya semakin lama kondisiya semakin parah dan tidak ada pilihan lain. Keseluruhan biaya yang digunakan untuk proses oprasi Rp 50.000.000,00. Sedang dari pihak penabrak hanya mampu memberikan bantuan dana Rp 11.000.000,00. Dari jasa raharja, Katemi mendapat bantuan dana Rp 10.000.000,00 dan sisa biayanya ditanggung oleh pihak keluarga Katemi sendiri. Katemi tidak menyalahkan apa yang terjadi pada dirinya dan dia tetap berusaha menjadi manusia yang tidak bergantung pada orang lain. “Yang terpenting saya masih mempunyai pekerjaan yang dapat saya lakukan sehari-hari. Walau penghasilannya kecil saya akan tetap melakukannya”tambahnya. (tan)

    Jurnal Media Dakwah

    By: Catatan Tania P On: 08.37
  • Share The Gag
  • Jurnal Media Dakwah
    Posisi Da’i Dalam Berceramah Lewat Mimbar di Era Kontemporer”


    Abstrak:
    Zaman dahulu da’i sering diidentikkan dengan mimbar. Dimana ada mimbar, maka disitu ada da’i. Secara umum, mimbar memang merupakan tempat untuk berdakwah. Namun, cangkupannya mimbar cukup luas. Antara mimbar dan podium memiliki arti yang sama. Sama-sama merupakan tempat untuk melakukan pidato/ceramah. Hanya dalam ranah penggunaaannya yang berbeda. Jika mimbar diidentikkan dengan religiusitas, sedangkan podium lebih identik dengan tempat pidato yang sifatnya general. Karena adanya dua hal yang berbeda ini, dengan diiringi perkembangan teknologi dan informasi, maka cara da’i berdakwah tidak hanya sebatas di mimbar saja. Dakwah menuju pada zaman kontemporer, dimana media internet, eloktronik dan cetak digunakan sebagai media untuk berdakwah. Kendati banyak media yang bermunculan, posisi mimbar sebagai tempat dakwah bagi da’i masih cukup penting. Tingkat asumsi yang menganggap penting atau tidakkah, efektif tidaknya ceramah lewat mimbar menjadi bahasan yang hangat di kalangan masyarakat. Antara masyarakat pedesaan dan perkotaan mempunyai cara pandang tersendiri dalam menyikapi dakwah di masa kontemporer ini.

    Kata Kunci : ceramah, mimbar, dakwah, era kontemporer

    A.    PENDAHULUAN
    Istilah dakwah dalam agama Islam nampaknya tidak asing lagi, bahkan sudah popular di kalangan masyarakat. Namun demikian yang sering kita jumpai sekarang bahwa istilah dakwah oleh kebanyakan orang diartikan hanya sebatas pengajian, ceramah, khutbah, atau mimbar seperti hal nya yang dilakukan oleh para mubaligh, atau khatib. Pada hakikatnya dakwah Islam merupakan aktualisasi iman yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara berfikir, bersikap, dan bertindak.
    Dakwah adalah kegiatan mengajak orang lain, seseorang atau lebih ke jalan Allah Swt. secara lisan (dakwah bil-lisan) dan perbuatan (dakwah bil-hal). Dan salah satu bentuk dakwah adalah khithabah. Kata khithabah dapat diartikan sebagai pidato, ceramah, tabligh dan khutbah. Untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah, seorang da’i atau penceramah dapat menggunakan berbagai media, baik itu media mimbar melalui khitabah (khotbah/ceramah), media cetak (koran, majalah, buku), elektronik (radio, televisi, film, internet), dan sebagainya. Dan tentunya dalam penggunaan media harusdisesuaikan dengan situasi, kondisi serta keadaan mitra dakwah (mad’u).
    Mengingat pentingnya peranan mimbar dalam pelaksanaan dakwah Islam, maka bagi pendakwah yang akan menyampaikan ceramah melalui mimbar harus memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang retorika, menguasai teknik ceramah dan menguasai norma-normanya serta harus melakukan persiapanpersiapan yang matang sehingga ketika sudah berada di atas mimbar tidak mengalami demam panggung ataupun kebingungan.
    Dakwah yang menggunakan fasilitas mimbar hanya akan di dengar sebatas yang hadir pada acara tersebut. Lain halnya dengan dakwah yang menggunakan fasilitas teknologi elektronik seperti TV, internet dan teknologi modern lainnya, akan lebih banyak manfaatnya. Materi dakwah yang tepat untuk menghadapi masyarakat modern ini adalah materi kajian yang bersifat tematik. Artinya Islam harus di kaji dengan cara mengambil tema-tema tertentu yang sesuai dengan tuntutan zaman.

    B.     Mimbar dan Ceramah
    Mimbar dalam bahasa Arab adalah Minbar . dalam kaidah bahasa Arab berasal dari kalimat Nabaru, Yanbaru, Nabran, Manbarun, Nabirun, Manbirun, Inbar, La tanbar, Minbarun. Mimbar adalah podium di masjid dimana imam (pemimpin do’a) berdiri untuk memberikan ceramah(khutbah) atau di Hussaina tempat pembicara duduk di depan jemaah. Kata mimbar adalah turunan dari akar kata Nabara berarti untuk meningkatkan, bentuk jamak Arab Manabir.
    Sementara mimbar biasanya memiliki fungsi lebih mirip dengan sebuah podium, menekankan kontak dengan penonton. Mimbar biasanya berbentuk seperti sebuah menara kecil dengan atap runcing dan tangga menuju kesana. Beberapa percaya dekorasi itu adalah bagian dari sunnah, bahkan mimbar Nabi Muhammad SAW hanya memiliki platform dengan 3 langkah. Mimbar ini terletak disebelah kanan mihrab, ceruk yang menunjukkan arah sholat yaitu menuju Makkah.
    Mimbar merupakan media dakwah yang paling populer dimasyarakat, baik masyarakat pinggiran maupun masyarakat perkotaan. Mimbar biasa digunakan pada saat khutbah Jum’at, Idul Fitri, Idul Adha dan pengajian-pengajian hari besar Islam baik di Kampung maupun di Masjid, bahkan di Hotel atau di Gedung.
    Tujuan khutbah dengan menggunakan mimbar adalah agar jama’ah dapat lebih terfokus pada satu pandangan. Mimbar biasanya dibuat lebih tinggi dari lantai dengan tujuan agar penceramah bisa melihat secara langsung kepada jama’ah.
    Dari segi model mimbar ada dua macam, yaitu:
    1.    Mimbar bertangga (terbuka): Mimbar yang bertangga biasanya yang khutbah   membawa tongkat.
    2.    Mimbar tidak bertangga (tertutup): Tidak membawa tongkat.
    Ceramah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pidato oleh sesorang dihadapan banyak pendengar, mengenai suatu hal, pengetahuan dan sebagainya. Ceramah termasuk dakwah bi al-lisan dan dakwah tindakan. Jenis-jenis Ceramah, yaitu: (Ali, 2004:359)
    1.             Ceramah Umum adalah pidato yang bertujuan untuk memberikan nasehat kepada khalayak umum atau masyarakat luas. Di dalam ceramah umum ini keseluruhannya bersifat menyeluruh, tidak ada batasan-batasan apapun baik dari audiens yang tua muapun muda, materinya juga tidak ditentukan, sesuai dengan acara.
    2.             Ceramah Khusus adalah ceramah yang bertujuan untuk memberikan nasehat-nasehat kepada mad’u namun terdapat batasan-batasan yang dibuat mulai dari audiens yang sesuai dengan yang diinginkan dan materi juga harus disesuaikan dengan keadaan.
    Unsur-Unsur Ceramah:
    a.       Da’i (penceramah)
    Seorang da’i atau pencermah harus mengetahui bahwa dirinya adalah seorang da’i atau pencermah, artinya sebelum menjadi penceramah perlu mengetahui apa tugas dari pencermah, modal dan bekal itu sendiri atas apa yang harus dimiliki oleh seorang pencermah.
    b.      Mad’u
    Mad’u atau audiens merupakan sebagai penerima nasehat-nasehat. Audiens bermacam-macam kelompok manusia yang berbeda mulai dari segi intelektualitas, status ekonomi, status sosial, pendidikan, jenis kelamin dll.
    c.       Materi
    Agar lebih menggugah pemikiran para mad’u atau audiens untuk mendengarkan materi-materi yang diberikan oleh penceramah atau da’i. Oleh sebab itu, seorang da’I harus dapat memiliki bahan yang tepat atau menarik agar si mad’u tertarik, dan sesuai dengan pokok acara, materi yang akan disampaikan harus betul-betul dikuasai sehingga penampilan penuh keyakinan, tidak ragu, dan jangan sampai menghilangkan konsentrasi dirinya sendiri. Dengan itu, materi harus disusun secara sisitematis, dengan artian judul, isi, dan acara tersebut sifatnya betul-betul mempunyai hubungan. Sehingga pembahasan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. 
    Teknik Dalam ceramah di bagi menjadi tiga yaitu:
    1.    Teknik Persiapan Ceramah
         Ada dua persiapan pokok sebelum berceramah  yaitu persiapan mental dan persiapan materi ceramah. Ada dua jenis persiapan ceramah yaitu :
    a)    Menggunakan teks (manuskrip)
    b)   Dengan menghafal 
    2.    Teknik Penyampaian Ceramah
    a)    Langsung menyebutkan topic ceramah
    b)   Menjabarkan latar belakang masalah
    c)    Mengaitkan dengan peristiwa yang sedang hangat
    d)   Menghubungkan dengan sejarah masa lalu
    e)    Mengisahkan cerita factual  ataupun fiktif
    f)    Memberikan humor
    g)   Mengajukan pertanyaan-pertanyaan provokatif
    h)   Menceritakan pengalaman pribadi
    3.         Tehnik penutupan ceramah
    Bagian pembukaan dan penutupan adalah bagian yang menentukan. Penutupan harus memfouskan pikiran dan gagasan pendengar. Adapun teknik penutupan sebagai berikut :
    a)                  Mengemukakan ikhtisar ceramah
    b)                  Memberikan dorongan untuk bertindak
    c)                  Mengakhiri dengan klimaks
    d)                  Menambahkan kutipan sajak, kitab suci, dll.
    e)                  Menjelasan maksud yang sebenarnya
    Ceramah yang terbaik adalah dengan menggunakan catatan garis besar saja (ekstempore). Ini adalah ceramah yang paling populer dan banyak dipakai oleh ahli-ahli ceramah. Pembicara tidak mempersiapkan dan menyusun ceramah kata demi kata serta tidak perlu menghafal keseluruhan isi pidato, akan tetapin ia hanya menyusun outline dari isi ceramah yang akan disampaikan yang dianggap dapat mengorganisasi dan mensistematisasi keseluruhan kesan ceramah.
    Keuntungan eksptempore ialah komunikasi pendengar yang lebih baik karena pembicara berbicara secara langsung kepada khalayak, pesan dapat feksibel untuk dapat diubah sesuai dengan kebutuhan saat itu serta penyajiannya lebih spontan.
      
    C.    Mimbar Sebagai Media Dakwah oleh Da’i
    Penggunaan mimbar sebagai media dakwah sudah tidak asing lagi, bahkan saat ini semua orang sudah mengetahui apa itu mimbar. Dan setiap seseorang mengucapkan kata “mimbar”, maka midset akan langsung terkoneksikan dengan kata “da’i”. Memang mimbar dan da’i tidak dapat dipisahkan. Mimbar merupakan tempat dimana seorang da’i berceramah, sedangkan da’i sendiri adalah pelakunya (orang yang berceramah). Mimbar biasanya ada di masjid-masjid. Kadang di sekolah juga ada mimbar. Tapi mimbar yang ada di sekolah lebih tepatnya disebut dengan podium. Antara podium dan mimbar sama saja hanya penempatan istilahnya yang tidak sama. Kalau mimbar dikhususkan untuk ranah keagamaan, seperti ceramah di masjud, sedangkan podium diidentikkan dengan pidato berkaitan dengan masalah umum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia podim adalah tempat untuk berpidato.
    Penggunaan mimbar sudah ada secak dakwah zaman Rosulullah. Sebuah hadist Abdululah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rosulullah SAW apabila telah duduk di atas mimbar, maka Beliau berhadapan dengan muka kami. Riwayat Tirmidzi dengan sanad lemah.  Dari hadist tersebut, walaupun sanadnya lemah, tapi telah dijelaskan bahwa mimbar memang digunakan sebagai media berdakwah.

    D.    Pandangan Masyarakat Terhadap Ceramah Lewat Mimbar
    Dewasa ini, masyarakat tidak hanya memfokuskan bahwa dakwah selalu diidentikkan dengan mimbar. Setelah berkembangnya ilmu oengetahuan dan teknologi, proses dakwah pun berkembang dengan pesat. Dakwah tidak hanya dilakukan melalui mimbar, melainkan bisa dilakukan melalui media online, media elektronik maupun media cetak.
    Dengan adanya perkembangan yang demikian ini, maka lahirlah dakwah kontemporer. Dimana dakwah pada kajian budaya kurang berpengaruh di perkotaan apalagi di era sekarang ini dakwah sudah modern. Dakwah menjadi kajian akademik kira-kira abad ke-20 seteah adanya beberapa tulisanyang membicarakan tentang dakwah baik sebagai materi atau sebagai kajian yang bersifa epistimologis dan ditembah berdirinya fakultas dakwah pada beberapa universitas. Dakwah kontemporer adalah dakwah yang dilakukan denngan cara menggunakan teknologi modern yang sedang berkembang, misalnya telecisi, radio, internet, dan lain-lain.
    Bagi masyarakat pedesaan, yang masih kental kultulnya, maka dakwah kontemporer masih sulit menjangkau mereka. Mereka masih berpegang teguh bahwa dakwah selalu diidentikkan dengan kegiatan ceramah yang biasanya lewat mimbar. Alasan kenapa masyarakat pedesaan masih sukar menerima perubahan dikarenakan hal yang tersebut sudah mendarah daging. Secara otomotis psikologi mereka juga lebih senang menerima hal-hal yang sudah pasti benarnya karena sudah sering dilakukan secara berulang-ulang.
    Dalam psikologi dakwah (Totok, 2001:30) menuliskan bahwa dakwah pada dasarnya merupakan proses motivatif dan persuatif, artinya dalam prosesnya dakwah merupakan proses memotivasi dan mempersuasi mad’u agar menerima message dakwah. Proses motivasi dan motivasi sendiri itu bersifat abstrak, artinya proses peralihan lambang atau pesan, baik melalui proses motivasi atau persuasi dari da’i kepada mad’u bukan suatu aktifitas yang dapat dianalisis secara empiris.sehingga secara verifikasi keilmuan, kriteria efektifitasnya sulit, sehingga ada suatu ukuran dan kreteria yang dapat dipertanggungjawabkan secera keilmuan pula. Misalnya kita tempatnkan salah satu hadis Nabi yang artinya “permudahlah dan jangan kau persulit, gembiralah dan jangan kau mengatakan sesuatu yang menyebabkan ia lari dari kamu” kepada utusannya Abu Musa al Asy’ary dan Muadz ibn Jabal ketika hendak berangkat ke Yaman menunaikan misi dakwah yang ditugaskan oleh Rosulullah SAW kepadanya. Pesan tersebut mengandung nilai motivasi dan persuasif terhadap orang lain tentang kebenaran yang disampaikan kepadanya, walaupun pada dasarnya hadist di atas lebih cenderung pada aplikasi metodologi.
    Aplikasi hadist dalam dakwah, baik secara motifasi atai persuasi ukuran hasilnya atau efektifitas teersebut sulit kreterianya. Pengajian umum, khutbah jum`at, dakwah lewat TV, lewat media massa lainnya sama sulitnya menempatkan kreteria yang tepat untuk mengkonklusikan efektifitasnya. Mengutip dari pendapat Stewart L Tub dan Sykvia Noss dalam karyanya “Human communication And Interpersonal Prespekyive”m Drr. Jalludin Rakhmat menyebutkan bahwa tanda-yanda komunikasi yang efektif, paling tidak menumbuhkan lima hal : pengertian, kesenangan, pengaruh dan sikap, hubungan yang makin baik dan tindakan.
    Dakwah yang dilakukan dengan media memibar, mayoritas bersifat oral dan mencangkup lima hal tersebut. Mad’u yang sasarannya adalah masyarakat pedesaan lebih menyukai proses dakwah yang dilakukan dengan cara melihat langsung apa yang dikatakan da’i. Lebih munyakai dai yang proses menyampaikannya menyenangkan dan mengena hati atau lebih tepatnya dengan mau’idzul hasanah. Dan apa fungsinya mimbar disini? Mimbar disini sebagai pembatas antara da’i dan mad’u. Dapat jugadikatakan dengan mimbar, maka da’i tidak mengalami demam panggung yang berlebihan saat menyampaikan pesan dakwah. Berbeda dengan media kontemporer, media kontemporer tidak memenuhi kelima kreteria tersebut. Misal, media internet atau televisi. Mad’u memang melihat apa yang diucapakan dan dilakukan da’i saat brcermah, namun hal tersebut tidak secara langsung. Psikologi dakwahnya kurang mengena. Apalagi jika diterapkan di masyarakat pedesaan yang masih sulit menerima perubahan. Akan sulit sekali dakwah kontemporer terjadi dan dakwah tetaplah diidentikkan dengan proses ceramah di atas mimbar.
    Sedangkan untuk masyarakat perkotaan yang masyoritas sudah mengeenl adanya perubahan dan condong mengikuti perkembangan teknologi. Dakwah melalui mimbar pun atau melalui media internet, televisi, media cetak, mereka dapat menerima semua itu. Bahkan mereka akan lebih mengatakan lebih efekyifan dakeah yang dilakukan melalui media kontemoprer. Semua itu tergantung dari segi mana mad’u berada, kondisi geografis, lingkungan dan faktor pebgetahuan juga menentukan bagaimana seseorang menilai keefejtifan dakwah melalui mimbar atau media kintemporer. Jelasnya, diera modern ini, dakwah tidak hanya melalui mimbar, dakwah sudah berkembang melalui media kontemporer dan mimbar sendiri saat ini sudah tidak hanya digunakan untuk proses berdakwah, melainkan digunakan juga untuk kegiata-kegiatan umum lainnya dalam berpidato.

    E.       PENUTUP
    Demikianlah tulisan yang berjudul “Posisi Da’i Dalam Berceramah Lewat Mimbar di Era Kontemporer” dari hasil penulis melalui literatur dan analisis dari konsisi masyarakat sekitar. Dari hasil tulisan tersebut, peran da’i dalam berdakwah melalui mimbar cukup signifikan, tapi di era kontempore saat ini, ceramah tidak hanya diidentikkan dengan mimbar saja. Banyak media lain seperti media internet, elektronik dan media cetak. Keseluruhan media mempunyai fungsi yang sama dalam hal penyampaian informasi. Hanya beberapa orang pedesaan yang masih sulih mengubah adanya perubahan dakwah di era kontemporer. Mereka masih menganggap dakwah melalui mimbarlah yang efektif dibandingkan dengan dakwah melalui media kontemporer. Oleh karena itu, sebagai seorang mad’u yang kritis harus mampu memilih media yang baik dan benar dalam menerima pesan dakwah.

    DAFTAR PUSTAKA
    Aziz, Ali. 2004. Ilmu Dakwah. Jakarta: Prenadamedia Group
    Jumantoro, Totok. 2001. Psikologi Dakwah. Wonosobo:Amzah
    http://immdakwahpwt.blogspot.co.id/2011/09/dakwah-kontemporer.html?m=1
    http://a5-kelompok2kpiaiv.blogspot.co.id/2011/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html?m=1



    by: six group
    Tania Pramayuani
    Rahayu Susanti
    Nur Layli
    Salisatul Azizah