Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

4/15/2017

STORY

By: Catatan Tania P On: 02.29
  • Share The Gag
  • Warna Sosialisasi Jurusan


    Sabtu, tepatnya tanggal 15 April 2015, sebagian mahasiswa KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) sosialisasi jurusan beserta lomba menulis yang akan diadakan pada tanggal 25 April nanti kepada siswa-siswi SMA/MA/SMK se Tulungagung. Lomba menulis cerpen ini nantinya akan diadakan sebelum acara inti, yaitu dua  hari sebelum Bedah Film dan Talkshow Asma Nadia. hal ini dimaksudkan untuk memotivasi para generasi muda agar tidak takut menulis sekaligus mengenalkan kepada mereka bahwa menulis itu menyenangkan dan menulis merupakan bagian dari hidup.
    Sebelumnya, surat perijinan sosialisasi sudah diantar ke sekolah yang bersangkutan dua hari sebelum hari-H. Dan hari ini merupakan jadwal mengantar surat perijinan sosialisasi di SMA/MA. Memang jika dibilang telat, memang benar. Tapi daripada tidak sama sekali khan lebih baik mencoba. Hehe. Oh iya, bloggers, maaf ya, dalam postigan penulis ini, santai saja ya sifatnya. Begitu juga dengan bahasanya. penulis juga pakai yang santai. Okay siip.
    Acara sosialisasi dan pengantar perijinan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB, tapi yaa seperti yang kita kira kalau kita punya budaya jam karet. Akhirnya mulainya jam sembilan. Setelah itu, kami dibagi menjadi beberapa tim, penulis kebagian yang sosialisasi dan beberapa teman penulis yang lain kebagian mengantar surat perizinan di SMA/MA se-Tulungagung. Penulis pun juga molor datangnya, hehe makhlum sibuk di rumah.
    Sasaran yang penulis tuju adalah SMK 2 Muhamadiyah, SMK Islam Al Khoiriyah dan SMAN Kalidawir. Pada sekolah yang pertama ini semuanya lancar. Alhamdulillah walau menunggu cukup lama tapi akhirnya tetap tepat sasaran juga dan penulis beserta teman penulis, Regita dapat menyampaikan secara langsung maksud kedatangan kami ke sekolah tersebut kepada siswanya.
    Kami pulang dari SMK 2 Muhammadiyah kurang lebih sekitara pukul 10.30, karena selain ngobrol bareng siswanya, ternyata beberapa guru juga tertarik untuk face to face dengan kami, akhirnya waktu kami jadi molor. Tapi tidak apa-apa yang penting sama-sama berbagi. Kemudian kami melanjutkan ke SMK Islam Al Khoiriyah, disana tim sosialisasi dibagi dua, penulis kebagian di lantai atas, dan dua orang teman penulis kebagian di lantai bawah. Respon mereka cukup baik bahkan ada yang sampai memvidio sekaligus mencuri-curi foto penulis. Hehe iya sih penulis dan teman-teman penulis pura-pura sok tidak tau dan tetap ngomong gitu.
    Setelah itu penulis bersama tiga orang teman penulis meluncur menuju SMAN Kalidawir. Semua orang yang berangkat kesana sama-sama tidak ada yang tau persis letaknya. Akhirnya kami mengandalkan bantuan GPS. Awalnya penulis kira lokasi yang kami tuju dekat, ternyata lokasinya lumayan jauh. Dan kami prediksi siswa SMA pulang jam tiga, sehingga kami berpikir akan cukup waktu untuk kesana.
    Satu jam lebih kami berjalan tetap tidak sampai juga. Semakin lama, jalur yang ditunjukkan oleh GPS menuju ke arah dataran tinggi. Ya walaupun begitu tetap penulis ikuti. Sampailah pada tanjakan yang cukup tinggi dengan tikungan kimiringan kurang lebih 55 derajat. Saat itu bukan penulis yang kebagian meyetir, penulis bagian mencari lokasi di GPS. Awalnya penulis kira, teman penulis, Regita tau tanpa penulis beritahu kalau sekolah yang dituju itu sebelah kiri jalan, dan memang dari jauh sudah kelihatan. Tapi pas sampai di depan sekolah, Regita malah menambah gasnya dan terus naik sampai lima ratus meter dari lokasi sekolah. Penulis tidak berani memberitahu kalau sudah melewati sekolah yang dituju, masalahnya, medannya tidak memungkinkan untuk menengok atau berbicara walau sedikitpun jika belum terbiasa di jalan seperti itu, akhirnya setelah jalan lumayan tak menanjak lagi, penulis memberi tahu bahwa sekolah yang kita tuju ada di bawah sana. Spontan, kami semua heran sekaligus tertawa karena telah melewati lokasi. Anehnya, dua orang teman penulis juga, Laili dan Yaya juga ikut-ikutan salah. Dan akhirnya si Regita dan Laili turun naik motor, sementara penulis dan Yaya turun jalan kaki.
    Perjalanan menuju lokasi telah berakhir dan sampai pada tahap kita mengantarkan undangan ke sekolah. Setalah lumayan lama kita istirahat, penulis dan regita masuk ke kantor kepala sekolah. Dan hal yang membuat kami cukup kecewa adalah, setengah jam lagi seluruh siswanya akan pulang. Seketika rasa letih itu semakin bertambah karena jauh-jauh datang ternyata kami tidak bisa menemui siswanya. Akhirnya sosialisasi ditunda pada hari senin lusa. Ya walaupun demikian, panorama indah sekitar membuat kami semua cukup bahagia. Dimana lagi da kapan lagi ini semua dapat kami lakukan dan alami jika tidak saat ini. Pelajaran bermanfaat dari perjalan penulis dan teman-teman penulis kali ini adalah bahwa segala sesuatu kadang tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan walaupun kita telah mengaturnya baik-baik. Hanya Allah lah pemilik segala keputusan dan ketetapan. Dan kita sebagai makhluknya hanya berusaha. Tetap semangat untuk berdakwah di jalan manapun yang kita bisa. seperti halnya pelangi, dalam dakwah selalu ada warna tersendiri begitu pula dengan cerita hari ini, entah cerita-cerita mana lagi yang akan penulis posting dan semoga dapat memberi manfaat postinga penulis.

    4/14/2017

    Feature (Human Interest)

    By: Catatan Tania P On: 09.44
  • Share The Gag

  • Semangat Wanita Satu Kaki
    oleh Tania Pramayuani


    “Di tengah keterbatasan sumberdaya manusia yang mayoritas lebih suka mengerjakan hal yang menguntungkan, hal demikian tidak terjadi pada sosok Katemi, warga Desa Junjung-Kec Boyolangu-Kab Tulungagung”

    Giat-semangat berkreatifitas yang tak surut

    Keterbatasan fisik yang dialami oleh Katemi Djani, perempuan berusia 75 tahun ini tidak menyurutkan niatannya untuk bekerja. Katemi tidak pernah mengeluh akan kondisi yang menimpanya. “Saya biasa saja dengan kondisi saya. Saya tetap bekerja. Daripada menganggur kan tidak enak” katanya. Katemi bekerja serabutan dan perolehan gaji sehari sesuai dengan berapa banyak dia dapat mengerjakan pekerjaannya. Dia hanya mempunyai dua pilihan. Yaitu bekerja seadanya atau tidak bekerja sama sekali. Katemi sendiri menjelaskan bahwa dia tidak suka menganggur. Sejak usia muda, dia terbiasa hidup susah. Saat mengalami masa susahnya usai kecelakaan delapan tahun lalu, membuatnya harus kehilangan kaki kanannya. Kendati demikian, semangat untuk bekerja masih ada dalam diri wanita yang sudah memiliki satu cicit ini.
    Katemi hidup bersama dengan anaknya yang nomor lima. Jumlah semua anaknya ada sembilan. Enam orang adalah laki-laki dan tiga orang adalah perempuan. Semua anaknya sangat menyayangi Katemi. Hal ini dapat dilihat saat perempuan yang sudah keriput ini diwawancarai, salah satu anak perempuannya yang tidak mau disebutkan namanya menolak untuk diwawancarai. Sedangkan keenam anaknya yang lain, sudah bekerja dan mereka semua merantau ke Malaysia. Alasan Katemi untuk bekerja selain untuk meringankan beban anak-anaknya terhadap dirinya adalah untuk mencukupi sendiri kebutuhannya. Dia mempunyai prinsip selagi masih mampu melakukan hal yang bermanfaat kenapa tidak melakukannya. “Setiap sebulan sekali anak saya memberi uang pada saya seratus ribu. Tapi saya tidak mau hanya menengadah kepada mereka” tambahnya.
    Nama katemi yang diperolehnya adalah nama yang diberikan oleh warga setempat. Hal ini dikarenakan dalam satu lingkungan ada tiga nama Katemi sekaligus. Salah satu diantaranya adalah Katemi Dani. Katemi Dani adalah sahabat akrab dari Katemi Djali. Katemi Dani mengatakan bahwa dia sering datang ke rumah Katemi Djali untuk membantu Katemi Djali. Namun hal ini dibantah oleh Katemi Djali. “Saya mengerjakan ini sendirian dan tidak ada yang membantu saya semua anak-anak saya juga sudah bekerja dan sibuk dengan urusannya masing-masing” jlentrehnya.
    Setiap hari Katemi menjalankan rutinitas kerjanya mulai Pukul 07.00 wib sampai pukul 14.00 wib. Dalam sehari Katemi mampu menghasilkan empat puluh bagian bawah sapu. Pada kali pertama bekerja, Katemi hanya mampu menghasilkan lima bagian bawah sapu. Sebelum menekuni pekerjaannya membuat bagian bawah sapu, wanita yang mulai kendur kantong matanya ini bekerja menggaru blakarayung (bahan aren dan rayung yang digunakan untuk bahan dasar sapu:red). Namun karena faktor keterbatasan jumlah pekerja, Jumiran, pemroduksi sapu, mengganti pekerjaan Katemi dari penggaru blakarayung menjadi pembuat bagian bawah sapu dari blakarayung. Katemi jelas mau menerimanya, karena upah antara keduanya berbeda. Upah menggaru satu kilogramnya Rp 500,00 sedangkan upah membuat bagian bawah sapu per bijinya Rp 250,00. Dalam sehari peghasilan menggaru memperoleh Rp 7500,00 sedang membuat bagian bawah sapu memperoleh penghasilan Rp 10000,00 dalam sehari.
    Katemi tidak mengambil sendiri barang yang dikerjakannya itu. Anak Jumiran mengirimkannya ke Rumah Katemi. Jumiran maklum dengan hal ini dikarenakan kondisi Katemi. Martina, istri Jumiran mengatakan bahwa dia memperkerjakan Katemi dikarenakan faktor kasihan. Katemi sendiri sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Martina. “Iya saya tahu kalau mereka memperkerjakan saya karena faktor belas kasihan. Tapi daripada saya tida bekerja, lebih baik saya bekerja walaupun penghasilnya sedikit” tutur Katemi dengan mata berkaca-kaca.
    Menurut pendapat Katemi, Jumiran adalah orang yang baik. Dia tidak begitu mempermasalahkan apa alasan Jumiran memperkerjakannya. Asalkan dia bisa bekerja dan mendapatkan uang apapun itu akan dilakukan. Ketua RT setempat juga mengungkapkan bahwa Jumiran adalah orang yang baik. Dia sering menghibahkan sapunya ke masjid Nurul Huda. Selain itu jika ada tetangga yang membeli sapunya, Jumiran juga membelikan potongan harga. Usaha yang digelutinya sejak muda itu adalah usaha turun temurun dari keluarganya. Dia berniat untuk melestarikan usaha itu. Dan dia sangat bersyukur saat ada orang yang mau bekerja dengannya. “Jumah pekerja saya ada lima orang. Yang dua orang sedang cuti dan yang dua orang salah satunya adalah tetangga di sampng rumah saya ini dan ibu Katemi” jelasnya. Jumiran juga mengatakan bahwa mereka yang bekerja dengannya adalah saudaranya sendiri.
    Dalam menjalankan rutinitasnya sehari-hari, Katemi sering mengalami rasa sakit pada kakinya yang diamputasi. Salah satu tahapan dalam membuat bagian bawah sapu adalah memasangkan tali sebelum mengkatkannya dengan blakarayung. Saat memasangkannya talinya membutuhkan usaha keras. Karena hanya memiliki satu kaki, Katemi menggunakan kaki kirinya itu untuk menarik kuat talinya. Usai menarik biasaya jika terlalu letih dia akan merasakan sakit pada kaki dan punggungnya. “Saya sebenanya bisa sehari menghasilkan lima puluh bagian bawah sapu. Namun saya harus bekerja keras dulu. Setelah saya melakukan hal itu, biasanya kaki dan pungung saya sering pegal” katanya.
    Rasa sakit yang dihadapi oleh Katemi memngingatkannya akan peristiwa kecelakaaan yang menimpanya delapan tahun lalu. Saat menjelaskan tentang bagaimana kronologis terjadinya kecelakaan, Katemi berkaca-kaca. Namun dia tidak memperpanjang masalah dengan orang yang menabraknya. Kecelakaan itu terjadi di depan Puskesmas Beji. Saat itu, Katemi berniat ingin berobat ke Dokter Marwan. Naas, saat itu juga sebuah sepedah motor menabraknya dan menyebabkan dia harus dilarikan ke rumah sakit Dokter Iskak Tulungagung. Penanganan medis sudah dilakukan secepat mungkin, ternyata hasil yang diharapkan tidak maksimal. Pihak rumah sakit Dokter Iskak Tulunggung tidak mampu mengatasi lebih lanjut mengenai kaki kanan Katemi.  Pihak Rumah sakit merujuk Katemi untuk berobat di salah satu rumah sakit di Solo. “Kaki saya semakin lama semakin membusuk dan rumah sakit sini merujuk saya ke rumah sakit lain” bebernya.
    Kendati sudah dibawa k rumah sakit lain, nasib malang masih menimpa Katemi. Perempuan yang dulunya bekerja sebagai petani ini harus memberi persetujuan untuk mengamputasi kakinya di rumah sakit yang ada di Solo. Pasalnya semakin lama kondisiya semakin parah dan tidak ada pilihan lain. Keseluruhan biaya yang digunakan untuk proses oprasi Rp 50.000.000,00. Sedang dari pihak penabrak hanya mampu memberikan bantuan dana Rp 11.000.000,00. Dari jasa raharja, Katemi mendapat bantuan dana Rp 10.000.000,00 dan sisa biayanya ditanggung oleh pihak keluarga Katemi sendiri. Katemi tidak menyalahkan apa yang terjadi pada dirinya dan dia tetap berusaha menjadi manusia yang tidak bergantung pada orang lain. “Yang terpenting saya masih mempunyai pekerjaan yang dapat saya lakukan sehari-hari. Walau penghasilannya kecil saya akan tetap melakukannya”tambahnya. (tan)

    Jurnal Media Dakwah

    By: Catatan Tania P On: 08.37
  • Share The Gag
  • Jurnal Media Dakwah
    Posisi Da’i Dalam Berceramah Lewat Mimbar di Era Kontemporer”


    Abstrak:
    Zaman dahulu da’i sering diidentikkan dengan mimbar. Dimana ada mimbar, maka disitu ada da’i. Secara umum, mimbar memang merupakan tempat untuk berdakwah. Namun, cangkupannya mimbar cukup luas. Antara mimbar dan podium memiliki arti yang sama. Sama-sama merupakan tempat untuk melakukan pidato/ceramah. Hanya dalam ranah penggunaaannya yang berbeda. Jika mimbar diidentikkan dengan religiusitas, sedangkan podium lebih identik dengan tempat pidato yang sifatnya general. Karena adanya dua hal yang berbeda ini, dengan diiringi perkembangan teknologi dan informasi, maka cara da’i berdakwah tidak hanya sebatas di mimbar saja. Dakwah menuju pada zaman kontemporer, dimana media internet, eloktronik dan cetak digunakan sebagai media untuk berdakwah. Kendati banyak media yang bermunculan, posisi mimbar sebagai tempat dakwah bagi da’i masih cukup penting. Tingkat asumsi yang menganggap penting atau tidakkah, efektif tidaknya ceramah lewat mimbar menjadi bahasan yang hangat di kalangan masyarakat. Antara masyarakat pedesaan dan perkotaan mempunyai cara pandang tersendiri dalam menyikapi dakwah di masa kontemporer ini.

    Kata Kunci : ceramah, mimbar, dakwah, era kontemporer

    A.    PENDAHULUAN
    Istilah dakwah dalam agama Islam nampaknya tidak asing lagi, bahkan sudah popular di kalangan masyarakat. Namun demikian yang sering kita jumpai sekarang bahwa istilah dakwah oleh kebanyakan orang diartikan hanya sebatas pengajian, ceramah, khutbah, atau mimbar seperti hal nya yang dilakukan oleh para mubaligh, atau khatib. Pada hakikatnya dakwah Islam merupakan aktualisasi iman yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara berfikir, bersikap, dan bertindak.
    Dakwah adalah kegiatan mengajak orang lain, seseorang atau lebih ke jalan Allah Swt. secara lisan (dakwah bil-lisan) dan perbuatan (dakwah bil-hal). Dan salah satu bentuk dakwah adalah khithabah. Kata khithabah dapat diartikan sebagai pidato, ceramah, tabligh dan khutbah. Untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah, seorang da’i atau penceramah dapat menggunakan berbagai media, baik itu media mimbar melalui khitabah (khotbah/ceramah), media cetak (koran, majalah, buku), elektronik (radio, televisi, film, internet), dan sebagainya. Dan tentunya dalam penggunaan media harusdisesuaikan dengan situasi, kondisi serta keadaan mitra dakwah (mad’u).
    Mengingat pentingnya peranan mimbar dalam pelaksanaan dakwah Islam, maka bagi pendakwah yang akan menyampaikan ceramah melalui mimbar harus memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang retorika, menguasai teknik ceramah dan menguasai norma-normanya serta harus melakukan persiapanpersiapan yang matang sehingga ketika sudah berada di atas mimbar tidak mengalami demam panggung ataupun kebingungan.
    Dakwah yang menggunakan fasilitas mimbar hanya akan di dengar sebatas yang hadir pada acara tersebut. Lain halnya dengan dakwah yang menggunakan fasilitas teknologi elektronik seperti TV, internet dan teknologi modern lainnya, akan lebih banyak manfaatnya. Materi dakwah yang tepat untuk menghadapi masyarakat modern ini adalah materi kajian yang bersifat tematik. Artinya Islam harus di kaji dengan cara mengambil tema-tema tertentu yang sesuai dengan tuntutan zaman.

    B.     Mimbar dan Ceramah
    Mimbar dalam bahasa Arab adalah Minbar . dalam kaidah bahasa Arab berasal dari kalimat Nabaru, Yanbaru, Nabran, Manbarun, Nabirun, Manbirun, Inbar, La tanbar, Minbarun. Mimbar adalah podium di masjid dimana imam (pemimpin do’a) berdiri untuk memberikan ceramah(khutbah) atau di Hussaina tempat pembicara duduk di depan jemaah. Kata mimbar adalah turunan dari akar kata Nabara berarti untuk meningkatkan, bentuk jamak Arab Manabir.
    Sementara mimbar biasanya memiliki fungsi lebih mirip dengan sebuah podium, menekankan kontak dengan penonton. Mimbar biasanya berbentuk seperti sebuah menara kecil dengan atap runcing dan tangga menuju kesana. Beberapa percaya dekorasi itu adalah bagian dari sunnah, bahkan mimbar Nabi Muhammad SAW hanya memiliki platform dengan 3 langkah. Mimbar ini terletak disebelah kanan mihrab, ceruk yang menunjukkan arah sholat yaitu menuju Makkah.
    Mimbar merupakan media dakwah yang paling populer dimasyarakat, baik masyarakat pinggiran maupun masyarakat perkotaan. Mimbar biasa digunakan pada saat khutbah Jum’at, Idul Fitri, Idul Adha dan pengajian-pengajian hari besar Islam baik di Kampung maupun di Masjid, bahkan di Hotel atau di Gedung.
    Tujuan khutbah dengan menggunakan mimbar adalah agar jama’ah dapat lebih terfokus pada satu pandangan. Mimbar biasanya dibuat lebih tinggi dari lantai dengan tujuan agar penceramah bisa melihat secara langsung kepada jama’ah.
    Dari segi model mimbar ada dua macam, yaitu:
    1.    Mimbar bertangga (terbuka): Mimbar yang bertangga biasanya yang khutbah   membawa tongkat.
    2.    Mimbar tidak bertangga (tertutup): Tidak membawa tongkat.
    Ceramah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pidato oleh sesorang dihadapan banyak pendengar, mengenai suatu hal, pengetahuan dan sebagainya. Ceramah termasuk dakwah bi al-lisan dan dakwah tindakan. Jenis-jenis Ceramah, yaitu: (Ali, 2004:359)
    1.             Ceramah Umum adalah pidato yang bertujuan untuk memberikan nasehat kepada khalayak umum atau masyarakat luas. Di dalam ceramah umum ini keseluruhannya bersifat menyeluruh, tidak ada batasan-batasan apapun baik dari audiens yang tua muapun muda, materinya juga tidak ditentukan, sesuai dengan acara.
    2.             Ceramah Khusus adalah ceramah yang bertujuan untuk memberikan nasehat-nasehat kepada mad’u namun terdapat batasan-batasan yang dibuat mulai dari audiens yang sesuai dengan yang diinginkan dan materi juga harus disesuaikan dengan keadaan.
    Unsur-Unsur Ceramah:
    a.       Da’i (penceramah)
    Seorang da’i atau pencermah harus mengetahui bahwa dirinya adalah seorang da’i atau pencermah, artinya sebelum menjadi penceramah perlu mengetahui apa tugas dari pencermah, modal dan bekal itu sendiri atas apa yang harus dimiliki oleh seorang pencermah.
    b.      Mad’u
    Mad’u atau audiens merupakan sebagai penerima nasehat-nasehat. Audiens bermacam-macam kelompok manusia yang berbeda mulai dari segi intelektualitas, status ekonomi, status sosial, pendidikan, jenis kelamin dll.
    c.       Materi
    Agar lebih menggugah pemikiran para mad’u atau audiens untuk mendengarkan materi-materi yang diberikan oleh penceramah atau da’i. Oleh sebab itu, seorang da’I harus dapat memiliki bahan yang tepat atau menarik agar si mad’u tertarik, dan sesuai dengan pokok acara, materi yang akan disampaikan harus betul-betul dikuasai sehingga penampilan penuh keyakinan, tidak ragu, dan jangan sampai menghilangkan konsentrasi dirinya sendiri. Dengan itu, materi harus disusun secara sisitematis, dengan artian judul, isi, dan acara tersebut sifatnya betul-betul mempunyai hubungan. Sehingga pembahasan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. 
    Teknik Dalam ceramah di bagi menjadi tiga yaitu:
    1.    Teknik Persiapan Ceramah
         Ada dua persiapan pokok sebelum berceramah  yaitu persiapan mental dan persiapan materi ceramah. Ada dua jenis persiapan ceramah yaitu :
    a)    Menggunakan teks (manuskrip)
    b)   Dengan menghafal 
    2.    Teknik Penyampaian Ceramah
    a)    Langsung menyebutkan topic ceramah
    b)   Menjabarkan latar belakang masalah
    c)    Mengaitkan dengan peristiwa yang sedang hangat
    d)   Menghubungkan dengan sejarah masa lalu
    e)    Mengisahkan cerita factual  ataupun fiktif
    f)    Memberikan humor
    g)   Mengajukan pertanyaan-pertanyaan provokatif
    h)   Menceritakan pengalaman pribadi
    3.         Tehnik penutupan ceramah
    Bagian pembukaan dan penutupan adalah bagian yang menentukan. Penutupan harus memfouskan pikiran dan gagasan pendengar. Adapun teknik penutupan sebagai berikut :
    a)                  Mengemukakan ikhtisar ceramah
    b)                  Memberikan dorongan untuk bertindak
    c)                  Mengakhiri dengan klimaks
    d)                  Menambahkan kutipan sajak, kitab suci, dll.
    e)                  Menjelasan maksud yang sebenarnya
    Ceramah yang terbaik adalah dengan menggunakan catatan garis besar saja (ekstempore). Ini adalah ceramah yang paling populer dan banyak dipakai oleh ahli-ahli ceramah. Pembicara tidak mempersiapkan dan menyusun ceramah kata demi kata serta tidak perlu menghafal keseluruhan isi pidato, akan tetapin ia hanya menyusun outline dari isi ceramah yang akan disampaikan yang dianggap dapat mengorganisasi dan mensistematisasi keseluruhan kesan ceramah.
    Keuntungan eksptempore ialah komunikasi pendengar yang lebih baik karena pembicara berbicara secara langsung kepada khalayak, pesan dapat feksibel untuk dapat diubah sesuai dengan kebutuhan saat itu serta penyajiannya lebih spontan.
      
    C.    Mimbar Sebagai Media Dakwah oleh Da’i
    Penggunaan mimbar sebagai media dakwah sudah tidak asing lagi, bahkan saat ini semua orang sudah mengetahui apa itu mimbar. Dan setiap seseorang mengucapkan kata “mimbar”, maka midset akan langsung terkoneksikan dengan kata “da’i”. Memang mimbar dan da’i tidak dapat dipisahkan. Mimbar merupakan tempat dimana seorang da’i berceramah, sedangkan da’i sendiri adalah pelakunya (orang yang berceramah). Mimbar biasanya ada di masjid-masjid. Kadang di sekolah juga ada mimbar. Tapi mimbar yang ada di sekolah lebih tepatnya disebut dengan podium. Antara podium dan mimbar sama saja hanya penempatan istilahnya yang tidak sama. Kalau mimbar dikhususkan untuk ranah keagamaan, seperti ceramah di masjud, sedangkan podium diidentikkan dengan pidato berkaitan dengan masalah umum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia podim adalah tempat untuk berpidato.
    Penggunaan mimbar sudah ada secak dakwah zaman Rosulullah. Sebuah hadist Abdululah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rosulullah SAW apabila telah duduk di atas mimbar, maka Beliau berhadapan dengan muka kami. Riwayat Tirmidzi dengan sanad lemah.  Dari hadist tersebut, walaupun sanadnya lemah, tapi telah dijelaskan bahwa mimbar memang digunakan sebagai media berdakwah.

    D.    Pandangan Masyarakat Terhadap Ceramah Lewat Mimbar
    Dewasa ini, masyarakat tidak hanya memfokuskan bahwa dakwah selalu diidentikkan dengan mimbar. Setelah berkembangnya ilmu oengetahuan dan teknologi, proses dakwah pun berkembang dengan pesat. Dakwah tidak hanya dilakukan melalui mimbar, melainkan bisa dilakukan melalui media online, media elektronik maupun media cetak.
    Dengan adanya perkembangan yang demikian ini, maka lahirlah dakwah kontemporer. Dimana dakwah pada kajian budaya kurang berpengaruh di perkotaan apalagi di era sekarang ini dakwah sudah modern. Dakwah menjadi kajian akademik kira-kira abad ke-20 seteah adanya beberapa tulisanyang membicarakan tentang dakwah baik sebagai materi atau sebagai kajian yang bersifa epistimologis dan ditembah berdirinya fakultas dakwah pada beberapa universitas. Dakwah kontemporer adalah dakwah yang dilakukan denngan cara menggunakan teknologi modern yang sedang berkembang, misalnya telecisi, radio, internet, dan lain-lain.
    Bagi masyarakat pedesaan, yang masih kental kultulnya, maka dakwah kontemporer masih sulit menjangkau mereka. Mereka masih berpegang teguh bahwa dakwah selalu diidentikkan dengan kegiatan ceramah yang biasanya lewat mimbar. Alasan kenapa masyarakat pedesaan masih sukar menerima perubahan dikarenakan hal yang tersebut sudah mendarah daging. Secara otomotis psikologi mereka juga lebih senang menerima hal-hal yang sudah pasti benarnya karena sudah sering dilakukan secara berulang-ulang.
    Dalam psikologi dakwah (Totok, 2001:30) menuliskan bahwa dakwah pada dasarnya merupakan proses motivatif dan persuatif, artinya dalam prosesnya dakwah merupakan proses memotivasi dan mempersuasi mad’u agar menerima message dakwah. Proses motivasi dan motivasi sendiri itu bersifat abstrak, artinya proses peralihan lambang atau pesan, baik melalui proses motivasi atau persuasi dari da’i kepada mad’u bukan suatu aktifitas yang dapat dianalisis secara empiris.sehingga secara verifikasi keilmuan, kriteria efektifitasnya sulit, sehingga ada suatu ukuran dan kreteria yang dapat dipertanggungjawabkan secera keilmuan pula. Misalnya kita tempatnkan salah satu hadis Nabi yang artinya “permudahlah dan jangan kau persulit, gembiralah dan jangan kau mengatakan sesuatu yang menyebabkan ia lari dari kamu” kepada utusannya Abu Musa al Asy’ary dan Muadz ibn Jabal ketika hendak berangkat ke Yaman menunaikan misi dakwah yang ditugaskan oleh Rosulullah SAW kepadanya. Pesan tersebut mengandung nilai motivasi dan persuasif terhadap orang lain tentang kebenaran yang disampaikan kepadanya, walaupun pada dasarnya hadist di atas lebih cenderung pada aplikasi metodologi.
    Aplikasi hadist dalam dakwah, baik secara motifasi atai persuasi ukuran hasilnya atau efektifitas teersebut sulit kreterianya. Pengajian umum, khutbah jum`at, dakwah lewat TV, lewat media massa lainnya sama sulitnya menempatkan kreteria yang tepat untuk mengkonklusikan efektifitasnya. Mengutip dari pendapat Stewart L Tub dan Sykvia Noss dalam karyanya “Human communication And Interpersonal Prespekyive”m Drr. Jalludin Rakhmat menyebutkan bahwa tanda-yanda komunikasi yang efektif, paling tidak menumbuhkan lima hal : pengertian, kesenangan, pengaruh dan sikap, hubungan yang makin baik dan tindakan.
    Dakwah yang dilakukan dengan media memibar, mayoritas bersifat oral dan mencangkup lima hal tersebut. Mad’u yang sasarannya adalah masyarakat pedesaan lebih menyukai proses dakwah yang dilakukan dengan cara melihat langsung apa yang dikatakan da’i. Lebih munyakai dai yang proses menyampaikannya menyenangkan dan mengena hati atau lebih tepatnya dengan mau’idzul hasanah. Dan apa fungsinya mimbar disini? Mimbar disini sebagai pembatas antara da’i dan mad’u. Dapat jugadikatakan dengan mimbar, maka da’i tidak mengalami demam panggung yang berlebihan saat menyampaikan pesan dakwah. Berbeda dengan media kontemporer, media kontemporer tidak memenuhi kelima kreteria tersebut. Misal, media internet atau televisi. Mad’u memang melihat apa yang diucapakan dan dilakukan da’i saat brcermah, namun hal tersebut tidak secara langsung. Psikologi dakwahnya kurang mengena. Apalagi jika diterapkan di masyarakat pedesaan yang masih sulit menerima perubahan. Akan sulit sekali dakwah kontemporer terjadi dan dakwah tetaplah diidentikkan dengan proses ceramah di atas mimbar.
    Sedangkan untuk masyarakat perkotaan yang masyoritas sudah mengeenl adanya perubahan dan condong mengikuti perkembangan teknologi. Dakwah melalui mimbar pun atau melalui media internet, televisi, media cetak, mereka dapat menerima semua itu. Bahkan mereka akan lebih mengatakan lebih efekyifan dakeah yang dilakukan melalui media kontemoprer. Semua itu tergantung dari segi mana mad’u berada, kondisi geografis, lingkungan dan faktor pebgetahuan juga menentukan bagaimana seseorang menilai keefejtifan dakwah melalui mimbar atau media kintemporer. Jelasnya, diera modern ini, dakwah tidak hanya melalui mimbar, dakwah sudah berkembang melalui media kontemporer dan mimbar sendiri saat ini sudah tidak hanya digunakan untuk proses berdakwah, melainkan digunakan juga untuk kegiata-kegiatan umum lainnya dalam berpidato.

    E.       PENUTUP
    Demikianlah tulisan yang berjudul “Posisi Da’i Dalam Berceramah Lewat Mimbar di Era Kontemporer” dari hasil penulis melalui literatur dan analisis dari konsisi masyarakat sekitar. Dari hasil tulisan tersebut, peran da’i dalam berdakwah melalui mimbar cukup signifikan, tapi di era kontempore saat ini, ceramah tidak hanya diidentikkan dengan mimbar saja. Banyak media lain seperti media internet, elektronik dan media cetak. Keseluruhan media mempunyai fungsi yang sama dalam hal penyampaian informasi. Hanya beberapa orang pedesaan yang masih sulih mengubah adanya perubahan dakwah di era kontemporer. Mereka masih menganggap dakwah melalui mimbarlah yang efektif dibandingkan dengan dakwah melalui media kontemporer. Oleh karena itu, sebagai seorang mad’u yang kritis harus mampu memilih media yang baik dan benar dalam menerima pesan dakwah.

    DAFTAR PUSTAKA
    Aziz, Ali. 2004. Ilmu Dakwah. Jakarta: Prenadamedia Group
    Jumantoro, Totok. 2001. Psikologi Dakwah. Wonosobo:Amzah
    http://immdakwahpwt.blogspot.co.id/2011/09/dakwah-kontemporer.html?m=1
    http://a5-kelompok2kpiaiv.blogspot.co.id/2011/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html?m=1



    by: six group
    Tania Pramayuani
    Rahayu Susanti
    Nur Layli
    Salisatul Azizah



    2/27/2017

    Babad Kota Kecil, Penuh dengan Sejarah

    By: Catatan Tania P On: 10.00
  • Share The Gag
  • Babad Kota Kecil, Penuh Dengan Sejarah


    Pare adalah sebuah kota kecil yang secara administrasif masuk dalam wilayah Kabupaten Kediri. Pare, saat ini sudah terkenal sampai seluruh Indonesia. Dan kota kecil ini, dikenal dengan penyebutannya “Kampung Inggris”. Berbagai kalangan yang ingin mendalami kemampuan bahasa Inggris, mereka akan datang ke Pare. Tidak hanya dari kalangan pelajar atau mahasiswa. Para dosen, karyawan juga banyak yang datang ke Pare untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Dan dari segi biaya pun juga tidak terlalu mahal.
    Pare sendiri pada mulanya merupakan kota biasa yang penduduknya tentram, sederhana dan ciri khasnya adalah lingkungan pesantren. Sebelum didiran kursus bahasa Inggris pertama di Pare, yaitu BEC, pare sudah cukup terkenal dengan keislamannya di kalangan para pembesar kerajaan. Pada saat itu, zaman masih dikuasai oleh Belanda. Sebelumnya, kota kecil ini bukan bernama Pare. Pare adalah sebuak akronim dari kata “PANGLERENAN”, dimana dalam bahasa Jawa kata ini bermakna tempat istirahat. Disebut sebagai tempat istirahat, karena pada masa kerajaan, dahulu di daerah ini sering digunakan untuk tempat peristirahatan para demang atau raja yang melakukan perjalan ke mataram atau sebaliknya. Selain itu, pada masa koloni, di kota ini juga digunakan sebagai tempat peristirahatan Belanda. Banyak didirikan sebuah tenda-tenda dan posko pristirahatan di kota ini. Selanjutnya pada masa PKI pun, lagi-lagi tempat ini juga digunakan untuk tempat persinggahan mereka. Penduduk sekitar akirnya menyebut kota kecil ini dengan nama panglerenan. Kerena lidah orang jawa kesulitan mengucapkan kata panglerenan, dan kata tersebut terlalu panjang, akhirnya kata tersebut dari segi pengucapanya berubah menjadi Pare. Ada satu mitos juga di kota ini, yaitu barang siapa ada pejabat negara yang melintasi kota ini atau singgah di kota ini, maka tidak akan lama, pejabat tersebut akan segera lengser. Dan setiap ada kunjungan kenegaraan, Pare selalu tak pernah menjadi lintasan para pejabat negara. Bahkan kota Kediri pun juga. Tentang kebenaran mitos ini, penulis juga belum tahu. Tapi, para pejabat negara benar meyakini mitos ini.
    Setelah kita mengetahui tentang asal-usul nama Pare, sekarang kita aka lanjut ke sejarah kota Pare atau lebih pasnya tentang babad Pare. Sebelum kota ini dihuni oleh para penduduk, kota ini adalah sebuah hutan belantara dan jarang dihuni oleh para penduduk dikarenakan daerahnya yang sangat angker. Kemudian, VII abad yang lalu, datanglah seorang ayah dari bayi laki-laki yang berusia delapan bulan dari Mataram ke kota ini. Beliau adalah Raden Ngabei Hadiningrat Pranatagama. Beliau datang ke daerah tersebut tujuannya tak lain adalah ingin mendakwahkan islam. Beliau tidak mendakwah islam di daerahnya, Mataram bukan karena tidak mau, malainkan Beliau di Mataram akan dijadikan raja oleh ayahnya, Raden Anom. Tapi Beliau menolak, sedangkan para keluarganya menginginkan Beliau menggantikan ayahnya, sedangkan diri Raden Ngabei sendiri ingin mendakwahkan ajaran islam. Kemudian dia melarikan diri dari Mataram dan membawa putranya yang masih bayi dan sampailah di tempat yang saat ini disebut Pare.
    Langah pertama yang dilakukan Raden Ngabei adalah membangun sebuah tempat pusat dakwah. Saat itu tempat tersebut sangat lebat dangan pepohonan dan mustahil dapat dibangun sebuah rumah. Dan memang benar, Raden Ngabei tidak dapat membangun apapun di tempat itu. Hal ini dikarenakan tempatnya yang angker. Akhirnya Raden Ngabei bertapa di kawah gunung Kelud. Beliau masuk ke dalam kawah Gunung Kelud dan para penghuni kawah tersebut (bangsa jin) merasa terganggu dengan pertapaanya.akhirnya mereka melaporkan kepada ratu mereka, ratu pantai selatan tentang hal ini. Dan ratu pantai selatan akhirnya mendatangai Raden Ngabei dan menyuruhnya untuk pergi dari Gunung Kelud. Tapi Beliau tidak mau, akhirnya Beliau memutuskan mau pergi dari Gunung Kelud dengan sebuah sarat yaitu, ratu pantai selatan harus menyuruh semua pengikutnya yang ada di tempat yang akan dibangun rumah Raden Ngabei untuk pergi. Akhirnya ratu pantai selatan mau, dan sejak saat itulah, daerah yang lebat dan angker bisa dibangun sebuah rumah dan digunakan sebagai pusat dakwah Raden Ngabei.
    Kemana bayi raden Ngabei saat Raden Ngabei berdakwah di Pare?
    Saat masih dalam asuhan, bayi Raden Ngabei diasuh oleh Raden Patah, yaitu seorang kyai diTulungagung yang kali pertama mendirikan pondok Menara, di Mangunsari. Sejarah pembangunan pondok Menara dan jembatan Mangunsari yang ada di Tulungagung juga tidak lepas dari peran serta Raden Ngabei.
    Raden Ngabei mendirikan pondok pesantren di tempat itu dan Beliau jugalah yang telah mengenalkan islam dan mengislamkan raja Jangka Jayabaya dari Kediri. Raden Ngabei mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi kota Kediri, utamanya kota Pare. Menurut kepercayaan penduduk sekitar, kota Pare sampai sekarang masih dilindungi oleh Raden Ngabei. Sehingga sampai sekarang pun, walaupun kota Pare sudah banyak didatangi penduduk se Indonesia, kota ini tetap aman dan tentram dan apapun yang dicari di kota ini ada.
    Karena jasa Beliau yang cukup besar, dan berkat Beliau kota Pare yang dulunya suram, kini menjadi kota yang bersinar. Akhirnya penduduk sekitar memberikan nama kepadanya K.H. Nur Wahid. Nur artinya cahaya dan wahid artinya satu. Maksudnya adalah Mbah Nur Wahid adalah cahaya pertama yang menyinari Pare. Sebenarnya masih ada banyak nama untuk Beliau, karena pada zaman koloni, sseorang yang mempunyai cukup kesaktian akan diburu. Akhirnya Mbah Nur Wahid mempunyai banyak nama. Salah satu namanya juga adalah Mas Jolang.
    Banyak santri dari Mbah Nur Wahid yang akhirnya mendakwahkan islam, termasuk Mbah Patah dari Tulungaung. Dan selain itu, dari keluarganya Mbah Yazid (penggagas dibentuknya kursus Inggris di Pare) merupakan santri Beliau.  Dan tentang Mbah Yazid dan Kampung Inggris Insyaa Alloh akan kita bahas pada posting berikutnya. Sepeninggalan Beliau, dakwahnya diteruskan oleh putranya, yaitu Mbah Magfura yang ketika masih kecil diasuh oleh Mbah Patah. Ketika Mbah Nur Wahid Wafat, makam Beliau akan dibawa ke Mataram oleh para saudara dari Mataram yang telah mengetahu keberadaanya. Tapi, Mbah Magfura melarangnya. Akhirnya Mbah Magfura membuatkan makan untuk ayahnya yang jauh dari sepengetahuan keluarga Mataram. Akhirnya Makan Mbah Nur Wahid berada tidak di dekat Jalan Raya, melainkan ada di belakang dan tidak di area ramai, melainkan di area penduduk. Dan tempat tersebutlah yang dulunya juga merupakan bekas pondok pesantren yang didirikan oleh Mbah Nur Wahid dan sampai sekarang pun sering diziarahi banyak orang.
    Nah, begitulah cerita tentang babad kota Pare. Dan satu lagi mengenai karomah Mbah Nur Wahid adalah sholawat. Mbah Nur Wahid juga merupakan orang yang menganjurkan Mbah Patah untuk membuat menara yang besar di Tulungagung. Atau yang saat ini tersohor sebagai Icon pondok Menara. Pada awalnya pembanguna menara ini di tolak oleh demang Tulungagung, tapi atas perintah gurunya, Mbah Patah tetap membangun menara tersebut. Menara tersebut disejajrkan dengan garis Ka’bah oleh Mbah Nur Wahid. Pada saat proses pembangunan menara sudah selasai, Mbah Nur Wahid melihat kalau menara tersebut belum segari dengan Ka’bah, akhirnya Beliau meluruskannya. Sehingga sampai saat ini pun, menara Mangunsari terlihat miring. Ini dikarenakan Menara tersebut dluruskan dengan garis Ka’bah dan dibleskan oleh Mbah Nur Wahid. (tan) 

    2/20/2017

    TPOEM

    By: Catatan Tania P On: 13.58
  • Share The Gag
  • Lagi
    Lagi...
    Dalam angan terus bersenandung
    Menyebar sendu dan terus berkidung
    Di kira dunia itu tak berempu
    Hingga lupa kalau pemilik tak pernah tidur
    Membuang harapan dan terus mengeluh
    Pada dogtrin yang telah ditempuh
    Katanya ini harus direvisi
    Tak relevan dan tak sesuai dengan misi-misi
    Lagi....
    Dikira takdir itu ditulis tangan
    Dan disamakan dengan pintalan benang
    Yang sesukanya dapat diolah asal hidup senang
    Siapa pemilik hidup yang hakiki?
    Sebuah angan apa sesuatu nyata di hati
    Atau mungkin masih terlalu dini
    Tuk mengulas seluk masalah ini
    Lagi...
    Inilah yang dinamakan ketakutan
    Saat diri dan hati bertentangan
    Mencari dan mengunggulkan argumen dengan penuh alasan
    Saat kenyataan benar menjadi nyata
    Diri malah berkedok dengan kacamata
    Dan mengaku ini bukan goresanku
    Diri tak mampu memintal harap tertentu
    Hanya mampu menjalani dengan segala kemampuanku
    Dan yang terjadi terus mengelak pada waktu
    Kalau semua kenyataan itu sudah ditentu
    Padahal mulanya telah berkoar mengaku
    Kalau tangan mampu menggores harap walau terasa berluka dan berliku
    Dan nyatanya selalu tak pernah merasa akur
    Karena segala sesuatu yang dikerjakan selalu penuh ukur
    Walau secuil harap pun
    Dan dunia selalu berkaca pada semua mata
    Kalau banyak manusia yang kurang bersyukur
    Pada segala sesuatu yang tak pernah tidur
    Lagi,
    Bukan harapan dan kenyataan
    Melainkan desahan suara yang selalu bersamaan
    Bersama buaian tangis malam para peranakan

    TPOEM

    By: Catatan Tania P On: 12.31
  • Share The Gag
  • Kontradiksi Tengah Malam
    Loyal, katamu….
    Adalah suatu kamuflase belaka
    Hanya ongokan bangkai yang menyeringai
    Bak serigala yang haus akan mangsa
    Meraung di atas denting dua belasan
    Mencari mangsa dari gelagak tak bermakna
    Malam…..
    Yang katanya penuh arti
    Tempat nostalgia hati
    Kau pikir malam dapat kau caci maki
    Setelah kian lama tak sempat kau dekati
    Hanya ada dalam imaji yang tak dikehendaki
    Menyerupa hidup tapi mati
    Yang tak pernah tersentuh, tergapai dan terusik
    Tapi tenang dalam rayuan hibernasi
    Menikmati dunia yang dibuatnya sendiri
    Kala si bangkai dilempar di malam yang tak berjanji
    Mungkin si pungguk hanya tersenyum pada bulan ini
    Tak ada harapan yang terobati
    Sejuta kamuflase pungguk yang belum sejati
    Jika kau tau, pungguk tak pernah berusaha barang sedikit
    Dia hanya tersenyum sambil mengamati
    Sedang si bangkai busuk tiap hari menyeringai
    Mengaku serigala yang bukan dari dirinya
    Demi menatap mata si bulan ini
    Tapi waktu tak pernah memihak si bangkai
    Dan menganggap pungguk yang selalu bersanding dengan bulan ini

    2/19/2017

    Manfaat Menuntut Ilmu

    By: Catatan Tania P On: 08.33
  • Share The Gag
  • Assalamu'alaikum Wr.  Wb.
    Bagaimana kabar pembaca blog saya?  Semoga kabar para blogger baik yaa...
    Alhamdulillah penulis juga baik.  Semoga suatu saat kita bisa dipertemukan di dunia nyata (bagi yang belum pernah tahu saya hehe)
    Kali ini yang akan aku pos mengenai "Manfaat mempelajari Suatu Ilmu"
    Ilmu merupakan cahaya.  Al ilmu nurrun.  Sesungguhnya ilmu akan mampu menerangi kehidupan seseorang jika ilmu itu benar-benar dimanfaatkan dengan baik.  Selain itu bagaimana  proses ilmu itu didapat juga harus diperhatikan.  Karena pada akhirnya nanti akan ada efeknya untuk kehidupan kita.
    Sebenarnya ilmu itu apa ya?  Terus bendanya dengan pengetahuan itu apa?  Hmmm penulis juga bingung siihhh hehehe
    Yapz,  ngomongin masalah ilmu sekarang kita check arti keduanya di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  ya...
    Ilmu adalah pengetahuan yang disusun sistematis dengan metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu pada bidang pengetahuan.  Sedangkan pengetahuan adalah wawasan dalam segala bentuk hal. Dari sini cukup jelas tentang perbedaan keduanya.  Intinya kalau ilmu itu bersyarat dan pengetahuan itu tidak bersyarat. Tahap pertama yang diperoleh manusia adalah pengetahuan baru setelah itu akan mampu masuk ke ranah yang lebih luas yaitu ilmu.
    Menengok kisah dari penulis yaa hehe.  Dulu waktu penulis masih kelas empat sekolah dasar,  penulis mempelajari tentang materi IPA dan tepat pada materi tata Surya.  Penulis ingat betul bagaimana saat itu penulis susah payah menghafal nama-nama planet beserta karakteristiknya dan sekaligus benda-benda langit lainnya.  Termasuk pada satu pembahasan tentang rasi Bintang.  Saat itu penulis bergemang sendiri "Kenapa mempelajari ini.  Gunanya apa?  Toh aku juga tidak bisa tahu secara langsung.  Pengen ke Bosca tapi juga jauh mustahil". Hehe itu tadi gumanan anak SD yaa..  Kalau sekarang penulis bukan SD lagi. Walau seperti itu penulis tetap mempelajarinya dan penulis masih belum mengerti manfaat apa yang akan penulis dapatkan nanti.  Nah,  pada saat inilah yang penulis dapatnya disebut pengetahuan (hal ini bagi yang menerima).  Tapi sebenarnya hal yang penulis dapatkan itu adalah ilmu bagi mereka yang sudah benar-benar membuktikannya. 
    Tahun berganti tahun.  Umur juga sudah mulai dewasa ya.  Hmmm penulis perkirakan sepuluh tahun setelah itu. Apa yang terjadi???
    Yang terjadi penulis sudah tua.  Hahaha bukan yaaaa...
    Sepuluh tahun setelah itu,  penulis menemukan lagi hal serupa seperti apa yang penulis alami di kelas empat SD.  Saat penulis berada di sebuah kapal laut, di luar kapal  dan kebetulan langit malam itu cukup terang dan banyak bintang tapi udara laut sungguh dingin. Malam di laut sungguh berbeda daripada malam di daratan.  Sangat pekat dan me menakutkan. Saat itu penulis berada di bagian atas kapal,  tepat di bawah sang nahkoda.  Saat itu penulis mengamati langit sekitar.  Dan apa yang penulis dapatkan?  Rasi Bintang?  Betul.
    Ya,  saat itu penulis melihat gugusan rasi bintang secara langsung dan Subhanallah ini merupakan kebesaran Allah dan merupakan hal yang menakjupkan.  Ciptaan Allah sungguh Indah. Saat itu penulis langsung teringat pelajaran kelas empat SD tentang rasi bintang tadi.  Kemudian penulis mencoba mengingat tentang bentuk rasi bintang yang penulis lihat.  Dan yang penulis lihat saat itu adalah rasi Bintang biduk dan rasi ini menunjukkan arah Utara.  Dari sini penulis menyadari berarti ini manfaat yang penulis dapat saat belajar dulu. Saat penulis bingung tidak tahu arah,  rasi bintang yang menjadi penunjuknya.  Mungkin jika penulis tidak mempelajarinya dulu,  penulis tidak akan tahu namanya dan arahnya. Inilah yang dinamakan manfaat dari mempelajari suatu ilmu.  Dan saat hal itu benar terjadi kedua kalinya,  tentu kita akan menyikapi dengan berbeda saat kita memperolehnya dulu dan sekarang.  Kenapa berbeda?  Inilah yang dinamakan hukum alam.  Dan alam akan menerjemahkan segala sesuatu sesuai dengan indrawi kita.  Hal ini sesuai dengan teori Hume,  salah satu tokoh filsafat empiris.
    Barusan kita ngomongin tentang empiris ya,  dan hal ini mendekat dengan syarat ilmu.  Dimana syarat dari suatu ilmu itu adalah mempunyai metode dan dapat dibuktikan.  Dan salah satu pembuktiannya yaitu dengan pembuktian empirik tersebut.  Nah,  dari sini yang penulis dapatkan bukan hanya pengetahuan dan ilmu,  melainkan keduanya.  Sehingga saat itu juga prosesnya menjadi ilmu pengetahuan(berikut tahapannya:)
    1. pengetahuan (saat masih SD)
    2. ilmu ( saat melihat langsung dan menyamakan dengan teori yang pernah didapat)
    3. ilmu pengetahuan ( saat sudah menjadi teori dan sudah benar-benar dipercayai)
    Ilmu pengetahuan itu menerangi kehidupan.  Dan manfaat dari kita mempelajarinya tentu ada.  Jika pada saat itu kita belum mengetahui manfaatnya,  percayalah bahwa suatu saat nanti akan kita temukan manfaatnya.  Hal itu akan datang dua kali dalam hidup kita bahkan akan lebih.  Dan saat hal itu datang pada kita,  kita akan menerimanya dan merespon dengan cara yang berbeda.  Pada intinya satu hal,  carilah suatu pengetahuan dan ilmu itu sebanyak-banyaknya dan jangan lupa ikhlas dan istiqomah dalam mencarinya.  Karena jika kita ikhlas,  hati akan bersih dan NurIlahi mampu masuk dalam hati kita dan memberikan cahaya pada fiqul kita.  InsyaAllah. Dan manfaat terbesar dari ilmu pengetahuan itu adalah menjadikan kita sebagai sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi orang lain.  Seperti peribahasa yang mengatakan bahwa padi semakin berisi semakin merunduk.  Begitupun dengan manusia yang semakin berilmu akan semakin tawadlu'. Dan ilmu itu juga identik dengan buku.  Maka, cintailah buku dan jadikan sahabat sebagi pengisi hari-hari luang untuk menambah pengetahuan.
    Okay blogger,  bagaimana sudah cukup puas atau masih kurang lagi curhatan penulis hehe.  Jika dirasa masih ada teori yang belum sesuai dan ada kesalahan dalam pemahaman penulis,  penulis juga minta dibetulkan.  Kita semua berbagi dan belajar :-)
    Okay cukup sekian ya sahabat blogger,  sampai bertemu di tulisan curhatan penulis lainnya hehe
    Wassalamu'alaikum Wr. wb.