Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

Setiap hari adalah pelajaran dan ilmu

اهلا وسهلا

"Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani dan badai hati. inilah badai dalam menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat" Ahmad Fuadi

10/22/2015

KNOWLEDGE

By: Catatan Tania P On: 02.42
  • Share The Gag
  • Pendekatan Sejarah Dalam Proses Interprestasi Sejarah


    Kuliah pada Rabu, 22 Oktober 2015 yang dibahas adalah bab baru mengenai berbagai macam pendekatan dalam Studi Islam. Dalam metodologi studi islam ada banyak pendekatan yang dapat digunakan untuk studi islam. Kali pertamanya yang akan dibahas adalah pendekatan sejarah.
    Sebelum kita mendalami materi yang lebih lanjut, sebelumnya pengertian sejarah itu sediri apa dan apa kaitannya dengan studi islam?.
    Sejarah berasal dari bahasa arab Syajarah yang artinya pohon. Pohon yang dimakasud disini adalah pohon yang punya banyak akar, ranting dan dedaunan yang lebat. Hubungannya dengan kata sejarah sendiri adalah disesuaikan dengan analoginya pohon. Pohon mempunyai akar yang kokoh yang berarti merupakan asal-usul suatu peristiwa. Ranting-ranting yang cukup banyak menggambarkan bahwa tak ada satu peristiwa yang dikaji, melainkan ada banyak peristiwa dan peristiwa yang berkembang, diteliti kemudian diinterprestasikan dan selanjutnya dedaunan yang lebat mengumpamakan sejarah itu akan memperkaya suatu pengetahuan bangsa. Apakah suatu bangsa akan bangga jika tak tahu sejarahnya sendiri?. Tidak, bukan.
    Dalam bahasa Inggris sejarah adalah history yang artinya cerita atau kisah. Kata history ini berasal dari bahasa Yunani istoria yang artinya pengetahuan tentang gejala alam, khususnya manusia yang bersifat kronologis. Sedangkan pengetahuan yang tak bersifat kronologis disebut dengan science.
    Ada dua konsep besar dalam memahami sejarah. Yang pertama sejarah merupakan peristiwa masa lampau dan keseluruhan pengalaman manusia. Entah itu mau terjadi satu jam atau sedetik yang lalu juga disebut dengan sejarah.  Dari sini sejarah merupakan sesuatu yang sifatnya obyektif. Kenapa obyektif? Karena sesuatu yang terjadi itu berdasarkan pada realitas yang ada. Tak dibuat-buat, semuanya real. Sedangkan yang kedua sejarah berupa fakta yang diseleksi, diubah, dijabarkan dan kemudian dianalisis. Nah, kalau sudah masuk kedalam pemahaman yang kedua ini, sejarah itu sifaynya tak lagi obyektif. Melainkan sifatnya menjadi subjektif. Sejarah bersifat subjektif karena fakta yang awalnya obyektif tadi diinterprestasikan oleh sejarawan. Masing-masing sejarawan mempunyai penafsiran yang berbeda. Jadi tak heran jika ada beberapa sumber sejarah yang tak sama. Sejarah itu berkembang, yang dimaksud berkembang adalah berkembang ke arah pembenahan jika ditemukan suatu bukti baru. Sumber yang lama akan direvisi jika sudah ada bukti baru yang cukup mendukung.
    Kuntowijiyo menjelaskan bahawa ada kaidah penting dalam sejarah itu, yaitu sejarah merupakan fakta, diakronis dan ideografis, unik serta empiris. Menurut Ira M. Lapidus sejarah dalam studi islam dapat dikategorikan menjadi tiga, antara lain :
    1.        Perubahan awal peradapan Islam di Timur tengah ( Abad ke VII- Abad XIII)
    Periode awal ini adalah periode dimana penciptaan komunitas baru yang bercorak islam di Arab. Pada awalnya mereka belum tahu tentang islam dan masih awam tentang islam yang kemudian pada akhirnya mereka menjadi masuk islam. Periode ini seiringan dengan awal penyebaran Al Qur’an. Periode ini sampai pada masa dimana islam dijadikan agama mayoritas Timur Tengah.
    2.        Periode penyebaran global masyarakat islam ( abad XIII- abad XIX)
    Di periode ini islam mulai menyebar di berbagai pelosok dunia. Mulai dari Cina, India, Asia Tenggara, Asia Tengah Afrika dan Balkan.
    3.        Perkembanga modern umat islam ( abad XIX- abad XX)
    Periode terakhir ini islam mulai berkembang secara modern hingga sekarang. Kita dapat melihat bagaimana islam yang ada di tiap-tiap negara mempunyai karakteristik yang berbeda. Tapi dalam lingkup aqidah dan syariah adalah sama.
    Setelah beberapa pemaparan di atas apakah sudah usai pembahasan kita kali ini? Jawabannya adalah belum selesai. Masih ada proses selanjutnya. Yaitu proses penelitian sejarah islam itu sendiri. Jika kita hanya tahu saja tanpa melakukan sebuah penelitian, bisa jadi kita hanya berhipotesa dan tak ujung menemukan titik temunya. Okay, next....
    Dalam proses penelitian sejarah ada beberapa tahapan yang perlu kita pahami. Tahapan tersebut yaitu :
    A. Persiapan sebelum penelitian
    Sebelum mengadakan penelitian, terlebih dulu kita harus mencari topik yang akan diteliti. Kemudian kita tentukan judul. Judul tak boleh keluar dari topik. Judul sendiri sesungguhnya merupakan abstraksi dari topik itu sendiri. Berikut beberapa sistematika dalam proposal penelitian sejarah:
    1. Judul penelitian
    2. Latar belakang penelitian
    3. Permasalahan yang berkaitan dengan apa yang diteliti yang berupa pertanyaan-pertanyaan
    4. Tujuan penelitian
    5. Tinjauan terhadap penelitian terdahulu agar ada keotentikan terhadap penelitian selanjutnya
    6. Landasan terori yang digunakan dalam pengumpulan data
    7. Metode yang digunakan
    8. Sistematika penulisan
    B. Melakukan pengumpulan sumber sejarah
     Bentuk sumber sejarah ada tiga jenis, yaitu :
    1. Sumber tertulis : prasasti, kitab, buku, majalah, hukayat, dsb
    2. Sumber visual          : foto, film, kaset, CD, dsb
    3. Benda-benda sejarah yang memberikan bukti adanya sejarah, misal pondok mushola, masjid, dll.
    Sedangkan berdasarkan cara mengumpulkannya ada dua jenis sumber sejarah. Yang pertama sumber primer yang merupakan sumber asli dari obyek sejarah dan yang kedua sumber sekunder yang merupakan sumber tidak langsungnya.
    C. Kritik terhadap sumber sejarah
    Pada tahapan ketiga, kita diminta untuk lebih kritis dalam menyikapi berbagai macam sumber sejarah yang ada. Oleh karena itu diperlukan suatu kritik agar kita tak serta merta langsung mudah percaya pada sumber sejarah tersebut. Kritik sendiri ada dua macam. Pertama kritik intern yang merupakan kritik terhadap isi sejarah dan kirtik ekstern, kritik yang berkaitan dengan sumber fisik sejarah.
    D. Interprestasi Sejarah
    Interprestasi adalah proses analisis terhadap fakta-fakta sejarah atau bahkan merupakan proses penyusunan fakta-fakta itu sendiri. Seperti penjelasan di atas, bahwa dengan interprestasi akan melahirkan suatu yang sifatnya subjektif. Walau demikian interprestasi sangat diperlukan untuk mencari kebenaran dari keotentikan sumber sejarah.
    Dalam proses penerapan pendekatan sejarah dalam studi islam ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
    1. Kajian sejarah harus mencangkup salah satu dari tiga ranah penelitian sejarah ( asal-usul, perubahan dan perkembangan)
    2. Orientasi sejarah harus mengarah pada prespektif sosiologis
    3. Penggunaan teori sejarah barat harus dikolmbinasikan dengan sejarah islam
    4. Model sejarah yang digunakan mengambil bentuk sejarah kawasan, sejarah islam Indonesia atau sejarah intelektual seorang toko

    Nah pembahasan kali sudah usai, sekarang pertanyaannya adalah akankah kita hanya diam saja dan menerima mentah-mentahi suatu sumber sejarah itu? Padahal kita tahu bahwa semua sumber sejarah itu sifatnya subjektif yang merupakan hasil dari interprestasi. Akankan ada keinginan kita untuk ikut sera dalam menginterprestasikan sumber sejarah tersebut ??????

    hukum

    By: Catatan Tania P On: 02.40
  • Share The Gag
  • Indonesia Negara Hukum

    Indonesia negara yang mengakui adanya ketuhanan seperti apa yang tercantum dalam falsafah negara Indonesia, Pancasila, sila kesatu “ Ketuhan Yang Maha Esa. Dari bunyi sila tersebut sangat jelas bahwa setiap orang di Indonesia itu adalah umat beragama dan agamanya sendiri pemerintah tak memberikan batasan atau pemaksaan untuk masuk dan percaya pada agama tertentu. Tak hanya islam, ada lebih dari satu agama yang diakui dan disahkan oleh pemerintah. Bukankah iu juga merupakan suatu yang jelas jika kita beda-beda agama diharuskan untuk saling toleransi.
    Toleransi dan solidaritas itu penting ditumbuhkan dalam semangat kebangsaan. Adanya perbedaan justru itulah yang akan menyatukan kita. Indonesia itu punya semboyan bhineka tunggal ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Walaupun kita terdiri dari berbagai macam suku bangsa, ras yang berbeda, agama yang berbeda, tetapi tetap satu rasa, Indonesia. Keberanekaragaman itu lah yang akan mengantarkan kita pada kekayaan bangsa. Jadi tak sepantasnya jika karena ada perbedaan timbul sikap yang merasa dirinya paling benar sendiri. Memang sifat manusia itu selalu tak ingin merasa disalahkan dan jika disalahkan mereka akan mencari pembelaan dulu. Itu merupakan hal yang lumrah. Perlu disadari juga bahwa urusan horisontal dan vertikal itu harus dipisahkan. Di ranah negara Indonesia, dalam berurusan secara horisontal kita sama. Satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa ( baca: sumpah pemuda) dalam wadah NKRI. Sedangkan dalam urusan keyakinan atau urusan vertikal, hal ini tak bisa dibuat sama. Masalah keyakinan itu adalah hak asasi manusia. Semampang hal tersebut masih berimplikasi dengan NKRI maka hal tersebut tak dijadikan masalah.
    Dalam urusan vertikal ini, kita tahu cukup banyak terjadi pemberontakan yang mengatas namakan agama. Padahal agama sendiri bertujuan agar manusia itu menjadi damai, tentram tanpa konflik. Lantas mereka yang melakukan pemberontakan dan melakukan tindakan intoleransi itu berlandasakan pada apa?

    Walau ada berbagai macam sekte dari masing-masing agama, bukan sebuah keharusan untuk membenarkan sektenya sendiri dan menyalahkan sekte lain. Coba kita tengok bagaimana perjuangan para pemimpin kita pada zaman memperjuangkan kemerdekaan. Mereka bersatu padu, walaupun dari golongan yang berbeda mereka tetap ingin kejayaan di Indonesia. Contoh saja pada saat perumusan pansila sila pertama, bukankah yang ikut dalam merumuskan juga tak hanya orang islam. Ada umat non islam yang turut andil dalam membangun negara ini. Jadi Indonesia itu bukan negara islam, Indonesia adalah negara hukum yang berdasarkan pada Pancasila. Sudah jelas bagaimana ideologi Indonesia itu mengatur semuanya. (tan)

    MY CERPEN

    By: Catatan Tania P On: 02.39
  • Share The Gag
  • Aku Titipkan Dia Padamu Tuhan
    Oleh Tania Pramayuani

    Dedaunan yang rindang dan hempasan angin depan kampus merupakan suasana yang tak terlewatkan di tiap-tiap pagi. Apalagi ajakan burung dara untuk menari bersama sulit untuk ditolak. Si surya pun tak mau kalah. Dia unjuk kemampuan dengan pancaran sinarnya di pagi hari dan menambah apik panorama kampus. Seorang gadis berperawakan kurus dengan ciri khasnya notebook tak mau melewatkan even seperti ini. Tiap hari dia selalu mencatat apa yang dilihatnya dalam notebooknya. Buku seukuran 5 cm x8 cm dengan cover bulu ayam berwarna biru menambah nilai estetika notebooknya. Apalagi gadis yang selalu dikenal menutup diri itu tak pernah mau menunjukkan isi notebooknya kepada siapapun. Entah ada rahasia apa dalam catatan kecil itu, tak ada yang tau selain penulisnya sendiri.
    “La...”
    Gadis yang sedari tadi mengamati panorama pagi hari itu menoleh kearah suara yang memanggilnya. Tak sengaja dia menjatuhkan notebooknya dan dia pergi menuju sumber suara yang memanggilnya. Gadis itu terlihat sangat tergesa-gesa hingga melupakan sesuatu yang amat privasi baginya.
    “Ada apa, Aina? Apakah kamu mendapat kabar tentang keluargaku?” tanyanya.
    “Bukan Kaila. Aku tak medapat kabar dari keluargamu. Kabar yang aku bawa adalah hal lain” jelas Aina, gadis yang sangat akrab dengan Kaila. Dan hanya dengan dialah Kaila mau sedikit terbuka.
    Kaila mendesah. Ada sedikit rasa kekecewaan diliputi dengan rasa bahagia. Dia berharap akan mendapatkan kabar dari keluarganya setelah beberapa bulan tak mendapatkan kabar dari keluarganya. Disisi lain, dia senang tak mendapatkan kabar. Karena khawatir jika kabar yang dia dapatkan adalah berita buruk. Tentu harinya akan terasa ironis, mengalir deritanya seiring dengan aliran darah dan tumpah bersama dengan tangisannya.
    “La, kamu tak ingin tahu kabar apa yang aku bawa”
    “Huh aku tadi tergese-gesa datang menghampirimu. Apakah tindakan yang aku tunjukkan itu belum menunjukkan jawabanku” jawabnya ketus.
    Aina tahu jika kondisi hati Kaila sedang tak baik. Dia mencoba mencairkan suasana. Sebisa mungkin dia menyelipkan humor agar Kaila tak terlalu tegang. Karena jika Aina datang kepadanya, Aina selalu membawa berita atau akan bercerita dengan Kaila seputar keluarga. Tak ada hal lain yang mereka ceritakan selain itu.
    “Sudah Na, ceritakan saja berita apa yang kamu bawa”. Aina bingung dengan kata-kata yang ingin dia ucapkan. Masalahnya ini adalah sebuah permintaan. Sementara Kaila terus mendesak. Tapi Aina takut jika Kaila menolak.
    “Sebelumnya maafkan aku ya La. Aku mau mengatakan berita tentang diskusi”
    “Maksudmu, Na”
    “Begini La, tapi dengarkan dulu apa yang aku katakan, jangan potong pembicaraanku”
    “ Okay, next.....”
    “Aku mendapapatkan tugas untuk menghadiri forum diskusi di Universitas sebelah dua hari lagi. Aku kemarin menyetujuinya. Tapi aku tak tahu jika dua hari itu aku harus pulang. Barusan ibuku telfon bahwa kakekku diopname dan aku harus segera pulang mungkin nanti sore atau besok pagi aku akan pulang”
    Kaila masih memandangi Aina. Dia beum menemukan apa yang dimaksudkan Aina. Matanya yang bulat memandang kekanan-iri seolah mencari jawaban. Sesekali dia mendongak, berharap menemukan jawabannya. Akhirnya Kaila paham apa yang akan diucapkan Aina selanjutnya.
    “ Jadi apa kamu ingin agar aku yang menggantikanmu dalam forum diskusi itu”
    Wajah Aina sumringah. Dia seperti mendapatkan hadiah besar dalam hidupnya. Karena tak perlu penjelasan panjang lebar, ternyata Kaila sudah mengerti sendiri apa yang akan ia utarakan.
    “Kok malah senyum, iya khan benar apa yang aku ucapkan” kata  Kaila penuh pertanyaan
    “Iya benar Kaila. Kamu mau ya gantiin aku?” pinta Aina.
    Kaila menimpali ”Apakah itu wajib?”.
     Aina menjelaskan bahwa itu tidak wajib. Tapi jika dia tak datang dan tak mencarikan pengganti, maka pihak yang memberikannya tanggung jawab akan hilang kepercayaannya pada Aina. Aina meminta dengan sangat agar Kaila mau datang. Kaila menjawab semua ucapan dan penjelasan Aina dengan senyum.
    “Terima kasih Kaila. Kamu memang sahabat terbaik”
    Sekali lagi Kaila hanya mengulum senyum sebagai respon atas perkataan Aina.

    **


    “ Devisi Jurnalis” absen dari panitia penyelenggara forum diskusi. Kaila dan dua orang lainnya menganggat tangan. Itu berarti ada tiga orang yang menempati devisi jurnalis. Gadis yang karakternya memang pendiam itu hanya diam mendengar masalah yang didisusikan dalam forum itu. Dia masih mengamati bagaimana sistem dari diskusi ini. Tapi dia kaget karena ada orang yang memanggilya dari belakang. Kaila menoleh dan orang itu ternyata melambaikan tangan padanya. Kaila tak mau datang ke belakang, akhirnya orang yang tadi memanggilnya maju dan menjadi sebarisan dengan Kaila.
    “Kamu ya yang namanya Kaila” ucap orang yang memanggilnya. Kaila heran kenapa orang itu sepertinya sudah tau tentang dirinya. Padahal belum ada sesi perkenalan dari anggota forum diskusi. Kaila mengangguk. Kemudia laki-laki yang tadi memanggilnya itu mengulurkan tangannya dengan memperkenalkan dirinya.
    “Aku Maulana. Biasanya teman-teman memanggilku dengan nama Ula” katanya dengan senyum. Kaila membalas uluran tangannya dan ikutan membalas senyumnya yang sedikit dipaksakan” Aku Kaila. Tapi aku bukan asli anggota forum diskusi ini” jawabnya.
    “Iya aku tahu itu, kamu menggantikan Aina. Aina sudah menceritaknnya padaku”
    “ Jadi kamu keal kenal dengan Aina”
    “iya aku kenal, kita satu devisi. Berarti kamu juga satu divisi dengan aku”. Kemudian Ula memperkenalkan Huda yang juga dari devisi jurnalis. Huda mendekat dan mereka bertiga saling berkenalan dan sedikikit membuka pembicaraan dalam forum hingga akhirnya mereka mendapat teguran dari panitia. Mereka pun akhirnya diam dan mengikuti jalannya acara.
    Layaknya ikan yang berenang di air dan burung yang terbang di udara. Semua mempunyai tempat sendiri-sendiri dalam perkembangan hidupnya. Begitu pula dengan ketiga orang tersebut, Kaila, Ula dan Huda. Mereka mendapatkan tugas untuk melakukan reportase ke daerah yang baru saja terkena stunami di bagian selatan kota. Hal tersebut tak dapat ditolak oleh mereka. Sepandai-pandainya tupai melompat maka akan jatuh pula, begitu pula dengan mereka. Sepandai-pandai apapun mereka mencoba bernegosiasi dengan panitia, mereka tak dapat menang mau tak mau mereka harus menuju ke Tempat Kejadian Peristiwa (TKP). Rasa kekecewaan terbesit di hati Kaila. Dia tak mengira jika forum diskusi ini akan berlanjut. Dia kira hanya sekali saja. Namun sejak seminggu yang lalu, Aina juga belum memberikan kabar dan belum kembali terlihat masuk kuliah. Kaila tak berani mengatakan kepada Aina tentang tugas yang dia dapat untuk reportase di TKP stunami. Dia hanya mencoba menerimanya dengan ikhlas. Mencoba untuk lapang dada. Kaila melamun. Gadis berjilbab panjang itu menekuk tangannya di bawah pipi.
    Doooorrr..!!!!
    Sontak Kaila kaget. Ula dan Huda tiba-tiba mengagetkannya. Dua teman barunya ini cukup akrab dengan Kaila. Mereka akan menghabiskan waktu untuk berburu berita di daerah pasca Stunami seminggu lebih.
    “La ayo kita makan, perut Huda sudah tak kuasa menawan perang yang terjadi dalam lambunngnya. Mungkin sedikit lagi HCL akan menang dalam pertarungan melawan dinding lambung Huda”
    “Iya La, kau tak kasihan padaku. Kau disini cuma duduk melamun. Apakah bintang akan jatuh dan memberikan separuh cahanya padamu?. Tidak bukan. Dia begitu angkuh di atas sana. Mentang-mentang punya cahaya dia tak mau turun” jlentreh Huda yang mulai kelaparan.
    Ula menimpali “ kalau lapar ayo makan, tak usah ngomongin bintang. Bintang tak mungkin turun jika masih ada Kaila disini”
    “ Loh kok bisa kak?” sela Kaila.
    Ula menjawab “ Bisa. Khan bintang takut jika dia dikalah kan olehmu. Wajahmu lebih terang daripada bintang yang angkuh di atas sana. Bintang tak jatuh pun tak masalah, khan masih ada kamu”. Huda malah cengegesan mendengar apa yang barusan diucapakan oleh Ula. Ula, laki-laki aktivis oganisasi ini tak pernah menggombali gadis sebelumnya. Yang Huda tau Ula itu orang supell tapi tak mau peduli dengan gadis manapun. Apalagi mau menggombal seperti itu.
    “Ula kamu Sehat khan” ucap Huda sambil memegang jidat Ula. Ula merasa tak nyaman dan tak menjawab pertanyan Huda. Dia langsug pergi ke kantin tanpa mengajak Kaila dan Huda.
    Kaila hanya diam. Dia sebagai korban tak ada efek dengan apa yang barusan diucapkan Ula. Kaila tak merasakan apa-apa. Bahkan dia malah tertawa mendengarnya.
    “Ayolah kak Hud, kita nyusul kak Ula ke kantin. Kasihan perut kakak jika nanti HCL nya menang”. Sambil tertawa Huda dan Kaila pun pergi ke kantin.

    **

    Waktu untuk surve pun tiba. Akhirnya hanya tinggal Kaila dan Ula saja yag pergi ke TKP pasca Stunami. Huda tak dapat pergi. Maagnya kambuh dan dia sempat dirawat di rumah sakit karena maagnya itu.
    “hhmm, kak aku belum buat draf pertanyaannya. Nanti aku tanyanya spotan saja ya”
     Kaila mendesah dan mulai tak bersemangat. Wajahnya terlihat lesu. Pipi yang awalnya bulat jadi tirus, mungkin karena efek dari rutinitasnya yang semakin padat.
    “Iya aku setuju. Spontan tapi terkonsep itu malah lebih baik. Kadang ide itu datang spontan juga. Dan lebih murni daripada ide yang dipikir terlalu muluk” jawab Ula.
    Kaila mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan dan mencari narasumber yang sesuai.
    Hanya hamparan bangunan yang tinggal setengah. Atapnya hilang rata sebagian dengan tanah. Pohon-pohon yang awalnya rindang, kini menjadi gersang. Mereka yang awalnya berdiri kokoh tegap menjulang memepercantik keindahan laut selatan, kini mereka hanya dapat tidur. Tergeletak dengan posisi yang tak berarturan. Sulit ditemukan narasumber yang sesuai. Jika sesekali mereka bertemu seseorang, orang itu enggan dimintai keterangan. Daerahnya sepi. Kebanyakan orang-orag yang datang ke TKP pasca stunami hanya untuk melihat kondisi rumahnya dan mengambil sebagian barang-barangnya yang masih tertingggal. Mereka semua dievaluasikan di daerah yag aman. Karena masih ada kemungkinan kan terjadi stunami susulan.
    Mereka berdua tampak kebingunan mecari narasumber yang pas. Masalahnya daerahnya kosong. Akankah gelondongan kayu yang tertidur tak berarturan itu dimintai keterangan. Iya,  dia memang menjadi saksi terjadidnya stunami, tapi dia diam tak bersuara. Seolah keputus asaan telah menyelimuti mereka berdua. Atmosfer kekalutan menjadi satu. Kaila banyak diam. Sementara Ula juga ikut-ikutan diam. Dia sebagai kakak tingkat empat semester di atas Kaila merasa tak berguna. Buku yang dari tadi dibawanya dan berisi pertanyaan hanya terjawab beberapa.
    Di tengah keheningan suasana keputusasaan dan kekalutan dalam mencari berita, tiba-tiba gelombang besar datang. Beberapa warga yang ada di TKP segera berteriak dan mencari daerah dataran tinggi untuk menyelamatkan diri. Ula dan Kaila berlari menuju daerah dataran tinggi juga. Mereka berdua berusaha sekuat mungkin untuk berlindung. Tapi Kaila masih tertinggal dan terjatuh ke dalam aus yang cukup besar itu.s
    “Kak Ula ......Kak Ula.... Tolong Kaila kakak...kakak...” pinta Kaila.
    Ula mencoba menarik tangan Kaila sebisa mungkin.
    “ La, pegang tanganku yang kuat. Ayo La kamu pasti bisa”
    Suasana menegang dan Ula sangat bingung. Dia panik dan meminta tolong. Tapi tak ada satupun yang menolong mereka. Mreka berdua berjuang sendirian di tengah derasnya arus. Tapi apalah daya tangan tak sampai, genggaman tangan Ula terlepas.
    “Kaillllllaaaaaa......”
    Tak terdengar lagi suara minta tolong. Airpun juga surut. Begitu pula suasana ketegangan surut dan tinggal suara tangisan penyesalan Ula yang terdengar.
                                                           

    **

    Seiring dengan berlalunya waktu, pencarian sekian lama juga tak menemukan hasil. Aina, Ula dan Huda mencari Kaila kemana pun juga nihil. Kekecewaan dan rasa penyesalan menempel diwajah ke tiga orang tersebut. Apalagi Aina mempunyai rasa penyeselan yang cukup besar. Semua yang terjadi berawal darinya. Dan Ula pun juga menyesal karena tak mampu mempertahankan tangan Kaila, hingga akhirnya Kaila pun terbawa arus.
    “Andai aku tak melakukan ini pada Kaila, mungkin saat ini Kaila masih ada di antara kita” ucap Aina lirih. Ula dan Huda hanya mendesah di bascamp mereka. Semua anak-anak yang ada di forus diskusi juga mencoba mencari Kaila, tapi mereka juga tak menemukannya.
    Aina sebagai aktivis kampus tetap aktif di kegiatannya dan Ula dan Huda sekarang telah mempunyai pekerjaan masing-masing. Ula menjadi seorang penulis disalah satu majalah ternama di kotanya. Sementara Huda menjadi seorang editor di salah satu koran terkenal di Jawa Timur. Walaupun sudah mempunyai kesibukan masing-masing, mereka bertiga selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul. Setiap hari Sabtu malam mereka selalu berkumpul. Layaknya reunian.
    “Kak Hud gimana dengan berita-berita terbaru ini?” tanya Aina
    “Wah super keren dan tiap kasus makin pekik saja Na”
    “Terus kakak ambil yang bagian mana?”
    “Ya tak serta merta semua yang disetorkan reporter aku ambil, aku juga perlu memverifikasinya dulu. Yang palling akurat itulah yang aku ambil” jelas Huda sambil dan kemudian menyruput minuman yang di pesannya.
    Aina melanjutkan makannya dan tiba-tiba menghentikan makannya lalu melirik ke arah Ula. Dia melihat Ula hanya diam, makannya pun tak dimakan. Dia hanya memainkan sendok yang ada di atas pirinngnya. Aina menyodok tangan Huda sebagai isyarat bahwa Ula sedang melamun saat itu.
    “Ula..” teriak Huda keras. Sontak Ula langsung bagun dari lamunannya. “Iya ada apa?”
    “Kamu dari tadi diam saja, sedang memikirkan siapa?” tanya Huda.
    Ula diam tak menjawab. Malah dia menunduk dan mengalihkan pandangannnya ke arah gelas minuman yang ada di depannya. Kemudian dia berkata “Hmm apakah Kaila masih hidup ya?”
    Aina dan Huda kaget dan langsung menghentikan makan saat mereka dengar apa yang barusan dikatakan oleh Ula. Tak sadar air mata Aina pun menetes. Dia jadi ingat Kaila.
    “Ada kemungkinan masih hidup Ula” jawab Huda.
    Huda lalu menanyakan pada Ula kenapa dia masih saja memfikirkan Kaila. Hal itu kareana Ula memang merasa bersalah ataukah dia mempunyai rasa tersendiri pada Kaila.
    “Kakak suka dengan Kaila ya..” tanya Aina penasaran. Matanya yag bak rebulan mulai membentuk bulan sabit lagi. Seolah dia sedang memojokkan Ula.
     Ula tak menjawab malah dia mengalihkan ke pembicaraan lain.
    “ Ohya, aku besuk diundang untuk mengisi sebuah seminar di Jawa Tengah. Yang mengundang adalah salah satu koran ternama disana. Pemimpin redaksi sendiri yang mengundanngku. Nanti malam jam sepuluh adalah waktu terakhir untuk memverifikasi aku jadi ikut apa tidak. Kalau menurut kalian gimana aku ikut tidak”
    “Masalah seperti ini ya tanya pada dirimu sendiri Ul, kalau kamu ingin ya ikutlah. Ini kesempatan juga loh. Ini juga merupakan sebuah jalan untuk saling sharing dan bertukar ilmu” jawab Huda.
    “Kakak ikut saja, ini peluang besar loh kak” tambah Aina.

    **

    Tepat 13.00 wib Ula sampai di Bandara Adi Sucipto dan dijemput oleh salah satu staf radar Jawa Tengah. Huda diantar menuju tempat seminar. Seminar direncakan dimulai pada pukul 15.00 wib. Beberapa materi telah disiapakan Ula. Dia sudah benar-benar siap.
    Waktu seminar pun dimulai. Pikiran yang sedari tadi fresh dan rasa percaya diri yang sudah ditata rapi tiba-tiba goyah saat sosok berperwakan kurus mengenakan sepatu highthill dengan jas berwarna hitam dan jilbabnya yang khas memasuki ruang seminar. Mata Ula seolah tak berkedip melihat wanita itu berjalan dan menempati posisinya. Dia sangat dihormati. Menurut Ula dia mempun kedudukan khusus di dewan pers disitu. Saat acara dimulai, pembawa acara mempersilakan pemimpin redaksi untuk menyampaikan sambutannya. Rasa terkejut Ula menjadi dua kali lebih besar saat nama yang diperkenalkan diri. Ternyata  dewan redaksi itu adalah Kaila, gadis yang dua tahun lalu sempat hilang bersamanya saat reportase di daerah pasca stunami.
    “Alhamdulillah Kaila masih selamat” ucap Ula dalam hati. Sesekali Ula mengulum senyum pada Kaila. Dan Kaila tetap seperi dulu, dia hanya membalasnya dengan senyumun kalau tidak dengan senyuman dia mengangguk.
    “Ah aku pikir dia sudah lupa denganku, ternyata aku salah persepsi” guman Ula. Tak sengaja apa yang dikatakan Ula di dengar oleh Kaila. Usai acara seminar berlangsung, Kaila mendatangi Ula.
    “Kakak masih ingatkah dengan saya” katanya lembut dan sangat halus
    “Tentu apalagi waktu Ibu kemarin hilang. Itu juga karena saya” jawab Ula sambil tersenyum.
    “jangan panggil saya Ibu. Saya lebih muda daripada kakak” ucap Kaila malu.
    “Sekarang Ibu sudah menjadi orang besar. Saya kagum dengan Ibu. Tak mungkin saya memanggil Ibu seperti dulu lagi” jelas Ula.
    Kaila bersikukuh agar Ula tak memanggilnya dengan sebutan Ibu lagi. Akhirnya Ula pun menyetujuinya dan memanggil Kaila dengan sebutan Mbak. Awalnya Kaila tetap menolak. Tapi Ula juga tak mau kalah, akhirnya Kaila menyetujui panggilan itu.
    Ula menceritakan apa yang terjadi pasca hilangnya Kaila dua tahun lalu. Dan menceritakan bagaimana merasa bersalahnya Aina saat tahu Kaila hilang. Tak sadar mendengar cerita dari Ula, pipi Kaila basah dengan air mata. Sebelum sampai di jasnya, buru-buru Kaila menyeka air matanya. Kaila juga menceritakan bahwa dua tahun lalu dia terbawa arus hingga pada akhirnya terdampar di sebuah pantai di Jawa Tengah. Saat itu nelayan yang menemukannya. Kemudian dia di rawat di rumah sakit. Salah satu dokter yang ada di rumah sakit itu, Bu Aisyah, merasa kasihan atas apa yang menimpa Kaila, akhirnya Bu Aisyah merawat Kaila sampai sembuh di rumahnya. Suaminya, Pak Ahmad juga sama baiknya. Mereka berdua menganggap Kaila layaknya anak sendiri. Begitu juga dengan Hafid, anak tunggal di keluarga Ahmad tak mempermaslahkan kehadiran Kaila di keluarga itu. Hafid mempunyai hobby yang berbeda dengan ayahnya. Saat ayahnya ingin melimpahkan kepengurusan perusahaan pers miliknya, Hafid menolaknya. Dia lebih memilih mengikuti ibunya sebagai seorang dokter. Akhirnya tawaran itu jatuh pada Kaila. “Awalnya saya tak mau menerima tawaran itu. Tapi saya merasa berutang budi pada Beliau. Akhirnya saya menerimanya dan saat ini pun sambil bekerja di perusaan ayah, saya juga masih menempuh pendidikan lagi di jurusan ilmu komunikasi”. Sajak saat itulah Kaila diangkat anak oleh keluarga Ahmad. Ula sekarang mengerti kenapa Kaila tak pulang ke Jawa Timur setelah dia sembuh.
    Sifat gombalnya Ula kambuh lagi. Kali ini dia menanyakan sesuatu yang sangat privasi pada Kaila. Awalnya dia takut dan merasa tak pantas hal ini ditanyakan. Tapi jika tak ditanyakan akan mengganjal di hati.
    “Em..emm...Mbak apakah sudah punya calon” tanya Ula dengan terbata-bata.
    Kaila hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ula. Dengan lembut kemudian dia menjawab “ Iya, sudah kak”.
    Seketika mentari telah terbenam dan hari menjadi gelap. Padahal ini belum waktunya petang. Begitulah ekspresi yang dialami Ula saat mendengar jawaban Kaila. Bunga tak lagi mekar, melainkan gugur. Lilin telah padam dan gemuruh di hati telah reda. Selang beberapa lama termenung setaeah mendengar jawaban Kaila, Ula menjawab “ Oh, sudah ada ya. Semoga itu merupakan pilihan yang tepat ya mbak”
    “InsyaAllah. Terima kasih kakak” balas Kaila dengan senyumnya yang aneh. Kali ini lesung pipinya semakin lebar. Dia sama sekali tak merasa bersedih. Padahal saat itu hati Maulana sedang hancur.
    “ Aku titipkan calonku pada Tuhan” kata Kaila.
    Ula tak mengerti apa yang barusan diucapkan oleh Kaila. Ula menanyakan apa maksudnya. Kemudian kaila menjelaskan bahwa dia telah menitipkan calonnya pada Tuhan. Dan sekarang dia telah mengambil kembali apa yang dia titipkan dulu. Waktu belum mengijinkan untuk saling mengenal lebih lama dengan orang yang dia suka saat pertama kali bertemu. Dia hanya berdoa agar orang tersebut selalu dalam lindungan Allah. Walau tak dapat melihatnya bertahun-tahun, tapi hatinya masih terpaut pada satu sosok yang sempat dia kenal itu.
    “Mbak, sebenarnya siapa yang mbak maksud itu. Sungguh beruntungnya orang yang mbak maksdu itu?” kata Ula dengan nada kekecewaan. Selain itu Ula terus mendesak Kaila agar Kaila mau menjelaskannya. Sekali lagi Kaila hanya tersenyum. Pipinya merah merona. Kali ini Kaila kerap menundukkan pandangnannya ke bawah. Ula semakin penasaran.” siapa mbak?” tanya Ula lagi.
    Dengan senyum simpul dan masih dengan pandangan menuduk Kaila menjawab “ Dia adalah orang sekarang ada di depanku dan barusan bicara denganku”. Tak ada suara. Sepatah kata pun tak dapat Ula ucapkan dari mulutnya. Ula terdiam seribu bahasa karena rasa senangnya melebihi rasa kecewaannya yang sebelumnya dia rasakan.
    Tak selang lama, Ula merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu berbentuk persegi panjang dan berwarna biru muda. Kaila memperhatikan apa yang dikeluarkan oleh Ula. Ula menunjukkan benda tersebut pada Kaila. Hening dan penuh tanda tanya. Kaila tak habis fikir jika benda itu adalah notebooknya yang beberapa tahun lalu hilang.
    “Notebook saya kok ada kakak?”
    “Aku tak sengaja menemukannya di kampus”
    Kaila terus bertanya “ Jadi kakak sudah membaca isinya?”. Ula mengangguk dan Kaila tertunduk malu.


    **

    NEWS

    By: Catatan Tania P On: 02.36
  • Share The Gag
  • Selenggarakan Festival Menulis, Masyarkat Kurang Apresiasi


    Tulungagung- Sabtu (10/10) di Universitas Tulungagung diselenggarakan Festival Bonorowo Menulis (FBM) oleh Sanggar Kepenulisan Pena Ananda. Acara kali pertama dibuka pada Jum’at ( 09/10) sampai Minggu (11/10). Festival yang melibatkan beberapa komunitas literasi di Jawa ini diikuti oleh dua belas stan. Masing-masing stan menampilkan persembahan yang berbeda. Tak hanya diikuti oleh komunitas literasi, komunitas selain literasi pun diperbolehkan mengikuti stan FBM. Acara dimulai pada 08.00 wib-17.00. Nikita, salah satu relawan dalam FBM menuturkan bahwa tujuan utama dalam penyelenggaraan FBM adalah menumbuhkan semangat literasi di masyarakat, khususnya masyarakat Tulungagung.
    Salah satu stan dalam festival ini  adalah stan dari Api Bandung. Sesuai dengan namanya, komunitas literasi ini berasal dari Bandung. Galih, mahasiswa semester lima dari Bandung yang mempresentasikan stannya mengungkapkan perasaan kecewanya karena kurangnya minat baca masyarkat Tulungagung. Pasalnya sejak hari pertama pembukaan sampai dengan hari kedua, FBM masih sepi. “Jika festival seperti ini diadakan di Bandung, tentu akan sangat ramai. Pengunjung  berdesak-desakkan ditiap-tiap stan. Bahkan sampai antusiasnya, stan pun dapat disewakan saat festival” jelas Galih. Salah satu pengunjung, Marvica, mahasiswa IAIN Tulungagung pun juga menyatakan keheranannya akan festival yang sepi.
    Kendati FBM tak seramai festival literasi di Bandung, festival ini merupakan sebuah aprisiasi besar terhadap  leterasi dan merupakan kemajuan besar di Tulungagung. Hal senada juga diungkapkan oleh Leli Mei, selah satu pendiri komunitas Api Bandung. Leli Mei menjelaskan bahwa hal seperti ini perlu dihargai dan kota lain patut meniru kegiatan ini. “ Literasi itu tak hanya selalu dengan menulis, dalam literasi harus ada kemasannya. Misalnya pengaplikasian literasi dalam sebuah lagu. Nantinya tak hanya buku yang dihasilkan, pengetahuan dan sastra pun juga merupakan produk literasi” jlentreh Leli Mei, yang pada hari ini, Sabtu (10/10) pada 13.00 wib akan bermonolog tentang Inggit istri Soekarno. Beliau juga menyarankan seharusnya dalam FBM ada suatu human interestnya, misal mengundang sebuah band kondang. Tentu masyarkat akan berbondong-bondong datang ke FBM. Walaupun niat awal adalah menyaksikan band kondang tersebut, setidaknya mereka akan tahu bagaimana FBM itu dan apa yang dipresentasikan masing-masing stan. Minat literasi akan tumbuh berproses dari hal ini.
    Tempat komunitas Api Bandung berkumpul adalah di Musium Confersi Asia Bandung. Model dalam kajian yang ada di Musium Confersi Asia-Afrika Bandung ini adalah model tadarus. Anggota tak membatasi usia. Mereka membaca buku bergantian, kemudian akan ada pembahasan tentang buku yang baru dibaca. Setelah itu, akan ada pengaplikasian dalam bentuk lagu. Salah satu hasil karya komintas Api Bandung adalah sebuah buku karya Adew Habsta. Sedangkan model kajian literasi di Sanggar Kepenulisan Pena Ananda yang ada di Desa Bangoan, Tulungagung adalah latihan kepenulisan yang diadakan setiap Sabtu. Sebenarnya ada kelas kursus menulis juga. “ Kalau yang kursus menulis itu harus membuat grup dulu. Masing-masing grup terdiri dari lima orang. Dan ada biaya tambahan juga. Tapi untuk latihan kepenulisan tiap Sabtu itu gratis” ungkap Nikita, salah satu putri dari pendiri Kepenulisan Sanggar Ananda. Di  kajian literasi Tulungagung pun juga menghasilkan beberapa buku yang berupa antalogi puisi dan cerpen dari para anggotanya. (tan)



    10/11/2015

    Fuad

    By: Catatan Tania P On: 21.07
  • Share The Gag
  • Kekeluargaan Itu Ciri Kita

    Kekeluargaan muncul saat semua hal yang dilakukan serasa ringan antar anggota suatu majelis. Semuanya terasa menyenangkan saat sesuatu itu dilakukan dengan suka cita. Memang sistem perkuliahan yang penuh dengan diskusi membuat para mahasiswa sedikit merasa stress. Tentunya stress pikiran yang dialami oleh para mahasiswa tak hanya stress masalah mata kuliah di dalam kelas. Apalagi bagi mahasiswa baru yang backgroundnya masih kurang paham  bagaimana dunia perkuliahan. Nah, simple saja cara untuk menghibur diri itu. di luar jam kuliah, semua terasa sama. Tak ada sekat antar masing-masing mahasiswa kerukunan, kekeluargaan dan toleransi merupakan saah satu ciri khas dari mahasiswa dari Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah (FUAD). Semangat-semangat kekeluargaan mulai tumbuh sejak zaman dulu, dan traiisi ini telah dilestarikan oleh mahasiswa FUAD di IAIN Tulungagug.
    Sebenarnya kekeluargaan itu apa? Samakah dengan yang dimaksud dengan keluarga. Hmmm mari berfikir kawan ........
    Keluarga dan kekeluargaan itu berbeda. Jika keluarga ialah sekumpulan orang yang memiliki ikatan darah dan memiliki hubungan patrial.  Sedangkan kekeluargaan merupakan hubungan yang dimiliki oleh seseorang yang bahkan seorang itu tak mempunyai hubungan darah, namun orang tersebut memiliki rasa kasih yang erat dan mempunyai rasa ingin menjaga hubungan tersebut. Rasanya nyaman dengan orang-orang yang berada di sekitar layaknya seperti keluarga sendriri walaupun aslinnya bukan keluarga sesungguhnya. Inilah yang dinamakan dengan kekeluargaan.

    Kekeluargaan telah mendarah daging jika masing-masing orang saling mengenal dan saling mengetahui satu sama lain. Rasa kekeluargaan tak hanya tumbuh di kelas. Dimanapun tempatnya rasa kekeluargaan itu dapat tumbuh. Seperti rasa kasih yang tumbuh dimana pun tempatnya.  Rasa ini nih yang mulai digeluti dan mulai ditanamkan mahasiswa jurusan baru di FUAD ini. Saat sedang tak ada jam kuliah, para mahasiswa sibuk dengan aktifitas tapi masih dalam satu tempat. Yaitu tepat di lokal U2. Karena jurusan KPI merupakan jurusan  baru, ilmu yang diperoleh pun juga masih sedikit. Tak ada kakak tingkat yang membagikan ilmunya tentang KPI. Walaupun demikian, para maba KPI tetap aktif mengembangkan bakatnya sendiri. Seperti saat ini, mereka sedang berlatih musikal yang akan digunakan untuk proyek Komunitas Mahasiswa Jurusan. (tan)

    10/08/2015

    Amazed

    By: Catatan Tania P On: 03.04
  • Share The Gag


  • AMAZED


    Semua orang tak melihat kelebihannya, mereka membicarakan dan menyanjung kawan sebelahnya. Memang benar bajunya kumal, rambunya saat kali pertama aku tahu  tak tertata rapi. Tapi saat itu pula aku sudah kagum padanya. Dia adalah sosok yang menurutku penuh dengan misteri saat itu. persepsi awal saat tahu tentang dirinya, aku perpikir bahwa dia bukanlah seorang mahasiswa. Dari caranya berbicara, caranya berjalan dan apalagi caranya berpenampilan sudah berbeda dibanding dengan mahasiswa lainnya yang terlihat rapi dan berstyle. Dia terlihat dewasa. Perawakan yang tak begitu tinggi dan tak begitu gemuk, membuatnya terlihat sama seperti mahasiswa yang lain. Tapi pemikirannya itu yang sungguh super sekali apalagi saat aku tahu ternyata dia juga seorang penulis, kekagumanku pun bertambah. Aku merasa ingin dibimbing, aku ingin sepertinya. Pintar berbica di muka umum, lihai mengolah kata, tulisan yang berbobot dan kebersahajaannya dalam bersosialisasi dan perpenampilan itulah menjadi nilai plus dimataku. Seolah tak ada yang tahu kalau dia itu berpotensi. Baru-baru ini saja setelah lebih dari satu bulan menjadi mahasiswa, banyak para maba yang tahu tentang dirinya dan pemikiran supernya. Banyak para mahasiswa yang kagum dengannya, apalagi aku yang telah mengetahui sedikit tentangnya semakin bertambah kekegumanku padanya.
    Tak disangka pula setiap ada forum yang aku ikuti, dia juga ada disitu. Aku tak menyangka jika akan sering bertemu dengannya. Tapi jika pertemuan itu aku harapkan, maka peluang bertemunya adalah nol. Jika tak diharapkan dan tak direncakanan maka frekuensi bertemu akan semakin sering. Setiap forum yang aku ikuti bersamanya, dia selalu yang jadi centrel of point. Entah darimana pengetahuan seluas itu dia dapatkan, dan cara penyampaiannya yang efektif membuatku semakin termotivasi ingin sepertinya, saling kenal dan berdiskusi dengannya. Tapi masalahnya adalah satu, pada diriku sendiri. Aku masih tertutup dan kurang sosialisasi. Apalagi dengan orang intelek sepertinya. Rasa minder selalu datang bersamaan dengan rasa keingintahuan. Satu kesempatan telah aku lewatkan adalah pada saat  forum diskusi dengannya, aku tak tanya sesuatu yang aku belum pahami. Padahal situasinya saat itu sedang mendukung. Dia dulu juga sudah mencoba membuka pembicaraan denganku. Tapi entah kenapa aku masih canggung jika perbicara dengannya. Aku takut padahal sangat ingin. Aku berharap Tuhan segera memberikan kesempatn padaku untuk berdiskusi dengannya lagi. Aku ingin tahu lebih lanjut tentangnya dan saling berbagi dengannya. Tapi aku sering tak melihatnya datang ke kampus, aku berfikir bahwa dia itu sibuk. Waktunya baginya seperti sesuatu yang sangat penting. Saat selesai acara diskusi ada acara refhresing dia juga tak ikut, dari situ aku tahu bahwa menejemen waktunya sangat baik. Disamping aktif di organisasi dia juga aktif di manapun. Aku tak tahu sampai sebatas mana kekagumanku ini, tapi yang aku tau kekagumanku ini tiap hari tiap bertambah entah jika suatu saat nanti akan jadi kata yang berbeda aku juga tidak tahu.