Aku Titipkan Dia
Padamu Tuhan
Oleh Tania Pramayuani
Dedaunan
yang rindang dan hempasan angin depan kampus merupakan suasana yang tak
terlewatkan di tiap-tiap pagi. Apalagi ajakan burung dara untuk menari bersama
sulit untuk ditolak. Si surya pun tak mau kalah. Dia unjuk kemampuan dengan
pancaran sinarnya di pagi hari dan menambah apik panorama kampus. Seorang gadis
berperawakan kurus dengan ciri khasnya notebook tak mau melewatkan even seperti
ini. Tiap hari dia selalu mencatat apa yang dilihatnya dalam notebooknya. Buku
seukuran 5 cm x8 cm dengan cover bulu ayam berwarna biru menambah nilai
estetika notebooknya. Apalagi gadis yang selalu dikenal menutup diri itu tak
pernah mau menunjukkan isi notebooknya kepada siapapun. Entah ada rahasia apa
dalam catatan kecil itu, tak ada yang tau selain penulisnya sendiri.
“La...”
Gadis
yang sedari tadi mengamati panorama pagi hari itu menoleh kearah suara yang
memanggilnya. Tak sengaja dia menjatuhkan notebooknya dan dia pergi menuju
sumber suara yang memanggilnya. Gadis itu terlihat sangat tergesa-gesa hingga
melupakan sesuatu yang amat privasi baginya.
“Ada
apa, Aina? Apakah kamu mendapat kabar tentang keluargaku?” tanyanya.
“Bukan
Kaila. Aku tak medapat kabar dari keluargamu. Kabar yang aku bawa adalah hal
lain” jelas Aina, gadis yang sangat akrab dengan Kaila. Dan hanya dengan dialah
Kaila mau sedikit terbuka.
Kaila
mendesah. Ada sedikit rasa kekecewaan diliputi dengan rasa bahagia. Dia
berharap akan mendapatkan kabar dari keluarganya setelah beberapa bulan tak
mendapatkan kabar dari keluarganya. Disisi lain, dia senang tak mendapatkan
kabar. Karena khawatir jika kabar yang dia dapatkan adalah berita buruk. Tentu
harinya akan terasa ironis, mengalir deritanya seiring dengan aliran darah dan
tumpah bersama dengan tangisannya.
“La,
kamu tak ingin tahu kabar apa yang aku bawa”
“Huh
aku tadi tergese-gesa datang menghampirimu. Apakah tindakan yang aku tunjukkan
itu belum menunjukkan jawabanku” jawabnya ketus.
Aina
tahu jika kondisi hati Kaila sedang tak baik. Dia mencoba mencairkan suasana.
Sebisa mungkin dia menyelipkan humor agar Kaila tak terlalu tegang. Karena jika
Aina datang kepadanya, Aina selalu membawa berita atau akan bercerita dengan
Kaila seputar keluarga. Tak ada hal lain yang mereka ceritakan selain itu.
“Sudah
Na, ceritakan saja berita apa yang kamu bawa”. Aina bingung dengan kata-kata
yang ingin dia ucapkan. Masalahnya ini adalah sebuah permintaan. Sementara
Kaila terus mendesak. Tapi Aina takut jika Kaila menolak.
“Sebelumnya
maafkan aku ya La. Aku mau mengatakan berita tentang diskusi”
“Maksudmu,
Na”
“Begini
La, tapi dengarkan dulu apa yang aku katakan, jangan potong pembicaraanku”
“ Okay,
next.....”
“Aku
mendapapatkan tugas untuk menghadiri forum diskusi di Universitas sebelah dua
hari lagi. Aku kemarin menyetujuinya. Tapi aku tak tahu jika dua hari itu aku
harus pulang. Barusan ibuku telfon bahwa kakekku diopname dan aku harus segera
pulang mungkin nanti sore atau besok pagi aku akan pulang”
Kaila
masih memandangi Aina. Dia beum menemukan apa yang dimaksudkan Aina. Matanya
yang bulat memandang kekanan-iri seolah mencari jawaban. Sesekali dia
mendongak, berharap menemukan jawabannya. Akhirnya Kaila paham apa yang akan
diucapkan Aina selanjutnya.
“ Jadi
apa kamu ingin agar aku yang menggantikanmu dalam forum diskusi itu”
Wajah
Aina sumringah. Dia seperti mendapatkan hadiah besar dalam hidupnya. Karena tak
perlu penjelasan panjang lebar, ternyata Kaila sudah mengerti sendiri apa yang
akan ia utarakan.
“Kok
malah senyum, iya khan benar apa yang aku ucapkan” kata Kaila penuh pertanyaan
“Iya
benar Kaila. Kamu mau ya gantiin aku?” pinta Aina.
Kaila
menimpali ”Apakah itu wajib?”.
Aina menjelaskan bahwa itu tidak wajib. Tapi
jika dia tak datang dan tak mencarikan pengganti, maka pihak yang memberikannya
tanggung jawab akan hilang kepercayaannya pada Aina. Aina meminta dengan sangat
agar Kaila mau datang. Kaila menjawab semua ucapan dan penjelasan Aina dengan
senyum.
“Terima
kasih Kaila. Kamu memang sahabat terbaik”
Sekali
lagi Kaila hanya mengulum senyum sebagai respon atas perkataan Aina.
**
“
Devisi Jurnalis” absen dari panitia penyelenggara forum diskusi. Kaila dan dua
orang lainnya menganggat tangan. Itu berarti ada tiga orang yang menempati
devisi jurnalis. Gadis yang karakternya memang pendiam itu hanya diam mendengar
masalah yang didisusikan dalam forum itu. Dia masih mengamati bagaimana sistem
dari diskusi ini. Tapi dia kaget karena ada orang yang memanggilya dari
belakang. Kaila menoleh dan orang itu ternyata melambaikan tangan padanya.
Kaila tak mau datang ke belakang, akhirnya orang yang tadi memanggilnya maju
dan menjadi sebarisan dengan Kaila.
“Kamu
ya yang namanya Kaila” ucap orang yang memanggilnya. Kaila heran kenapa orang
itu sepertinya sudah tau tentang dirinya. Padahal belum ada sesi perkenalan
dari anggota forum diskusi. Kaila mengangguk. Kemudia laki-laki yang tadi
memanggilnya itu mengulurkan tangannya dengan memperkenalkan dirinya.
“Aku
Maulana. Biasanya teman-teman memanggilku dengan nama Ula” katanya dengan
senyum. Kaila membalas uluran tangannya dan ikutan membalas senyumnya yang
sedikit dipaksakan” Aku Kaila. Tapi aku bukan asli anggota forum diskusi ini”
jawabnya.
“Iya
aku tahu itu, kamu menggantikan Aina. Aina sudah menceritaknnya padaku”
“ Jadi
kamu keal kenal dengan Aina”
“iya
aku kenal, kita satu devisi. Berarti kamu juga satu divisi dengan aku”.
Kemudian Ula memperkenalkan Huda yang juga dari devisi jurnalis. Huda mendekat
dan mereka bertiga saling berkenalan dan sedikikit membuka pembicaraan dalam
forum hingga akhirnya mereka mendapat teguran dari panitia. Mereka pun akhirnya
diam dan mengikuti jalannya acara.
Layaknya
ikan yang berenang di air dan burung yang terbang di udara. Semua mempunyai
tempat sendiri-sendiri dalam perkembangan hidupnya. Begitu pula dengan ketiga
orang tersebut, Kaila, Ula dan Huda. Mereka mendapatkan tugas untuk melakukan
reportase ke daerah yang baru saja terkena stunami di bagian selatan kota. Hal
tersebut tak dapat ditolak oleh mereka. Sepandai-pandainya tupai melompat maka
akan jatuh pula, begitu pula dengan mereka. Sepandai-pandai apapun mereka
mencoba bernegosiasi dengan panitia, mereka tak dapat menang mau tak mau mereka
harus menuju ke Tempat Kejadian Peristiwa (TKP). Rasa kekecewaan terbesit di
hati Kaila. Dia tak mengira jika forum diskusi ini akan berlanjut. Dia kira
hanya sekali saja. Namun sejak seminggu yang lalu, Aina juga belum memberikan
kabar dan belum kembali terlihat masuk kuliah. Kaila tak berani mengatakan
kepada Aina tentang tugas yang dia dapat untuk reportase di TKP stunami. Dia
hanya mencoba menerimanya dengan ikhlas. Mencoba untuk lapang dada. Kaila
melamun. Gadis berjilbab panjang itu menekuk tangannya di bawah pipi.
Doooorrr..!!!!
Sontak
Kaila kaget. Ula dan Huda tiba-tiba mengagetkannya. Dua teman barunya ini cukup
akrab dengan Kaila. Mereka akan menghabiskan waktu untuk berburu berita di
daerah pasca Stunami seminggu lebih.
“La ayo
kita makan, perut Huda sudah tak kuasa menawan perang yang terjadi dalam
lambunngnya. Mungkin sedikit lagi HCL akan menang dalam pertarungan melawan
dinding lambung Huda”
“Iya
La, kau tak kasihan padaku. Kau disini cuma duduk melamun. Apakah bintang akan
jatuh dan memberikan separuh cahanya padamu?. Tidak bukan. Dia begitu angkuh di
atas sana. Mentang-mentang punya cahaya dia tak mau turun” jlentreh Huda yang
mulai kelaparan.
Ula
menimpali “ kalau lapar ayo makan, tak usah ngomongin bintang. Bintang tak
mungkin turun jika masih ada Kaila disini”
“ Loh
kok bisa kak?” sela Kaila.
Ula
menjawab “ Bisa. Khan bintang takut jika dia dikalah kan olehmu. Wajahmu lebih
terang daripada bintang yang angkuh di atas sana. Bintang tak jatuh pun tak
masalah, khan masih ada kamu”. Huda malah cengegesan mendengar apa yang barusan
diucapakan oleh Ula. Ula, laki-laki aktivis oganisasi ini tak pernah
menggombali gadis sebelumnya. Yang Huda tau Ula itu orang supell tapi tak mau
peduli dengan gadis manapun. Apalagi mau menggombal seperti itu.
“Ula
kamu Sehat khan” ucap Huda sambil memegang jidat Ula. Ula merasa tak nyaman dan
tak menjawab pertanyan Huda. Dia langsug pergi ke kantin tanpa mengajak Kaila
dan Huda.
Kaila
hanya diam. Dia sebagai korban tak ada efek dengan apa yang barusan diucapkan
Ula. Kaila tak merasakan apa-apa. Bahkan dia malah tertawa mendengarnya.
“Ayolah
kak Hud, kita nyusul kak Ula ke kantin. Kasihan perut kakak jika nanti HCL nya
menang”. Sambil tertawa Huda dan Kaila pun pergi ke kantin.
**
Waktu
untuk surve pun tiba. Akhirnya hanya tinggal Kaila dan Ula saja yag pergi ke
TKP pasca Stunami. Huda tak dapat pergi. Maagnya kambuh dan dia sempat
dirawat di rumah sakit karena maagnya itu.
“hhmm,
kak aku belum buat draf pertanyaannya. Nanti aku tanyanya spotan saja ya”
Kaila mendesah dan mulai tak bersemangat.
Wajahnya terlihat lesu. Pipi yang awalnya bulat jadi tirus, mungkin karena efek
dari rutinitasnya yang semakin padat.
“Iya
aku setuju. Spontan tapi terkonsep itu malah lebih baik. Kadang ide itu datang
spontan juga. Dan lebih murni daripada ide yang dipikir terlalu muluk” jawab
Ula.
Kaila
mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan dan mencari narasumber yang sesuai.
Hanya
hamparan bangunan yang tinggal setengah. Atapnya hilang rata sebagian dengan
tanah. Pohon-pohon yang awalnya rindang, kini menjadi gersang. Mereka yang
awalnya berdiri kokoh tegap menjulang memepercantik keindahan laut selatan,
kini mereka hanya dapat tidur. Tergeletak dengan posisi yang tak berarturan.
Sulit ditemukan narasumber yang sesuai. Jika sesekali mereka bertemu seseorang,
orang itu enggan dimintai keterangan. Daerahnya sepi. Kebanyakan orang-orag
yang datang ke TKP pasca stunami hanya untuk melihat kondisi rumahnya dan
mengambil sebagian barang-barangnya yang masih tertingggal. Mereka semua
dievaluasikan di daerah yag aman. Karena masih ada kemungkinan kan terjadi
stunami susulan.
Mereka
berdua tampak kebingunan mecari narasumber yang pas. Masalahnya daerahnya
kosong. Akankah gelondongan kayu yang tertidur tak berarturan itu dimintai
keterangan. Iya, dia memang menjadi
saksi terjadidnya stunami, tapi dia diam tak bersuara. Seolah keputus asaan
telah menyelimuti mereka berdua. Atmosfer kekalutan menjadi satu. Kaila banyak
diam. Sementara Ula juga ikut-ikutan diam. Dia sebagai kakak tingkat empat
semester di atas Kaila merasa tak berguna. Buku yang dari tadi dibawanya dan
berisi pertanyaan hanya terjawab beberapa.
Di
tengah keheningan suasana keputusasaan dan kekalutan dalam mencari berita,
tiba-tiba gelombang besar datang. Beberapa warga yang ada di TKP segera
berteriak dan mencari daerah dataran tinggi untuk menyelamatkan diri. Ula dan
Kaila berlari menuju daerah dataran tinggi juga. Mereka berdua berusaha sekuat
mungkin untuk berlindung. Tapi Kaila masih tertinggal dan terjatuh ke dalam aus
yang cukup besar itu.s
“Kak
Ula ......Kak Ula.... Tolong Kaila kakak...kakak...” pinta Kaila.
Ula
mencoba menarik tangan Kaila sebisa mungkin.
“ La,
pegang tanganku yang kuat. Ayo La kamu pasti bisa”
Suasana
menegang dan Ula sangat bingung. Dia panik dan meminta tolong. Tapi tak ada
satupun yang menolong mereka. Mreka berdua berjuang sendirian di tengah
derasnya arus. Tapi apalah daya tangan tak sampai, genggaman tangan Ula
terlepas.
“Kaillllllaaaaaa......”
Tak
terdengar lagi suara minta tolong. Airpun juga surut. Begitu pula suasana
ketegangan surut dan tinggal suara tangisan penyesalan Ula yang terdengar.
**
Seiring
dengan berlalunya waktu, pencarian sekian lama juga tak menemukan hasil. Aina,
Ula dan Huda mencari Kaila kemana pun juga nihil. Kekecewaan dan rasa
penyesalan menempel diwajah ke tiga orang tersebut. Apalagi Aina mempunyai rasa
penyeselan yang cukup besar. Semua yang terjadi berawal darinya. Dan Ula pun
juga menyesal karena tak mampu mempertahankan tangan Kaila, hingga akhirnya
Kaila pun terbawa arus.
“Andai
aku tak melakukan ini pada Kaila, mungkin saat ini Kaila masih ada di antara
kita” ucap Aina lirih. Ula dan Huda hanya mendesah di bascamp mereka.
Semua anak-anak yang ada di forus diskusi juga mencoba mencari Kaila, tapi
mereka juga tak menemukannya.
Aina
sebagai aktivis kampus tetap aktif di kegiatannya dan Ula dan Huda sekarang
telah mempunyai pekerjaan masing-masing. Ula menjadi seorang penulis disalah
satu majalah ternama di kotanya. Sementara Huda menjadi seorang editor di salah
satu koran terkenal di Jawa Timur. Walaupun sudah mempunyai kesibukan
masing-masing, mereka bertiga selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul. Setiap
hari Sabtu malam mereka selalu berkumpul. Layaknya reunian.
“Kak
Hud gimana dengan berita-berita terbaru ini?” tanya Aina
“Wah
super keren dan tiap kasus makin pekik saja Na”
“Terus
kakak ambil yang bagian mana?”
“Ya tak
serta merta semua yang disetorkan reporter aku ambil, aku juga perlu
memverifikasinya dulu. Yang palling akurat itulah yang aku ambil” jelas Huda
sambil dan kemudian menyruput minuman yang di pesannya.
Aina
melanjutkan makannya dan tiba-tiba menghentikan makannya lalu melirik ke arah
Ula. Dia melihat Ula hanya diam, makannya pun tak dimakan. Dia hanya memainkan
sendok yang ada di atas pirinngnya. Aina menyodok tangan Huda sebagai isyarat
bahwa Ula sedang melamun saat itu.
“Ula..”
teriak Huda keras. Sontak Ula langsung bagun dari lamunannya. “Iya ada apa?”
“Kamu
dari tadi diam saja, sedang memikirkan siapa?” tanya Huda.
Ula
diam tak menjawab. Malah dia menunduk dan mengalihkan pandangannnya ke arah
gelas minuman yang ada di depannya. Kemudian dia berkata “Hmm apakah Kaila
masih hidup ya?”
Aina
dan Huda kaget dan langsung menghentikan makan saat mereka dengar apa yang
barusan dikatakan oleh Ula. Tak sadar air mata Aina pun menetes. Dia jadi ingat
Kaila.
“Ada
kemungkinan masih hidup Ula” jawab Huda.
Huda
lalu menanyakan pada Ula kenapa dia masih saja memfikirkan Kaila. Hal itu
kareana Ula memang merasa bersalah ataukah dia mempunyai rasa tersendiri pada
Kaila.
“Kakak
suka dengan Kaila ya..” tanya Aina penasaran. Matanya yag bak rebulan mulai
membentuk bulan sabit lagi. Seolah dia sedang memojokkan Ula.
Ula tak menjawab
malah dia mengalihkan ke pembicaraan lain.
“ Ohya,
aku besuk diundang untuk mengisi sebuah seminar di Jawa Tengah. Yang mengundang
adalah salah satu koran ternama disana. Pemimpin redaksi sendiri yang
mengundanngku. Nanti malam jam sepuluh adalah waktu terakhir untuk
memverifikasi aku jadi ikut apa tidak. Kalau menurut kalian gimana aku ikut
tidak”
“Masalah
seperti ini ya tanya pada dirimu sendiri Ul, kalau kamu ingin ya ikutlah. Ini
kesempatan juga loh. Ini juga merupakan sebuah jalan untuk saling sharing dan
bertukar ilmu” jawab Huda.
“Kakak
ikut saja, ini peluang besar loh kak” tambah Aina.
**
Tepat
13.00 wib Ula sampai di Bandara Adi Sucipto dan dijemput oleh salah satu staf
radar Jawa Tengah. Huda diantar menuju tempat seminar. Seminar direncakan
dimulai pada pukul 15.00 wib. Beberapa materi telah disiapakan Ula. Dia sudah
benar-benar siap.
Waktu
seminar pun dimulai. Pikiran yang sedari tadi fresh dan rasa percaya diri yang
sudah ditata rapi tiba-tiba goyah saat sosok berperwakan kurus mengenakan
sepatu highthill dengan jas berwarna hitam dan jilbabnya yang khas
memasuki ruang seminar. Mata Ula seolah tak berkedip melihat wanita itu
berjalan dan menempati posisinya. Dia sangat dihormati. Menurut Ula dia mempun
kedudukan khusus di dewan pers disitu. Saat acara dimulai, pembawa acara
mempersilakan pemimpin redaksi untuk menyampaikan sambutannya. Rasa terkejut
Ula menjadi dua kali lebih besar saat nama yang diperkenalkan diri.
Ternyata dewan redaksi itu adalah Kaila,
gadis yang dua tahun lalu sempat hilang bersamanya saat reportase di daerah
pasca stunami.
“Alhamdulillah
Kaila masih selamat” ucap Ula dalam hati. Sesekali Ula mengulum senyum pada
Kaila. Dan Kaila tetap seperi dulu, dia hanya membalasnya dengan senyumun kalau
tidak dengan senyuman dia mengangguk.
“Ah aku
pikir dia sudah lupa denganku, ternyata aku salah persepsi” guman Ula. Tak
sengaja apa yang dikatakan Ula di dengar oleh Kaila. Usai acara seminar
berlangsung, Kaila mendatangi Ula.
“Kakak
masih ingatkah dengan saya” katanya lembut dan sangat halus
“Tentu
apalagi waktu Ibu kemarin hilang. Itu juga karena saya” jawab Ula sambil
tersenyum.
“jangan
panggil saya Ibu. Saya lebih muda daripada kakak” ucap Kaila malu.
“Sekarang
Ibu sudah menjadi orang besar. Saya kagum dengan Ibu. Tak mungkin saya
memanggil Ibu seperti dulu lagi” jelas Ula.
Kaila
bersikukuh agar Ula tak memanggilnya dengan sebutan Ibu lagi. Akhirnya Ula pun
menyetujuinya dan memanggil Kaila dengan sebutan Mbak. Awalnya Kaila
tetap menolak. Tapi Ula juga tak mau kalah, akhirnya Kaila menyetujui panggilan
itu.
Ula
menceritakan apa yang terjadi pasca hilangnya Kaila dua tahun lalu. Dan
menceritakan bagaimana merasa bersalahnya Aina saat tahu Kaila hilang. Tak
sadar mendengar cerita dari Ula, pipi Kaila basah dengan air mata. Sebelum
sampai di jasnya, buru-buru Kaila menyeka air matanya. Kaila juga menceritakan
bahwa dua tahun lalu dia terbawa arus hingga pada akhirnya terdampar di sebuah
pantai di Jawa Tengah. Saat itu nelayan yang menemukannya. Kemudian dia di
rawat di rumah sakit. Salah satu dokter yang ada di rumah sakit itu, Bu Aisyah,
merasa kasihan atas apa yang menimpa Kaila, akhirnya Bu Aisyah merawat Kaila
sampai sembuh di rumahnya. Suaminya, Pak Ahmad juga sama baiknya. Mereka berdua
menganggap Kaila layaknya anak sendiri. Begitu juga dengan Hafid, anak tunggal
di keluarga Ahmad tak mempermaslahkan kehadiran Kaila di keluarga itu. Hafid
mempunyai hobby yang berbeda dengan ayahnya. Saat ayahnya ingin melimpahkan
kepengurusan perusahaan pers miliknya, Hafid menolaknya. Dia lebih memilih
mengikuti ibunya sebagai seorang dokter. Akhirnya tawaran itu jatuh pada Kaila.
“Awalnya saya tak mau menerima tawaran itu. Tapi saya merasa berutang budi pada
Beliau. Akhirnya saya menerimanya dan saat ini pun sambil bekerja di perusaan ayah,
saya juga masih menempuh pendidikan lagi di jurusan ilmu komunikasi”. Sajak
saat itulah Kaila diangkat anak oleh keluarga Ahmad. Ula sekarang mengerti
kenapa Kaila tak pulang ke Jawa Timur setelah dia sembuh.
Sifat
gombalnya Ula kambuh lagi. Kali ini dia menanyakan sesuatu yang sangat privasi
pada Kaila. Awalnya dia takut dan merasa tak pantas hal ini ditanyakan. Tapi
jika tak ditanyakan akan mengganjal di hati.
“Em..emm...Mbak
apakah sudah punya calon” tanya Ula dengan terbata-bata.
Kaila
hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ula. Dengan lembut kemudian dia menjawab “
Iya, sudah kak”.
Seketika
mentari telah terbenam dan hari menjadi gelap. Padahal ini belum waktunya
petang. Begitulah ekspresi yang dialami Ula saat mendengar jawaban Kaila. Bunga
tak lagi mekar, melainkan gugur. Lilin telah padam dan gemuruh di hati telah
reda. Selang beberapa lama termenung setaeah mendengar jawaban Kaila, Ula
menjawab “ Oh, sudah ada ya. Semoga itu merupakan pilihan yang tepat ya mbak”
“InsyaAllah.
Terima kasih kakak” balas Kaila dengan senyumnya yang aneh. Kali ini lesung
pipinya semakin lebar. Dia sama sekali tak merasa bersedih. Padahal saat itu
hati Maulana sedang hancur.
“ Aku
titipkan calonku pada Tuhan” kata Kaila.
Ula tak
mengerti apa yang barusan diucapkan oleh Kaila. Ula menanyakan apa maksudnya.
Kemudian kaila menjelaskan bahwa dia telah menitipkan calonnya pada Tuhan. Dan
sekarang dia telah mengambil kembali apa yang dia titipkan dulu. Waktu belum
mengijinkan untuk saling mengenal lebih lama dengan orang yang dia suka saat
pertama kali bertemu. Dia hanya berdoa agar orang tersebut selalu dalam
lindungan Allah. Walau tak dapat melihatnya bertahun-tahun, tapi hatinya masih
terpaut pada satu sosok yang sempat dia kenal itu.
“Mbak,
sebenarnya siapa yang mbak maksud itu. Sungguh beruntungnya orang yang mbak
maksdu itu?” kata Ula dengan nada kekecewaan. Selain itu Ula terus mendesak
Kaila agar Kaila mau menjelaskannya. Sekali lagi Kaila hanya tersenyum. Pipinya
merah merona. Kali ini Kaila kerap menundukkan pandangnannya ke bawah. Ula
semakin penasaran.” siapa mbak?” tanya Ula lagi.
Dengan
senyum simpul dan masih dengan pandangan menuduk Kaila menjawab “ Dia adalah
orang sekarang ada di depanku dan barusan bicara denganku”. Tak ada suara.
Sepatah kata pun tak dapat Ula ucapkan dari mulutnya. Ula terdiam seribu bahasa
karena rasa senangnya melebihi rasa kecewaannya yang sebelumnya dia rasakan.
Tak
selang lama, Ula merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu berbentuk
persegi panjang dan berwarna biru muda. Kaila memperhatikan apa yang
dikeluarkan oleh Ula. Ula menunjukkan benda tersebut pada Kaila. Hening dan
penuh tanda tanya. Kaila tak habis fikir jika benda itu adalah notebooknya yang
beberapa tahun lalu hilang.
“Notebook
saya kok ada kakak?”
“Aku
tak sengaja menemukannya di kampus”
Kaila
terus bertanya “ Jadi kakak sudah membaca isinya?”. Ula mengangguk dan Kaila
tertunduk malu.
**